Ada potongan mimpi yang terus merusak asa. Melenyapkan pencitraan yang diusahakannya untuk jadi nyata. Elegi berputar menyanyikan lagu-lagu sedih pengiring kematian. Membuat pria yang berdiri di depan nisan itu bertanya-tanya, kiranya siapa yang sudah mati? Putrinya kah? Istrinya kah? Atau mungkin … dia sendiri?

Siapa yang sesungguhnya terkubur di balik nisan keras dan dingin itu?

Siapa?

.

…*…

.

Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto.

Saya tidak mendapatkan keuntungan material apapun dari pembuatan fanfiksi ini.

Warning: Stright, AU, drack-fict, death chara, OOC, miss typo(s), etc.

Dipersembahkan untuk Ambar Lopita Allagan yang sudah menebakku dengan tepat. Dengan prompt 'SasuSaku, sepasang kekasih yang terjebak dalam kasus pembunuhan.'

Selamat membaca ^^

.

…*…

.

Malam mengantar basah aroma gerimis,

menutup amis dan asin yang menguar.

Di jalan, dengan jejak merah meraja

kegelapan menyusuri,

sabit kematian di tangan kanan, doa-doa di tangan kiri.

Mengantarkan …

… pengharapan semu.

Berbalut dalam sosok kematian

Bersama dalam sosok harapan

dan tubuh itu masih tetap berjalan sempoyongan

menghilang di balik aroma gerimis malam

.

…*…

.

Bar yang dimasukinya malam ini bukan lah bar yang bagus. Aroma bir murahan bercampur dengan keringat dan parfum wanita yang kelewat tajam—membuatnya muak. Dekorasinya pun payah, sama sekali tidak memiliki kesan artistik, jelas menunjukan jika tempat itu hanyalah tempat minum bagi mereka yang dompetnya tipis tak berisi. Wanita-wanita dengan dandanan menor sibuk menggesekkan tubuhnya pada para pelanggan, mengemis tips sebagai penghasilan tambahannya. Bartender berpenampilan lusuh dengan jenggot yang berantakan malas-malasan menuangkan minuman keras yang dicampur air pada pelanggan mabuk di hadapannya. Sesekali menanggapi rancauan makian dari mulut sang tamu yang teler.

Sasuke tidak bisa mencegah dirinya sendiri untuk tidak mengernyitkan hidung jijik. "Untuk apa kita datang ke tempat seperti ini?" tuntutnya pada sang rekan yang berjalan di depan.

"Untuk apa?" Naruto membeo dengan wajah polos, kemudian tersenyum lebar. "Tentu saja untuk minum-minum bukan? Kau terlalu tegang akhir-akhir ini."

"Naruto."

"Maaf, cuma bercanda. Lagipula, minum di tempat seperti ini sama sekali bukan seleraku—meski aku juga tidak keberatan." Naruto mengangkat bahu tak peduli, menarik salah satu kursi di sudut ruangan dan menjatuhkan bokongnya malas-malasan. "Tapi aku tidak bercanda saat bilang kita akan minum di sini. Namun tidak sendiri, tentu saja."

Sasuke memandang tajam temannya sebelum ikut mengambil kursi di samping si pirang. Mendengus singkat, sudah hapal benar dengan sikap suka bermain-main temannya. "Jadi, malam ini siapa?" tanyanya.

"Salah seorang teman lama. Bekerja di dunia hitam selama puluhan tahun dan memiliki reputasi yang luar biasa di kalangan para penjahat muda—kau bisa menganggapnya seorang kelas kakap kalau mau. Kudengar dia memiliki banyak info menarik yang bahkan mata-mata kepolisian pun tidak bisa mendapatkannya." Naruto melambaikan tangannya memanggil salah satu gadis bar, menyuruhnya untuk mengambilkan bir dengan kualitas terbaik dari gudang busuk yang mereka miliki. "Dan kau tahu sisi menariknya, dia sendiri yang menawarkan untuk membantu."

Sasuke menyipitkan matanya sekali lagi, mencoba menebak siapa kiranya gerangan yang akan ditemui mereka kali ini di antara pria-pria busuk bermasa depan suram itu. "Seorang teman lama, huh?"

