My boss My Love

Disc: Masashi Kishimoto

ItafemNaru

Rate T


Naruto sangat sedih setelah mengetahui kalau dia diterima kerja di perusahaan Klan Uchiha hanya karena dia memiliki golongan darah Rhesus negatif yang sama dengan Sasuke. Malam harinya, Naruto dengan sedih memutuskan untuk menulis surat pengunduran diri.

Naruto menghela nafasnya. Kepala tertoleh untuk melihat foto kedua orangtuanya yang terbingkai kecil.

Di rumah Naruto yang di desa, Kushina sedang menyulam, sementara Naruto menyenderkan kepalanya ke bahu Kushina.

"Naruto, di kota itu sangat banyak sekali mobil dan padat penduduk. Kamu harus hati-hati saat pulang dari kerja. Jangan sampai ceroboh di sana" kata Kushina

"Jangan juga mengambil sesuatu yang seharusnya tidak diambil, dan jangan terlalu bergantung pada orang lain" kata Minato yang sedang baca buku

"Aku juga berharap mempunyai beberapa kemampuan yang bagus dan karir yang bagus. Itu sudah sangat cukup bagiku" kata Naruto

"Jangan terlalu mengkhawatirkan dirimu. Semenjak kau kecil, aku sudah tau kau akan mempunyai masa depan yang sangat bagus. Jika aku bilang kau akan melakukannya dengan baik, maka kau harus melakukannya dengan baik juga" kata Kushina tersenyum

"Semangat ya Naruto, lakukanlah yang paling terbaik!" kata Minato menambah semangat Naruto

Flashback End.

'Ayah ibu, sepertinya perusahaan merekrutku bukan berdasarkan kemampuanku. Aku telah membuat kalian kecewa..' pikir sedih Naruto

"Naruto, apa yang sedang kau lakukan?" tanya Sakura tiba-tiba datang, "Sini sini, aku mau lihat! Aku mau lihat!" Sakura langsung merebut laptop Naruto, "Surat pengunduran diri?!" kata Sakura terkejut melihat apa yang sedang diketik oleh Naruto. "Kau mau mengundurkan diri?!" kata Sakura lagi

"Apa katamu?" tanya Hinata yang datang kemudian

Setelah Naruto menceritakan masalahnya, Hinata berusaha membujuk Naruto untuk membatalkan pengunduran dirinya. Mereka bertiga duduk di meja makan yang telah siap makanan

"Naruto, bukankah kau memikirkan hal ini terlalu berlebihan sehingga membuatnya sangat rumit?. Coba pikirkan, berdasarkan kebutuhan keluarga Uchiha yang menemukan darah untuk adiknya bukan masalah besar kok, perusahaan itu juga membutuhkanmu, di samping itu kau kan sudah banyak menyumbangkan darahmu, jumlah itu tidaklah sebanding dengan bayaran gajimu.." kata Hinata

Naruto tetap diam dalam kesedihannya. Hinata melihat Sakura, kepala Sakura terangguk sebagai kode bagi Hinata untuk terus membujuk Naruto.

"Saat pertamakali kau diterima, perusahaan itu bukan hanya memandangmu sebagai pendonor darah, tapi mereka juga membutuhkan tenagamu kok" kata Hinata pantang menyerah

"Kalau memang begitu, kenapa aku tidak mengikuti 3 hari pelatihan? Sedangkan karyawan lainnya mengikuti 3 hari pelatihan tersebut!" kata Naruto mulai ngambek. Saat usaha Hinata tidak berhasil, Sakura langsung turun tangan mengomeli Naruto dan mengingatkan Naruto

"Hey pikiran pendek! Dengarkan aku baik-baik Naruto Uzumaki, ayo kita bertukar tempat! Kubiarkan mereka mengambil darahku! Aku tidak peduli seberapa banyak mereka mengambil asalkan aku mendapatkan pekerjaan!" kata Sakura emosi

"Sakura-"

"Ini kenyataan! Dengar, darah yang ada dalam tubuhmu itu diberikan oleh kedua orangtuamu. Hal ini sangat natural! Kau bisa mendonorkan darahmu karena kedua orangtuamu membesarkanmu dengan baik! Kau harus memberikan rasa terimakasihmu itu kepada orangtuamu. Mengerti?!" kata Sakura semakin emosi,

"Kedua, kau harusnya berterimakasih kepada Tuhan karena telah memberikanmu darah yang seperti ini! Membuatmu berbeda dari yang lain, maka itu juga akan membuatmu menjadi lebih bernilai! Kau justru jauh lebih baik, dibanding orang-orang yang masuk ke dalam perusahaan melewati jalur dalam yang mempunyai koneksi!" kata Sakura lagi

Naruto diam saja

"Bahkan jika ini memang benar-benar karena golongan darahmu untuk bisa masuk ke dalam perusahaan, ini bukan artinya kau tidak mempunyai kesempatan untuk bekerja keras" kata Sakura mulai sedikit mereda

"Apa yang dikatakan Sakura benar...'seorang pahlawan tidak dilihat dari tempat dia berasal tapi dilihat dari bagaimana tingkat pengorbanannya yang menyelamatkan orang lain'. Naruto..kau terlalu meremehkan dirimu" kata Hinata.

Naruto masih diam. Sakura dan Hinata sudah kelelahan untuk membujuk Naruto. "Ayo kita makan" kata Sakura.

Naruto memikirkan kata-kata Sakura cukup lama sampai akhirnya dia berubah pikiran lalu mengambil sumpitnya dan langsung makan dengan sangat lahap.

