Saat yang lain mungkin memikirkan bagaimana cara mereka menata masa depan agar bisa menikmati hidup dengan kerja keras dan keluarga kecil mereka, chanyeol lebih memikirkan bagaimana cara mempertahankan baekhyun dalam hidupnya, namja jangkung itu telah banyak mengenal bagaimana hubungan seperti yang mereka jalani ini berakhir.

Dan ia tak mau mengalaminya juga, saat pertama kali ia mengenal namja mungil yang tertidur pulas dengan wajah yang manis di perpustakaan sekolah nya, chanyeol seolah menemukan apa itu masa depan. mungkin terdengar berlebihan, tapi itu lah yang terjadi.

Saat ia tak pernah percaya apa itu cinta, namja mungil itu datang kedalam hidupnya dan memporak-porandakan setiap asumsi sinis mengenai filosofi cinta dan apapun yang berhubungan dengan hal cheesy seperti itu.

Baekhyun banyak memberi perubahan padanya, banyak yang di pelajari dari namja mungil itu, bagaimana rasa ingin melindungi itu timbul, bagaimana rasa ingin menjaga itu ada dan bagaimana rasa memiliki itu tertanam dalam benaknya.

Saat orang tua berkelasnya hanya menyumbangkan uang dalam hidupnya, baekhyun menyumbangkan hal yang lebih berharga dari itu, hal aneh yang membuat semua pendiriannya hilang dan terganti oleh gelak tawa saat melihat tingkah namja mungil itu.

Far Away

By : balbaekyeolfan

Main Cast : byun baekhyun / park chanyeol

Pairing : chanbaek / baekyeol dan other

Genre : drama, school life, au, romance, hurt/cumfort (banyak amat ya -_-)

Warning : typos,cerita kaga nyambung dan abturd (maklumin ajeh ya *wink)

Note : no bash, no re-upload, no sider

Happy reading and enjoy it

"yeol.. pulang lah, aku baik-baik saja" baekhyun berucap dengan senyum yang mengikutinya, berusaha meyakinkan chanyeol yang sedari tadi menatapnya datar, ia tak tahu pasti apa yang di pikirkan namja jangkung itu.

Baekhyun bahkan tak mendengar suara beratnya saat mereka tiba di apartemennya ini beberapa menit yang lalu. "yeol, apa yang kau pikirkan.?" Baekhyun kembali bertanya saat ia tak mendapat tanggapan dari namja yang masih duduk mematung di depannya itu.

Namja jangkung itu hanya menggelengkan kepalanya pelan dan beranjak duduk pada kursi sofa lusuh di samping baekhyun lalu menepuk pahanya pelan, mengisyaratkan namja mungil itu untuk duduk disana. Baekhyun membulatkan matanya gugup namun melihat wajah serius chanyeol, membuatnya tak banyak melawan lagi dan duduk di pangkuan chanyeol dengan kepala yang di sandarkan pada lekukan lehernya.

Cukup lama mereka diam dalam posisi yang membuat jantung keduanya seolah berlomba itu hingga baekhyun merasa ada yang aneh dengan sikap kekasih giannya itu, "yeol, bicaralah ada apa..?, kau tak mengatakan apa-apa bahkan setelah aku sadar di rungan kesehatan tadi" baekhyun bertanya dengan focus yang di berikan pada jemari besar chanyeol yang menggenggam jemari lentiknya, hangat.

"aku memikirkanmu baekyun-ah, melihat bagaimana kau tenggelam tadi membuatku takut. Dan lagi sekarang semua siswa di sekolah sudah tahu dengan hubungan kita, aku tak mau terjadi sesuatu yang buruk padamu" chanyeol berucap panjang dan diakhiri dengan kecupan sayang pada pucuk kepala baekhyun, membuatnya merasakan aroma shampo bayi yang menyeruak di sana.

Baekhyun tersenyum dan menguatkan genggaman tangannya pada chanyeol "aku bukanlah orang yang lemah yeol, hanya saja. Air memang tidak bersahabat dengan ku. Ingat yeol, aku bukan seorang gadis aku juga namja, bahkan aku pernah memelajari hapkido dulu, melawan segerombolan gadis bukanlah hal yang sulit untukku. Ck, mereka belum tahu saja siapa aku, apa lagi ada luhan. Aku yakin mereka akan lari terbirit-birit"

Si mungil berucap jenaka membuat chanyeol terseyum mendengar penuturannya, terlebih lagi baekhyun mengucapkannya dengan membalikan wajahnya membuat chanyeol dapat menikmati wajah manis itu. "luhan memang hebat untuk membunuh seseorang" chanyeol menanggapi guyonan baekhyun dan membuat yang lebih mungil menunjukan eye smile faforit chanyeol.

Beberapa detik berikutnya tangan besar yang tadinya melingkar di perut ramping baekhyun menjulur kearah wajahnya membuat baekhyun bingung dan juga gugup di saat yang bersamaan, namun pikirannya yang 'aneh' itu tampaknya salah, chanyeol meletakkan telapak tangannya pada dahinya.

"sukurlah, demammu sudah turun" chanyeol mebuang nafasnya lega dan kembali memandang mata sabit cantik itu, hingga beberapa detik setelahnya wajah chanyeol semakin mendekat, dan membuat baekhyun terlihat gugup dengan jari tangan yang mengepal kuat dan debaran jantung yang terasa akan meledak.

Wajah mereka sudah sangat dekat bahkan baekhyun bisa merasakan deru nafas chanyeol yang menerpa ujung hidungnya, hingga suara seseorang yang mendobrak pintu apartemen baekhyun menghancurkan segalanya.

