Far Away

By : balbaekyeolfan

Main Cast : byun baekhyun / park chanyeol

Pairing : chanbaek / baekyeol dan other

Genre : drama, school life, au, romance, hurt/cumfort (banyak amat ya -_-)

Warning : typos,cerita kaga nyambung dan abturd (maklumin ajeh ya *wink)

Note : no bash, no re-upload, no sider

Happy reading and enjoy it

Selama perjalanan hidupnya yang menginjak 18 tahun, chanyeol tidak pernah merasakan apa yang di rasakannya kini, memuja dengan kadar berlebihan pada sosok yang berjenis kelamin sama dengannya.

mungkin yang lain melihat ini sebagai musibah, namun lain halnya dengan namja jangkung itu, baekhyun adalah kesempurnaan dan ke lengkapan akan hidup ketatnya, terang dalam ruangan mewah yang di bangun oleh keluarga kayanya dengan cahaya yang minim. Itulah baekhyun di matanya.

Senyum mahal yang di keluarkannya pada orang lain bahkan di depan kedua orang tuanya pun di hamburkan gratis untuk baekhyun, senyum dan tawanya tak terbatas jika untuk baekhyun, itulah yang di alaminya selama berbulan-bulan mereka menjalin hubungan berteman secara diam-diam. Jadi ketidak warasannya setelah kelonggaran hubungan mereka cukup untuk membuatnya terlihat menjadi orang bodoh.

….

Setelah pertemuan singkat mereka di koridor kelas baekhyun, chanyeol tak mampu lagi mengendalikan dirinya untuk tak memeluk namja mungil itu terlebih lagi saat perasaan gilanya itu mencapai puncaknnya, hari itu bertepatan dengan hari sabtu dimana sekolah mereka libur, dan kenyataan itu membuat denyut di kepala chanyeol semakin bertambah.

Dengan modal alamat apartemen baekhyun yang di dapatkan dari administrasi sekolahnya beberapa bulan lalu, beruntung karena data tentang baekhyun itu masih di simpannnya dalam lemari kecil di samping meja belajarnya.

Pada pukul 7 pagi chanyeol menyetir Lamborghini merah miliknya untuk mencari alamat baekhyun dan ingin berbicara berdua dengan namja itu, ia tak peduli lagi dengan reaksi baekhyun selanjutnya ia akan tetap menemui namja itu.

Tepat dengan Lamborghini itu berhenti di sebuah apartemen tua di tengah gedung-gedung apartemen lain yang megah, sosok mungil dengan sweater merah dan celana jeans serta sepatu nike birunya melangkah keluar kawasan aparteme terebut, ia tampak cantik dengan semua pakaian yang melekat di seluruh tubuhnya membuat baekhyun terlihat seperti bocah JHS yang ingin mengunjungi rumah neneknya.

Chanyeol tak menurunkan kaca riben jendela mobilnya, ia mengamati baekhyun yang terlihat sedang tergesah-gesah menuju halte bus yang berjarak 100 meter dari aprtemennya, mengingatkan nya kembali di malam musim gugur dan kali keduanya ia bertemu baekhyun dengan keadaan yang hampir sama dengan saat ini. dan entah dorongan dari mana chanyeol mengikuti namja mungil itu untuk memastikan sesuatu.

Setelah satu hari penuh ia mengikuti baekhyun mengantarkan chanyeol bertemu dengan kenyataan yang membuatnya termangu, fakta bahwa baekhyun bekerja dalam seharian penuh dengan antara waktu yang hanya di gunakannya untuk melakukan perjalanan menuju tempat lainnya untuk bekerja. Terlebih lagi, chanyeol mengingat betul hari di mana ia melihat baekhyun bekerja paruh di pusat perbelajaan yang sama dengan saat ini baekhyun masuki adalah hari jum'at dan chanyeol dapat menyimpukan bahwa baekhyun bekerja setiap harinya dalam seminggu tanpa waktu istrahat.

chanyeol bertanya pada dirinya sendiri untuk memahami maksud dari kerja keras baekhyun ini, "apa dia robot atau semacamnya..? orang bodoh mana yang mau bekerja dengan berat seperti itu. Apa dia ingin membeli istanah dengan hasil kerja paruh waktunya itu" dengan mata yang tajam dan tangan yang mengepal kuat stir mobil miliknya chanyeol berucap dingin.

Enatahlah apa yang membutnya marah ia juga tak tahu mengapa ia sangat marah, hanya sajah ketika melihat namja mungil itu mengusap keringat di pelipisnya membuat chanyeol geram sendiri.

Dari semua itu Satu rasa yang pasti dalam dadanya, 'chanyeol merasa gagal untuk menjaga baekhyun'

Ia memutar mobilnya menjauhi pusat perbelanjaan-tempat baekhyun bekerja-dengan perasaan yang tidak menentu, ia sangat marah dengan apa yang di lakukan namja bodoh itu, ia tak habis pikir dari mana tubuh ringkih itu mendapatkan tenaga yang besar untuk mejalani semua rutinitas berat ini, bahkan chanyeol yang notabennya memiiki badan yang besar dan otot yang dapat di banggakannya merasa tak mampu untuk menjalani aktivitas padat itu.

Dalam perjalanan yang di habiskan chanyeol selama 30 menit otak pintarnya terus berputar dan memberikannya kesimpulan yang mengantarkannya pada apa yang akan di lakukanya, ia akan mencari tahu semua tentang baekhyun dan menghentikan semua ini.

Ini terlalu berlebihan, demi tuhan tubuh baekhyun itu hampir dua kali lipat lebih kecil dari tubuh chanyeol, dengan badan yang ramping dan tenaga yang lemah sepeti itu, ia hanya akan menyiksa dirinya dan pada akhirnya akan menjadikan tubuh ringkih itu menyerah, dan chanyeol tak mau itu terjadi pada orang penting dalam hidupnya.

Chanyeol kembali melangkahkan kaki jenjangnya di koridor kelas baekhyun, ia tak tahu pasti apa yang di lakukannya, ia hanya ingin menemui makhluk mungil yang berhasil mengusik malamya lagi. dari semua spekulasi yang keluar dari kepala chanyeol dengan semalaman suntuk ia berpikir, chanyeol tak kunjung menemukan alasan kenapa baekhyun melakukan kerja paruh waktu seperti itu tanpa mengingat imbas yang akan di berikan pada kesehatannya.

Dengan kepala yang menerawang jauh mengenai baekhyun, objek yang menjadi focus chanyeol menyebrangi trans khayalannya ternyata tengah menatap chanyeol dari tempat duduknya melalui jendela kaca transparan yang membuat kepala orang-orang tinggi seperti chanyeol dapat terlihat jelas.

Chanyeol berhenti dan menghadapkan badannya pada arah baekhyun melihatnya, pandangan mata chanyeol menyorot tajam mengingat kebodohan baekhyun tentang kerja paruh waktunya, membuat laki-laki mungil yang pertama memberi tatapan merasa bingung dengan sorot tajam itu.

Baekhyun memutus kontak mata mereka, dengan satu kata yang di tangkap dari bibir tebal chanyeol, kata yang di pahami betul olehnya namun ia tak mengerti kenapa chanyeol mengatakan itu dengan sorot mata yang tak dapat di artikannya. "bodoh"

Baekhyun menekan tombol portal parkiran yang sudah sangat di hafal letaknya dengan malas, entahlah.. sepanjang hari ini ia bekerja, baekhyun merasa kurang focus hanya karena ia memikirkan kata 'bodoh' yang di ucapkan chanyeol tadi di sekolah mereka, terlebih lagi chanyeol menatapnya dengan pandangan yang tajam. Ya, walaupun itu sudah ciri khas seorang park chanyeol tapi entah kenapa sorot mata chanyeol yang di berikannya tadi berbeda dengan biasanya.

Tiiinnnnn…..

Klakson panjang mobil yang ingin keluar dari parkiran perbelanjaan itu membuat baekhyun tersadar dari lamunan singkatnya, membuatnya reflex menekan tombol hijau yang ada di sampingnya dan membungkuk maaf pada pengendara mobil yang menatapnya dengan pandangan sinis, baekhyun tak pernah lupa bagaimana orang kaya memandang yang miskin dan itu cukup familiar dilihatnya dari ahjushi yang sudah membawa mobilnya keluar dari parkiran.

'Setidaknya dia tidak ingin menendangku, tidak dengan yang satu ini' baekhyun berucap dalam hati setelah melihat seorang ahjushi yang berpakaian seragam khas satpam penjaga pusat perbelanjaan tempatnya bekerja ini dengan langkah panjangnya datang menghampiri baekhyun dan jangan lupakan wajah sangar itu.

"byun baekhyun, apa yang kau lakukan ha..?" ahjussi yang baekhyun ketahui sebagai satpam sekaligus pengawasnya dalam melakukan tugasnya berteriak pada baekhyun.

"ini sudah kali ketiga kau membuat kesal pengunjung begitu juga aku, apa kau ingin berhenti dari pekerjaan ini. ha..?" suara berat khas orang yang sudah berumur itu menggema di ruangan parkir bawah tanah membuat beberapa petugas keamanan yang juga berjaga di tempat itu memperhatikan mereka.

"maaf ahjusi hari ini saya sedikit lelah, jongmal chonseohamida"

"kalau begitu pulang dan minta ibumu merawatmu, jangan membuatku kehilangan syaraf hanya harena memarahi bocah sepertimu. Arra,..?" baekhyun yang tadinya menunduk untuk menghindari kontak mata denan ahjusi itu mengangkat wajahnya dengan sorot mata yang tajam, membuat ahjusi itu naik pitam seketika.

"mau melawan kau ha..?" ahjusi itu berteriak geram dengan suara serak dan tangan yang terangkat keatas seolah ingin memukul baekhyun yang kini meringkuk dan memejamkan matanya. Hingga suara huksi mengintrupsi kegiatan yang mungkin akan berakibat buruk untuk namja yang lebih mugil.

"singkirkan tangan mu" tenang, suara itu mengalun tenang tapi entah mengapa terdengar dingin dan mampu membekukan semua kegiatan yang ada di sekitarnya, termasuk ahjusi yang ingin memukul baekhyun.

Bekhyun mengetahui dengan jelas pemilik suara itu, namun yang di bingungkannya adalah kenapa chanyeol bisa berada di tempat kerjanya, baekhyun sangat yakin kalau ia belum pernah mengajak chanyeol berkunjung ketempatnya untuk mencari uang ini.

