Note :
Isi hati Naruto
Isi hati Sasuke
'Isi hati yang lainnya'
Hari minggu adalah hari yang indah. Terutama bagi Naruto. Apalagi sekarang dia sedang berkumpul bersama para gadis kesayangannya. Tidak lupa dengan beberapa orang lain yang juga dia sayangi, Sai dan Gaara pun bergabung.
Untungnya saat ini mereka berdua sedang dalam mood yang baik karena Naruto belum melihat mereka berdua saling melemparkan pandangan tajam mereka seperti biasanya. Tanpa sepengetahuan Naruto mereka berdua sudah berjanji satu sama lain sebelumnya untuk bertahan setidaknya hari ini saja untuk tidak merusak hari senang Naruto. Apa gerangan yang membuat Naruto senang?
Selain dia bisa menghabiskan waktu liburnya bersama orang-orang yang disayangi ada dua hal lagi yang membuat moodnya semakin baik. Pertama, besok adalah hari terakhir dia harus terjebak bersama Sasuke untuk membuat laporan karena akhirnya mereka telah menyelesaikannya lebih cepat dari yang diduga.
Tidak bisa dibantah ketika kejeniusan Uchiha bergabung dengan keterampilan Uzumaki memang menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Kedua, hari ini Itachi datang untuk mengunjunginya. Setelah dua tahun tdak bertemu akhirnya mereka bisa bertatap muka lagi. Tentu saja Naruto senang.
"Jadi kesenangan ini akan berakhir begitu saja? Bahkan aku belum memulai apapun," goda Itachi.
Ya kecuali ketika sang Uchiha berambut hitam panjang ini mulai menggoda pemuda kesayangan kita. Belum satu jam mereka bertemu tetapi Itachi tidak bisa menahan keinginannya untuk menggoda Naruto.
"Bukan salahku jika kami berdua memiliki kelebihan dibanding dengan murid yang lain."
"Tidak ada yang menyalahkanmu Naru. Aku sendiri bangga setidaknya adik bodohku itu masih memiliki sedikit jiwa Uchiha di dalam dirinya. Hanya saja aku ingin melihat pertunjukkan langka ini lebih lama."
"Jika ingin mengerjai adikmu kau boleh melakukan apa saja tapi jangan libatkan aku sebagai salah satu bagian dari rencanamu itu Itachi. Kau tahu aku tidak suka jika orang mempermainkanku."
"Tentu saja Naru." Itachi mengambil salah satu tangan Naruto dan mengecupnya lembut. "Tidak mungkin aku melakukan sesuatu yang tidak kau suka."
"Hm."
'Padahal kau memang sudah ada di dalamnya sejak dulu. Kalau kukatakan dia akan mengusirku tidak ya?'
"Ada apa? Senyummu itu mencurigakan Itachi."
'Oh sial. Aku lupa dia bisa membacaku.' "Tidak ada apa-apa Naru. Kau manis seperti biasa. Kapan aku bisa melihat Narumi? Dia pasti manis sekali."
"Kau terdengar pervert bicara seperti itu. Hentikan."
"Kau tahu sendiri kalau aku tidak bisa menolakmu, tidak peduli kau terlihat seperti apa. Bagiku kau tetap yang paling menarik diantara yang lain Naru."
Naruto hanya bisa tersenyum. "Ya aku tahu." Walaupun Naruto tidak suka dan terlebih lagi benci jika ada laki-laki yang menggodanya tapi jika datangnya dari Itachi dia merasa lain. Sai dan Gaara memang suka menggodanya tapi jika soal rayuan hanya Itachi yang bisa membuat Naruto tersentuh. "Mengapa adikmu tidak bisa bersikap sepertimu?"
"Maksudmu Sai? Tentu saja, walau bagaimana pun aku ini anak tertua. Sepintar apapun dia tidak mungkin dia bisa mengalahkanku. Apalagi dengan kepribadian gandanya karena pengaruhmu. Tidak mungkin bisa."
"Itachi bodoh, bukan adik sepupumu. Maksudku adik kandungmu."
"Hoo, Sasuke. Entahlah, tidak ada yang bisa menyembuhkannya."
Naruto mengerutkan keningnya. "Apa sebelumnya dia tidak seperti ini?"
"Tentu saja tidak. Dia sempat hidup selama sepuluh tahun layaknya para Uchiha lainnya."
"Lalu apa yang membuatnya seperti sekarang ini?"
Itachi menyeringai sebelum menjawab membuat Naruto sempat bergidik. "Hanya satu hal yang kumengerti. Hanya orang yang membuatnya seperti inilah yang bisa menyembuhkannya. Itu memang hanya pendapatku tapi aku yakin begitu adanya."
"Kau tahu siapa orangnya?"
"Sebaiknya tidak kukatakan. Kau harus mencari tahunya sendiri. Maaf."
Naruto mendesis. "Selalu saja itu jawabanmu."
"Mengapa kau begitu tertarik dengan persoalan Sasuke?"
"Mengapa kau ingin tahu?"
"Seperti yang kau katakan, dia adalah adikku."
"Aku tidak perlu memberitahumu."
"Hm."
Mereka masih melanjutkan perbincangan selama tiga puluh menit lamanya. Naruto berusaha menjauhi topik Sasuke dan Itachi sepertinya tidak keberatan. Lagipula dia tidak ingin membuat Naruto kesal. Akan seperti neraka jadinya nanti menghadapi kemarahan sang Uzumaki.
Setelah menghabiskan cangkir teh yang keempat mereka pun beranjak dan mengarah ke ruang makan karena sudah saatnya makan siang. Namun sebelum sampai mereka ke sana Itachi menghentikan mereka dan menyampaikan ide cemerlangnya.
"Bagaimana jika khusus hari ini kita makan di luar? Sudah lama aku tidak berada di Jepang dan aku tidak tahu kapan aku bisa memiliki waktu luang seperti hari ini. Setidaknya aku ingin jalan-jalan bersamamu Naru, kau tidak keberatan kan?"
