Nyata jika mata telanjang merekamnya, bernilai jika pundi-pundi dolar dapat menghitungnya, dan cinta tak termasuk dari kedua hal itu, senyawa bodoh bagi orang-orang yang tak mempercayainya hanyalah ilusi sementara, walau ilusi itu kadang membuat mereka ketakutan, karena mereka tahu jika seseorang telah jatuh pada orang lain maka seseorang akan memuja dengan teramat.
Rasa baekhyun mungkin tidak sebesar itu, entahlah, ia juga tak tahu pasti namun saat kata cinta di sebut-sebut maka namja jangkung dengan wajah datarnyalah yang ada di pikirannya, muncul dengan tiba-tiba seolah menegaskan akulah defenisi cinta itu untukmu.
Dan baekhyun sangat menyukainya, saat-saat ia menggantungkan lengannya pada leher jenjang yang membuat sang empuhnya meringis namun juga tersenyum atau saat-saat ia tertawa dengan sikap dingin kekasih giannya namun harus terlihat konyol karena sikapnya.
Ia menamai semua itu dengan sisi buta tuhan untuk kembali menggelapkan hidupnya, maka tak heran jika suatu saat tuhan akan kembali menunjukan kutukannya yang entah apa salah namja mungil itu hingga harus menanggungnya.
Mungkin presepsinya bisa saja salah seperti apa yang di tanamkannya dulu, namun untuk kali ini ia percaya itu akan benar dengan kemunginan yang akan menyakitinya sampai dasar, hanya menunggu hari dan semuanya akan jelas.
Far Away
By : balbaekyeolfan
Main Cast : byun baekhyun / park chanyeol
Pairing : chanbaek / baekyeol dan other
Genre : drama, school life, au, romance, hurt/cumfort (banyak amat ya -_-)
Warning : typos,cerita kaga nyambung dan absturd (maklumin ajeh ya *wink)
Note : no bash, no re-upload, no sider
…
…
…
…
Happy reading and enjoy it….
Lantunan nada merdu dari burung gereja yang menyambut pagi terdengar nyaring dari balik jendela apartemen namja yang kini terlihat mulai menggerakan tubuh mungilnya, tidur setelah jarum jam menunjukan pukul 2 pagi cukup membuatnya masih merasakan kantuk untuk menyambut hari. Terlebih lagi ini hari yang mungkin akan berakhir buruk untuknya.
Namja dengan kaki mungil itu mulai melangkah turun dari ranjang single badnya dan mematikan alarm yang sengaja ia pasang untuk membangunkannya namun suara kicauan burung tampak sudah menggantikan fungsi alarm pagi yang terdengar lebih tidak bersahabat saat membangunkan orang-orang.
Setelah 20 menit ia berkutat dengan semua perlengkapan sekolahnya, baekhyun kembali berdiri di depan cermin besar yang terletak di sudut kamarnya, ia menghembuskan napas pelan dan menatap wajah manisnya disana, "apa aku sanggup.?"
Jika pada hari biasanya ia hanya akan berjalan tenang melewati setiap gedung menjulang menuju kelasnya mungkin hari ini akan berebeda, bukan tanpa alasan ia berpikir pesimis seperti itu. hari ini adalah hari senin dan merupakan hari pertamanya ia akan menginjakan kaki di halaman sekolah dengan status sebagai kekasih pemilik sekolah yang telah di ketahui oleh semua murid bahkan mungkin para seongsangnimnya juga. Huh.. semoga ia pulang dengan tubuh yang masih utuh.
Melihat dari semua kejadian yang sering di alami oleh mereka yang dekat dengan chanyeol sebelumya, membuat nyalinya sedikit ciut. Apa lagi latar belakang keluarganya tidak mampu menyelamatkannya, ya..setidaknya marganya bisa menjadi dasar yang membantunya untuk mampu mengangkat wajah jika di hujati kata-kata kasar nanti. Tapi apa mau di kata, marga byun tak ada dalam buku rekor atau majalah bisnis dan lebel beasiswa bahkan membuat semuanya menjadi runyam.
Suara paruh burung gerja yang tak sengaja menabrak jendela kaca apartemen sederhananya menyadarkan lamunan dengan segala presepsi negative namja yang kini sudah lengkap dengan seragam sekolah SOENGGUK itu.
Ia menarik afas berat dan kembali menatap pantulan gambarnya "fighting baekhyun, abaikan sajah mereka" dan satu tarikan nafas panjang ia melangkah meninggalkan ruang apartemennya.
…
Seperti biasa, sepasang onyx kembar yang selalu menyorot tajam, wajah datar dengan kedua tangan besar yang di masukkan kedalam kantung celana seragam serta langkah ringan namun terlihat berwibawa selalu bisa menjadi magnet untuk orang-orang di sekitarnya.
Seperti madu yang menarik perhatian lebah, mungkin Ini bukan pemandangan yang janggal lagi, park chanyeol yang menyusuri koridor sekolah di pagi hari seperti ini adalah pemandangan yang tak ingin di lewatkan oleh sisiwi-siswi soengguk high school bahkan para sanbe noona yang berada satu tingkat di atasnya pun tak melewatkan sosok tampan itu.
Dan untuk chanyeol, jangan berpikir dia senang dengan berbagai pasang mata yang selalu menelanjanginya, sejujurnya ia mengutuk mereka dalam hati. heol, siapa yang tak merasa risih jika berbagi pasang mata selalu memperhatikanmu saat kau melangkah, dengan wajah yang bersemu mereka yang terlihat mengerikan menurut chanyeol.