Melihat lahapnya Naruto, Sakura dan Hinata melongo karena terkejut. "Aku harus makan. Jika aku tidak makan, bagaimana aku bisa menambah darah dalam tubuhku dan mempunyai tenaga untuk bekerja keras. Aku kan ingin cepat-cepat naik jabatan" kata Naruto

"Benar. Makan. Makan yang banyak. Hinata kau juga makan yang banyak" kata Sakura yang masih terkejut dengan perubahan sikap Naruto ini

Malam harinya, Naruto membuka gorden jendela. Jendela Naruto penuh dengan embun karena musim salju mulai datang. Naruto sangat senang melihat embun tersebut sambil mengusap-ngusap jendela.

'Hinata dan Sakura memang benar. Bagaimanapun juga, ini sudahlah takdir yang diberikan padaku untuk mempunyai kesempatan datang ke Tokyo. Aku tidak boleh lagi meremehkan diriku. Aku bisa bekerja secara proaktif untuk menambah kemampuanku. Dan terus melangkah maju' pikir Naruto

"Baiklah, semangat!" kata Naruto menyemangati dirinya sambil menekuk kedua tangannya.

Keesokan paginya, Naruto bangun dengan semangat baru. Saat dia membuka gorden jendelanya dia melihat hujan salju sudah memburamkan kaca jendelanya lagi. Tapi saat dia melihat keluar jendelanya, dia melihat sebuah grafiti bertulisakan 'Don't Worry Be Happy' yang semakin membangkitkan semangat barunya. Naruto juga membuat sebuah ID tag baru untuk dirinya sendiri. ID tag yang berisikan data dirinya, info golongan darahnya dan kontak darurat ayahnya, untuk berjaga-jaga kalau terjadi sesuatu.


Di kediaman keluarga Uchiha, Itachi baru saja turun tangga dari kamarnya. "Tuan, selamat pagi" sapa supir Itachi

"Selamat pagi" kata Itachi sambil turun tangga.

"Mobilnya sudah siap" kata supir tersebut

"Ya" kata Itachi. Kemudian Mikoto datang menghampiri Itachi dengan membawa dua kotak makan siang.

"Itachi, ini makan siangmu" kata Mikoto menunjukan kedua kotak makan siang tersebut

"Kenapa ada dua bu?" tanya Itachi heran

"Ini untukmu, dan yang satunya untuk Naruto. Dia sudah menyumbangkan banyak darah untuk adikmu. Aku dengar juga dia tinggal sendiri di kota ini dan tidak ada yang memperhatikannya. Jadi ibu buatkan makan siang ini untuk Naruto" kata Mikoto dengan senang.

"Kabulkan permintaan ibu ya, bawa ini ke kantormu dan minta sekertarismu untuk memberikannya pada Naruto" kata Mikoto. Itachi langsung cemberut. "Ini kan hanya permintaan kecil, kamu tidak mau membantu ibu ya?" kata Mikoto mulai membujuk Itachi. Itachi masih cemberut

"Pak, sepertinya aku akan merepotkanmu lagi. Tolong antar aku ke perusahaan ya" kata Mikoto

"Sesuai dengan peraturan, seseorang yang bukan karyawan perusahaan tidak diizinkan untuk sering datang ke perusahaan. Pak, taruh itu di mobil" kata Itachi yang kemudian langsung pergi begitu saja. Kotak makan siang itu pun diberikan oleh sang supir dan supir itu buru-buru untuk menyusul Itachi.


Naruto menjalani pekerjaannya dengan semangat baru. Naruto yakin bahwa walaupun dia cuma 'kantong darah' tapi dengan semangatnya yang kuat dan usaha keras, dia pasti bisa sukses.

Di depan lift, Naruto berdiri diam bersama pegawai lainnya menunggu pintu terbuka. Saat pintu terbuka, Kotetsu ada di dalam. "Selamat pagii!" sapa semangat Kotetsu. Tapi sayangnya tidak ada yang membalas sapaan Kotetsu. Kotetsu memasang wajah malu menyesal sendiri.

"Kotetsu selamat pagi!" sapa Naruto

"Pagi" kata Kotetsu. Betapa senangnya sapaan paginya di balas oleh wanita manis seperti Naruto.

Kemudian pintu lift terbuka lagi. Para pegawai yang mempunyai tujuan di lantai ini, segera keluar dari lift. Kotetsu tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari wajah manis Naruto. Alhasil, hanya tinggal Kotetsu dan Naruto berdua di lift

"Kotetsu, apa kau juga pergi menuju departemen keuangan?" tanya Naruto

"Iya, aku pergi ke sana untuk mengganti lampu" kata Kotetsu

"Hmm." Kata Naruto melihat tangga lipat yang dibawa oleh Kotetsu

"Naruto, dilihat dari penampilanku yang selalu membawa peralatan seperti ini setiap hari dengan berkeliling gedung , ketika semua orang di perusahaan ini mengabaikanku, kau lah satu-satunya orang yang selalu mau menyapaku dengan tulus dan semangat di perusahaan ini" kata Kotetsu

"Bukan apa-apa itu mah, meskipun kau selalu membawa tangga lipat ini dan lampu-lampu ini, aku akan selalu mengobrol dan menyapamu setiap saat. Ini juga tidak berarti kau tidak bisa mendapatkan impianmu" kata Naruto dengan cerianya

"Jika kau bekerja keras, tangga ini mungkin akan menjadi sebuah barang yang sangat berharga di masa depan. Lihatlah ini, sangat kuat dan handal!" kata Naruto cerianya sambil memegang tangga lipat tersebut

"Kau benar" kata Kotetsu senang

"Meskipun aku bukan seseorang yang lulus dari universitas ternama, aku ini tetap Uzumaki Naruto!" kata Naruto memberi semangat. Kotetsu tersenyum senang. "Kau juga, selama kau bekerja keras, pasti di masa depan nanti seluruh perusahaan akan menghormatimu dan melihatmu. Lalu namamu akan diketahui oleh mereka, Kotetsu Hagane!" kata Naruto semakin membuat semangat Kotetsu membara

"Hm" kata Kotetsu senang, senyumnya tidak bisa dihilangkan dari wajahnya. Pintu lift terbuka.

