Tepat di kamar tidurnya, Ina berganti pakaian dengan kimono merah muda peninggalan ibunya. Setelah mengikatkan sabuk biru muda, dia membetulkan kepangan rambutnya yang kendor. Tak lama kemudian, dia segera bersiap-siap ke pesta dansa bersama ibu dan kakak tirinya; Zhen Ji, Kai, serta Hayakawa.

"Ina … pakaianmu itu membuat mataku begitu berbinar-binar melihatnya …," Hayakawa tersenyum sinis.

"Memangnya kenapa?" tanya Ina dengan tatapan yang biasa saja.

"Kita juga ingin memiliki …!" tukas Kai.

"Hei, kalian! Ini kan, kimono peninggalan ibuku!" potong Ina.

Tiba-tiba, pertengkaran itu langsung dihentikan oleh Zhen Ji

"Sudah, sudah! Hanya karena kimono bagus itu, mengapa kalian malah jadi rebutan!?" tukasnya, "Yah … sesungguhnya aku juga iri dengan kimono bagusmu itu, Ina."

Tak lama kemudian, pertengkaran itu semakin menjadi karena Kai dan Hayakawa masih saja rusuh di hadapan Ina. Sesaat kemudian, mereka berdua langsung membawa Ina ke halaman depan dan meninggalkannya ke Istana Ueda bersama Zhen Ji dengan tawa jahat mereka. Mendengar hal itu, Ina merasa tertekan dan patah hati akan kelakuan Zhen Ji, Kai, dan Hayakawa.

"Tadakatsu, mungkin pertengkaran yang sekarang terasa lebih heboh daripada dulu …," pikir Ieyasu ketika melihat keadaan Ina yang tengah menangis di halaman depan setelah disakiti oleh Zhen Ji, Kai, dan Hayakawa. Pikirannya mengarah ke dalam memorinya bersama Tadakatsu.


Selama Ina menangis, dia merasa agak menyesal memiliki ibu dan kakak tiri yang begitu jahat padanya. Tak terasa, dia melihat seorang ibu peri yang tengah menghiburnya. Ternyata, ibu peri tersebut bernama Nene.

"Ina-san … jangan menangis …," tuturnya, "Aku pasti bisa membantumu agar kamu bisa datang ke pesta dansa itu …"

Lalu, Ina menghapus air matanya

"Benarkah?" ujarnya, disusul oleh anggukan Nene.

"Ngomong-ngomong, tatananmu harus sedikit dirubah agar kamu bisa terlihat cantik di hadapan pangeran," kemudian, Nene mengeluarkan tongkat ajaibnya untuk merubah penampilan Ina.

Sesaat kemudian, kimono merah muda yang Ina kenakan berubah menjadi kimono biru keunguan bercorak bunga melati dengan lapisan berwarna putih. Tatanan rambutnya terlihat seperti sebuah model kepangan dari boneka terkemuka. Lalu, dia juga memakai sepatu berkaca.

"Wah … aku terlihat bagai seorang putri …," ujar Ina sambil melihat sekujur kimono biru keunguan itu.

"Hehehe …," Nene tertawa kecil, "Lalu, akan menyihir sebuah labu menjadi kereta kuda yang akan mengantarmu ke istana."

Tak lama kemudian, Nene langsung menyihir sebuah lagu menjadi kereta kuda dan beberapa ekor tikus menjadi kuda. Setelah itu, Ina langsung menaiki kereta kuda tersebut.

"Ingat, Ina-san …," tukas Nene sebelum Ina pergi ke Istana Ueda untuk menghadiri pesta dansa, "Kamu harus pulang pada jam dua belas malam, karena pada saat itu … sihirku akan menghilang tanpa sepengetahuanmu."

"Baik!" balas Ina, "Aku berangkat!"

"Hati-hati di jalan!" ujar Nene.


Lima menit kemudian, Ina telah sampai di Istana Ueda. Di gerbang istana, ada dua orang penjaga bernama Gan Ning dan Ling Tong. Ketika Ina sudah berada di depan Istana Ueda, dia meminta mereka berdua untuk membuka gerbangnya.

"Ling Tong, kamu ini bagaimana?! Ada tamu yang mau masuk, tahu!" tukas Gan Ning sambil membangunkan Ling Tong yang tengah tertidur.

"Hyaaaa …!" Ling Tong tersentak kaget, "Aku kira ada apa, Gan Ning. Ternyata ada tamu yang ingin masuk ke Istana Ueda untuk menghadiri pesta dansa."

"Ya sudah, kita bukakan saja gerbang ini untuk mereka! Jangan tidur melulu, kenapa?!" tegur Gan Ning.

"Iya, bawel! Aku juga mau membantumu untuk membuka gerbang ini!" balas Ling Tong.

Tak lama kemudian, mereka berdua langsung membuka pintunya. Ina langsung memasuki wilayah Istana Ueda bersama para tamu lain yang juga ingin masuk.


