Your Empress

Momoi Satsuki merasa bahwa dirinya telah dipermainkan oleh takdirnya sendiri. Karena, kini ia mendapati dirinya bukanlah menjadi menajer SMA Touo seperti dugaannya, melainkan manajer SMA Rakuzan. Dimana dirinya memiliki kemampuan mata yang mengunci dirinya sebagai pasangan Akashi Seijuurou. Kini langkah apa yang akan Satsuki berikan untuk "Kaisar"nya?

XOXOXOXOXOXO

.

.

.

Presented by Mirakou Momo

.

.

.

XOXOXOXOXOXO

Momoi Satsuki POV

Tempat ini begitu gelap, rasanya seperti cahaya tak pernah masuk saja. Kulangkahkan kakiku tanpa arah hingga berakhir di depan sebuah gerbang yang amat besar dan tinggi, aku hanya diam dan gerbang itu tiba-tiba membuka dengan sendirinya. Kulihat di dalam gerbang itu kosong.

Aku menghela nafas pelan dan kemudian mulai masuk. Dapat kurasakan bahwa ada orang lain yang mengikutiku.

"Siapa? Siapa kau?" tanyaku setelah aku berbalik badan, seketika aku kaget. Aku melihat gadis bersurai soft pink panjang dan dia sangat mirip diriku, atau, 'dia' memang 'aku'. Aku menyipitkan mataku dan mulai memandangnya intens.

Ya, kami memang sangat mirip, kecuali… matanya yang merah itu. Mata yang mirip dengan mata Akashi Seijuurou.

"Apa yang kau mau?" tanyaku lagi setelah itu dia tersenyum, atau mungkin lebih tepatnya menyeringai. Dilangkahkan kakinya untuk mendekatiku. Suaranya sampai menggema di seluruh ruangan, dan aku… kini menelan ludah karena merasakan hawa yang sangat menakutkan dan berbahaya.

"Aku…" dia menggantungkan kalimatnya saat jarak kami paling tidak kurang lima langkah lagi. Kakinya kembali melangkah dengan pelan. Jantungku berdebar lebih cepat dan keras.

"Hmmh… menarik, kamu bertanya siapa 'aku' padahal 'aku' itu adalah 'kamu' dan 'kamu' pun juga sebaliknya." Jawabnya dengan nada enteng seolah-olah tidak ada yang salah dengan keadaan ini.

"Apa maumu?" tanyaku dengan suara sedikit bergetar, gawat, aku merasakan hawa yang sangat buruk dari 'dirinya' yang mengaku sama seperti 'diriku'.

"Ahaha… aku tak punya maksud apa-apa, aku hanya ingin menyampaikan sesuatu kepadamu yang 'Empress'…" dia menyeringai kemudian bersidekap, sedangkan aku hanya bisa menggigit bibir bagian bawahku.

"Kau itu adalah seorang 'Empress' dan pastinya kau tahu kan kalau 'Empress' itu punya pasangan. Ah, aku harap kau segera tanggap dengan kalimatku yang barusan itu."

Aku? Seorang 'Empress'? Hah, lelucon darimana itu, tapi, sepertinya itu bukanlah kebohongan, aku bisa lihat dari matanya yang mengkilat-kilat tajam ke arahku. Butuh beberapa menit sampai aku menyadari siapa itu 'pasanganku'. Harusnya aku tak berpikir terlalu lama, karena, hanya ada satu orang yang… paling disegani di angkatanku, tak pernah kalah dalam pertandingan, nilainya selalu sempurna tak ada yang salah, menguasai berbagai hal.

"Akashi Seijuurou."

Dia tersenyum ke arahku. Aku yakin 'dia' pasti ada maunya dengan seorang Akashi Seijuurou.

"Ahaha… kau benar-benar pintar, pantas saja… 'dia' memilihmu." gerbang tersebut kembali terbuka, menampakkan sesosok pemuda berambut merah dan beriris heterokrom. Aku sangat yakin bahwa orang itu adalah Akashi Seijuurou, namun, aku belum pernah melihat tatapannya yang sedingin ini.

