Dikarenakan pengerjaan yang cukup dipercepat, kemungkinan ada typo dan alur cerita yang kurang mulus. Aku janji nanti bakal di edit biar lebih enak bacanya, tapi yang penting sekarang update dulu hehe.

.

Note :

Isi hati Naruto

Isi hati Sasuke

'Isi hati yang lainnya'


"Sasuke-kun, jadi gimana menurut kamu? Kira-kira judul mana yang lebih bagus?"

"Hn."

"Oke." Narumi pun mengetik judul untuk makalah yang akan mereka buat. Dengan persetujuan dari sang Uchiha akhirnya mereka telah menentukan judul makalah untuk tugas mereka. Tapi ya Sasuke tidak berkata apa-apa. Entah bagaimana caranya Narumi mengartikan jawaban Sasuke.

Apa? Jangan lagi. Aku yang gila atau perempuan ini memang penyihir?

Sasuke sedang mengalami perang batin saat ini. Apa bisa disebut perang jika tidak ada lawannya ya? Bukan itu intinya. Dia sedang berpikir keras tentang gadis yang ada di hadapannya. Sedang menimbang-nimbang makhluk apa sebenarnya dia itu. Apa benar seorang penyihir, sejenis makhluk menyeramkan lainnya, atau hanya seorang gadis biasa yang mampu membaca pikiran orang lain?

Meskipun OOC tapi Sasuke tetaplah seorang Uchiha. Selama ini tidak pernah ada yang bisa mengartikan 'hn' nya sebagai sebuah kalimat utuh yang dia utarakan dalam batinnya. Bagi semua orang 'hn' nya hanya berarti 'hn', tidak ada yang lain. Mungkin hanya sebatas ya dan tidak. Itu pun mereka tidak yakin yang mana.

Sampai saat ini hanya Narumi yang bisa mengartikan 'hn' nya menjadi kalimat sesungguhnya(?). Bahkan para Uchiha yang lainnya pun tidak memiliki kemampuan itu. Karena itu pula lah Sasuke berpikir bahwa Narumi ini bukan manusia biasa. Tapi dia tidak percaya pada hal-hal yang tidak ilmiah, karena itu jadi semakin membingungkan. Kasihan Sasuke, padahal jawabannya mungkin lebih sederhana dari apa yang dia pikirkan.

Sasuke menatap Narumi lekat-lekat. Dilihatnya dari ujung ke ujung, atas ke bawah, depan belakang, mencari sesuatu yang mungkin janggal pada tubuh gadis tersebut. Siapa tahu dia menyembunyikan ekor di tubuhnya atau lebih dari itu. Wajah stoic nya tidak berubah sepanjang penelitiannya. Meski di dalam dia sedang putus asa mencari jawaban dari kejanggalan ini.

Tidak ada yang aneh dengan tubuhnya, atau dia menyembunyikannya dengan baik. Ternyata makhluk ini meskipun bodoh ternyata pintar juga (what?). Bagaimana dia bisa melakukannya?

"Melakukan apa Sasuke-kun?" tanya Narumi dengan senyum manis di wajahnya. Sasuke yang sedang serius kaget mendengar pertanyaan tersebut. "Terus kenapa liat Naru kayak gitu? Ada yang salah ya?"

Sial! Aku, sang Uchiha ini, tertangkap basah oleh seorang gadis bodoh nan menjengkelkan sedang menatap dan menilitinya. Oh tidak! Apa yang akan dikatakan orang-orang jika mereka tahu?! Dan lagi-lagi dia membaca pikiranku. Apa sebenarnya makhluk ini?! Apa dia tidak tahu yang namanya privasi? Karena itu kau mengatakannya dalam hati karena tidak seharusnya orang lain tahu dasar Dobe! Penyihir berambut pirang! Keluar kau dari otakku!

"Sasuke-kun? Kamu ga suka rambut Naru ya? Maaf deh, tapi Naru ga bisa rubah. Jangan-jangan Sasuke-kun ga suka warna cerah ya? Naru liat Sasuke-kun selalu pake baju yang warnanya gelap."

Ha, bukan urusanmu aku memakai warna gelap atau bukan! Urus saja urusanmu sendiri, kuning! Ya, aku tak suka rambut jelek yang kau bangga-banggakan itu. Melihatnya ingin sekali kujambak lalu kugunting kecil-kecil dan kubuang ke lautan. Tapi aku kasihan pada ikan-ikan di laut karena habitat mereka akan tercemar oleh untaian menjijikan yang kau sebut rambut itu!

Wah, tidak menyangka ternyata kepribadian Sasuke seperti itu ya. Padahal dia terlihat sangat cool di luar dan banyak juga gadis-gadis yang menyukainya karena itu. Tidak lupa dengan otak Uchiha-nya yang cemerlang. Tapi ternyata di dalamnya ckckck.

Menghadapi Sasuke yang seperti ini sepertinya Narumi tidak terganggu. Tapi bagaimana dengan Naruto sendiri ya? Mari kita dengar isi hatinya.

Benar-benar. Apa yang salah dengan Uchiha satu ini? Apa dia tidak sadar kalau dia sedang mempermalukan marganya itu? Haa, apa aku mendiskusikan ini dengan Itachi saja, ya? Dia kan sedang ada di Jepang. "Sasuke-kun, untuk hari ini sampai sini aja dulu ya. Besok kita lanjut lagi. Kita ketemu lagi di sini ya." Sebaiknya cepat-cepat pulang sebelum kesabaranku habis.

"Hn." Baguslah. Aku pun sudah muak berada di tempat yang sama denganmu penyihir! Aku harap kita tidak bertemu lagi!

"Dah Sasuke-kun. Sampai besok." Mengapa dia besikeras menyebutku penyihir? Apa dia tidak sadar dirinya lebih menyeramkan daripada penyihir? Sepertinya otaknya terbentur sewaktu kecil. Kasihan sekali.