"BAEKHYUNIE.. kau sud.. oh, APA YANG KALIAN LAKUKAN..?" luhan berteriak histeris saat melihat posisi intim keduanya, dan jangan lupakan kyungsoo yang mematung di samping luhan, namun pria bermata doe itu segera tersadar dan menarik luhan kembali keluar serta menutup pintu dengan keras tanpa mengindahkan rontaan rusa cantik itu.

baekhyun yang kaget dengan suara melengking luhan reflex melompat turun dari gendongan chanyeol, bahkan namja mungil itu menyikut perut chanyeol keras membuat sang empuhnya meringis pelan. "ma..maaf yeol. Kau tak apa-apa.?" Baekhyun bertanya dengan nada khawatir tapi juga pipi yang merona mengingat apa yang mungkin terjadi jika luhan 'sialan' itu tidak mengganggu mereka.

" .. aku baik-baik saja" chanyeol juga terkejut dengan kedatangan luhan, namun ia masih bisa mengontrol tindakannya, tidak seperti tuan byun yang bereaksi berlebihan, seperti anak yang tertangkap basah oleh ibunya saat hendak mencuri atau memecahkan keramik mahal keluarga. Sangat berlebihan. Padahal mereka pasangan kekasih.

"aish.. rusa sialan, ku sembeli dia" baekhyun berucap lirih sambil memandang pintu apartemen sederhananya dengan mata menyala, membuat chanyeol terkekeh. "baiklah baek, aku harus pulang. Sepertinya kedua peri penjagamu datang berkunjung." Chanyeol berucap main-main sambil beranjak dari kursi sofa yang di dudukniya. –bahkan dia sudah pandai membuat lelucon sekarang, wow-

Lalu berjalan menuju pintu sambil menyambar jaket yang di lepaskannya tadi dan kembali membalut seragam sekolahnya. Ia memang tidak langsung kembali kerumah mewahnya, bahkan ia membolos pelajaran akhir Karena harus menemani baekhyun yang beristrahat di ruang kesehatan tadi.

Dan ketika baekhyun sadar-karena bunyi bel sekolah yang nyaring- ia langsung mengantar namja mungil itu dengan Lamborghini kesayangannya, dan tentu saja menjadi pusat perhatian seluruh siswa soengguk SHS. Berbagai tatapan iri mereka tampak jelas terlihat apa lagi saat chanyeol harus memapa baekhyun karena namja mungil itu belum mampu berjalan sendiri, membuat siswa dan siswi disana memberikan tatapan tidak suka mereka pada baekhyun.

"ia, hati-hati di jalan yeol." Baehyun mengantar namja jangkung itu sampai pada pintu apartemennya, membuat mereka dapat mendengar suara kyungsoo yang sedang menceramahi luhan habis-habisan. Namun kedua namja yang mempunyai tinggi yang kontras itu hanya menabaikan apa yang mereka dengar.

"ingat baekhyun, jangan bekerja hari ini, aku akan menggusur semua tempat kerja mu itu jika kau tidak mendengarkanku" chanyeol berucap dengan wajah tegasnya menunjukan jika namja bermarga park itu sunguh-sungguh dalam ucapannya.

"apa..? menggusur, yak. Jang."

"baek" suara berat itu tampak memperingati, membuat baekhyun membungkam mulutnya dan mendengus keras. "baiklah, aku mengerti. hati-hatilah di jalan, di luar sudah mulai dingin" ia akhirnya mengalah dan menuruti kemauan kekasihnya, mengingat tubuhnya yang memang masih lelah membuatnya tak banyak melawan lagi.

"dan ini untuk yang tertunda tadi" sebenarnya baekhyun bingung, dengan kalimat ambigu chanyeol itu, tapi setelah merasakan benda kenyal yang mengecup bibirnnya singkat, membuatnya mengerti dan mematung seketika. Jangan lupakan bola mata kecilnya yang kini melebar.

"aku pulang" chanyeol melenggang santai dengan tangan yang di masukan kedalam kantung celana seragamnya juga senyum tipis pada bibirnya, ia melangkah melewati luhan dan kyungsoo yang juga mematung dengan wajah konyol yang masih berdiri di lorong apartemen baekhyun, nampaknya dua namja mungil itu melihat apa yang terjadii tadi. Hingga suara lengkingan baekhyun membuyarkan keterkejutan mereka.

"kyaaa..… kubunuh kau park chanyeol" baekhyun menutup wajahnya yang terasa panas, demi tuhan tadi itu sangat mengejutkan dan mendebarkan. "heol, kau seolah menolak padahal di wajahmu tertulis jelas kau meminta lebih" itu suara luhan yang berucap dengan wajah santai sambil melangkah melewati baekhyun yang masih berdiri di ambang pintu apartemennya dan masuk kedalam di ikuti dengan kyungsoo yang berjalan di belakangnya sambil menatap baekhyun curiga.

Baekhyun segera berbalik dan menyusul kedua sahabatnya yang sudah memposisikan duduk mereka senyaman mungkin sambil memasang wajah yang meminta penjelasan lebih dari baekhyun, membuat namja mungil itu lagi-lagi terlihat gugup.

"mw..mwo.? kenapa kalian melihatku seperi itu.?" ia mengambil tempat duduk di depan kedua teman abstrudnya yang masih memandangnya dengan intens, seperti orang tua yang akan mengadili anak mereka, terlebih lagi tatapan menyelidik terlihat jelas dari empat bola mata replica dua hewan berbeda itu. dan sungguh, saat burung hantu dan rusa bersebelahan itu akan sangat terlihat kontras.

"apa yang telah terjadi diantara kalian?, PENJELASAN, SEKARANG" Kyungsoo memulai introgasinya dengan mata doe nya yang memang terlihat menakutkan saat serius serta penekanan intonasi pada kata penjelasan dan sekarang.

Membuat yang di Tanya menatap jengah kedua makhluk tuhan yan indah tapi tidak berotak-menururt baekhyun- itu, "apa yang sedang kalian pikirkan.? Huh..?" ia memincingkan matanya menatapa luhan dan kyungsoo bergantian, sebenarnya ia hanya menutupi rasa gugupnya mengingat apa yang telah di lihat dua sahabatnya ini memberikan alasan kuat untuk mereka menindasnya.

"sudahlah kyung, dia masih berjalan normal jadi tak ada hal aneh yang terjadi" itu luhan yang berucap santai yang di sambut dengan tatapan bingung baekhyun, bahkan kyungsoo juga merasa aneh dengan arah pembicaraan luhan.

