Dalam dunia yang penuh kompetisi saat ini, persaingan antar perusahaan untuk memperoleh mangsa pasar terbesar menjadi peran penting untuk menjaga agar tetap dapat bertahan dan menguasai pasar. Fanasonic merupakan salah satu nama perusahaan elektronik terbesar di Jepang saat ini. Didirikan pada tahun 1918 di Kantor utama Kadoma, Osaka, Jepang. Perusahaan tersebut memberikan berbagai macam produk dan jasa, termasuk AC, lemari es, mesin cuci, kompresor, pencahayaan, televisi, komputer pribadi, ponsel, peralatan audio, kamera, peralatan penyiaran, proyektor, elektronik otomotif, pesawat dalam penerbangan sistem hiburan, semikonduktor, baterai, komponen listrik, perangkat optik, sepeda dan barang elektronik lainnya.
Setiap perusahaan pasti memiliki aturan mengenai perlindungan terhadap keberadaan suatu data atau informasi, baik yang bersifat umum maupun pribadi. Perlindungan data pribadi dalam sebuah sistem elektronik meliputi perlindungan dari penggunaan tanpa izin, perlindungan dari akses, dan interferensi ilegal. Jika data pribadi hilang, dimanipulasi secara ilegal, bocor, atau gagal dilindungi oleh Penyelenggara Sistem Elektronik, maka itu akan menjadi sebuah masalah besar yang dapat merugikan perusahaan. Terjadinya kegagalan sistem dapat disebabkan oleh faktor internal dan faktor eksternal. Salah satu faktor eksternal yang sering terjadi adalah adanya cybercrime. Dilihat dari jenis aktivitasnya, cybercrime dapat berupa hacking, cracking, phising, identity theft, dll. Dampak kerugian yang timbul antara lain: kebocoran data pribadi, manipulasi data, pelanggaran privasi, kerusakan sistem, dsb.
.
.
.
Hallo, akhirnya chapter ini rampung saya garap.
Terima kasih banyak yang sudah memberikan saya semangat. Maaf tidak bisa membalas review satu per satu, dikarenakan koneksi internet saya yang terlalu gembel.
Ada salah satu review yang bertanya apakah fanfiction ini bergenre yaoi atau bukan? Saya tegaskan, fanfiction yang saya buat ini bergenre yaoi. Selalu saya beri warning di awal cerita. Pada fanfiction ini, Mikasa dan Eren bukan sepasang kekasih, mereka berdua hanya kakak-beradik. Pairing yang sesungguhnya sengaja belum saya munculkan.
Sebelumnya saya sudah pernah membuat prolog dari cerita ini. Jadi, sebelum membaca chapter ini, sebaiknya terlebih dahulu membaca prolog agar tidak bingung. Cerita yang sesungguhnya baru akan dimulai di chapter ini.
Lagu 'Close to You - The Carpenters' menjadi backsound lagu yang menemani saya saat menulis fanfiction ini. Lagu tersebut juga menjadi OST film So Close.
Selamat membaca. :)
.
.
.
Chapter 02: Malaikat Komputer
.
.
.
"Aku memiliki pekerjaan untuk kalian."
"Pekerjaan apa?"
"Kalian hanya perlu melakukan pekerjaan yang biasa kalian lakukan. Tapi aku ingin kalian jangan sampai gagal."
"Kami belum pernah gagal."
"Berapa aku harus membayar kalian?"
"Kami ingin bayaran yang tidak sedikit."
"Berapapun bayaran yang kalian minta akan aku berikan."
"Siapa yang harus kami bunuh?"
"Pemimpin perusahaan elektronik terbesar di Jepang. Kalian pasti tahu siapa orang yang aku maksud."
"Kapan?"
"Aku ingin kalian secepatnya membunuh orang itu."
"Baik."
"Jika kalian berhasil, aku akan segera mentransfer uangnya."
"Oke. Deal."
.
.
.
Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime
[ Cover is not mine ]
a RivaEre Fanfiction Written by Heichouxi
REVENGE
Action, Adventure, Crime, Drama, Romance, Thriller
Rate: M
Warnings: AU, Yaoi/BL/BoyXBoy/MaleXMale, deskripsi agak ngawur, EYD berantakan, bahasa tidak baku, OOC, alur cerita dan sudut pandang yang bergonta-ganti.