Baekhyun menoleh pada asal suara dan membuat keempat bola bening mereka berbenturan. Cukup beberapa detik mereka saling bepandangan hingga ahjusi yang tadi ingin memukul baekhyun mengalihkan perhatian baekhyun. Ahjusi itu membungkuk hormat dengan tubuh yang gemetar dan kata maaf yang tersendat-sendat keluar dari bibirnya.

membuat pria paling mungil di tempat itu menukikkan alisnya bingung. "pergi lah, dan kau byun baekhyun. kita perlu bicara" masih dengan pembawaan tenang, chanyeol melangkah mendekati baekhyun yang tengah berdiri dengan raut bingung yang tergambar jelas di wajah manisnya.

"apa yang kau lakukan di sini..?" sebenarnya banyak yang ingin baekhyun tanyakan pada lelaki jangkung yang kini menatapnya dengan pandangan yang lagi-lagi sulit di artikan oleh baekhyun namun seolah sorot mata tajam itu membungkam keberanian baekhyun untuk banyak bertanya.

chanyeol tak menjawab pertanyaan baekhyun, ia hanya menatap tenang namja mungil itu dan tiba-tiba menyeretnya keluar dari tempat pembukaan portal parkiran untuk mencari tempat nyaman yang setidaknya bisa membuat mereka bebas berbicara tanpa gangguan bunyi klakson mobil yang seperti kesetanan meminta keluar dari pusat perbelanjaan elit itu. membuat kepala satpam yang tadi membentak baekhyun dengan sigap menggantikan tempat baekhyun tanpa banyak bertanya.

"yak, apa yang kau lakukan. Aku harus bekerja. Yaakk park chanyeol" baekhyun meronta dalam genggaman chanyeol, namun pria dengan marga park itu tak memperdulikan baekhyun sama sekali, ia terus menyeret baekhyun menuju mobil lamborghini merahnya yang terparkir agak keluar gedung perbelanjaan.

"sekarang jelaskan apa maksud dari semua ini byun baekhyun.?" Chanyeol melepaskan cengkramannya pada lengan baekhyun dan menyudutkan pria mungil itu ada pintu mobilnya. "mw..mwo..? yak, seharusnya yang bertanya seperti itu aku, apa maksudmu datang mengganggu kerjah paruh waktuku dan menyeretku ketempat ini, ha..? aish.. aku yakin setelah ini aku pasti akan di pecat. Aish.. sial sekali hidupku hari ini" baekhyun menghela nafas frustasi sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, menunjukan jemari lentik menghalangi wajah manis yang terlihat kelelahan itu.

"mereka tidak akan memecatmu, selama tempat ini masih atas nama keluargaku" dan kalimat itu membuat baekhyun menatap chanyeol dengan mulut sedikit terbuka dan mata bulan sabitnya yang melotot kaget bergantian memandang gedung menjulang berlatai 15 di belakang chanyeol

"ja..jadi tempat ini milik keluargamu..?"

"ya, bahkan sekolah kita juga"

baekhyun membultkan matanya lagi saat mendengar jawaban chanyeol. Wow, itu bukanlah kabar yang biasa, Selama berbulan-bulan mereka berteman tapi baekhyun tak mengetahui banyak tentang park chanyeol. "jadi, kamu tuan park itu. Cassanova sekolah.?" Wajah yang tadinya terlihat kaget dan lucu di saat bersamaan berubah menjadi kecut seiring kalimat itu terucap.

Chanyeol tak menjawab pertanyaan lirih baekhyun, ia hanya memperhatikan perubahan raut wajah baekhyun. "baguslah, setidaknya alasan untuk menjauhimu bertambah satu lagi" harusnya kalimat itu keluar dengan suara yang legah sesuai maknanya, namun lebih terdengar nada menyesal di dalamnya yang membuat chanyeol mengepalkan kedua tangannya.

Chanyeol menggeram dengan gigi yang saling tekatup rapat "cukup byun, kau tidak punya hak membuatku seperti ini, terlihat seperti orang gila hanya karena kau menjauhiku dan alasan apa itu..? kupikir pertemanan kita selama ini tulus bahwa kita nyaman menjalaninya. Tanpa ada alasan kekayaan dan kepopuleran di dalamya" chanyeol berucap dengan nadah marah dan putus asa di sana, membuatnya makin terlihat kacau.

"Berteman.? Kata itu seharusnya tak berlaku untukku" baekhyun masih menunduk, dengan raut wajah yang terlihat kelam, terlihat seperti wajah yang pertama kali di tunjukannya seiring ia menginjakan kakinya di tanah seoul dan di saat kepura-puraan akan kepribadiannya ikut terbangun untuk menghapus memori masa lalu yang menurutnya kutukan tak adil tuhan yang di berikan pada keluarganya.

"semua punya hak untuk kalmiat itu, dan kaupun sama. Berhentilah berpura-pura. ini bukan byun baekhyun yang kukenal" chanyeol sudah cukup tenang dalam kalimat nya. Berucap seperti layaknya orang yang mempunyai kepintaran, bukan namja putus asa seperti beberapa saat lalu, ia harus berpikir jernih untuk mendapatkan byun yang satu ini, mutiara berjalan yang menenggelamkan dirinya pada luka masa lalu, jika ia tak hati-hati menariknya mungkin dapat membuatnya kehilangan kesempatan untuk mendapatkan mutiara berharga ini.

"kau sama sekali tak tahu tentangku.."

"aku tahu, aku tahu semuanya. Tak ada yang kulewatkan, dari alasan mu pindah ke seoul hingga trauma atas kematian orang tuamu yang kau saksikan secara langsung, aku tahu semuanya" chayeol memotong kalimat baekhyun dan membuat namja mungil itu mengangkat kepalanya untuk memandang obsidian bening chanyeol, wajahnya terlihat tegang dengan bibir yang terlihat pucat serta air mata yang tiba-tiba merambat di kedua pipi mulusnya.

"ba..bagaimana kau mengetahuinya..?" baekhyun berucap dengan terbata, memori-memori itu kembali terputar di kepalanya, seperti roll fillem tua yang bergerak cepat. selalu seperti ini, jika Sesuatu berhubungan dengan orang tuanya maka otak baekhyun akan bekerja dengan sendirinya untuk mengingat semua masa kelam itu.

ia memejamkan matanya dengan tangan yang terkepal kuat berusaha melampiaskan rasa sakit yang muncul pada pelipisnya bahkan wajahnya sudah memerah menahan rasa sakit itu, tapi ia tak ingin terlihat bodoh lagi dengan berteriak histeris di depan namja yang kini memandangnya iba seperti hal yang terjadi pada atap gedung sekolahnya.

Namun sekuat apapun ia berusaha untuk tak terlihat lemah tetapi isakan itu berhasil lolos juga dari bibir tipisnya hingga ia merasakan kedua lengan kokoh yang merangkunya dalam pelukan hangat, baekhyun sedikit terkejut namun ia lebih mementingkan cara menghilangkan rasa sakit itu, Ia membalas pelukan chanyeol dan menenggelamkan wajahnya pada dada yang terasa hangat itu dengan isak tangis yang kian meledak.

"menangislah, keluarkan semuanya baekhyun –ah." Chanyeol mengeratkan pelukannya pada baekhyun dan mengusap pucuk kepala namja mungil itu.

"aku takut chanyeol-ah, aku takut..appa,umma meninggalkanku karena aku menyayangi mereka, dan aku tak mau itu terjadi lagi pada orang-orang yang kusayangi"

"sstt…tenanglah aku disini, aku janji tak akan meninggalkanmu sendirian lagi"

"aku tak mau memiliki teman karena pada akhirnya mereka akan meninggalkanku,sendiri itu sangat menyakitkan channyeol, hiks.. aku bahkan tak bisa bernafas dengan benar, seolah semua udara yang kuhirup hanya tertinggal di tenggorokanku. Hiks… hiks…" tangisan itu semakin pecah seiring pengakuan yang membuat chanyeol menyesali ketidak pekaannya selama ini.

"maaf, maafkan aku, aku terlambat hadir dalam hidupmu. Aku berjanji akan selalu menjagamu baekhyun-ah, tenanglah aku di sini, aku akan memperbaiki semuanya." Chanyeol terus berusaha menenangkan baekhyun yang masi terseduh-seduh dalam rangkulan chanyeol.

Mereka terjebak dalam posisi seperti itu selama beberapa menit hingga chanyeol merasakan baekhyun tenang dalam pelukannya, ia masih terseduh-seduh tapi dengan nafas yang teratur serta berat badan yang makin di bebankan pada chanyeol 'sepertinya ia tertidur' chanyeol terseyum saat mendapati baekhyun tertidur dengan hidung yang memerah akibat tangisannya tadi yang cukup memekakan telinga.

Dengan perlahan chanyeol mengakat namja mungil itu dengan kedua tangannya ala bridal style dan membaringkannya kedalam mobil yang memang berada di dekat mereka sedari tadi. Dengan kepala baekhyun yang di letakan di atas pahanya. Membiarkan lelaki mungil itu tertidur, itu lebih baik dari pada ia harus meihat baekhyun menangis histeris seperti tadi. Dan jelas pemuda mungil itu menahan banyak rasa sakit yang cukup lama.

"mbian..baekyun, aku harus mengingatkanmu kembali pada hal-hal mengerikan itu saat aku mengungkapkan perasaanku waktu itu" chanyeol bermonolog dengan tangan yang menyisir lembut rambut halus pemuda yang masih betah tertidur di pangkuannya.

Perlahan kelopak mata baekhyun terbuka, dan langsung terduduk untuk memastikan dia berada di mana. Ruangan yang cukup familiar baginya. Selama 2 tahun ruangan ini menjadi temapatnya menumpahkan keluh kesah hidup dan menjadi saksi dari keseharian baekhyun untuk mempertahankan hidupnya.

"kau sudah bangun.?" Baekhyun memalingkan wajahnya pada pintu kamarnya yang menjadi tempat chanyeol berdiri dengan segelas susu hangat yang asapnya masih mengepul di udara. Baekhyun hanya menganggukan kepalanya singkat sebagai jawaban.

"bagaimana perasaan mu sekarang..?" chanyeol kembali bertanya dengan iringan langkah kaki yang memasuki kamar sederhana baekhyun. "bagaimana kau tahu aku tinggal di sini.?" bukannya menjawab pertanyaan pemuda jangkung itu, baekhyun lebih pensaran dengan semua yang chanyeol ketahui tentang nya.

"well, itu tidak susah untuk anak pemilik sekolah" ia memberikan gelas susu hangat yang tadi di bikin sendiri olehnya yang merupakan kali pertamanya ia membuat segelas susu. Walaupun cukup kerepotan dengan berbagai macam peralatan seperti ar panas dalam teko sederhan dan serbuk susu yang harus di masukan ke dalam gelas kaca tapi pada akhirnya ia berhasil, mengingat ia sama sekali belum pernah menyentuh hal-hal yang berbau dapur, ini merupakan prestasi tersendiri untuk chanyeol. Terlebih lagi ini di lakukan untuk sesorang yang berharga.