"Sebenarnya 'kau' ini apa?" tanyaku sambil mendesis. Dia tersenyum, ya, dia mengejekku.

"Hmm… 'aku' ini dirimu, orang yang paling mengerti dirimu. 'Aku' tercipta saat kau mulai sadar akan bakat potensimu muncul. Mungkin, aku terlihat seperti orang lain, tapi… percayalah aku juga bagian dari dirimu. Dirimu yang sesungguhnya." akunya sambil menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan, ia kemudian mendekati pemuda yang aku kenal sebagai Akashi Seijuurou.

"Aku… bila 'aku' membangkitkan kekuatanku maka 'kau' akan mengambil alih tubuhku?" tanyaku sambil menatap mereka berdua secara bergantian.

"Hmmh, tentu saja, kita hanya akan bertukar peran dan tempat. Semudah itu saja, bukanlah hal yang sulit kok." katanya enteng kemudian ia mengamit lengan pemuda tersebut dan mulai menghilang dari pandanganku. Aku kemudian menghela nafas berat, kemudian seberkas cahaya mulai keluar.

Mataku menyipit untuk membiasakan diri. Firasatku mengatakan bahwa ada hal buruk bila aku keluar dari ruangan ini, namun, aku tak menurutinya. Kulangkahkan kakiku keluar dari ruangan ini.

Anehnya cahaya tadi mendadak lenyap dan kini digantikan oleh… sesosok pemuda dan, mungkinkah itu… Akashi Seijuurou? Aku berlari secepat yang aku bisa. "Akashi-kun." panggilku sambil berteriak. Ia pun menoleh dan tersenyum ke arahku.

Itu benar-benar Akashi-kun, aku tersenyum lega. Ingin sekali memeluknya sekarang dan bertanya padanya apakah semua ini hanya mimpi belaka atau hanya halusinasiku semata saja.

Aku tersenyum ke arahnya sambil sedikit terengah-engah. "Akashi-kun…" panggilku sekali lagi, mencoba memastikan apa yang ada di hadapanku saat ini. Tangannya terjulur memegang salah satu tanganku. Aku sedikit bingung apa yang aka ia lakukan.

Namun mataku melebar saat ia mulai mengeluarkan borgol dan mulai memborgol tanganku juga, aku, aku mencoba melawan namun tenagaku sama sekali tak sebanding. Kini kulihat ia menyeringai.

"A-Akashi…-kun?" panggilku sekali lagi. Kudongakkan kepalaku menghadapnya. Aku tertegun, "Bagaimana bisa, kau, kau… siapa?" tanyaku dengan suara bergetar. Aku sama sekali tak bisa menyembunyikan ketakutanku.

"Kenapa kau bertanya seperti itu, Momoi? Tentu saja, aku ini Akashi Seijuurou." jawabnya dengan enteng seolah-olah aku ini sedang dipermainkan. "Bagaimana mungkin kau menanyakan hal yang sangat jelas, Momoi?" tambahnya lagi sedangkan aku menundukkan kepalaku.

Namun sepertinya 'dia' tak mengharapkannya, ditariknya daguku dengan salah satu tangannya yang tidak diborgol. Aku menatap irisnya yang heterokrom. Pandangannya sangat dingin, aku, bahkan bisa merasakannya di dalam tubuhku. Kakiku kini entah kenapa tak bisa menopang tubuhku lagi. Alhasil, aku jatuh. Namun 'dia' tetap berdiri sambil menyeringai ke arahku.

"Kau benar-benar mudah ditakhlukkan, Momoi. Karena itulah kau sangat cocok menjadi pendampingku." dia mulai menyamakan tingginya dengan tinggiku dan mulai memandangku.