"jujur lu, apa yang kau pikirkan sebenarnya.?" Kyungsoo merasa aneh dengan pertanyaan yang di ajukan namja china yang masih menatap pergerakan gugup baekhhyun, ia bahkan tidak mengindahkan pertanyaan kyungsoo.

"ck, maksud ku, mereka tidak melakukan 'ini dan itu', melihat cara berjalan baekhyun masih terlihat normal jadi kau tidak perlu khawatir, sahabat kita ini masih perjaka" luhan menjawab dengan wajah santainya sambil diikuti gerakan tangan gemulai? Nya saat menjelaskan kata ini dan itu.

Baekhhyun dan kyungsoo mematung mendengar kalimat frontal tanpa sensor dari mulut rabies luhan-baekhyun yang memberi julukan mulia itu karena bagaiaman bibir tipis itu selalu berucap pedas tanpa memikirkan perasaan orang lain- dan sedetik berikutnya namja cantik itu meringis pelan saat merasakan tangan kyungsoo memukul tenggkuknya.

"yak, apa yang kau lakukan kyung.?"

"apa yang kau pikirkan ha.? Kurasa otak rabiesmu itu perlu di cuci atau di hancurkan seklian. ingatkan aku untuk menyuntikan anti rabies padamu besok" kyungsoo berucap frustasi saat mengetahui arah pembicaraan luhan yang terlalu jauh menurutnya.

"kau tidak perlu repot-repot kyung, cukup ciuman dari oh sehoon maka aku akan kembali waras" luhan menjawab dengan senyum manis yang mengikutinya, membayangkan bagaiman jika apa yang di ucapkannya menjadi kenyataan.

"lupakan apa yang di katakana rusa idiot ini baek, oke kembali lagi ke topik. Jadi, sejak kapan kalian menjalin hubungan yang demi tuhan ini sangat mengejutkan" baekhyun yang masih memasang wajah malunya saat mendengar ucapan luhan tadi sontak langsung menundukkan wajahnya merasa tidak enak.

"hmm.. maaf, kyung, harusnya aku tidak menyembunyikan masalah ini. hmm.. mungkin sekitar empat bulan, entahlah, aku tidak mengingatnya dengan pasti" baekhyun berucap pelan, takut jika kedua sahabatnya itu marah padanya, seharusnya dia menceritakan semuanya pada luhan dan kyungsoo, mengingat mereka telah membuat kesepakatan bahwa tak akan ada lagi rahasia di antara ketiganya.

"sebenarnya, aku sangat kecewa padamu baek, kau tahukan seperti apa park chanyeol itu di sekolah kita, dia anak konglomerat negri ini dan tentu saja dia di agung-agungkan banyak orang, banyak yang bahkan hanya ingin sekedar menjadi sahabatnya dan kau datang di saat yang lain sedang mencakar satu sama lain untuk mendekatinya dan mengumumkan bahwa aku kekasihnya.? Heol, untung mereka tidak membunuhmu tadi"

Sepertinya namja mungil itu berucap serius dan membuat luhan serta baekhyun bungkam tak banyak berbicara, saat kyungsoo berada dalam mode seriusnya, sosok ke ibuannya akan terlihat jelas mengingatkan kedua namja yang kini tak memiliki ibu itu pada sosok yang selalu mengarahkan mereka, sosok ibu yang mereka dapatkan dari namja yang memiliki ukuran tubuh paling kecil diantara mereka. Tapi jika pemikiran mereka di sandingkan, mungkin hanya ia yang memilik pemikiran paling waras diantara ketiganya.

"maaf kyung, aku tak akan mengulanginya lagi" baekhyun berucap llirih, dan masih tak berani memandang wajah serius kyungsoo yang duduk di depannya, "aku tak menyalahkan mu baek, aku hanya menghawatirkanmu, dan sekarang apa yang akan kalian lakukan.? Semua siswa soenggung sudah mengetahui perihal hubungan kalian. Kau harus lebih berhati-hati sekarang"

Baekhyun mengangkat wajahnya saat mendengar nada khawatir dari kyungsoo, "aku tak tahu kyung, aku hanya ngin menjalani hubungan yang normal dengan seseorang yang aku cintai, tapi sepertinya harapan sederhana itu sulit, entahlah semua yang terjadi padaku selalu berjalan dengan masalah"

Melihat wajah sendu sahabatnya, kyungsoo melebarkan tangannya memberi isyarat agar sahabat mungilnya memeluknya dan bisa sedikit tenang, dengan senyum manis dan penuh kelegaan, baekhyun menghamburkan badannya pada pelukan kyungsoo.

"kau masiih punya aku baek, aku akan selalu mendukungmu, apapun yang terjadi" kyungsoo berucap tegas dan membelai kepala baekhyun pelan membuat yang kini menyandarkan kepalanya pada bahu sempitnya merasa lebih nyaman.

"akham, sepertinya kalian melupakan seseorang di sini, aku juga membutuhkan pelukan setelah tengkukku di pukul tadi" luhan memasang wajah cemberutnya yang di buat-buat membuat kedua sahabatnya yang tengah berpelukan itu tertawa, lalu merentangkan tangan mereka dan detik selanjutnya luhan sudah melompat ketengah-tengah dua namja yang kini kewalahan menyambut badan luhan yang menubruk mereka keras. dan setelahnya hanya suara tawa lepas yang terdengar dari ketiga bibir tipis itu.

"kau juga masih punya aku baek, akan ku cakar semua yang berani mengganggumu. Apa lagi jika kim hyeri itu yang macam-macam, biar kubuat gundul dia" luhan melepaskan tautan pelukan mereka dan membuat postur seolah-olah mencakar dengan ekspresi yang di buat segarang mungkin, namun justru terlihat menggemaskan dimata kedua sahabatnya.

