Sesaat setelah pencarian pemilik sepatu kaca oleh pihak kerajaan, para penasihat, pengawal, dan penjaga pintu istana langsung melaporkan hal tersebut kepada Raja Masayuki. Mereka mengatakan bahwa sepatu tersebut ternyata dimiliki oleh Ina. Oleh karena itu, dia adalah perempuan yang pantas untuk dinikahkan dengan Pangeran Nobuyuki.
"Walaupun kejadiannya agak heboh, aku yakin … Nobuyuki akan terkesan dengan cerita dan laporan kalian …," balas Raja Masayuki terhadap laporan mereka.
"Terima kasih banyak, Yang Mulia," tutur Zhao Yun, mewakili teman-temannya.
Pada sore harinya, Raja Masayuki dan Pangeran Nobuyuki langsung memasuki rumah Ina. Mereka berdua datang bersama para penasihat kerajaan; Shingen, Zhuge Liang, dan Yue Ying. Tujuan kedatangan mereka berlima adalah untuk melamar Pangeran Nobuyuki dengan Ina yang merupakan pemilik sepatu kaca yang sebenarnya.
"Selamat sore, kalian semua," sambut Raja Masayuki.
"Selamat sore, Yang Mulia," seisi rumah membungkuk di hadapan Raja Masayuki.
"Ngomong-ngomong, aku ingin melamar putraku dengan sang pemilik sepatu kaca yang kemarin," jelas Raja Masayuki tentang maksud kedatangannya.
Lalu, Pangeran Nobuyuki segera mendatangi seisi rumah dengan didampingi oleh Shingen. Dia memfokuskan pandangannya ke hadapan Ina yang tengah memakai kimono peninggalan almarhumah ibunya. Sesaat kemudian, Ieyasu datang.
"Oh, Yang Mulia …," sahut Ieyasu, "Pasti tentang lamaran Pangeran Nobuyuki dengan Ina."
"Tentu saja," balas Raja Masayuki, "Apakah anda bersedia untuk menerima lamaran Nobuyuki agar dapat menikahi gadis yang bernama Ina?"
"Baiklah, akan kuterima lamaran itu," ujar Ieyasu dengan mantap, "Ngomong-ngomong, Ina … apakah kamu siap untuk menjadi bagian dari kerajaan?"
Ina mengangguk, lalu berkata, "Ya, aku dan Ieyasu-dono setuju dengan lamaran anda, Yang Mulia. Aku memang ingin menikah dengan Nobuyuki-sama, semenjak mengetahui bahwa aku adalah pemilik sepatu kaca yang kemarin."
Lalu, Shingen datang bersama Zhen Ji, Kai, dan Hayakawa. Kedatangan mereka berempat disambut oleh Zhuge Liang dan Yue Ying.
"Bagaimana, apakah kalian rela ketika salah seorang anggota keluarga tiri kalian menjadi bagian dari kerajaan kita?" tanya Zhuge Liang.
"Dengan berat hati, kita bertiga akan menyerahkan Ina kepada pihak kerajaan …," jawab Zhen Ji, mewakili mereka.
"Baguslah kalau begitu," tutur Yue Ying, "Jangan ulangi sikap buruk kalian di hadapannya, kalian mengerti?"
Akhirnya, suasana di rumah itu tak kalah harmonis dengan keluarga Ina yang dulu. Mereka tertawa bersama para pejabat kerajaan setelah lamaran itu berlangsung dengan lancar. Lalu, Raja Masayuki memberitahu seisi rumah bahwa acara pernikahan Pangeran Nobuyuki dan Ina akan dilaksanakan satu bulan kemudian di Istana Ueda.
Biasanya, suasana rumah terlihat kurang harmonis semenjak Ina diperlakukan seperti pembantu oleh Zhen Ji, Kai, dan Hayakawa. Akhirnya, suasana tersebut berganti menjadi suasana harmonis pada saat seisi rumah tertawa bersama dengan bahagia.
Sebulan kemudian, acara pernikahan itu diselenggarakan di Istana Ueda. Pangeran Nobuyuki sebagai mempelai pria sedangkan Ina adalah mempelai wanita dalam pernikahan tersebut. Mereka berdua memakai kimono putih panjang yang biasa dipakai pada acara pernikahan tradisional Jepang.
"Kita sambut, mempelai pria dan wanita … Pangeran Sanada Nobuyuki dan Ina dari Tokugawa …," ujar Guo Jia. Para tamu mulai menyambut kedua mempelai itu dengan penuh kebahagiaan.