.
.
.
Don't Like? Don't Read, Don't Flame.
.
.
.
Enjoy Reading.
.
.
.
Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Para pegawai mulai bersiap untuk pergi meninggalkan perusahaan karena jam kerja mereka yang telah usai. Beberapa pegawai terlihat sangat kelelahan, menyandarkan punggung mereka pada sandaran kursi untuk meluruskan sejenak tulang belakang mereka yang terasa nyeri dan kaku akibat terlalu lama duduk menatap layar komputer. Para pegawai yang tidak memiliki kepentingan, mulai pergi meninggalkan ruangan. Pegawai yang tetap berada di dalam ruangan adalah mereka yang memang bertugas untuk melindungi beberapa data atau informasi penting milik perusahaan dari hacking, cracking, phising, identity theft, dll. Mereka adalah para Penyelenggara Sistem Elektronik.
Ruangan kembali tenang.
Semuanya kembali fokus pada pekerjaannya masing-masing.
Tiba-tiba terdengar suara aneh yang berasal dari salah satu komputer di ruangan itu.
Psst.
Psst.
DUAR!
Suasana di dalam ruangan yang semula tenang mendadak menjadi ribut ketika salah satu komputer di dalam ruangan itu tiba-tiba saja meledak!
"AAAAAAAAAAA!"
Salah seorang pegawai wanita spontan menjerit histeris ketika komputer yang sedang digunakannya ikut mengeluarkan percikan api.
Para pegawai yang lain ikut panik dan langsung berlari menjauh dari komputer mereka. Ternyata ledakan pertama yang beasal dari satu komputer menjalar mengenai komputer lain yang masih menggunakan sistem teknologi transmisi kabel tunggal yang menghubungkan komputer pribadi dan workstation untuk memakai sumber yang sama agar dapat saling bertukar informasi.
Sirine tanda darurat berbunyi.
Semua pegawai berhamburan berlari keluar ruangan.
'Sistem darurat! Sistem darurat! Telah terjadi kerusakan sistem. Semua pegawai diharapkan untuk tetap tenang. Kami sedang berusaha untuk memperbaikinya.'
Suara yang berasal dari sebuah speaker yang terpasang di pojok atas ruangan itu menginterupsi semua pegawai yang masih berada di dalam ruangan agar tetap tenang.
"Mr. Dawk, sepertinya sebuah virus telah menginfeksi tampilan utama layar monitor di perusahaan ini, dan tidak bisa diperbaiki."
"Virus katamu?"
"Benar, itu tandanya kita harus menghapus semua sistem untuk dapat menyingkirkan virus tersebut."
"Apa tidak ada cara lain, Petra?"
Wanita cantik berambut pirang sebahu itu terlihat gusar. Pelipisnya terus meneteskan keringat, padahal AC di dalam ruangan itu masih berfungsi sebagaimana mestinya.
Nile Dawk masih duduk diam menatap. Menunggu kabar baik keluar dari mulut wanita cantik itu. Akan tetapi, Petra hanya menggelengkan kepala.
Hembusan nafas berat keluar dari mulut pria itu.
"Anda harus segera mengambil tindakan dari situasi ini secepatnya." Gunther yang sejak tadi duduk disamping Petra, akhirnya ikut bersuara.
"Jika kondisi seperti ini tetap berlanjut, saham perusahaan kita bisa benar-benar jatuh di pasaran." Petra ikut menimpali.
Nile Dawk nampak berfikir. Jari tangannya berulang kali bergerak mengetuk meja. Garis di wajahnya semakin keras terlihat karena otaknya terus dipaksa untuk berfikir secara cepat. Pria itu bingung harus memberi keputusan apa. Masa depan perusahaan miliknya ada di tangannya sekarang.
"Apa keputusanmu?" Reiner menatap ke arah sepupunya itu. Meskipun perusahaan ini sepenuhnya milik Nile, Reiner tetap menjabat posisi sebagai Wakil Direktur. Reiner sama sekali tidak mau ambil pusing dengan apa yang sedang terjadi dengan perusahaan milik sepupunya itu, dia diam-diam memang tidak menyukai sepupunya yang ternyata bisa jauh lebih hebat darinya.
"Bayar mereka!"
Semua orang yang ada di dalam ruangan itu sangat terkejut mendengarnya.