"termikasih lu, aku mengandalkan mu"

"bagus, tapi sebelum itu. sebenarnya aku sudah sangat penasaran sejak kejadian yang mengejutkan tadi, jadi.. bagaimana kau merayu chanyeol, maksudku.. ini park chanyeol, yang bahkan ia tak pernah tersenyum pada siapapun di sekolah dan tiba-tiba ,BOOM, dia menjadi kekasih byun baekhyun yang miskin, pendek, tidak lebih baik dari pada aku, dan anti sosial"

Baekhyun memandang datar luhan yang seolah mengeluarkan semua rasa penasarannya dengan ekspresi nya yang-menurut baekhyun-ingin di hajar. "terimakasih xi luhan, kau sahabat yang mengagumkan"

"aku serius baek, apa kau bertelanjang di depannya atau apa..?"

Dan detik selanjutnya hanya bunyi ringisan pelan lagi yang di keluarkan bibir tipis luhan saat mendapat-lagi-pukulan di tengkuknya, tentu pelakunya namja dengan mata doe yang kini memandang luhan datar seolah bertanya dalam benakanya 'apa dosa nenek moyangku hingga aku harus mempunyai sahabat seperti ini'

"apa kau perlu suntikan anti rabies itu sekarang soo.? Kebetulan aku punya beberapa di dapur, aku akan mengambilkannya untukmu" baekhyun memandang kyungsoo dengan serius membuat luhan memasang wajah horornya.

"jangan lupakan pisau dapur sekalian, aku ingin mengebirinya di sini" dan juga di tanggapi serius oleh kyungsoo.

"hehe.. teman-teman, aku belum menggunakan marga oh di awal namaku dan belum mengandung anak sehoon, jadi bisa kita tunda acara pembunuhan ini.?" luhan tertawa canggung, dan bersiap mengambil langkah untuk kabur sejauh mungkin dari dua sahabatnya yang terlihat ingin memakannya hidup-hidup itu.

Dan selanjutnya hanya Tawa renyah dengan derap langkah kaki Ketiga namja dengan wajah yang menghianati umur mereka itu menggema nyaring di apartemen kumuh milik lelaki mungil yang mempunyai perjalan hidup yang sulit sejak kedua orang tuanya memutuskan untuk meninggalkannya berjuang sendiri pada dunia dengan kebahagiaan yang juga menyelingkupinya.

Saat presepsi 'mereka hanya akan memandangmu jika kau berjalan dengan puluhan mutiara berkilau yang mmengelilingi tubuhmu' tertanam jelas di otaknya, namja dengan wajah datarnya menunjukan sisi lain dari kehidupan, dan dua orang dengan ukuran sifat yang sangat jauh berbeda Dimana ,

yang satu tumbuh dengan didikan dari bibi dan pamannya serta ia arus meninggalkan Negara kelahirannya demi menyambung hidup selepas kedua orang tuanya yang juga meninggalkannya seorang diri untuk mengarungi luas dunia dengan banyak hal di dalamnya.

Dan satu namja yang lain, yang tumbuh dari keluarga kaya, namun memiliki kemurahan hati yang jarang di temukan pada mereka yang berkilau, dimana ia berusaha meredupkan kilauannya agar benda lain tak merasa risih saat bersamanya, sekali pun benda itu hanya batu kerikil di pinggir jalan.

Mungkin sebut saja dua namja itu adalah luhan dan kyungsoo, yang menjadi pelengkap kebahagiaan baekhyun dengan park chanyeol yang menjadi kunci yang membuka kurungan hatinya saat ia memutuskan untuk sendiri.

Menanamkan bahwa hidup itu penuh dengan hal indah, walau hal kelam juga selalu mengikutinya. Tetapi jika ada tangan yang membantumu berdiri, rintangan hidup bukan lah hal yang sulit lagi.

Mobil sport dengan cat merahnya terlihat berkilau saat lampu taman yang mewah menyinari badan mobil itu, kolam air mancur kecil dengan patung bernilai seni yang tinggi berdiri kokoh pada tengah taman seolah menyambut mereka yang berkunjung pada mension megah yang tengah mobil Lamborghini itu tuju.

Area taman yang luas serta penuh pahatan patung dengan model yang indah tampaknya bukan lagi pemandangan yang mengejutkan untuk pengemudi mobil merah itu, walau puluhan lampu dengan warna yang berbeda tampak menarik di kegelapan malam, namun jika itu hanya sebuah pemandangan tanpa perasaan di dalamnya apa yang harus di nikmati.

Namja dengan tatapan tegas itu menghentikan mobilnya setelah melewati kawasan taman yang panjang sebelum mencapai mension megah dengen bangunan benda bernilai tinggi yang melekat pada setiap badan bangunan, seperti lukisan dengan gaya eropa dan berbagai guci impor yang jumlahnya hanya dapat dihitung dengan jari di seluruh dunia.

Ia keluar dari mobil mewahnya dan melewati para bodyguard yang selalu berdiri di sekitar area mension megah itu dengan jas hitam yang kental serta tubuh besar dan berotot yang akan membuat orang berpikir ratusan kali untuk mencoba mencuri ataupun mengacau dalam mension megah milik keluarga koglomerat park itu.

para namja berbadan tegap itu membungkuk serempak saat melihat tuan mudah mereka menuju pintu utama mension dan seperti biasa, chanyeol hanya akan melewati mereka seolah-olah merea tak ada di sana.

"selamat malam tuan muda, tuan dan nyonya besar mencarimu" chanyeol berhenti dari langkah tegasnya dan memandang datar pada pria paruh baya yang menghampirinya sebelum ia melangkahkan kakinya memasuki ruangan yang luas namun seolah tak berpenghuni-bagi chanyeol, bahkan suara detik jarum jam menggema di sana.

Namja dengan pakaian pelayan itu tampak gugup saat tak mendapat tanggapan dari namja yang lebih mudah, "tuan sebaiknya segera masuk kedalam" pelayan tua itu kembali menambahkan kalimatnya diikuti dengan tubuhnya yang membungkuk untuk menunjukan kesopanannya pada namja yang mulai melangkahkan kakinya memasuki istana megahnya.