Namun berbeda dari biasanya, para siswi yang memperhatikannya tampak berbisik satu sama lain, dan jika pada biasanya mereka berbisik dengan senyum centil atau malu, kali ini tampak berbeda, tapi chanyeol malas untuk meladenya toh ia dapat menebak apa yang mereka gosipkan, perempuan memang memuakan.
Ia tahu betul apa yang orang-orang itu bicarakan, tidak akan meleset dari hubungannya dan baekhyun, ah, mengenai baekhyun, apa ia akan mengunjungi namja mungilnya itu sebelum menuju ruangan kelas dan memulai pelajaran yang membosankan seperti biasa.?
Saat langkah kaki jenjangnya melangkah menuju koridor kelas baekhyun, ia melihat namja dengan mata rusa yang ia ketahui sebagai salah satu sahabat baekhyun tengah di tarik paksa oleh sehoon membuat yang lebih mungil meronta dan berusaha melepaskan genggaman namja yang masih kukuh meyeretnya.
Chanyeol menukikkan alisnya bingung meihat adegan antara dua orang yang berbeda karakter itu, hingga mereka berhenti tepat di hadapannya. "bagus, sekarang kita bertemu dengan orang yang lebih tepat" sehoon mengangkat suaranya dan melepaskan genggaman tangannya pada lengan luhan.
"apa maksudmu oh sehoon.?" luhan bertanya dengan wajah yang tidak bersahabat, jika biasanya ia akan menunjukan wajah tergila-gilanya pada namja albino itu, kali ini ia tampak kesal padanya.
"kalian bisa menjelakan apa yang terjadi.?" Chanyeol mengintrupsi keempat bola mata yang terlihat mengikat itu, luhan dengan tatapan tajamnya dan sehoon dengan tatapan datarnya. "astaga baekhyun, aku harus menyelamatkannya" luhan seperti tersadar saat mendengar kalimat chanyeol.
Namun baru saja ia akan memutar tubuhnya untuk kembali pada arah saat sehoon menyeretnya, tangan besar milik sehoon lagi-lagi menghalanginya. "kau tak bisa berbuat apa-apa pada mereka luhan, kau mau beasiswa mu di cabut karena terlibat perkelahian.?" Luhan mematung mendengar teguran telak sehoon.
"apa yang terjadi dengan baekhyun?" suara yang bertanya bingung tadi berubah menjadi dingin, chanyeol merasa bosan dengan pertengkaran aneh dua makhluk dengan tinggi yang kontras di hadapannnya ini, jika bukan karena mereka membawa-bawa nama baekhyun ia pasti sudah meninggalkan mereka.
"baekhyun di bully di toilet namja lantai tiga, dan aku rasa kau lebih berhak dan memiliki tangung jawab untuk melindunginya" sehoon berucap hati-hati apa lagi melihat perubahan pada raut wajah namja yang lebih tinggi darinya itu. ia mengerti dengan wajah khawatir itu, Karena ia juga sering mengalaminya hanya saja, Ia tak pernah menunjukan pada orangnya secara langsung. mungkin chanyeol lebih beruntung darinya.
Chanyeol membulatkan matanya dan berlari menuju toilet dengan perasaan yang tidak menentu, 'kubunuh kalian jika terjadi apa-apa padanya' hanya kalimat itu yang ada dalam pikirannya seiring dengan langkah kakinya yang terus berpacu cepat.
Luhan menatap datar punggung chanyeol, melihat wajah khawatir namja gian itu membuatnya merasa legah , karena sahabatnya jatuh pada orang yang tepat, setidaknya masih ada yang lebih bisa di andalkan jika terjadi sesuatu pada baekhyun.
Mata rusanya bergulir pada tangan kokoh yang masih menggenggam lengannya membuat sehoon tersadar dari apa yang telah di lakukannya dan reflex melepaskan genggamannya.
"kau benar, kami hanya murid yang bisa menginjak marmer elit ini karena beasiswa, tapi percayalah oh sehoon, sahabatku lebih berharga dari itu. terimakasih kau sudah menegaskan identitasku tapi lain kali urusi saja yang menjadi masalahmu" luhan berucap datar lalu meningglakan sehoon yang mematung memandangnya dengan pandangan yang menyesal.
'apa yang telah kulakukan.? Aish.. mulut sialan. Bagus oh sehoon sekarang semakin sulit untuk mendekatinya'
…
Chanyeol menendang kasar pintu toilet membuat beberapa pasang mata dalam toilet pria itu menatapnya kaget dan juga waspada, nafasnya terengah-engah karena ia harus berlari menuju tempat terkutuk ini, namun pemandangan di depannya membuat ia mengabaikan rasa lelah itu, tangannya terkepal kuat saat onyx kembarnya menangkap sosok mungil yang terhimpit pada dinding toilet dengan namja yang tak ia kenal mencengram kerah seragam baekhyun.
Dan amarahnya memuncak saat mata sayu baekhyun memandangnya dengan darah pada sudut bibirnya, chanyeol melangkah panjang untuk menggapai baekhyun, namun dua namja lain yang sepertinya teman namja yang masih menghimpit baekhyun itu tak memberikan ia jalan.
Chanyeol menatap mereka dengan sorot membunuhnya dan jangan lupakan gigi yang terkatup rapat itu. "apa yang kalian lakukan.? tinggalkan dia" chanyeol berdesis tajam memberi peringatan, namun hanya di balas dengan senyum mengejek dari dua namja yang memiliki tinggi yang sama dengannya yang tengah menghadangnya, maka tanpa banyak basa basi lagi chanyeol mengangkat kakinya dan menendang mundur dua namja itu sekaligus.
