Mengacu malam, sang kekasih menemukan cinta sejatinya.

Di bawah taburan bintang, di antara kelopak bunga yang berjatuhan. Saat dua pasang mata beda warna bertemu, saling pandang dengan kerinduan yang tak dipahami masing-masing, keduanya sadar. Pertemuan mereka kali ini telah dituliskan oleh takdir.

Namun saat kedua tangan saling terjulur dan menyentuh, merasakan bulu-bulu halus di tangan sang pasangan berdiri, keduanya merinding. Hanya salah satu dari mereka yang sadar, takdir tidak mempertemukan mereka untuk menuntaskan salah satu kisah cinta paling bahagia di muka bumi.

.

…*…

.

Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto.

Saya tidak mendapatkan keuntungan material apapun dari pembuatan fanfiksi ini.

Warning: Stright, AU, drack-fict, death chara, OOC, miss typo(s), etc.

Dipersembahkan untuk Ambar Lopita Allagan yang sudah menebakku dengan tepat. Dengan prompt 'SasuSaku, sepasang kekasih yang terjebak dalam kasus pembunuhan.'

Selamat membaca ^^

.

…*…

.

Kita hanyalah air mata yang dipaksa untuk mengalir

kehilangan tempat bermuara dan jatuh sia-sia.

Yang menunggu di bawah sana …

hanyalah duka, dan ketiadaan yang tak berbentuk

Nestapa

Menjalin akar-akar abadi yang melilit menumbuhkan duri

menusuk hingga ke nadi

mengalirkan darah

menemani kita, air mata.

.

…*…

.

Sasuke kira, dia tidak akan pernah lagi sanggup untuk melihat wajah tertidur istrinya.

Tidak.

Bagaimana bisa dia dapat melihat wajah itu tertidur dengan tenangnya sementara di alam bawah sadarnya, sang istri sedang diganggu oleh mimpi-mimpi sedih? Itu terlalu menyakitkan untuknya. Jauh lebih menyakitkan dibandingkan saat dia melihat, dengan mata kepalanya sendiri, saat segala ketegaran, kekuatan, dan ketangguhan seorang Uchiha Sakura ditarik paksa dari tubuh sang wanita. Meninggalkan kerapuhan, kelemahan dan kesedihan padanya.

Namun, kini itulah yang dilakukannya. Duduk di samping futon istrinya, membelai kepala wanita itu selembut yang dia bisa. Berharap sentuhannya akan tersalur ke dalam mimpi, memberikan sedikit kedamaian dan ketenangan di antara mimpi buruk yang tak usai berputar. Jemarinya terasa bergetar, dan getaran itu menakutkan dirinya. Seolah-olah pergerakan mikro itu sanggup menghancurkan kesan tangguh yang dicobanya untuk tetap utuh.

Suara Kakashi Hatake berputar di kepalanya, tak mau lepas. Memberikan gambaran mengerikan yang mengalir seperti film rusak. Berulang dan berulang, membuat Sasuke mengepalkan tangannya erat-erat.

"Informasi ini kudapatkan dari salah seorang teman yang bekerja di dalam. Kau bisa menyebutnya sebagai mata-mata—namun aku tidak merekomendasikannya, dia hidup di jalan yang lurus, dan membenci segala hal berbau kriminalitas. Dan kujamin kau bisa mempercayai apa yang kukatakan, aku punya bukti yang bisa meyakinkanmu."

Sepasang mata hijau terbuka perlahan, masih sayup-sayup terbawa kantuk. Mengedip sekali, dua kali, memandang pria yang duduk di sampingnya dengan tatapan yang begitu lembut—namun di satu sisi juga terlihat begitu kosong, seolah tak bernyawa. Tangannya terulur ke arah sang pria, "Sasuke …," panggilnya pelan.

"Kurasa kau sendiri sudah tahu. Segala hal di dunia ini tidaklah semudah yang bocah kecil bayangkan. Para pejabat yang korub, para ibu yang membunuh anaknya sendiri, para dokter jiwa yang menelantarkan pasiennya—tolong, garis bawahi yang terakhir."

"Ya." Sasuke menyentuh tangan lembut sang istri, membawanya ke wajahnya sendiri, membelaikannya ke pipinya yang kasar, memejamkan matanya. "Aku ada di sini, Sakura."

"Tanpa aku harus mengatakannya lebih lanjut sekalipun, kau sudah mengerti bukan, Sasuke."

Wanita itu tersenyum kecil. "Kau sudah pulang? Larut sekali."

"Ada pekerjaan yang tidak bisa aku tinggalkan, Sakura. Bukankah aku sudah mengatakannya?"

"Ya." Wanita itu hendak menarik tangannya dan bangkit duduk, menyetarakan pandangannya dengan sang suami, namun Sasuke menahannya. Memberikan gestur agar Sakura tetap beristirahat, memintanya untuk kembali tidur. Wanita itu tersenyum kecil—sedikit terlihat lelah. "Selama kau pergi, aku bermimpi buruk."