"Aku… tak mengerti." kataku tiba-tiba. Pemuda itu kemudian tersenyum dan mulai mengelus surai soft pink milikku. Ada yang aneh, rasanya pandangan tidak terasa dingin. Kudongakkan kepalaku untuk menatapnya. Menatap… Akashi Seijuurou yang asli.

"Akashi-kun…" panggilku, dia kemudian tersenyum ke arahku. Seketika tubuhku yang barusan dingin kini menjadi hangat. Ia kemudian memelukku hangat dan erat. Aku tersenyum dan balik memeluknya. Bahkan, aku bisa merasakan kalau air mataku mulai menuruni pipiku.

Entah berapa lama kami berpelukan. Aku tak ingat dengan jelas berapa lama sejak aku mulai memikirkan hal ini. Tapi, sesuatu di dalam diriku mengatakan akan ada hal sangat berbahaya bila kubiarkan Akashi-kun berubah menjadi 'dia' dan hal yang mengerikan juga bila aku ikut berubah.

XOXOXOXOXOXO

Aku membuka mataku, kulihat aku bangun sebelum alarmku berbunyi. Aku menguap dan… mulai berpikir apakah yang barusan itu mimpi atau… kenyataan?

Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat, mencoba mengeyahkan pikiran tadi dalam benakku. Aku tersenyum, yang penting aku masih belum bertukar tema\pat dengan 'dia' dan Akashi-kun juga masih seperti biasa. Aku merasakan pipiku mulai menghangat. Tapi Akashi-kun yang biasa tak pernah memelukku seperti tadi…

Aku memukul pipiku berkali-kali. Mencoba berpikiran yang normal… mungkin?

Aku segera turun untuk mandi kemudian sarapan. Yah, yang ada dalam benakku adalah… jangan sampai aku dan Akashi-kun berubah menjadi 'mereka'. Ah, yang paling penting jangan sampai Akashi-kun berubah, karena, dia adalah kapten dan tugas kapten memimpin. Aku tak ingin kalau motto klub kami sampai berubah menjadi… 'harus menang' mungkin?

Kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi namun sebelumnya kulihat dulu jam yang ada di dekat kasurku. Aku masih punya banyak waktu, jadi, sepertinya aku akan mandi sekalian berendam.

Aku merasakan ada sesuatu yang berbeda, ah, apa mungkin ini ulahnya. Ya, gadis yang amat mirip denganku itu. Pikiranku kembali berkecamuk. Bahkan saat berendam pun aku tak bisa rileks.

Aku menghela nafas, berusaha berpikir jernih dan tidak memikirkan yang tidak perlu. Anggap saja tadi aku sedang sial, ya, sial yang amat besar Satsuki. Aku kembali menghela nafas, rumah terasa sepi, ya, tentu saja. Otou-san dan Okaa-san sibuk bekerja dan mungkin juga… selingkuh?

Aku beberapa kali melihat Okaa-san pergi dengan lelaki yang berbeda. Sedangkan Otou-san… entahlah, mungkin ia sendiri juga punya banyak simpanan.

Aku kembali menghela nafas, sepertinya ini akan menjadi kebiasaanku yang baru. Aku berjalan menuju dapur untuk memasak sesuatu. Yah, jangan ditanya, makanan yang aku buat kini rasanya normal.

Aku hanya membuat sosis pedas manis, menggoreng telur, membuat salad, memanggang roti kemudian memberinya selai strawberry kesukaanku ataupun selai cherry buatan nenek, kemudian segelas susu. Aku, menghela nafas lagi, sepertinya aku harus siap-siap menghadapi berat badanku yang bakalan naik secara-tiba-tiba dengan skala besar.

Aku bahkan memutuskan membuat pancake sebagai bekalku. Orz, ini benar-benar gawat. Aku akan segera gemuk dalam beberapa hari.

Selesai sarapan aku segera mencucinya kemudian segera berangkat, ah, sebelumnya aku harus membangunkan Dai-chan dulu.