"Kau pasti ingin memeluknya jika dia sudah datang nanti …." Mendapat tatapan tajam dari temannya, Naruto bersiul pelan. "… atau tidak."

"Kurasa aku sudah tahu siapa yang akan kita temui kali ini."

"Benarkah?"

Sasuke kembali mendengus, matanya menangkap sosok laki-laki tua dengan rambut pucat berjalan di antara meja-meja dalam balutan seragam pelayan lusuh. Masker gelap yang membalut ketat separuh wajahnya terlihat sama persis dengan yang ada dalam ingatan Sasuke. Tangannya membawa sebuah botol berisikan minuman keras pesanan Naruto. Bergumam pelan kembali, "Teman lama? Jangan bercanda."

"Mungkin lebih tepat jika dikatakan sebagai 'guru' bukan? Tapi dia membencinya jika kita memanggil seperti itu." Naruto menyeringai lebar. Melihat keengganan yang tergambar jelas di mata Sasuke. "Berhentilah bersikap seperti itu. Kau adalah murid kesayangannya, sambut dia."

"Omong kosong."

Pria tua dengan tubuh tegap dan gagah itu datang ke meja mereka, sama sekali tidak menunjukkan sikap seorang pelayan yang baik dan benar, karena dia langsung duduk di bangku ketiga meja itu dan menuangkan minuman keras untuk dirinya sendiri.

Naruto mendesah panjang. "Hei, itu pesananku."

"Sebuah kado kecil untuk kenalan yang akan membantumu, apa salahnya?" elak pria itu tak peduli. Menulikan telinganya dari protes Naruto yang mengatakan jika seharusnya dia meminta pada Sasuke, bukan padanya. Memandang dua pria di hadapannya. Menyeringai lebar. "Tampaknya bahkan waktu pun sudah mulai menunjukkan pengaruhnya pada kalian."

"Ya, dan aku mulai tidak bisa membedakan apakah itu warna rambut aslimu atau uban semua," Sasuke balas berkata. Menyipitkan matanya melihat sebegitu banyaknya kerutan yang kini menghiasi wajah pria tua itu. "Lama tidak bertemu, Kakashi-san."

"Jika kau mau tahu, sebenarnya aku lebih sering melihatmu dibanding yang kau tahu." Pria itu tersenyum kecil di balik masker gelapnya—yang menurut beberapa orang digunakan untuk menutupi bekas luka mengerikan di wajah pria itu, atau mungkin identitas sesungguhnya, siapa tahu? "Dan kurasa aku tahu pasti alasan kau—seorang detektif kepolisian yang telah memiliki nama—mau datang ke tempat ini."

"Berhenti merancau seperti seorang peramal bodoh. Kau sendiri lah yang menawarkan diri untuk memberikanku informasi."

"Tidak ada yang gratis, tentu saja."

Naruto mulai merasa tidak nyaman berada di tengah pembicaraan ini. Aura tegang yang jelas menguar di antara dua pria keras yang mengapitnya ini membuatnya mual. Lagipula, dia juga sama sekali tidak memperkirakan jika tawaran yang diberikan Kakashi akan melibatkan kata 'untung-rugi'. Namun, mengingat dunia yang mereka pijak sekarang bukanlah dunia yang aman dan dipenuhi oleh penggaruh uang, Naruto merasa seharusnya sudah sejak awal dia dapat menduganya.

"Apa harga yang kau inginkan?" Sasuke bertanya tanpa basa-basi terlebih dahulu.

"Bukan hal yang sulit untukmu. Sama seperti membalikkan telapak tangan. Kau pasti bisa melakukannya untukku." Ada jeda yang cukup menegangkan saat Kakashi menahan persyaratannya. Matanya memandang wajah tanpa ekspresi Sasuke, hendak memberikan pujian tentang ketenangan yang ditunjukkan sang detektif. "Aku ingin kau menghapus namaku untuk setiap kasus kejahatanku yang pernah tercatat di kepolisian."

Sasuke menggeleng singkat. "Mustahil. Kau pikir berapa banyak kejahatan yang telah kau lakukan seumur hidup, heh?"