Chanyeol tahu betul jika seragam ketiga namja yang mengganggu baekhyun adalah seragam siswa tingkat akhir, tapi persetan dengan itu, ia lebih memikirkan menyelamatkan baekhyunnya dari pada harus membungkuk hormat pada sanbe sialan seperti mereka.
Melihat dua temannya yang tergeletak kesakitan dan memegang dada mereka masing-masing namja yang sepertinya menjadi ketua di antara ketiganya itu melepaskan baekhyun dan memasang kuda-kudanya untuk melawan chanyeol, namun namja itu terlihat panic dan gemetar seiring chanyeol melangkah mendekat.
Dan sedetik berikutnya ia langsung bersimpuh di lantai dengan wajah memohon, "ma..maafkan aku chanyeol-shi, aku hanya di suruh oleh kris. Dia mengancam akan mempermalukanku di hadapan semua siswa jika aku tak melaksanakan apa yang ia inginkan, kumohon maafkan aku chanyeol-shi" namja itu masih bersimpu dengan tangan yang mengatup meminta maaf.
Kris-wu, ah. Chanyeol melewatkan nama itu rupanya. Pewaris tunggal wu corp yang menjadi rival utama perusahaan milik ayahnya. Jika perusahaan mereka harus bertarung dengan jumlah modal dan memperebutkan tender yang bernilai tinggi, maka kedua pewarisnya bertarung akan wibawa mereka, walau sebenarnya chanyeol tak pernah menginginkan persaingan itu.
Mereka bahkan hanya bertemu satu kali, namun di hari itu juga kris menunjukan ketidak sukaannya padanya. Jika saat sebelumnya ia hanya mengabaikan kris, tapi kali ini namja blasteran china-kanada itu sudah keterlaluan.
"Cha..chanyeol " chanyeol tersadar dari lamunannya saat ia mendengar suara lemah baekhyun yang di ikuti tubuh mungi itu yang ambruk, namun sebelum tubuhnya menghantam lantai toilet yang dingin, chanyeol terlebih dahulu menangkapnya.
"baek..baekhyun-ah" ia menepuk pelan pipi tembam baekhyun yang dingin, sepetinya ia sempat di siram dengan air tadi, raut wajah namja gian itu terlihat sangat khawatir, ia segera mengangkat baekhyun ke dalam pelukannya dan berjalan cepat menuju ruangan kesehatan, mengabaikan tiga namja yang masih berada dalam toilet dengan ketakutan mereka masing-masing.
…
Chanyeol melangkah pasti di lorong koridor yang sepi, mengingat pelajaran pertama mereka sudah di mulai 15 menit lalu maka tak heran jika hanya ia yang melewati koridor ini, ketimbang memasuki kelasnya namja tampan itu mempunyai masalah yang lebih penting yang harus segera di selesaikan.
Koridor ini tampak asing baginya, bahkan ia tak pernah menginjakan kakinya pada gedung yang berada pada sisi timur bangunan sekolah mereka ini, bangunan yang menjadi kelas untuk siswa tingkat akhir. Dan jangan tanyakan apa yang menjadi alasan chanyeol membolos dan lebih memilih berkeliaran pada gedung asing yang mungkin akan sering di datanginya setelah ini.
Mata tajamnya sesekali melirik tanda pengenal kelas pada ujung pintu atas setiap kelas, 12-C, berarti ia hanya tinggal melewati satu kelas lagi dan akan segera bertemu dengan namja china sialan itu, setiap langkah yang di ambilnya selau di iringi oleh pertanyaan yang membuatnya bingung.
Apa masalah kris pada baekhyun sebenarnya, ia tahu betul bagaimana kris bersikap pada lawan mainnya, cara elit selalu menjadi pilihan mereka dalam menyelesaikan masalah, ketimbang meyuruh orang lain untuk membully baekhyun, bukankah itu cara seoraang pengecut.?
Dan mengenai baekhyun, chanyeol sudah menitipkannya pada luhan dan kyungsoo untuk menjaganya di ruang kesehatan.
Mengingat kondisi baekhyun membuat namja jangkung itu kembali geram dan pada puncak kemarahannya ia tepat berdiri di depan kelas yang menjadi tujuannya menginjakan kaki pada gedung anak tingkat akhir ini.
Ia menarik nafas sejenak, berusaha menahan amarahnya. Walau ayahnya donatur terbesar di sekolah ini, ia juga harus tetap menghormati para seonsaeng yang mengajar. Maka setelah ia merasa tenang, tangan besarnya terulur dan mengetuk pelan pintu kayu itu lalu menggesernya tenang.
Ia membungkuk singkat pada seonsaeng yang memperhatikannya dengan wajah bingung "aku ada perlu dengan kris wu, bisa kah kami bicara secara pribadi.?" Chanyeol berucap dingin dengan sorot mata yang mengunci pada satu titik, mengabaikan puluhan wajah bingung siswa lainnya.
tidak susah mencari namja menjulang yang bahkan lebih tinggi darinya di antara deretan tempat duduk siswa. Rambutnya yang memang senganja di cat putih cukup mencolok, membuat siapapun yang masuk keruangan ini pasti akan memperhatikannya.
Kris-wu, postur tubuh tegap dengan tinggi 188 cm, alis tebal serta rahang yang tergambar jelas memahat wajah tampannya, rambut dengan warna putih mencolok serta dua bola bening yang tajam memalingkan wajahnya pada arah suara yang menyuarakan namanya.