Sementara di aula Istana Ueda, Raja Masayuki langsung memperkenalkan putra sulungnya; Pangeran Nobuyuki di hadapan para tamu undangan yang datang. Setelah itu, dia langsung membuka pesta dansa tersebut dengan bimbingan dari ketiga penasihatnya; Takeda Shingen, Zhuge Liang, dan Huang Yue Ying.

"Kakak!" panggil seseorang dari bagian atas aula. Ternyata, Pangeran Nobuyuki memiliki seorang adik bernama Pangeran Sanada Yukimura yang merupakan putra bungsu Raja Masayuki.

Lalu, Pangeran Nobuyuki langsung menengok ke sumber suara

"Ada apa, Yukimura?" sahut pangeran berambut perak itu.

"Semangat, ya! Mudah-mudahan, Kakak bisa mendapatkan seorang perempuan yang pantas untuk menjadi pujaan hati Kakak!" seru Pangeran Yukimura.

"Terima kasih!" seru Pangeran Nobuyuki.

Tak lama kemudian, para musisi orchestra yang dipimpin oleh Sima Zhao dan Wang Yuanji langsung memainkan musik untuk mengiringi pesta dansa tersebut. Sebelum itu, ada sebuah aba-aba yang harus mereka dengarkan dari Zhuge Liang.

"Kalau begitu, mainkan musiknya!" seru Zhuge Liang.

Kemudian, Sima Zhao dan Wang Yuanji langsung memimpin para musisi orchestra

"Musik … dimulai!" tukas mereka di hadapan para musisi orchestra.

Sesaat setelah musik orchestra dimulai, Pangeran Nobuyuki langsung berdansa dengan seorang perempuan yang memiliki paras tercantik. Kemudian, dia langsung berdansa dengan perempuan lain yang ingin berdansa.


Sementara di pintu Istana Ueda, Zhao Yun, Jiang Wei, dan Guan Suo langsung membukakan pintu tersebut untuk menerima kehadiran Ina yang tengah memasuki istana itu bersama para tamu lainnya. Sesaat setelah Pangeran Nobuyuki berdansa dengan salah seorang perempuan, dia menatap Ina dengan penuh kekaguman.

"S-siapa kamu …?" ujar Pangeran Nobuyuki ketika Ina datang, "Ngomong-ngomong, kamu terlihat cantik sekali …"

Lalu, Ina segera menghampiri Pangeran Nobuyuki

"Namaku Ina, penasihat Tokugawa dan putri dari Honda Tadakatsu," balasnya, "Aku ingin berdansa denganmu …"

"Baiklah kalau begitu … Ina …," Pangeran Nobuyuki langsung mengingat-ingat namanya dan mulai berdansa dengannya, "Oyakata-sama, bisakah aku berdansa dengan perempuan ini?"

Lalu, Shingen mengangguk dan berkata, "Baik! Para musisi sekalian, musik dimulai!"

Kemudian, Yue Ying mencegat Shingen

"Tunggu!" tukasnya, "Sesungguhnya gadis itu pernah ikut perang bersama almarhum Honda-dono, kan?"

"Tak usah dibahas, fokuslah dengan pesta dansa ini!" balas Shingen setelah mengangguk saat mendengar pertanyaan Yue Ying, "Sima Zhao, Wang Yuanji, mainkan musiknya!"

"Baiklah. Musik …," ujar Sima Zhao.

"Dimulai …!" lanjut Wang Yuanji.


Tak terasa, setelah musik tersebut dimainkan oleh para musisi orchestra, Pangeran Nobuyuki berdansa dengan Ina. Seluruh tamu melihatnya dengan kagum, kecuali Zhen Ji, Kai, dan Hayakawa yang masih terlihat dengki dengan Ina. Tanpa disadari oleh Raja Masayuki ataupun para penasihatnya, para musisi langsung mengiringi penampilan dansa antara Pangeran Nobuyuki dan Ina dengan memainkan musik orchestra berirama tango.

"Nobuyuki-sama … aku senang bertemu dengan seorang pangeran sepertimu …," kata Ina selama berdansa dengan Pangeran Nobuyuki.

"Aku juga senang melihat perempuan secantik dirimu, Ina …," balas Nobuyuki, "Di balik itu, kamu juga salah satu pasukan Tokugawa, kan?"

"Benar sekali, aku mendampingi ayahku ketika berperang. Lagipula, aku juga seorang pasukan pemanah Tokugawa," kata Ina.

"Ayahmu, Honda Tadakatsu? Yang gugur dalam perang yang kapan itu?" tanya Nobuyuki.

Setelah Ina berputar mengikuti irama dan memegang tangan Nobuyuki, dia menjawab, "Kamu benar, Nobuyuki-sama. Aku masih terlihat sedih untuk menceritakannya di hadapanmu."

"Baiklah kalau begitu, lebih baik kita berdansa mengikuti irama dari para musisi," tutur Nobuyuki sambil lanjut berdansa dengan Ina di hadapan seluruh tamu.