"Kau hanya ingin melihatku dalam sosok Narumi, kan? Akui saja Itachi."
"Itu bonus, tapi aku tidak menyangkalnya."
Naruto hanya menghela napas. "Baiklah. Sai, siapkan mobil. Girls, bantu aku bersiap-siap."
"Oke Naruto/Naru-chan/Naru-kun."
Tidak butuh waktu lama sampai akhirnya mereka bersembilan berada di jalan. Para gadis naik bersama di mobil Naruto yang disupiri Sai. Walaupun dia bekerja sebagai butler tapi Naruto memintanya untuk menyetir juga. Gaara menyetir mobilnya sendiri, sedangkan Naruto yang sudah berubah menjadi Narumi naik bersama Itachi di mobil sang Uchiha. Permintaan lainnya dari sang pria yang memiliki hobi unik itu.
Mereka memutuskan untuk pergi ke sebuah kafe karena sudah terlalu bosan dengan restoran. Lagipula kafe ini cukup terkenal di kalangan anak muda. Dan benar saja saat mereka tiba banyak sekali pasangan yang makan di sana atau hanya sekedar memesan minuman dan mengobrol.
Akan tetapi sepenuh apapun selalu ada tempat bagi Narumi. Mereka tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan meja dan memesan makanan.
"Khusus untuk hari ini aku yang menanggung biayanya. Anggap saja sebagai hadiah perkenalan, tidak perlu sungkan," Itachi melemparkan senyumnya kepada semua. Para gadis tersipu (kecuali Sakura) mendapatkan perlakuan seperti itu namun cepat-cepat melemparkan tatapan maaf ke arah Narumi.
"Ga perlu kayak gitu, girls. Naru ga apa-apa kok. Itachi emang orangnya genit."
Itachi tertawa kecil mendengar jawaban sang Namikaze. "Kau sangat manis dengan cara bicaramu seperti itu, Naru."
Kalau saja sedang jadi Naruto pasti sudah ditepis dengan dingin jawaban Itachi itu. "Apa sih Itachi? Nyebelin deh." Itachi pun semakin cekikikan mendengar reaksi Narumi.
"Udah-udah, malah berantem nanti. Itachi juga, jangan ngegoda Narumi terus. Nanti kalau dia marah kamu juga yang repot kan."
"Aah, Sakura sejak dulu selalu galak ya kepadaku. Apa tidak pernah mencoba untuk bersikap lebih manis seperti Narumi?"
"Maaf aja ya kalau aku galak. Kalau Itachi berhenti genit mungkin aku bakalan berhenti jadi galak."
Kalau sudah sampai sini Itachi tidak akan membalas lagi. Mengapa? Karena sudah menjadi rutinitas. Jika dilanjutkan pasti akan ada pertumpahan darah. Ah tidak, tidak separah itu tapi mereka ini kalau sudah bertengkar akan panjang selesainya.
"Ngomong-ngomong Naru, apa tidak apa-apa Sai ditinggal sendiri?" Sai menunggu di mobil dan biasanya dia akan makan nanti setelah pulang.
"Udah biasa, tapi kalau aku minta dia pasti mau gabung kok."
"Kalau begitu panggil saja, supaya lebih ramai kan."
Atas permintaan lainnya dari sang Uchiha, Narumi pun menelepon Sai untuk ikut bergabung bersama mereka. Tidak lama kemudian Sai masuk ke kafe dengan wajah berseri-seri. Akan tetapi senyumnya ini bukan karena dia senang dipanggil untuk bergabung. Ada sesuatu yang lain.
"Sai, kenapa kamu senyum-senyum gitu?"
"Maaf Nona, tapi sepertinya akan ada sesuatu yang menarik sebentar lagi." Sai melempar pandangan penuh arti kepada Itachi. Dia menyeringai dan seperti dapat membaca pikiran sang sepupu Itachi pun ikut menyeringai.
Narumi tahu jika kedua Uchiha ini berperilaku seperti ini pasti pertanda sesuatu yang buruk akan terjadi. Entah ide jahil apa lagi yang mereka rencanakan. Seperti menjawab pertanyaan Narumi, pintu kafe terbuka lagi dan masuklah dua orang pemuda yang notabene berwajah tampan.
"Neji-nii?" Yang dipanggil pun melirik ke arah sang pemanggil. Bisa dibayangkan ekspresi sang Hyuuga saat melihat adik sepupu tercintanya sedang berkumpul bersama para gadis yang tidak disukainya.
"Hinata?"
"Naru-nee, liat itu ada Neji-nii! Bareng sama Sasuke-nii juga."
Semua mata pun melihat ke arah dua pemuda yang baru memasuki kafe itu. Para gadis mempelajari reaksi sang Uchiha muda, Itachi dan Sai menyeringai lebih lebar, Gaara menatap keduanya dengan tajam dan Narumi wajahnya berseri-seri melihat mereka. Walaupun tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya dia rasakan.
"Sasuke-kun! Sini, sini! Ayo gabung sama kita." Narumi melambaikan tangannya.
Cih, seenaknya saja. Siapa yang mau bergabung denganmu penyihir!
"Ih, Sasuke kok gitu sih. Ga apa-apa kan sekali-kali. Mejanya juga besar kok pasti muat deh. Neji-kun juga ikut ya."
Sasuke memberikan death glare terhebatnya ke arah Narumi tapi yang diserang hanya tersenyum. Neji membisikkan sesuatu ke telinga Sasuke dan akhirnya mereka pun bergabung di meja yang ramai itu.
Sasuke duduk di paling ujung berhadapan dengan Narumi dan Neji duduk di sebelahnya. Di samping Neji adalah Sakura, lalu Temari, Gaara dan Sai. Di samping Naruto ada Itachi, Hinata, Tenten dan Ino. Sasuke masih saja menatap tajam ke arah Narumi sampai-sampai dia tidak sadar akan Itachi yang duduk di sebelah Narumi.