Mungkin orang-orang akan berpikir aneh pada kasus dua namja menjulang ini, saat mereka semua tahu bahwa kris adalah rival utama chanyeol tapi memilih bersekolah dimana ayah chanyeol merupakan donator terbesar sekolah atau mungkin pemegang saham terbesr di sana. Bukankah itu terdengar aneh?
Entah lah tak ada yang mengetahui alasan pasti kenapa kris memilih bersekolah di Soengguk SHS ketimbang sekolah lain yang lebih berkelas, mengingat keluarganya merupakan pemilik perusahan dengan induk raksasa di negri tirai bambu, apa yang tidak mungkin untuk di milikinya.
Keempat bola mata dengan ketegasan itu saling bertautan, mengabaikan ekspresi kebingungan semua murid juga sonsaengnim yang tengah mengajar di ruangan yang bertuliskan 12-E pada pintu masuknya itu, namun selang beberapa detik. Pria tengah baya yang berdiri di depan kelas mengiayakan keinginan chanyeol.
Ia tak ingin mengambil masalah karena melawan keinginan murid 'istimewa' sekolah ini, dan ini juga baru pertama kalinya chanyeol mengganggu proses belajar yang sedang berlangsung, jadi mungkin namja tegap itu memang memiiki keperluan penting dengan salah satu siswanya, begitulah pikiran seonsaengnim.
Chanyeol memutuskan kontak mata mereka saat mendengar persetujuan sonsaeng dan melangkah keluar ruangan, meskipun ia tidak berbalik untuk memastikan kris megikutinya atau tidak, suara decitan sepatu sport pada lantai koridor sudah memberitahukannya.
Selama perjalanan mereka menuju atap sekolah gedung siswa tingkat akhir ini, keduanya hanya diam hingga saat mereka berada pada atap gedung, dua namja dengan tinggi yang boros itu masih tetap terihat tenang, memandang pemandangan taman kecil di belakang gedung.
"sejujurnya aku ingin menghajarmu dan membalas apa yang kau lakukan padanya, setidaknya membuat mulutmu memuntahkan cairan bisa membuatku tenang, tapi mengingat dengan siapa aku berbicara. cara bar-bar seperti itu sepertinya tidak pantas kulakukan" chanyeol memulai dengan dingin, walau focus yang masih di jajalkan pada deretan bunga berwarna yang ada di bawah sana.
"aku terkesan padamu park, kau mendatangiku bahkan belum genap 20 menit ke tiga pecundang itu datang mememberitahukanku tentang keperkasaanmu menyelamatkan namja mungilmu, aku terkejut, ku pikir kau tidak akan peduli padanya" kris mengambil jeda dan menghadap pada chanyeol yang berdiri tak jauh di sampingnya.
"bahkan setelah kau mengetahui aku meniduri hyeri kau tak peduli sama sekali" kris menambahkan dengan senyum sinis di ujung kalimatnya membuat chanyeol menukikkan alisnya bingung.
"aku tahu kita tipe orang yang hampir sama, tidak suka basa basi maka langsung saja pada intinya, jadi. Apa maslahmu dengan baekhyun, baekhyunku.?"
Kris tertawa hambar "kau menyebutnya milikmu.? Itu terdengar janggal untuk anak yang di didik dalam keluarga park. Tapi kau tanang saja, aku tak punya masalah dengan nya aku hanya ingin melihat seberapa besar kau melindunginya" ia kembali mengedarkan pandangannya pada area taman yang sepi.
"dan setelah melihat kesungguhanmu, kurasa aku akan sedikit bermain-main dengannya" kris berucap jenaka dengan senyum mengejek pada bibir tebalnya yang membuat chanyeol menatapnya tajam.
"aku tak tahu apa masalahmu dengan ku, sejak awal kita bertemu seolah kau sudah menyimpan dendam padaku tapi ku peringatkan padamu Wu, jika kau menyentuhnya sekali lagi, ku patahkan tanganmu" chanyeol berdesis tajam memberi peringatan.
Sejujurnya ia tak mengerti jalan pikiran namja dengan paras ke barat-baratan di hadapannya ini, ia tak pernah menganggap kris adalah rivalnya dan ia tak pernah menganggap ia bersaing dengan namja itu sebelumnya, hanya orang-orang yang selalu melebih-lebihkan tentang persaingan mereka.
Salah satu nya masalah hyeri, mungkin itu yang menjadi dasar orang-orang berpikir bahwa mereka memperebutkan gadis itu, tapi heol, chanyeol bahkan tak pernah menganggapnya, jadi ia tak tertarik sama sekali saat mengetahui kris meniduri 'pacarnya' pada saat itu. ia hanya diam tak banyak ambil pusing dengan masalah yang toh memang ia tak mengerti, tapi jika ini menyangkut baekhyun, maka ia tak punya pilihan lain selain meladeninya.
"berpikirlah lebih jernih lagi park, apa yang menjadi dasar kebencianku padamu, jika kau jeli mungkin kau akan mengetahuinya" kris memberikan kalimat ambigu yang makin membuatnya bingung, namun melihat sorot kris yang menajam dengan tangan yang terkepal kuat sepertinya namja itu tidak main-main.
Cukup lama mereka saling menatap dengan sorot tajam masing-masing, dengan pikiran yang mengembara pada dua sudut hal yang berbeda, menimbang dan meemberikan gambaran tentang akibat, hal dan kejadian yang mungkin saja akan mewarnai kisah remaja mereka.
