Far Away
By : balbaekyeolfan
Main Cast : byun baekhyun / park chanyeol
Pairing : chanbaek / baekyeol dan other
Three shoot?
Genre : drama, school life, au, romance (banyak amat ya -_-)
Warning : typos,cerita kaga nyambung dan absturd (maklumin ajeh ya *wink)
Note : no bash, no re-upload, no sider
Happy reading and enjoy it
Park chanyeol, deretan hanggul yang melekat pada name tag seragam pria yang kini berdiri di depan baekhyun mampu di baca jelas olehnya, terlebih lagi tinggi badannya tepat berada sejajar dengan name tag pria yang sedang memandang baekhyun dengan tenang di hadapannya itu.
"ne..? anda memanggilku..?" baekhyun berucap hati-hati sambil berdiri dari bangku perpustakaan dan Mematikan kembali timer dari ponsel yang baru di nyalakannya untuk memulai tidur kurang nyamannya atau melakukan rutinitas yang memang selalu di lakukannya hingga ia mendengar suara berat yang melewati gendang telinganya meyuarakan nama baekhyun.
"ne aku memanggilmu. byun baekhyun kelas 2-A kan..?" chanyeol bertanya tenang dengan mata yang bergulir ke arah name tag seragam baekhyun untuk memastikan kembali jika ia tak salah orang. Takut-takut jika data siswa sekolah yang sengaja di gunakannya untuk mencari informasi siswa bernama byun baekhyun salah. mengingat jumlah siswa di sekolah yang bisa dibilang miliknya ini tidak sedikit, dengan nama yang hampir sama satu sama lain.
Walau sorot mata jernih dan teduh itu sudah pasti milik namja yang akhir-akhir ini menarik perhatiannya, bahkan hampir membuatnya terlihat layaknya penguntit, ya..walaupun julukan 'penguntit' sudah di dapatkannya dari pihak administrasi sekolah, karena meminta mereka untuk mencari tahu data tentang siswa dengan nama byun baekhyun secara pribadi.
"ne, jadi apa yang bisa dibantu siswa beasiswa sepertiku,..chanyeol-ssi..?" baekhyun berucap tak kalah tenang dari chanyeol dengan jeda sedikit untuk menyebutkan nama chanyeol dan penekanan jelas pada kata 'beasiswa' untuk membuat namja yang menurutnya hanya membuang-buang waktu mengajak baekhyun berbincang di waktunya yang sangat beraharga ini untuk pergi, terlebih lagi dari sikap dan penampilan sepertinya namja jangkung yang berdiri di hadapannya dengan kedua tangan yang di masukkan ke dalam kantung celana seragam itu adalah termasuk 'benda' mahal yang memang di hindari baekhyun.
Chanyeol hanya tersenyum tipis menanggapi kalimat yang menurutnya, baekhyun sedang menghakimi dirinya untuk di jauhi. "aku tahu itu, byun baekhyun siswa tingkat dua dengan besiswa penuh dari sekolah. Kurasa.." chanyeol belum selesai mengucapkan kata yang akan di gunakannya untuk membuat baekhyun setidaknya nyaman berbincang dengannya pada awal mereka bertatap muka seperti ini.
Namun suara indah-menurut chanyeol- khas lelaki mungil itu lebih dulu mengintrupsi "maaf chanyeol –ssi, saya benar-benar sangat sibuk sekarang ini. jika anda datang hanya untuk memperjelas identitasku saya pikir itu sudah cukup jelas, jadi bisa kita sudahi perbincangan kaku ini..?" baekhyun masih berucap tenang dengan nafas yang teratur walau klimat panjang lebar tadi terdengar tegas dan sedikit memperingati.
Chanyeol lagi-lagi hanya tersenyum tipis. Berpikir bahwa susah untuk membangun hubungan yang baik dengan lelaki bermarga byun yang berdiri di hadapanya ini, mungkin dia hampir melihat cerminan dirinya pada baekhyun dengan gaya bahasa dan intonasi yang menjaga jarak pada lawan bicaranya meyakinkan mereka untuk berjalan menjauh atau mengumpat untuk memutus koneksi dan menghindari terjadinya percakapan selanjutnya bahkan dalam ketidak sengajaan jika mereka kembali berpapasan.
Namun baekhyun salah memilih lawan bicara kali ini, dengan metode yang sama, chanyeol telah mempelajarinya bahkan ketika usianya menginjak 10 tahun ia sudah di ajarkan cara berbicara seperti baekhyun tadi. namun sekali lagi otak ber IQ di atas rata-rata chanyeol melihat jelas hal baru yang di miliki byun baekhyun. 'Intonasi itu di gunakan hanya untuk mereka yang bersembunyi'. Mengingatkannya kembali pada tuan choi yang menjadi guru chanyeol dalam menata sikapnya pada umurnya yang kesepuluh.
'tuan mudah harus bisa membedakan saat macan mengaung memberi ancaman dan bayangan macan yang mengaung untuk memberi ancaman'
dulu chanyeol sangat sulit menalar arti kalimat itu, bahkan ia menghabiskan malamnya hanya untuk memikirkan makna kalimat itu dan jatuh tertidur pada seperempat malam karena lelah memikirkan makna kalimat sederhana namun bermakna dalam itu hingga pada pagi harinya tuan choi memeperjelas makna kalimatnya.
'bahawa seseorang yang memberi intimidasi akan terlihat jelas dengan kekuatan yang menopangnya di belakang, di mana mereka yang mengaung mengancam yang lain, percaya akan kemampuannya. berbeda dengan mereka yang mengaung menyerupai macan hanya untuk menutupi tubuh kelincinya' dan kini realisasi kalimat itu terlihat jelas di hadapannya.