"Tapi, jika kita meminta bantuan kepada mereka, pasti mereka akan meminta bayaran yang sangat banyak." Petra terlihat tidak setuju dengan keputusan Ketua Direktur.
Nile Dawk menatap wanita cantik itu.
"Komputer kita akan terlindungi dari sebuah keamanan sistem nomor satu di dunia. Klien memberi investasi kepada kita karena kita memberikan mereka garansi. Sudah jelas bahwa tampilan utama layar monitor perusahaan telah diserang oleh virus dari luar dan tidak bisa lagi diperbaiki. Jika kita tidak meminta bantuan kepada mereka, maka reputasi perusahaan akan hancur. Tidak ada uang untuk kompensasi dengan hal itu!"
Semua orang yang ada di dalam ruangan mendadak diam.
"Baik, aku akan melakukan sesuai perintah."
Petra kembali menatap layar komputernya. Jari-jarinya yang lentik mulai bergerak dengan sangat lihai menekan beberapa tombol yang terdapat pada papan keyboard miliknya. Bola matanya menatap lurus mengamati dengan jeli apa yang terus muncul pada monitor dihadapannya. Semua orang yang ada di dalam ruangan itu menunggu dengan cemas apa yang dikerjakan oleh wanita cantik itu. Memang bukan hal yang mudah baginya untuk dapat menyingkirkan virus tersebut, tentu saja ia membutuhkan bantuan dari seseorang yang memang memiliki keahlian luar biasa untuk dapat memulihkan kembali sistem yang telah rusak dan mencegah agar data-data penting milik perusahaan tidak bocor atau hilang.
Beberapa saat kemudian, tampilan utama layar monitor tiba-tiba berubah. Layar besar itu perlahan mulai memunculkan sebuah tulisan:
...
' SYSTEM-RECOVERY '
...
Loading...
30%
...
60%
...
90%
...
' SUCCESSFUL '
...
"BERHASIL!"
Semua pegawai yang masih berada di dalam ruangan bersorak bahagia saat sistem telah berhasil diperbaiki. Mereka semua bertepuk tangan dengan sangat keras.
"Sebutan untuk virus itu adalah Malaikat Komputer."
"Temukan Malaikat Komputer itu."
"Siapa itu Malaikat Komputer?"
"Dia adalah seseorang yang dapat kita manfaatkan."
.
.
.
Seorang wanita berparas cantik berjalan dengan sangat piawai malangkahkan kaki jenjangnya menapak di atas lantai dingin yang licin dan mengkilat. Sepatu hak tinggi berbahan kulit sintetis berwarna cokelat yang digunakannya beradu dengan kuatnya lantai marmer sehingga menimbulkan suara ketukan yang cukup keras. Setelan jas berwarna putih yang dikenakannya terlihat sangat pas dengan bentuk lekuk tubuhnya yang indah. Rambutnya yang berwarna hitam pekat bagai tinta jelaga dengan panjang diatas bahu, tersibak oleh kencangnya hembusan angin yang menerpa kulit wajahnya yang mulus. Langkah kakinya berhenti, tepat di depan sebuah pintu milik perusahaan elektronik terbesar di Jepang saat ini, Fanasonic. Tatapan matanya terlihat sangat dingin, bagai seekor ikan mati. Wajahnya bahkan nyaris tanpa ekspresi. Jari tangannya yang panjang dan lentik bergerak merogoh ke dalam kantung jas miliknya, mengeluarkan sebuah kacamata hitam. Kacamata itu lalu dikenakannya, dibiarkan bertengger manis diatas hidungnya yang mancung. Lensa dari kacamata itu menghalangi tajamnya silau cahaya yang ingin masuk ke dalam retina matanya. Tangannya bergerak meraih pegangan pintu dan membukanya perlahan. Wanita cantik itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam, berjalan menuju ke meja receptionist. Seorang pegawai wanita langsung berdiri dari kursi tempat duduknya dan tersenyum menyambut kedatangan wanita cantik itu dengan sangat ramah.
"Selamat pagi, dan selamat datang di perusahaan kami. Apakah ada yang bisa saya bantu?"
"Saya ingin bertemu dengan Ketua Direktur di perusahaan ini."
"Apakah yang anda maksud adalah Mr. Dawk?"
"Ya."