Baekhyun menghabiskan susu buatan chanyeol dalam sekali tenggak, mengabaikann rasa susu yang tidak mengandung gula sama sekali serta panas yang memang sudah kental dengan tipe orang-orang yang tidak memiliki waktu untuk mendinginkan makana atau segelas kopi mereka di pagi hari karena waktu yang terus memburu untuk melakukan kerja yang entah sampai kapan ini akan berakhir, tipe yang seperti baekhyun jalani.

"sekarang jelasakan bagaimana kau mengetahui semua itu" baekhyun bertanya dengan mata yang menatap langsung pada obsidian chanyeol, mencoba meyakinkan dirinya untuk membahas kembali hal paling sensitive dalam kehidupannya itu. Hal yang memberinya banyak pantangan dan luka.

"kakek pemilik restoran mie china yang menjadii tempatmu bekerja menceritakan semuanya, aku mohon baekhyun-ah, hentikan semua ini. aku bisa membayar semua tagihan hutang itu. Jadi berhentilah bekerja keras seperti ni, kau hanya akan menyiksa dirimu" mungkin jika orang lain melihat tindakan chanyeol ini, mereka akan menjatuhkan rahangnya.

Bagaimana tidak.? chanyeol itu orang yang sangat amat pelit berbicara, peduli.? Adalah hal terakhir dalam daftar sifatnya, setidaknya itu yang mereka ketahui. Namuan hanya karena siswa anti sosal dengan lebel beasiswa yang menghabiskan hidupnya untuk bekerja paruh waktu chanyeol seolah mengesampingkan semua gambaran akan dirinnya, maka wajar orang-orang berekspresi berlebihan jika meihat ia meyakinkan namja mungil itu dengan sungguh-sungguh, wow itu hal baru.

"ini bukan tanggung jawabmu chanyeol, kau tak ada hubungannya dengan semua ini. Tapi terima kasih untuk hari ini, pulang lah aku harus istrahat" baekhyun berucap lemah, sebenarnya ia tak tega mengusir namja jangkung itu. Tapi ini lebih baik, karena pertahanan yang di bangunnya seakan retak jika itu berhadapan dengan chanyeol, takut-takut jika dinding yang dibangunnya dan pribadi tertutupnya selama ini akan hilang.

"aku sudah bertekat untuk menyelesaikan ini, aku takkan pulang sebelum kau menerimaku" kata-kata itu terdengar memaksa, namun chanyeol tak peduli lagi, tersiksa hanya karena di jauhi baekhyun selama berhari-hari masih belum sembuh, jadi ia tak mau membuat jarak lagi dengan namja mungil itu.

"tapi kau tak punya hak mencampuri urusanku park chanyeol, sepertinya julukan konyol itu membuatmu merasa semuanya bisa kau kendalikan, kau salah tuan park. Itu tidak berpengaruh untukku" bakhyun turun dari ranjang single badnya dan menghadap langsung pada chanyeol. Ia masih belum bisa mempercayai siapapun sekarang ini. trauma dan pengalaman kelam nampaknya masih mempengaruhi otak baekhyun.

"sampai kapan kau akan seperti ini baekhyun, kau tidak bisa selamanya hidup sendiri tanpa orang lain" chanyeol juga berdiri dari duduknya dan menatap lembut dua iris coklat bening milik bakehyun. Membuat namja yang ditatap itu menunduk, menghindari kelemahannya sekali lagi.

Cukup lama mereka terdiam dengan pikiran masing-masing, hingga suara lirih itu keluar dari bibir tipis baekhyun.

"aku harus berjuang untuk melunasi rumah yang di bangun kedua orang tuaku, walaupun mereka meninggalkanku dengan cara yang bodoh, tapi aku tetap mencintai mereka, tetapi hari demi hari membuatku menyadari alsan kenapa mereka lebih memilih mengakhiri hidup dari pada melihatku tumbuh dengan kasih sayang mereka. Ak..aku hanya baban untuk mereka chanyeol, aku lah penyebab mereka mengakhiri hidup. Ak..aku.. bodoh.. hiks..ak..hiks." baekhyun jatuh terduduk dengan air mata yang mengalir deras.

Chanyeol menghampiri bahu yang bergetar itu, lagi-lagi ia hanya bisa memberikan pelukan pada baekhyun. Ia tak bisa membantu banyak untuk masalah ini, selain pelukan dan uluran tangan untuk membuat baekhyun membuka kembali hatinya untuk menerima orang lain.

"sstt..aku disini, kau tak sendiri lagi baekhyun-ah, aku ada untukmu di sini" chanyeol hanya bisa meyakinkan namja mungil itu, ia tak bisa berbuat lebih, walaupun pada awalnya ia terkesan memaksa, namun setelah melihat reaksi baekhyun itu membuatnya goyah. Seolah rasa sakit itu juga di rasakannya.

"tapi..hiks.. aku takut kehilanganmu, aku tak mau menggantungkan diriku pada orang-orang yang nantinya akan meninnggalkanku lagi. Aku .. aku takut.." baekhyun masih meraung dalam kukungan lengan cahnyeol.

"tidak, aku tidak akan meninggalkanmu. Percayalah. Aku mencintai mu baekhyun, percayalah padaku" dan kalimat itu membuat tangisan baekhyun terhenti, walau masih terseduh-seduh Ia mencoba memandang wajah chanyeol. Mencari kebenaran dalam sorot tegas itu. "benarkah..?" baekhyun bertanya dengan mimik yang lucu, di tambah hidung nya yang lagi-lagi memerah membuatnya terlihat benar-benar sangat manis..

Chanyeol tersenyum dan menghapus lelehan air mata di pipi bekhyun dengan kedua ibu jarinya. dan membawa namja mugil itu untuk berdiri dari lantai marmer yang dingin tanpa pengalas. "ia, aku mencintaimu, jadi apa kau mau menerimaku tuan byun,?" walau samar, chanyeol dapat melihat semburat merah keluar dari pipi baekhyun.

"apa kau baru saja menyatakan cintamu.?" Baekhyun bertanya dengan sorot mata yang terlihat serius bersaha mengabaikan detak jantungnya yang terus berpacu di dalam sana, Membuat chanyeol mengangguk pasti berusaha-sekali lagi-meyakinan baekhyun dengan anggukan kepala tegas itu.

"aku selalu bersungguh-sungguh di setiap kataku byun, begitu caraku di didik dan apa kau ingat ini adalah kali keduaku menyetakan cinta. Jangan membuatku terlihat bodoh, kau sunggguh akan menyesal memperlakukan pewaris tunggal keluarga park seperti ini" kata-kata itu membuat baekhyun tersenyum manis dengan mata bulan sabitnya yang khas, maka jangan salahkan chanyeol yang gugup dengan detak jantung yang berpacu gila di dalamnya. Setiap manusia mempunyai kelemahan bukan.? Dan baekhyun adalah titik lemah chanyeol.

Sekali lagi, kata-kata chanyeol membuat dinding yang di bangunnya retak dengan bunyi yang nyaring. Baekhyun menghentikan senyum nya dan kembali memasang wajah serius, ia memejamkan mata sejenak untuk meyakinkan hatinya akan setiap tindakan yang mugkin di tentukannya sekarang.

bisakah ia memulai lagi..?lagi.? tidak, baekhyun bahkan belum pernah memulai. Ini kali pertama dalam hidupnya ia mencoba untuk memulai dimana selama ia berthana hidup di tengah Hirup piruk asap yang keluar dari pembuangan mobil atau dari dapur tempatnya bekerja yang selalu menjadi hal lumrah yang di lihat nya setiap hari dengan bunyi sepatu yang berlarian merutuki waktu yang berjalan cepat akan sedikit berubah.

Kini akan ada mata bulat yang terlihat lucu tapi tegas untuk di tatapnya, Menggantungkan kepercayannya pada orang lain. Aku siap memulai, dan jaga aku chanyeol. Pemuda jangkung itu benar. Baekhyun tidak mungkin selamanya mengasingkan diri pada kehidupan. Dan ia cukup beruntung karena bertemu dengan pribadi yang dapat melindunginya. Meskipun pria itu juga seorang lelaki sama seperti nya.

Baekhyun bukanlah orang yang dapat mengerti defenisi cinta dengan benar, karena cintanya saja melenceng dari pilihan orang kebanyakan, diamana saat para wanita berusaha menjerat hati laki-laki dan para lelaki sibuk mencari wanita idamannya, ia justru jatuh pada pesona seseorang dengan gender yang sama. 'Selama kami saling mencintai, tak ada yang aneh di sini, semua rasa tuhan yang ciptakan, jadi ini bukanlah kesalahan' dan kata hati itu merupakan keputusan final baekhyun, bahwa ia akan membuka hatinya untuk di miliki sang cassanova sekolah. Kau beruntung byun, ah.. tidak aku yang beruntung-chanyeol

"ba..baiklah, tapi dengan satu syarat, kau tidak boleh mencampuri masalah hutang dan kerjah paru waktuku" baekhyun mengangkat jari kelingkingnya untuk membuat kesepakatan dengan chanyeol. Itu yang di ajarkan ibunya sewaku kecil yang masih di ingatnya sampai sekarang.

"tap.."

"tidak ada tapi-tapian, bersedia atau tidak.?" Baekhyun mengganti jari kelingkingnya dengan jari telunjuk yang langsung mengarah pada hidung chanyeol dengan pandangan mata yang serius, membuat laki-laki dengan marga park itu menghela napas pasrah.

"baiklah, tapi kau harus membiarkanku memantau setiap kegiataanmu dan yang terpenting kau tidak boleh sakit sakit baekhyun –ah, aku menghawatirkanmu" Chanyeol mencoba untuk menawar keputusan baekhyun dan di jawab dengan anggukan oleh namja manis itu, walaupun ia sempat berpikir sebelumnya.

"hmm…jadi kita resmi pacaran sekarang.?" Chanyeol bertanya dengan pelan, dan tampak gugup.

"ya..begitulah" baekhyun bahkan lebih parah, kegugupanya terlihat jelas dan ia merutuki sikap bodohnya yang datang di saat seperti ini.

"oke kita pacaran" itu terdengar santai dengan mimik datar yang keluar dari mulut chanyeol, sepertinya sifat aslinya keluar membuat baekhyun menukkan alisnya tajam "tanggapan macam apa itu.? Ku pikir kau akan berteriak heboh seperti di drama-drama melihat bagaimana susahnya mendapatkan cintaku" ada nada bangga di akhir kalimat baekhyun, ia juga tersenyum penuh makan pada chanyeol.