Byun baekhyun hanyalah macan bayangan
Chanyol tersenyum tipis lagi, seolah tersenyum merupakan pekerjaannya namun kali ini ia sedikit menunduk agar baekhyun tak melihatnya "kau sangat sulit di ajak berteman ya, bahkan untuk menyentuh dinding yang kau bangun sajah aku tak bisa" kini chanyeol tak hanya berucap namun di iringi dengan badan tegapnya yang melangkah untuk mengurangi jarak dengan baekhyun.
"jangan berpikir untuk membuatku menjauhimu hanya karena aura penolakanmu, percayalah itu tak berpengaruh padaku. Aku sudah memutuskan dan itu harus ku gapai" chanyeol menambahkan kalimatnya lagi dan berhenti tepat di depan baekhyun dengan jarak yang sangat dekat. Bahkan Jarak ujung sepatu keduanya hanya berjarak satu kepal tangan orang dewasa sajah.
Baekhyun masih terdiam memandang pada obsidian kembar yang ada di hadapannya dengan kening yang sedikit menukik menandakan kebingungan dan ketidak sukaannya pada kata-kata chanyeol "apa maksud anda park chanyeol-ssi..?"
Chanyeol tak langsung mejawab pertanyaan baekhyun ia menundukan kepalanya hanya untuk mensejajarkan wajah mereka. Membuatnya mati-matian menahan gejolak aneh dalam dadanya dan berusaha mengingat kembali akan sikap yang baik yang harus dilakukan seorang yang berpemikiran tinggi untuk tidak melakukan hal-hal bodoh, mm..seperti tiba-tiba mencium namja manis dengan pandangan teduh yang berdiri di hadapannya ini mungkin.
Berbeda chanyeol, berbeda juga baekhyun. Ia tahu bahwa namja yang terlihat pintar dan tenang dengan pembawaan tegas yang kini menunduk untuk mensejajarkan wajah mereka takkan melakukan hal-hal aneh padanya, entahlah ia hanya berpikir seperti itu. Mengingat percakapan singkat mereka tadi yang terdengar kaku namun saling mengerti satu sama lain. Ini sangatlah jauh berbeda ketika berbicara dengan luhan ataupun dengan kyungsoo, percakapan ini terasa kaku namun melegakan bagi baekhyun. Seperti ia menelanjangi dirinya di depan chanyeol hanya Karena percakapan aneh itu.
"kau milikku, byun baekhyun" dan kata-kata singkat itu menulikan baekhyun untuk sesaat, membulatkan kelopak mata sabitnya yang teduh dan membuka kedua bibir tipis merah mudah yang tadinya mengatup untuk menambah pasokan oksigen agar ia mampu bernafas dengan teratur, merasakan aliran darah yang berdesir keseluruh tubuhya dan memaksa detak jantungnya untuk berdenyut kencang.
Untuk ukuran anak yang berhenti menerima kasih sayang dari orang tuanya pada saat ia berusia 15 tahun terlebih lagi tanggung jawab yang mengharuskan baekhyun bekerja paruh waktu dalam masa remaja ini untuk melunasi bunga hutang kedua orangtuanya. kalimat itu terasa ambigu untuknya.
Ia tak pernah sekalipun membayangkan untuk merasakan tertarik pada orang lain atau membuat orang lain tertarik padanya, menurut baekhyun itu hanya akan membuang-buang waktu, seperti saat ia melihat luhan yang selalu bertingkah konyol saat menyaksikan pria albino yang biasanya akan bermain basket bersama teman-temannya pada lapangan terbuka yang berada di tengah sekolah elit mereka membuatnya terlihat jelas dari kelas baekhyun. Itu hanya satu dari sekian alasan yang membuat baekhyun tak pernah mau menjalin hubungan bahkan berteman dengan orang lain.
Bercermin dari kejadian tragis yang menimpa kedua orang tuanya, bahwa sekalipun mereka saling mencintai namun pada akhirnya, kedua insan yang mencinta itu merenggut nyawa masing-masing. Dan itu yang menjadikannya trauma dengan kata 'menjalin hubungan'.
Puk..
lamunan baekhyun dan kegiatan menikmati perasaan aneh dalam dirinya terhenti ketika ia meresakan tangan besar menyentuh kepalanya dan menemukan fakta bahwa laki-laki yang tadi membuatnya merasakan penyakit aneh dadakan ini tengah tersenyum, ia tersenyum lebar lalu mengacak surai keunguan baekhyun dan berbalik pergi dengan bait kata yang mengikuti langkah kaki jenjangnya.
"aku tahu kau namja cerdas dengan kemampuan menalar kata yang baik, jadi bersikaplah layaknya orang yang berkemampuan di atas rata-rata untuk tidak mencoba menghindariku atau membenciku. Karena itu hanya akan sia-sia. Kau takkan mampu menolak pesonaku byun baekhyun dan aku percaya diri akan itu" kata-katanya menguap di udara bersamaan dengan hembusan teratur nafas baekhyun dan ketukan sepatu mahal chanyeol yang mengiringi suasana di sudut belakang ruangan perpustakaan ini.