Langkah sepatu cast dengan merek terkenal chanyeol berheti menginjak lantai marmer dengan warna merah tua yang berada pada ruangan keluarga-setidaknnya itu namanya- walau ruangan itu tak berfungsi sama sekali seperti namanya, saat ia mendengar suara lembut dari wanita yang terlihat elegan walau ia hanya mengenakan piyama tidur dan juga cantik di usianya yang tak lagi muda menyapanya.

"chanyeol.? Kau baru pulang dari sekolah.?" Chanyeol tak langsung menjawab pertanyaan yang dI lontarkan ibunya, ia membungkuk 90% pada kedua orang yang duduk santai pada ruang keluarga dengan piyama tidur yang sudah mereka kenakan, untuk menunjukan keberhasilan didikan mereka pada nya, setidaknya anak tampan satu-satunya itu memiliki sopan santun yang baik.

"Duduk lah kita perlu bicara" pria dengan karisma yang terlihat jelas walau kerutan kecil sudah tampak pada wajah tampannya membuka suara, ia menutup halaman Koran yang tadi menyibukan namja dengan rambut yang di sisir rapi itu.

Chanyeol melangkah dan mendudukan bokongnya pada kursi yang terlihat mahal melalui pahatan pada ujung sandarannya itu dengan tenang, wajah datarnya tetap terlihat, seolah ia sedang melakukan pertemuan bisnis bersama perusahan tander yang akan mereka kerjakan. Tak ada sama sekali sikap yang biasa di tunjukan oleh layaknya keluarga.

"kenapa kau baru pulang selarut ini.? kau bahkan tidak melepas seragam sekolah mu" pria yang lebih tua membuka suaranya setelah mereka terdiam dengan kecanggungan yang terdengar lucu.

Mungkin perjalanan bisnis selama tiga bulan cukup memeberi alasan pada chanyeol untuk merasa canggung pada kedua orang yang melahirkannya itu.

"aku berkeliling mencari barang yang kusukai, akhir-akhir ini aku bosan di istana ini" chanyeol menjawab dengan wajah datarnya seperti biasa dan terkesan malas, ya.. sejujurnya chanyeol tidak mengharapkan kejutan ini, ia hanya ingin pulang dan membersihkan badannya lalu tidur dengan memimpikan baekhyun.

"kau tidak merindukan kami nak..? kita baru bertemu setelah beberapa bulan kami melakukan perjalanan bisnis, setidaknya peluklah umma mu ini" wanita cantik itu berucap dengan senyum yang mengikutinya, menunjukan sosok keibuan dalam dirinya, walau bagimanapun seorang ibu pastilah berbeda dengan sosok tegas ayah.

"apa yang kau katakan soora, itu hanya akan membuatnya manja, biarkan ia terbiasa dengan hal seperti ini" itu, kalimat itu yang selalu membuat chanyeol menyesal mempunyai watak ayah sepertinya, ia tak pernah berpikir bagaiman chanyeol juga merindukan kasih sayang dari kedua orang tua seperti anak yang lainnya.

Hanya peraturan ketat yang perlahan membuat hatinya menjadi dingin, ia bahkan tak di izinkan untuk merasakan apa itu bahagia yang sesungguhnya, jika pribadinya yang memang tertutup adalah karakter sejak lahir maka yang membutakan hatinya adalah didikan ayah dalam keluarganya.

Namun didikan selama bertahun-tahun itu kini mulai tergantikan dengan rasa yang membuatnya selalu berdebar tetapi nyaman yang melingkupi hatinya, namja mungil yang kini bersatatus kekasihnya banyak merubah dan mengemblikan sisi manusia yang menurut chanyeol perlahan menghilang seiring ia tumbuh.

Jika tanpa baekhyun, ia tak tahu apa yang terjadi pada pribadinya, mungkin ia akan tumbuh seperti robot tanpa rasa apapun di dalamnya, hanya urusan bisnis dan perintah orang tua yang mejadi prioritas utama dalam hidunya. Atau menjadi iblis seperti julukan sang ayah.

Namun karena kehadiran namja dengan eyesmile itu membuatnya mempunyai tujuan yang tak pernah ada di benaknya selam ini, ia jadi memliki hal lain yang harus di pikirkan dan di jaganya lebih dari dirinya sendiri, yang pada intinya baekhyun adalah segalanya untuk chanyeol. Cheesy..? tidak, chanyeol sangat menyukai kalimat itu jika terlintas di kepalanya.

Saat ia mengamati baekhyun yang tetidur pada ruang perpustakaan saat mereka sedang menghabiskan waktu berdua, atau saat baekhyun melantunkan suara indahnya di ruangan musik yang hanya di nikmati oleh chanyeol.

Dan demi semua suara indah yang pernah di dengarnya, melodi yang keluar dari bibir tipis kekasihnya itu jauh lebih indah dan mampu membuatnya mematung pada bait pertama saat pertama kalinya ia mendengar suara namja mungil itu menyanyikan lagu yang chanyeol sarankan 'baby don't cry' Maka kalimat cheesy itu lah yang selalu di pikirkannya.

Berandai-andai Bagaiamana jika ia tak bertemu dengan baekhyun, atau bagaimana jika ia tak melangkahkan kakinya keperpustakaan untuk mencari buku saat itu.? atau bagaimana rasa yang selalu membuat orang-orang kelihatan bodoh tetapi mereka menikmatinya, atau bagaimana jutaan kupu-kupu berterbangan dalam dadanya saat ia melihat senyum manis baekhyun.?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang kadang di pikirkannya saat melihat wajah damai kekasih manisnya yang memberikan Rasa baru dalam hidupnya, rasa yang dikenalkan oleh namja mungil yang juga belajar bagaimana merasakan hal-hal seperti itu, sebenarnya dalam hubungan mereka bukan hanya baekhyun yang belajar, tetapi chanyeol juga belajar. Apa itu cinta.

"jadi, kau sudah menemukan hal menarik yang kau cari itu.? yang tidak membuatmu bosan.?" suara tegas ayahnya membuyarkan lamunan chanyeol, ia menautkan pandangannya pada sorot tegas sang ayah.

