Maaf sebelumnya karena dah lama ga nongol. Bukan karena ga mau tapi karena keadaan fisik yang ga memungkinkan. Syukurnya sekarang udah agak membaik dan bisa mulai nulis lagi, tapi ini jadi jauh banget dari deadline. Ga papa lah ya, aku minta maklum dari semuanya. Sekali lagi mohon maaf. Ini juga update cuma ada seadanya. Silahkan dibaca ^_^
.
Note :
Isi hati Naruto
Isi hati Sasuke
'Isi hati yang lainnya'
"Nah, silahkan dinikmati tugasnya. Sasuke, jangan berbuat yang aneh-aneh pada Narumi selama kalian bersama, ya. Sensei akan mengawasi kalian." Kakashi menatap tajam kepada Sasuke lalu berpaling dan tersenyum ke arah Narumi.
"Kami akan berusaha sebaik kami, Sensei." Narumi tersenyum balik kepada dosennya itu.
Keduanya berjalan keluar dari ruangan sang dosen dan masing-masing memiliki perasaan yang berbeda mengenai tugas ini. Entah kenapa Sasuke terdengar sepi, maksudnya dia belum mengatakan apa-apa baik secara lisan maupun telepati. Narumi sendiri sibuk dengan pikirannya sendiri.
Narumi baru saja berbalik dan akan mengatakan sesuatu pada Sasuke tapi hanya punggung si Uchiha saja yang dia dapati. Mulutnya yang sudah setengah terbuka dia katupkan kembali dan dia hanya bisa menghela napas. Saat akan pergi meninggalkan koridor, Narumi menangkap suara yang membuatnya sekali lagi berpaling ke arah Sasuke. "Dobe." Dia yakin pernah mendengar suara ini dan sama seperti sebelumnya.
"Apa Sasuke dah mulai sembuh ya penyakitnya?" Tidak mengharapkan jawaban dari siapapun, Narumi mengangkat bahu dan berjalan ke arah yang berlawanan dengan Sasuke. Dia harus memikirkan cara agar dapat melakukan semuanya dengan cepat dan lancar. Walau bagaimana pun dia tidak bisa terus begini dengan si Uchiha yang dia percaya memiliki kemampuan telepati itu. "Apa tidak ada cara agar dia bisa bicara sewajarnya?"
Saat ini dia sedang termenung di meja kantin kampus, makanan yang sudah dipesannya sedari tadi belum sempat disentuhnya. Tenten yang sempat bergabung dengannya untuk makan siang duduk di sampingnya dan terhenti saat mengunyah mendengar Narumi berbicara dengan gaya bicara Naruto. Baru kali ini dia mendengar Narumi melakukannya, tapi melihat Narumi yang termenung Tenten mengerti apa yang membuatnya seperti itu.
"Gampang, gimana kalau nyoba sarannya Sakura?" Tenten tersenyum jahil sambil menatap Narumi yang tersadar berkat komentarnya. "Lagi mikirin Sasuke, kan?"
Mata biru Narumi menatap tidak mengerti apa yang gadis dihadapannya ini maksudkan. Darimana Tenten tau dia sedang memikirkan Sasuke? Apa dia mengatakan apa yang ada dipikirannya tanpa sadar? Ditambah komentarnya itu dan juga seringai di wajahnya, Narumi merasa gadisnya ini pasti sedang ingin menggodanya. "Saran Saku…" Mengucapkan kedua kata ini mengingatkannya pada kejadian minggu lalu dan tersadar akan maksud si gadis. "Tenten-chan, aku ga suka digoda kayak gitu."
"Oh, dah sadar rupanya kalau kita ada di tempat umum." Narumi lagi-lagi menatap tidak mengerti. Tenten menyeringai sedikit sebelum menjelaskan apa yang terjadi. "Tadi Naru-kun sempet keluar loh, ga sadar ya? Gara-gara Sasuke, Naru sampai kayak gitu aku ga nyangka. Makanya, daripada kayak gini terus kan mendingan beresin aja sekalian. Tinggal kecup kan, gampang."
Masa iya aku sampai tidak sadar dan membiarkan sifat asliku keluar di tempat umum? Berhubungan lama-lama dengan Sasuke membuatku melakukan hal-hal yang tidak pernah kulakukan sebelumnya. Benar yang dikatakan Tenten, aku harus mengakhirinya, tapi apa iya harus dengan cara aku mengecupnya? "Hmm." Narumi berpikir keras dan menunjukkan raut muka yang serius. Tenten tidak percaya bahwa kata-katanya tadi benar-benar dipertimbangkan oleh pemuda kesayangannya. Dia terkikik dan melanjutkan makan siangnya dengan tenang, membiarkan Narumi atau Naruto sibuk dengan pemikirannya sendiri.
Ketika Narumi memutuskan untuk pergi, dia baru menyadari bahwa Tenten sudah tidak ada bersamanya dan kantin pun sudah sepi. Di atas meja ada secarik kertas dengan tulisan yang dia kenali milik Tenten. Tulisan itu berbunyi, 'Karena kamu ga bisa diganggu, aku pergi dan ga pamitan. Aku ada kelas, sampe ketemu lagi di rumah ya.' Ada gambar wajah tersenyum di akhirnya. Narumi melipat kertas itu selesai membacanya dan memasukannya ke dalam saku celana.
Sudah tidak ada lagi kelas untuknya hari ini. Dengan disetujuinya perjanjian dengan Kakashi, berkurang sudah jam yang harus dia habiskan di kampus. Hari ini adalah salah satunya, dia jadi bisa pulang lebih cepat dan segera menuju rumah. Mata birunya menangkap sesuatu saat akan melangkah keluar kantin. "Sasuke-kun?"