"Aku duluan ya!" kata Naruto

"Hm" kata Kotetsu. Naruto menundukan kepala hormat yang dilanjut oleh Kotetsu. Di belakang, Kotetsu melihat Naruto yang melangkah pergi dengan sangat ceria. Berada di dekat Naruto benar-benar nyaman dan menyenang

Terlalu senang melihat Naruto, Kotetsu hampir saja lupa, pintu lift yang akan tertutup buru-buru Kotetsu tahan dan segera menuju tempat tujuannya.


Siang harinya, Naruto dimarahi manager karena ada kesalahan dalam laporannya. "Kenapa kamu itu selalu menepatkan angka yang salah?! Jika kamu memang tidak yakin, seharusnya kamu bertanya! Jangan berpendapat sendiri dan jangan menebak!" kata manajernya.

Naruto hanya diam menundukan kepala

"Kau pikir perusahaan ini milikmu?!" kata manajer. Naruto menggelengkan kepala. "Bagaimana aku bisa memberikannya pada atasan jika seperti ini?!" kata manajer tersebut melempar laporan Naruto ke ujung mejanya. Karyawan lain mengintip, berbisik dan tersenyum di atas penderitaan Naruto

Naruto segera mengambil laporannya. "Manajer, saya mengerti kesalahan saya. Saya akan segera memperbaikinya sekarang juga. Manajer jangan marah. Terimakasih banyak sudah memberitahu dan menasehati saya" kata Naruto lalu membungkuk hormat.

Naruto kemudian berbalik badan dan menghembuskan napasnya. "Semangat!" gumamnya. Karena semangat barunya, Naruto sama sekali tidak tersinggung dengan omelan manajer.

"Ada apa dengannya hari ini? Bagaimana bisa dia masih bersemangat dan berantusias seperti itu setelah mendapatkan omelan dari manajer?" kata Rekan Naruto berbisik pada temannya

"Dia mungkin telah sadar jika dia bukanlah orang yang dipilih oleh manajer, jadi dia pura-pura bersemangat dan mencoba untuk menjadi orang yang seharusnya manajer pilih" kata temannya tersebut

"Sepertinya dia memang tidak memiliki kemampuan yang bagus haha" bisik Rekannya lagi mengejek. Karyawan lain yang mendengar, ikut menertawakan Naruto secara diam-diam

Saat waktunya makan siang, sekretaris Itachi yang bernama Konan datang membawa kotak makan siang. "Nona sekertaris, apa ada sesuatu yang penting?" tanya manajer yang langsung mengambil langkah pertama

"Permisi, apa di sini ada yang bernama Naruto Uzumaki?" kata Konan. Semua karyawan langsung menoleh ke arah Naruto. Naruto juga membuat dirinya bangkit dari duduknya.

"Saya Naruto Uzumaki.." kata Naruto. Konan mendekati Naruto dengan tersenyum.

"Kau Naruto Uzumaki? Aku Konan dari kantor bos" kata Konan

'Jangan-jangan...aku membuat kesalahan angka lagi di biaya travel perjalanan?! Orang eksekutif seperti dia sampai jauh-jauh datang ke sini. Aku pasti akan dimarahi olehnya! Tunggu...itu kotak makan siang kan? Yaampun apa dia belum sempat makan siang gara-gara aku?!' pikir Naruto mulai panik lagi. Naruto diam seribu kata dan sudah berkeringat dingin

"Ini kotak makan siang untukmu dari bos besar" kata Konan sambil menyerahkan kotak makan siang tersebut

"Makan siang? Untukku?" kata Naruto. Naruto dan semua rekannya termasuk manager, langsung terkejut bukan main. Konan memberikan senyuman lalu pergi meninggalkan tempat. "Terimakasih banyak!" kata Naruto.

Mereka pun langsung berbisik-bisik menggosipkan makan siang kiriman dari bos besar mereka itu.

-"Makan siang dari bos? Apa ini april mop?"

-"Aku yakin itu diracuni. Bilangnya sih dari bos, tapi sebenarnya sebuah racun supaya dia melakukan bunuh diri"

Sementara Naruto sibuk sendiri membuka kotak makan siang dan langsung tersenyum senang melihat menunya adalah hati babi yang baik untuk menambah darah. Dengan senang hati, Naruto memakan makan siang tersebut dengan lahap.


Sepulang kerja, Naruto Sakura dan Hinata berjalan bertiga menuju suatu tempat. Naruto menceritakan apa yang telah terjadi di kantor. "Aku telah salah menduga terhadap bos besar. Ternyata, dia itu lumayan baik. Lagi pula, tidak ada seorangpun yang mau berada di situasi yang dimana mereka hanya dipandang sebagai pendonor darah. Tapi ini membuatku merasa sangat baik untuk menolong orang lain!" kata Naruto dengan cerianya. Kaki Naruto juga melompat-lompat ceria

"Kau memalukan. Baru saja dikasih kotak makan siang, kau sudah terperangkap dalam jeratan mereka" kata Sakura mengejek tapi juga sedikit tertawa

"Nanti bagaimana jika Sasuke meminta lebih banyak darahmu itu?" kata Sakura menggoda Naruto

"Ambil saja! Aku kan saaangat banyak darah!" kata Naruto menunjukan lengannya

"Haha, kau ini!" kata Sakura mencubit pipi Naruto. Mereka bertiga tertawa sambil bercerita sepanjang perjalanan.

Lalu tempat tujuan mereka telah di temukan. "Di sini?" tanya Hinata

"Iya di sini! Itu dia orangnya!" kata Naruto masih sangat bersemangat sambil menunjuk seseorang. Sepertinya Naruto memperkenalkan Sakura dan Hinata pada Kotetsu, mereka lalu makan malam bersama.