Kata-kata yang terkesan sombong dengan intonasi mengancam dan membuat baekhyun benar-benar bingung dengan kalimat itu. "apa-apaan dia..? bertindak seenaknya, dan kalimat apa itu..? mengganggu sajah, dasar namjah aneh" baekhyun berucap sambil melangkah menuju kursi yang selalu di jadikannya untuk tidur siang di ruangan ini, mengabaikan fakta bahwa jauh di dalam hatinya ia mengetahui dengan jelas makna kalimat chanyeol itu, namun ia mencoba menguburnya dalam-dalam, tapi satu yang pasti dari kalimat itu bahwa ia takkan memiliki waktu yang nyaman lagi di sekolah ini dengan menghabiskannya sendirian.
Ia ingin melanjutkan tidurnya yang tertunda namun bell masuk tanda pelajaran berikutnya di mulai membuat baekhyun harus rela membatalkan rutinitas yang selalu di lakukannya itu bahkan gara-gara namja dengan kalsium berlebihan tadi baekhyun harus meninggalkan acara makan siang di atap sekolah juga. "sial..!" baekhyun mengumpat entah kepada siapa dan mulai berjalan menuju kelasnya dengan persaan kesal dan juga hangat di saat yang bersamaan.
Hangat..? apa yang terjadi padaku..?
….
Harusnya pria dengan wibawa yang di jaga dan di bangun dari kecil tak boleh membiarkannya bertindak layaknya orang aneh-menurut baekhyun-, seperti sekarang ini, ia menjulurkan kantung plastic berwarna hitam yang berisikan sandwich yang di pesannya dari kantin sekolah di depan wajah baekhyun yang sangat jelas terlihat bingung dan juga kesal karena ini kali keduanya chanyeol mengganggu tidur siangnya.
"apa ini.?" Tanya baekhyun heran tapi tetap terlihat tenang. "makanan, ambillah dan segera buka aku ingin makan siang dengan mu" tak ada nada memerintah di sana, bahkan terkesan datar namun entah mengapa itu terdengar mengesalkan di telinga baekhyun. "kau memerintahku..?" baekhyun berucap dengan alis yang terangkat menunjukan bahwa ia benar-benar teranggu dengan sikap chanyeol, namun dengan santai pria dengan rambut hitam pekat yang terlihat manly itu mengabaikan kekesalan baekhyun.
Ia menarik kursi lain yang memang terletak di beberapa tempat di ruangan perpustakaan yang agak kesudut ini untuk mendudukan bokongnya tepat berhadapan dengan baekhyun dengan meja bundar kecil yang berada di antara mereka, dimana chanyeol sengaja 'menyeret' namja mungil itu untuk menempati temapat duduk itu agar mereka dapat berbicara nyaman satu sama lain ketimbang di tempat baekhyun biasa tidur terlebih lagi daerah ini jarang di kunjungi siswa berhubung buku yang di pajang pada lemari-lemari di sekitar mereka hanyalah buku-buku lama dan jarang di pakai atau sama sekali tidak di pakai untuk mengajar lagi.
"lakukan sajah, ini pertama kalinya aku berusaha untuk berinterakasi dengan orang lain atas kemauanku sendiri, jangan membuatnya menjadi sulit" chanyeol berucap sambil merangkai duduk ber etikanya dan menyodorkan kantung plastic yang berisi sandwich tadi kepada baekhyun.
"m-mwo..? kalau begitu jangan lakukan ini. ara..?" samar-samar persimpangan urat di pelipis baekhyun terlihat menandakan bahwa ia sendang menahan emosinya untuk menghadapi namja yang-menurutnya sangat mengesalkan ini, berusaha menunjukan aura dinginnya namun itu sama sekali tak berhasil pada chanyeol, karena dari awal ia telah mengetahui tipe orang seperti baekhyun.
Setelah beberapa saat mereka terdiam dengan pandangan yang saling mengunci satu sama lain seolah bertanding untuk menunjukan mana yang bersikap apa adanya dan yang mana yang bersikap pura-pura. Dan tentu sajah yang memiliki siikap dingin dan tegas sejak lahir adalah pemenangnya, park chanyeol.
Baekhyun mendengus kasar sambil memejamkan mata, menahannya untuk tidak meledak di ruangan yang memang di larang untuk membut keributan ini dan dengan kasar ia mengambil kantung plastic yang terletak di atas meja tepat di hadapannya itu, entahlah seharusnya ia bisa mengusir laki-laki bermarga park yang kini menatapnya dengan intes, namun kejadian tadi yang mana chanyeol 'menyeretnya' hingga ia berakhir di tempat ini bukan di tempat biasanya ia menghabiskan waktunya untuk tidur, cukup memberikan alasan untuk tidak melakukannya lagi.
Hanya dengan obsidian bening yang tajam dan tegas disaat bersamaan dan dengan aura mengintimidasi yang kental dengan park chanyeol dan kalimat singkat yang keluar dari bibir tebal itu serta penekanan yang membuat baekhyun reflex mendongak gugup. "darawa, atau kita akan melakukan ini sepanjang hari seperti sepasang kekasih yang terlibat masalah. Memaksamu berdiri dari tempat duduk itu" dan berhasil menyeretnya dalam artian kaki mungil itu yang melangkah sendiri mengekori chanyeol dengan mulut yang berkomat-kamit mengumpati pemuda jangkung yang bejalan dengan tenang di depannya dan berakhir di tempat ini.