Ya, Uchiha muda itu sedang duduk termenung sendirian di dekat jendela dan menghadap keluar gedung. Entah apa yang sedang dipikirkannya karena saat Narumi mendekat pun tidak terdengar apa-apa darinya. Sejenak dia terlihat seperti orang normal dan juga begitu damai, andai saja Sasuke selalu seperti ini itu akan lebih baik bagi mereka berdua.
Merasakan keberadaan seseorang di dekatnya, Sasuke menoleh dan menemukan sosok gadis yang sangat tidak ingin ditemuinya. Hampir saja dia berteriak dengan tidak elitnya jika saja tidak segera mengontrol diri mengingat dia masih ada di sekolah. Kenapa kau ada disini? Ingin membunuhku dengan keberadaanmu, hah?! "Hn."
"Sasuke-kun, mau ga main ke rumah Naru?" Bukan hanya Sasuke, Naruto sendiri kaget mendengar apa yang baru saja keluar dari mulutnya. Kenapa aku tiba-tiba bicara begitu? Mana mungkin dia mau, tapi sudah terlanjur. Biar saja lah.
Ka-kau bilang apa?! Pergi ke rumah penyihir? Mana aku mau! Aku ini masih ingin hidup, tidak sudi aku datang ke sarang penyihir. Untuk apa aku kesana?
"Tapi, aku cuma pengen kerjaan kita cepet beres. Di rumah Naru banyak buku referensi sama peralatan yang bisa bantu juga. Mm, Sasuke-kun ga suka ya? Atau sebenernya Sasuke-kun pengen lama-lama ngerjain ini sama Naru, ya?" Kenapa aku jadi terkesan genit begini, ya? Kenapa juga aku bersikeras mengajak Sasuke ke rumah? Ada apa dengan diriku ini?
Sasuke sejenak diam dan memikirkan kata-kata Narumi barusan. Tadi itu adalah pilihan yang cukup berat, keduanya memiliki kengerian tersendiri baginya tapi juga ada keuntungan disana. Manakah yang harus dia pilih?
Haruskah aku mengandalkan keberuntungan dan pergi ke sarang penyihir, berharap aku akan selamat dan kembali dari sana? Ta-tapi dengan begitu semua bisa selesai dengan cepat. Aku harus, tidak, aku akan bertahan. Aku adalah seorang Uchiha, ya seorang Uchiha pasti bisa. Aku pasti bisa!
Narumi hampir sweatdrop mendengar isi hati Sasuke, namun dia mempertahankan wajah manisnya. "Kalau gitu kita pulang bareng, ayo Sasuke-kun." Entah apa yang mendorongnya untuk melakukannya, Narumi meraih tangan Sasuke dan menariknya untuk berjalan bersamanya.
Sasuke begitu kaget dan seketika panik ketika disentuh oleh perempuan. Dia memberontak sambil berteriak-teriak dalam hati dengan tidak Uchiha-nya, namun tidak disangka genggaman tangan Narumi begitu kuat. Ditemani tatapan dari begitu banyak orang, mereka berdua berjalan menuju tempat parkir dimana Sai sudah menunggu di dalam mobil untuk mengantar majikannya pulang.
"Nona, hari ini Nona membawa tamu?" Naruto hanya menjawab dengan anggukan. "Tidak saya sangka akan bertemu lagi dengan Anda secepat ini, Sasuke-san."
Sasuke menatap tidak suka pada Sai, tapi seperti biasa Sai tidak mempedulikannya dan hanya tersenyum. "Ayo kita pulang, Sai." Narumi menarik Sasuke masuk ke dalam mobil lalu menutup pintunya sendiri.
Begitu duduk Sasuke langsung menjauhkan diri dari Narumi. Dia menjaga jarak sejauh mungkin dan meruntunkan begitu banyak mantra ditemani sumpah serapah yang ditujukan pada gadis yang duduk bersamanya. Tuhan, Dewa, siapapun tolong aku. Makhluk mengerikan ini telah menyentuhku, aku belum mau mati. Namikaze sialan, berani-beraninya dia memperlakukanku seperti itu. Akan kupenggal kepalanya dengan sendok makan. Hah? Tunggu sebentar. Mana mungkin aku bisa memenggal dengan sebuah sendok. Oh Tuhan, aku jadi gila!
Si gadis sendiri tidak begitu mempedulikan isi hati pemuda di sebelahnya, dia hanya duduk termenung sambil melihat keluar jendela. Pikirannya kacau dan dia tidak bisa mengerti dengan keputusannya sendiri. Kenapa aku malah membawa Sasuke ke rumah? Bagaimana jika rahasiaku terbongkar? Sepertinya otak dan hatiku memiliki keinginan yang berbeda.
Keduanya sibuk dengan isi hati mereka masing-masing sampai Sai harus mengetuk kaca mobil cukup keras untuk menyadarkan mereka berdua bahwa mereka sudah sampai di kediaman Namikaze. "Apa Anda membutuhkan saya untuk menjamu tamu Anda hari ini, Nona?"
"Ga perlu, biar aku aja. Sebentar lagi juga yang lain dateng, kan? Kamu istirahat aja, Sai. Kalau ada apa-apa nanti aku panggil."
Sai memohon diri setelah mengantarkan majikan dan tamunya masuk ke dalam rumah. Dengan santai Sasuke mengikuti si tuan rumah menuju ke bagian dalam rumah walau pada kenyataannya hati dan jiwanya tidak setenang yang terlihat. Rumah yang cukup besar bahkan bisa dibandingkan dengan rumah milik keluarga Uchiha. Keluarga Namikaze memang salah satu keluarga terpandang, tapi baru kali ini Sasuke melihat sendiri kekayaan mereka. `
Naruto membawa Sasuke ke perpustakaan dan memintanya untuk menunggu disana karena dia hendak berganti pakaian dulu. Sasuke yang ditinggal sendirian berkeliling melihat-lihat koleksi buku sang Namikaze. Koleksi yang cukup menarik, Sasuke bahkan cukup menikmati kesendiriannya. Tidak kusangka penyihir itu memiliki selera yang bagus.