Chanyeol tahu tatapan itu, tanda dimana hal baru akan kembali dimulai, sesungguhnya ia tak ingin membuat masalah lagi dengan orang lain, cukup ayahnya saja yang menjadi masalah serius yang harus di hadapinya dimana baekhyun juga ikut terseret di dalamnya atau lebih tepatnya baekhyun yang menjadi permaslahan utamanya.
"bukan kah akan sangat menarik, jika aku berperan sebagai tokoh antagonis di antara hubungan romantis kalian.?" Kris memecahkan lamunan chanyeol.
"kau tak perlu ikut andil dalam maslah ini kris, peran itu sudah di tempati dengan tokoh yang lebih berhak dan terlihat cocok" chanyeol mengecilkan suaranya saat memikirkan kata-kata ayahnya yang selalu di ingatnya.
"kau memelas padaku sekarang.? Wow. Itu lucu park chanyeol" kris memandang wajah datar chanyeol dengan mendramatisir seolah mengejeknya.
"tidak, aku hanya memperingatkanmu. Untuk tidak menganggu baekhyun, entah apa itu alasanmu membenciku tapi dia tak tahu sama sekali mengenai masalamu padaku, dan jangan berpikir ini hanya sekedar ancaman kris. Aku tak pernah menyukai seseorang sebesar ini, jadi jangan salahkan sisi lain dari diriku muncul jika kau menyentuh yang menjadi milikku"
Dan dengan satu tatapan memperingati sekali lagi chanyeol meninggalkan kris yang masih berdiri pada jaring-jaring pembatas atap gedung sekolah itu, membiarkan angin membelai wajahnya dan memaksa kedua bolah bening kembarnya tertutup. Mencoba merasakan angin yang muali dingin, mengingat sebentar lagi musim dingin akan datang.
…
Baekhyun mengerjap menyesuaikan cahaya yang menerpa indra pengihatannya, membuat dua namja yang duduk disampingnya merasakan pergerakan kecil namja mungil itu, mereka, luhan dan kyungsoo segera membantu baekhyun bersandar pada kepala katil yang menjadi tempatnya beristrahat.
Mata sabitnya beredar mencari keberadaan seseorang yang membawanya keruangan ini, "dia tak ada di sini baek, chanyeol menitipkan kami padamu karena ada hal yang harus di selesikannya" melihat wajah kebingungan baekhyun, kyungsoo sudah dapat menebak apa yang tengah di cari anak itu. dan di balas dengan anggukan kepala tanda ia mengerti.
"lagi..? demi tuhan baek, kau tak bosan masuk kerungan terkutuk ini.?" luhan bertanya dengan nada yang sedikit meninggi membuat kyungoo menendang tulang keringnya reflex. "diam luhan, bekhyun masih belum stabil. Jangan berteriak seperti itu kau hanya akan membuat kesehatannya bertambah parah"
"sudahlah, kalian jangan bertengkar, jam berapa sekarang..? aish aku terlambat mengikuti pelajaran pertama lagi." Baekhyun mengeluh setelah melihat jam pada pergelangan tangan kanan luhan. Dan setelahnya suasana menjadi hening, membuat baekhyun menukikkan alisnya bingung dengan situasi di antara mereka.
"kalian kenapa memasang wajah menyedihkan seperti itu.? kalian seperti korban kelaparan" di tatap aneh oleh baekhyun membuat luhan dan kyungsoo membungkuk, mereka tak mampu memandang wajah dengan warna biru samar pada sudut bibir nya. Terlihat menahan perih walau mereka tahu itu pasti sakit.
"maaf baek, tadi aku tak bisa menolongmu dari namja-namja sialan itu" luhan mengangkat wajahnya dengan pandangan menyesal, ini juga bisa di bilang salahnya, jika ia langsung menolong baekhyun begitu namja mungil itu di seret oleh tiga siswa dengan tubuh besar mereka, mungkin semua takkan berakhir seperti ini.
"aku juga minta maaf baek, baru kemarin aku berjanji untuk selalu berada di sisimu, tapi karena supir baru appaku yang bodoh itu, aku harus datang terlambat hari ini dan tak bisa menolong mu" kyungsoo juga memasang wajah menyesalnya.
"sudahlah, aku sudah menduga hal ini, padahal aku sudah mempersiapkan mental untuk di ganggu oleh hyeri, tapi malah anak tingkat akhir yang menghadangku. Entah apa salahku pada mereka." Baekyun berucap pelan karena masih merasakan nyeri pada sudut bibirnya akibat salah satu pukulan keras yang mengenainya, membuat luhan dan kyungsoo kembali merasa bersalah padanya.
Walaupun ia bisa melakukan hapkido, tapi tetap saja jika di keroyok oleh tiga namja sekaligus dengan tubuh besar mereka, tentu baekhyun kewalahan dan tak banyak melawan.
"lalu kenapa kaian berdua masih di sini.? Sebaiknya kalian masuk kelas sekarang, kurasa lee seonsaeng akan memberikan toleransi jika kalian menjelaskan alasan kalian kenapa terlambat masuk"
"aku malas baek, aku ingin menemanimu di sini, takut-takut tiga namja gila itu datang dan mengganggumu lagi" luhan membertulkan duduknya di samping baekhyun, kyungsoo juga menyetujui luhan, mengingat waktu yang sudah menunjukan bahwa pelajaran pertama akan berakhir sebentar lagi membuat luhan dan kyungsoo melanjutkan bolos saja.
mereka kembali terdiam dengan pikiran masing-masing, dan dari ketiganya baekhyunlah yang paling keras mensingkronkan otaknya dengan apa yang baru saja di alaminya, terlebih lagi tak ada chanyeol di sini.