Namun, kini, aku merasa… apa ya? Aku merasa jadi susah berbicara dengan Akashi-kun gara-gara mimpi semalam. Aku jadi mengingat saat ia memelukku dengan lembut. Pipiku kembali menghangat dan jantungku berdebar keras, keras sekali. Serasa mau meledak saja.

Apa-apaan ini…?

XOXOXOXOXOXO

Aku benar-benar merutuki hari yang berputar sangat cepat. Karena, hari ini tahu-tahu sudah waktunya ekskul. Ini, sangat tidak baik untuk jantungku. Rasanya, aku ingin sekali menjauhinya. Menjauhi Akashi-kun. Namun, pastinya itu tak mungkin. Dia kapten dan aku manajer.

Waktu yang kami habiskan bersama maupun berduaan saja… mungkin sudah tak terhitung dengan aku yang bersama… Akh, lupakan sajalah.

Aku menolehkan kepalaku ke kanan kemudian ke kiri, mencari-cari kedatangan Akashi Seijuurou, sang kapten. Aku lagi-lagi menghela nafas. Aah. Aku benar-benar merutui kebiasaan baruku yang satu ini.

"Momoi, ada apa?"

Aku langsung berjengit mendengar suara yang amat familiar di telingaku. Gawat, jantungku berdebar-debar tak karuan. Semoga, ia tak menyadarinya.

"Oh, Akashi-kun… tidak ada apa-apa kok. Ah, aku mau memberikan data-data ini kepadamu. Itu saja, ehehe…" ujarku, berusaha kelihatan normal. Walau, aku yakin ia pasti menyadarinya.

"Terima kasih, ini lebih cepat dari jadwal bukan? Maaf aku membebanimu begitu banyak." katanya kemudian ia tersenyum ke arahku. Aku merasakan perasaan… lega. Aku ikut tersenyum. Benar-benar aneh aku hari ini.

"H m-mmh… tak apa-apa kok, kan memang sudah tugasku." aku melambaikan kedua tanganku cepat-cepat.

"Begitukah? Kalau kau tak keberatan, bagaimana kalau kita membahasnya hari ini?" tanyanya sambil menunjukkan kertas yang lumayan tebal berisikan data-data dan strategi.

"Baiklah, tak masalah kok." jawabku cepat. Dia mengangguk pelan kemudian pergi meninggalkanku untuk latihan bersama yang lain. Entah berapa lama aku menatap punggung Akashi-kun yang menjauh itu.

"Momocchi, ada apa ssu?" Tanya Kise Ryouta, seorang model top. Aku bisa memanggilnya dengan sebutan 'Ki-chan'. Terdengar imut bagiku.

"Mou, Ki-chan mengagetkanku. Dasar." keluhku sambil memajukan bibirku beberapa senti. Ki-chan hanya tertawa garing. "Habisnya, Momocchi terlihat melamun. Memangnya kau melamunkan apa Momocchi? Dari, arah pandangmu apa kau melihat Akacchi?"

Aah, skakmat… sial kau Ki-chan…

"Apa? Tidak kok Ki-chan, kau mengada-ada saja deh." kilahku cepat-cepat kemudian aku mulai bersidekap. "Ehm, kalau kau tak cepat-cepat ke sana Akashi-kun bisa mengguntingmu lho, Ki-chan." kataku sambil menekankan panggilanku padanya. Ki-chan langsung meringis dan berlari menuju lapangan.

Aku segera duduk di bench dan mulai menganalisa. Yah, pekerjaan sehari-hariku di ekskul. Lagian aku tak menolaknya kok, karena menganalisa memang menyenangkan. Tapi sialnya semua lelaki di dunia ini sangat mudah ditebak. Kecuali Tetsu-kun dan mungkin juga pengecualian untuk Akashi-kun.

Karena kemampuan menganalisa milik Akashi-kun lebih baik dariku maka sudah pasti dia lebih hebat dariku. Gerakan dan pass-nya benar-benar sempurna, tak ada yang sia-sia. Walau dalam keadaan terjepit pun dia masih bisa melakukan tindakan.