Pangeran Nobuyuki dan Ina mulai menerima berbagai sambutan dari sejumlah tamu yang berdatangan ke Istana Ueda. Ada yang memberikan hadiah, bahkan sejumlah ikat bunga di hadapan mereka berdua. Tak lama setelah itu, Zhen Ji, Kai, dan Hayakawa datang ke hadapan mereka.
"Nobuyuki-sama …," panggil Zhen Ji.
Lalu, Nobuyuki segera menghampiri Zhen Ji
"Ada apa?" balasnya, "Apakah anda ibu tiri Ina?"
"Benar sekali," tutur Zhen Ji, "Ngomong-ngomong, aku minta maaf atas semua kesalahan yang telah kulakukan dihadapan putri tiriku yang kini menjadi istrimu; Ina. Aku yakin, dia akan menjadi putri yang ramah pada kerajaan ini."
Tak lama kemudian, Nobuyuki menerima seikat mawar putih yang diberikan oleh Zhen Ji. Kemudian, Kai dan Hayakawa langsung menghampiri Ina.
"Ina …!" tukas mereka berdua di hadapan Ina.
"Eh, ada apa?" sahut Ina kemudian.
"Kamu terlihat sangat cantik, seperti hatimu …," puji Kai.
"Kamu memang tak seburuk yang kita pikirkan selama ini," sambung Hayakawa, "Tolong beritahu Nobuyuki-sama, bahwa dialah pangeran yang pantas menjadikanmu seorang putri kerajaan yang berhati lembut."
"Baiklah!" tiba-tiba, Ina merasa terharu.
"Selain itu … maafkan aku!" tukas Kai sambil memberikan seikat mawar putih kepada Ina.
"Aku juga, Ina!" lanjut Hayakawa dengan melakukan hal yang sama seperti Kai.
Lalu, Ina menerima dua ikat mawar putih itu dengan senang hati. Kemudian, dia teringat akan pesan terakhir ayahnya; Tadakatsu.
"Ina, jadilah seorang perempuan yang pemaaf terhadap orang lain, khususnya kakak tirimu sendiri …"
"Ya, aku akan memaafkan kesalahan kalian. Ngomong-ngomong, aku juga sudah memaafkan Zhen Ji-sama," Ina tersenyum simpul, "Bila kelak kalian berdua sangat merindukanku, kalian boleh mengunjungi istana ini. Yah, aku masih ingat ketika aku berusaha untuk mengajak kalian bermain bersama. Namun, kalian menyia-nyiakan usahaku itu."
"Seharusnya kita menghargai usaha itu, bukan menyia-nyiakannya," tutur Hayakawa, "Lain kali, kita akan menghargai perjuanganmu! Selain itu, kamu pasti senang karena menjadi putri kerajaan!"
"Kamu benar, Hayakawa. Aku juga!" lanjut Kai.
Sesaat kemudian, mereka bertiga tertawa bersama. Lalu, Pangeran Nobuyuki datang menghampiri mereka.
"Ngomong-ngomong, terima kasih sudah meminta maaf kepada Ina dengan penuh ketulusan …," tuturnya di hadapan Kai dan Hayakawa, "Katakan kepada ibu kalian mengenai apa yang telah aku sampaikan tadi. Lagipula, Zhen Ji-sama sempat mengatakan bahwa dia meminta maaf kepada Ina dan memberiku seikat mawar putih."
"Baiklah, Nobuyuki-sama," balas Hayakawa, "Jaga Ina baik-baik."
"Jadilah pangeran terbaik yang bisa menjaga sang putri!" ujar Kai, "Selain karena wajahmu tampan, kamu pasti bisa melindungi Ina sepenuh hati!"
"Ah, terima kasih banyak …," balas Pangeran Nobuyuki, kemudian dia terharu, "Ina, datanglah ke sini."
Lalu, Ina segera menghampiri Pangeran Nobuyuki. Kemudian, Pangeran Nobuyuki membisikkan sesuatu pada telinganya. Ternyata, dia mengatakan bahwa dia ingin mengajaknya ke pemakaman untuk berziarah ke makam pasukan yang gugur pada perang tiga tahun lalu.
"Eh, benarkah?" ujar Ina, yang kini bergelar Putri Ina.
"Walaupun kamu tak meminta sebelum itu," balas Pangeran Nobuyuki, "Setelah ini, aku akan membawamu ke sana, tenang saja."
"Kalau begitu … terima kasih, Nobuyuki-sama …," Putri Ina tersenyum simpul.