Keesokan harinya, jam sudah menunjukan angka 12. "Saatnya makan siaaang!" kata Naruto dengan senangnya. Rekan-rekannya yang biasanya bersikap tidak ramah padanya, tiba-tiba mendekatinya dengan sok akrab.

-"Naruto, aku baru menyadari jika kita belum pernah makan siang bersama"

-"Itu benar!"

-"Naruto! Naruto! Naruto! Aku tau tempat ramen yang lezat tapi juga dekat dengan perusahaan!"

"Benarkah?" kata Naruto

-"Tentu saja!"

-"Kau pasti suka ramen kan? Ayo kita makan bersama!"

-"Iya! Iya!"

Lalu sekertaris yang lain datang menemui Naruto. "Nona Naruto, apa kabar?" kata sekertaris itu. "Aku asisten sekertaris dari bos besar, namaku Rin. Hari ini aku membawakan makan siang untukmu dari bos besar" kata Rin dengan ramahnya

-"Ada lagi?"

Naruto terkejut dan bingung dia diberikan makan siang lagi. "Sepertinya aku terlambat memberikan makan siang ini, Nona Naruto, Anda sudah berjanji makan bersama ya?" kata Rin melihat Naruto akan jalan bersama karyawan lainnya

"Tidak tidak tidak!" kompak semua karyawan tersebut. "Kami baru saja mau lewat" kata mereka. Lalu mereka pergi. Tapi kali ini Naruto tidak begitu antusias lagi karena menunya lagi-lagi... hati babi.

Keesokan harinya lagi dan lagi... setiap hari... Konan dan Rin secara bergantian mengirimkan kotak makan siang untuk Naruto yang menunya sama, hati babi yang dimasak dalam berbagai versi.

Sejak saat Naruto selalu menerima kotak makan siang dari bos besar mereka, kantor departemen keuangan tiba-tiba ramai pengunjung. Berbagai pegawai dari departemen-departemen yang lain selalu datang tepat saat jam makan siang dengan alasan pekerjaan, padahal diam-diam mereka melirik Naruto dengan penasaran.

Tapi, di sisi lain sang manajer departemen keuangan membaca biodata Naruto. Sekarang manajer tersebut telah mengetahuinya mengapa Naruto selalu di beri makan siang.

Saat akhirnya punya kesempatan, semua rekan Naruto langsung menanyakan pertanyaan yang selama ini membuat mereka sangat penasaran

"Naruto, sebenarnya apa hubunganmu dengan bos besar?" tanya salah satu Rekannya

'Akhirnya mereka bertanya!' pikir Naruto karena Naruto selalu resah dengan tatapan penasaran mereka setiap hari

"Tidak ada hubungan kok haha!" kata Naruto dengan cerianya sambil bertepuk tangan. "Ini hanya permintaan yang kecil ketika aku mengabulkan permintaan bos besar. Seperti...seperti sesuatu yang akan kulakukan untuk semua orang" kata Naruto

-"Jika memang permintaan kecil, kenapa kau tidak mau membicarakannya?" tanya salah satu Rekan Naruto

-"Ayo beritahu kami!"

-"Iya beritahu dong!"

-"Kau membantu bos besar dengan..." Rekan Naruto menebak Naruto dengan pikiran ambigu

-"Hey hentikan pikiran ambigumu itu! Kau pikir bos besar itu orang yang seperti itu apa!" kata salah satu Rekan yang lainnya

-"Benar juga, Hey. Kenapa bos besar tidak memberikanmu sebuah kotak hadiah? Kenapa selalu kotak makan siang?"

-"Nah benar itu! Kenapa kenapa?"

-"Ayo beritahu!"

-"Ayo ayo!"

-"Ayolah Naruto beritahu kami!"

Naruto selalu di dorong dorong untuk mengatakan alasannya. Tapi Naruto sangat bingung untuk mengatakannya. Naruto semakin terdesak dan terdesak. Lalu, manager tiba-tiba menyuruh Naruto pergi memfotokopi dokumen.

"Naruto, fotokopi dokumen ini" kata manajer

"Baik! Saya laksanakan!" kata Naruto. Kebetulan sekali Naruto ingin keluar dari ruang lingkup pertanyaan yang didesak oleh para Rekannya.

"Tunggu dulu Naruto! Naruto!" mereka semua masih ingin mendapatkan jawaban Naruto

"Tiap hari membicarakan gosip, bukannya fokus untuk bekerja!" kata manajer memarahi seluruh asistennya. Mereka pun buru-buru kembali ke pekerjaan masing-masing.

Berkat makan siang yang tiap hari diterimanya dari bos besar, rekan-rekan Naruto sekarang mulai mendekatinya bahkan sering memuji-muji Naruto dan memberikan berbagai macam hadiah untuk Naruto. Naruto menyadari bahwa keakrabannya dengan rekan-rekan kerjanya itu seharusnya membuatnya bahagia, tapi dia sama sekali tidak merasakan kebahagiaan itu. Karena dia tahu kalau keakraban mereka hanya didasari makan siang yang setiap hari diberikan bos besar.