"Oh, saat ini beliau sedang melakukan pertemuan penting dengan salah satu customer kami. Jika anda tidak keberatan, silahkan menunggu sampai beliau selesai."
"Berapa lama?"
"Maaf, saya tidak dapat memastikannya."
"Baik."
"Maaf, boleh saya tahu siapa nama anda?"
"Malaikat Komputer."
Garis wajah pegawai wanita itu langsung berubah drastis ketika mendengar nama yang disebutkan oleh wanita cantik yang berdiri dihadapannya itu. Pegawai wanita itu langsung meraih gagang telepon disamping mejanya, dan menekan beberapa digit angka.
"Mohon tunggu sebentar, saya akan mencoba menghubungi Mr. Dawk."
Wanita cantik itu hanya mengangguk.
Sambungan telepon terhubung.
Tidak bebrapa lama, telepon di angkat.
"Maaf, seseorang bernama Malaikat Komputer ingin bertemu dengan anda."
"Dimana dia sekarang?"
"Dia masih menunggu di lobby."
"Suruh dia masuk."
"Baik."
Pegawai wanita itu segera memutuskan sambungan teleponnya, dan meletakkan kembali gagang telepon tersebut ke tempatnya semula.
"Mr. Dawk bersedia ingin bertemu dengan anda. Perlu saya antar?"
Wanita cantik itu menggeleng. "Tidak perlu."
"Ah baiklah, kalau begitu anda silahkan lewat si—" Belum selesai pegawai wanita itu berbicara, yang diajak bicara sudah ngeloyor pergi duluan.
Tanpa membuang waktunya lagi, wanita cantik itu langsung melangkahkan kakinya pergi menuju lift. Ditekannya tombol lift hingga terbuka.
Ting!
Setelah pintu lift terbuka, wanita itu langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Pintu lift kemudian tertutup kembali.
Beberapa penjaga berpakain serba hitam nampak sibuk mondar-mandir di berbagai penjuru sisi perusahaan. Mereka semua terlihat bersiaga. Pada salah satu telinga mereka telah terpasang sebuah alat komunikasi yang menghubungkan mereka dengan satu sama lain. Beberapa di antaranya sudah berkumpul berdiri di depan lift, menunggu pintu lift itu terbuka.
"Memangnya ada apa?" Salah seorang penjaga nampak kebingungan dan bertanya kepada penjaga yang lain.
Yang ditanya hanya mengedikkan bahu.
Penjaga disebelahnya tidak sengaja mendengar, lalu ikut nimbrung.
"Seseorang yang menyebut dirinya sebagai Malaikat Komputer katanya sedang ada di lobby dan dia hendak menuju kemari."
.
.
.
Ting!
Pintu lift terbuka.
Sesuai dengan apa yang telah diperkirakan, seorang wanita cantik melangkahkan kakinya keluar dari dalam lift.
Semua penjaga yang sejak tadi menunggu di depan pintu lift, mereka semua terpaku sejenak.
Salah seorang pria yang menjabat dirinya sebagai pemimpin mereka, memberanikan diri melangkahkan kakinya maju mendekati wanita cantik itu.
"Selamat pagi, saya adalah pemimpin keamanan di perusahaan ini. Boleh saya memeriksa anda terlebih dahulu?"
"Silahkan."
Pria itu lalu tersenyuman.
Sebuah kamera CCTV yang terletak tepat di atas kepala wanita cantik itu, tiba-tiba memancarkan sinar berwarna merah.
Pip.
...
' SENSOR-ENGAGED '
...
Pip.
Kamera itu bergerak menyorot sekujur tubuh wanita cantik itu dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Sinar merah dari kamera CCTV itu lalu berubah warna menjadi hijau.
"Kami telah memeriksa seluruh bagian dari tubuhnya. Dia tidak membawa senjata tajam ataupun pistol."
Pria itu mengangguk, lalu tersenyum kembali ke arah wanita cantik itu.
"Terima kasih atas kerja sama anda. Silahkan lewat sebelah sini."
Pria itu lalu berjalan lebih dulu di depan, memberi petunjuk ke arah mana jalan menuju ke ruangan tempat Ketua Direktur perusahaan. Beberapa penjaga ikut mengekor di belakang, mereka semua tetap bersiaga.