"Oi Sasuke, adik macam apa kau ini? Masa tidak menyapa kakakmu yang sudah lama tidak berjumpa ini."
Seakan tersadar akhirnya sang Uchiha kecil melirik ke arah sang kakak. Matanya terbelalak dan mulutnya hampir menganga, ingat ya hampir loh.
I-I-Itachi? Sejak kapan dia ada di sini? Bukannya dia ada di Itali? Jangan-jangan ini semua ilusi. Penyihir wanita ini bahkan menggunakan Itachi untuk merusak hidupku! Sasuke menggeram tidak suka.
"Eh? Engga kok, Naru ga ngapa-ngapain." Semua mata pun tiba-tiba terfokus pada Narumi yang sedang memandang Sasuke. "Emang Sasuke ga tau kalau Itachi pulang ke Jepang? Udah ampir seminggu loh. Iya kan, Sai?"
Hah? Sai? Sasuke mengikuti arah pandangan Naruto dan menemukan wajah sepupunya yang dianggapnya menyebalkan itu sedang tersenyum kepadanya. Apalagi ini? Sampai dia pun ada di sini?!
"Itu benar, Sasuke-san. Itachi-san kembali sejak minggu kemarin dan akan tinggal di Jepang hingga akhir bulan ini." Itachi kagum akan peran Sai, benar-benar seorang Uchiha. Berbeda sekali dengan adiknya satu ini yang sekarang saja sedang berusaha menahan emosinya dan tidak memperhatikan tata krama seorang Uchiha. Tetapi sejujurnya dia pun menunggu-nunggu kapan Sasuke kehilangan kesabaran dan membuka mulutnya di muka umum. Akan sangat menarik bukan?
Apa?! Aku harus berurusan dengan orang-orang ini sekaligus? Pertama si wanita penyihir, lalu kakakku yang lagaknya sok pintar itu dan sepupuku yang sangat ingin kucabik wajahnya! Apa setelah ini aku harus menikahi Neji?! Mata Sasuke melotot dan tangannya mencengkram kursinya sangat keras, mencegah agar tidak naik ke kepalanya dan menjambak rambutnya saking kesalnya.
"Eh, Neji mana mungkin mau. Kecuali kalau Sasuke sebenernya suka dan pengen memperistri Neji ya?" Narumi mengatakan semua hal ini dengan lugunya.
Neji yang sedang minum pun tersedak dan yang lainnya pun tidak jauh berbeda reaksinya. Gaara hampir saja jatuh dari kursinya. Sasuke melotot tidak percaya dengan jawaban Narumi.
Aku ini normal. NORMAL! Walaupun di muka bumi ini hanya tersisa Neji tidak mungkin aku memperistri dia! Jalan pikiran penyihir memang tidak bisa kupahami. Aku sumpahi kau mati tercekik oleh gulungan kuning yang kau sebut rambut itu!
"Ga mau ah, dicekik kan sesak. Naru ga mau." Sasuke ini ternyata memiliki ide yang beragam ya. Dan mengapa dia selalu membahas soal rambut? Apa dia memiiki obsesi tertentu? Si Neji itu memilki rambut yang panjang dan bagus pula, apa karena itu mereka berteman? Ah, masa iya.
Itachi tidak bisa tahan lagi dan tertawa sampai mengeluarkan air mata. Narumi mengerutkan dahinya ke arah sang Uchiha yang tak hentinya tertawa sambil memegangi perutnya. Sai beranjak dari kursinya dan berjalan ke tempat Itachi. Dia menepuk-nepuk punggung sepupunya itu dan mengusap pundaknya. Tawa Itachi pun mereda.
"Terima kasih, Sai. Aku tidak tahu bagaimana caranya berhenti jika sudah seperti itu. Hampir saja aku mati tertawa."
"Sama-sama, Itachi-san." Sai pun kembali ke kursinya.
"Ah, terima kasih Naru. Sudah lama sekali sejak aku bisa tertawa seperti itu. Perutku sampai sakit. Sasuke, reaksimu itu sungguh unik. Kau memang selalu tahu bagaimana membuatku terhibur."
Sasuke beranjak dari kursinya dengan cepat dan membuat kursinya terjungkal. Mati saja kau Itachi bodoh! "Hn!" Dia pun pergi meninggalkan kafe dengan Neji yang menyusul di belakangnya.
"Ah dia pergi, padahal aku belum mulai."
"Itachi mau ngapain lagi? Sasuke udah sampe nyumpahin Itachi supaya mati gitu."
"Benarkah?"
"Memangnya Itachi ga denger? Sasuke kan teriak-teriak." Apa jangan-jangan Sasuke hanya bisa bertelepati padaku ya? Ternyata sampai sekarang ini Narumi masih menganggap Sasuke bisa telepati.
"Ternyata yang diceritakan Sai benar, aku tidak menyangka bisa menyaksikannya sendiri. Ini adalah suatu fenomena yang jarang."
Narumi hanya mengangkat bahu, apapun yang Itachi maksudkan itu dia tidak begitu mengerti. Dia akhirnya menyantap pesanannya yang belum lama ini datang. Yang lain hanya menggelengkan kepala dan mulai makan juga.
Mereka menghabiskan sekitar dua jam di kafe itu dan akhirnya memutuskan untuk pulang. Itachi mengantarkan Narumi terlebih dahulu sebelum dia pulang. "Aku akan mengunjungimu lagi jika aku memiliki waktu luang."
"Oke, Naru tunggu ya."
Gaara memutuskan untuk menginap, karena ada yang ingin dibicarakan dengan kakaknya. Berdo'a saja tidak akan ada pertempuran antara Gaara dan Sai karena kamar mereka bersebelahan. Gaara memang terkadang menginap jadi Naruto menyiapkan satu kamar khusus untuknya. Entah mengapa dari sekian banyak kamar justru kamar yang terletak bersebelahan dengan kamar Sai lah yang menjadi favorit si rambut merah ini.