Hanya Kotetsu satu-satunya rekan kerja yang benar-benar berteman tulus dengan Naruto. Walaupun tetap saja dia juga penasaran dengan hubungan Naruto dengan bos besar. Mereka sedang menunggu bis di halte

"Kau tau, bersosialisasi hanya untuk membuat sebuah koneksi bukanlah sesuatu yang begitu baik. Tapi jika kau memang mempunyai banyak teman di kantor, itu adalah hal yang bagus. Di masa depan, apapun yang terjadi, kalian bisa saling menjaga satu sama lain" kata Kotetsu

"Kau benar. Aku juga seharusnya berterimakasih kepada kotak makan siang itu atas kejadian yang terjadi belakangan ini. Nanti ketika tidak ada lagi kotak makan siang, aku tidak tau jika mereka semua masih memikirkanku sebagai teman atau tidak" kata Naruto. "Tapi kau berbeda. Kau telah menjadi temanku sebelum kotak makan siang itu!" kata Naruto dengan bahagianya dia bernada. Kotetsu sangat senang mendengarnya

"Naruto.. apa hubunganmu dengan bos besar?" tanya Kotetsu yang akhirnya dia bertanya

"Aku hanya karyawan biasa dan dia adalah bos besar. Tentu saja hubungannya hanya sekedar bos dan karyawan. Tidak ada yang lain. Dia mengirimkanku kotak makan siang karena..." Naruto sangat ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Kotetsu menunggu jawaban Naruti

"Aku tidak bermaksud untuk bersikap misterius, masalah ini adalah masalah pribadi orang lain. Karena itulah aku tidak bisa memberitahu tentang ini. Dasarnya, aku telah mengabulkan sebuah permintaannya. Sebagai gantinya, dia mengirimkanku kotak makan siang sebagai tanda terimakasihnya. Hanya itu, tidak ada lagi" kata Naruto

Kotetsu bernapas lega. "Berarti kau tidak mempunyai seorang pacar kan?" tanya Kotetsu

"Tentu saja aku tidak mempunyai pacar. Memangnya ada hubungannya kotak makan siang dengan pacaran haha" kata Naruto tertawa. "Oh jangan-jangan, kau berpikir bos besar mengirimkanku kotak makan siang karena dia adalah pacarku?!" tanya Naruto

"Tidak tidak!" kata Kotetsu mengelak

"Kotetsu yang benar! Kalau memang aku terlihat seperti pacarnya bos besar, maka aku akan terus memakan kotak makan siang itu. Dan aku seharusnya meminta hati daging kuda haha" kata Naruto bercanda

"Haha, kau pandai juga untuk bercanda" kata Kotetsu. Mereka berdua saling tertawa dengan ceria

"Jadi... kota yang megah seperti Tokyo ini...aku pikir..kita adalah warga pendatang dan harus berusaha keras untuk bekerja, iya kan?" kata Kotetsu. Naruto menganggukan kepala

"Tokyo benar-benar kota yang megah ya. Pasti sangat sulit untuk menemukan seseorang yang benar-benar mengerti dirimu. Karena itulah, aku ingin mengatakan..-"

"Bisnya di sini! Bisnya di sini! Aku duluan ya!" kata Naruto yang sepertinya terlalu fokus pada kedatangan bis. Naruto langsung berlari masuk bis dan melambaikan kedua tangannya ke arah Kotetsu

"Ah sial... aku padahal kan mau bilang jika aku menyukaimu!" gerutu Kotetsu


Keesokan harinya, Naruto baru bangun saat dia kebingungan melihat Hinata sudah mengepak semua barang-barangnya. Naruto langsung pergi menuju halaman depan dimana Hinata berdiri tenang di sana

"Hinata, kau mau kemana?" tanya Naruto

"Aku pindah hari ini" kata Hinata

"Pindah?! Kenapa kau tidak memberitahuku?!" kata Naruto terkejut

"Kau terlihat sangat sibuk belakangan ini. Bagaimana bisa kau akan terus bersamaku di waktu sibukmu yang seperti ini?" kata Hinata

"Tapi meskipun aku tidak mempunyai waktu, kau harus memberitahuku terlebih dahulu. Aku bisa membantumu!" kata Naruto antusias

"Aku hanya membawa dua koper, aku tidak memerlukan bantuanmu kok" kata Hinata

"Apa kau benar-benar akan pindah?" tanya Naruto bersedih

"Kenapa? Aku kan sudah menemukan tempat tinggal, apa kau tidak suka aku menemukannya? Apa kau mau aku terus merepotkan Sakura?" tanya Hinata

"Bukan begitu...setidaknya...aku akan membawakan kopermu dan aku ingin melihat rumah barumu!" kata Naruto kembali antusias dengan senang

"Tidak perlu repot-repot. Pacarku akan segera menjemputku" kata Hinata

"Pacar?!" kata Naruto terkejut.

"Aku akan tinggal bersama" kata Hinata

"Tinggal bersama?! Hinataaa, jangan melakukan ini padakuu! Jika bibi mengetahui hal ini, bagaimana aku akan menjelaskan hal ini padanyaaa! Dia pasti akan membunuhkuuu!" kata Naruto merengek rengek

"Tidak apa-apa tidak apa-apa. Ibu sudah tau. Justru ibu yang menjodohkan kami berdua. Dia anak dari manajer perusahaan, namanya Ashura Ootsutsuki. Kau pasti tidak tau tentang rencana ibu kan?. Ibuku itu selalu ingin aku menikahi anak dari keluarga yang kaya" kata Hinata

"Maaf ya, aku tidak tau" kata Naruto menyesal

"Untuk apa minta maaf. Terimakasih atas bantuanmu selama ini Naruto" kata Hinata tersenyum

"Peluk peluk peluk!" kata Naruto memeluk Hinata yang dilanjut Hinata memeluk Naruto balik.


Naruto mengantarkan Hinata pergi.

"Kenapa kau tidak membiarkan pacarmu datang saja ke rumah? Rumahnya Sakura kan tidak begitu sulit untuk ditemukan" kata Naruto

"Aku sedang menunggu waktu yang tepat, sebelum aku mempertemukan kalian dengannya" kata Hinata

"Lalu, apa kau benar-benar menyukai Ashura ?" kata Naruto

"Hmm, aku tidak membencinya tapi aku merasakan sebuah kenyamanan jika bersamanya" kata Hinata

"Hinata, meskipun bibi menginginkan kalian berdua bersama, jika kau memang tidak menyukainya, kau bisa menolaknya. Kau kan sudah di Tokyo, tidak ada lagi yang perlu kau takuti" kata Naruto

"Tapi Ashura yang membawaku ke Tokyo. Jangan khawatir, sepupumu ini masih mempunyai alarm yang sangat tajam. Dia memperlakukanku dengan sangat baik. Di samping itu, aku bukan tipe gadis yang mudah jatuh dalam pelukan orang lain" kata Hinata

"Kau memang yang terhebat Hinata!" kata Naruto sambil merangkul Hinata. Mereka berdua tertawa ceria satu sama lain.