Narumi pun membereskan barang-barangnya dan segera pergi menuju tempat parkir. Setelah dia sampai dan masuk ke dalam mobil dia merenung sejenak. Sepertinya dia tidak akan bisa lepas dari masalah ini dengan mudah karena tanpa disadari dia telah memasukkan satu lagi Uchiha kedalam ruang hidupnya. Tentunya dengan permasalahan yang lain dengan Uchiha yang lainnya. Kasus Sasuke ini unik dan menarik. Bukan berarti menyenangkan, tapi menarik.

"Aku harus menghubungi Sai agar dia cepat kembali."


~Sore harinya di kediaman Uzumaki~

"Ne Ino-chan, apa sudah menghubungi Sai?"

"Udah, Naru-chan. Dia seneng banget denger kamu minta dia pulang. Meski katanya dia masih belum puas ngobrol sama sepupunya itu tapi demi kamu dia bakal pulang cepet. Ya tau sendiri lah Sai kayak gimana," jawab Ino.

"Hm, bagus lah. Mungkin lain waktu aku akan mengundang Itachi kemari."

"Itachi itu orangnya kayak apa sih?" tanya Temari.

"Bagaimana ya. Tidak jauh berbeda dengan Uchiha yang lain tapi dia itu bisa dibilang paling cerdas di antara para Uchiha lainnya. Dia pun Uchiha termuda yang sukses di Konoha, bisnisnya sampai terkenal ke luar negeri. Selebihnya nanti kalian lihat sendiri saja kalau dia kemari."

"Wah, berarti dia itu orang penting ya. Apa iya dia mau dateng ke sini?" kali ini Tenten yang tanya.

"Pasti datang."

"Kamu yakin banget Naru-chan," timpal Tenten ragu.

"Tentu. Kalau aku minta dia pasti datang."

Sebenarnya mereka agak sangsi. Bukan meragukan kedekatan keluarga mereka, tapi dari cerita Naruto terdengar bahwa Itachi itu orang yang sangat penting dan juga sibuk. Apa benar dia akan datang hanya karena Naruto memintanya? Tapi melihat keyakinan di wajah Naruto, mau tidak mau mereka percaya.

Mendengar pernyataan Naruto, Sakura hanya tersenyum. Dia tahu bagaimana hubungan kedua pemuda itu. Meskipun belum lama mengenal Itachi tapi dia sudah cukup tahu bagaimana kedekatan mereka berdua. Tidak perlu diragukan lagi bahwa Itachi bersedia melakukan apa saja yang Naruto minta.

"Berapa lama Sai akan sampai kemari?"

"Tadi dia bilang sih sekitar satu jam, soalnya mau ngerampok oleh-oleh dari sepupunya dulu. Ada-ada aja dia."

"Satu jam? Dari Uchiha mansion ke sini hanya butuh waktu lima belas menit dengan mobil. Dia pasti merencanakan sesuatu untuk Itachi. Atau mereka berdua sedang merencanakan sesuatu. Lebih tepatnya begitu."

"Dari mana Naru-kun tau?" Hinata bertanya. Oh sejak tadi ada Hinata rupanya.

"Kebiasaan lama. Sepertinya nanti akan ada yang menarik saat Sai pulang. Kita tunggu saja." Naruto mengatakan semua itu dengan senyum yang menandakan bahwa dia menantikan kejutan yang akan datang. Keempat gadisnya hanya saling bertatapan tidak mengerti, hanya Sakura yang ikut tersenyum mengerti.

Karena tidak bisa menebak apa yang ada di kepala sang pemuda yang mereka puja itu mereka pun menunggu kedatangan Sai dengan sabar sambil menghabiskan waktu bersama. Lima menit lebih dari waktu yang dijanjikan akhirnya Sai pun muncul dengan senyum tipis di bibirnya.

"Kau terlambat Sai," protes Naruto.

"Saya tahu. Maaf atas kelalaian saya, Tuan muda Naru," jawab Sai sopan tidak lupa sambil membungkukkan badannya ke arah Naruto.

Para gadis yang sedang duduk berkumpul dengan Naruto itu, kecuali Sakura, kaget mendengar tata bahasa yang keluar dari mulut Sai. Memang Sai adalah asisten pribadi Naruto jadi sudah sepantasnya dia bertutur kata seperti itu. Namun tidak pernah, sekali lagi, tidak pernah mereka mendengar Sai berkata sopan seperti yang sedang dia lakukan sekarang kepada Naruto. Belum sempat mereka bertanya Naruto melanjutkan percakapan dengan Sai.

"Hm, karena ini adalah hari spesial untukmu jadi kumaafkan. Tidak ada lain kali. Kulihat kau sedang dalam mood yang bagus. Apa ini ada hubungannya dengan Itachi?"

"Terima kasih sebelumnya atas kebaikan anda, Tuan muda. Benar sekali, saya baru saja menghabiskan waktu dengan kakak sepupu saya, Itachi. Dia pun menyampaikan salamnya untuk anda."

"Sampaikan juga salamku padanya. Berapa lama dia akan tinggal di Jepang kali ini? Aku berniat mengundangnya kemari lain hari. Jika dia tidak keberatan."

"Itachi-san akan tinggal sampai akhir bulan ini, Tuan muda. Saya yakin dia akan senang sekali menerima undangan anda."

"Bagus. Kalau begitu kau boleh pergi. Kita akan melanjutkan pembicaraan kita setelah kau beristirahat."

"Terima kasih, Tuan muda. Permisi." Sai pun pergi menuju kamarnya yang terletak tidak terlalu jauh dari kamar utama, yaitu kamar Naruto. Sebagai asisten pribadi dia harus siap setiap waktu Naruto membutuhkannya.

Beberapa menit keheningan setelah Sai pergi meninggalkan mereka menuju kamarnya, akhirnya Tenten pun membuka mulut menyuarakan pertanyaan yang ada di kepala tiga gadis lainnya. "Sai kenapa? Apa jangan-jangan dia tabrakan di jalan pulang ke sini?"

"Hahaha, dia tidak apa-apa Tenten-chan. Hahaha, sudah kuduga kalian akan kaget." Naruto tidak bisa menahan tawa melihat kebingungan di wajah para gadisnya.

