"Jaket? Sudah. Obat mual? Sudah. Sabun, sikat gigi, pasta gigi, sampo, sabun cuci muka? Sudah. Baju ganti selama empat hari? Sudah. Bekal dan tisu? Sudah." Aku mencoret-coreti satu persatu daftar barang-barang yang tertulis di dalam notebook. Keningku berkerut ketika memikirkan sesuatu yang janggal. "Apalagi yang kurang? Charger ponsel? Sudah. Earphone? Sudah. Dompet? Sudah. Lalu apaa...?" Frustasi, aku menjambak rambutku sendiri.

"Ada apa, Sakura? Ada barang yang lupa belum dibeli?" Mama tiba-tiba sudah berada di ambang pintu.

"Entahlah," jawabku sambil terus memeriksa tas besar yang masih setengah penuh. "Sepertinya sudah semua, tetapi Sakura masih merasa ada yang kurang. Lihat, tasnya saja masih belum penuh."

Mama berjalan mendekat. "Coba sini Mama lihat," Ia mulai memeriksa tasku, dari resetling sampai gantungannya. "Sepertinya memang sudah semua. Kau hanya lupa memasukkan plastik untuk tempat pakaian bekas, tapi itu tidak begitu penting,"

Aku menghembuskan napas lega mendengarnya. Kalau begitu, tinggal minta uang saku ke Papa, lalu tidur dengan tenang agar besok tidak terlambat bangun pagi.

"Ah, Mama tahu apa yang kurang!" Mama tiba-tiba menjentikkan jarinya, membuatku kembali kepikiran. Jangan-jangan sesuatu yang terlupa itu begitu penting, dan tidak memungkinkan untuk dicari malam-malam begini.

"Apa, Ma?"

Mama tersenyum lalu menutup resetling tasku, membuat kerut di keningku semakin berlipat-lipat. "Kau tidak melupakan sesuatu. Wajar saja bila tasmu masih kosong, karena nantinya akan diisi oleh-oleh. Jangan lupa beli oleh-oleh yang banyak, ya, Sakura. Kau tahu, kan, Kumogakure terkenal akan produksi ubur-uburnya. Jadi, bawakan Mama ubur-ubur yang banyak, oke? Hmm... rasanya sudah lama sekali Mama tidak memakan ubur-ubur asin,"

"Mamaaa...!"

-0-

Oh Be A Fine Girl Kiss Me, Right Now Sweety

Naruto belongs to Masashi Kishimoto

This [Absurd] Fic belongs to [Absurd] Me

Sasori-Sakura (entahlah, bisa dibilang romance atau bukan. Ada saran untuk genre?)

Kalau ada yang tidak berkenan, tinggalkan saja

Fic pertama (dan ini lebih menjurus ke curhatan true story author), jadi kalau aneh maklumi saja -_-

-0-

5 jam yang lalu...

"Berdasarkan struktur dan fungsinya, sel syaraf pada manusia terbagi ke dalam dua jenis, yaitu sel syaraf sensorik dan sel syaraf motorik. Sel syaraf sensorik berfungsi menyalurkan rangsang dari reseptor yaitu indera menuju otak atau sumsum tulang belakang, sedangkan—"

"Pelan-pelan, Ino!"

"Oke, aku akan pelan-pelan. Sel-syaraf-sensorik-berfungsi-menyalurkan-rangsang-dari-reseptor-yaitu-indera-menuju-otak-atau-sumsum-tulang-belakang-titik-sedangkan-sel-syaraf-motorik-berfungsi-menghantarkan-rangsang-dari-otak-atau-sumsum-tulang-belakang-menuju-efektor-titik."