Setelah acara pernikahan itu selesai, kedua pasangan kerajaan tersebut memutuskan untuk ke pemakaman. Mereka berdua berangkat ke sana dengan menaiki kereta kuda yang sudah disiapkan oleh para pengawal; Guo Jia dan Cao Ren. Setelah kereta kuda itu berjalan, Pangeran Nobuyuki dan Putri Ina melambaikan tangan mereka ke hadapan para tamu.
Sesampainya di pemakaman, mereka berdua langsung mendatangi makam para pasukan yang gugur pada peperangan tempo waktu. Kemudian, Putri Ina langsung mendatangi makam ayahnya; Tadakatsu. Lalu, dia berdoa untuk arwah ayahnya agar tenang di alam sana. Setelah itu, dia langsung menyampaikan sesuatu.
"Ayah, ini aku …," bisik Putri Ina di depan batu nisan Tadakatsu, "Lihatlah dari alam sana, bahwa sekarang aku adalah seorang putri kerajaan. Aku menikah dengan Nobuyuki-sama setelah pihak kerajaan mengetahui bahwa akulah pemilik sepatu kaca yang sebenarnya. Oh, iya … di balik itu, sekarang Kai dan Hayakawa telah berbaikan denganku, apalagi Zhen Ji-sama.
Setelah Ayah meninggalkan dunia ini untuk selamanya, mereka bertiga selalu memperlakukan diriku sebagai pembantu. Selama aku mengalami tekanan terberat itu, Ieyasu-dono menjalankan pesan terakhir Ayah dengan sangat baik. Lalu, ketika pesta dansa … aku bertemu Nobuyuki-sama untuk pertama kali dan berdansa dengannya.
Keesokan harinya pihak kerajaan harus mencari siapa pemilik sepatu kaca yang sebenarnya. Ketika aku ingin sekali mencoba sepatu kaca itu, Zhen Ji-sama mencegatku hingga mengunci diriku di dalam kamar. Akhirnya, Ieyasu-dono datang dan menemaniku ke ruang tamu untuk mencoba sepatu kaca itu.
Akhirnya, karena sepatu kaca yang mereka temukan pecah, aku beruntung pada saat menunjukkan sepatu kaca sebelah kiri yang masih kumiliki. Lalu, para petugas kerajaan senang melihatku. Sebelum aku menikah dengan Nobuyuki-sama, lamaran berjalan sangat lancar pada sore harinya. Sehingga suasana rumah terlihat tak kalah harmonis seperti kehidupan kita yang dulu, bersama Ibu …"
Sesaat kemudian, Putri Ina meletakkan setangkai mawar putih di atas batu nisan ayahnya. Lalu, Pangeran Nobuyuki datang menghampirinya.
"Ina, sekarang … kamu harus menziarahi makam ibu kandungmu," perintahnya dengan lembut.
"Baiklah, Nobuyuki-sama," Ina langsung menuju makam ibunya.
Setelah mengunjungi pemakaman, mereka berdua langsung menuju Istana Ueda bersama Guo Jia dan Cao Ren. Sesampainya di Istana Ueda, mereka berdua disambut dengan hangat oleh Gan Ning dan Ling Tong ketika membuka gerbang utama. Akhirnya, Pangeran Nobuyuki dan Putri Ina hidup bahagia selamanya sebagai bagian dari kerajaan yang disebut dengan Kerajaan Sanada.
"Wah … akhirnya kalian bisa menjadi suami-istri terbaik di kerajaan …!" sambut Pangeran Yukimura.
"Terima kasih … Yukimura," sahut Putri Ina.
"Ah, iya … terima kasih …," balas Pangeran Nobuyuki.
"Eh, Tuan Putri …," panggil Kunoichi, "Aku boleh memanggilmu 'Ina-chin', kan?"
"Tentu saja …," Putri Ina tersenyum simpul.
"Baiklah, Ina-chin …!" Kunoichi segera memegang kedua pundak Putri Ina sambil tertawa kecil, lalu mencubit pipinya, "Ah … tak kusangka, kamu adalah 'putri kerajaan' yang berwajah imut!"
"Eh, Kunoichi! Acara cubit-cubitannya nanti saja di istana!" sembur Pangeran Yukimura di hadapan Kunoichi.
"Wajahnya gemesin banget, Yukimura-sama!" balas Kunoichi.
Tak lama setelah itu, mereka tertawa bersama sembari berjalan memasuki Istana Ueda.
Well, what do you think? Just read and review tentang FanFic-ku ini, hehehe ...