"itu hanya di lakukan oleh orang-orang yang tidak memiliki otak" dan kaimat itu sukses membuat emosi baekhyun meledak. "Mw..mwo..? yak, jadi kau tidak serius menguc.!"

"aku serius byun baekhyun, dan sikap apa ini.? apa ini sifat aslimu.? meledak-ledak saat berbicara.?" Wajah chanyeol masih terlihat datar saat kalimat itu meluncur tanpa beban, jadi jangan salahkan persimpangan yang tiba-tiba muncul di pelipis bakhyun.

"Keluar kau park chanyeol.! Kau menyebalkan" baekhyun berteriak dengan lengkingan oktafnya yang mengagumkan sambil mendorong-ndorong badan tegap chanyeol menuju pintu kamarnya membuat sang empuhnya mau tidak mau melangkah mengikuti keinginan kekasih mungilnya.

"turunkan folume suaramu baekki, kau mau punya pacar yang tuli.?"

baekhyun menghentikan kegiatannya mendorong badan chanyeol yang sudah berada tepat di depan pintu kamarnya. "baek..baeki.?" mendengar panggilan manis chanyeol membuat kedua pipi baekhyun merona lucu, walau chanyeol mengucapkannya dengan wajah yang masih sama-datar-tapi itu terdengar manis ketimbang nama-nama aneh yang jadi julukannya saat mereka bersahabat dulu. 'bacon,pendek.? Heol itu sama saja menghinanya.

"kau terpesona sekarang.?"

Wajah baekhyun kembali mengeras "keluar kau park chanyeol sebelum kutendang dari sini" dan satu dorongan keras membuat tubuh jangkung chanyeol keluar melewati garis pintu kamar baekhyun dan setelahnya hanya bunyi dentuman pintu yang di tutup keras oleh pemiliknya.

Chanyeol hanya tersenyum manis melihat sifat asli baekhyun. Ia menyukai sifat manis anak itu, dan sifat menggemaskan itu lah yang membuat chanyeol merasa seperti orang gila saat baekhyun menjauhinya selama berminggu-minggu.

"yak, kau masih di situ park chanyeol.?" Suara cempreng khas baekhyun menyadarkan chanyeol dari lamunan singkatnya. "nde, ada apa..? kau merindukanku.?" Chanyeol bertanya dengan bangga membuat baekhyun yang berada dalam kamarnya memutar bola mata malas walau pipinya lagi-lagi merona, nampaknya baekhyun mempunyai penyakit baru sekarang-merona-.

"apakah semua penggemarmu mengetahui tentang sifat narsismu ini.? kasihan mereka, tergila-gila pada orang yang menyebalkan seperti mu"

"maka katakana itu pada orang yang menerimaku menjadi kekasihnya" baekhyun selalu menang berdebat dengan chanyeol saat mereka masih bersahabat dulu, tapi dengan perubahan status hubungan mereka ini, sepertinya itu membuat yang biasanya tertindas akan berubah juga.

"mengenai, orang-orang yang selalu mengejarku. Kurasa kita harus bersikap biasa seperti saat kita bersahabat dulu.. aku tak mau membahayakan mu baekhyun-ah" mereka masih berdiri pada tempat yang di antarai pintu kamar baekhyun. Walau chanyeol mengucapkannya dengan pelan tetapi baekhyun dapat mendengarnya dengan jelas.

"ia, aku mengerti. Pulanglah. Ini sudah malam yeol. Sampai jumpa disekolah besok" baekhyun mengerti dengan jelas makna kalimat chanyeol, tapi ia tak mau memikirkannya dulu. Ia tak ingin membenani pikirannya mengenai hubungan yang baru saja mereka jalani dengn hal-hal yang rumit seperti itu, ia ingin bahagia dulu, menghabiskan malamnya dengan senyum dan mimpi yang indah.

"baiklah, sampai jumpa baekhyun-ah. Jangan merindukanku"

"park chanyeol"

"haha..arraso… aku pulang, mimpi indah"

'aneh, tadi ia memasang wajah datar andalannya dan sekarang ia tertawa.?' Baekhyun membatin mendengar tawa renyah chanyeol yang pastinya akan membuat siapapun iri padanya, hanya ia lah yang dapat menikmati salah satu karya tuhan itu saat tertawa renyah. Dan demi apapun baekhyun jamin jika itu membuat chanyeol terlihat 100 kali lebih tampan –oke ini berlebihan- tapi itu benar.

Kalimat chanyeol diringi dengan langkah kakinya yang melangkah keluar dari apartemen kumuh baekhyun, tentu saja di ikuti dengan senyum bahagia yang sedari tadi di tahannya, ia tak ingin baekhyun menertawakannya karena bersikap bodoh di depan baekhyun 'kau membuatku seperti ini byun, kau harus bertanggung jawab, aku pasti gila jika kau menolakku'

...

Walaupun status mereka berubah, namun tak banyak hal yang berubah dari cara mereka menjalinnya. Bercengkrama di tempat-tempat yang memang selalu di habiskan dua pria yang memiliki tinggi badan yang kontras itu masih terus berjalan sepert biasa, menghabiskan waktu di sudut perpusatakaan yang sepi, ruangan musik yang sepi saat jam-jam sibuk seperti saat jam makan siang, atau atap sekolah yang lagi-lagi jarang di kunjungi siswa lainnya.

Juga pertengkaran kecil yang selalu berakhir dengan gelak tawa chanyeol saat melihat kekasih mungilnya merajuk padanya karena kalah dalam berdebat atau tak mampu mengembalikan kata-kata chanyeol. Atau bulshing yang selalu mewarnai pipi mulus baekhyun saat chanyeol mengeluarkan kata-kata manisnya, terdengat cheesy tapi itu sanggat berpengaruh besar pada baekhyun.

Mungkin hal yang berubah adalah kepribadian baekhyun yang mulai terlihat terbuka pada lingkungannya, termasuk pada kedua siswa yang sudah bisa di katakan sebagai sahabat dekat namja mungil itu, ia lebih terbuka dan lebih sering merajuk pada mereka sekarang.

Tentu saja itu membuat luhan dan kyungsoo menatap namja dengan senyum kotak itu aneh, bahkan ketika baekhyun memanggil nama d.o dengan sebutan kyungie dan saat memasang puppy eyes nya pada luhan. kedu pria itu sempat menanyakan kewarasan baekhyun.

Walau luhan dan kyungsoo bingung dengan perubahan drastis baekhyun, namun mereka sangat menyukai baekhyun yang seperti ini. Terlebih lagi baekhyun sudah mau menemani mereka untuk makan siang di kafetaria sekolah, tentu saja jika ia dan chanyeol memutuskan untuk tak bertmu di ruangan musik atau namja jangkung itu memiliki kesibukan lain. dan itu merupakan perubahan yang sangat besar dari baekhyun.

Tak ada lagi wajah datar dan kesan dingin yang ada di wajahnya, hanya senyum bodoh dan lelucon yang selalu mewarnai hari-harinya, bahkan ia juga sudah mulai berinteraksi dengan siswa yang berada di kelas yang sama dengannya.

Walau sedkit demi sedikit, tapi itu cukup memberikan perubahan yang besar akan kepribadian baekhyun di mata teman sekelanya. Ya.. walau kerja paruh waktunya masih berjalan seperti biasanya, tetap pada jadwal yang telah di tetapkannya.

"baekhyun-ah, ayo kekantin. Aku lapar.." luhan berjalan atau lebih tepatnya sedikit berlari kearah tempat duduk baekhyun mengabaikan siswa-siswi lain yang berhamburan keluar kelas saat bel istrahat berbunyi.

Ia langsung melompat duduk di atas meja baekhyun dan menempelkan tanganya pada jendela yang berada di sebelah kanan dari tempat duduk baekhyun tanpa mengindahkan sang pemilik meja yang berteriak histeris karena rusa cantik itu menduduki catatannya.

"yak, apa yang kau lakukan xi luhan, catatanku kusut karena bokong bodohmu ini" baekhyun berucap sambil memukuli bokong luhan yang menindih buku catatannya dan berusah menyelematkan catatannya dari pantat 'rusa' luhan. "dasar maniak" kyungoo berucap sakratis meihat tingkah luhan yang terlihat sangat bersemangat memandang keluar melalui jendela kaca kelasnya itu sambil berjalan kearah meja baekhyun juga.

Baekhyun yang tadinya bingung dengan tingkah aneh luhan dan kata-kata sakratis d.o tiba-tiba memutar bola matanya malas saat mengikuti arah pandang luhan, "kau benar-benar maniak luhan, percayala oh sehoon bukan tipe namja yang menyukai laki-laki gila sepertimu" kali ini baekhyun yang mengucapkan kata-kata tanpa pri 'keluhanan' itu sambil memasukan buku catatannya yang baru saja ia 'selamatkan' dari pantat luhan.

"ck, diam kalian berdua, ah… oh sehoon, lihat wajah datarnya itu, sangat menggemaskan. Dia juga sangat tinggi dan lihat..lihat.. dia mendrible bolanya, tuhan… dia sangat tampan." Kyungsoo dan baekhyun hanya menatap datar luhan yang terlihat sangat aneh dimata mereka, dengan kaki yang yang mengayun heboh dan tangan yang mencakar jendela kaca yang menjadi tumpuan tangannya untuk bersandar.

"cukup xi luhan, kau akan memecahkan kaca itu dengan kuku rabiesmu, cepat turun dari meja baekhyun dan kita kekantin, aku lapar" kyungsoo menatap jengah pada kelakuan luhan yang makin menjadi, ia bahkan melemparkan beberapa potongan kertas yang entah di dapatkannya dari mana.

Namun bukan xi luhan namnya jika ia menuruti perkataan kyungsoo begitu saja, apa lagi ini berhubungan dengan suami masa depannya-ia mematentakan posisi itu untuk sehoon saat ia pertama kali meihat pria albino itu di tahun awal ia bersekolah- terdengar seperti maniak sejati bukan.?

"yak.. ada kim jongin juga disana, apa mereka melakukan pertandingan antar kelas.? dan itu.. itu… si cassanova sekolah, park chanyeol. Tuhan.. aku bisa gila" luhan tahu tingkah abnormalnya ini pasti akan mendapatkan protes dari kedua teman menyebalkannya itu, tapi hei.. ini terasa aneh saat ia tak mendengar kata-kata pedas kyungsoo atau baekhyun yang selalu menyerangnya bertubi-tubi saat ia mulai membahas hal-hal yang berbau namja tampan di sekolah mereka.