"Apanya yang lucu, Naru-chan? Gimana kalau Sai bener-bener sakit? Siapa yang mau ngurus?"

"Tenang saja, Temari-chan." Temari tidak pernah suka orang memanggil dia dengan embel-embel 'chan', tapi jika Naruto yang memanggil dia merasa dimanja meskipun dia lebih tua dari Naruto. Bahkan saudaranya pun tidak berani memanggilnya dengan embel-embel 'chan'. Bisa mati dicekik nanti. Hanya Naruto saja yang boleh. "Tunggu saja sepuluh menit, dia akan kembali seperti semula."

"Dari mana Naru tau?"

"Tradisi."

Mereka semakin tidak mengerti dengan pernyataan Naruto. Tapi ya apa boleh dikata tidak ada yang bisa mereka lakukan selain mengikuti permainan ini. Sepuluh menit berlalu tepat dengan suara keras dari pintu kamar Sai yang terbuka dengan sekuat tenaga oleh penghuninya sendiri. Tidak lama diikuti oleh pekikan yang tinggi dari sang asisten.

"Naru-kuuuuuuun!" Sai berlari menuju Naruto, mendorong para gadis yang sedang bersandar pada Naruto menyingkirkan mereka lalu memeluk Naruto dengan erat. "Aku rindu, rindu, rindu. Kau tahu bagaimana rasanya aku hidup tanpa melihatmu selama berminggu-minggu? Aku tidak sanggup."

Sai memang manja pada Naruto. Satu lagi kejanggalan di mansion Namikaze-Uzumaki ini. Sai memang berkerja sebagai butler Naruto di rumah ini. Tidak perlu diragukan soal kemampuan dia bekerja, walau bagaimanapun dia seorang Uchiha. Yang salah hanya sifatnya saja. Tentu dia tidak menunjukkannya di depan umum karena dia masih harus menjaga nama baik Uchiha. Tapi di sini dia sangat manja pada majikannya.

Kalian bisa bayangkan jika Gaara dan Sai bertemu. Mereka saling tidak mau melepaskan pelukan mereka pada Naruto dan saling tidak mau mengalah. Seperti anak kecil yang sedang berebut perhatian ibunya. Hanya saja Naruto bukan ibu mereka. Biasanya perseteruan mereka akan berakhir dengan satu pukulan keras di masing-masing kepala mereka dari tidak lain dan tidak bukan Sakura.

Naruto sendiri tidak keberatan dengan perlakuan yang dia terima. Sering kali dia hanya tertawa melihat tingkah laku orang-orang di sekitarnya. Dia tahu mereka melakukan itu semua karena mereka menyayangi dirinya.

"Hanya tiga hari saja, Sai. Lagi-lagi kau melebih-lebihkan. Bagaimana liburanmu bersama Itachi? Ada yang menarik?"

"Tapi begitulah yang kurasa," protes Sai sambil cemberut. "Kau tahu sendiri bagaimana jika aku dan Itachi bertemu. Kali ini otak jahilnya sedang tidak berfungsi. Entahlah aneh menurutku. Berapa kali kau mendengar dia tidak ada ide? Hampir tidak pernah. Kau harus melihatnya, mungkin saja dia akan mendapatkan ide nanti."

"Tentu. Seperti yang sudah kukatakan tadi aku memang berniat mengundangnya kemari."

"Baguslah kalau begitu. Selalu asik jika kita bertiga berkumpul."

"Tunggu, tunggu." Akhirnya Ino memutuskan untuk mengakhiri rasa penasarannya dengan memotong perbincangan Naruto dan Sai. "Aku masih ga ngerti. Apa itu barusan? Ada apa sama Sai? Apa maksudnya Itachi ini Itachi itu? Ide apa? Aku ga ngerti."

"Iya kita juga ga ngerti. Ini ada apa sih sebenernya?" tambah Tenten. Sakura hanya terkikik mendengar pertanyaan para saudarinya. Yah karena mereka sangat dekat bisa dibilang mereka sudah seperti saudara kan.

"Kenapa Sakura malah ketawa?" terlihat kebingungan di wajah Hinata dan juga tiga gadis lainnya.

"Bersedia untuk menjelaskan pada mereka Sakura-chan?"

"Dengan senang hati, Naruto. Jadi gini, yang dimaksud Naruto tradisi itu setiap kali Sai ngabisin waktunya sama Itachi atau sama anggota Uchiha lainnya mendadak jiwa Uchiha nya keluar. Ya kayak yang tadi kalian liat itu. Walau gimana pun dari kecil Sai juga dididik sebagaimana Uchiha sejati. Sopan santun, tata krama dan segala macamnya. Tapi ga akan bertahan lama khususnya kalau udah ngelihat Naruto pasti manjanya keluar deh."

Terlihat para saudarinya mengangguk-angguk tanda mengerti. Tapi masih ada bagian yang hilang yang selanjtunya disuarakan oleh Ino. "Terus maksudnya ide itu apa?"

"Naruto, buat yang ini mendingan kamu aja yang jelasin."

"Itu tradisi lain. Setiap Itachi dan Sai bertemu mereka selalu merencanakan berbagai macam ide untuk mengerjai korban favorit mereka alias Sasuke. Baru-baru ini aku mengetahuinya dan mereka terkadang mengajakku untuk bergabung tapi ya aku kan tidak terlalu mengenal Sasuke," saat mendengar kata-kata ini Sai melempar tatapan aneh pada Naruto tapi Naruto tidak melihatnya, "jadi aku tidak terlalu punya banyak ide."

"Kenapa mereka senang menjahili Sasu-nii?" Hinata tidak mengerti.

Untuk pertanyaan ini Sai yang menjawab. "Karena Sasuke itu tempramental jadi asik sekali melihat reaksi dia saat dikerjai. Lagipula tidak peduli seberapa sering kita mengerjainya dia selalu masuk dalam perangkat seakan-akan dia tidak belajar dari pengalaman bahwa akan buruk untuknya jika aku dan Itachi bersama. Haa, sedikit memalukan bagi seorang Uchiha tapi karena itu pula dia menjadi korban favorit kami."