Ia sudah mengenal namja dengan keperfeksionisan itu cukup lama, umurnya yang sebentar lagi menginjak usia 19 tahun, sudah cukup membuatnya mengerti tentang apa yang ayahnya selalu inginkan, melakukan semuanya dengan keuntungan yang dapat di hitung dengan presentase yang harus lebih besar pada dirinya.

Semua harus mempunyai nilai, setiap tindakan yang akan di lakukannnya harus mempunyai dampak yang psotif padanya, tidak peduli bagaimana orang lain akan bereaksi pada setiap keputusan yang di ambilnya, namja dengan sorot yang lebih tegas dari chanyeol itu hanya memikirkan bagaimana setiap hal mempunyai nilai dan harus di lihat dengan mata telanjang, seperti tumpukan dolar yang menggunung saat ia menanda tangani secarcik kertas.

Atau saat ia harus memilih barang, maka kualitas dengan kesempurnaan tekstur dan kelengkapan fasilita serta kecanggihan juga ketahanan harus bercampur dalam benda itu, agar won yang di keluarkannya tidak sia-sia.

Terdengar sangat perfeksionis bukan, jika semua hal itu di berlakukan hanya pada pribadinya maka chanyeol tidak akan menuntut sama sekali, mengingat uang yang di habiskan adalah uang miliknya dan nama yang di cemarinya adalah namanya sendiri, park youjun, namun peraturan ketat itu juga menjeratnya.

Setiap keputusan ayahnya adalah keputusannya juga, setiap perintah ayahnya padanya adalah hal yang harus terjadi, hal yang harus terwujud, dan yang tidak di inginkan pria berkarisma pekat itu adalah hal yang harus juga di hindari oleh penerusnya, dengan alasan keluarga park harus tetap memimpin, dengan kekuatan iblis tentunya.

Perusahaan raksasa park memang sangatlah terkenal dengan pemimpinya yang tak memiliki hati, iblis dengan pundi-pundi dolar yang berlimpah, walaupun begitu, park youjun adalah orang yang sangat di hormati karena kemampuannya yang mengagumkan untuk membangun perusahaa kecil peninggalan keluarganya menjadi perusahaan besar yang terkenal hingga pasar eropa.

Dengan karisma tegas dan keprofesionalan serta keperfeksionisan yang kuat, membawa perusahaan itu melaju pesat di antara perusahaan-perusahaan laih, dan cara memimpin itu juga perlahan di tanamkan pada pewaris tunggalnya, ia berusaha membangun pribadi yang lebih keras dan lebih tegas darinya, yang mengubah chanyeol menjadi iblis tanpa memberikan kesempatan menolak padanya.

Seolah setiap keputusan yang di keluarkannya untuk chanyeol adalah hal yang memang anaknya itu inginkan, ia tak pernah berpikir jika mungkin sajah namja jangkung itu mempunyai pandangan yang berbeda dengannya.

Dan chanyeol, jangan berfikir jika ia tidak pernah membantah keputuan tegas ayahnya, ia pernah membantah satu kali, dan itu hanya mengenai jenis mobil yang menurut peraturan Negara, umur di bawah 18 tahun harusnya belum bisa membawa mobilnya sendiri, namun tentu saja pengecualian untuk anak tersohor negri ginseng ini.

Hanya pertentangan mobil yang berbeda merek namun masih dengan nilai won yang tinggi membuat chanyeol harus mendapat tatapan memperingati yang sangat menakutkan untuk pertama kalinya, dan sejak saat itu ia tak mau membantah lagi, ia tak mau membuat tatapan itu muncul lagi, maka ia mengikuti saran sang ayah, yang memilih mobil dengan kualitas yang tidak akan menghina keluarga kayanya.

Tapi sepertinya tatapan memperingati itu dapat di lihatnya lagi, sorot mata tajam itu tampak jelas di hadapannya kini, ia mengetahui jika ada makna lain dari pertanyaan yang di ajukan ayahnya.

jika pada saat dulu ia harus mengalah dengan wajah yang memucat, kini ia telah tumbuh dengan pribadi yang telah mengetahui semuanya, seluk beluk tentang peraturan hidup mewahnya, maka ada alasan dalam dirinya untuk menentang jika itu tidak sesuai dengan keinginannya.

Ia sudah bisa berdiri pada kakinya sendiri, jadi mungkin ini awal yang harus di lakukannya untuk menunjukan, jika ia sudah mempunyai hak untuk dirinya sendiri.

"iya, aku mendapatkannya. Bahkan aku tak memikirkan istanah ini saat ia menyita seluruh waktuku" chanyeol menjawab tenang dengan wibawa yang juga dimilikinya, tautan keempat bola mata tajam itu tetap mengikat satu sama lain, hingga suara lembut wanita yang merasa di abaikan mengitrupsi keduanya.

"benar-benar, kalian terlihat seperti bayangan pada cermin, bersikaplah layaknya ayah dan anak, jangan memasang raut serius seperti itu, ini bukan rapat direksi perusahn kan.?" Wanita cantik yang duduk di sampan pria yang lebih tua menyela, berusaha mencairkan suasana yang justru mendapat tatapan serius dari sang ayah.

Wanita cantik dengan piyama yang terlihat pas di tubuh indahnya itu memutar bola matanya malas "araesoyo.. lagi pula aku sudah mengantuk, baiklah selamat malam sayang, mimpi yang indah ya, dan kau park youjun, jangan membuat anaku terjaga sampai larut" wanita yang di panggilnya ibu itu mendekat padanya dan memberikan kecupan pada pucuk kepala chanyeol lalu melangkah meninggalkan dua namja yang berstatus ayah dan anak itu.

"oh ya yeol, tadi hyeri datang berkunjung, tapi karena ibu masih membersihkan badan di kamar jadi dia hanya mengobrol dengan ayahmu, sayang kau tidak cepat pulang" dan selanjutnya wanita yang masih tampak mudah itu menghilang di balik pintu kamarnya di lantai dua.