Namja cantik itu memalingkan wajahnya perlahan untuk memastikan setidaknya baekhyun dan kyungsoo tidak meninggalkannya sendirian di kelas ini yang mungkin hanya tersisa ia seorang. Namun setelah beberapa detik luhan memasang wajahnya menjadi datar saat menyaksikan apa yang di lakukan baekhyun dan kyungsoo.

Baekhyun yang berdiri dibelakang kursinya tampak memandang keluar jendela dengan serius, begitu pula kyungsoo yang berdiri di samping baekhyun, kedua namja yang memiliki ukuran mata berbeda itu tampak serius memperhatikan anak kelas 2-C dan D melakukan pertandingan basket di lapangan out door yang berada di tengah-tengah sekolah yang di kelilingi oleh siswi-siswi centil yang terlihat seperti terserang penyakit gatal-gatal yang terus menggeliat di bawah sana.

"kukira kalian tidak tertarik dengan hal-hal seperti ini.?" luhan bertanya dengan nada sakratis dan wajah yang terlihat datar memandang kedua sahabatnya yang sekarang gelagapan menjauhi kaca jendela di dedakat mereka, nampaknya kedua namja itu terkejut dengan suara luhan, namja cantik itu menambah wajah herannya dengan menukikkan kudua alisnya tajam saat melihat semburat merah keluar dari pipi kyungsoo dan baekhyun secara bersamaan.

"wow,wow.. tunggu apa ada yang kulewartkan disini..?" luhan melompat kecil dari atas meja baekhyun dan melangkah pelan dengan pandangan horor pada kedua namja yang sekarang terlihat panik mencari titik fokus lain untuk di pandang selain mata rusa milik luhan, bahkan kyungsoo yang biasanya tenang kini terlihat gugup saat memandang wajah luhan "ya..yak, apa yang kau bicarakan.?" Suara kyungsoo bahkan terdengar gugup.

Berikutnya luhan berhenti dari jalannya dan membulatkan matanya lebar, beberapa detik ia mematung dengan wajah yang terlihat berpikir keras membuat kyungsoo dan baekhyun saling berpandangan bingung.

"ja..jangan-jangan KALIAN MENYUKAI SEHOONIE KU..? ANDWEE..itu tidak boleh, dia hanya milkku se.." suara khas milik luhan melengking nyaring di ruangan kelas yang hanya di isi oleh mereka bertiga, membuat baekhyun dan kyungsoo menatap datar wajah syok luhan lalu menyeret namja yang terlihat akan menelan mereka hidup-hidup itu dengan mengapit kedua tangannya dan membungkam mulut luhan agar tidak berteriak lagi.

"ayo, kita ke kantin, kurasa otak rusamu yang rabies itu perlu di bersihkan dengan ramyeon"

"tak ada otak yang rabies baek"

"diamlah kyung dan bawa rusa bodoh ini" mereka terus berjalan tanpa mengindahkan luhan yang terus meronta berusaha melepaskan diri dari kedua sahabatnya. Semoga saja rusa itu masih bernafas saat ia tiba di kafetaria nantin.

Harusnya ini terdengar aneh, saat kata menyukai lelaki keluar dari bibir luhan mengingat mereka adalah namja, namun seiring persahabatan mereka yang terjalin cukup erat hampir tak ada lagi rahasia di antara mereka, seperti luhan dan d.o yang ternyata meyukai sesama lelaki juga baekhyun yang harus melunasi hutang keluarganya serta trauma masa kecilnya mengenai kepergian kedua orang tuanya. Dan pembukaan rahasia besar-besaran itu mereka lakukan pada malam minggu saat ia dan luhan memutuskan untuk menginap di mension megah milik keluarga d.o dan membolos kerja satu hari penuh.

Hampir tak ada rahasia, ya.. hampir, karena baekhyun masih menyembunyikan hubungannya dengan chanyeol, baekhyun merasa belum saatnya ia memberi tahukan pada kedua sahabatnya itu, mengingat seperti apa statusnya dan chanyeol di sekolahnya ini yang terasa seperti bumi dan langit, dan terlebih lagi, seperti apa cerewetnya luhan saat membahas namja-namja idaman yang ada di sekolah mereka takut-takut jika namja cantik itu kelepasan dan membuat semuanya menjadi rumit.

Seiring dengan kedekatan yang terjalin di antara keduanya yang sudah berbulan-bulan mereka jalani, walau sangat keras chanyeol berusaha menyembunyikan baekhyun dari semua siswa soengguk SHS, ia takkan mampu mengabaikan beratus ratus pasang mata yang ada di sekitarnya walau sesempurna apa seorang cassanova sekolah itu.

Dan Ini sudah kali ketiganya chanyeol merasakan ada yang memata-matai mereka dalam kurun waktu seminggu ini, di ruangan music, di atap sekolah dan sekarang di perpustakaan tempat mereka biasa menghabiskan waktu untuk bercanda atupun berdiskusi membahas pelajaran. Dengan seluet tubuh yang selalu muncul di balik pintu dan selalu melesat pergi saat chanyeol memeriksanya menimbulkan presepsi itu hingga kejadian di kolam renang sekolah mereka memperjelas semuanya.

Hari itu tepatnya hari jum'at, kelas yang di tempati baekhyun dan chanyeol di gabung untuk melakukan ujian ekstra kulikuler renang karena kim seonsaeng yang mengajar olahraga renang di kelas chanyeol dan kelas 2-D berhalangan hadir dan melimpahkan tanggung jawabnya pada lee seonsaeng yang mengajar di kelas baekhyun untuk ikut memberikan ujian praktek renang pada dua kelas tetangga itu dan di sinilah mereka semua berkumpul.

Di kolam renang berukuran besar yang berada di dalam gedung tertutup atau indoor,murid dari ketiga kelas itu telah mengganti seragam mereka Dan berbaris untuk mendengarkan materi singkat tentang gaya kupu-kupu yang akan mereka praktekkan sebentar lagi.

Tak ada yang aneh pada situasi ini, kecuali baekhyun yang mati-matian menahan detak jantungnya melihat air biru yang terlihat tenang namun seolah mengejeknya, jika bukan untuk nilai dan itu sangat berpengaruh untuk beasiswanya ia tak mau melakukan hal ini. baekhyun tak pintar berenang walau dalam materi renang ia sangatlah unggul tapi jika itu untuk prakteknya, ia lebih baik di beri tugas mengerjakan soal statistik beratus-ratus nomor.

Sebenarnya banyak yang mengganjal di pikiran baekhyun saat ini, mulai dari bagaiman ia meyakinkan lee seonsaengnim perihal ia tak bisa berenang dan juga periihal ini adalah kali pertamanya ia dan chanyeol berada di tempat yang sama beserta siswa lainnya di dalam satu ruangan dimana semenjak status mereka sudah menjadi sebagai kekasih, ia dan cahnyeol tak pernah terlihat bersama di tempat lain di Soengguk SHS selain di ruangan musik, atap sekolah dan perpustakaan tentunya.

'apa aku harus berpura-pura tidak mengenalnya..? aish..! ada apa denganku, bersikap biasa baekhyun.' ia bergumam sambil sesekali melirik chanyeol yang berada pada barisan kedua dari depan. Mengabaikan fakta bahwa ada sosok lain yang memandang baekhyun dengan tatapan dingin dan tangan yang di kepal erat menunjukan ketidak sukaannya yang besar pada namja itu.

Dilain pihak chanyeol yang terbiasa dengan ketenang yang selalu di tunjukan dalam pribadinya kali ini harus berusaha keras untuk mengumpulkan kosentrasi untuk mendengarkan penjelasan lee seonsaeng, sebagai remaja yang masih dalam masa pertumbuhan, tentu saja ia memiliki hormone yang meluap-luap.

jadi jangan salahkan namja jangkung itu jika ia tak bisa berpikir jernih saat melihat kekasih mungiilnya hanya menggunakan celana renang ketat selutut, membiarkan badan dengan perut ramping bak wanita dengan kulit putih mulus tanpa cacat serta betis yang telihat sangat indah untuk ukuran anak lelaki menggoda birahi chanyeol.

Ia berkali-kali mengumpati mata dan nafsunya yang tak bisa lepas dari pria mungil yang terlihat sedang berkumpul bersama kedua pria atau lebih tepatnya kedua lelaki cantik untuk menunggu giliran melakukan tes renang. Wow, chanyeol mengumpat.? ia tak pernah di ajarkan seperti itu, ya.. kecuali mungkin ia mendengar kata-kata itu dari kekasih mungilnya.

Bahkan saat melihat wanita yang pernah terang-terangan menelanjagkan dirinya di depannya, ini jauh lebih menggoda bagi chanyeol. 'kau sangat berbahaya tuan byun' hanya kalimat itu yang menyeruak dalam pikiran chanyeol.

Chanyeol sekali-lagi-melirik baekhyun dan mengalihkan pandangannya-lagi-, ia tak mau membuat orang-orang curiga dengan apa yang di lakukannya, itu bisa berbahaya bagi baekhyun. Walau pada kenyatannya chanyeol ingin mencolok berbagai pasang mata lelaki yang memasang tatapan lapar mereka pada tiga namja cantik yang terlihat agak memisahkan diri dari kerumunan lainnya.

Dan apa-apaan dengan si tuan byun, apa dia sengaja memamerkan tubuh indahnya di depan semua siswa di sekolah ini. demi tuhan, tiga tubuh ramping dengan kulit putih mulus yang membungkusnya dan wajah cantik yang tidak biasa bagaimana mungkin itu tidak menarik perhatian, bahkan saat pertama kali mereka memasuki lapangan indoor ini semua mata sudah berpusat pada mereka, tapi memang dasarnya baekhyun, d.o dan luhan yang terlalu polos bahkan mereka tidak menyadari tatapan-tatapan penuh nafsu itu.

Ini sungguh tidak adil bagi chanyeol, Disaat ia hanya bisa mencuri-curi lirikan untuk melihat tubuh indah kekasihnya, namja-namja lain dengan terang-terangan menikmati tubuh yang harusnya menjadi miliknya, jadi jangan salahkan channyeol jika rahangnya sudah mulai mengeras, dimana itu membuat siswi-siswi di sekitarnya memekik tertahan. Tubuh tegap yang menjulang dengan Lekukan otot lengan yang terbentuk serta kotak-kotak samar pada perutnya dan mata yang menatap tajam kedepan memberikan alasan mereka untuk menggeliat seperti cacing kepanasan sedari tadi. Jangan lupakan dia adalah sang cassanova sekolah.

Berkutat dengan semua pemikiran mereka, chanyeol dan baekhyun tak menyadari sedari tadi bukan hanya berbagai pasang mata kagum yang memperhatikan mereka, salah satu siswi dengan sorot mata yang berbeda terus menaruh perhatiannya pada baekhyun dan chanyeol.