"Sasuke tempramental? Bukannya dia itu selalu tenang dan cool ya? Denger dia ngomong aja belum pernah. Apa iya?" tanya Tenten.

"Ya sudah kalau tidak percaya. Iya kan, Naru-kun?"

"Aku sendiri tidak tahu Sai. Mungkin saja benar karena saat menghabiskan sore tadi bersamanya dia terus menerus memanggilku penyihir dan juga makian-makian lainnya. Aku tidak habis pikir."

Setiap mata yang ada diruangan itu mendadak melempar pandangannya ke arah Naruto atas pernyataan yang baru saja diungkapkannya.

"Apa bener, Naruto? Sasuke bilang gitu? Bukannya kamu bilang kalau Sasuke itu ga pernah ngomong di depan umum? Aku kira kamu bilang dia sakit tenggorokan seumur hidup(mana ada!)."

"Sampai setelah Kakashi memberikan tugas itu aku pun masih berpikiran sama. Tapi sejak kemarin entah kenapa aku mulai mendengar suaranya yang memaki-makiku dan sebutan kasar lainnya."

"Naru yakin kalau itu Sasuke? Bukan orang lain? Emang Naru tau suara Sasuke kayak apa?"

"Justru itu yang aneh. Tidak ada orang lain di sekitar kami tapi aku bisa mendengar jelas apa yang dia katakan walaupun bibirnya tidak bergerak. Sai, apa Sasuke memiliki kemampuan telepati atau semacamnya?"

"Ap-? Naru-kun, kau tidak serius berkata begitu kan? Di dunia ini tidak ada hal semacam itu. Walaupun kami ini Uchiha tapi kami tidak memiliki kemampuan semacam itu. Bahkan Itachi si jenius saja tidak."

"Apa mungkin kalau Sasuke mempelajarinya dari seseorang? Ah Hina-chan, mungkin sepupumu Neji itu. Bukannya mereka itu teman dekat? Apa kau tahu sesuatu?"

"Ga Naru-kun, Hina ga tau."

"Mungkin Neji tahu. Bisa kau tanyakannya padanya? Siapa tahu dia bisa mengajariku juga."

Hinata ragu sejenak sebelum menjawab pertanyaan pemuda yang dikasihinya itu. Bukan hanya Hinata tapi semua orang yang berada di ruangan itu melemparkan pandangan-yang-benar-saja kepada pemuda berambut kuning ini.

"Naru-kun, Hina pikir itu-"

"Naru-kun," potong Sai. "Bukannya seharusnya kau ini pintar? Bisa-bisanya kau bertanya seperti itu kepada Hinata. Sudahlah jangan membahas Sasuke lagi. Nah girls sebaiknya kita tinggalkan saja pemuda kesayangan kita ini sampai kewarasannya kembali."

"Ayo semuanya kita pergi," ajak Sakura. Hinata, Temari, Tenten dan Ino pun tanpa basa-basi mengikuti Sakura dan Sai meninggalkan Naruto yang masih terduduk di sofa empuknya dengan wajah bingung.

"Hei, kalian mau ke mana? Kenapa kalian meninggalkanku sendirian? Memangnya aku bilang apa?"

Sebelum benar-benar pergi dan menutup pintu di belakangnya Tenten melambaikan tangannya pada Naruto sambil tersenyum geli. "Dah, Naru-kun."


"Nejiiii!"

Sasuke setengah berlari memasuki apartemen yang ditinggalinya bersama dengan pemuda yang dipanggil namanya itu, tidak lupa dengan bantingan keras saat membuka sang pintu. Kasihan pintunya.

"Ada apa Sasuke? Perempuan mana lagi?" Sepertinya masalah yang dihadapi oleh Sasuke tidak pernah jauh dari yang namanya perempuan. Apalagi sampai membuat dia histeris seperti sekarang. Neji sepertinya sudah terbiasa.

"Yang mana lagi, ya si Namikaze itu!"

Oke sekarang Sasuke sedang fokus kepada satu orang perempuan saja si Namikaze, itu yang Neji simpulkan. Biasanya setiap waktu selalu nama baru yang muncul. Masalahnya Sasuke tidak pernah repot untuk mengingat nama para masalahnya tersebut. Namikaze ini yang pertama. Ini sebuah langkah baru yang membuat Neji mau tidak mau tertarik.

"Sebelum kau melanjutkan ceritamu Sasuke, ingat apa peraturanku? Pelankan suaramu, turunkan kecepatan bicaramu, tidak ada lagi benda-benda yang melayang di ruangan ini, jaga jarakmu denganku, tidak ada kontak fisik, ganti dulu bajumu aku tidak mau kalau harus memperbaiki lagi seragammu, setelah itu siapkan makan malam, rapikan kamarmu, siapkan air mandi untukku, cuci bajuku, kerjakan tugas-tugasku, lalu-"

"Stop! Kenapa peraturannya bertambah? Dan untuk apa aku harus mencuci bajumu? Memasak segala lagi. Aku tidak sudi."

"Oke, cukup sampai bagian kau ganti baju saja. Tidak ada lagi kejadian kau merusak seragammu di depanku."

"Oke, oke. Beri aku sepuluh menit."

Sasuke pun bergegas menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Sepertinya dia sudah tidak sabar untuk bercerita pada Neji karena terdengar suara gedebak gedebuk dari arah kamarnya. Sasuke pasti sedang mengacak-acak kamarnya lagi pikir Neji. Tidak lama Sasuke pun kembali ke tempat di mana Neji menunggunya.

"Kau tahu Neji-!" Sasuke memulai tapi dipotong lagi oleh Neji.

"Kancingkan dulu kemejamu, Sasuke. Kau ini, terkadang aku sangsi bahwa kau adalah anggota keluarga Uchiha."

"Bukan itu masalahnya! Ini lebih penting. Lupakan masalah kancing dan kembali ke masalah si Namikaze. Kau tahu apa yang dia lakukan hari ini padaku?"