Menyisakan chanyeol dan ayahnya yang masih duduk berhadapan disana, sepertinya semua pelayan yang chanyeol tidak ketahui berapa jumlahnya di rumah ini juga mengerti dengan privasi untuk tuan rumah mereka.

Jika chanyeol berada dalam suasana hati yang tenang, Ia mungkin akan tersentuh pada perlakuan ibunya yang entah kapan hal seperti tadi di lakukan oleh ibunya terakhir kali. Namun karena makna kalimat ayahnya dan juga nama hyeri yang tadi di ucapkan ole ibunya. Membuat chanyeol khawatir. ia tampak mengepalkan tangannya kuat untuk meyakinkan dirinya sendiri tentang apa yang di lakukannya ini.

"sebenarnya aku senang melihatmu menatapku seperti tadi, kau suah dewasa rupanya" yang lebih tua membuka suara setelah beberapa saat mereka terduduk dalam diam, gurat senang tampak jelas di wajah tegasnya, membuat chanyeol menukikkan alisnya bingung.

"maksud ayah.?" Suara itu terdengan bingung dan juga sedikit canggung. Kata 'ayah' seperti asing di lidahnya, ia yang memang jarang berinteraksi dengan sosok tegas yang duduk di hadapannya itu membuatnya jarang memanggil pria yang lebih tinggi dari chanyeol itu dengan sebutan yang terdengar aneh menurutnya.

Pria yang lebih tua tidak langsung menjawab, ia menautkan kesepuluh jari jemari besarnya terlihat berpikir, membuat chanyeol waspada terhadap sikap yang selalu tidak terduga dari ayahnya, ia memang pribadi yang susah di tebak, bahkan ummanya saja yang sudah hidup 20 tahun dengannya masih belum bisa mengenal dengan baik namja yang kini terihat menerawang jauh itu.

"sebenarnya saya penasaran bagaiman sosok yang di ceritakan hyeri tadi, dan setelah melihat reaksimu sepertinya ia sangat menarik, membuat pribadi yang ayah bangun dalam pribadimu terlihat tak berguna, kau memuja seperi anjing yang menemukan majikan, chanyeol. Saya terkesan pada wanita itu"

Suara mendayu dayu yang terdengar menahan amarah itu melewati gendang telinga chanyol dengan senyum iblis yang megikutinya, membuat suasana ruangan keluarga mewah yang mereka tempati terlihat mencekam dengan keheningan yang terasa aneh, apa lagi chanyeol tak mengeluarkan suaranya saat kalimat memperingati itu di lontarkan tuan park.

Chanyeol hanya memandang dalam pada sorot tegas ayahnya, berpikir tantang kata-kata yang akan keluar dari bibir tebalnya untuk mempertahankan sesuatu yang sudah di patenkan namja jangkung itu sebagai miliknya yang kini terancam pada sosok lain yang memang chanyeol telah prediksikan.

Dan dengan satu hembusan nafas singkat chanyeol mengeluarkan hal yang di pikirkannya "jadi, apa maksud dari kalimat itu tuan park.?" Pertanyaan singkat itu di jawab dengan senyum iblis yang makin mengembang pada bibir namja yang lebih tua.

"secepat ini, secepat ini kau melawanku park chanyeol.? Ayah bangga padamu" wajah puas ayahnya dengan sorot mata yang kini berkilat lain membuat chanyeol bingung tapi juga mengerti makna wajah mengerikan itu. bahwa game baru saja di mulai.

Dengan baekhyun yang harusnya tidak tahu apa-apa yang menjadi target utama mereka, ia juga tak ingin ini terjadi tapi jika chanyeol menginginkan namja mungil itu seutuhnya, maka ia harus melewati tahap ini, tahap di mana keluarganya ikut campur dalam masalah pribadinya.

Ia tahu keterlibatan ayahnya bukanlah karena namja yang penuh karisma itu peduli padanya, ia hanya ingin memastikan jika tindakan chanyeol tidak mencoreng marga terhormatnya. Chanyeol sudah paham dengan semua itu, tapi ia juga sudah berhak menentukan hal yang menurutnya benar. Maka mempertahankan baekhyun adalah pilihan terakhirnya.

tubuh tegap itu kembali bergerak melawan arah pada posisi sebelumnya, membuat tempat tidur dengan ukuran king bad yang di gunakannya bergoyang pelan seiring tubuh chanyeol memutar, dengan mata yang terus terbuka memeperhatikan semua benda bernilai tinggi yang ada dalam kamar mewahnya.

Sudah lebih dari setengah jam yang lalu ia membaringkan tubuhnya pada spring bed nyamannya namum pria dengan pembawaan dingin itu tak kunjung mengarungi alam mimpi seperti keinginannya saat ia tiba di mension ini beberapa jam yang lalu, Terlihat jelas jika namja jangkung itu tengah memikirkan sesuatu yang mengganggunya.

Chanyeol bangun dari tidurnya dan melihat jam listrik pada nakas yang teretak di samping ranjangnya, waktu telah menunjukkan angka 12.14 tetapi ia tak bisa memejamkan matanya, banyak hal yang ada di benak namja jangkung itu sekarang.

Ia melangkahkan kakinya menuju jendela kaca yang tertutup oleh tirai berwana putih pada samping kanan ruangan kamarnya, tangan berotot itu terulur mengembil sebuah remot yang tergeletak begitu saja di lantai marmer dekat jendela, lalu menekan salah saru tombol yang tertera pada benda kotak itu untuk membuka tirai dan dan menampakkan pemandangan indah dari taman di samping mension mewahnya.

Ia membuka jendela dan menyandarkan tangannya dengan foku yang di berikan pada berbagai lampu hias yang bersebaran di bawah sana, angin malam tampak menyapu wajah tampan yang terlihat sendu itu, Raut yang tak pernah terlihat pada namja yang terkenal dengan wajah datarnya kini memiliki akspresi lain.