Dengan kedua telapak tangan yang terepal kuat ia menghampiri kerumunan siswi yang duduk untuk melakukan pemanasan sekaigus menggoda namja-namja dengan lekukan tubuh mereka yang berada di pinggir kolam, setelah memberikan isyart untuk mendekat padanya, semua siswi yang ada dalam kelompok tersebut mulai berkumpul dan setelahnya mereka mengangguk mantap lalu membubarkan diri dengan mata yang menatap tajam pada baekhyun serta senyum iblis yang kental pada setiap rencana buruk.

"park chanyeol, kim jongin dan oh sehoon" lee seonsaeng memanggil nama-nama siswa untuk memulai giliran mereka. Mendengar namanya di panggil, lelaki jangkung itu melangkah dengan gaya khasnya menuju pinggiran kolam renang beserta dua siswa yang namanya juga di sebutkan lee seonsaeng.

Oke, jika ini adalah kompetisi renang internasional mungkin tidak heran saat beberapa orang akan menjerit histeris pada saat lomba akan di mulai, tapi ini hanya lah 3 siswa soengguk SHS yang memiliki tubuh tegap dan berotot serta wajah yang keterlaluan tampan yang melekat pada mereka.

Hanya..? oke maafkan aku, Ini adalah sesuatu yang sangat langkah dan juga merupakan keberuntungan siswa di dalam ruangan itu, menyaksikan tiga siswa yang selalu menjaidi ikon untuk istilah tampan jika mereka ingin mencari standar suami masa depan mereka, akan melakukan tes renang hanya dengan celana renang yang ketat dan terlihat seksi, oke mungkin sudah ada sebagaian siswa yang mimisan di tempat ini. (termasuk authornya ~_~)

Kim jong in atau kai. siswa yang selalu terlibat dengan perkelahian dan ketua beberapa geng besar di seoul, jadi kalian bisa membayangkan bagaimana wajah nya bukan, tentu saja sangar dan ya.. sangat tampan. Catat itu, terlebih lagi ia adalah anak jaksa terkenal di seoul, maka jangan heran ia tak pernah terlibat masalah hukum saat hobinya membuat kerusuhan di jalanan kota, dan merupakan teman dekat oh sehoon yang juga menempati kelas yang sama dengan namja albino itu.

Oh sehoon, siswa dengan kulit yang keterlaluan putih serta wajah datar yang keterlaluan tampan yang dimiliki sejak lahir, walau luhan mengatakan sehun sangat berwibawa saat ia menatap datar sekitarnya namun kyungsoo dan bekhyun lebih percaya jika namja tanpa ekspresih itu di kutuk sejak lahir.

Serata yang terakhir adalah park chanyeol, sang cassanova sekolah, pemilik sekolah, kaya, dingin, tinggi menjulang, badan tegap, tegas berkarisma. Oke, mereka terlalu sempurna untuk di pilah satu demi satu, kita simpulkan saja mereka pangeran sekolah ini.

Jadi jangan salahkann lee seongsaengnim yang sekarang meniup peluitnya secara membabi buta untuk menghalangi siswa sisiwi yang ingin menyaksikan pertandingan mengagumkan itu, bahkan luhan berkali-kali harus mendorong beberapa siswi yang menghalanginya untuk melihat suami masa depannya memulai start.

Membuat kyungsoo dan baekhyun mau tak mau harus mengikuti rusa gila itu, takut-takut jika ia berbuat hal aneh yang akan memalukan dirinya sendiri, demi tuhan kyungsoo akan menyembelihnya dengan pisau dapur andalannya jika ia berbuat yang tidak-tidak.

Setelah beberapa menit kyungsoo dan baekhyun mencari keberadaan luhan yang melesat begitu saja saat mendengar nama oh sehoon di sebutkan lee sengsaengnim tadi, mereka menghampiri namja yang tak kalah mungilnya dari mereka berdua itu, berdiri di pinggir kolam renang sebelah kanan bersama siswa siswi yang bertumpuk untuk menyaksikan pertandingan tiga namja yang berdiri pada garis start yang terlihat memasang wajah tidak minat.

Heol, mereka sajah yang ingin bertanding terlihat malas dan ogah-ogahan kenapa siswa siswi disana yang terlihat kesetanan menyemangati dan meneriakan ketiga nama namja itu. bahkan kai sudah beberapa kali memutar bola matanya malas menunggu aba-aba dari lee seongsaengnim untuk memulai pertandingan ini yang terlihat sibuk mengamankan siswa-siswi lainnya.

"ada apa dengan mereka.? Ck, memalukan" kai berucap sambil bertolak pinggang dan menghadap pada sehoon yang berada di samping kanannya atau yang berada di tengah antara ia dan chanyeol. "abaikan mereka, dan konsentrasi pada gaya kupu-kupumu" sehoon menjawab seadanya dan kembali memfokuskan pandangannya pada air kolam renang.

"huh, ini bukanlah lomba untuk menentukan siapa yang finis lebih awal, kita hanya akan mempraktekan gaya kupu-kupu yang benar tapi lihat reaksi mereka, berlebihan. Bahkan lelaki cantik itu meneriakkan namamu dari tadi oh sehoon, haha" kai tertawa di akhir kalimatnya saat melihat luhan meronta-ronta di barisan paling depan kerumunan dan meneriakan nama sehoon secara membabi buta.

Sehoon yang tadinya tidak tertarik dengan kerumunan itu ikut memalingkan wajahnya dan benar saja apa yang di ucapkan kai, terlihat jelas luhan yang keterlaluan bersemangatnya meneriakkan nama sehoon membuat namja albino itu tersenyum samar.

"dia lucu, tapi aneh. Setidaknya mereka bertiga tidak meneriakkan namaku secara bersamaan" kata-kata sehoon yang terdengar menggantung itu membuat chanyeol juga ikut tertarik untuk menyaksikan kerumunan siswa yang berada di samping kanan kolam renang. Dan detik berikutnya ia tersenyum samar saat melihat baekhyun-nya juga berada pada bagian depan barisan bersama lelaki bermata doe dan bermata rusa yang mungkin menjadi topic pembicaran sehoon dan kai.

"apa mereka bertiga benar-benar tertarik padaku.?" Sehoon kembali bertanya dengan nada yang entah mengapa terdengar menyebalkan di teliga kedua namja yang berada di samping kiri dan kanannya.

"apa maksudmu.?" Chanyeol dan kai bertanya bersamaan dengan wajah yang.. errr.. sedikit garang, membuat sehoon menukikkan alisnya bingung. "wow, tenang bung, aku hanya bercanda. Oke, mereka memperhatikan kalian juga" sehoon masih merasa bingung saat melihat chanyeol membuang mukanya tidak senang begitu juga dengan kai. Ada apa dengan kedua makhluk aneh ini..?

"baiklah, anak-aak. Maaf ini butuh waktu agak sedikit lama. menenangkan mereka bukanlah pekerjaan yang mudah terlebih lagi si namja china itu, ia benar-benar sangat cerewe ta.."

"bisa kita mulai saja pak? Kami sudah kedinginan di sini" kai memotong penjelasan lee seongsaengnim dengan wajah garangnya, ia sudah cukup bersabar menunggu soengsengnim tengah baya itu untuk memberikan aba-aba dan mendengar celotehan tidak pentingnya bukanlah hal yang bagus saat ia benar-benar ingin menyelesaikan ini dengan cepat.

"baiklah..baiklah anak-anak, dalam hitungan ketiga. 1, 2.."

"BAEKHYUN-AH…" aba-aba lee seonsaeng berhenti begitu saja saat mendengar suara teriakan kyungsoo dari kerumunan siswa yang berdiri di pingggir kolam renang, bahkan suara itu mengalahkan semua suara-suara yangi dikeluarkan siswa lain untuk menyemangati tiga namja yang berdiri pada posisi start yang membuat keadaan menjadi tenang seketika dan semua beralih menyaksika baekhyun yang bergerak tak karuan berusaha menggapai dinding kolam renang sehingga menghasikan riak air di sekitarnya.

Luhan dan kyungsoo membulatkan matanya panik "BAEKHYUN-AH.." bukan, suara berat itu bukan milik kyungsoo ataupun luhan, namun namja jangkung yang segera melompat masuk kedalam kolam mengabaikan pekikkan dari siswa-siswi yang lain, juga lee seongsaengnim yang terlihat kaget.

Chanyeol berenang menuju baekhyun yang kini tidak memberontak lagi di dalam air dan itu membuat chanyeol semakin panik, cara jatuh yang salah dan pernafasan yang pendek sepertinya tak mampu membuat baekhyun bertahan lama dalam air, terlihat jelas begitu tubuhnya masuk kedalam kolam ia langsung terbatuk dengan hidung yang merah.

Chanyeol mengangkat tubuh melayang baekhyun kepermukaan air, dengan lengan kokohnya ia menarik tubuh ramping yang tak sadarkan diri itu menuju pinggiran kolam dan langsung mengangkat tubuh baekhyun pada lantai marmer yang berada di pinggiran kolam dan di sambut dengan luhan serta kyungsoo yang terlihat panik sambil mengguncang pelan tubuh baekhyun.

Sedetik berikutnya chanyeol mengangkat tubuhnya dan langsung menggeser luhan dan kyunsoo untuk memberikannya tempat padanya dan tanpa banyak bertanya ia langsung memberikan nafas buatan pada baekhyun berkali –kali, ia tak memperdulikan lagi siswa-siswi yang tadinya riuh mengerumuni baekhyun seketika menjadi hening dengan nafas yang tertahan meyaksikan pemandangan di depan mereka.

"baekhyun-ah, bangun.. kumohon baek." Chanyeol berucap dengan wajah frustasinya sambil menepuk pelan pipi berisi baekhyun dan memberikan nafas buatan lagi. Melihat hal yang sungguh sangat tidak terduga itu memberikan berbagai macam ekspresi di setiap wajah siswa-siswi disana, namun kebanyakan wajah yang terlihat syok dengan rahang yang jatuh dan mata yang melotot horor menyaksikan adegan itu bahkan lee seongsaeng.

Luhan dan kyungsoo yang juga sama terkejutnya segera sardar dari ekspresi konyol mereka begitu melihat baekhyun terbatuk dengan air yang keluar dari mulutnya, niat keduanya ingin memeluk baekhyun harus terhenti begitu melihat chanyeol lebih dulu mengengkat tubuh yang masih belum sadarkan diri sepenuhya itu kedalam rangkulannya.

