Your Empress
Momoi Satsuki merasa bahwa dirinya telah dipermainkan oleh takdirnya sendiri. Karena, kini ia mendapati dirinya bukanlah menjadi menajer SMA Touo seperti dugaannya, melainkan manajer SMA Rakuzan. Dimana dirinya memiliki kemampuan mata yang mengunci dirinya sebagai pasangan Akashi Seijuurou. Kini langkah apa yang akan Satsuki berikan untuk "Kaisar"nya?
XOXOXOXOXOXO
.
.
.
Presented by Mirakou Momo
.
.
.
XOXOXOXOXOXO
"Apa yang ingin kau bicarakan… Momoi?" Tanya Seijuurou tanpa memandang Satsuki sedikit pun. Hal ini tetap saja membuat perasaan gadis bersurai soft pink itu terasa sakit. Namun, ia memilih tak mempedulikan perasaan sakit dan sesak yang sedang bergumul di dadanya itu.
"Aku… aku" Satsuki tak dapat menemukan suaranya. Hal ini membuat kedua irisnya kembali berkaca-kaca.
"Apa kau menyesal, Momoi?"
Pertanyaan itu membuat Satsuki makin bungkam. Ia sama sekali tak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk ia ucapkan. Alhasil, ia hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam. Hal ini membuat pemuda di depannya mengulas seringai tajam di wajahnya.
"Apa kau menyesal… karena tak bisa melindungiku. Mungkin lebih tepatnya kau menyesal karena tak bisa melindungi 'Akashi Seijuurou' kesayanganmu itu." katanya dengan nada meremehkan. Satsuki lagi-lagi tak bisa mengucapkan apa-apa. Sebagai gantinya ia menggigit bibir bagian bawahnya.
"Asal kau tahu saja, Momoi…" Seijuurou mulai memantulkan bola basket ke lantai beberapa kali dan bersiap untuk memasukkannya ke dalam ring.
Satsuki adalah orang yang amat teliti dan jeli… karena itu tak ayal kalau kini ia data merasakan hawa yang amat kuat dan berbahaya menguar dari tubuh Seijuurou. Bahkan hanya dengan memantulkan bola Satsuki bisa tahu ritme yang dilakukan pemuda yang ada di depannya itu sangat berbeda dengan 'Akashi'nya.
"Aku dan dia adalah orang yang sama. Kami hanya bertukar peran dan tempat."
Ucap Seijuurou sembari memasukkan bola basket ke dalam ring. Kalimat tersebut benar-benar menyayat hati Satsuki lebih dalam lagi.
Ia benar-benar merutuki dirinya. Bagaimana mungkin ia bisa melupakan kata-kata Seijuurou waktu itu. Ya, waktu itu. Satsuki mengulas senyum tipis dan mulai mendekati pemuda berambut merah yang ada di hadapannya itu.
XOXOXOXOXOXO
Flashback
Derap suara langkah kaki Satsuki menggema di setiap lorong-lorong yang ia lewati. Tak perlu bingung dengan apa kata orang lain karena sekarang adalah waktunya pulang sekolah dan beberapa yang lain waktunya mengikuti kegiatan ekskul.
Tangan kecilnya dengan kasar mulai menghapus air mata yang mulai menuruni pipinya dan membuat anak sungai. Kedua kakinya tak henti-hentinya berlari dan terkadang sedikit menghentak ke lantai. Pandangannya kini buram karena terhalangi oleh air mata yang mulai menggenang.
Satsuki terus berlari sampai-sampai ia tak sadar ia menbrak orang lain. Ia berhenti sejenak untuk menstabilkan nafasnya lalu menunduk dalam-dalam untuk meminta maaf. Namun bukannya balasan atas permintaan maaf, yang ia dapatkan malah elusan di ubun-ubunnya.