Setelah berganti pakaian dan mandi, Naruto bersantai diri di ruang "" bersama para gadisnya. Begitu tenang sampai Gaara datang bergabung. Dia menyingkirkan kelima gadis itu dan memeluk Naruto untuk dirinya sendiri. Mereka tentu saja protes tapi Gaara tidak peduli.
"Kau kenapa, Gaara? Tidak biasanya begini."
"Karena seharian ini Naru terus saja bersama Itachi. Aku tidak diberi kesempatan untuk berada dekat denganmu. Karena itu." Gaara cemberut dan itu terlihat sangat imut. Naruto hanya tersenyum.
"Maaf ya, tapi sudah lama sekali sejak aku bertemu dengan Itachi. Tanpa kusadari aku terfokus kepadanya. Ditambah lagi dengan kejadian Sasuke. Aku benar-benar minta maaf."
"Iya, tapi biarkan aku memelukmu seperti ini sebentar lagi."
Naruto mengacak-acak rambut Gaara pelan. "Iya, iya. Boleh saja."
Sore itu pun mereka habiskan dengan menonton dan mengobrol bersama. Gaara terus memeluk Naruto sampai akhirnya mereka harus pergi untuk tidur. Tidak ada perlawanan baik dari kelima gadis maupun Sai. Gaara kan jarang bertemu Naruto jadi tidak apa-apa mengalah untuk hari ini.
Di apartemen Sasuke-Neji kedua pemuda ini baru saja tiba. Sasuke dengan geram memasuki dapur dan mengambil segelas air. Dia meminumnya dengan sangat cepat dan setengah membanting gelas kosongnya ke meja.
"Hei, tenanglah. Kita tidak mempunyai begitu banyak gelas. Apa kau tidak tahu sudah berapa banyak yang kau pecahkan?"
"Apa kau tidak lihat sikap sok hebatnya itu?! Mengapa aku harus memiliki orang seperti dia sebagai kakak?! Dan Sai brengsek itu. Apa hubungan mereka bertiga?! Mereka pasti bersekongkol untuk merusak hidupku. Mengapa?!"
"Seharusnya kau tanyakan pada mereka tadi. Tidak ada gunanya kau merengek kepadaku sekarang."
"Sudah kubilang berkali-kali aku ini tidak merengek!"
"Dan sudah berulang kali pula kukatakan pelankan suaramu jika kau ingin aku mendengarkan ocehanmu, Uchiha."
Sasuke hendak memprotes tapi dia segera ingat dengan segala peraturan dari Neji dan konsekuensinya. Dia pun menarik napas panjang dan mulai bicara lagi. Kali ini lebih tenang. Ternyata kalau mau Sasuke bisa juga.
"Aku tidak mungkin kan bertanya kepada mereka. Tidak sudi."
Kali ini Neji yang menghela napas. "Lalu maumu apa? Aku tidak bisa membaca pikiran mereka seperti si gadis Namikaze-mu itu. Bisa saja aku bertanya kepada sepupuku Hinata tapi aku tidak mau melibatkannya ke dalam masalahmu."
"Siapa yang Namikaze-ku? Seenaknya saja kau bicara."
"Bicara soal si pembaca pikiran, ada satu hal yang sejak tadi ingin kutanyakan padamu Sasuke."
"Apa itu?"
Wajah Neji berubah serius dan dia menatap Sasuke lekat-lekat. "Apa benar kau berniat memperistriku?"
Sasuke berubah merah karena emosi dan juga sedikit malu. Temannya satu ini memang tidak bisa diduga. "NEJI!"
"Selesai!" Narumi bersorak riang hingga Sasuke hampir harus menutup telinganya karena suaranya lumayan keras.
"Hn!" Jangan berteriak bodoh! Telingaku sampai sakit. Di dunia ini tidak ada yang bisa menggantikan telinga seorang Uchiha. Kau mau aku memotong telingamu sebagai gantinya? Walaupun aku tidak sudi menerimanya. Sasuke mengusap-usap daun telinganya yang dia sayangi itu dan memastikan tidak ada kerusakan. Berlebihan memang.
"Maaf Sasuke-kun, Naru kelewat seneng hehehe. Akhirnya selesai juga, ya. Padahal tenggang waktunya masih ada satu minggu lagi. Berarti kita bisa santai-santai dong."
Berkat kejeniusanku aku tidak perlu berlama-lama berurusan denganmu. Akhirnya aku bisa terbebas dari seorang penyihir tebar pesona sepertimu.
"Eh, kapan Naru tebar pesona? Ga pernah kok." Justru sebaliknya, aku ingin semua orang bersikap biasa saja terhadapku. Trauma masa lalu itu terlalu menyeramkan untuk terulang kembali. Walau tidak keberatan, tapi aku tidak ingin menjalani sisa hidupku sebagai perempuan seperti ini.
"Hn." Pura-pura bodoh lagi. Lalu apa jika bukan tebar pesona?! Dan bodohnya lagi semua orang mau saja terkena racun Namikaze-mu itu. Tentu saja aku tidak, karena aku ini special. Tapi kakak dan sepupuku bodoh itu malah menjatuhkan nama Uchiha dan teracuni juga. Memalukan!
Akhir-akhir ini pilihan kata Sasuke semakin beragam, ya. Apa itu racun Namikaze? Ada-ada saja. Narumi hanya menatap lekat ke arah sang Uchiha muda dan tidak membalas kata-katanya lagi.
Sang pemuda raven sibuk membereskan laporan mereka dan tidak menyadari tatapan yang ditujukan kepadanya. Setelah semuanya rapi dia menyerahkannya kepada sang gadis. Narumi mengerutkan dahi dan Sasuke memutar matanya bosan.
Sudah cukup aku direpotkan oleh dosen mesum itu. Kau saja yang menyerahkannya, lagipula dia kan salah satu fansmu bodohmu.
Barusan itu pujian atau bukan ya? "Oh, oke biar Naru yang kasih nanti."