Jujur saja, baekhyun merindukan chanyeol, ia ingin bertemu namja jangkung itu, bukan untuk mengaduh tapi setidaknya untuk memastikan keadaan chanyeol baik-baik saja, bahwa ia tidak melakukan hal yang tidak seharusnya di lakukkan.
Ia tak tahu kenapa harus berpikir seperti itu, seolah chanyeol hanya akan menyibukkan dirinya dengan mengkhawatirkan baekhyun dan menghajar siapapun yang mengganggunya, tapi jika ia di suruh memilih, lebih baik chanyeol tak ikut terlibat di dalam masalaha ini.
baekhyun takut, mungkin saja imaje chanyeol akan buruk di mata orang lain hanya karena melindunginya, ini resiko yang memang harus di ambilnya jika ia mencintai namja jangkung itu, maka biarkan apa yang menjadi resikonya di tanggungnya saja sendiri. Toh tak mungkin selamanya ia akan mengaduh atau bersembunyi di belakang chanyeol.
…
Awan gelap bergerumul menghalangi sinar orange matahari senja, membuat sore yang harusnya indah menjadi gelap tak bernilai pemandangan lagi, dan rintik hujan sepertinya akan mengguyur bumi sebentar lagi, tapi kedua kaki mungil baekhyun tetap mengayun pelan melewati jalanan kota seoul.
Terlihat dari jalannya yang ogah-ogahan sepertinya namja itu dalam mood yang tidak baik, mulai dari bibirnya yang masih berdenyut sakit juga tubuhnya yang lelah karena menjalani aktifitas sekolah yang padat dan jangan lupakan demam yang masih betah bertahan dalam tubuh mungilnya. Membuat moodya hancur.
Namun dari semua itu, hal yang menjadi alasnnya lebih memilih berjalan kaki dari pada harus naik bus atau lebih baik bermalas-malasan dengan menyusuri jalanan kota ketimbang berlari kencang menuju tempat kerja paru waktunya adalah Hal yang terjadi di sekolahnya sepanjang hari ini.
Mulai dari di hajar oleh tiga namja asing dari kelas 12 dalam toilet siswa, hyeri dengn kata-kata kasarnya yang mempermalukannya di kantin walau kata-kata itu tak lebih dari sepuluh kalimat karena luhan lebih dulu membungkam mulut hyeri dengan menyiramkan jus alpukat kyungsoo yang masih tertinggal setengah pada wajahnya yang di sambut teriakan histeris hyeri.
Hingga chanyeol yang menghilang entah kemana dalam satu hari penuh ini, jika baekhyun mempunyai ponsel pasti sudah dari tadi ia menanyakan keberadaan namja gian itu, setelah mengantarnya kerungan kesehatan sekolah chanyeol seolah menghilang di telan bumi.
Walau baekhyun tak mencari keberadannya, tapi biasanya dalam satu hari, pasti namja jangkung itu mencarinya dan akan selalu menemuinya, entah itu di perpustakaan, atap sekolah atau di ruangan music. Namun hari ini sepertinya chanyeol melupakan rutinitasnya.
Jujur saja baekhyun menghawatirkan namja itu, tidak biasanya chanyeol melakukan hal ini, menghilang tanpa sebab dan bahkan tak mengabari baekhyun sama sekali.
Lamunan panjang baekhyun harus terputus karena suara berat dari beberapa namja yang menghalangi jalannya "hai, baekgu. Apa yang kau lakukan di sini sendirian eoh..?" dan membuat kedua kelopak sabit baekhyun membulat lebar.
Baekhyun POV
'park dobi sialan, telinga lebar mata besar, argh… aku akan membuat kedua telinga itu bertambah lebar jika berhasil menemukannya' aku merutuk dalam hati sambil sesekali menendang kerikil yang tak bersalah yang tak sengaja aku jumpai.
Jangan Tanya aku sendang kenapa, tentu saja sedang kesal, sedang sangat kesal. Namja sialan yang sok keren dan sok bisu yang berstatus kekasihku itu menjadi alasan utama kenapa mood ku benar-benar buruk hari ini.
Ia seolah menghilang dan membiarkanku menunggunya di perpustakaan seorang diri hingga di usir miss gray karena beberapa kali menjatuhkan buku yang tak sengaja ku sentuh saat melampiaskan kekesalanku pada namja jangkung itu.
Dan sepanjang hari ini juga aku harus menerima berbagai hal buruk yang bahkan lebih buruk dari pada yang ku pikirkan, aku memang telah menebak hari ini akan menjadi hari yang buruk, tapi ini terlalu buruk.
Mulai dari di tarik paksa oleh tiga namja tingkat akhir yang entah apa masalahnya dengan ku, lalu di hujati kata-kata kasar dari mulut pedas hyeri, heol.. apa keluarganya memberinya home schooling bagaimana cara menghina orang lain? Dia sangat berbakat untuk membunuh orang dengan mulutnya itu.
Ya.. walaupun aku sedikit beruntung karena luhan –seperti yang aku duga- pasti akan meledak dengan semua hinaan hyeri dan berakhir dengan jus kyungsoo yang tak salah apa-apa berbaris rapi menyelimuti wahah dan rambut cantik hyeri.
Dan yang kubingungkan adalah reaksi hyeri setelahnya, kupikir setelah itu akan terjadi pertengkaran atau adegan jambak-jambakan dan tentu saja aku akan berada di kubuh luhan, tapi ternyata dugaanku salah.