"kau benar noona, masalah besar itu muncul. Apa yang harus aku lakukan.? Aku sangat mencintainya, aku tak ingin kehilangannya, aku akan mati jika itu terjadi" chanyeol berucap lirih mengingat hal yang di ucapkan dokter pribadi keluarganya yang sudah ia anggap sebagi kakak kandung saat merawat baekhyun tadi, Bahkan belum cukup 24 jam yoora mengingatkannya tapi hal buruk itu sudah terjadi.

'saya hanya akan memberikan dua pilihan padamu park chanyeol, bawa dia pada ayah, atau sembunyikan ia selamanya. Tapi ingat, ayah tidak menyukai barang pinggir jalan.'

'dia jauh lebih bernilai dari semua yang anda punya,tuan park.'

Namja jangkung itu menghembukan nafasnya pelan, melawan udara dingin yang menerobos masuk dan membelai wajah tampannya. Perkataan ayahnya terus menggema di kepala nya, terlebih lagi, tatapan memperingati itu terlihat jelas jika ia tidak main-main.

"jika orang-orang normal lainnya berpikir, memperjuangkan cinta itu sangatlah cheesy. sepertinya akan bermakna lain untuk kisahku" bibir tebal itu berkedut, menunjukan senyum yang terlihat samar serta sorot mara yang terlihat sungguh-sungguh sebelum ia melangkah menuju ranjangnya.

Cinta bukanlah hal biasa jika ia jatuh pada orang-orang yang memang menghargainya, bukan hal yang mudah hilang saat satu hambatan kecil menghadang, bukan hal aneh jika dua insan itu sudah mematenkannya sekalipun mereka memiliki jender yang sama.

Dan chanyeol sudah mematenkannya, baekhyun adalah sosok terakhir yang akan menemaninya mengarungi hidup.

Di sisi lain, masih di malam yang sama tampak namja mungil yang tetap terjaga walau waktu sudah menunjukkan tengah malam, mata kecilnya tampak menerawang jauh menembus dinding apartemen kumuhnya, Baekhyun menghembuskan nafasnya berat saat ia mengingat kembali semua hal yang terjadi padanya dalam satu hari ini.

Ia membalikan badannya pada dua namja yang juga bertubuh mungil sepertinya yang sedang tertidur pulas dengan wajah polos mereka, kyungsoo dan luhan memang memutuskan untuk menginap di apartemen bakhyun setelah mereka tidak menyadari waktu yang sudah menunjukkan tengah malam karena terlalu larut dalam aksi membuli luhan.

Ia mengangkat tubuh mungilnya dari kaur tipis yang menjadi alas mereka untuk tidur, mengingat ranjang kecil baekhyun tidak bisa menampung ketiga namja itu, maka mereka menyulap ruang tengah mejadi kamar mereka bertiga, kebiasaan yang selalu di lakukan jika dua namja mungil itu menginap di apartemennya.

Udara dingin yang tidak bersahabat dengannya di abaikan begitu saja saat ia membuka jendela kecil yang langsung menyugukan pemandangan jalan yang terlihat indah, lampu-lampu jalan terlihat berdiri sejajar memberi penerangan untuk mereka yang melintas di daerah itu.

"apa menjalin hubungan sesulit ini.? mungkin ini hubungan terlarang, tapi cintaku tulus padanya. Aku banar-benar mencintainnya. Umma, biarkan dia di sisiku" baekhyun berucap lirih dengan jemari yang menggenggam kalung peninggalan kedua orang tuanya yang menjuntai di leher jenjangnya.

Cukup lama ia mematung dengan pemikiran yang jauh mengembara mengenai hal yang mungkin saja terjadi besok atau setelahnya, hingga sura racauan random dari pelacur yang menghuni ruangan di samping apartemennya terdengar.

membuatnya tersadar jika waktu sudah menunjukan pukul 2 pagi, ia segera menutup jendelanya dan ikut bergabung dalam selimut yang hangat bersama kedua sahabatnnya, bibir tipi situ tampak tersenyum tipis saat melihat cara tidur luhan yang terlihat lucu, ia memeluk tubuh luhan dan memejamkan matanya perlahan.

"bertahan, aku akan bertahan. Karena aku mencintainya"

"saya menemukannya sajangnim, dia tumbuh menjadi namja yang lebih cantik" pria dengan tatto yang tergambar jelas di lengan besar itu dan telpon yang menempel pada kupingnya menyunggingkan senyum saat melihat namja dengan pandangan menerawang yang menyandarkan kepalanya pada tiang jendela apartemennya.

Membuat seseorang yang tersambung dengannya tertawa keras di sebrang sana "bawa dia padaku, aku ingin melihat malaikat mungilku"

"nde, sajangnim, dia sangat menggiurkan"

Tbc.!

Holaa *nebar kuah

Oke, author abstrud ini kembali lagi dengannew chap dari ff abstrudnya. Kkkkkk..

Ceritanya makin aneh ya, geje ya, alay ya..? maaf itu sudah kemampuan otak abal saya *nangis di pojokan

Maaf beribu maaf, karena lagi saya harus update telat. Maklum orang sibuk *lempar di laut

Semoga masih ada yang nungguin ni ff abal ane, dan thanks bangat buat yang udah repiu, tanpa repiu kalian saya yakin tidak akan melanjutkan cerita hancur ini. haha… dan lagi author P to the A, PA ini punya ff baru yang judulnya ERASER, itu ff dengan genre fantasi aku yang pertama, mohon dukungannya ya. *kuis kale kalau penasaran silahkn cek di page sebelah dan repiu, walaupun itu baru prolog tapi rencananya chap 1 bakal aku upload sebentar lagi.

Jika teman-teman readersnim setuju kalau cerita ini menarik *ngarep, bisalah di saranin ama teman-teman yang lain untuk berkunjung *jiwa menjualnya keluar.

oke, maapin jika masih ada tipo atau kata-kata bahasa koreanya salah maklum authornya manusia biasa *ngeles.

Haha…. see you next chap

Oh iya, jika ada yang rasa aneh dengan gaya penulisan aku atau ada yang mau di sarankan tentang hubungan chanbaek, silahkan reppiiiuuuu..

BYE… ^_^