Kalau Tetsu-kun, karena dia memiliki misdirection jadi aku agak kesulitan untuk menganalisanya.

Aah, aku berharap nanti tidak ada mimpi buruk lagi walau aku tak terbangun dengan penuh keringat dingin. Tapi, tetap saja, hal itu sudah membuatku takut.

Aku hanya bisa menatap Akashi-kun dari jauh… maksudku kami sama sekali tak benar-benar dekat. Tapi, dia masih membantuku dalam mengerjakan tugas sekolah, tugas sebagai manajer walau tak setiap hari sih. Walau ia pernah mengantarku pulang beberapa kali juga, karena kami bila membahas strategi bisa sangat lama. Bahkan saat pertandingan besar kami sampai menginap di sekolah.

Hubungan kami hanya sebatas itu. Menjadi manajer 'khusus' Kiseki no Sedai itu tidak segampang menjadi manajer 'biasa' seperti temanku yang lain yang hanya mencuci handuk, mengisi botol minum, dan hal biasa lainnya.

Lantas, bagaimana dengan Akashi-kun….? Ia pastinya lebih repot daripada aku kan? Sudah menjadi kapten yang berisikan anggota yang sifatnya berbeda semua. Aku yakin, bahwa ia di rumah belajar lebih keras dari siapapun. Karena bisa dibilang ayah kami… umm, yang menjalin kerja sama antar perusahaan. Aku juga beberapa kali bertemu ayahnya. Aku bisa merasakan bahwa kemenangannya benar-benar bagaikan helaan nafas. Kini, aku mengerti mengapa Akashi-kun pernah mengatakan hal ini kepadaku.

'Kekalahanku merupakan hal yang tidak bisa dimaafkan'

Aku menghela nafas berat. Kalau begini, bagaimana mungkin aku bisa melindunginya. Tentu saja, aku tak ingin sifatnya berubah. Hal ini pastinya dapat berdampak besar untuk semuanya.

Masalahnya, aku bahkan bisa merasakan bahwa di tanganku terdapat borgol tak terlihat. Sama saat 'Akashi-kun' memborgol salah satu tanganku. Aku khawatir, ia akan berubah, tidak akan mengingat kami kembali.

"Akashi-kun." panggilku lirih.

"Ada apa, Momoi? Kau sepertinya dari tadi melamun."

Aku segera mendongakkan kepalaku mencari sumber suara. Kulihat, Akashi-kun sedang mengelap keringatnya dengan handuk. Oh, yang lain sedang ganti baju. Pantas saja, gymnasium terasa sepi. Mungkin juga ada sebagian yang sudah pulang.

"Tidak ada… tak ada apa-apa kok, Akashi-kun. Mungkin hanya persaanmu saja." jawabku sambil memainkan papan klipku. Kulihat ia hanya mengangkat salah satu alisnya. Ugh, kenapa seorang Akashi harus bisa sejenius ini sih.

"Benarkah? " tanyanya sekali lagi. Ia kemudian berjalan mendekatiku. Entah kenapa melihat wajhnya dari dekat membuatku merasa harus menahan nafas saking gugupnya.

"Memang tidak ada apa-apa kok, Akashi-kun." jawabku berusaha meyakinkannya. Namun, silanya, ia terlihat makin tak mempercayaiku.

Akashi-kun memegang kedua pundakku. Irisnya yang crimson itu bersibobrok dengan irisku yang berwarna magenta. Gawat, dadaku rasanya sesak sekali. Ah, jantungku rasanya mau copot saja.

"Momoi, kau tahu kan aku itu paling tidak suka saat dibohongi? Karena itu tak masalah kalau kau ingin curhat kepadaku. Aku pasti akan mendengarkannya" katanya dengan nada yang amat lembut. Sangat lembut malah. Aku tak yakin apa ia pernah bicara dengan orang lain dengan nada selembut ini.