Tak terasa, mereka berdua menghabiskan waktu untuk berdansa sambil mengobrol tentang keadaan mereka. Tiba-tiba, mereka terhenti pada saat mendengar suara bel pada jam istana. Ternyata, jam tersebut menunjukkan pukul dua belas malam. Mendengar hal itu, Wang Yuanji langsung meminta Sima Zhao untuk


menyuruh semua musisi agar berhenti sejenak.

"Lho, kenapa berhenti …?" tanya beberapa orang tamu yang masih penasaran tentang mengapa mereka terhenti.

"Yah … baru mau lihat …," keluh Cao Ren dan Guo Jia.

"Lagipula kalian ngapain, sih?" sembur Guan Suo sambil menyambut kedatangan dua orang pengawal itu, "Bukannya melihat pesta dansa, kalian malah asyik sendiri …"

Sementara Pangeran Nobuyuki dan Ina, mereka berdua sempat heran mengapa mereka terhenti pada saat berdansa.

"Ina, mengapa berhenti?" tanya Pangeran Nobuyuki.

"Nobuyuki-sama, maafkan aku …," jawab Ina, "Aku harus cepat-cepat pulang!"

Tak terasa, Ina berlari-lari dengan sangat cepat. Tanpa dia sadari, dia tanpa sengaja menabrak beberapa orang di sekitarnya. Sementara yang lainnya, mereka hanya melihat Ina yang tengah berlari.

"Ina … kita belum selesai bicara, tahu!" Pangeran Nobuyuki langsung mengikuti arah Ina.

Sementara di wilayah atas, Pangeran Yukimura langsung melihat keadaan kakaknya yang tengah berlari mengikuti arah Ina. Dia bermaksud untuk membantu Pangeran Nobuyuki yang merasa agak kesulitan selama mengikuti arah Ina.

"Kakak … tunggu aku …!" tukasnya cepat.

Lalu, niat Pangeran Yukimura langsung dicegat oleh Kunoichi, sang Shinobi kerajaan yang dipercaya oleh Raja Masayuki sejak awal.

"Yukimura-sama! Serahkan saja padaku!" ujarnya.

"T-tapi …," tukas Pangeran Yukimura.

"Tunggu saja di sini, karena di bawah juga ada para penjaga dan pengawal! Siapa tahu, mereka pasti bisa menemukan arah seorang perempuan yang pernah berdansa dengan Nobuyuki-sama," potong Kunoichi.

"Baik!" ujar Pangeran Yukimura.

Sesaat kemudian, Kunoichi langsung melaporkan hal tersebut kepada Zhao Yun, Jiang Wei, dan Guan Suo. Setelah itu, mereka langsung mengikuti arah Nobuyuki dan Ina.

"Eh, eh, Zi Long-senpai! Perempuan itu berlari ke sana!" tukas Jiang Wei di hadapan senior kesayangannya; Zhao Yun.

"Wah, kebetulan! Tuan Pangeran juga ada di sana, Bo Yue!" ujar Zhao Yun, "Bo Yue, Guan Suo, Kunoichi-sama, cepatlah! Jangan sampai dia kabur!"

Ketika mereka berempat baru saja keluar dari wilayah aula istana, mereka melihat Pangeran Nobuyuki yang masih bersusah payah menemukan Ina.

"Ina … tunggu! Jangan pulang dulu! Kita belum selesai berbicara!" tukasnya ketika mengejar Ina hingga ngos-ngosan.

"Maaf, Nobuyuki-sama! Aku harus menepati janjiku dengan seseorang!" ujar Ina dari depan. Tiba-tiba, salah satu sepatu kacanya terlepas dan tertinggal di depan pintu istana. Tidak salah lagi, sepatu kaca tersebut pada awalnya dipakai pada kaki kanannya.


Melihat keadaan tersebut, Kunoichi, Jiang Wei, Zhao Yun, dan Guan Suo terhenti dan melihat sepatu kaca bagian kanan yang tertinggal di depan pintu istana.

"Aduh … melelahkan sekali …," keluh Guan Suo sambil mengelap keringatnya.

"Iya, aku juga capek …," ujar Zhao Yun, "Bo Yue, Kunoichi-sama … ada bukti, nggak? Siapa tahu, kita akan menemukan jejak perempuan itu."

Setelah Jiang Wei dan Kunoichi mengambil sepatu tersebut, mereka memberikan sepatu tersebut kepada Zhao Yun.

"Zi Long-senpai, kita menemukan sepatu kaca ini," jelas Jiang Wei, "Aku tidak tahu ini punya siapa."

"Seperti yang kulihat, perempuan itu berada dalam keadaan terburu-buru pada saat meninggalkan Nobuyuki-sama," lanjut Kunoichi.

"Baguslah kalau begitu, mari kita laporkan bukti ini ke hadapan Yang Mulia Raja Masayuki!" tukas Guan Suo, "Siapa tahu, Yang Mulia Raja pasti bisa membantu!"

"OK!" ujar Kunoichi, Zhao Yun, dan Jiang Wei.

Sesampainya di rumah, sihir yang diberikan oleh Nene hilang dengan sendirinya, tanpa Ina sadari. Sesaat kemudian, Ina langsung memasuki rumah dan segera beristirahat di kamarnya.