"jadi, kita berteman..?" chanyeol memulai percakapan dengan meletakan sendwichnya yang telah tergigit sepotong untuk menyudahi kesunyian di antara mereka, mengabaikan bahwa suara makan baekhyun yang terlihat tidak elit itu menciptakan suara yang berisik. "ne..?" baekhyun merespon dengan mulut penuh dan mata yang membulat untuk melihat lawan bicaranya, menunjukan mata beningnya yang terlihat sedikit berair-karena mulut yang penuh makanan-dan bibir pink alaminya yang mengerucut imut.
lapar memang tak memiiki belas kasihan termasuk menghacurkan image dingin yang baekhyun bangun hanya karena sepotong sandwich. dan pemandangan ini mengingatkan chanyeol akan anak anjing yang dulu di peliharanya saat ia duduk di bangku JHS. Sangat menggemaskan.
"akham" chanyeol berdehem untuk menghilangkan kegugupannya dan kembali meneguk colla yang tadi masih di sisahkanya, tentu sajah dengan sikap dan pembawaan yang tetap tenang. Didikan sopan santun di meja makan selalu di bawanya kemana-mana termasuk makan bersama baekhyun, ya.. meskipun munkgin sekarang ia sedikit melaggar etika tersebut karena ia mengajak baekhyun untuk berbincang di saat makan dimana dalam etika pembelajarannya hal itu di larang, terlebih lagi yang memulai percakapan adalah orang yang lebih mudah, namun ini satu-satunya kesempatan chanyeol untuk melakkukan pendekatan.
jadi..masa bodoh dengan aturan rumah itu, selama ini ia melakukannya memang karena ia malas untuk terlibat dalam percakapan yang sering membahas tentang masalah pekerjaan atau masalah-masalah lain yang sebenarnya sangat menggannggu system pencernaan chanyeol mengingat usianya baru menginjak 17 tahun dan ia harus selalu berikap seolah sudah berkepala 3 di meja makan megah dan glamor keluarganya atau restoran mewah tempatnya dan keluarga kecilnya serta relasi bisnis ayahnya biasa menghabiskan makan malam sekaligus urusan bisnis. Pembawaannya memang sudah dimiliki sejak lahir namun aturan ketat bahkan di meja makan itu sedikit berlebihan menurutnya.
"bisakah kau mengunyah semua makananmu dulu dan menelannya pelan..? itu sangat mengganggu baekhyun-ah" baekhyun yang semula sudah mengunyah kembali makanannya kini terdiam lagi, namun kali ini ia tidak menatap wajah chanyeol, hanya pandangan kosong pada potongan sandwich yang ada di hadapannya.
Seperti dejafu saat nama itu menyeruak keluar dari kepala baekhyun, 'baekhyun-ah ayo makan' 'baekhyun-ah ayo mandi bersama appa' 'baekhyun-ah appa minta maaf' 'baekhyun-ah umma menyangimu' 'baekhyun ah, baekhyun-ah, baekhyun-ah'
"..hyun..baekhyun" baekhyun mengerjab sekali dan meneteskan cairan bening melintasi pipi putih mulusnya dan secepat itu juga ia menyekahnya, ia tak ingin terliht lemah di hadapan siapapun, chanyeol agak terkejut dengan apa yang terjadi di hadapannya. baekhyun menangis.? Walaupun ini bukan kali pertama ia melihatnya namun ada rasa lain dalam dadanya saat melihat cairan bening itu sekaligus penasaran dengan sosok mungil ini.
"hmm… kamu baik-baik sajah..?" chanyeol bertanya dengan nada khawatir melihat perubahan sikap baekhyun. Nampak sekali aura yang menyeruak dari tubuh namja mungil itu sangatlah pekat, dan itu bukan pura-pura.
"ne, aku baik-baik sajah. Dan terimakasih atas makanannya chanyeol-ssi aku harus kembali kekelas sekarang" baekhyun sedikit menggeser kursi kayu yang di dudukinya dan melangkah meninggalkan chanyeol dengan pandangan yang kosong. Chanyeol tak berusaha mencegah ataupun mengiutinya, ia cukup mengerti dengan apa yang terjadi pada bakehyun sekarang ini.
"baekhyun-ah. Titik sensitifnya" dan kesimpulan itu yang di dapatkan dari apa yang baru sajah di pelajari dari perubahan sikap baekhyun tadi.
….
Setelah pendekatan itu dan pendekatan-pendekatan lainnya seperti perdebatan singkat namun berwibawa antara dua manusia yang memang memiliki kepintaran berbicara yang hampir sama, seperti saat yang lebih tinggi mencoba untuk membawa baekhyun kekantin sekolah namun tidak berhasil sama sekali. dan percakapan-perakapan singkat di atap sekolah atau kolaborasi di ruangan music yang kini menjadi tempat baru yang di kunjungi bekhyun selama jam istrahat, serta panggilan-panggilan baru untuk mewarnai persahabatan mereka seperti 'pendek, bacon, byunnie' atau 'tiang listrik dan dobi' menunjukan kedekatan yang mereka jalin secara diam-diam tanpa pengetahuan siswa soengguk SHS sama sekali.
Entahlah, baekhyun merasa tidak perlu untuk mengumbar hubungan yang menurut baekhyun sangtlah abstrut tapi juga menyenangkan ini, dimana ia bisa dengan bebasnya berperilaku sebagai mana di kehidupannya dulu, sebagai mana byun baekhyun dimasa kanak-kanaknya dan sebagaimana baekhyun berskap di hadapan mendiang orang tuanya mengabaikan kerja paruh waktunya yang meguras hampir semua tenaga masa mudahnya.