"Mana ku tahu. Bersedia memberitahuku?" ledek Neji dengan nada datar.

"Dia sudah dengan kurang ajar menyusup ke dalam pikiranku! Dia berani membaca pikiranku sendiri! Aku tidak percaya selain sok pintar, sok manis, sok tenar, tapi dia juga suka ikut campur urusan orang! Terlebih lagi aku! Tidak bisa dimaafkan."

Neji mengerutkan dahinya sepanjang penjelasan dari sahabatnya ini. Dia merasakan ada yang ganjil di sini. "Apa maksudmu? Jadi gadis ini sebenarnya cerdas karena dia bisa membaca seorang Uchiha Sasuke yang terkenal anti sosial ini?"

"Bicara sesukamu Neji. Dia itu penyihir! Penyihir!"

"Hah?"

"Dia bisa membaca pikiranku! Yang kulakukan hanya menatapnya dan memaki sepuasnya di dalam hati, tapi yang tidak kusangka dia membalas setiap perkataan yang kutujukan padanya. Padahal aku tidak membuka mulutku sedikit pun. Ternyata benar dugaanku bahwa dia itu penyihir! Kau harus menolongku Neji! Bagaimana jika dia ingin berbuat sesuatu padaku?!"

Hm, ini menarik pikir Neji. Melihat seorang Sasuke benar-benar histeris karena seorang gadis bisa membacanya. Ini kejadian langka. Jadi dia berkesimpulan bahwa gadis Namikaze ini bukan gadis biasa. Neji pun jadi semakin penasaran dengan sosok gadis ini. Kapan lagi dia bisa melihat ekspresi langka dari sang sahabtnya ini? Dia tidak akan menyia-nyiakannya.

"Siapa nama gadis ini lagi?"

"Sebentar, siapa ya? Ah, Narumi. Namanya Narumi."

"Boleh jika aku menemuinya? Aku ingin melihat sendiri seperti apa wajah gadis yang bisa memberikan teror padamu seperti ini."

"Siapa bilang dia memberikanku teror?! Jaga mulutmu Hyuuga!"

"Kau mau aku menolongmu atau tidak? Aku bersedia mengenyampingkan pekerjaanku sebentar untuk mengurusimu, tapi kalau kau tidak menghargainya aku akan kembali ke pekerjaanku sekarang juga."

"Ah, ya..oke. Pokoknya jauhkan saja si penyihir itu dariku. Lakukan sesukamu."

"Baiklah." Ini akan menyenangkan, batin Neji.


Sudah satu minggu Naruto dan Sasuke bekerjasama mengerjakan laporan yang ditugaskan Kakashi dan sudah lima hari sejak Sasuke meminta (Sasuke bersikeras bahwa dia tidak meminta) tolong pada Neji. Belum ada gerakan apapun dari pemuda berambut panjang itu. Sasuke yang tidak sabaran selalu menuntut dari sang sahabat agar dia segera berbuat sesuatu sebelum dia menjadi gila. Seperti Sasuke tidak sadar saja kalau dengan kelakuannya yang selalu berteriak dan histeris itu sudah bisa di cap sebagai orang gila.

Entah karena bosan mendengar ocehan Sasuke atau karena dia memang ingin akhirnya Neji memutuskan bahwa hari ini dia akan menemui sang gadis Narumi. Neji berjalan menuju kampus Sasuke sore itu menuju tempat di mana Sasuke dan Narumi sedang berada saat ini. Berbagai pasang mata tertuju padanya setiap Neji melangkahkan kaki. Maklumlah, yang terkenal dengan ketampanannya bukan hanya Uchiha tapi juga Hyuga.

Saat dia hampir sampai ke tempat yang dituju Neji kaget karena dia mengenali satu suara yang sangat dia kenal memanggil namanya.

"Neji-Nii?"

"Hinata? Sedang apa kau di sini?"

"Neji-nii sendiri lagi apa di sini? Tumben main keluar, biasanya juga diem di rumah."

"Aku ada urusan dengan Sasuke. Dia tidak mau berhenti mengoceh sebelum aku datang ke sini."

"Eh, jadi bener Sasu-Nii bisa bicara?"

"Maksudmu Hinata? Tentu saja dia bisa."

"Em itu, temen Hina ada yang satu jurusan sama Sasu-Nii. Katanya Sasu-Nii itu ga pernah ngomong sepatah kata pun sama siapapun."

"Oh iya, aku lupa kebiasaan buruknya itu. Haah, dan dari semua orang aku yang yang harus mendengar semua ocehannya itu. Untungnya aku ini teman yang baik, kalau tidak sudah kujahit mulutnya sejak dulu."

Hinata terkikik geli mendengar pengakuan sepupunya itu. "Neji-nii bisa aja. Oh iya, Neji-nii mau ketemu Sasu-nii kan? Kalau gitu bareng aja. Mau ke perpus, kan?"

"Kenapa kamu tahu?"

"Udah, ayo."

Hinata pun menyeret, ah bukan, menarik Neji ke arah perpustakaan. Neji yang masih bingung hanya pasrah mengikuti dan membiarkan sepupu manisnya ini menariknya ke tempat tujuan. Sebenarnya dia masih ingin bertanya mengapa Hinata bisa tahu kalau dia akan pergi ke perpustakaan. Dan juga dia bilang 'pergi bersama'. Apa urusannya anak SMA di perpustakaan universitas?

Semua pikirannya itu terabaikan ketika mereka memasuki ruang perpustakaan. Dia melihat temannya yang berambut raven itu sedang menatap tajam seseorang yang duduk di depannya. Seorang gadis berambut pirang panjang yang diikat dengan manis dengan berbagai hiasan rambut yang cantik. Neji berasumsi bahwa ini adalah gadis yang dimaksud Sasuke.

'Siapa namanya?' Neji bertanya dalam hati.

"Narumi-nee!" Hinata memanggil. Tentu saja dia tidak memanggilnya dengan sebutan 'Naru-kun' seperti biasanya. Akan aneh jadinya kan.

'Ah iya, Narumi. Eh?'