"Mr. Dawk telah menunggu anda di ruangannya. Beliau memang jarang sekali menerima pengunjung atau orang asing yang ingin datang menemuinya. Oleh sebab itu, keamanan di perusahaan ini semakin diperketat."
Wanita cantik itu hanya diam mendengarkan.
Langkah kaki pria itu lalu berhenti di depan sebuah pintu besar. Pintu tersebut merupakan sebuah pintu ruangan tempat Ketua Direktur perusahaan berada. Ruangan itu memang sedikit berbeda dari ruangan yang lain. Lokasi tempatnya juga sedikit lebih tersembunyi. Apakah ruangan ini memang sengaja di rancang khusus untuk menjadi lokasi tempat yang digunakan untuk menyambut kedatangan wanita cantik itu?
"Silahkan masuk, beliau ada di dalam."
Pintu ruangan itu lalu dibuka lebar.
Seorang pria yang menjabat diri sebagai Ketua Direktur perusahaan, sedang duduk dengan sangat angkuhnya di atas kursi di antara meja-meja besar yang berjajar mengelilinginya.
Aneh!
Ruangan ini lumayan luas, tapi kenapa hanya terdapat satu buah kursi untuk tamu? Dan kenapa pria itu duduk di kelilingi oleh meja-meja besar?
Tanpa rasa ragu, wanita cantik itu langsung berjalan memasuki ruangan. Dia semakin mempercepat langkah kakinya mendekati kursi tempat pria itu duduk. Para penjaga masih terus bersiaga berdiri di dekat pintu.
Nile Dawk tersenyum, lalu berdiri dari kursi tempat duduknya. Pria itu mengulurkan salah satu tangannya, menyambut kedatangan wanita cantik itu dengan sangat ramah dan memintanya untuk berjabat tangan.
"Apa kabar?"
"Baik."
Wanita cantik itu menyambut uluran tangan dari pria itu.
"Silahkan duduk."
Wanita cantik itu lalu duduk pada sebuah kursi, melepas kacamata hitam yang digunakannya, dan meletakkannya di atas meja—tepat dihadapan pria itu.
"Apa kau mempunyai nama lain selain Malaikat Komputer?" Nile Dawk mulai membuka pembicaraan terlebih dahulu.
"Virus Komputer."
Pria itu sedikit terkejut dengan apa yang baru saja diucapkan oleh wanita cantik itu.
"Virus?"
"Ya. Aku adalah keduanya. Aku Virus dan juga Malaikat. Menyerang dan bertarung dengan komputermu. Bagiku sangat mudah memanipulasi gambar di layar komputermu. Tidak ada data yang terpengaruh. Aku hanya merusak keamanan sistem milikmu. Maka dari itu, apa yang aku lakukan terlihat sangat nyata."
Nile Dawk terkekeh. "Terlalu banyak pidato pembuka. Intinya apa?"
"Kau mendapat kekayaan serta modal besar untuk perusahaanmu ini adalah hasil dari penyeludupan narkoba. Benar bukan? Aku beritahu padamu, itu adalah uang haram. Sangat mustahil sekali kau bisa mendekatiku, apalagi mengajakku untuk bekerja sama denganmu. Jadi, aku datang kesini adalah untuk menghabisi nyawamu."
Nile Dawk tertawa sangat keras mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh wanita cantik itu.
"HAHAHAHAHA! Mustahil kau bisa membunuhku!"
Klik.
Pria itu langsung menekan tombol berwarna merah yang ada di atas meja miliknya. Seketika setelah tombol itu di tekan, sebuah dinding kaca tiba-tiba muncul mengelilingi seluruh sisi meja tempat pria itu duduk. Dinding kaca itu bukanlah dinding biasa, kaca yang melapisinya sudah diberi pengaman anti peluru dan tidak dapat pecah meski dipukul dengan logam baja sekalipun.
Nile Dawk masih terus tertawa dengan sangat angkuhnya.
"HABISI NYAWA WANITA ITU!"
Wanita cantik itu langsung melirik ke belakang. Para penjaga yang sejak tadi bersiaga berdiri di dekat pintu mulai mengeluarkan pistol dari balik kantung jas mereka, dan mengarahkan ujung pistolnya siap untuk menembak.
Wanita cantik itu langsung bangkit dari kursi tempat duduknya dan memutar badannya menghadap ke para penjaga itu.
Klik.
CTAR!