Sasuke beranjak dari tempat duduknya dan berjalan dengan kedua tangan berada di saku celana. Sebelum pergi dia melirik ke arah Narumi untuk terakhir kalinya. Aku harap tidak pernah berurusan lagi denganmu. "Dobe." Dia pun melangkahkan kaki dan menjauh.
Narumi tertegun di kursinya. Dia terus menatap punggung Sasuke sampai sang Uchiha itu hilang dari pandangan. Dia memiringkan kepalanya tanda tidak mengerti. "Barusan suara siapa, ya?"
Seminggu berlalu, Naruto dan Sasuke pun menjalani hidup mereka masing-masing seperti sebelum adanya tugas dari Kakashi. Sasuke merasa tentram dengan kehidupannya ini, walaupun hidupnya tetap diganggu oleh keberadaan beberapa perempuan yang mengakui sebagai fansnya. Tapi sebagian besar dia menikmati ketentramannya, khususnya tanpa keberadaan seorang gadis bernama Narumi.
Naruto sendiri kembali ke rutinitasnya yang dulu. Namun tidak seperti Sasuke yang benar-benar kembali seperti dulu, Naruto tidak bisa mengeluarkan kenangannya selama bersama Sasuke. Dia merasa ada sesuatu dalam diri Sasuke yang membuatnya ingin menggali lebih dalam tentang sang Uchiha muda.
"Naru-kun, pasti lagi mikirin Sasuke lagi deh." Tenten menyuarakan pemikirannya. Sudah bukan hal baru lagi menemukan sang pemuda Namikaze-Uzumaki ini diam melamun di kediamannya. Para gadisnya hanya angkat bahu dan menggelengkan kepala mereka. Ada juga hal yang bisa membuat Naruto mereka seperti ini.
"Ah, maaf Tenten-chan. Terlihat, ya? Sepertinya sudah menjadi kebiasaan baruku, hahaha."
"Aku jadi penasaran deh sama si Sasuke itu. Naru-chan sampe jadi kayak gini. Apa sih yang spesial dari dia?" Mendengar pernyataan Temari, Sai yang berada tidak jauh dari mereka menyeringai dalam hati.
'Kalau saja mereka tau. Ah, tapi orangnya sendiri juga tidak ingat.' "Tidak ada yang spesial, kok. Daripada Sasuke lebih baik aku, kan. Aku ini menjunjung tinggi nilai-nilai keluarga Uchiha, tidak seperti dia."
Ino langung memprotes pengakuan Sai tersebut. "Menjunjung tinggi nilai-nilai keluarga Uchiha yang mana? Yang kalo ketemu Naru teriak-teriak ga jelas itu? Yang kalo ngeliat Naru nempel-nempel kayak anak kecil?"
Dimulailah perang mulut antara Sai dan Ino.
Sungguh penuh warna kediaman Naruto ini. Setiap hari selalu saja ada yang bisa membuatnya menikmati hidupnya. Mata birunya yang indah itu menangkap baik-baik semua kejadian yang ada. Keributan apapun yang terjadi diantara mereka Naruto menganggapnya sebagai bentuk interaksi yang memperkuat hubungan mereka.
"Naru-chan, jangan senyum-senyum aja kayak gitu dong! Bilangin sama si Sai ini kalau dia ini ga jauh beda sama sepupunya itu!" Ino meminta pembelaan dari sang pujaan.
"Naru-kun, katakan pada gadis keras kepala ini aku tidak ingin disamakan dengan Sasuke! Itachi saja lebih menyukaiku daripada adiknya sendiri. Aku ini jelas lebih baik dari dia!"
Yang dimintai pertolongan hanya diam dan tersenyum saja. Toh dia tidak perlu berkata apa-apa. Sebelum dia menjawab pun keduanya sudak sibuk bertengkar lagi. Kalau capek nanti mereka juga akan berhenti sendiri.
"Naru-kun, apa ga sebaiknya diberhentiin aja? Ini udah mau malem lho, ga baik teriak-teriak kayak gitu."
Naruto berpaling ke arah gadis termudanya dan melemparkan senyum manisnya. "Kau ada benarnya, Hina-chan. Oke, Ino-chan, Sai, ayo sudahi pertengkaran kalian. Kalian menggangu ketenangan orang lain berteriak seperti itu. Lebih baik kita segera menuju ke ruang makan, ini sudah hampir lewat waktu makan malam."
Dipanggil oleh pemuda kesayangan mereka, Ino dan Sai pun seketika menghentikan pertengkaran tidak berarti mereka. Hanya cukup satu kata saja dari Naruto dan semua terselesaikan. Sangat mudah baginya untuk menghentikan pertengkaran di rumah ini, akan tetapi dia ini memang sedikit jahil dan membiarkan mereka ribut hanya karena menurutnya itu tontonan yang layak dinikmati.
"Naruto, aku lupa ngasih tahu. Waktu kamu lagi mandi, Minato-san telepon. Kakaynya ada yang penting tapi dia ga titip pesen."
"Ayah? Jarang sekali Ayah sendiri yang menelepon, biasanya juga Ibu. Ada apa ya? Mungkin setelah makan malam nanti aku akan menghubunginya. Terima kasih, Sakura-chan."
"Iya."
Memang benar, sang Ayah tidak biasanya mengubungi. Jika ada sesuatu yang ingin disampaikan pun akan diserahkan kepada sang istri. Jika dia sendiri yang menelepon berarti ada sesuatu yang cukup serius, itu yang Naruto simpulkan.
Setelah Hinata dan Tenten pulang malam itu, Naruto memutuskan untuk menghubungi sang Ayah. DIa hanya cukup menunggu dua nada sambung sebelum orang di ujung sana mengangkat teleponnya.
"Halo, Ayah?"
"Ah, Naruto ya. Ada apa malam-malam begini menelepon?"
"Sakura mengatakan kalau tadi Ayah menelepoku. Ada perlu apa?"