Gadis (ya kalian tahu lah) yang dipanggil namanya itu pun berbalik ke arah suara yang memanggil namanya. Tersirat senyum hangat saat dia menemukan apa yang dia cari. "Hina-chan! Kamu jadi ke sini?"

"Iya, biar bisa pulang bareng kan. Katanya mau belanja sama para Nee-chan."

"Oh iya. Hari ini ya?"

"Hinata." Neji memanggil. Terdengar jelas nada penuh penasaran di suaranya. "Kau kenal dengan gadis ini? Dari mana?"

Sejenak Hinata lupa kalau sepupunya ada di situ. Neji tidak tahu menahu tentang Naruto atau pun Narumi. Selama ini Neji hanya tahu bahwa sepupunya yang manis ini tertarik pada seorang pemuda yang tidak diketahui identitasnya. Mengenal Hinata, Neji tahu bahwa sepupunya ini tidak terlalu pandai bergaul. Wajar jika dia bertanya-tanya bagaimana dia bisa mengenal Narumi dan mereka pun terlihat sangat akrab.

"Ah, um, itu Neji-nii, um Narumi Nee-chan itu temennya Sakura Nee-chan."

"Sakura?" Neji mengernyitkan dahi. Jelas sekali dia tidak suka mendengar nama gadis berambut pink itu. "Dengan kata lain dia juga berhubungan dengan pemuda misteriusmu itu kan?" Nada bicaranya tajam membuat Hinata bergidik mendengarnya.

Narumi yang merasakan aura tidak enak dari Neji mencoba mengalihkan pembicaraan. "Hina-chan, itu siapa? Kakak kamu ya?"

"Mm, Naru-nee ini Neji-nii. Dia sepupu Hina. Neji-nii ini juga temennya Sasu-nii."

"Sasuke-kun, kamu punya temen juga ya ternyata," goda Narumi. "Naru ga nyangka deh."

Sasuke hanya menajamkan tatapannya kepada sang gadis. Seenaknya bicara saja si pirang ini. Apa kau tidak sadar bahwa aku ini Uchiha?! Uchiha yang terkenal dengan ketampanan dan kejeniusannya! Tentu saja aku memiliki teman. Kau pikir aku ini makhluk gua sepertimu! "Hn!"

"Ya ampun Sasuke-kun, jangan marah gitu dong. Naru kan cuma becanda. Naru ga pernah bilang kalau kamu manusia gua. Naru juga tau kok kalau Sasuke-kun itu ganteng." Tak lupa Narumi mengedipkan sebelah matanya.

Jangan kau seenaknya mengedipkan matamu itu ke arahku! Kau mau bertanggung jawab jika terjadi sesuatu dengan mata berhargaku ini hah?!

"Engga dong, mana mungkin Naru kayak gitu. Kalo Sasuke-kun ga bisa liat kan Naru juga yang repot. Naru kan udah janji ga akan ngelakuin yang aneh-aneh."

"Hn." Bagus kalau kau sadar. Jika berani ingkar aku sumpal mulutmu dengan gergaji mesin!

"Oke, Naru ga bakal ingkar."

Kedua Hyuga yang menyaksikan perbincangan terajaib sepanjang masa ini hanya bisa melongo. Mereka akhirnya menyaksikan sendiri dimana Sasuke hanya menatap tajam pada Narumi tanpa menggerakkkan bibirnya sedikitpun, namun Narumi dengan santainya menjawab semua tatapan dan 'hn' Sasuke itu dengan kata-kata manisnya seakan-akan dia mengerti apa yang Sasuke sampaikan. Dan dilihat dari ekspresi wajah Sasuke bisa disimpulkan bahwa dia menerima semua jawaban Narumi.

Ini adalah sebuah kejadian langka!

"Na..Naru-nee."

"Ah iya Hina-chan, maaf aku lupa ada kamu. Sasuke-kun, hari ini sampai sini dulu aja ya. Naru lupa ada janji. Besok kita sambung lagi."

Kau tidak perlu ijin untuk pergi. Setiap detik pun aku ingin kau menyingkir dari hadapanku.

"Sasuke-kun baik deh. Ya udah sampe besok, ya." Narumi melambaikan tangannya ke arah Sasuke sambil tersenyum manis lalu berbalik ke arah Hinata. "Ayo Hina-chan."

"Ayo. Neji-nii, Hina pergi dulu ya. Dah." Sebelum Neji sempat berkata apa-apa mereka berdua sudah meninggalkan perpustakaan.

Neji hanya bisa menatap ke arah pintu di mana sepupunya baru saja menghilang bersama gadis yang ingin dia jumpai. "Hhh, padahal aku belum sempat berbicara apapun dengan gadis Narumi itu. Oi Sasuke, bagaimana Ini?"

Tidak mendapat jawaban dari sang sahabat Neji pun menoleh untuk mendapatkan death glare terbaik dari Sasuke. Neji hanya menghela napas dan berkata, "Kau tahu kan kalau tatapan membunuhmu itu tidak berpengaruh apa-apa terhadapku. Ayo cepat bereskan barang-barangmu dan kita pulang. Sepertinya aku harus datang lagi lain waktu."

#

"Hina-chan, mau apa Neji datang ke kampus? Kalian pergi bareng ya?"

"Ah engga. Hina juga kaget waktu ketemu tadi. Katanya sih mau ketemu sama Sasu-nii. Tumben-tumben mau, biasanya juga ketemu di rumah. Mereka kan tinggal bareng."

"Hmm. Eh udah ngehubungin Nee-chanmu yang lain belum? Kita ketemu di mana?"

"Sakura-nee bilang kita ketemu di tempat biasa aja. Mereka udah nunggu di sana."

"Oke."

Mereka pergi ke tempat tujuan dengan mobil Narumi. Sepanjang perjalanan tidak ada obrolan yang berarti karena Narumi sepertinya sedang terlalu dalam delam pikirannya. Dia bahkan tidak sadar saat Hinata melontarkan beberapa pertanyaan padanya. Karena tidak memndapatkan respon seperti biasanya Hinata memutuskan untuk diam. Dia sedikit khawatir karena walau sesibuk apapun, sesedih apapun, se-stress apapun biasanya Naruto tidak pernah mencuekkan para gadisnya. Ini yang pertama kalinya.