Satsuki menyeka air matanya sebelum mendongak untuk melihat orang yang barusan ia tabrak. Sialnya, air mata Satsuki kembali turun setelah melihat pemuda berambut merah dan beriris crimson. Sedetik kemudian Satsuki menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Seijuurou hanya tersenyum tipis dan terus mengelus kepala Satsuki. Hal ini malah membuat Satsuki makin sesenggukan.
"Maaf…" ucap Satsuki di sela-sela tangisnya. Seijuurou sedikit mengerutkan dahinya mendengar permintaan maaf Satsuki. Bukankah tadi ia sudah meminta maaf?
"Aku tak bisa membujuk Dai-chan…" lanjut Satsuki dengan nada lesu.
Seijuurou terdiam dan menarik Satsuki ke dalam pelukannya. Ia tahu betapa sakitnya Satsuki atas perubahan teman sepermainannya itu. Aomine Daiki, namanya. Pemuda yang amat menyukai basket dan yang paling rajin latihan di gymnasium namun kini ia… mungkin karena kekuatannya yang baru saja bangkit sehingga tak ada yang bisa… menghentikannya? Munkin saja, karena hal itu kini ia selalu bolos latihan dan sekarang tak pernah bersungguh-sungguh. Bahkan kini ia tak tersenyum lagi saat tim mereka menang dalam perlombaan.
"Maaf… padahal, kau lebih repot daripada aku… dan aku, aku malah menambah bebanmu… maaf…" Satsuki mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah kaptennya. Seijuurou lalu tersenyum dan makin mengeratkan pelukannya. Bahkan, kini Satsuki bisa-bisa lupa cara bernafas karena pemuda di depannya ini. Tapi ia tak mau ambil pusing dan balas memeluk Seijuurou. Walaupun, detak jantungnya membuatnya risih fdan takut. Ia takut Seijuurou akan menyadarinya. Menyadari detak jantungnya yang berisik.
"Kau tak perlu memikul semua beban itu sendirian, Momoi. Di sini masih ada aku dan teman-teman Kiseki no Sedai yang lain." Kata Seijuurou lembut yang membuat Satsuki merasa bahwa dirinya tak berguna. Tapi Satsuki memilih untuk diam.
"Lagipula, seharusnya itu adalah tugasku selaku kapten dari Kiseki no Sedai."
Satsuki bisa rasakan bahwa Seijuurou kini meletakkan kepalanya di lekukan leher milik Satsuki. Hal ini membuat Satsuki geli. Ia bisa mencium aroma milik Seijuurou. Rambut milik Seijuurou juga menggelitik permukaan pipi milik Satsuki. Membuat sang empu menjadi merona.
"Tapi…" Satsuki mulai angkat bicara. Tapi ia tak yakin dengan apa yang akan ia katakan.
"Tapi… Akashi-kun, kau bilang padaku untuk tak membawa beban itu sendiri bukan? Karena itu… aku…" dengan gerakan cepat tangan Satsuki menggapai wajah Seijuurou dan menempelkan kening mereka. Seijuurou yang kaget dengan sikap Satsuki hanya bisa diam dan melihat apa yang akan dilakukan oleh Satsuki selanjutnya.
"Aku tak akan membiarkanmu membawa beban itu sendirial lagi! Kau seudah banyak menanggung beban itu sendiri karena itu aku… aku biarkan aku menjadi sandaranmu!" ujar Satsuki dengan sedikit rona merah di kedua pipinya. Kini Seijuurou benar-benar tak bisa menahan senyumnya.
"La-Lagipula… kan ada aku…" ucap Satsuki sambil menurunkan beberapa oktaf dari kalimat yang barusan ia ucapkan.
"Di… dalam dirimu…" lanjut Satsuki lirih. Kelewat lirih sebenarnya. Mungkin lebih menyerupai bisikan. Tapi Seijuurou masih dapat mendengarnya dengan jelas dan wajahnya kini ikut-ikutan memanas.
"Satsuki. Tatap aku." Kata Seijuurou. Dengan malu-malu Satsuki menatap kedua iris crimson milik Seijuurou dalam-dalam.