"Aku tak pernah sudi untuk menghitungnya. Terlalu banyak. Kau bisa menanyakan pada malaikat yang berrtugas mencatatnya jika sudah mati nanti." Kakashi menyunggingkan senyum dalam hati mendengar Sasuke mendecih dan bergumam, 'Akan kulakukan'. Matanya terpejam untuk sesaat. "Aku hanya ingin mulai mencoba untuk menjalani hidup bersih. Apa salahnya itu?"

"KAU?!" Naruto otomatis berteriak tidak percaya. "KAU mencoba untuk hidup bersih?! Sial, aku terlalu lengah setelah ramalan kiamat 2012 berlalu. Aku belum membeli tempat perlindungan untuk besok!"

"Bukan untukku. Namun untuk seseorang yang menjalani hidupnya denganku sekarang. Jika bisa, aku tidak mau meninggalkannya sendiri untuk hidup di dalam bui. Usia kami sudah tidak semuda dulu. Sekarang saatnya untuk menikmati masa tua dan mencoba untuk menjadi warga negara yang tertib hukum."

"'Mencoba' adalah kata kuncinya. Aku tidak yakin kau akan sanggup bertahan untuk satu minggu tanpa terlibat adu pukul di gang kotor," Naruto berspekulasi dengan nada sinis.

Kakashi hanya terkekeh mendenggarnya.

Sasuke diam. Memikirkan betapa seseorang dapat mengubah jalan hidup orang lain. Andai kata dulu dia terlambat bertemu dengan seorang Haruno Sakura, mungkin sekarang dia sudah terjun ke dunia yang sama dengan yang ditempuh Kakashi dan Naruto. Jika dia boleh berpendapat, dia akan mengatakan jika keputusan Kakashi untuk keluar sekarang adalah hal yang bodoh dan tidak masuk akal. Namun yang pada akhirnya lolos dari mulutnya hanyalah, "Kita lihat saja, sejauh apa aku bisa melakukannya."

Kakashi mengangguk puas. "Apa aku harus berterima kasih karena kau mau melakukannya?"

"Cukup katakan informasi yang kau janjikan saja. Seperti perjanjian yang kita sepakati di awal."

Kakashi mencondongkan tubuhnya ke depan, menyingkirkan gelas minuman yang belum disentuhnya sama sekali. Berkata dengan nada dalam. Memasang wajah paling serius yang dimilikinya. "Informasi ini kudapatkan dari salah seorang teman yang bekerja di dalam …"

Naruto sama sekali tidak bisa berkonsentrasi pada kabar yang dibawakan Kakashi. Tidak selama Sasuke memasang wajah ngeri penuh kebencian untuk pertama kalinya selama dia mengenal pemuda itu. Dirasakannya bulu kuduknya berdiri.

Sasuke menggeram. "Kau pasti bercanda."

"Aku akan memberikan beberapa bukti kalau kau mau."

Tangan pemuda berambut gelap yang ada di atas meja mengepal erat, terlalu erat hingga tetes-tetes merah gelap—bukan angur—jatuh di permukaan meja yang kotor. "Jika memang benar itu yang terjadi, maka aku berterima kasih pada Tuhan. Karena dengan ini, aku diberikan kesempatan untuk membalaskan dua luka yang telah dia cetak selama hidupku."

.

…*…

.

Jantungku

kusimpan dalam genggamanmu.

Dan kubiarkan kau merematnya,

atau menghancurkannya.

Dan saat darah jatuh darinya …

… kubiarkan kau menangis.

Tapi tak kubiarkan kau melupakanku.

Karena jantungku

kusimpan dalam genggamanmu.

.

…TBC…

.

A/N:

Terima kasih sudah membaca kisah ini ^^

Kurasa kalian sudah tahu kira-kira informasi apa yang diberikan oleh Kakashi dan siapa yang kiranya menjadi pelaku pembunuhan Sarada bukan? Meski aku akan membukanya lagi di chapter berikutnya.

Dan … asdfghjkl maaf banget kalau gaya bahasaku berubah jadi agak kasar di chapter ini TTwTT. Nulis bagian crime mengingatkanku sensasi lama saat aku sedang masa aktif nulis tentang dunia mafia, crime dan gore, tidak bisa dicegah …

Mungkin itu aja yang bisa aku sampaikan sekarang. Mohon kritik dan sarannya ya ^^

Yogyakarta, 25 September 2015

Hime Hoshina.