"baek, kwenchana..?" raut khawatr masih terpancar jelas dari wajah tampan chanyeol, baekhyun bisa mendengar kallimat itu, tapi ia terlalu lemah untuk menjawabnya, perutnya terasa penuh dan mual serta kepalanya yang terasa pening hanya mampu memberikan anggukan kepala untuk menjawab pertanyaan chanyeol.

"ak, apa yang kau lakukan park chanyeol.? Kau memberikan nafas buatan pada namja aneh ini.?" siswi dengan surai brunate melangkah maju lebih mendekat pada chanyeol dan baekhyun, membuatnya di tatap oleh semua siswa yang berada di ruangan itu.

Mereka tahu betul siapa wanita yang terlihat cantik namun sinis itu, satu-satunya siswi yang dekat dengan cassanova sekolah yang bahkan sempat di gosipkan pacaran, namun karena chanyeol terlihat tidak peduli dengan wanita semampai itu membuat gosip yang tadinya beredar luas menjadi hilang dengan sendirinya membuat seluruh siswa soengguk SHS berkesimpulan siswi yang juga berada di tingkat dua itu lah yang tergila-gila dengan park chanyeol.

"diam kau kim hyeri, kau pikir aku tak meliatmu tadi ha..? kau yang mendorong baekhyun kan..?" kyungsoo berdiri dan menghadap langsung dengan hyeri, namun yang di tatap hanya memasang wajah tidak bersalahnya.

"mwo..? jadi kau yang membuat baekhyunieku jadi seperti ini..? sini kau biar ku cabut bulu rambut mu itu sampai habis" luhan juga berdiri dan langsung berusaha untuk menyerang hyeri namun segera di tahan oleh kyungsoo. Mungkin namja canik itu terlihat aneh dan pecicilan tapi jika itu sudah menyangkut kedua sahabatnya, maka ia tidak main-main.

"chi, diam kalian namja gay, kalian sungguh memalukan. Menyukai siswa yang jelas-jelas normal oh sehoon.? Kim jongin.? Bahkan park chanyeol.? apa kalian ingin menyebarkan wabah gay kalian disini..? sebaiknya kalian segera keluar dari sekolah ini, karena tempat ini bukan untuk menampung gay, terutama kalian baerdua yang hanya bergantung pada beasiswa, ck..tidak tahu terima kasih"

Kata-kata kejam hyeri yang di tujukan untuk luhan dan baekhyun juga kyungsoo sontak membuat siswa yang berkumpul di tempat itu berbisik-bisik riuh, sambil memandang sehoon dan kai yang juga berada di tempat itu, namun mereka tak dapat membaca jelas ekspresi kedua namja yang namnya di sebut tadi, mereka hanya memandang datar kyungsoo dan luhan.

gay mungkin bukan hal yang tabuh di korea namun tetap saja ini terdengar aneh saat kau mengetahui secara langsung orang-orang yang mempunyai 'keistimewaan' seperti itu.

Luhan dan kyungsoo makin mengepalkan tangannya mendengar perkataan kasar hyeri tentang mereka, terlebih lagi siswi-siswi di sekitar mereka sudah memasang wajah jijik dan ekspresih yang meghakimi, mereka berdua ingin melawan kata-kata kejam itu, namun semua yang di katakana hyeri adalah kenyataan maka tak ada alasan luhan ataupun kyungsoo untuk membantah tuduhan itu.

"diam kalian semua, kita akan membicarakan masalah ini kim hyeri" tak ada yang bisa melihat wajah chanyeol saat kata-kata itu terucap yang di iringi dengan tubuhnya yang beranjak sambil mengangkat tubuh baekhyun dengan kedua lenganny- ala bridal style-yang masih terlihat lemah. Wajahnya menunduk mengamati wajah pucat baekhyun.

"tapi oppa, kenapa kau menolong gay sial.."

"KUBILANG TUTUP MULUT MU KIM HYERI" siswa yang berada di ruangan indoor itu terlihat kaget saat chanyeol berteriak dengan kilat mata yang tajam memandang hyeri, terlihat jelas jika ia menahan amarahnya, membuat hyeri ketakutan karena chanyeol membentaknya dan jangan lupakan bagaimana mata tajam itu memandang nya. Percayalah, bahkan lutut yeoja cantik itu gemetar.

"op..oppa membelanya.? Ke..kenapa oppa."

"dia KEKASIHKU, jika ada yang berani menyentuhnya sedikit saja, siapapun itu kupastikan ia akan menyesal di lahirkan. ingat itu" semua siswa di tempat itu kembali diam dengan wajah yang amat sangat terkejut bahkan ada beberapa yang menutup mulut mereka dengan mata yang melotot syok, chanyeol memang hanya memandang hyeri, namun kalimat itu tentu sajah untuk memperingati semua siswa yang berada di sana, dengan penekanan pada kata 'kekasih' kurasa semua siswa di situ akan pingsan saat ini juga.

Ini merupakan berita yang besar, sang cassanova sekolah yang mereka agung-agungkan ternyata sudah mempunyai kekasih dan yang paling tabuh dari semua itu, kekasihnya adalah seorangg lelaki.?

" .. ayo kit a bawa byun baekhyun keruangan kesehatan, kuras ia masih butuh penanganan" lee soengsaeng yang sedari tai hanya menyaksikan drama antar siswanya itu akhirnya angkat bicara juga, walaupun ia agak sedikit bingung dan tentu saja terkejut, tapi ia harus tetap menjadi penengah disini.

Chanyeol segera mengikuti langkah tuan lee dengan masih membawa baekhyun dalam gendongan-bridal-nya, ia merasakan tubuh namja mungil itu gemetar sekarang, sepertinya ia tidak tahan dengan hawa dingin, maka chanyeol segera mempercepat langkahnya meninggalkan kerumunan siswa yang masih menatap tidak percaya pada kenyataan yang baru saja mereka dengar.

Semua siswa yang tadinya berkumpul itu akhirnya membubarkan diri satu persatu, tentu saja dengan bisik-bisik yang keluar dari berbagai mulut siswa di sana, dan beberapa ada yang menangis karena namja pujaan mereka itu telah memiliki kekasih. hyeri dan anggota gengnya pun sudah menghilang entah kemana.

"jadi dia sudah punya kekasih., dan itu park chanyeol.? Demi tuhan baekhyun kekasih park chanyeol?" Luhan bertanya lebih tepatnya berteriak dengan suaranya yang melengking dan jangan lupakan wajah yang tampak bodoh itu, kyungsoo yang masih menatap pintu ruangan tempat chanyeol menghilang membawa baekhyun, hanya memutar bola matanya malas dan menatap datar luhan yang masih berekspresi berlebihan. "harus ku perjelas lagi semuanya.? Heol, dia benar-benar sesuatu ya"

Kini hanya tertinggal luhan dan kyungsoo serta dua namja tinggi dengan kulit yang kontras yang juga masih berdiri di tempat mereka, namun karena posisi luhan dan kyungsoo yang membelakangi dua namja itu jadi mereka tidak tahu sama sekali dengan empat bola mata yang menatap punggung luhan dan kyungsoo yang masih mematung di tempatnya.

"kau lihat wajah hyeri tadi.? Ia sangat ketakutan, ck.. kenapa chanyeol tidak menampatrnya ya..?" luhan terlihat geram sendiri mengingat kejadian tadi. "dengar xi luhan, dia itu park chanyeol, bukan dirimu yang terlihat seperti bar-bar saat kau ingin menyerang hyeri, kau bahkan mendorongku dengan keras..!" Kyungsoo menempelkan jari telunjuknya pada jidat luhan dan mendorongnya keras membuat namja china itu meringis dan memukul tangan kyungsoo reflex.

"yak, dia mendorong baekhyun dan menghina kita di depan semua siswa termasuk di dep..tu, tunggu, kenapa tadi hyeri membawa-bawa nama kim jongin juga.?" Luhan tampak bingung namun sedetik berikutnya ia memicingkan matanya curiga begitu melihat kyungsoo yang kini terlihat gugup.

"do kyungsoo, kau menyukai kim jongin ya, dan kim hyeri mengetahuinya sementara aku tidak?

"ya..yak, apa yang kau bicarakan sudah lah,, ayo kita pergi dari sini, aku sudah mulai takut."

"jangan mengalihkan pembicaraan burung hantu, wow kau menyukai yang gelap-gelap ternyata,ani..ani bukan yang gelap, tapi yang tidak terlihat. Dia seperti kelelawar dimalam hari. Haha.. wew, selerahmu sungguh aneh kyungie" luhan tertawa mendengar kalimat yang keluar dari bibirnya sendiri.

"dan kau menyukai laki-laki yang di kutuk sejak lahir itu.? bahkan ketika aku melihatnya pertama kali ku pikir ibunya melahirkannya di lantai dan kuyakin ia terjatuh dengan wajah yang membentur lantai terlebih dahulu" kyungsoo menyunggingkan senyum kemenangnnya begitu melihat wajah luhan yang mengeras.

"yak, d.o kyungsoo.."

"akham, apa kalian sudah puas menghina kami.?"

Luhan yang tadinya hendak menyerang kyungsoo terhenti begitu saja saat suara yang amat sangat di kenalnya itu mengitrupsi perdebatan konyol mereka. Mereka berbalik secara serempak pada sumber suara Dan sontak membuat bola mata rusa luhan membulat kaget begitu pula kyungsoo, bahkan ukuran bola mata kyungsoo yang memang sudah besar bertambah dua kali lipat Begitu mereka mengetahui dua namja yang mereka akham..hina tadi ternyata masih berada di belakang mereka.

Beberapa detik kedua namja itu mematung dengan wajah yang terkejut hingga luhan memecah keheningan abnormal itu. "he..hehe.. kyungie, kurasa kita harus menyusul chanyeol, untuk melihat kondisi baekhyun" luhan langsung berdiri tegap di samping kyungsoo dan memasang senyum bodohnya. Begitu pula kyungsoo yang terlihat sama bodohnya dengan luhan, apa lagi saat mereka memandang kedua wajah yang menatap mereka datar itu, luhan dan kyungsoo ingin melompat kedalam kolam saja rasanya.

"i..iya, kurasa memang harus seperti itu. LARI.." kyungsoo langsung menarik lengan luhan tanpa banyak bertanya lagi dan berlari menuju pintu keluar. "yak, berhenti di situ." Kai berteriak begitu melihat dua namja itu melarikan diri.

"hwa..mbian..mbian.." luhan meminta maaf masih dengan kaki yang terus beralari bahkan tanpa menoleh pada dua namja yang kini memasang wajah bingung mereka, takut-takut jika ia dan kyungsoo tertangkap.