Mereka melewati lapangan basket dekat tempat tinggalnya, tak sengaja dia melihat Itachi dan Sai sedang bermain basket. Reflek, Naruto langsung menunduk bersembunyi di belakang Hinata.

"Apa yang kau lakukan? Siapa yang kau lihat?" tanya Hinata. Naruto mengintip-ngintip di belakang Hinata

"Bos besarku" kata Naruto

"Yang mana?" tanya Hinata penasaran

"Itu, yang baru saja memasukan bola ke ring" kata Naruto was was. "Tanpa pakaian resminya, dia sangan sulit untuk dikenali" kata Naruto lagi. "Tapi di sampingnya itu Sai-san, aku langsung bisa mengenalinya" kata Naruto langsung sumringah.

"Sai-san?"

"Dia dalah direktur yang paling baik hati. Semua orang memanggilnya pangeran idaman" kata Naruto semakin sumringah.

"Aku angkat telponku dulu" kata Itachi pergi mengangkat panggilan masuk di ponselnya

"Sai-san..." gumam Naruto yang naksir Sai, senyam senyum sendiri melihat Sai bermain basket. Naruto langsung buru-buru bersembunyi semaksimal mungkin ketika Itachi mengangkat ponselnya

"Naruto?" Sai menangkap basah Naruto sedang melihat mereka bermain basket, dengan senyum senyum senangnya, Naruto melambaikan tangannya. Sai mengisyaratkan Naruto untuk diam karena Itachi sedang bicara ditelepon sekaligus biar Itachi tidak tahu kalau Naruto melihat mereka bermain basket. Naruto langsung menurut dengan senang hati dan menyeret Hinata pergi.

"Wanita ini benar-benar sangat lucu dan patuh" kata Sai tersenyum senang memperhatikan Naruto pergi. Lalu Itachi mendekati Sai yang senyum senyum sendiri.

"Apa yang kau lakukan?" suara Itachi membuat Sai terkejut.

"Hanya melihat sekeliling" kata Sai berbohong

"Kita main lagi" kata Itachi. Mereka pun kembali main basket bersama


Saat sedang menunggu pacarnya Hinata datang sambil duduk di bangku, Hinata menggoda Naruto yang naksir Sai. "Kau menyukai Sai-san ya?" kata Hinata

"Itu...itu...a-a-apa maksudmu?" kata Naruto langsung salting sendiri

"Tidak apa-apa. Ternyata seleramu sangat bagus juga ya. Muda dan sangat sukses. Aku rasa dia itu juga punya ketertarikan kepadamu" kata Hinata

"Benarkah?!" kata Naruto senang berbunga. Hinata menganggukan kepala. Naruto menjadi senang tapi malu sendiri. "Hinata, seharusnya kau tidak mengatakan hal itu. Orang seperti diriku tanpa mempunyai latar belakang yang bagus, wajah yang cantik, dan tanpa otak yang pintar, tidak akan pernah ditaksir oleh siapapun, bukankah kau yang berkata seperti itu" kata Naruto

"Aku mengatakan hal itu kan sudah lama, kenapa kau masih mengingatnya. Kau mau membuatku merasa bersalah padamu ya" kata Hinata

"Aku bercandaaaa" kata Naruto. Mereka berdua saling tertawa ceria lagi. "Tapi seriusan, dia itu adalah direktur, bagaimana mungkin dia menyukaiku. Palingan aku hanya bisa menjadi penggemar rahasianya. Menjadi penggemarnya dari jauh itu sudah sangat cukup bagiku" kata Naruto dengan ceria

"Tapi jika Sai san benar-benar menjadi pacarmu, berarti kondisimu akan menjadi lebih baik dariku" kata Hinata

"Apa yang kau bicarakan! Itu sudah pasti mustahil! Mustahil! Muuuustahil! Muuusstaaahiil!" kata Naruto sambil berdiri dan menggerakan kedua lengannya menggambar sebuah huruf X.

Ashura akhirnya datang menjemput Hinata dengan mobil mewahnya. "Naruto aku pergi ya. Salam buat Sakura" kata Hinata

"Apa kau yakin tidak membutuhkan bantuanku?" tanya Naruto

"Tidak usah. Dadah Narutoo" kata Hinata langsung buru-buru masuk ke dalam mobil. Naruto melambaikan tangan dengan sopan pada Ashura tapi Ashura ternyata anak orang kaya yang sangat sombong bahkan sampai mengalihkan pandangannya pura-pura tidak melihat Naruto.

"Dadah Narutooo!" kata Hinata sambil melewati Naruto

"Dadaah! Telpon aku ya nantii!" kata Naruto. Setelah mobil itu pergi. "Apa-apaan dia, dasar sombong! Dasar!" kata Naruto mengomel ngomel

'Masih lebih baik Sai-san. Dia adalah seorang direktur yang sangat hangat dan ramah. Dia seperti matahari di musim dingin' pikir Naruto senyum senyum sendiri membayangkan sosok Sai di kepalanya

Naruto langsung berlari ke lapangan basket yang tadi tapi Sai dan Itachi ternyata sudah pergi.


Keesokan harinya, Naruto dan rekan-rekannya mendatangi kantornya Sai saat jam makan siang. Saat melihat Naruto, Sai melambaikan tangan dan segera keluar membawa kotak makan siang Naruto.