Pintu perpustakaan terbuka dan Sasuke dapat melihat seseorang berambut panjang berwarna kuning mendekatinya. Baru saja dia hendak mengirimkan tatapan tertajamnya saat wajah yang dia lihat ternyata lebih mengerikan dari yang dia duga.
"Kamu Sasuke-kun, kan?" Wajah itu tersenyum padanya dan jarak yang kurang dari dua meter ini terlalu dekat baginya. "Loh kok ga jawab, kenapa?"
Mengambil langkah mundur, Sasuke mencoba untuk memperbesar jarak antara dirinya dan monster di hadapannya. Inikah yang terjadi jika aku pergi ke rumah seorang penyihir? Mengapa dia harus tinggal bersama monster lainnya?!
"Ino, lagi apa disini? Abis ngobrol sama Sai bukannya nyari Naru-chan malah kesini, tumben banget. Loh, itu siapa?" Temari yang baru saja keluar dari kamarnya melihat Ino yang sedang mengobrol dengan Sai. Belum sempat dia bertanya Ino segera lari dan Sai pun segera menghilang entah kemana. Mengikuti teman serumahnya dia mengira Ino berlari untuk menyapa pemuda kesayangan mereka, karena itulah dia kaget mendapati Ino malah ada di perpustakaan bersama seorang pemuda yang jelas bukan Naruto.
Ino melirik Temari yang masih berdiri di dekat pintu dan melambaikan tangannya. "Temari, liat deh ini siapa. Sasuke-kun dateng main kesini."
Mendengar nama yang keluar dari mulut Ino, Temari tidak percaya. Dia mendekat dan memastikan sendiri dengan kedua matanya, sungguh suatu kejutan yang tidak terkira. "Wah, kamu bener Ino. Tapi kenapa Sasuke-kun kok pucet gitu?" Mereka berdua saling tatap lalu menyadari sesuatu.
Tentu saja Sasuke pucat. Bagaimana tidak, dengan kondisinya saat ini yang terjebak di dalam satu ruangan di kediaman seorang penyihir dengan dua ekor makhluk mengerikan yang bernama perempuan. Dia merutuk, mengusir, mencela, dan berbagai macam hal lainnya dia katakan dalam hati dengan harapan mimpi buruk ini akan segera berakhir. Tapi tentu saja tidak ada yang mendengar ataupun mengerti apa yang dia inginkan jika Sasuke hanya diam dan menatap mereka tajam.
"Sasuke-kun kesini pasti sama Naru-chan, kan? Gimana kalau ngobrol sama kita sambil nunggu Naru-chan balik kesini?" Tanpa terlalu mempedulikan akibat dari perbuatannya, Ino mendekati Sasuke yang langsung lari menjauh darinya dalam sekejap.
Melihat pintu perpustakaan yang terbuka merupakan kesempatan bagi Sasuke untuk kabur dan pergi kemana saja asalkan tidak diruangan ini. Sayang bagi Sasuke yang terlalu tergesa-gesa dia malah terbentur dan jatuh terduduk di lantai. Sial, aku malah menabrak tembok. Masa aku salah memperhitungkan jarak celah keluar dengan tembok? Tapi tidak kuduga tembok rumah ini tidak sekeras tembok pada umum..nya.
Kata-kata Sasuke melambat saat menyadari keanehan yang dia rasakan. Untuk menambah kesialannya sebuah suara terdengar dari arah atas dan Sasuke berharap ini hanya mimpi dan dia akan segera terbangun. "Oh maaf, kamu ga apa-apa? Loh, kamu kan Sasuke-nii? Kok bisa ada disini?"
"Hina-chan, kenapa malah jongkok depan pintu? Ino sama Temari ada disana ga?"
"Ah Sakura-nee, ada Sasuke-nii disini." Temari dan Ino yang ada di dalam perpustakaan mendekati Hinata yang sedang berjongkok di depan Sasuke. Sakura yang baru datang berdiri di belakang gadis paling muda di rumah mereka ini sambil memperhatikan semuanya. "Sasuke-nii ga apa-apa? Wajah Sasu-nii pucet." Tangan HInata menyentuh wajah Sasuke untuk memastikan pemuda itu baik-baik saja.
Sakura yang tahu apa yang akan terjadi mencoba memghentikan Hinata. "Hina-chan, jangan.."
Dengan tangan yang sudah menempel ke dahi sang Uchiha, Hinata berbalik melihat ke arah Sakura dengan wajah penuh bertanya. "Kenapa, Sakura-nee?"
Terlambat. Yang bisa mereka saksikan sekarang hanyalah tubuh Sasuke yang roboh ke lantai tidak sadarkan diri. "Bagaimana ini?" Keempat gadis yang ada disana panik tidak tahu yang mereka lakukan.
Tak lama Naruto pun datang bersama dengan Tenten yang juga baru saja tiba. Dia bingung ketika melihat keempat gadisnya sedang berkumpul sambil berjongkok di depan pintu perpustakaan. Lebih kaget lagi dia saat melihat Sasuke yang sudah tidak berdaya dia atas lantai dengan ekspresi horor di wajahnya.
"Ah, aku hampir lupa meninggalkan dia disini sendirian." Kelima gadisnya menatapanya tidak percaya atas penyataan yang baru saja Naruto ucapkan. Naruto membungkuk dan mengangkat tubuh lemas Sasuke. "Sebaiknya kita pindahkan saja dulu dia. Kalian tunggulah aku di ruang Uzuna, aku akan membaringkan dulu Sasuke di kamarku." Sekali lagi kelimanya hanya bisa menatap tidak percaya. Mereka bahkan sedikit tidak mempercayai telinga mereka sendiri.
"Naru-kun bawa Sasuke-kun ke kamarnya? Apa ga salah?" Tidak ada yang menanggapi pertanyaan Tenten karena yang lainnya pun menanyakan hal yang sama dalam hati mereka.