Aku menghembuskan nafas panjang, lalu memencet tombol enter dengan keras. "Selanjutnya, perbedaan antara gerak sadar dengan gerak refleks,"

"Tunggu sebentar, aku akan mencarinya," Ino mulai menggeser-geser smartphonenya. Beberapa saat kemudian, keningnya berkerut sambil memandangku dengan ekspresi kesal. "Sinyalnya tidak sampai sini,"

Aku menggaruk kepalaku keras karena frustasi. "Lalu bagaimana dengan tugas ini? Kita terancam tidak bisa mengikuti wisata besok jika tidak segera mengumpulkan tugas ini,"

Ino tidak menjawab, ia membanting smartphonenya ke dalam tas. "Dasar Orochimaru-sensei sialan!"

Aku baru akan mengamini ucapan Ino ketika sebuah suara dari dalam laptopku muncul, diiringi kemunculan kotak berwarna merah dengan gambar baterai di sisi kirinya. Low battery. Sial, aku lupa bawa charger!

"Oh, bagaimana ini? Tidak ada sinyal, tidak ada charger. Tidak ada liburaann..." teriak Ino keras dan melengking, membuat kaca-kaca jendela bergetar.

"Mau bagaimana lagi," ucapku pasrah sambil menyimpan tugas biologi kami yang baru dapat setengah, lalu mematikan laptopku. "Mungkin kita harus memohon dan merengek kepada Orochimaru-sensei lagi seperti dulu saat kita telat mengumpulkan laporan praktikum." Oh, mengapa dari sekian banyak tugas, hanya biologi yang bermasalah?

Ino membereskan buku-bukunya ke dalam tas. "Semoga dia mau berbaik hati kali ini,"

"Yah, kau benar. Meskipun itu artinya kita harus bersujud di depan kakinya sambil menangis darah," gerutuku sambil mengenakan jaket.

Kami bergegas keluar kelas. Sudah pukul setengah empat, berarti sudah dua jam kami berada di dalam kelas sejak bel pulang berbunyi, menyelesaikan tugas presentasi biologi yang seharusnya dikumpulkan bulan lalu. Dalam hati aku mengutuk kebodohan kami, yang dengan bebalnya tidak mengindahkan kata-kata Orochimaru-sensei tentang mengumpulkan tugas tepat waktu. Sekarang, kami benar-benar kena getahnya.

Lorong sekolah sudah sepi. Hanya ada satu dua penjaga sekolah yang sedang mengepel lantai. Beberapa anak kecil yang tinggal di sekitar lingkungan sekolah tampak sedang bermain di aula olah raga, suara teriakan mereka terdengar hingga kelasku.

Sampai di ujung koridor, tiba-tiba Ino berhenti. Ia tersenyum lebar. Pandangannya tertuju pada satu titik. Dan ketika aku mengikuti arah pandangannya, aku langsung tahu apa yang dipikirkan sahabatku itu.

"Ino, mungkinkah..."

"Kita terselamatkan, Sakura!" potong Ino girang. Ia memelukku erat untuk menunjukkan betapa bahagianya menemukan ruang laboratorium komputer yang masih terbuka. Dengan cepat, kami segera memasuki ruang itu.

"Haah~ kita beruntung sekali, Ino. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika ruangan ini sudah tertutup," Aku menghempaskan tubuhku ke salah satu kursi, lalu menghidupkan komputer.

"Yang kita butuhkan saat ini hanyalah flashdisk, Sakura. Kau membawanya, kan?"

Aku mengangguk. "Tentu saja," kataku sambil menunjuk sebuah flashdisk model baru yang berada di pergelangan tanganku, flashdisk yang berbentuk seperti gelang.

"Tapi, kita harus mengulanginya dari awal lagi, Sakura," kata Ino, sukses membuat senyumku lenyap.

Aku mendesah pasrah. Bagaimana mungkin aku melupakan hal itu? File tugas kami berada di dalam laptopku, sedangkan laptop terkutuk itu sekarang malah mati karena kehabisan daya. "Mau bagaimana lagi, Ino. Dari pada kita tidak mengumpulkan tugas itu dan tidak bisa ikut ke Kumogakure. Maksimal kita pulang jam enam sore," kataku muram.