"Hari ini giliranku yang membawakanmu makan siang" kata Sai sambil meyerahkan kotak makan siang tersebut

"Terimakasih banyak! Terimakasih banyak!" kata Naruto menerima kotak makan siang tersebut

"Untuk kemarin, aku juga sangat berterimakasih kau telah mengabulkan permintaanku. Ini apel untukmu" kata Sai

"Permintaan apa?" tanya Naruto tidak mengerti ucapan Sai

Sai memberikan senyuman. "Makan yang banyak ya" kata Sai tersenyum. Lalu Sai kembali ke ruangannya. Rekan rekan Naruto semakin penasaran

-"Permintaan?" kata salah satu rekannya

-"Permintaan apa lagi yang kau lakukan untuk direktur?"

-"Kenapa harus kau yang selalu mendapat permintaan dari direktur dan bos besar?"

"Aku tidak melakukan apapun!" kata Naruto tidak mau memberitahu

-"Beritahu kami, kau pasti sedang menjalankan suatu hubungan rahasia, iya kan?"

"Kalian ini bicara apa? Aku tidak mengerti sama sekali. Apa maksudnya hubungan rahasia. Aku mau makan siang dulu" kata Naruto mengelak, lalu Naruto pergi

Hari-hari berikutnya... sepertinya biasanya, Naruto selalu mendapat kiriman kotak makan siang dari Rin. Walaupun pegawai dari departemen lain sudah tidak lagi datang ke kantor departemen keuangan untuk meliriknya makan, tapi tetap saja selalu ada pegawai yang pura-pura lewat hanya untuk melihatnya makan makanan pemberian bos besar mereka.

Semua itu membuat Naruto jadi semakin tidak nyaman, sampai dia selalu berharap supaya dia tidak lagi mendapat kiriman makan siang tapi dia terlalu takut untuk mengatakannya.

Suatu hari, akhirnya Naruto memutuskan untuk menghindari pandangan orang-orang dengan cara mengambil sendiri kotak makan siangnya lalu membawanya ke balkon lantai gedung paling atas. Naruto melirik kanan kiri memastikan tidak ada siapa-siapa di balkon itu. Dan setelah yakin tidak ada siapa-siapa, Naruto langsung duduk di bangku dekat dinding kaca dan memakan makan siangnya dengan lebih nyaman.

Di kantornya, Itachi sedang meeting bersama seorang pengacara, "Desainnya hampir selesai. Dalam dua sampai tiga hari, aku akan menyuruh seseorang untuk memberikannya padamu jadi kau bisa langsung melihatnya" kata pengacara tersebut. Tapi perhatian Itachi mulai terganggu oleh pemandangan di balkon, Naruto yang sedang makan. "Selama pembayarannya dipercepat.." pengacara itu berhenti berbicara. Melihat Itachi yang tidak memperhatikannya, membuat sedikit kesal. "Itachi!" kata pengacara tersebut

Itachi langsung menoleh ke arah suara yang meninggi itu. "Aku bilang, selama pembayarannya di percepat.." Itachi berusaha berkonsentrasi pada meeting pentingnya, tapi perhatiannya terus menerus teralih pada Naruto. Itachi tersenyum senang melihat betapa lahapnya Naruto makan.

Itachi terus memperhatikan tingkah Naruto bahkan menonton Naruto berjoget menyemangati dirinya sendiri. Itachi kehilangan kontrol dirinya, dia tertawa melihat aksi lucunya Naruto.

"Itachi! Kenapa kau tidak mendengarkanku" kata pengacaranya itu memakai bahasa informal

"Ah maaf. Paman, apapun yang kau katakan, akan segera kulaksanakan" kata Itachi, bekas tertawanya masih belum bisa dihilangkan

"Hahhh, kau ini terkadang ya. Baiklah baiklah. Aku pergi kalau begitu" kata pengacaranya

"Terimakasih paman" kata Itachi ramah.

Lalu Itachi berdiri di depan jendela untuk lebih bisa melihat Naruto. "Naruto semangat! Semangat! Semangat! Positif energi! Positif energi! Naruto semangat! Semangat! Semangat! Positif energi! Positif energi! Naruto semangat! Semangat! Semangaaaaaaat!"

Suara Naruto sangat terdengar jelas oleh Itachi. Itachi sudah tidak bisa berhenti senyum melihat joget lucu Naruto. "Baiklah! Kembali bekerja!" kata Naruto


Itachi malam harinya makan malam bersama Mikoto, Shisui dan Sasuke. "Selera makanmu hari ini sangat baik ya" puji Mikoto. "Itachi, sebentar lagi Sasuke akan merayakan hari ulang tahun bayinya yang ke satu bulan. Apakah kau memiliki teman kencan untuk di ajak? Jika tidak, kita bisa mengundang Tayuya. Dia kan sudah berteman baik denganmu sejak di Amerika" kata Mikoto. Itachi mulai memasang wajah masamnya

"Tidak mungkin bu, kita kan sudah tidak menghubunginya lagi selama lebih dari dua tahun. Ini sedikit tidak sopan jika kita tiba-tiba menghubunginya untuk datang" kata Shisui

"Tidak ada pilihan lain. Kakak iparmu ini sangat tidak suka untuk bersosialisasi dan sangat sulit untuk menemukan calon pacar yang tepat untuknya" kata Mikoto

"Aku punya ide bu. Bagaimana jika kita meminta saran kepada wakil presiden kita, siapa tau dia bisa menemukan gadis yang cocok untuk kakak ipar" kata Shisui

"Kita tidak bisa melakukan itu. Kakak tidak akan menerima pilihan yang dipilih oleh orang lain. Kakak itu lebih suka terhadap pilihan sendiri" kata Sasuke

"Kalau begitu Itachi, apa kau sudah memilih seseorang?" tanya Mikoto

"Jika memang mau mengundang Tayuya ya undang saja. Dia kan selalu ingin datang ke Jepang. Itu tidak masalah bagiku" kata Itachi