Narumi tetap fokus pada jalan di depannya saat menyetir walaupun pikirannya sendiri sekarang sedang tidak ada di sana. Pikirannya sedang berada pada pemuda berambut raven yang akhir-akhir ini selalu menghampiri benaknya.

Apa yang sebenarnya diinginkan Sasuke?

Naruto tidak menyadari bahwa saat ini dia sedang mengkhawatirkan pemuda yang selalu mencaci-maki dirinya dalam hati itu. Kalau dia sadar dia pasti akan menyebut dirinya bodoh karena sudah repot-repot memikirkan pemuda bermata onyx itu.

Tanpa disadari akhirnya mereka sudah tiba di tempat tujuan. Sakura, Ino, Temari dan Tenten sedang asik mengobrol saat Narumi dan Hinata menghampiri mereka. Setelah beberapa tawar-menawar dan rengekan dari Ino mereka memutuskan untuk melihat-lihat beberapa toko yang menjual tas.

Selama mereka berbelanja terlihat Narumi tidak begitu antusias. Para gadisnya menyadari hal ini tapi tidak ada yang bertanya. Mereka bertanya banyak hal, meminta pendapat dan menariknya dari satu toko ke toko yang lain untuk mengalihkan pikirannya. Hanya berhasil sejenak. Ketika mereka berpaling hanya tiga detik saja Narumi sudah kembali melamun.

Narumi kembali tersadar dari lamunannya ketika ada seseorang yang menepuk bahunya. Dia berpaling ke arah orang tersebut dan mendapati wajah pucat yang dikenalinya sedang tersenyum manis padanya.

"Nona, anda baik-baik saja? Kita sudah akan segera pulang."

"Sai? Sejak kapan kamu di sini?"

"Saya sudah tiba sejak sepuluh menit yang lalu. Nona Sakura yang memanggil saya untuk datang kemari." Saat berada di kediaman Namikaze-Uzumaki, Sai boleh saja bersikap manja. Tapi saat di depan publik jiwa Uchiha nya keluar dengan segala sopan santun dan tata krama. Apalagi dia bekerja pada Narumi sebagai butler sudah pasti dia berkewajiban untuk menjaga nama baik sang majikan.

"Kok aku ga tau sih. Sakura?"

"Tadi aku kan udah nanya, Naru nya aja yang ga denger. Udah dipanggil berkali-kali juga, iya kan girls?"

"Iya. Naru-chan ngelamun aja dari tadi. Belanjaan kita kan banyak, ga mungkin kita bawa sendiri. Ya udah kita panggil Sai aja buat bantuin," jelas Temari.

"Emang aku ngelamun ya? Masa sih?" tanya Narumi tidak percaya.

"Ya ampun. Hina-chan coba kamu deh yang jelasin."

"Naru-nee, dari sejak kita ketemu Neji-nii tadi Naru-nee ngelamun terus. Hina aja tanya beberapa kali ga dijawab. Ya udah deh Hina ga nanya lagi."

"Oh ya?" Narumi merasa tidak enak dengan para gadisnya. Dia memaki dirinya sendiri karena telah mengabaikan para gadis yang disayanginya ini. Dia tidak sanggup melihat kekecewaan di mata mereka. "Maaf ya girls, Naru ga sadar kalo ngelamun. Kalian mau kan maafin Naru?"

"Ga usah khawatir Naru. Kita ga mungkin marah sama Naru. Sekarang mendingan kita pulang aja yuk. Kasian tu Sai, pasti berat bawa belanjaan kita," ajak Tenten.

"Eh? Emang udah beres ya belanjanya?"

"Baju, tas, sepatu, asesoris, buku, cemilan, bahan buat masak, kosmetik, perlengkapan lainnya semua udah beres."

"Wow." Ternyata aku memang melamun ya. Mana mungkin aku tidak sadar belanjaan sebanyak itu jika aku tidak melamun. Aku hanya ingat soal sepatu dan buku saja.

"Nona, mobil sudah siap. Apa nona-nona ingin pergi sekarang?"

"Iya, ayo girls."


~Sesampainya di rumah~

"Naru-chan," panggil Ino. Sebenarnya dia tidak yakin ingin melakukan ini tapi dia tidak bisa tahan melihat ekspresi Naru-nya beberapa hari ini. Para gadis yang lain tidak berani bertanya karena mereka tidak ingin mencampuri urusan Naruto. Mereka tahu jika Naruto ingin dia pasti sudah bercerita pada mereka.

Naruto hampir tidak pernah menyembunyikan apapun kepada para gadisnya. Tapi kali ini dia sering sekali melamun dan selalu menyangkal ketika ditanya. Mereka berniat untuk bersabar sampai Naruto bercerita sendiri. Akan tetapi Ino berpikiran lain. Dia tidak ingin membiarkan kondisi ini berlanjut.

Saat itu mereka semua sedang bekumpul di ruang "". Naruto duduk di sofa bersama Sakura dan Hinata di kedua sisinya. Ino duduk di lantai dan bersandar pada kaki kanan Naruto. Di sebelahnya ada Tenten yang juga bersandar pada kaki Naruto yang satunya lagi. Sedangkan Temari duduk di bagian lain ruangan itu bersama Sai dan sedang saling memberi komentar tentang film yang sedang mereka tonton bersama.

Naruto mengalihkan pandangannya dari layar TV kepada gadis berambut pirang yang sedang memeluk kakinya saat ini. "Ada apa Ino-chan?"

"Boleh tanya sesuatu ga?"

"Boleh saja. Ada apa?"

"Tapi Naru-chan janji ga marah ya."

"Mengapa aku harus marah? Tidak mungkin aku marah pada gadisku yang manis ini kan, hm. Ayo katakan saja."

Ino ragu sejenak tapi akhirnya dia mengutarakan pertanyaannya. "Naru-chan, Naru-chan masih sayang sama kita?"