"Oh itu, maaf lupakannya saja. Tadinya Ayah ingin memberitahumu sesuatu tapi sudah tidak perlu lagi." Suara Minato terdengar sedikit tidak tenang, walaupun sang pria dewasa menutupinya dengan baik Naruto dapat merasakannya.
"Ayah, Ibu tidak berbuat yang aneh-aneh lagi kan?" Ibunya memang wanita yang sedikit nyentrik dan senang membuat kejutan. Dan biasanya Minato pun tidak dapat menghentikan ide gila istri kesayangannya itu.
"Tidak, tenang saja Naruto. Jika ada apa-apa Ayah akan memberitahumu."
Naruto tidak mempercayai kata-kata Ayahnya sepenuhnya karena dia masih merasakan ada yang janggal, tapi dia tidak membahasnya lebih jauh lagi. "Baiklah jika begitu, Ayah. Sampaikan salamku pada semua di sana."
"Ah, ya nanti Ayah sampaikan. Sampaikan juga salam Ayah kepada para gadismu dan juga Sai. Selamat malam, Naruto."
"Selamat malam, Ayah."
Benar, kedua orang tua Naruto mengetahui perihal para gadis yang hidup bersamanya dan hubungan mereka. Tentu saja mereka tidak keberatan, terlebih lagi sang Ibu justru senang karena anaknya begitu dicintai, itu katanya.
Naruto menghela napas pendek dan menutup teleponnya. DIa memang terkadang tidak mengerti dengan jalan pikiran orang tuanya, khususnya sang Ibu. Mudah-mudahan saja tidak akan ada sesuatu yang serius kali ini. Menghadapi Sasuke memang sulit, tetapi menghadapi sang Ibu itu jauh lebih sulit.
"Naru, sudah akan tidur? Baru selesai menelepon Minato-san, ya?" Sai sepertinya baru selesai berendam karena rambutnya basah dan di pundaknya tergantung handuk yang basah pula. Jangan khawatir, dia sudah memakai baju kok.
"Oh, Sai. Baru selesai berendam, ya? Ayah menitipkan salam padamu dan juga yang lainnya. Aku akan tidur setelah merapikan beberapa hal. Apa Sakura, Ino dan Temari sudah tidur?"
"Mereka sedang di kamar Temari. Entahlah urusan perempuan, aku tidak diizinkan masuk."
"Kalau begitu aku akan melihat mereka dulu."
"Aku ikut."
Sepertinya ketiga gadis memang sedang melakukan sesuatu. Terdengar cekikikan dan tawa geli dari arah kamar Temari. Tapi rahasia atau bukan, mereka tidak akan mengusir Naruto seperti mereka mengusir Sai.
"Apa yang sedang kalian lakukan, girls? Ini sudah malam."
"Naru-chan, ini urusan perempuan. Kamu ga perlu tau. Iya kan?" Pertanyaan Temari hanya mendapat tawa geli lain dari Sakura dan Ino.
"Hm, begitukah? Aku mengerti." Jika para gadisnya ingin merahasiakannya Naruto tidak keberatan. Semua orang pasti memiliki sesuatu yang ingin mereka simpan bukan. Lagipula jika masalahnya besar cepat atau lambat dia pasti akan tahu dari mereka sendiri. "Aku datang untuk memberikan kecupan selamat malam."
Ketiga gadis pun mendekat ke arah sang pemuda untuk mendapatkan kecupan tersebut. Sai yang sejak tadi ada di sebelahnya cemberut dan memalingkan wajahnya dari mereka.
"Sai kenapa? Masih marah gara-gara aku usir ya?" Memang terdengar menggoda tapi Temari sedikit khawatir juga. Jarang melihat Sai seperti ini moodnya.
"Kalian selalu mendapat kecupan selamat malam. Bahkan Hinata dan Tenten pun mendapatkan kecupan sebelum mereka pulang," jelasnya.
"Ooh, Sai cemburu ya?" Ino mengejek geli.
"Kukira ada apa. Sai manja juga ternyata." Tidak dikatakan pun semua tahu Sai manja pada Naruto, tapi memang tidak pernah seperti ini.
"Tidak perlu cemberut seperti itu. Kalau memang mau, kenapa tidak bilang sejak dulu?"
"Aku ingin kecupan di bibir, sama seperti yang mereka dapatkan. Bukan sekedar di dahi seperti Hinata atau di tangan seperti Itachi. Memangnya Naru-kun tidak keberatan?" Padahal yang lainnya pun hanya mendapat kecupan di pipi, Sai hanya mengada-ada.
"Tidak masalah." Naruto menarik dagu Sai dan mengecup bibirnya singkat. Yang dikecup tertegun di tempat dan ketiga gadis menahan napas tak percaya. "Selamat malam, Sai. Selamat malam, girls."
Naruto meninggalkan mereka berempat yang masih terpaku di tempat untuk pergi tidur. Sai perlahan menyentuh bibirnya yang baru saja dikecup. Tiga detik kemudian dia rubuh tidak sadarkan diri di lantai kamar Temari. Suara jatuhnya menyadarkan ketiga gadis dan mereka mulai panik.
"Sai! Sai, kamu ga apa-apa?"
"Sai bangun!"
"Naruto, tolong Sai pingsan!"
Bagaimanapun mereka berteriak Sai tak kunjung sadar dan yang dimintai tolong hanya tersenyum sebelum menutup mata dan tidur. Akhirnya mereka membiarkan Sai tidur di lantai malam itu dengan wajah dipenuhi senyum. Sepertinya dia mimpi indah. Temari? Dia memutuskan untuk tidur bersama di kamar Sakura. Walau bagaimanapun satu-satunya laki-laki yang pernah tidur sekamar dengannya adalah sang adik.
Saat Naruto bangun pagi itu, Sai sedang melaksanakan rutinitasnya sebagai butler sang Uzumaki. Para gadisnya sudah bangun lebih dulu darinya dan sedang berdandan untuk hari itu. Pintu depan terbuka dan masuklah Hinata yang memakai seragam sekolahnya. Dia melihat pemuda kesayangannya dan menyapanya.