Ino membalas tak kalah muram. " Aku sih tidak masalah jika harus pulang jam enam sore, ataupun sampai jam sembilan malam. Masalahnya, aku belum menyiapkan apa-apa untuk besok,"

Kata-kata Ino membuat pikiranku melayang pada barang-barangku yang juga belum kusiapkan. "Ah, aku juga," gumamku lirih.

"Apakah tidak bisa dihidupkan sebentar hanya untuk mengcopy tugas tadi ke dalam flashdiskmu?"

Aku menggeleng. "Kau tahu, kan? Laptopku ini sedikit antik. Baterainya sudah rusak, tidak bisa bertahan lama," kataku sambil diam-diam merutuki kebodohanku sendiri karena telah melupakan charger yang sangat berharga.

"Yah, kalau begitu, memang harus dikerjakan dari awal," gumam Ino. Nada suaranya menyiratkan lelah. "Ayo kita mulai menger—"

"Seperti apa laptopmu, mungkin aku bisa membantu?" Belum sempat Ino menyelesaikan ucapannya, sebuah suara datar yang terdengar familiar memotong.

Aku menoleh ke arah sumber suara, lalu terbelalak heran.

Itu, Sasori-senpai, kakak kelas aneh berambut merah, mentor pembimbingan olimpiadeku, tengah berdiri menatap kami dengan wajah datar sambil memegang kabel charger laptop yang belakangan kuketahui ternyata cocok untuk laptopku. Untuk yang kedua kalinya, aku dan Ino terselamatkan.

-0-

"Sudah jam lima! Sudah jam lima! Cepat buka websitenya! Cepat!"

"Iya, aku baru akan mengeluarkan ponselku, Shiho! Jangan berisik!"

"Aku sudah tidak sabar ingin melihatnya! Cepat buka!"

"Sabar dong, sabar, ponselku juga butuh loading,"

Aku mengernyitkan kening sambil memutar posisi tubuhku. Setelah kepalaku bersandar dengan benar pada bantal yang disediakan di setiap kursi bus, aku mengucek mata. Sudah jam lima, matahari sudah hampir tenggelam. Berarti, aku sudah dua jam tidur, hingga akhirnya terbangun karena suara berisik Shiho dan Tenten yang duduk di kursi depanku.

"Ayolah, mengapa ponselmu itu lama sekali, sih?"

"Hei, jangan menghina ponselku! Begini-begini, ini masih lebih cepat dibandingkan dengan punyamu!"

Sekali lagi aku mengernyit. Apa yang terjadi sebenarnya hingga mereka bertengkar begitu hebat? Aku berdiri, lalu mencondongkan tubuhku ke depan untuk melihat apa yang terjadi.

"Hei Sakura, kau sudah bangun? Aku tadi ingin membangunkanmu karena sekarang sudah jam lima, tetapi ternyata kau sudah bangun duluan," Tenten bersuara pertama kali ketika kepala merah mudaku muncul dari belakang sandaran kursinya.

"Memangnya, ada apa kalau sudah jam lima?" tanyaku bingung dan penasaran.

Tenten tidak menjawab. Ia menatap layar ponselnya yang sudah menampakkan halaman depan sebuah website. Ternyata itu adalah website resmi Dinas Pendidikan Budaya dan Olah Raga (?) kota kami. Setelah spiral berwarna hijau berhenti berputar, tangannya lincah menggeser-geser layar ponsel touchscreennya.

Aku tetap menunggu, sampai Tenten menunjukkan layar ponselnya tepat di depan hidungku. Mulutku sontak terbuka ketika mataku menangkap sederet tulisan di bagian atas: Pengumuman Seleksi Olimpiade Sains Nasional 2015 Kota Konoha.