Dan begitu pula sebaliknya, di hadapan baekhyun, chanyeol dapat bersikap apa adanya dia tanpa ke kakuan serta keseriusan secara berlebihan, keterbukaan dalam beropini serta menyuarakan isi pikirannya walaupun itu tak memberi perubahan banyak dengan sifatnya yang semula dimana ia memang memiliki sikap dingin dan semua hal yang berbau intimidasi serta ketenangan yang sudah dimilikinya sejak lahir, berbedah dengan baekyun dimana sikapnya yang sekarang sangatlah jauh berbeda dengan sikapnya pada saat mereka memulai percakpan mereka pada bulan yang lalu dan dengan itu semua chanyeol menemukan sosok baekhyun yang sesungguhnya.
Sosok yang sebenarnya sangatlah ceria dengan sikap ceroboh dan konyol yang sangat cocok dengan postur menggemaskannya. dan itu menjerat chanyeol lebih untuk memiliki sosok mungil itu. Mungkin lelaki mencintai lelaki adalah tabuh dan masyarakat korea masih sangat menjaga jarak dengan hal semacam itu namun cinta yang tumbuh di antara dua insan walau berjenis kelamin sama adalah berkah dari tuhan, setidaknya itu yang di yakini chanyeol. Bahwa ia telah jatuh cinta pada baekhyun atas dukungan tuhan melalui takdirnya.
Terlebih lagi baekhyun tidak mengetahui perihal ia adalah sang cassanova sekolah membuat chanyeol semakin menaruh harapan besar pada baekhyun bahwa persahabatan ini hanya semata-mata karena mereka memang cocok bersahabat dan rasa nyaman satu sama lain tanpa ada sebab lain seperti halnya para yeoja yang selalu mengejar chanyeol karena paras sempurna dan kekyaannya.
….
Dan tepat 3 bulan setelah mereka berteman, menurut chanyeol sudah saatnya ia merealisasikan dukungan tuhan dengan menyatakan perasaanya pada baekhyun, dan hari yang sangatlah mendebarkan untuknya itu di pilih berdasarkan perhitungan matang dari buah latihan selama 1 minggun untuk menyatakan cintanya pada baekhyun agar kata-kata yang di plihnya tidak terdengar cheesy.
Namun didikan yang selama ini mengajarkannya untuk selalu bertindak dengan percaya diri dan tegas tak terlihat sama sekali, dengan mata yang bergerak gelisah dan tangan yang berkeringat bibir tebal itu menguarakan isi hati dan kepala sang empuhnya bahkan setelah seminggu latihan ia masih meresakan keggugupan itu.
"baekhyun-ah, a-aku tak tahu ini terlalu cepat atau malah sangatlah lambat, tapi perasaan ini telah lama muncul dan semakin hari-semakin bertambah, rasanya akan sangat menyiksaku jika aku tak menyuarakannya" chanyeol berhenti sesaat dari proses pernyataan cintanya. Membuat namja mungil yang berdiri di hadapannya memandangnya bingung dan juga penasaran di saat yang bersamaan.
"jadi..? apa maksud dari kalimat itu..?" baekhyun bertanya santai dengan focus yang masih di berikan pada wajah chanyeol membuat kegugupan yang menyelingkupi namja jangkung itu bertambah dan membuat semua rangkaian kata yang sudah di persiapkannya hilang begitu sajah. Mungkin di bawah oleh udara yang keluar dari saluran pernapasannya karena darah dalam tubuhnya berdesir cepat dan membuat pompahan jantung yang berdenyut kencang dan membuat produksi keringat dalam tubuhnya meningkat drastis.
Melihat perubahan dari sikap chanyeol yang berbeda dari biasanya baekhyun mencoba menerka apa yang akan di sampaikan chanyeol padanya, namun sejauh nalarnya mencoba ia tak mengerti makna kalimat ambigu dari pria tinggi di hadapannya ini. maka dari itu ia mencoba bertanya sekali lagi. "apa maksudmu yeollie, katakanlah denga jelas jangan bertele-tele seperti ini, kau membutku takut" baekhyun bertanya dengan niat sedikit berkelakar, namun melihat raut tampan chanyeol yang terlihat serius dan gugup di saat yang bersamaan membatalkan niatnya untuk tertawa.
Hembusan nafas kecl di keluakan chanyeol seolah dapat membuang beban yang dari tadi di tanggunggnya lalu memejamkan matanya sejenak untuk mengatur setiap kalimat yang akan di lontarkannya ini, bukan bersandar pada pikiran namun pada hati.
"aku mencintaimu byun baekhyun, mau kah kau menjadi kekasihku.?" Dan kalimat singkat namun mempertaruhkan nyawanya itupun terucap lancar dari bibir chanyeol, memberikan kelegaan besar pada himpitan dada nya yang menyebabkan ia susah untuk menghirup udara di beberapa saat yang lalu.
Baekhyun mendengarnya dengan jelas, namun otaknya tak memberikan akses yang baik untuk mencerna kalimat itu, hatinya bedesir hangat namun otaknya mengatakan ini salah. Ini tak seharusnya terjadi, mereka berdua adalah sama-sama lelaki yang tak seharusnya menjalin hubungan seperti itu. Dan memori-memori kedekatannya dengan chanyeol mulai terputar di otaknya dimana ia melihat pantulan dirinya tertawa disana, membuat beberapa candaan yang hanya akan dianggap bodoh oleh chanyeol dan berakhir dengan baekhyun yang mempoutkan bibirnya lucu dan tangan besar chanyeol yang mengusak rambut keunguannya.