"Met pagi, Naru-kun! Baru bangun, ya?"
"Selamat pagi, Hina-chan. Iya, semalam aku tidur nyenyak sekali. Aku sebaiknya mandi dulu jika tidak ingin terlambat, ada kelas pagi ini."
"Kalau gitu Hina langsung ke dapur, ya."
"Ya."
Saat dia selesai mandi, Sakura, Ino dan Temari sudah siap untuk mentransformasinya menjadi Narumi. Mereka memilih untuk mengepang sebagian rambut wig Narumi dan mengurai sisanya. Baju yang dipakaikan adalah dress mini berwarna merah menyala dengan celana panjang ketat berwarna biru yang akan menjadikannya pusat perhatian nanti. Sudah biasa sih, ketiga gadis ini memang memiliki selera unik saat mendandani Narumi. Entah apa tujuannya.
"Waw, Naru-kun hari ini mencolok seperti biasa," seru Tenten saat mereka berempat tiba di ruang makan. Hinata baru saja menata piring terakhir saat mereka masuk dan Tenten membantu merapikan meja. "Yah, tapi Naru-kun sih mau dipakein apa juga cocok sih. Kadang aku iri deh."
"Terima kasih, Tenten-chan. Kamu pun manis, kok. Jangan rendah diri seperti itu." Tenten hanya membalas dengan senyuman lebar.
Tak lama Sai pun masuk dan bergabung untuk menyantap sarapan pagi itu. "Oh Sai, udah sadar? Kirain masih ngelamun," goda Ino.
"Aku tidak melamun. Enak saja bicara," bantahnya.
"Harusnya kalian liat dia tadi malem. Ternyata Uchiha bisa juga pingsan, ya."
"Sai kenapa? Sakit?" Hinata sedikit khawatir mendengar salah satu dari mereka sampai bisa jatuh pingsan. Gadis satu ini memang yang paling berhati lembut diantara empat lainnya.
"Enggak kok, Hina. Penyebabnya itu tuh," Temari menunjuk ke arah Naruto yang sedang dengan santainya mengunyah sarapannya. Yang ditunjuk pun menoleh dan menaikkan alisnya tanda bertanya. Semua mata tertuju padanya kecuali Sai. Temari, Ino dan Sakura dengan tatapan jahilnya sedangkan Tenten dan Hinata dengan tatapan penasarannya.
Aah, pasti soal tadi malam ya. Aku sendiri hampir lupa. "Itu hanya sebuah kecupan, kan. Tidak ada yang aneh."
Tenten dan Hinata yang semakin bingung meminta penjelasan darinya, tapi Naruto hanya mengangkat bahu dan melanjutkan sarapannya. Akhirnya ketiga saksi tadi malam lah yang bercerita. Mendengarnya Tenten tertawa dan Hinata tersipu.
"Dan berkat kejadian itu Sakura dapet imajinasi liar," tambah Temari.
"Eh, apa? Apa?" tanya Tenten semangat.
"Aku bilang, kalau Naruto bisa nyium Sai berarti ada kemungkinan dia juga boleh dong cium Sasuke. Siapa tau bisunya sembuh, gitu."
Seketika Naruto pun menyemburkan sarapannya. Ini kedua kalinya dia OOC di cerita ini. Sai yang sejak tadi berusaha untuk menenangkan diri pun tersedak ludahnya sendiri. Hinata makin tersipu sedang para gadis yang lain malah tertawa.
"Ahaha, ide bagus Sakura! Boleh dicoba tuh, Naru-chan." Ino pun tidak segan ikut menggoda pemuda kesayangan mereka itu.
Naruto mengambil serbet dan mengelap mulutnya. Dia beranjak dari kursinya dan sebelum keluar dari ruang makan dia berbalik sebentar. "Hari ini aku berangkat sendiri. Kalian minta antar Sai saja, ya. Entah mengapa aku merasa para gadisku hari ini akan memberiku stress yang lebih berat dari ibuku."
Mereka hanya terkikik mendengar penjelasan Naruto. "Hati-hati di jalan ya, Naruto. Kalu ketemu Sasuke titip salam dan kecup, ya."
"Oh, diamlah Sakura." Naruto memutar mata dan berbalik pergi. Entah apa yang merasuki para gadisnya pagi ini dia tidak mengerti. Semoga saja tidak akan ada hal buruk terjadi di kampus hari ini.
Di tempat lain seorang Uchiha berambut pantat ayam tiba-tiba bergidik saat akan keluar dari apartemennya. Dia terpaku dengan tangan kanan yang menggenggam handle pintu.
"Kau kenapa, Sasuke?" tanya Neji heran.
"Tiba-tiba aku merasa tidak ingin berangkat ke kampus. Perasaanku mengatakan suatu hal yang buruk akan terjadi jika aku pergi."
"Kau ini hanya beralasan saja, kan. Sudah pergi sana, nanti kau terlambat." Neji mendorong sahabatnya itu agar segera keluar dan berangkat. Mau tidak mau Sasuke pun pergi karena dia juga harus menyerahkan beberapa tugas hari ini.
Sepanjang perjalanan dia menggumam tidak jelas. Sepertinya dia membaca mantra atau apalah, tujuannya agar tidak ada hal buruk yang menimpanya hari ini. Begitu sampai di kampus dan keluar dari mobilnya tentu saja gumaman itu berhenti dan kembalilah dia menjadi Sasuke Uchiha yang berpenyakit bisu itu.
Sasuke tiba di kelas pertamanya dengan selamat dan menjalaninya sampai akhir dengan selamat pula. Walaupun tidak terdengar oleh siapapun, dia tidak berhentinya membaca mantra di dalam hati selama kelas berlangsung.
Kalau sampai terjadi sesuatu padaku, akan kucekik si Neji nanti saat aku pulang.