Pertanyaan ini membuat semua mata tertuju pada Ino. Naruto mengangkat kedua alis matanya tanda tidak mengerti mengapa gadisnya menanyakan hal ini.

"Tentu saja. Mengapa kau bertanya seperti itu?"

"Terus kenapa beberapa hari ini Naru-chan cuek terus sama kita? Naru-chan juga ga cerita apa-apa sama kita padahal udah jelas Naru lagi ada masalah. Apa Naru udah ga percaya lagi sama kita? Kenapa?"

Ino menundukkan kepalanya. Setengah karena tidak ingin melihat ekspresi Naruto. Dia takut Naruto marah atas pertanyaan yang dilontarkanya. Setengahnya lagi karena dia ingin menyembunyikan matanya yang sudah berair. Bayangan pemuda yang disayanginya sudah tidak mempercayainya lagi cukup menyakitkan, terlebih lagi saat dia harus mengatakannya.

"Ino," Naruto memanggil. Suaranya lembut penuh kasih sayang. Meskipun begitu Ino tetap tidak mengangkat wajahnya. Dia masih merasa takut melihat mata biru Naruto. Dia tidak ingin melihat gurat kecewa di mata biru cerah itu.

"Ino-chan, kemari." Naruto menarik tangan Ino dan mendudukkan sang gadis di pangkuannya. Sakura dan Hinata pun bergeser sedikit agar Naruto bisa lebih leluasa. Naruto menyentuh dagu sang gadis dan menariknya agar dia bisa memandang mata biru itu. "Hei manis, ada apa dengan air mata ini? Kau tidak perlu menangis. Maaf jika aku mengecewakan kalian."

"Maaf Naru." Ino menjawab dengan sedikit gemetar karena menahan agar dia tidak menangis. "Aku ga bermaksud ngeraguin Naru, tapi.."

"Shh, tidak apa-apa aku mengerti. Ino-chan biasanya tidak pernah bicara seperti ini. Kalau sampai seperti ini berarti ini memang serius kan. Kau tidak perlu meminta maaf, justru aku yang harus meminta maaf. Aku juga meminta maaf pada kalian semua, girls. Kalau kalian merasa ada sikapku yang memang janggal seharusnya kalian mengatakannya padaku sejak awal. Kalian tidak perlu sungkan."

Temari menggigit bibirnya dan meremas lengan Sai sebelum dia bicara. "Naru-chan, kita cuma ga mau kamu mikir kalau kita ini suka ikut campur makanya kita diem. Tapi jujur aja beberapa hari ini Naru-chan kayaknya ga butuh kita semua. Itu yang bikin kita sedih."

"Naru-kun sering ngelamun dan jarang senyum. Kemarin aja kita sampai minta Sai buat bantuin kita karena Naru-kun cuma cemberut waktu kita tanya," tambah Tenten.

"Apa benar sampai seperti itu?"

"Itu benar Naru-kun," Sai membenarkan sambil melepaskan tangan Temari yang sebelumnya meremas lengannya. "Apa kau benar-benar tidak sadar kalau belakangan ini kau jauh di dalam duniamu sendiri?"

"Aku tidak menyadarinya. Maaf."

"Ga apa-apa Naru-kun. Tapi kalau memang Naru ga keberatan apa kita boleh tau apa yang bikin Naru kayak gini?" Hinata memeluk lengan Naruto dan bersandar pada pundaknya.

Naruto menghela napas. Dia merasa bodoh saat menyadari alasan mengapa akhir-akhir ini dia sering melamun dan mengabaikan para gadisnya. "Sasuke."

Sakura mengangkat kedua alisnya. "Ada apa sama Sasuke?"

Naruto menghela napas sekali lagi. "Aku tidak tahu mengapa tapi beberapa hari ini aku tidak bisa menyingkirkan dia dari benakku. Jika saja aku tahu alasannya pasti akan lebih mudah. Terlebih lagi dia membuatku mengabaikan kalian semua. Aku merasa sangat bodoh."

"Apa bener cuma gara-gara Sasuke?"

"Ya, begitulah."

"Tidak kusangka."

"Apa maksudmu Sai?"

"Tidak. Lupakan kata-kataku."

"Mengapa kau selalu begini jika sudah menyangkut soal Sasuke? Ini membuatku semakin tidak bisa melupakannya. Kalian Uchiha membuatku gila."

"Walaupun kau berkata begitu aku tetap tidak akan mengatakan apa-apa."

"Ya ya, aku tahu. Persoalan yang sama, jawaban yang sama. Bisakah kita menghentikan soal Sasuke ini? Aku sedang berusaha untuk melupakannya."

"Naruto, kamu ga perlu ngelupain soal Sasuke. Apalagi kalian kan masih harus kerjasama buat bikin laporan, ga mungkin dilupain gitu aja. Bukan itu masalahnya."

"Iya betul. Kita cuma ingin Naru cerita sama kita. Kita bisa pikirin masalah ini sama-sama. Naru ga perlu mikirin ini sendirian."

"Kita semua di sini selalu ada buat Naru."

"Terima kasih girls. Aku senang kalian peduli padaku. Maaf karena aku sempat membuat kalian khawatir. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi."

"Kita senang kok kalau Naru senang. Jadi Naru jangan sedih lagi ya."

"Tentu. Kemari girls."

Kelima gadis kesayangan sang pemuda pun sekarang ada dalam pelukannya. Ya setidaknya beberapa dari mereka karena tidak mungkin Naruto memeluk mereka semua sekaligus. Tangannya tidak sebesar itu. Tapi kehangatan dan kasih sayang mereka semua mengalir dan menyatu satu sama lainnya.

Sai hanya tersenyum melihat kehangatan ini. Meskipun dia sangat ingin bergabung bersama mereka tapi dia tahu bahwa saat ini bukan waktunya. Para gadis ini lebih membutuhkan Naruto sekarang. Lagipula dia tidak akan pergi kemana-mana, Naruto masih ada bersama mereka.

Aku tidak akan mengecewakan mereka lagi. Mereka terlalu berarti bagiku.