Satu peluru melesak keluar dari ujung pistol milik salah seorang penjaga.
Wanita cantik itu langsung meraih pegangan kursi, dan menggeser kursi itu berpindah ke hadapannya.
Slak.
Peluru melesak mengenai kursi.
Wanita cantik itu lalu menendang kursi tersebut ke arah depan—tepat mengenai dua orang penjaga yang berdiri dihadapannya. Dua orang penjaga itu langsung terhantam oleh kursi dan jatuh terjengkang ke belakang, salah satu pistol yang dipegangnya terlempar ke udara.
Melihat kesempatan itu, wanita cantik itu langsung melompat. Salah satu kakinya bertumpu menginjak pada kursi, badannya lalu bergerak ke atas melayang di udara, tangannya dengan sangat cekatan mengambil pistol tersebut.
Set.
Pistol itu berhasil di dapatnya!
Dua orang penjaga yang masih tersisa, berusaha untuk menyerang.
BUAGH!
Sebuah tendangan telak dari wanita cantik itu tepat mengenai kepala dua orang penjaga itu. Keduanya langsung jatuh tersungkur.
Para penjaga yang lain perlahan mulai bangkit dan bangun kembali. Satu per satu dari mereka mulai menembaki wanita cantik itu. Menyerangnya secara bersamaan.
CTAR!
CTAR!
Slak. Slak.
Wanita cantik itu terus melompat dan berguling untuk menghindari peluru yang terus-menerus mengarah padanya.
CTAR!
Slak.
Satu buah peluru nyaris mengenai lengan sebelah kanan milik wanita cantik itu.
"Sialan kalian!"
CTAR!
CTAR!
CTAR!
Tiga buah peluru secara beruntun ditembakkan oleh wanita cantik itu.
Slak. Slak. Slak.
Peluru-peluru itu langsung tepat mengenai sasaran.
Tiga orang penjaga terkena tembakan tepat di bagian perut dan dada mereka. Ketiganya langsung tewas seketika.
Dua orang penjaga yang tersisa masih berusaha untuk mengarahkan ujung pistolnya ke arah wanita cantik itu.
Belum sempat dua orang penjaga itu menarik pelatuk pistol milik mereka...
CTAR!
CTAR!
Slak. Slak.
Dua buah peluru sudah lebih dulu ditembakkan oleh wanita cantik itu tepat melubangi kepala mereka.
Keduanya langsung tewas.
Darah segar mengalir keluar mengotori lantai ruangan itu, bau anyir mulai tercium tidak enak.
"Aku akui, kau adalah wanita yang sangat hebat. Tapi aku kasihan sekali padamu, meskipun kau mempunyai pistol, kau tidak akan dapat membunuhku. Jangankan untuk membunuhku, menyentuhku saja kau tidak akan bisa!"
Wanita cantik itu lalu menoleh ke belakang. Dia hampir melupakan pria yang sejak tadi hanya asik menonton dibalik dinding kaca yang mengelilinginya.
Dasar pecundang!
Banyak mulut!
Wanita cantik itu lalu berjalan mendekati dinding kaca itu.
"Apa kau tahu kenapa aku menaruh kacamatku tadi di atas mejamu?"
Nile Dawk terdiam. Matanya langsung melirik ke arah sebuah kacamata hitam milik wanita cantik itu yang sempat diletakkan di atas mejanya pada saat awal pertemuan tadi. Sekarang kacamata itu ikut berada bersamanya—di dalam dinding kaca yang mengelilinginya.
"Kacamata itu sebenarnya adalah racun yang memang aku rancang khusus untuk membunuhmu."
Mendengar ucapan itu, Nile Dawk langsung terkejut.
Wanita cantik itu tersenyum, lalu melirik pada jam tangan yang dikenakannya. Itu bukan merupakan jam tangan biasa. Sebuah tombol yang terdapat pada jam tangan itu ditekannya.
Klik.
Setelah tombol pada jam tangan itu ditekan, sebuah asap berwarna putih tiba-tiba keluar dari gagang kacamata hitam itu.