'i..ini salah, ini tidak boleh terjadi' otak baekhyun menyalah kan gambar-gambar itu, tujuannya datang ke seoul hanyalah untuk mencari uang untuk membayar lunas sisa hutangnya da menebus rumah peninggalan kedua orang tuanya, bukan untuk menjalin kisah cinta romantis yang konyol secara sembunyi-sembunyi dengan namja yang menurutnya terlalu tinggi untuk diajak berteman itu.
baekhyun tak tahu pasti seperti apa kekayaan keluarga chanyeol dan ia tak mau mencari tahu tentang itu tapi ia yakin chanyeol adalah orang kaya yang memang baekhyun harus jauhi. mengingat konsep awalnya ia meginjakan kaki di sekolah ini bahwa ia menghindari 'benda' mahal yang ada di sekolah elit ini dan juga konsep awal tentang pembangunan pribadi barunya saat pertama kali ia menginjakan kaki di ibu kota negara ini.
"..hyun..baekhyun-ah..? gwenchana..?" chanyeol bertanya sambil menghentakan badan baekhyun ringan sekedar untuk menarik namja mungil itu dari lamunan panjangnya dan setelah keempat iris berbeda warna itu bertemu, chanyeol tertegun. baekhyun menangis, lagi. "kamu kenapa baekhyun –ah.?" Kali ini chanyeol bertanya dengan nanda khawatir dan hanya di balas dengan sentakan keras dari baekhyun untuk melepaskan tangan chanyeol yang memegang lengannya.
" ..ini tidak bisa terjadi chanyeol-ah kita tak seharusnya berteman terlebih lagi apa yang kau ungkapkan tadi, kau tak seharusnya merasakan itu" baekhyun beruca dengan nafas yang terengah berusaha menetralkan gemuruh sakit yang ada di dadanya, mengabaikan fakta perasaan namja jangkung yang kini memandangnya dengan mata yang membelalak dan rasa sakit yang juga di rasakan dalam dadanya sama seperti baekhyun.
"ke..kenapa..? apa hanya karena kita sama-sama lelaki..? itu buka alasan byun baekhyun, cinta tak mempermasalahkan itu" chanyeol berucap tegas dengan sedikit melangkah untuk menyentuh lengan baekhyun lagi namun namja yang kini gemetar itu melangkah mundur menghindari tangan besar chanyeol.
"aku tidak tahu, hanya sajah ini semua salah. Ini salah. Pertemanan kita salah dan semua ini salah" baekhyun berucap seperti orang yang kehilangan kewarasannya dengan air mata yang yang mengalir di pipih putihnya. Bayangan mengenai hari dimana ia menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya dan saat dimana dua manusia yang katannya saling mencintai itu saling menikam dengan pisau di tangan masing-masing kembali terputar di kepala baekhyun, membuatnya lebih gemetar.
Melihat itu chanyeol berusaha untuk menenangkan baekhyun "baekhyun-ah, jeball dengarkan aku" namun baru satu langkah chanyeol mengambil tindakan, baekhyun sudah memperingatkannya dengan berteriak histeris "JANGA MENDEKAT, jangan mendekat. Ini salah ini semua omong kosong. Aku tak mau merasakan perasaan bodoh ini, aku tidak mau" baekhyun makin bereaksi berlebihan bahkan ia menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya dan mendudukan badannya pada lantai kasar atap sekolah itu lalu menangis terseduh.
Chanyeol yang menyaksikan itu hanya bisa berdiri dengan bingung dan juga takut di saat yang bersamaan, apa yang terjadi pada baekhyunnya..? ia ingin merengkuh namja mungil itu namun takut jika mendapat penolakan lagi atau malah membuat pria mungil itu tambah berteriak histeris. Ia tak bisa berbuat apa-apa dan hanya mengeplkan kedua tangannya.
Masih dengan mata tajam yang menatap tubuh mungil itu hingga yang di tatap bangkit berdiri dengan tubuh yang masih bergetar. " , kita tak seharusnya berteman atau apapun namanya itu, menjauh dariku dan anggap kita tak pernah saling mengenal" baekhyun berucap dengan nafas yang tersendat. Entah karena buah traumanya atau rasa sakit di dalam dadanya yang mengikuti setiap kata yang di lontarkannya.
Baekhyun berani bersumpah ini sangat menyakitkan, ia baru merasakanya, sakit yang hampir sama saat mengetahui kedua orang tuanya pergi meninggalkannya seorang diri, menigglkan nya sendirian bahkan dengan tanggung jawab yang harus di laksanakannya namun kali ini rasa sakit itu berbeda, karena kenyataanya dialah yang pergi meninggalkan orang lain. Membuat jarak pada seseorang yang berusaha menghangatkannya, meninggalkan seseorang yang mengulurkan tanganya dan menawarkan kebahagiaan, meninggalkan seseorang yang kini berdiri mematung dengan pandangan kosong dan nyeri yang menjalar di seluruh tubuhnya.
Namja jangkung yang memiliki kesempurnaan dengan kebanggaan akan sikap tenangnya, wajah rupawannya dan kekayaan yang di milikinya, ternyata tak memberikan jaminan di hadapan byun baekhyun, terbukti dari reaksi yang di terimanya sangat jauh berbedah dengan prediksi yang telah di perhintungkannya, itu sagatlah sakit terlebih lagi hati yang ditawarkannya di tepis mentah-mentah dan di buang tepat di depan matanya.
Namun rasa yang sudah terlanjur tumbuh di dalam hatinya tak bisa di hilangkannya begitu sajah. "andwe,kau tetap harus menjadi milikku. Tak ada satupun yang bisa mengubah itu." Dan kata itu menjadi keputusan terakhir chanyeol. Ia egois jika itu menyangkut baekhyun dan ia tahu baekhyun juga mencintainya, ia yakin itu dan selama ini keyakinannnya tidak pernah salah.