Sepasang mata onyx terbuka mencoba melihat di dalam kegelapan yang menyelimutinya. Dari yang dia rasakan Sasuke tahu saat ini kasur dimana dia berbaring bukanlah miliknya, itu artinya dia sedang tidak di apartemennya. Sasuke turun dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar. Saat melewati sebuah ruangan beberapa suara samar terdengar dari balik pintu. Karena rasa penasaran dia menempelkan telinganya ke papan kayu itu agar bisa mendengar lebih jelas.
"Tapi Naru bakal gimana kalau Sasuke bangun nanti?" Terdengar suara perempuan yang menurut Sasuke memuakan. Beberapa suara lainnya menyuarakan hal yang sama pada seseorang di antara mereka.
"Tenanglah, girls. Semuanya akan baik-baik saja. Lagipula kurasa Sasuke belum akan bangun dekat-dekat ini, kalian terlalu mengejutkannya."
Sasuke mengerutkan dahi. Barusan yang menjawab adalah suara seorang pemuda dan dia yakin sekali. Dia tidak pernah tahu ada laki-laki yang tinggal di rumah ini, selain dari adik bodohnya itu, setelah masuk ke rumah ini dia percaya semua makhluknya adalah perempuan. Tidak dia sangka dan Sasuke semakin penasaran dengan apa yang terjadi di luar.
"Kita kan ga ada maksud kayak gitu, Naru-chan. Kita juga ga tau kalau Sasuke-kun bakal pingsan kalau dipegang cewe, ya walaupun aku pernah denger sih isu kayak gitu."
"Iya, Naru-kun. Hina minta maaf ya. Nanti Hina juga bakal minta maaf sama Sasuke-nii."
"Tidak perlu. Aku tahu kamu tidak bermaksud begitu, Hina-chan. Yang terjadi pada Sasuke kita anggap saja kecelakaan yang di luar dugaan." Ingin sekali Sasuke mencekik siapapun pemuda di luar yang seenaknya mengatakan semua yang dialaminya kecelakaan yang di luar dugaan. Ini semua adalah salah si Narumi dan Sasuke melimpahkan semua kesalahan padanya.
"Terus, kalau Sasuke dah bangun kamu bakal ngapain? Pura-pura semua baik-baik aja hm, Naruto?" Telinga Sasuke menajam mendengar nama yang disebutkan terakhir itu. Dia tahu nama itu, tapi kenapa nama itu muncul di sini dia tidak mengerti. "Lagian kita ga tahu gimana reaksi Sasuke kalau liat penampilan kamu sekarang."
"Ayolah Sakura, tidak akan ada yang terjadi. Sasuke tidak akan melihat sosok Naruto, yang dia tahu hanyalah Narumi. Dia tidak akan tahu bahwa mereka adalah orang yang sama. Cukup kalian saja yang tahu rahasiaku."
Kali ini mata Sasuke yang membelalak. Dia semakin tidak percaya dengan apa yang dia dengar saat ini. Jangan-jangan saat ini Sasuke sedang bermimpi dan belum sadar dari pingsannya. Ini semua terlalu mustahil untuk terjadi.
"Kamu nyantai banget sih. Kalau ada apa-apa kita ga tanggung loh ya."
"Kalian ini. Kita bicarakan masalah lain saja ya. Jangan terus membahas Sasuke, itu tidak terlalu penting. Bagaimana jika kita bicarakan acara liburan kita saja?"
Kalimat yang terakhir itu membuat Sasuke geram. Enak saja orang itu mengatakan bahwa masalah dia tidak lebih penting dari sebuah liburan. Dengan satu dorongan keras Sasuke membuka pintu membuat semua orang yang sedang mengobrol di dalam kaget dan menoleh ke arahnya.
Bukan hanya kaget melihat Sasuke saat ini berdiri di ambang pintu, Naruto juga sedikit gugup melihat ekspresi wajah Sasuke saat ini. Wah, sepertinya dia benar-benar kesal. Mati aku. "Sa-Sasuke, kau sudah sadar rupanya."
Mata onyx Sasuke menatap tajam Naruto. Jari telunjuknya mengarah ke wajah sang Namikaze dengan tidak sopannya. "Kau! Kau yang disana! Namamu Uzumaki Naruto, bukan?" Semuanya saling menoleh mencari sumber suara yang tidak mereka kenal. Di sudut ruangan Sai hanya tertawa kecil tidak membantu. "Hei, aku sedang bicara padamu, bodoh! Apa yang kau cari?!" Kali ini Naruto menengok ke arah Sasuke dan menatapnya dengan penuh penasaran. "Apa?"
Semuanya tersentak kaget bahkan ada yang napasnya tertahan. Ini sungguh suatu kejadian langka, mereka hampir tidak percaya dengan telinga mereka sendiri. "Sasuke, kau bicara?"
Bukannya menjawab Sasuke malah semakin geram berteriak lagi. "Jawab pertanyaanku, bodoh! Kau si Naruto Uzumaki kurang ajar itu, kan? Aku tahu dari rambut pirangmu itu, ditambah tanda di pipimu itu, juga matamu, dan suara jelekmu. Kau pasti dia, kan?!"
"Sasuke, tenang dulu. Aku bisa jelaskan ini semua." Naruto sedikit bingung bagaimana Sasuke bisa mengenali dirinya, tapi sebelum itu dia harus membuat Uchiha ini tenang dulu. "Kita duduk dulu saja. Kau pasti masih lemas kan, kau baru saja sadar."
"Aku tidak butuh duduk! Aku ingin jawaban! Mengapa saat itu kau tiba-tiba menghilang? Mengapa tidak memberi kabar? Dan apa-apaan dengan semua perempuan yang mengelilingimu ini?! Apa yang kau rencanakan, hah?!"