Sasuke sesungguhnya tidak ingin bicara, dia ingin membiarkan istrinya kembali tidur, meski itu berarti meminta Sakura kembali tenggelam dalam mimpi-mimpi buruknya. Namun satu-satunya yang keluar dari bibirnya hanyalah, "Katakanlah, mimpi buruk apa yang menghantuimu. Dan aku akan menghapuskannya, hingga kau melupakannya."

"Aku menolak."

"Mengapa?"

"Bukankah, kata orang-orang tua, menceritakan mimpi buruk yang kita alami pada orang lain dapat menjadikannya kenyataan?" Sakura berbisik dengan nada lirih. Matanya yang indah semakin terlihat kosong, seperti mata kaca boneka perempuan yang ada di lemari penyimpanan. Cantik, namun tidak berjiwa. "Aku tidak mau itu terjadi."

Sasuke menggenggam tangan yang membelai pipinya itu selembut mungkin. Merasakan darah yang mengering di permukaan tangannya menggesek kulit lembut Sakura, sedikit membuka kembali luka tersebut, membuatnya merasakan perih—tidak seperih perasaan ganjil yang ada dalam hatinya. "Katakan padaku. Bagaimana caranya aku dapat mencegah segala kejadian buruk yang mungkin terjadi jika kau tak mengatakannya padaku?" Walau aku sudah kehilangan kesempatan untuk mencegahnya.

Sakura memejamkan matanya erat-erat. Keringat mengalir dari dahinya, air mata menetes dari sudut gelap matanya.

Bukan untuk pertama kalinya, Sasuke mengamati jika mata itu terlihat begitu lelah pada kehidupan, cahaya yang sudah meredup, bagian putih yang ternoda serat-serat merah … dan kantung mata hitam di bawahnya. Sudah berapa lama Sakura selalu menghabiskan malam-malamnya dengan mengalirkan air mata dan membohongi dirinya sendiri?

Tangan sang wanita gemetar pelan. Tampak tengah kembali memvisualkan mimpi yang sesungguhnya tak ingin kembali diingatnya. "Aku memimpikan Sarada meninggal."

Sasuke tak menimpalinya, tahu benar jika kalimat itulah yang akan keluar.

"Mimpi itu sangat buruk. Begitu buruk hingga rasanya seperti kenyataan," Sakura berbisik pelan. "Aku baru saja makan malam berdua dengannya, mengabarkan jika kau akan pulang terlambat karena kasus perampokan yang terjadi di pinggir kota. Dia mengatakan dia akan menungguku di kamar sembari membaca buku hadiah ulang tahunnya darimu sementara aku mandi. Namun saat aku masuk ke kamar menyusulnya, dia sudah tak ada. Jendela terbuka. Dan jejak darah ada di mana-mana. Aku menjerit ketakutan, langsung meloncati jendela dan mengikuti jejak darah itu … namun yang kutemukan … yang kutemukan … hanya … hanya …."

Isakan Sakura yang muncul tiba-tiba memotong ceritanya. Sasuke memejamkan matanya erat-erat. Tidak ingin mendengar isak yang begitu menyakitkan itu. Meski telinganya berkhianat, suara miris Sakura masuk ke dalam lubang telinganya, merobek gendangnya, merongrong otaknya, hingga akhirnya mencabik hati nuraninya.

Wanita itu mengeratkan genggaman tangannya pada Sasuke, hingga kukunya yang diwarnai merah jambu menusuk ruas-ruas jari kapalan suaminya. "Sarada … katakan padaku, Sasuke. Itu semua hanya mimpi …. Katakan padaku, Sarada baik-baik saja. Dia ada di kamarnya … tertidur karena kelelahan membaca buku dan menunggumu pulang … katakan padaku, Sasuke."

Sasuke menggenggam tangan istrinya erat. Menciuminya lembut. Biasanya dia akan berteriak, mengatakan jika Sarada sudah meninggal dan Sakura harus menerimanya. Namun dalam keadaan seperti ini …

"Sasuke, katakan padaku …"

"Ya." Saat dia mengatakannya, kering di tenggorokan dan serak di suaranya seolah mengejeknya. Mengatakan dengan jelas jika dia tengah berdusta. "Sarada ada di kamarnya. Tertidur … bukunya dijadikan pengganti bantal. Aku sudah menyelimutinya. Dia … dia mengigaukan kita … sepertinya memimpikan janji kita untuk mengajaknya ke kebun binatang minggu depan—di hari cutiku. Dia … dia baik-baik saja. Sarada baik-baik saja …."

Dan betapa perihnya dia melihat senyum bahagia mengembang di wajah Sakura. Senang mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Sasuke. Wanita itu melepaskan tangannya dari genggaman sang suami. Berbisik, "Ah, kebun binatang. Kita akan benar-benar pergi ke sana bukan? Sarada pasti sudah benar-benar mengarapkannya hingga mengigau seperti itu. Dia selalu bertanya-tanya kapan kiranya kau tidak sibuk bekerja. Dia ingin menghabiskan waktunya denganmu, Sasuke." Sakura memejamkan matanya, mengatur napasnya agar kembali teratur. "Kau tahu? Aku juga sudah tidak sabar menunggunya. Sudah berapa tahun kita tidak pergi ke kebun binatang? Betapa menyenangkannya jika aku bisa memimpikan hal yang sama."