Setelah puas berkaget ria, Tenten menarik tangannya kembali. "Aku ingin tahu hasilnya. Yah.., minimal satu di antara kita bertiga ada yang lolos ke tahap selanjutnya," kata gadis bercepol itu sambil menghela nafas panjang.

"Aku sendiri tidak yakin aku lolos," kataku jujur sambil mengingat kejadian dua bulan lalu, saat olimpiade tingkat kota/kabupaten itu digelar. "Sumpah, dari tiga puluh soal, aku hanya bisa tiga belas. Sisanya ngawur,"

"Aku juga begitu, Sakura," kata Tenten lemah. "Tapi, apapun yang akan terjadi, kita tidak sepatutnya patah semangat!" Tiba-tiba saja sosok Tenten di depanku berubah menjadi sosok Rock Lee. Aku merinding.

"Hei, kalian ingin melihat hasilnya atau tidak?" Shiho berkata datar sambil menatap aku dan Tenten bergantian.

Tenten segera sadar, lalu menggeserkan layarnya ke bawah. Halaman pertama tampak sambutan dan ucapan selamat dari bapak ketua dinas pendidikan. Halaman kedua menjelaskan tempat dan waktu diadakannya seleksi tahap selanjutnya. Halaman ketiga berisi pengumuman seleksi untuk bidang matematika. Tenten melewatinya, hingga akhirnya tangannya berhenti ketika sampai pada pengumuman seleksi untuk bidang ekonomi.

"Hei, itu bidangku!" Shiho berseru. "Kumohon Kami-sama, izinkan hambamu yang lemah ini merasakan nikmatnya lolos ke tahap selanjutnya," Tiba-tiba saja gadis berkaca mata itu sudah memejamkan mata sambil berkomat-kamit.

"Shiho..."

Shiho membuka matanya. Dengan gerakan slowmotion, ia mencondongkan tubuhnya ke arah layar ponsel Tenten, lalu pekikan girang dari mulutnya menggema di dalam bus yang sedang melaju kencang di atas jalanan terjal berbatu.

-0-

Tenten mulai mendesah gelisah. Aku juga. Sudah beberapa halaman ia lewati, sudah beberapa peserta dari sekolah kami namanya tercantum di halaman itu. Shiho dan Shino untuk bidang ekonomi, Hinata untuk bidang matematika, si kembar Sakon dan Ukon untuk bidang geografi—aku sama sekali tidak menyangka kedua saudara itu lolos dengan peringkat saling urut—Naruto dan Gaara untuk bidang TIK, Sasuke untuk bidang kimia, lalu Tayuya untuk bidang geologi. Sekolahku hanya tidak lolos pada bidang biologi dan fisika.

"Mengapa admin website harus menaruh bidang astronomi di halaman terbawah, sih," gerutu Shiho. Ia sepertinya tak tega melihatku dan Tenten yang sudah pucat bak mayat hidup.

Mengabaikan Shiho, aku fokus pada layar ponsel Tenten. Nafasku tertahan tepat di kerongkongan ketika sederet tulisan di sana muncul: Bidang Astronomi. Dengan tangan bergetar, Tenten menggeserkan layarnya ke bawah.

Peringkat 1-10. Tidak ada. Peringkat 11-20. Tidak ada. Peringkat 21-30. Tidak ada. Aku mulai ketar-ketir, bulir-bulir keringat menetes deras dari pelipis. Peringkat 30-40. Tidak ada juga. Oh, Kami-sama, jangan buat kami kecewa, terutama Sasori-senpai. Tiba-tiba saja wajah datar kakak kelas itu melintas di kepalaku. Umpatan-umpatan burukku dulu juga tiba-tiba muncul kembali. Aku menggeleng kepala kuat-kuat, terlalu banyak kesalahan yang kuperbuat pada senpai berambut merah itu. Padahal, Sasori-senpai sudah banyak membantuku mulai dari membimbing dengan sabar, menungguku yang datangnya sering telat dan ngaret, sampai meminjamiku charger laptop—untuk tragedi tugas biologi kemarin sore. Jangan, jangan lagi untuk yang ini.

