Kesemuan. Kenyataan yang tersamarkan dalam kepalsuan. Seperti tawanya, riang terdengar bagai denting lonceng di malam Natal. Namun, menyimpan kepedihan dan sakit hati, menyakitkan terdengar seperti badai salju yang menghantam dinding. Kesemuan, bertahan di balik kenyataan hingga masa yang tak tertera di atasnya.
.
…*…
.
Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto.
Saya tidak mendapatkan keuntungan material apapun dari pembuatan fanfiksi ini.
Warning: Stright, AU, drack-fict, death chara, OOC, miss typo(s), etc.
Dipersembahkan untuk Ambar Lopita Allagan yang sudah menebakku dengan tepat. Dengan prompt 'SasuSaku, sepasang kekasih yang terjebak dalam kasus pembunuhan.'
Selamat membaca ^^
.
…*…
.
Ada sekuntum cinta yang kuat,
saat kuhapus tetes air matamu …
Memberikan jerat hati, mengubur logika.
Cinta …
kutemukan imajinya di balik senja
di balik kesadaran yang menggila.
Cinta …
kutemukan kegilaannya di balik petang
di balik kenyataan yang menghasrat
Cinta …
kutemukan hasratnya di balik malam
di balik emosi yang … tak nampak.
Lenyap.
Hilam ditelan kegelapan pekat yang menyelimuti bayang.
.
…*…
.
Pagi selalu menjadi saat yang berat bagi Sasuke sejak dia memisahkan kamarnya dengan kamar sang istri. Ruang kerjanya dengan aroma apak buku selalu menjadi pemandangan pertama. Suara langkah jam di dinding membaur bersama kicauan riang burung di dahan dan celoteh tak berarti wanita-wanita tetangga. Sasuke memegang kepalanya yang terasa berat, mencoba menetralkan pandangannya yang begoyang tidak stabil—mengubah ruangannya menjadi sebuah dimensi abstrak tak dikenal.
Senandung lembut dan aroma sarapan khas Jepang adalah hal yang tertangkap inderanya berikutnya. Suara manis yang menari-nari di telinganya, membawa kembali kenangan tatkala dia masih ragu untuk mengeratkan genggaman tangannya pada sang istri.
Mencoba menghapus nostalgia, Sasuke bangkit dari futon-nya. Setelan jas berwarna gelap yang menjadi seragamnya sudah tergantung di dinding, rapi telah disetrika. Tirai ruangan ditarik, jendela terbuka lebar, menyebarkan aroma angin bercampur polusi udara. Sebuah bunga dengan nama tak dikenal menjadi penghias meja.
Sasuke terdiam.
Kamar mandi ada di ujung lorong, digosoknya gigi dan dibasuhnya muka. Rambut disisir serapi mungkin, gagal, ujung belakangnya tetap mencuat menantang hukum gravitasi. Digantinya kemeja dan celana kusutnya dengan pakaian yang tersedia, mengancingkan jasnya perlahan, sengaja mengulur waktu sebanyak yang dia bisa.
Keluar dari kamar.
"Selamat pagi, Sasuke," adalah hal pertama yang didengarnya saat langkah kakinya memasuki ruang makan yang menyatu dengan dapur. Senyum lembut istrinya terlihat sehalus kelopak bunga Sakura yang jatuh di taman dekat rumah tiap musim semi—yang memesona mata mereka yang datang untuk melihatnya. "Aku sudah membuatkanmu bekal. Tidak masalah bukan jika aku membentuk sosisnya menjadi gurita?"
"Ya."
"Syukurlah kalau begitu."
Percakapan yang terlalu normal. Terlalu biasa. Nyaris membuatnya menganggap kejadian semalam hanyalah mimpi buruk, andai saja luka di permukaan telapak tangannya tidak masih berdenyut, memberi peringatan untuk tidak terjebak dalam fatamorgana pagi.