Sepertinya sulit sekali membuat Sasuke tenang jika sudah seperti ini. Memang Sai pernah memberitahunya jika Sasuke sudah bicara tidak ada yang bisa menghentikannya, tapi saat itu Naruto menganggap Sai hanya bercanda. Siapa sangka ternyata memang seperti itu, merepotkan sekali. "Sasuke, aku tidak mengerti dengan semua pertanyaanmu. Kita bicara baik-baik saja, ya. Lihat, kau membuat yang lain ketakutan." Naruto mengedarkan pandangan pada para gadisnya yang sedang berkumpul bersama di sofa kesayangan mereka.
"Kau pikir aku peduli?! Apa salahku sampai kau menghilang begitu saja? Kau benci padaku? Begitu caramu memperlakukanku? Ingin balas dendam, hm? Apa kau tahu sejak kau menghilang hidupku jadi berantakan?"
Tidak ada tanda-tanda dari si Uchiha bahwa dia akan berhenti. Dan dengan semua pertanyaan yang dilontarkannya Naruto sama sekali tidak mengerti. "Sasuke, diam dulu.."
"Memangnya kau pikir kau siapa bisa merusak hidupku begitu saja?" Sasuke mulai berjalan berputar-putar di tempatnya. "Sudah berapa lama aku mencari dimana dirimu tapi tidak pernah ada petunjuk sedikit pun!"
"Sasuke, tenanglah."
"Lalu sekarang kau tiba-tiba muncul dengan cara seperti ini?! Kau pikir kau ini hebat bisa melakukan apa saja yang kau mau tanpa memperdulikan orang lain? Kau tidak lebih baik dari para perempuan monster yang selalu memberikanku mimpi buruk itu!"
Naruto melirik kepada Sai yang terus saja tertawa geli sedari tadi. "Sai, apa tidak ada cara agar kakak sepupumu ini berhenti?" Yang ditanya hanya mengangkat bahu lalu menggeleng. Kerut di dahi Naruto pun muncul. Apakah dia harus bersabar dan menunggu Sasuke selesai dengan sendirinya? Berapa lama?
"Sekarang semua yang terjadi dalam hidupku entah mengapa berhubungan denganmu. Apa kau tidak tahu itu membuatku semakin frustasi?!" Naruto menatap Sasuke yang tak hentinya bicara tanpa melihatnya, dia harus melakukan sesuatu. "Bahkan si Itachi bodoh itu tidak berhentinya mengejekku dan membuat hidupku semakin runyam! Lalu Neji yang tinggal bersamaku, semua peraturannya itu membuatku sakit kepala. Tunggu, Neji tidak ada hubungannya. Argh, apa yang kukatakan! Dan kau!" Sasuke akhirnya berbalik dan menatap Naruto, tiba-tiba bicaranya gugup. Bagaimana tidak, Naruto yang tadi begitu jauh sekarang tidak sejauh itu. "Me-mengapa kau begitu dekat?!"
Memang sewaktu Sasuke sibuk bicara sendiri, Naruto mulai mengambil langkah mendekat perlahan-lahan. Dan saat ini mereka hanya berjarak satu langkah saja. "Sasuke."
"A-apa?"
"Kau berisik." Kedua tangan Naruto menangkup pipi Sasuke dan dalam hitungan detik dia menyatukan bibir mereka. Terdengar suara yang menahan napas dari arah belakang yang dipercaya datang dari kelima gadisnya. Tidak ada reaksi dari Sasuke, yang bersangkutan hanya diam terpaku dan matanya membelalak. Naruto sedikit menikmati pun mengakhiri koneksi mereka dan menyunggingkan sebuah senyuman. "Akhirnya kau diam juga."
Tidak ada yang berkata selama beberapa saat, bahkan sang pelaku sendiri. Dia hanya terus saja tersenyum sambil mengamati wajah Uchiha yang terdiam di hadapannya. Kalimat pertama yang memecah keheningan datang dari Sakura. "Na-Naruto, apa yang baru kamu lakuin?"
Dengan ringannya Naruto menoleh dan menjawab, "Tentu saja menciumnya. Dengan begini akhirnya dia diam, bukan? Kalian bisa lihat sendiri." Sasuke masih saja mematung menimbulkan sedikit kekhawatiran pada Naruto. "Sasuke, kau baik-baik saja?" Dia menjentikkan jari di depan wajah tampan sang Uchiha yang akhirnya mendapatkan reaksi juga. "Sasuke, kau sadar atau tidak?"
Kedua onyx Sasuke menatap mata biru Naruto. Perlahan tatapannya beralih ke bawah ke pipi sang Uzumaki, lalu turun lagi ke bawah sampai ke bibirnya. Pipinya memanas mengingat apa yang sudah terjadi beberapa saat lalu. Dengan refleks dia memukul wajah Naruto lalu lari sekuat tenaga meninggalkan kediaman tersebut.
Pukulan Sasuke memang tidak terlalu keras, tapi karena semuanya terjadi terlalu mendadak membuat Naruto jatuh tersungkur. Kelima gadisnya ikut tersadar dan segera menggerubunginya. "Naru-chan, kamu ga apa-apa?"
Naruto mengangkat wajah dan memandang wajah para gadis manisnya. "Ah girls, Sasuke pergi begitu saja."
Para gadisnya menggelengkan kepala tidak percaya. "Ya iyalah dia pergi. Kamu sadar ga sih apa yang udah kamu lakuin sama dia?" Sakura membantu Naruto berdiri sambil mencoba menyadarkan pemuda kesayangannya atas apa yang telah dia perbuat. "Sasuke pasti trauma dan ga mau ketemu kamu lagi."
"Iya nih, Naru-kun main nyosor aja. Gimana kalau Sasuke-kun jadi benci kamu?" tambah Tenten.