Nile Dawk panik bukan main. Pria itu sangat ketakutan. Dia lalu berusaha untuk menutup hidungnya agar tidak sampai menghirup asap beracun itu. Akan tetapi, tindakan yang dilakukannya sia-sia saja. Situasinya saat ini tengah dikelilingi oleh dinding kaca yang tidak memiliki celah sedikitpun, tentu saja asap beracun itu tidak dapat keluar dan akan terus-menerus memenuhi ruang udara di dalam dinding kaca tersebut. Sudah menjadi ciri makhluk hidup, yaitu butuh bernafas. Asap beracun itu akhirnya terhirup olehnya, dan langsung bekerja sebagaimana mestinya. Pria malang itu langsung tewas di atas mejanya dengan mulut mengeluarkan busa.
Wanita cantik itu hanya bisa menatap pria malang itu dengan tatapan iba.
Pekerjaannya sudah selesai.
Akan tetapi, belum untuk keselamatan dirinya sendiri.
Wanita cantik itu masih harus berusaha agar dapat keluar dari tempat ini secepat mungkin.
CTAK!
Sebuah peluru sengaja ditembakkan olehnya tepat mengenai sebuah kamera CCTV di pojok ruangan. Dia lalu menukar lensa kamera itu dengan lensa lain yang di bawanya. Hal tersebut dilakukannya agar wajahnya tidak terekam oleh kamera CCTV.
Tanpa membuang waktu lagi, wanita cantik itu kembali bergerak. Pergi meninggalkan tempat itu sebelum para penjaga yang lain datang untuk membunuhnya.
Wanita cantik itu lalu merogoh kantung bajunya, mengeluarkan sebuah alat yang menyerupai penyadap, dan memasang alat itu pada telinga kirinya.
Klik.
Tombol pada alat itu ditekannya.
"Eren, kau dapat mendengarku?"
Wanita cantik itu berbicara melalui alat yang terpasang pada telinganya itu.
"Ya. Suaramu jelas sekali Mikasa. Aku belum tuli, jadi aku bisa dengar."
"Bantu aku keluar dari dalam tempat ini."
"Aku sedang berusaha melacak keberadaanmu."
"Lakukan dengan cepat, mereka semua sedang bergerak untuk membunuhku."
"Kau bisa dengan mudah kan menghabisi mereka? Aku sedang berusaha, jadi sabar sedikit."
Mikasa terus melangkahkan kakinya menuju lift. Tangannya masih bersiaga memegang pistol. Tombol lift ditekannya, hingga pintu lift terbuka.
Setelah pintu lift terbuka, wanita cantik itu langsung masuk ke dalam.
"Para penjaga ada di lantai 7. Jumlah mereka lumayan banyak. Dua orang ada di dalam lift, lima orang ada di tangga, dan dua orang lagi ada di lobby. Aku sedang berusaha merusak sistem keamanan pada komputer mereka untuk memanipulasi seluruh layar. Setelah itu, aku akan memutus jalur komunikasi mereka."
Mikasa memutar bola matanya malas. "Jangan bermain-main, Eren."
"Kau cukup mendengarkan saja apa yang aku katakan."
Mikasa tahu Eren sangat ahli dalam melakukan pekerjaannya, akan tetapi adiknya itu sering kali ceroboh dalam bertindak.
"Polisi sedang dalam perjalanan menuju kemari. Kau tahu kan?"
"Ya, sebentar lagi mereka akan tiba. Aku dapat melihatnya dari sini."
Mikasa menghela nafasnya. "Eren..."
"Oke, selesai. Aku telah berhasil memutus jalur komunikasi mereka. Sekarang mari dengarkan sebuah lagu..."
.
.
.
Why do birds suddenly appear
Every time you are near?
Just like me, they long to be
Close to you...
.
.
.
"Apa yang terjadi?"
"Ada apa?"
"Kenapa pada alat pendengaran ini ada musik?"
"Hei, ada apa ini?"
"Kau dapat mendengar suaraku?"
"Hei, ganti!"
"Aku tidak dapat mendengar suara apapun selain musik."
.
.
.
Why do stars fall down from the sky
Every time you walk by?
Just like me they long to be
Close to you...
.
.
.
Ting!
Pintu lift yang dinaiki oleh Mikasa tiba-tiba terbuka tepat di lantai 7. Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Eren tadi, ada tiga orang penjaga dan satu orang pegawai wanita yang berdiri di luar pintu lift.
Mikasa langsung mengarahkan ujung pistolnya tepat ke arah pintu.
CTAR!
CTAR!
CTAR!