Di atas meja tersedia telur dadar dan sup miso yang masih mengepulkan uap. Rangkaian bunga sederhana ada di tengah meja, tepat di antara dua kursi yang diletakkan saling berhadapan (kursi ketiga yang pernah ada di sana telah Sasuke lenyapkan tanpa pengetahuan Sakura). Sakura duduk di hadapannya, mengucapkan selamat makan dan dengan anggun memakan sarapan buatannya sendiri.
Sasuke menyuapkan telur goreng ke dalam mulutnya, sedikit terkejut Sakura masih ingat untuk tidak memasukkan gula ke dalamnya. Mencoba membuka percakapan, seperti yang selalu dilakukannya setiap pagi. "Apa yang akan kau lakukan hari ini?"
"Aku mendapat pesanan untuk membuat seratus buket bunga ukuran kecil di toko," Sakura menjawab. Memotong telur dadar miliknya sendiri perlahan. "Aku akan pulang sedikit terlambat. Tidak apa-apa kah jika makan malam kita akan sedikit larut?"
Sasuke mengangguk pelan. "Tidak masalah. Lagipula, aku juga memiliki pekerjaan tambahan malam ini."
"Kasus baru?"
"Kasus lama. Namun belum terpecahkan."
Sakura mengangguk mengerti. Tidak bertanya lebih jauh. Paham benar jika pekerjaan suaminya sebagai detektif divisi kriminal di kepolisian tentulah memakan banyak waktu luang mereka lebih dari pasangan suami istri lainnya. Wanita itu tersenyum memakhlumi. "Jika kau pulang terlalu malam, aku akan membungkus makananmu dengan plastik. Kau bisa langsung memakannya nanti."
"Ya."
Hanya itu saja percakapan yang terjadi pagi itu. Semuanya berjalan dalam keheningan setelahnya. Sakura membersihkan rumah dan Sasuke menata ulang berkas-berkasnya. Pukul sembilan, Sasuke pergi. Sakura mencium pipi suaminya sebagai ciuman selamat jalan dan melambaikan tangan, mengatakan 'hati-hati di jalan' sebelum berbalik masuk kembali ke dalam rumah.
Siang berbeda dengan malam. Sakura adalah istrinya di siang hari. Istri yang telah melupakan masa yang telah berlalu dan kembali pada hari-hari di mana mereka masih pengantin baru yang mengharapkan keajaiban turun pada mereka—kelahiran seorang anak.
Entitas Uchiha Sarada lenyap, tersedot dalam ketidakmampuan memori mengumpulkan serpihan kenyataan yang pahit.
Sasuke memandang langit biru yang membentang di atasnya. Tampak begitu cerah hingga seolah mengejek dirinya yang suram dan menyedihkan. Menertawakan hidupnya yang tidak pernah berjalan dengan baik sejak dia masih belia. (Tidak cukup kah dia harus menerima kenyataan jika kakaknya adalah pembunuh orang tuanya sendiri? Membuat Sasuke terpaksa menghabiskan masa pertumbuhannya seorang diri karena sang kakak harus tinggal di balik dinding-dinding kuat rumah sakit jiwa untuk selamanya.)
Ya … tentu saja tidak cukup. Takdir selalu cukup brengsek untuk membuat hidupnya terasa bagai di neraka.
Tidak kuat membiarkan dunia menatapnya dengan kasihan, Sasuke menegakkan tubuhnya. Memantang lalu lalang kota di sekitarnya—memaksa mereka memandang sisi tangguh dari seorang Uchiha Sasuke. Handphone di saku jasnya diraih, dibuka salah satu nomor yang ada di barisan kedua daftar nama penting—setelah nomor hanphone istrinya—Uzumaki Naruto.
Dering ketiga, suara mengantuk seorang pria menjawab teleponnya malas-malasan.