" -apaan mereka itu. wajah yang membentur lantai..? haha…" kai tertawa lepas saat mengingat perkataan namja burung hantu yang membelanya tadi membuat sehoon menukikkan alisnya tajam. "diam kau keleawar sialan. Kalau dipikir-pikir kalian cocok juga, burung hantu dan kelelawar bukannya mahluk malam hari.? Haha.." kali ini sehoon yang tertawa hingga membuat kedua mata tajamnya tenggelam tak terlihat, membuat kai makin kesal karenanya dan melangkah begitu saja meninggalkan sehoon yang masih tertawa.

chanyeol duduk pada kursi dengan bantalan karet di dekat tempat baekyun berbaring tak sadarkan diri dengan selang infuse yang menggantung pada pergelangan tangan kirinya, mata tajam itu terus berpusat pada wajah baekhyun tanpa mengalihakan perhatiannnya sedikit pun.

Ia menyalahkan dirinya sendiri, harusnya ia bisa memprediksi hal ini terjadi, mulai dari kecurigaannya saat ia merasakan orang yang selalu mematai-matai mereka di tempat-tempat mereka selalu menghabiskan waktu berdua, bahawa mungkin hubunganya dan baekhyun sudah di ketahui oleh semua siswa di sekolah itu.

Namja jangkung itu kembali mengusap wajah yang terlihat sangat khawatir, membuat yeoja cantik yang berpakaian khas dokter tersenyum samar dan melangkah mendekati chanyeol serta memberikanya handuk. "keringkan dulu badanmu chanyeol, kau juga akan sakit jika terlalu lama duduk dengan tubuh yang basah, apa lagi kau tidak memakai baju"

Chanyeol menerima handuk itu namun ia hanya menggenggamnya dan tak menggunakan sebagai mana mestinya. "terima kasih noona, tapi aku tak apa-apa" chanyeol melirik sekilas pada dokter muda yang tengah memeriksa kembali kondisi baekhyun.

"efek dari tenggelamnya sudah hilang, semua air yang di telanya tadi sudah keluar, tapi sepertinya ia demam karena daya tahan tubuhnya sangat lemah, tubuhnya juga terlihat sangat lelah, jika ia terus kelelahan mungkin bisa berakibat buruk pada kerja system imunnya, dan lambungnya juga sepertinya bermasalah" Dokter cantik itu kembali memandang chanyeol dan meletakkan peralan dokternya dalam tas kecil yang berada di sisi ranjang baekhyun.

Chanyeol kembali menghembuskan nafasnya berat saat mendengar kalimat dokter pribadi keluarganya itu, ia menunduk dan menatap datar pada lantai ruang kesehatan sekolahnya ini, namja jangkung itu kembali menyalahkan dirinya. Ia harusnya bisa mencegah baekhyun untuk bekerja keras, walau baekhyun keras kepala tapi ia harusnya bisa menjaga kekasih mungilnya itu.

"kau sungguh terlihat berbeda dari biasanya yeol, ini pertama kalinya aku melihatmu frustasi seperti itu, bahkan ketika bibi park sakit kau hanya bertahan dengan wajah datarmu yang hampir ku tendang saat itu" hanyeol tersenyum samar saat mendengar dokter yang terlihat mirip dengannya itu.

Park yoora, dokter keluarga chanyeol yang juga merupakan sepupunya makin menukikkan alisnya bingung saat melihat chanyeol tersenyum samar. "wow, kau bahkan tersenyum padaku.? Aku yakin banyak leluacon yang telah kuceritakan selama ini tapi kau tak tersenyum sama sekali danvsekarang kau tersenyum.? Oke, lupakan masalah itu, jadi.. siapa namja manis ini.?"

wanita yang lebih tua 8 tahun dari chanyeol itu melirik baekhyun sejenak dan kembali memandang serius chanyeol. "dia sangat penting untukku noona" dan ucapan lirih itu cukup memberikan yoora jawaban, ia tampak kaget namun ia tersenyum setelahnya.

Yeoja cantik itu telah mendapatkan gelar dokternya dan bekerja pada rumah sakit ternama di seoul serta menjadi dokter pribadi keluarga konglomerat park, pengalaman dalam hidupnya cukup untuk membuatnya mengerti dengan situasi ini.

"jadi itu alasan kenapa kau menghubungiku dengan suara yang panik memintaku kesekolah ini.? bahkan aku meninggalkan pasian ku hingga meminta dokter lain untuk menanganinya. Walaupun bingung dengan situasi ini, tapi aku mengerti, aku sudah menganggapmu sebagai adik kecilku yang manis cahanyeol-ah, walau tampangmu tak ada manis-manisnya sama sekali"

Chanyeol memandang wajah yoora yang kini tersenyum manis padanya, dan membuat chanyeol juga tersenyum samar-lagi-. "cha, aku harus kembali kerumah sakit, hm.. baekhyun sebentar lagi pasti sadar"

ia melirik name tag pada seragam baekhyun yang telah di kenakannya kembali tadi. tentu saja di bantu oleh chanyeol sambil menunggu noonanya ini datang, walau di ruangan kesehatan mereka telah ada dokter yang menangani siswa-siswa di Soengguk SHS itu jika terjadi apa-apa pada mereka, tapi chanyeol lebih mempercayakan bekhyun pada yeoja yang sudah di anggap sebagai noonanyaa itu.

"tunggulah sampai infusnya habis jika tak ada perubahan selama satu jam kedepan kau boleh menghubungiku lagi. Arraso.?" Yoora mengankat tas perlengkapan dokternya dan melangakah mendekati chanyeol. "kau juga harus segara mengeringkan badanmu, suhu di luar sudah mulai dingin, kau tak boleh sakit untuk menjaga orang lain" ia menepuk pelan bahu telanjang chanyeol.

"ia noona, aku mengerti" chanyeol berdiri dari duduknya dan ikut melangkah menu pintu keluar untuk mengantar dokter pribadinya itu sampai di depan pintu, yoora melambaikan tangannya pada chanyeol "pasang wajah datarmu yeol, jangan menunjukan kelemahanmu seperti itu, aku tahu dia sangat berarti, tapi setidaknya berpura-pura lah, ini bukan masalah yang besar chanyeol. Masih ada lagi yang akan lebih berat dari pada ini. jadi kau harus kuat."

chanyeol menatap datar punggung yoora yang melangkah menjauh dari ruangannya berdiri, ia tahu pasti makan dari kalimat itu. masih ada hal yang lebih besar dari pada ini.

satu menit penuh chanyeol mematung dengan pikiran yang penuh hingga ia mendengar beberapa suara telapak kaki yang melangkah atau lebih tepatnya berlari kearahnya. Membuatnya tersadar dari lamunannya.

Itu luhan dan kyungsoo yang tengah berlari seperti orang kesetanan, membuat chanyeol kembali memasang wajah datarnya bingung 'ada apa lagi dengan dua makhluk abstrak ini' itu yang ada di pikiran chanyeol.

Kyungsoo dan luhan berhenti tepat di depan chanyeol dengan nafas yang tidak teratur, sepertinya mereka berlari dari ruangan olahraga indoor hingga ke tempat ini, dan itu bukanlah jarak yang cukup dekat mengingat seberapa luas sekolah mereka ini.

Setelah merasakan denyut jantung yang sudah kembali normal dan terlebih lagi chanyeol masih berdiri menatap datar mereka, kyungsoo segera membuka suaranya. "bagaiman keadan baekhyun, apa dia baik-baik saja.?" Kyungsoo bertanya dengan nada yang cukup tenang, walau ini pertama kalinya ia berbicara secara langsung dengan chanyeol tapi setidaknya ia suadah sering melihat namja jangkung itu saat menghadiri pesta-pesta yang di adakan relasi bisnis di perusahaan mereka. Walau hanya saling melempar pandangan tapi setidaknya itu tak membut kyungsoo gugup saat berbicara dengannya.

Chanyeol memalingkan wajahnya pada ranjang baekhyun yang berda disamping kiri dari tempatnya berdiri, lalu kembali menghadap kyungsoo dan luhan. "ia masih tertidur, bisa kah kalian menjaganya sebentar aku harus memakai seragamku" nada chanyeol berbicara masih sama seperti yang dulu, tetap tegas dan berwibawa, membuat luhan enggan untuk berbicara padanya dan hanya membiarkan kyungsoo menjawabnya.

Setelah mendapat anggukan kepala dari kyungsoo dan luhan, chanyeol menghampiri ranjang baekhyun dan mengecup kepala namja yang masih tertidur itu dan melangkah keluar untuk menghampiri luhan dan kyungsoo, "masuklah, kalau terjadi apa-apa segera beri tahu aku" dan setelah mendapat anggukan kepala dari luhan dan kyungsoo lagi, ia meninggalkan ruangan itu.

"wow.. kyung kau lihat badan sempurnanya tadi, itu sangat mengagumkan" luhan membuka suaranya saat yang di bicarakan telah melangkah jauh dari ruang itu.

"diam kau xi luhan,ini bukan saatnya mengagumi chanyeol, kita harus menjaga baekhyun.. ayo masuk kedalam"

"oh iya, URI BAEKKIE.."

"DIAM, dia sedang tertidur"

"arasseo"

Tbc!

Halloooo readers nim *bungkukhormat

Ane amat sangat menyesal karena baru bisa upload lanjutan ff abal ini, dan lgi masih ada tulisan tbc disana. Demi apa nggak ane nggak tau kenapa idenya datang bertubi-tubi jadi makin bingung mau tamatnya di mana.? Huft.. jadi buat readernim yang masih nunggu ni ff abal, bersabar lagi ya.. aku nggak bakalan janjiin kapan ni ff bakal tamat. Tapi yakin deh ini gak bakalan sampe 10 chapter.

Oke.. kembali lagi ke ffnya, ini kayak gantung bangatkan di tbcnya, dan pastinya alurnya makin aneh, tapi mohon di maklumin aja ya maklum yang nulis author gila, jadi ya.. gitu lah. Hehe.

Oke, jika ada yang ingin di tanyakan atau kurang di pahami bisa langsung ngetik di kotak repiu.. dan kalau mau keal lebih dekat lagi ama aouthor gila ini, bisa kok pollow twitter ane di baekyeolfanfan

Oke gitu doing cuap-cuapnya. Ohon repiuu ya guys.. soalnya setiap repiu kalianlah yang menjadi dasar aku lanjutin ff abal ini. dan buat yang udah repiu di chap sebelumnya thanks bangat, aku nggak bisa balas satu-satu tapi aku baa kok semuanya.

Dan untuk CHANBAEK yang menurut aku mereka udah nikah diam-diam, makin lengket ya bang biar aku makin ada idu buat nulis ff. haha… hidup CHANBAEK.

Bye.. see you soon. Maybe next week. ^_^