"Kau bisa memimpikannya jika kau mau."

Dan itu hanya akan berakhir sebagai mimpi tanpa pernah menjadi nyata sama sekali.

Sasuke terus ada di sana sampai dia yakin jika Sakura sudah benar-benar tertidur. Mengusap-usap rambut sang wanita beberapa kali sebelum dia bangkit berdiri. Berjalan tanpa suara di lorong rumahnya.

Hantu anak kecil berlarian di sana, keluar dari memorinya di masa lalu. Bersembunyi di balik pintu, mengintip dari samping lemari, berdiri di depan rak foto. Hantu gadis kecil dengan mata dan rambut gelap, dan ekspresi minim bertengger di wajahnya—sangat serupa dengan dirinya sendiri.

Hantu anak perempuan itu terus ada di sekitarnya, berpindah tempat seiring dengan bergeraknya langkah kakinya, memanggilnya berulang kali dengan panggilan yang sama.

'Ayah.'

'Ayah?'

'Ayah …'

'Ayah!'

Sasuke menghentikan langkahnya di depan sebuah kamar yang pintunya berlapiskan debu. Sama sekali tidak pernah tersentuh selama empat tahun terakhir—baik olehnya ataupun Sakura. Diulurkannya tangan untuk menarik pintunya hingga terbuka. Mengamati kamar anak perempuan yang kotor dan penuh debu serta sarang laba-laba.

Foto seorang anak perempuan terpajang di meja, berdiri gagah di hadapan dia dan Sakura yang tersenyum penuh kebanggaan. Membawa sebuah medali berwarna emas dengan pita merah, hadiah dari kemenangannya di cabang bela diri.

Gadis itu … dia adalah sang hantu yang mendiami rumahnya. Yang terus memanggil-manggil namanya dan menyeret istrinya dalam kegilaan yang entah sampai kapan akan berlanjut.

Gadis itu …

… Sarada.

Sasuke melangkah masuk, tidak peduli jika kaus kakinya akan kotor terkena debu di atas tatami yang tak dibersihkan bertahun-tahun. Matanya terpaku pada sosok gadis kecil di dalam bingkai foto. Tangannya mengusap foto itu perlahan, memperjelas paras sang gadis kecil.

Mata hitam di dalam foto itu memandangnya tajam, langsung ke dalam matanya. Begitu hidup dan nyata.

Hantu anak kecil berdiri di belakangnya. Tubuhnya tak lagi bersih. Kini berlumuran darah merah pekat. Bibirnya bergerak, mengeluarkan suara serak yang mengerikan. 'Ayah, mengapa kau tidak pulang malam itu, Ayah? Mengapa kau mengingkari janjimu untuk melindungiku? Mengapa kau membiarkanku mati, Ayah?'

Dia tahu, itu hanya ilusinya. Namun dia tetap menjawabnya juga. "Maafkan Ayah, Sarada. Kali ini pasti … pasti Ayah akan membalaskan dendammu. Dan melindungi ibumu."

Suara Kakashi bergema di dalam pikirannya. Mengulang dua kalimat yang terucap sejak beberapa jam lalu.

"Kakakmu—kakakmu yang sudah membunuh seluruh anggota keluargamu—keluar dari rumah sakit jiwa. UchihaItachi, dialah yang sudah membunuh Sarada. Untuk menyelesaikan misinya menghabisi tiap anggota keluarga Uchiha. Dan mungkin … besok giliranmu."

.

…*…

.

Mengunjungi malam yang sepi

di mana kunang-kunang mematikan cahayanya

dan kucing-kucing hitam terlalu takut untuk mengeong

Benang-benang merah yang menghubungkan kita,

Tidak semudah itu lepas.

Karena ikatan darah

adalah ikatan abadi di antara kita

.

…TBC…

.

A/N:

Terima kasih sudah membaca chapter ini ^^

Ahahaha, kurasa chapter sebelumnya aku pernah menyinggung sedikit kalau Itachi pernah membunuh keluarganya … kan? Kalau nggak salah di chapter 2 ….

Kalau ada yang tanya-tanya apa pekerjaan Naruto di cerita ini … dia yakuza. Makanya dia punya banyak akses sama dunia bawah tanah. Temasuk ke daftar pembunuh bayaran, perdagangan senjata, narkoba dll (Maaf, ini efek habis baca beberapa cerita tentang yakuza yang greget dan nggak bisa lepas …) . Sementara Kakashi adalah mantan kriminal dan pemberi informasi bawah tanah. Dia punya akses di berbagai bidang, baik itu yang resmi atau nggak. Termasuk ke rumah sakit jiwa …

Oh ya, mau balas review yang nggak login ^^ Yang login, kita ngobrol di PM ya~~

sachaan05: Yup, makasih ya. Aku kan tetap semangat kok. Kisah ini aku harap bisa rutin update tiap hari Jumat ^^

Mohon kritik dan sarannya ya ^^

Bali, 2 Oktober 2015

Hime Hoshina.