Sasuke tidak menjawab sumpah serapah singkat yang dilontarkan penerima teleponnya itu. Hanya diam menunggu ocehan bangun tidur Naruto lenyap digantikan kesadaran. Penantiannya berhenti setelah si pirang yang entah ada di mana bertanya, "Ada apa sampai kau menelepon sepagi ini? Aku baru saja menyapa ranjang dan istriku tiga jam lalu."
Dan Sasuke hanya perlu menjawab, "Aku ingin melakukan penyelidikan 'itu' malam ini."
Dia tahu, hanya dengan satu kalimat itu saja Naruto pasti sudah mengerti dengan sangat jelas apa yang dimaksudkannya. Itu sudah menjadi rahasia khusus di antara mereka. Seperti kode. Namun, kali ini, ada jeda yang cukup panjang, diisi oleh dialog sepasang suami istri yang membahas sesuatu sebelum Naruto menjawab. "Datanglah malam ini. Akan kusiapkan apapun yang kau butuhkan."
"Terima kasih."
Jeda panjang tanpa ada kata kembali terjadi. 'Yeah, tentu saja' yang tidak segera tiba menghentikan Sasuke untuk menekan tombol merah di handphone-nya—mengakhiri panggilan. Suara serak Naruto terdengar beberapa saat kemudian. "Sampai kapan kau akan terus melakukan ini, heh, Sasuke? Kau tahu jika penyelidikan ilegalmu selama dua tahun terakhir ini bisa mengakhiri apapun yang kau miliki sekarang bukan?"
Kali ini Sasuke yang terdiam. Memandang lalu lintas orang di sekelilingnya dengan tatapan kosong. Bertanya-tanya mungkinkah pembunuh putrinya ada satu di antara ratusan orang yang sesibuk semut itu. "Katakan apa yang kumiliki sekarang?"
Tidak ada jawaban. Sasuke tahu, Naruto tidak akan sanggup memberikan jawabannya.
"Yang kumiliki selama ini hanya Sakura—istriku, kau—sahabatku dan Sarada—putriku. Dan aku sudah kehilangan satu di antaranya—dan satu lainnya mungkin akan menyusul. Kulakukan ini … agar aku tidak kehilangan Sakura."
Terdengar helaan napas lelah dari dalam telepon. Lelah sekaligus memahami. Naruto angkat bicara kembali, mengulang kata-katanya. "Datanglah malam ini. Akan kusiapkan apapun yang kau butuhkan."
Dan kali ini, setelah Sasuke mengatakan 'Terima kasih', Naruto menjawabnya dengan 'Yeah, tentu saja'-nya yang biasa. Dan dengan lega, Sasuke dapat memencet tombol merah handphone-nya.
Malam ini dia akan kembali berburu.
.
…*…
.
Selagi tertawa, ingatlah …
tawa itu membakar jiwamu hingga mendebu.
Terbakar seperti masa lalumu.
Terbakar seperti masa depanmu.
Dan sang waktu mulai kian beringas
menunjukkan gigi-giginya yang setajam belati.
Mengoyak kesadaran,
menyatakan ilusi,
meremukkan teori.
Tetaplah waspada. Sebelum tawa itu membakarmu hingga habis.
.
…TBC…
.
A/N:
Terima kasih sudah membaca chapter ini.
Aku berniat untuk rajin meng-update tiap hari jumat. Semoga kali ini bisa lancar ^^
Ada satu sisi di mana aku ingin membuat Sasuke yang selama ini imejnya kampret dan ngeselin menjadi orang yang bener-bener peduli sama keluarganya meski dengan caranya sendiri. Dan karena itulah aku menulis kisah ini.
Terima kasih banyak. Mohon kritik dan sarannya.
(Dan jangan lupa ya, mulai bulan Oktober nanti IFA sudah masuk ke tahap nominasi :3 Segera daftar FF-FF favoritmu dan nominasikan lho ya! (Aku cuma mau numpang promosi aja #heh))