Setelah berdiri Naruto berjalan menuju sofa di ruangan tersebut dan duduk ditemani kelima gadisnya. "Kalian terlalu berlebihan. Itu hanya satu ciuman kecil, bukan masalah besar. Tapi, tidak kusangka Sasuke memiliki suara seperti itu. Kupikir suaranya akan lebih Uchiha."
Semua kembali menatap pemuda berambut pirang itu kaget. Apa yang sebenarnya dia pikirkan mereka tidak mengerti. Sai yang sejak tadi hanya menonton dan menikmati semua adegan dari sudut ruangan ikut membuka mulut. "Andai saja kalian tahu suara dia yang sebenarnya."
Semua mata berpaling padanya. "Maksud kamu apa, Sai? Yang tadi itu emang suara asli Sasuke-kun, kan?"
"Maksudku saat kakak sepupuku itu bicara layaknya orang normal. Kalian tidak akan menyangka."
Keenam-enamnya menatap Sai menunggu penjelasan lebih lanjut tapi tidak sepatah kata pun keluar lagi dari mulut si Uchiha muda. Mereka mencoba mendapatkan informasi lebih tapi yang ditanya hanya mengangkat bahu dan bersikap seakan semua itu rahasia dan mereka tidak akan dapat secuil info pun dari dirinya. Pemuda satu ini memang ahlinya menyimpan rahasia dan membuat orang penasaran.
Sasuke terus berlari dan tidak mengurangi kecepatannya. Dia tidak peduli dengan kakinya yang lelah ataupun orang-orang yang ditabraknya, yang dia inginkan saat ini hanyalah segera tiba di kamar apartemennya. Butuh sekitar tiga puluh menit baginya untuk mencapai bangunan dimana dia tinggal dari kediaman Namikaze, karena pertama dia tidak membawa kendaraan, kedua tempatnya memang jauh dan Sasuke benar-benar berlari sepanjang jalan. Padahal jika dia menggunakan bis dia hanya akan memakan waktu sekitar lima belas menit.
Hal pertama yang dia lakukan saat tiba adalah membuat Neji yang berada di dalam kaget dengan membanting pintu terbuka sangat keras dan segera berlari menuju kamarnya seperti orang dikejar anjing. Sahabat sekaligus teman sekamarnya benar-benar bingung melihat tingkah laku Sasuke yang tidak biasanya ini. Neji segera menyusul Sasuke ke kamarnya yang sedang duduk memeluk lutut di atas kasurnya saat Neji masuk.
"Sasuke, kau kenapa?" dengan nada khawatir Neji bertanya tapi tidak ada jawaban. "Apa ini ada hubungannya dengan si Namikaze itu atau malah perempuan lainnya?" Masih tidak ada jawaban. Neji mengerutkan dahi bingung, Sasuke tidak pernah diam seperti ini. "Kau baik-baik saja? Lalu sebenarnya kau ini dari mana? Kau tidak mengatakan akan pulang telat hari ini."
"Neji." Suara Sasuke sangat pelan, Neji sampai mengira dia hanya salah dengar.
"Ya?" Menunggu itu sudah biasa bagi Neji, tapi menunggu Sasuke bicara adalah suatu hal yang baru. Biasanya dia akan repot menghentikan sahabatnya bicara, dia tidak tahu harus bersikap bagaimana dengan Sasuke yang sekarang ini. Sudah lebih dari lima menit dia menunggu tapi sahabatnya belum mengatakan apa-apa lagi. "Sasuke, kau ini kenapa? Jangan membuatku takut."
Dengan sangat perlahan Sasuke menatap Neji. Pipinya masih memerah dan dia terlihat seperti orang yang sedang setengah sadar, entah pikirannya sedang dimana. Mulutnya bergerak tapi tidak terdengar apapun, atau setidaknya tidak tertangkap telinga karena terlalu lirih. Neji harus mendekat agar bisa menangkap apa yang Sasuke katakan. "…ciumku."
"Hah? Kau bilang apa? Bicara lebih keras agar aku bisa mendengarmu."
Tiba-tiba Sasuke mencengkram lengan Neji dan mengguncangnya. "Dia menciumku, Neji! Apa yang harus kulakukan? Dia sudah menciumku!"
"Ha-hah? Siapa yang menciummu? Apa yang kau bicarakan?" Neji mencoba melepaskan diri dan berhasil dengan sedikit kekerasan.
Kedua tangan Sasuke yang terbebas beralih ke rambutnya dan meremasnya. "Oh ya Tuhan, dia menciumku. Dia menciumku! Aku harus bagaimana? Ini bukan mimpi, bukan mimpi. Bagaimana ini? Dia menciumku lalu aku memukulnya, setelah itu aku lari. Dia menciumku. Dia menciumku!" Sasuke tidak lagi memperdulikan Neji dan tenggelam dalam kepanikannya sendiri.
Sifat Sasuke yang suka berteriak di depannya memang menjengkelkan, tapi itu lebih baik daripada harus melihat Sasuke yang seperti ini. Dia terlihat seperti orang gila, Neji bahkan tidak mengerti lebih dari separuh cerita Sasuke. "Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Sasuke?"
"Dia menciumku. Dia, Uzumaki Naruto. Bukan perempuan, Naruto, Naruto sudah menciumku tapi aku malah memukulnya. Dia, Naruto, Naruto sudah menciumku! Bagaimana ini?!" Jika dari kata-katanya dia terdengar histeris, tapi jika kalian lihat sikapnya Sasuke lebih terlihat seperti seorang gadis yang sedang jatuh cinta. Wajahnya terus saja memerah dan dia bertingkah malu-malu.
Saat ini Neji sangat yakin sahabatnya sedang kerasukan setan. Tapi nama yang disebutkan Sasuke membuat dahinya mengerut. "Uzumaki Naruto? Maksudmu Naruto yang itu?"