"Apa yang kau katakan, sangat berbeda dengan sinar matamu itu" kata Mikoto menggerutu

"Aku selesai makan, terimakasih untuk makan malamnya" kata Itachi meletakan kembali sumpit dan melangkah pergi

"Apa kita harus mengundang Tayuya?" tanya Shisui melihat ke arah Sasuke

"Kenapa kau melihatku seperti itu?" kata Sasuke dingin karena tidak suka atas tatapan Shisui

"Haah...pusingnya memikirkan jodoh anak itu" gumam Mikoto menggerutu sendiri


Keesokan harinya, Sai berangkat ke kantor bersama Itachi, "Jadwal meeting siang ini, yang pertama mengembangkan laporan dari seluruh manajer departemen dari presentasi departemen marketing tentang rencana mereka untuk tahun depan" Sai melaporkan berbagai kegiatan perusahaan pada Itachi. Tapi Itachi malah senyam senyum sendiri menatap kotak makan siang makan siangnya Naruto.

"Naruto semangat! Semangat! Semangat! Positif energi! Positif energi! Naruto semangat! Semangat! Semangat! Positif energi! Positif energi! Naruto semangat! Semangat! Semangaaaaaaat!"

Itachi mengingat joget lucunya Naruto saat di balkon kemarin. "Itachi, Itachi" kata Sai. Itachi menoleh. "Apa kau lapar?" tanya Sai. Itachi memalingkan wajahnya ke depan. "Jika tidak, lalu kenapa kau melihat kotak makan itu sambil tersenyum sendiri seperti itu?" tanya Sai

"Aku hanya memikirkan masalah paman Madara yang akhirnya telah selesai. Dan juga aku tidak akan melihat wajahnya lagi. Makanya aku moodku sangat baik sekarang" kata Itachi. Sai tertawa kecil.

"Paman Madara itu sudah sangat tua, ditambah kondisi jantungnya sudah tidak sesehat dulu. Tapi dia masih saja keserakahannya itu tidak berkurang. Orang itu bisa berubah menjadi sedikit lebih rumit, agak bodoh dan mudah puas dengan sesuatu, contohnya adalah ketika diberikan sebuah kotak makan siang yang lezat setiap hari, dia bisa merasakan sesuatu yang nyaman" kata Itachi

"Haha, kotak makan siang? Kau benar benar dalam mood yang sangat baik ya?" kata Sai

"Aku hanya mencoba untuk mengatakan, meskipun kotak makan siangnya sederhana, selama kau menerimanya dengan senang hati, maka rasanya akan menjadi sangat luar biasa" kata Itachi

"Dari kata-kata mu, sepertinya kau sedang mengibaratkan sesuatu. Tapi sayangnya aku tidak mengerti" kata Sai. Itachi tersenyum

"Tidak ada apapun. Lanjutkan" kata Itachi sambil menaruh telapak tangannya di atas kotak makan siang Naruto. Sai pun melanjutkan jadwal perusahaan hari ini.


Siang harinya, Itachi di kantornya sedang menunggu kedatangan Naruto ke balkon. Saat Naruto datang, Itachi langsung duduk didekat kaca menghadap Naruto, lalu menirukan seluruh gerak gerik Naruto. Naruto membuka kotak makan siangnya, Itachi ikutan membuka kotak makan siangnya. Naruto mengambil sumpitnya, Itachi ikutan mengambil sumpitnya. Naruto makan nasi sesendok penuh, Itachi juga ikutan makan nasi sesendok penuh. Itachi tersenyum senang dikala mulutnya mengunyah makanan.

Keesokan harinya, Itachi mempersiapkan penghangat di balkon untuk menyambut kedatangan Naruto karena cuaca di balkon sangat dingin.

Saat Naruto tiba di balkon dan melihat penghangat itu, "Penghangat?" kata Naruto. Dia tentu saja bingung. "Siapa yang membawanya ke sini?" kata Naruto menoleh sana sini. Naruto menaruh kotak makan siangnya, "Jangan bergerak!" kata Naruto tiba-tiba menghadap belakang, berharap memergoki seseorang. Tapi tidak ada siapapun. Bagaimanapun juga Naruto berterima kasih pada siapapun yang membuat penghangat itu. Saat Naruto mulai makan, Itachi lagi-lagi menirukan seluruh gerak-gerik Naruto.

Keesokan harinya saat jam makan siang tiba, Itachi yang masih rapat terus menerus melihat jam tangannya, gelisah menanti kapan meetingnya selesai supaya dia bisa makan siang bersama Naruto. Sai melirik Itachi heran karena sikap Itachi sedikit agak aneh

Saat meeting akhirnya selesai, Itachi langsung terburu-buru kembali ke kantornya hanya untuk melihat Naruto makan.

Akan tetapi keesokan harinya, Naruto tidak makan di balkon karena hujan salju turun dengan sangat lebat. Itachi pun hanya bisa menatap balkonnya yang kosong dengan sedih.

TBC


Alright alright alright! Chap dua telah selesai, to be honest I'm very grateful for all your support. Its really help me alot and they make me writer faster!;)

terutama untuk:

AprilianyArdeta : thanks for your reviews! ;)

choikim1310 : thanks for your reviews! ada saatnya kok choikim1310- san buat naru manggil itachi-sama or itachi-san^^,

Kiro Yuki : thanks for your reviews! i will do my best;)

Toushiro854, veira sadewa, Kizu583, MimiTao : thanks for your reviews! ;)

Khioneizys : tapi negatif juga lumayan langka hehe, its ok, just story, thanks for your reviews! ;)

Indah605, langit cerah 184 , ipandini, Uzumaki Prince Dobe-Nii : thanks for your reviews! ;)

saya tidak menduga bisa mendapat review dan respon yang seperti ini, reallyyyyy thankssss! so happy! and...reviews?;)

Hasta La Vista ;)