Ugh, mataku panas. Aku segera menunduk ke bawah. Aku tak ingin Akashi-kun melihatku menangis, aku tak ingin membuatnya repot, aku tak ingi menjadi beban.

Akashi-kun, ia… kemudian memelukku dengan lembut. Membuatku ingin menangis di dadanya yang bidang itu. Namun, aku benar-benar tak ingin menjadi beban. Aku semakin takut mengingat bayang-bayang 'Akashi-kun' yang menatapku dengan sorot mata yang dingin itu.

"Tak apa-apa Momoi, aku ada di sini. Kau hanya perlu mendengarkan suaraku saja, jangan dengarkan yang lain." ia kemudian menarik wajahku untuk menatap wajahnya. Seketika itu, aku langsung menghambur di pelukannya. Aroma musk langsung memenuhi indera penciumanku.

Untuk pertama kalinya, aku menangis di pelukan seorang pemuda. Bisa kurasakan Akashi-kun mengelus punggungku dan menepuk-nepuk kepalaku dengan lembut. Aku bingung, aku tak mengerti, aku ini… sebenarnya menangis karena apa?

"Tenanglah Momoi, aku ada di sini." mendengar hal itu aku makin mengeratkan pelukanku. Aku tersenyum. Entah mengapa.

Entah berapa lama aku menangis. Lagipula seprtinya Akashi-kun juga tak mempermasalahkannya.

"Terima kasih Akashi-kun, tapi, maaf, apa tak masalah kalau aku tak mengatakan alasanku menangis? Aku rasa aku belum siap." ujarku yang masih memeluknya erat. Ia kemudian mengangguk pelan. Aku rasa ia mengiyakannya.

Sebenarnya aku merasa bersalah, karena, telah menyembunyikan sesuatu darinya. Karena, aku memang bukan tipikal orang yang memendam perasaannya seorang diri.

Aku kemudian melepas pelukannya dengan perlahan dan hati-hati. Aah, sepertinya aku yang tak rela pelukan ini harus diakhiri.

"Jadi, masih dengan bahasan strategi, manajer?" tanyanya sambil sedikit menggodaku. Aku tersenyum kemudian tertawa pelan. "Tentu saja, kapten." jawabku sambil tersenyum.

"Ah, maaf, tadi aku memelukmu saat masih berkeringat. Kau pasti merasa tak enak kan?" aku menggelengkan kepalaku pelan. "Tidak kok, kau… sangat wangi."

Akashi-kun tersenyum kemudian mengelus pelan rambutku yang bersurai soft pink. Aku tersenyum dan dengan pelan aku kembali memeluknya.

"Aroma cherry…" gumamnya, namun aku masih dapat mendengarnya. "Kukira aromamu strawberry…" tambahnya lagi. Aku tersenyum lagi. Termyata ia tetap memperhatikanku.

"Aku suka cherry dan…"

"Strawberry" potongnya cepat dan benar.

"Kau juga suka kan?" tanyaku. Ia tertawa dan aku anggap itu ya. "Kau sangat mengerti diriku, Momoi." aah, kedua pipiku memanas. Semoga ia tak melihatnya. Tanpa kusadari, kami kini berbincang-bincang pelan dan ringan tentang kesukaan kami. Hal-hal lain juga, seperti basket tentu saja. aku tersenyum dan mungkin kini makin lebar saja.

Aku semakin merasa dekat dan mengenalnya sangat baik.

Sampai… aku menyadari satu hal yang pasti…

Kenapa…

Aku tak mendengar suara anggota Kiseki no Sedai yang lain ya?

Bukannya mereka selalu ramai…?

XOXOXOXOXOXO

TBC...

XOXOXOXOXOXO

Gomen! kalau pada chap ini saya membuat full of Satsuki's POV. Dan lagi pula [ada bagian ini alurnya mundur mungkin chap depan akan menjadi alur maju, tapi saya juga tak tahu lagi. Pokoknya saya terima semua review anda ya...~