"Momoi, kalau pada suatu hari… seluruh anggota Kiseki no Sedai berubah dan aku pun ikut berubah. Pada saat itu berjanjilah Momoi, berjanjilah padaku. Sebanyak apapun kita berubah dan bila kita saling menyakiti satu sama lain dalam bentuk apapun. Bagiku… semua terlihat sama di mataku. Karena, bagaimana pun juga Momoi, semua hal yang berubah itu sebenarnya sama. Kau hanya perlu memahaminya. Memang sangat sulit dibanding mengenal. Sampai saat itu tiba, berjanjilah."
Setelah mendengar hal itu, dengan gerakan kaku kepala Satsuki mengangguk pelan. Satsuki langsung menundukkan wajahnya dalam-dalam karena tak sanggup melihat wajah Seijuurou. Jantungnya berdetak tak karuan, wajahnya memanas, dan rasanya darahnya berdesir hebat.
"Aku… aku jadi ingin, memahamimu… Akashi-kun."
"Aku juga, Momoi. Aku ingin memahamimu. Bukan hanya mengenalmu." Timpal Seijuurou sambil mengecup pelan pucuk kepala Satsuki
"Te-Terima… kasih" ucap Satsuki lirih dengan wajah yang memerah dengan sempurna.
End of Flashback
XOXOXOXOXOXO
Diraihnya wajah Seijuurou dengan paksa untuk menatap Satsuki. Kedua iris mereka bersiboborok. Saat itu, Satsuki langsung menyadari tak adanya… ehm, kehangatan yang terpancar dari kedua iris Seijuurou.
"Aku, aku pasti akan memahimu. Akashi-kun." Ucap Satsuki tanpa keraguan sedikit pun. Seijuurou menarik ujung bibirnya untuk membuat seringaian.
"Hee, semangat yang bagus juga. Momoi…" kata Seijuurou sembari menidurkan Satsuki di lantai gymnasium dengan paksa. Membuat Satsuki bingung dan kaget… sepertinya hal itu membuat Seijuurou 'itu' ketagihan.
"Tapi… apa kau yakin, Momoi? Kau adalah pasanganku. Itu artinya aku tak akan melepaskanmu. Kau… tak akan pernah bisa lari dariku." Tanya Seijuurou seraya memainkan rambut Satsuki yang berwarna soft pink.
"Aku… aku sangat yakin. Bagaimana pu juga, masih ada dirimu di dalam tubuhku. Akashi-kun." Timpal Satsuki tanpa mengalihkan pandangannya dari Seijuurou. Jawaban Satsuki yang barusan itu membuat Seijuurou tersenyum. Ia kini benar-benar tersenyum ke arah Satsuki, tersenyum asli, bukanlah seringaian yang barusan ia pasang.
Tangan Seijuurou yang sebelumnya memainkan rambut Satsuki kini memeluk pelan tubuh mungil milik Satsuki. Satsuki bukannya menolak, ia melingkarkan kedua tangannya di leher Seijuurou.
"Kau adalah milikku… Satsuki." Kata Seijuurou sambil menenggelamkan wajahnya di leher Satsuki.
"Ya, aku adalah milikmu seorang. Sei-kun."
"Kau adalah orang yang akan menemaniku dalam perjalanan panjang ini. Momoi Satsuki."
Setelah mengatakan kalimat itu wajah Seijuurou mendekat dan mengecup pelan kening Satsuki. Setelah mengecup kening Satsuki ia mengecup pipi, pelipis, hidung, dan yang terakhir bibir Satsuki. Bukannya menolak Satsuki membalas ciuman Seijuurou. Kini awala perjalanan panjang sudah di mulai. Apakah kau sudah siap dengan semua konsekuensinya? Momoi Satsuki…
XOXOXOXOXOXO
TBC
XOXOXOXOXOXO
Terima kasih sudah mau membaca fanfic ini…
Saya akan memberika bonus part dari chapter 2…
Mungkin saya akan memberikannya di chapter yang akan datang, mohon bantuannya…