Untuk pertama kalinya kedua inisan yang memiliki kadar kepintaran di atas rata-rata itu membolos dua kelas terakhir mereka dan lebih memilih menghabiskan waktunya di dua tempat berbeda dengan pandangan kosong masing-masing, chanyeol dengan matahari yang hampir terbenam terbenam berada atap sekolahnya dan baekhyun yang memilih tidur di ruangan perpustakaan dengan lelehan air mata yang mengantarnya ke alam bawah sadarnya.
Mereka Berusaha untuk menetralkan rasa sakit yang berdenyut di kedua oragan penting mereka, hati.
….
Setelah kejadian itu, bekhyun tak pernah lagi menemui chanyeol di tempat-tempat biasa mereka bertemu, ia hanya menghabiskan waktunya di kelas tanpa ada lagi rutinitas tidur siang atau makan siang di atap gedung sekolah, membuat kedua temannya bingung melihat perubahan sikap baekhyun namun kedua namja mungil itu tak mau bertanya lebih tentang kehidupan misterius-menurut mereka- yang di miliki baekhyun, dan setahu mereka baekhyun memang pendiam dan menjaga jarak pada semua orang kecuali kedua namja mungil itu tentunya, jadi itu tidak terlalu bermasalah bagi kyungsoo dan luhan.
Lain bekhyun lain lagi dengan chanyeol, namja jangkung itu tak terlihat tenang seperti biasannya dalam kurun beberapa hari terakir ini, ia tampak gelisah dan tidak focus, membuat beberapa yeoja yang mengidolakannya merasa bingung dan tak berani mendekati namja itu, bukan tanpa alasan mereka melakukannya karena Kemarin chanyeol membentak seorang yeoja yang memberikannya hadiah.
Sebenarnya rutinitas pemberian hadiah secara langsung atau sembunyi-sembunyi sudah sering terjadi seperti saat seorang yeoja dengan lancanganya mencegat chanyeol di depan kelasnya dan menyodorkan bingkisan dengan warna cerah itu pada chanyeol, jika biasanya ia hanya mengabaikan mereka namun kali ini ia merasakan puncak dari ketergangguannya.
Fakta bahwa ia sangat lelah memikirkan masalah yang menimpa hubungannya dengan baekhyun serta kerinduan dan rasa penasaran dengan reaksi yang di tunjukan baekhyun pada saat itu serta hal yang selalu berputar di kepalanya mengenai tindakan yang harus dilakukannya dan resiko dari tindakan itu membuat chanyeol sulit mengendalikan emosinya untuk sesaat dan berimbas pada yeoja itu.
Chanyeol tahu kali ini kemarahan baekhyun sangat berbeda dengan saat ia tidak sengaja memanggil baekhyun dengan nama yang menjadikannya teringat kembali akan masa lalunya, dan kata maaf dapat mengembalikan keadaan mereka walau dengan pengakuan dari chanyeol bahwa itu adalah kali peertamanya ia mengucapkan kata maaf kepada orang lain dan secepat kalimat itu berakhir baekhyun memaafkannya dengan syarat chanyeol tak bertanya lebih mengapa baekhyun marah dan menangis saat ia menyebut nama panggilan baekhyun yang dulu.
Walau pada faktanya ia sama sekali tak tahu bagaimana harus menangani baekhyun jika ia bertemu nanti, mengucapkan kata maaf..? tak ada yang salah disini, ini tak takkan pernah salah, rasa tak pernah salah, meski itu harus datang pada dua orang yang sama-sama keturunan adam.
Chanyeol meyakini itu dengan pasti hanya sajah keyakinannya mengeni resiko serta akibat yang timbul jika ia salah mengambil tindakan selalu berputar di kepalanya, menambah beban untuknya bergerak menyelesaikan masalah mereka, jika sajah istilah sang cassanova yang memang tidak di inginkannya itu tidak melekat padanya, sudah sejak lama ia ingin menghampiri baekhyun dan berbicara pada namja mungil itu, namun mengingat julukan itu bukan hanya sekedar main-main, terebih lagi selama ini ia tidak pernah terlihat dekat dengan siapapun akan membuat baekhyun dalam bahaya.
Para yeoja yang mendedikasikan hidup mereka mengejar chanyeol cukup untuk memberika alasan kenapa kata resiko dan akibat itu berputar jelas di otak chanyeol, melihat bagaimana tragisnya para yeoja itu salaing menatap sinis satu sama lain hanya untuk mendapatkan perhatian chanyeol yang menjadi alasan kenapa sampai sekarang ia tak berani menemui baekhyun di depan umum.
Ia tak mau terjadi sesuatu pada baekhyunnya, ia tak mau membuat intan miliknya tercoret oleh kuku-kuku para yeoja gila yang mengelilinginya, atau apapun yang dapat membuat baekhyun celaka apalagi jika itu karena dirinya terlebih lagi ia tak ingin baekhyun mengetahui tentang identitasnya sebagai cassaova sekolah.
Chanyeol sangat merindukan baekhyun, Ia tak mampu lagi mengabaikan intan berjalan itu terlebih ingatan tentang bagaimana baekhyun menangis serta jeritan yang mengikutinya membuat chanyeol tak bisa tidur pada malam harinya dan rasa ingin melindungi dan menjaga namja mungil itu makin besar.