Peringkat 41. Bukan salah satu di antara kami. Peringkat 42. Bukan. Peringkat 43. Bukan juga.

Peringkat 44-Haruno Sakura-Konoha Akademi. Peringkat 45-Nara Shikamaru-Konoha Akademi. Peringkat 46-Tenten [Entah]-Konoha Akademi. Mataku membulat tak percaya.

Satu detik berlalu. Dua detik berlalu. Tiga detik berlalu.

"Sakuraa...! Kita bertiga lolos...!" Tenten sudah berdiri, melempar ponselnya, lalu memelukku.

Shiho yang berada di sebelahnya berusaha menangkap ponsel milik Tenten, beruntung tangkapannya tidak meleset. Ia ikut-ikutan memeluk kami. "Selamat ya..., aku tidak menyangka, dari kita banyak yang lolos! Akhirnya kita bisa melanjutkan ke seleksi tahap selanjutnya!"

Aku mengangguk. "Ini bukan mimpi, kan?"

Tenten melepas pelukannya, lalu menggeleng. Ia mengguncang-guncang bahuku dengan keras. "Ini asli, Sakura! Asli! Oh, Sasori-senpai pasti bangga pada kita. Dialah yang paling berjasa, karena mau dengan tulus membimbing kita sampai ke tahap ini. Hiks..," Tenten menyeka air mata terharu.

Aku mengangguk setuju. Tiba-tiba rasa bersalah memenuhi kepala. Ah, ternyata selama ini aku jahat sekali, mengatai senpai baik itu aneh dan sialan. Dalam hati, aku berjanji akan meminta maaf kepada Sasori-senpai.

"Mulai sekarang, kita harus serius, Sakura." Tenten berkata dengan semangat membara. Sosoknya kembali berubah menjadi sosok Rock Lee, dan aku merinding lagi. "Kita harus belajar lebih keras lagi!"

"Yah, kau benar," sahutku setuju. Selintas pertanyaan muncul di benakku. Aku ingin menanyakannya, tapi... "Mmm... apakah menurutmu Sasori-senpai akan membimbing kita lagi?" Aku hampir membekap mulutku sendiri, ketika tak sadar mengucapkan pertanyaan bodoh yang seharusnya tidak pernah kuucapkan. Sambil mengutuk diri sendiri dalam hati, aku berusaha mengalihkan wajah dari tatapan heran Tenten.

"Sakura? Kau barusan salah makan?"

Aku menggeleng cepat-cepat. "Tidak, tidak, tidak! Lupakan saja pertanyaan tidak pentingku itu,"

Tenten masih menatapku heran, hingga akhirnya, di luar dugaanku, ia menjawab. "Menurutku Sasori-senpai tidak akan membimbing kita lagi. Kau tahu, kan, tanggal ujian akhir untuk kelas dua belas semakin dekat. Sasori-senpai juga pasti sibuk mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi. Jadi, kemungkinan besar, Toneri-sensei yang akan membimbing kita,"

"Oh, begitu, ya. Kalau begitu, aku sangat bersyukur karena tidak akan bertemu senpai merah itu lagi, dan pastinya tidak ada acara pembimbingan di hari Minggu. Hahaha..." Aku tertawa, berusaha menyembunyikan sesuatu yang berdesir di sudut kiri dadaku.

Entah mengapa, jawaban Tenten sama sekali tidak membuatku bahagia. Perasaanku bercampur antara sedih, takut, dan khawatir. Meskipun berkali-kali aku berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa aku sangat bahagia karena tidak akan bertemu senpai merah itu lagi di meja pembimbingan, tetap saja ketiga perasaan itu muncul, berputar, dan perlahan semakin membesar.

Aku enggan mengakui bahwa aku ingin Sasori-senpai menjadi mentorku lagi.

-0-