Tentu saja pertanyaannya itu tidak digubris. Sasuke terus saja histeris dengan tingkah laku bak seorang gadis yang mendapatkan undangan ke pesta dari pemuda idamannya. Senang, bingung, bersemangat becampur khawatir dan lain-lain. Bisa dikatakan saat ini dia memang sudah setengah gila. Hal yang tidak disangka dari seorang Uchiha, bukan?
Pagi hari di kediaman Uzumaki diramaikan oleh sepucuk surat yang datang dari orang tua si pemuda. "Tumben sekali mereka mengirim surat. Pasti ada sesuatu yang akan terjadi." Naruto membuka surat tersebut dan membacanya. Setelah selesai surat tersebut dia lipat kembali dan dia simpan di dalam tas miliknya.
"Terus apa isi suratnya, Naru-chan?"
Naruto melanjutkan merapikan pakaiannya karena dalam sepuluh menit dia harus berangkat ke kampus. "Tidak penting. Kalian semua cukup berdoa saja apapun yang direncanakan Ibu tidak akan memberikan kita kesulitan." Semua memandang padanya lalu pada Sakura yang dianggan tahu apa yang terjadi. DIpandang begitu gadis berambut merah muda itu hanya mengangkat bahu, dia endiri tidak begitu tahu jalan pikiran kedua orang tua Naruto, terutama sang ibu yang penuh kejutan.
Semuanya pergi meninggalkan rumah untuk kegiatan masing-masing. Naruto dan Tenten pergi ke kampus bersama, Ino juga berangkat ke kampus, Hinata pergi ke sekolah, Sakura pergi ke toko, dan Temari harus mengunjungi adiknya yang satu lagi. Karena semuanya memiliki tujuan yang berbeda mereka memutuskan tidak perlu ada yang diantar dan Sai akan menunggu di rumah sambil membereskan semua pekerjaan rumah.
Sepanjang perjalanan Tenten terus melirik seseorang yang berjalan di sampingnya. Narumi yang terlihat menerik seperti biasanya tidak menunjukkan keraguan ataupun kekhawatiran sedikit pun di wajahnya. Hal ini membuat Tenten gemas sekali, apa Narumi atau Naruto benar-benar tidak merasa canggung jika harus bertemu Sasuke hari ini setelah apa yang terjadi kemarin. Tenten tahu bahwa Naruto memang orang yang seperti itu, terkadang dia terlalu santai dalam menghadapi suatu masalah. Mungkin saja kali ini Naruto tidak menggangap bahwa ini adalah masalah sama sekali, karena itu dia tidak terlihat khawatir sedikit pun.
Begitu sampai di kampus mereka berdua segera berpisah untuk menuju ke kelas masing-masing. Narumi membalas semua sapaan yang ditujukan padanya. Setiap hari memang seperti ini, fans nya banyak dan ada dimana-mana. Untungnya tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki ide macam-macam untuk mendapatkannya, Narumi sangat bersyukur. "Pagi Narumi, kamu cantik hari ini kayak biasanya."
Narumi menoleh kepada Kiba yang ternyata berjalan di belakangnya. Seseorang memukul kepala pemuda pecinta anjing itu untuknya dan berdiri di sampingnya dengan wajah bosan. "Pagi-pagi begini kau sudah genit. Pantas saja kau tidak pernah benar mengerjakan tugasmu karena isi otakmu semuanya hanya hal-hal bodoh."
"Pagi Kiba-kun, Shikamaru-kun. Kalian akrab kayak biasanya, ya." Narumi tersenyum pada mereka berdua. Shikamaru sedikit merona dan berpura-pura batuk.
"Pagi, Narumi. Maaf ya anak ini hanya bisa mengganggumu setiap hari. Dia memang bodoh jadi mengertilah."
"Hei, siapa yang kau bilang bodoh!"
Narumi terkikik geli melihat mereka berdua. Ya, dia tahu bahwa seperti halnya Kiba, Shikamaru pun menaruh perasaan padanya. Walau begitu dibanding yang lain mereka berdua ini bisa dibilang fans yang paling dekat dengannya karena mereka berdua banyak mengambil kelas yang sama dengannya dan juga mereka sering mengobrol. "Kalian mau ke kelas bareng?"
Kiba menjawab dengan semangat sedangkan Shikamaru hanya berjalan mengikuti mereka. "Narumi, boleh aku tanya sesuatu?"
"Tanya aja."
"Kamu akhir-akhir ini jadi sering bersama Sasuke, ya. Apa tidak apa-apa?"
Narumi menoleh pada Shikamaru dan menatapnya sejenak. "Kamu cemburu, ya?" Shikamaru terhenti sejenak dan segera mebela diri bahwa dia tidak cemburu. Narumi terkikik kembali dan melanjutkan berjalan. "Ya, mau gimana lagi. Itu semua demi ngehindarin Kakashi. Lagian Sasuke ga pernah macem-macem kok, santai aja. Makasih udah khawatir."
Mereka bertiga memasuki kelas dan tak lama kuliah pun dimulai. Tidak ada yang spesial hari ini, bahkan sampai kulih terakhir pun tidak ada sesuatu yang berarti terjadi. Hanya saja ada yang hilang, tapi Narumi tidak begitu yakin apa sampai Kiba bertanya. "Kayaknya hari ini sang pejuang tidak datang ya. Kira-kira kenapa, ya?" Narumi menatap Kiba tidak mengerti. Siapa yang dia maksudkan dengan sang pejuang? Menyadari tatapan tersebut Kiba kembali berbicara. "Sasuke. Kami memanggilnya begitu, hanya sekedar main-main tidak ada alasan khusus. Apa dia sakit, ya? Baru kali ini aku liat dia tidak masuk."
Perkataan Kiba membuat Narumi sedikit khawatir. Mungkin semua ini ada hubungannya dengan apa yang dia lakukan kemarin. Apa aku terlalu berlebihan ya dengan menciumnya seperti itu? Dia akan menanyakannya pada HInata nanti, siapa tahu gadis termudanya itu tahu sesuatu.