Buah dari kerinduan yang di bendungnya sejak dua minggu terakhir mereka bertatap muka atau lebih tepatnya saat kejadian pernyataan dan penolakan itu terjadi membuatnya sulit untuk bernafas di saat-saat kinerja otak mengingat kebersamaan mereka. Adalah langkah kaki jenjang yang di ayun tegas daan tatapan datar pada paras tampannya serta kedua tangan yang di masukan dalam kantung celana seragam yang menambah karismanya.
Jik ia tak bisa menemui baekhyun secara langsung maka ia hanya akan memastikan namja manis itu baik-baik sajah dari kejauhan. Dan di sinilah dia, menelusuri koridor kelas 2-A yang memang jarang di laluinya mengingat kelasnya beradar di lantai atas kelas baekhyun. Berusaha mengabaikan berbagai pasang mata yang menatapnya kagum dari para gadis dan tatapan iri dari para namja, pemandangan yang sudah sangat biasa untuknya.
Dan entah dewa fortuna yang memang sedang berpihak padanya atau pada keduanya- karena baekhyun juga merindukan namja jangkung itu-, tepat beberapa meter dari pintu kelas baekhyun ia berpapasan dengan baekhyun yang baru keluar kelas dengan di apit oleh kyungsoo dan luhan yang menyeret baekhyun menuju perpustakaan sekolah untuk mencari referensi tugas mereka.
Seketika semua terasa membeku, Chanyeol reflex berhenti dari jalan berwibawanya dan baekhyun berhenti dari jalan ogah-ogahannya membiarkan keempat bola mata jernih berbeda warna iris itu menyampaikan kerinduan mereka, mengabaikan fakta bahwa puluhan pasang mata juga memandang mereka, ah..tidak, lebih tepatnya memandang chanyeol.
Namun di antara puluhan mata itu, sosok yang berdiri diantara banyaknya siswa menaruh fokunya lebih kepada chanyeol, mengikuti arah obsidian chanyeol menyorot dan tepat berbenturan dengan milik baekhyun, membuat sosok itu mengertukan dahinya bingung. Namun ia telah cukup lama mengenal chanyeol, jadi Ia mengerti dengan sorot mata itu.
Sosok itu mengepalkan tangannya erat dengan sorot mata tajam berusaha untuk tidak bertindak diluar nalarnya, 'chanyeol milikku, hanya milikku takkan ku biarkan orang lain memilikinya' suara hatinya menggema dalam, menghasilakan aura pekat pada area tubuhnya yang berarti baekhyun dalam bahaya.
Kontak mata yang berlangsung beberapa detik itu harus terputus dengan gerakan luhan dan kyungsoo yang melanjutkan aksi mereka untuk menyeret baekhyun keperpustakaan sekolah berjalan melewati chanyeol dengan pandangan menunduk dan hati yang berdenyut sakit.
Mengikuti prinsip awalnya agar Ia hanya focus pada usahanya untu menebus rumah miliknya dan melunasi bunga hutang terlebih lagi trauma dari darah segar yang mengalir pada pisau di dada kedua orang tuanya membuat baekhyun mengubur perasaannya.
namun sampai kapan ia dapat mengabaikan chanyeol..?
tbc/end?
hoolaa.. *di gampar bolak balik.
Author nim yang agak gila ini kembali lagi dengan ff abstrutnya.
Tapi sebelumnya ane mau jelasin dulu kenapa di atas masih ada tulisan tbc.?
sebenarnya part terakhir ini sudah hampir selesai tapi setelah z cek lagi, isinya udah terlalu banyak dan itu pasti membosankan untuk di baca, jadi saya membagi lagi part akhirnya mejadi 2 part.
Terlebih lagi jika saya menuntaskan part akhirnya dulu lalu aku upload itu akan memakan waktu agak sedikit lama lagi, dan karena kesibukan kuliah ku yang sangt padat jadi author abal-abal ini susah memeras otak buat nulis epep. *alassan -_-
Jadi mohon di maklumin ya readers nim, dan aku jannjjjjjiiii bangat chapter 3 nanti bakal jadi chap endingnya. Kalau nggak aku jadi pacar chanyeol deh *baekhyun kebakaran jenggot
Nah ayo kita bahas isi ff nya, akham… ada yang nggak ngerti angkat tangan. *ibu-ibu modeon jika ad yang masih belum mengerti readersnim sekalian bisa Tanya di kotak repiu *modus
Setelah aku baca Chapter 1 dengan teliti ternyata masih banyak yang typonya. aku berharap di chapter ini typonya berkurang lah, maklum ane kan manusia biasa bukan elien kayak uri EXO. *apa coba.?
Oke aku ada sedikit bocoran untuk chap ke tiganya nanti, jadi puncak konflik hubungan chanbaek itu bakal terjadi di situ dan di situ juga saya akan menyiksa mereka dengan tanpa pri kemanusiaan, hahaha *dibogem chanbaek
Dan sekarang aku sangat bahagia *nggak ada yang nanya. Karena uri Eliyen boys bakal coooommeeee backkkk….. uhuuuu…. Kaga sabar lagi aku nunggu penampian mereka, walaupun OT10 tapi tetap kok diati ane tetap OT12.
Dan kalu ada yag ingin bertanya seputar ff ane, langung follow ajah twitter ane di baekyeolfanfan.
And the lasat.. thankuuuuu bangat buat redersnim yang mengfavorit dan memfolow cerita abal ane terlebih lagi yang udah repiu. Big thankas dah pokoknya *cium atu-atu
tanpanama, omg, guess, dims, baekhaan, parklili, Kolor Jongin, indrisaputri, luphbepz, 48BemyLight, followbaek, byvn88.
Mau lanjut atau ending..? silahkan repiuuu…. See you soon.