Hyeri hanya melengking dengan wajah yang memerah padam lalu berjalan menjauh setelah menatap kami bertiga sinis, dan tentu saja apa yang terjadi di kantin tadi menjadi bahan tontonan semua murid bahkan anak tingkat akhir juga.
Aku memang bersukur dengan adanya luhan yang lebih mudah bereaksi saat kata-kata hinaan itu di lontarkan ketimbang aku dan kyungsoo yang hanya sanggup mematung tak tahu apa yang harus di lakukan karena memang apa yang di katakan hyeri adalah kebenaran, tapi tetap saja aku sedikit khawatir dengan luhan.
Status 'mulianya' yang sama denganku yaitu sebagai penerima beasiswa tentu saja bisa terancam jika hyeri tidak terima dengan apa yang di lakukannya dan melaporkan kejadian tadi pada pihak sekolah dan berakhir dengan pencabutan biasiswa itu pada luhan, aku tak bisa membayangkan jika itu terjadi, tapi semoga apa yang ku takutkan tak akan pernah terjadi.
Dan yang terakhir, park chanyeol sialan itu tak terlihat sama sekali hari ini, entah apa yang terjadi dengannya. Aku ingin memastikannya tapi mana mungkin aku berani menginjakan kaki terkutukku pada kelasnya yang jelas-jelas hyeri juga berada di kelas yang sama dengannya. Mungkin aku takkan pulang dengan selamat hari ini.
Mengenai pulan g sekolah yang biasanya kulakukan dengan tergesah-gesah berlomba dengan angin untuk menuju tempat kerja paruh waktuku, hari ini sedikit berbeda.
Entahlah, aku hanya merasa malas untuk bekerja karena percuma saja jika konsentrasiku berlayar ketempat lain, lagi pula tubuhku masih merasakan demam yang pastinya akan mengganggu proses kerjaku nanti.
Aku masih terus berjalan dengan lesuh hingga suara berat yang sepertinya datang dari arah depanku membuat kepalaku yang tadinya menunduk terangkat untuk melihat sumber suara berat itu berasal.
"baekgu, apa yang kau lakukan disini sendirian eoh.?" Seorang namja yang masih terlihat mudah dengan ototnya yang terlihat jelas serta ukiran tato yang terlukis apit hampir menutupi warna kulit lengannya berdiri tegap dengan tiga namja yang berpenampilan hampir sama dengannya.
Aku menukikkan alisku bingung, apa dia memanggilku.? Aku sedikit mengedarkan pandanganku di sekitar berusaha mencari orang lain yang mungkin menjadi nama yang pria aneh ini sebutkan, namun tak ada satupun orang di sekitar sini.
Agh.. sepertinya aku sudah berada di dekat apartemenku, dan jalanan nya memang sedikit sepi di tambah lagi cuaca yang tidak mendukung seperti ini mebuat orang-orang tentu saja lebih memilih berbaring nyaman dalam selimut hangat mereka.
Tak ada rasa takut dalam diriku melihat empat pria yang memiliki ukuran tubuh dua kali lipat dari tubuhku ini, toh jika pun mereka merampokku apa yang bisa mereka dapatkan dari orang miskin yatim piatu sepertiku, huh.. sungguh kasihan nasibku, bahkan di rampokpun aku tak layak.
"sepertinya kau bingung baekgu, ya.. aku tak terlalu heran kau tak mengenaliku lagi, sudah hampir tiga tahun kau tinggal di kota yang mengkilap dengan lampu yang indah ini jadi tak salah jika kau lupa panggilan masa kecilmu itu"
Dan kata itu lah menjadi dasarku membulatkan mata dengan bibir yang bergetar takut serta persendian lututku yang lemas, aku ingat sekarang. Baekgu, nama masa kecilku di busan dulu, tapi siapa mereka..? kenapa namja-namja ini mengetahui nama itu.?
" kalian.?" Aku bertanya dengan suara yang bergetar, aku sangat takut sekarang. Semua yang berasal dari masa laluku adalah keburukan, semuanya. Dan aku tak ingin mengingat atau apapun itu namanya. Nama itu telah ku kubur dalam-dalam bersama jasad kedua orang tuaku.
Namja yang manja dari nama itu adalah namja yang menyebabkan kedua orang tua yang membesarkannya harus mengakhiri hidup dengan tragis, namja yang hanya mampu merepotkan mereka, hingga membuat keduanya tak sanggup lagi menghadapi dunia dengan tuntutan ekonomi yang mencekat.
"sajangnim merindukanmu, dan seperti perjanjian kalian, jika kau terlambat atau tidak mebayar tagihan hutang itu bahkan dalam satu kali, maka kau harus menyerahkan hidupmu padanya dan ini sudah kedua kalianya kau tak membayar hutangmu baekhyun" dan sekarang aku tahu apa alasan mereka menghadangku sekarang.
Sial sekali nasibku, aku tak mengingat si tua Bangka itu dan perjanjiannya, aish.. chanyeol dan segala pesonanya sudah banyak menarik perhatian ku akhir-akhir ini. apa yang harus ku lakukan sekarang.? Tabunganku juga belum cukup untuk membayar penunggakkanku bulan kemarin.
aku memang tak sempat membayar hutangku kemarin, karena kesehatanku yang beberapa hari terakhir ini kurasakan menurun dan beberapa kali bolos bekerja membuat gaji yang kuterima pada bulan kemarin menadapat pemotongan.
Apa yang harus kulakukn sekarang.? Demi tuhan aku tak mau berada di rumah bordir tua Bangka itu, aku akan membunuh diriku sendiri jika itu terjadi, lebih baik aku mati dari pada harus melayani setiap tamu yang ada.