Ditambah dengan makian juga ternyata. Neji sepertinya harus membaca mantra juga agar terhindar dari amarah sahabatnya yang tempramental ini.
Sampai waktu makan siang semua berjalan dengan lancar. Bahkan makanan pesanannya pun dengan lancarnya masuk ke perutnya. Entah apa maksudnya kalimat ini. Namun ketika tiba saatnya untuk masuk ke kalas selanjutnya Sasuke merasa bulu kuduknya merinding untuk kedua kalinya hari itu.
Jika mengikuti perasaannya ingin sekali dia berbalik dan pulang saja. Akan tetapi seorang Uchiha tidak pernah membolos untuk alasan apapun dan tidak akan dia memulainya hari ini. Saat dia menginjakkan kakinya di ruangan kelas mimpi buruk pun dimulai. Dimulai dengan warna kuning yang sangat dia tidak sukai.
"Sasuke-kun! Apa kabar? Dah lama ga ketemu," sapa sang gadis.
Seperti biasa Sasuke mengacuhkannya dan mencari tempat duduk terjauh dari posisi si gadis sekarang. Untungnya si gadis saat itu tidak berkata apa-apa lagi padanya sampai sang dosen pun datang.
"Sebenarnya hari ini aku ingin sekali telat tapi entah mengapa hari ini aku datang tepat waktu. Mudah-mudahan saja ini pertanda bagus ya, hahaha," tawa sang dosen datar. Justru sebaliknya, menurut para siswanya ini adalah pertanda buruk. Kakashi selalu terlambat dan tidak pernah, sekali lagi, tidak pernah tepat waktu dalam urusan apapun.
Sasuke pun semakin komat-kamit di dalam hati. Bahkan dia memasang segel tak terlihat di sekitarnya agar terhindar dari segala macam kutukan. Dari jauh diam-diam Narumi memperhatikan tingkah laku Sasuke ini tapi tidak berkata apa-apa.
Mimpi buruk kedua akhirnya muncul sesaat setelah kuliah Kakashi berakhir. "Ah, aku hampir lupa. Narumi, Sasuke, kalau kalian sudah tidak ada kelas datang ke ruanganku ya. Narumi, aku tunggu ya." Tidak lupa Kakashi mengedipkan sebelah matanya ke arah si gadis.
Ini dia. Datang, kan! Ada apa denganku dan hari ini?! Semoga Neji masih hidup saat aku pulang karena tidak asik mencekik orang yang sudah mati.
Aku tidak mendapat masalah, kan? Aku sedang malas berurusan dengan kegenitan Kakashi dan makian Sasuke hari ini. Gara-gara kejadian pagi ini aku jadi mulai berpikir aneh.
Sebenarnya ini adalah kelas terakhir mereka hari ini, jadi tidak perlu menunggu lamamereka berdua pun langsung mengikuti Kakashi ke ruangannya. Keduanya hanya diam sepanjang perjalanan dan sampailah mereka di ruangan kecil sang dosen.
"Aku terkesan dengan hasil laporan kalian dan aku bisa katakan kalian berdua sangat terampil di bidang ini."
"Makasih, Sensei."
"Hn."
"Karena itu, aku ingin kalian berdua menjadi asistenku dalam percobaanku selanjutnya. Bagaimana?"
"Oh." Hanya itu saja reaksi Narumi sampai dua detik selanjutnya dia mencerna apa maksud sang dosen. "Apa?!" Narumi bisa mendengar jeritan hari Sasuke yang tengah berdiri di sampingnya itu menyuarakan hal yang sama.
"Kalian berdua jadi asistenku, kalian sudah pasti lulus dari kelasku, kalian boleh tidak masuk kelasku untuk percobaan ini dan tidak akan ada tugas lain dariku jika kalian setuju. Bagaimana?"
Kakashi memang bertanya 'bagaimana?' seakan itu pilihan, akan tetapi tatapannya mengatakan 'kalian tidak memiliki pilihan karena itu yang aku inginkan', ya semacam itulah. Narumi dan Sasuke memikirkan segala keuntungan dan juga konsekuensi tentunya jika mereka menolak permintaan yang memaksa ini.
"Hn." Sasuke yang pertama menyetujui. Narumi hampir tidak percaya sebenarnya. Ketika dia menoleh ke arah Sasuke dan mendengar alasannya sepertinya dia mengerti.
"Kalau gitu Naru juga setuju, deh."
"Bagus kalau begitu. Aku akan memberikan detailnya mulai minggu depan. Kalian tunggu aja, ya. Nah, sekarang sana pulang."
Narumi memberikan salam sedangkan Sasuke seenaknya saja pergi keluar begitu saja, sudah biasa sih. Tanpa menoleh sedikit pun si rambut ayam bergegas ke tempat di mana dia memarkir mobilnya.
Sudah kuduga seharusnya aku tidak pergi ke kampus hari ini. Akan benar-benar kubunuh si Neji! Aku tidak akan puas hanya dengan mencekiknya. Akan kucincang juga dia setelah kucukur habis rambut kebanggaannya itu!
Apa juga salah Neji sampai Sasuke geram seperti ini. Jalan pikirannya saat emosi memang tidak dapat dipahami. Selalu saja melampiaskan amarahnya kepada sahabatnya itu. Narumi yang sejak tadi memperhatikan memperlihatkan raut sedih di wajahnya.
Sepertinya aku harus menyampaikan berita duka kepada Hinata. Sebentar lagi dia akan kehilangan kakak sepupunya.
Tenang saja, Neji akan baik-baik saja kok. Kenapa? Karena dia salah satu tokoh favoritku jadi aku tidak akan membunuhnya? Bukan. Karena Neji itu menguasai beladiri dan lebih lihai dari Sasuke walaupun kelihatannya tidak begitu. Butuh lebih dari sekedar kutukan, niat dan emosi untuk Sasuke jika ingin benar-benar membunuh Neji. Lagipula jika Neji mati, kepada siapa Sasuke akan curhat jika dia akan ada masalah nanti? Iya, kan.