Tapi ternyata itu tidak benar. "Hina ga tau apa-apa, Naru-kun. Neji-nii ga bilang apa-apa. Apa mau Hina tanyain?" Itulah jawaban yang HInata berikan pada pertanyaan pertama yang datang dari Naruto saat mereka bertemu di rumah. Ya memang siapa lagi yang tahu akan kondisi Sasuke selain teman seatapnya yaitu Neji. Naruto menerima usulan Hinata yang segera menghubungi kakak sepupunya. Wajah Hinata yang selalu tersenyum dan kadang malu-malu itu terlihat terganggu dan hal itu pun membuat Naruto terganggu. Dia tidak sabar sampai Hinata selelsai dengan panggilannya dan memberitahunya apa yang terjadi. Sama-samar terdengar olehnya suara Neji yang mengoceh dari sebrang telepon. Waktu lima menit yang dihabiskan kedua Hyuuga itu berbicara di telepon terasa bagai berjam-jam bagi Naruto.
"Lalu, apa katanya?"
Hinata menatap Naruto sambil menggenggam hapenya. "Neji-nii bilang Sasu-nii sekarang, mm..gimana ya? Katanya Sasu-nii kayak orang gila." Semua yang mendengar penjelasan Hinata memberikan reaksi yang sama yaitu bingung. "Hina sendiri ga gitu ngerti. Waktu minta dijelasin Neji-nii malah curhat gimana repotnya dia ngadepin Sasu-nii yang sekarang. Intinya Sasu-nii emang lagi dalam kondisi ga mungkin ngampus."
Keempat gadis yang lebih tua darinya hanya bisa menghela napas. Pemuda mereka benar-benar sudah membuat masalah. Mereka semua prihatin akan apa yang sudah menimpa Naruto. Tapi mau bagaimana lagi, ini semua salahnya sendiri. "Jadi sekarang Naru-chan mau gimana? Jenguk Sasuke?"
Mata biru yang sedari tadi menerawang menatap sepasang mata biru lainnya dalam seketika. "Kamu bercanda kan, Ino-chan? Mana mungkin Sasuke mau kujenguk jika reaksinya seperti ini?"
"Ya menurut kami sih kamu tuh perlu minta maaf sama Sasuke. Kan kamu yang buat salah." Walau sebenarnya kelima gadis terutama Ino dan Sakura sangat tertarik akan apa yang akan terjadi diantara kedua pemuda ini. Mereka memang fujoshi, sayang Naruto tidak tahu akan hal itu. Sebenarnya hobi ini tergolong baru, semua terjadi saat Sasuke muncul. Sakura yang memulai semuanya dan menularkannya pada Ino lalu tersebar ke ketiga gadis lainnya. Meski mereka masih mencintai Naruto lebih dari siapapun, tapi melihat perkembangan hubungan kedua pasangan ini adalah lain soal.
"Aku tahu aku salah. Tapi kurasa aku perlu memberikan Sasuke waktu untuk menenangkan diri sebelum menemuinya. Jika dia sudah siap kami pasti bertemu lagi."
Suara bel yang menggema di seluruh rumah menyita perhatian mereka. Tumben sekali mereka mendapatkan tamu di waktu seperti ini. Mengetahui Sai akan membukakan pintu mereka meneruskan pembicaraan mereka tadi. Ino dan Sakura mendesak agar Naruto melakukan sesuatu sebagai tanda permintaan maaf pada Sasuke, sedangkan Naruto sendiri merasa itu tidak perlu.
Ditengah perdebatan mereka pintu ruangan terbuka dan suara yang sudah lama tidak didengar oleh Naruto terdengar. "Naru-nii!" Mendengar panggilan itu Naruto terkejut tapi juga senang.
"Kurama. Kyuubi. Kalian bagaimana bisa ada disini?" Kedua makhluk kecil itu menerjang kakaknya dan memeluknya penuh rindu. Dengan tangannya yang cukup besar Naruto mengelus rambut merah kedua adiknya yang manis. "Mana Ayah dan Ibu?"
"Ibu disini!" Kushina berteriak seperti anak kecil, bahkan lebih kencang dari teriakan putra kembarnya sebelumnya. "Ah, sayang banget Ibu liat Naruto bukannya Narumi. Padahal Ibu udah ngebayangin dari tadi ngeliat putri Ibu yang cantik dan manis."
Naruto menghela napas dan menggeleng. Wanita yang dia sebut ibu ini selalu ada saja ulahnya. "Ibu, hentikan gaya bicara yang seperti itu. Tidak cocok bagi Ibu."
"Loh, kenapa? Ibu ini kan masih muda. Masih cocok dong, Ibu juga kan manis. Iya kan, girls?"
"Met sore, Kushina-san." Bukan menjawab mereka berlima malah memberi salam padanya. Ini kedua kalinya Kushina berkunjung dengan mereka semua ada berkumpul bersama. Khusus untuk Sakura mereka sudah saling mengenal lebih lama dan lebih mengerti dengan kelakuan wanita berambut merah panjang ini.
Sambil memangku kedua adik kembarnya yang sulit sekali lepas darinya, Naruto menatap Kushina dengan lelah. "Kenapa tidak bilang jika akan kemari?"
Ditanya begitu Kushina malah bergaya seakan putranya ini bertanya hal yang tidak perlu. "Bukan kejutan namanya kalau bilang, kan? Minato juga dah Ibu suap supaya diem."
Lagi-lagi Naruto sakit kepala dengan kelakuan ibunya. Pasti ada yang Kushina rencanakan dengan semua kunjungan mendadak ini. Tidak mungkin hanya sekedar menjenguk dan pulang kembali setelah beberapa hari melepas rindu. Naruto sangat yakin ada rencana dibalik semuanya dan kini dia sangat butuh istirahat dan juga beberapa pil aspirin.