Aku semakin gemetar saat keempat namja itu berjalan mendekat kearahku dengan senyum mereka yang mengerikan, aku melirik kekanan dan kekiriku untuk meminta bantuan pada orang-orang yang mungkin saja akan melintas pada kawasan ini, tapi nihil. Hanya bunyi gemuruh petir yang menambah suasana mengerikan di sini.
"a..apa yang kalian inginkan.?" Aku kembali bertanya dengan kaki yang melangkah mundur perlahan, jujur saja walau aku bisa hapkido atau apapun itu, sepertinya melawan empat namja dengan tubuh tegap besar mereka bukan ide yang baik.
"haha.. tentu saja kami datang untuk menjemputmu pulang manis, pelanggan sajangnim sudah banyak yang menanti tubuh indahmu" sial, namja sialan itu masih terus berjalan menuju kearahku dengan matanya yang memperhatikan tubuhku dari atas hingga bawah dengan smirk yang tak menghilang dari bibir tebalnya.
"aku pasti melunasinya kumohon jangan bawa aku, aku akan melunasinya secepatnya, aku hanya kurang enak badan kemarin hingga gaji yang kuterima tak cukup untuk kukirim pada tagihan bulan kemarin, kumohon maafkan aku" aku memohon dengan wajah yang memelas dan berusaha menahan tangis. Jujur saja aku takut jika harus berurusa dengan rentenir gila itu.
"maaf manis, aku tak punya hak untuk memberimu tambahan waktu lagi, sajangnim hanya memerintahkan ku untuk membawamu padanya, walau sejujurnya aku ingin membawamu dulu kepenginapanku untuk bersenang-senang, tapi sepertinya sajangnim akan membunuhku jika bukan ia yang merusakmu untuk pertama kalinya"
Namja yang sepertinya menjadi ketua dari kelompok itu tertawa keras dan di ikuti tiga namja lainnya, aku hanya mematung mendengar kalimat itu, dan sedetik berikutnya aku segera berbalik dan melarikan diri dari keempat namja itu.
"ck.. sial kejar dia"
Aku berlari dengan sekuat tenaga mengabaikan badanku yang terasa berat karena demamku yang sepertinya bertambah parah, tapi sakit lebih baik dari pada harus di seret oleh namja-namja itu.
Berlari dengan nafas yang terus memburu dan sialnya lagi, aku berlari memutar arah yang menuju jalanan yang menanjak dan itu makin membuatku kewalahan untuk membawa badanku yang semakin berat. Keringat dingin juga mulai kurasakan menjalar pada daerah wajah ku.
Aku tak berani memalinngkan kepalaku kebelakang hanya untuk sekedar memastikan mereka terus mengejarku atau tidak, itu tak perlu karena teriakan mereka juga bunyi derap langkah kaki yang bertautan sudah cukup memberiku petunjuk.
Dan aku menyerah saat salah satu tangan panjang mereka menarik ranselku kuat hingga aku terjungkal kebelakang dan terjatuh pada aspal jalan yang keras. Sumpah.. ini sakit sekali. Sikut tanganku sepertinya lecet dan unggungku juga terasa sakit.
Setelahnya aku hanya mereasakan badanku di angakat seperti karung oleh salah satu dari mereka, tidak..aku tidak mau di bawah pada rentenir gila itu. aku meronta mengoyangkan kakiku yang bebas sekuat mungkin agar bisa terbebas dari mereka serta berteriak meminta tolong berharap seseorag dapat menolongku.
Dan semua menjadi gelap setelah kurasakan sakit yang sangat teramat pada tengkukku, dengan suara mobil yang berhenti di sekitar kami dan suara berat yang mengantar mataku terpejam.
'chanyeol, tolong aku'
"hey, apa yang kalian lakukan..?"
Suara berat itu..?
…
…
…
Tbc
Holla. (di sembur api)
*Sujud dulu pada readernim. Maafkan aku yang tak tahu diri ini readernim.
Jujur tugas yang menumpuk sebenarnya bikin aku menyerah buat ngelanjutin ff abal ini, tapi setelah bersemedi semalam di pangkuan ayang cahyo *digampar bininya si yuni. Ahirnya aku bisa ngetik ini dalam satu malam, jadi ya.. maklumin aja jika hasilnya kurang memuaskan. Makin geje, ngak jelas, nggak nyambung dan aneh. Jjadi terantung dari readersnim. Mau di lanjutin atau nggak.
Balasan repiu..
immrsparkchannie, makasih ya udah mau baca I ff abstrud, aku udah lanjutin nih. Keep repiu.. *hug
neli amelia iya, karna chanbaek dalam kenyataannya adem anyem, yau dah aku bikin kyak gini, abisnya suka sebal juga liat mereka lengket terus. Haha.. *fans gila. Nih aku udah lanjuutin, liat anti aja ya gimana endingnya, makanya tetap ikutin. Keep repiu *hug
BabyWolf Jonginnie'Kim fighting, nih aku udah lanjutin. Makasih ya udah mau baca ni ff abstrud. *hug
winter park chanchan nih biar kamu nggak penasaran lagi. Makasih ya udah mau baca. *hug
luphbepz hah.. iya. Makasih ya udah mau baca. Keep repiu *hug
clarknest waduh, kata-kata kamu bikin aku tersanjung. Makasih ya udah mau baca. Iya nggak apa-apa, ambil ajah. Haha.. keep repiu. *hug
SFA30 makasih udah mau baca. *hug
Oke, selamt menunaikan ibadah puasa semua. See you in the next chapter. Bye..