Slak. Slak. Slak.
Tiga orang penjaga itu langsung tewas tertembak oleh peluru yang berasal dari pistol wanita cantik itu. Salah seorang pegawai wanita dibiarkannya hidup.
Mikasa lalu berjalan keluar dari dalam lift. Tiga mayat para penjaga yang tewas tadi, ditendangnya sampai masuk ke dalam lift. Mikasa lalu meminta pegawai wanita itu untuk ikut masuk ke dalam lift juga.
"Hitung dari satu sampai sepuluh, dan turun ke bawah!" Mikasa mengarahkan ujung pistolnya ke arah pegawai wanita itu.
"Satu.. dua... tiga..."
Dengan sangat ketakutan dan kaki gemetar, pegawai wanita itu menuruti apa yang diperintahkan oleh wanita cantik itu, dan pintu lift tertutup kembali.
Mikasa lalu melangkahkan kakinya pergi meninggalkan lift. Wanita cantik itu masih terus bersiaga melihat ke arah kanan, kiri, depan, samping, dan juga belakang. Para penjaga yang lain terlihat mulai berdatangan dari arah sebelah utara.
"Mereka ada pada jarak sekitar 80 meter dari lokasimu berada. Di sebelah utara ada sekitar sembilan orang penjaga. Berhati-hatilah."
Mikasa dapat mendengar dengan jelas apa yang diucapkan oleh adiknya.
"Aku akan memberi tahu arah mana yang aman untuk kau lewati. Terus saja berjalan lurus ke depan."
"Aku akan bertemu dengan para penjaga itu jika terus berjalan lurus ke depan."
"Memang. Jarak mereka semakin dekat. 40 meter lagi..."
"Kau ini..."
"Sudah aku bilang, dengarkan saja apa yang aku katakan. 20 meter lagi..."
Mikasa terlihat semakin bersiaga dan mempercepat langkah kakinya.
"10 meter..."
"5 meter..."
"3 meter..."
"Sekarang!"
CTAR!
CTAR!
CTAR!
Slak. Slak. Slak.
Peluru yang ditembakkan oleh Mikasa langsung mengenai dada dan perut orang-orang itu.
CTAR!
Para penjaga yang lain berusaha untuk balas menembak.
Mikasa berguling dan bersembunyi di dekat dinding. Wanita cantik itu mencari celah yang tepat untuk dirinya menembak. Dia tidak boleh sampai lengah. Orang-orang itu ternyata tidak bisa diremehkan.
CTAR!
CTAR!
Slak. Slak.
Dua peluru yang ditembakannya tepat mengenai sasaran lagi.
CTAR!
Ctak.
Sebuah peluru nyaris mengenai wajah Mikasa saat dia berusaha untuk mengintip dari balik dinding.
"Sisa berapa orang lagi?"
"Masih ada empat orang penjaga lagi disitu."
"Sial."
"Kenapa? Kau terpojok?"
Mikasa dapat mendengar suara Eren tertawa.
Adiknya itu memang sangat kurang ajar.
CTAR!
Ctak.
Sial tembakan Mikasa meleset!
Jarang sekali tembakannya meleset.
Jika sudah meleset begini, biasanya dia merasa gugup.
Gugup? Tapi gugup karena apa?
Salah seorang penjaga tiba-tiba datang menyerang dan hendak menendang perut Mikasa.
Untung saja gerak refleks gadis itu lumayan peka, Mikasa bergerak lebih cepat. Ditariknya kaki penjaga itu, dan dilemparnya menghantam tembok hingga dia tidak sadarkan diri.
DUAK!
"Sial. Kalo begini terus aku bisa repot juga."
Mikasa langsung berpindah ke dinding yang lain.
CTAR!
CTAR!
CTAR!
Slak. Slak. Slak.
Tiga tembakan beruntun yang ditembakkan oleh Mikasa, tepat mengenai tiga orang penjaga yang masih tersisa. Mereka semua akhirnya tewas.
"Apa masih ada lagi?"
"Sudah kau habisi semua? Mereka berkumpul di lobby. Sepertinya kau akan kesulitan untuk keluar."
"Pikirkan cara lain agar aku bisa keluar dari tempat ini."
"Masuk ke dalam lift. Aku akan mencoba memanipulasi gambar di layar monitor mereka melalui kamera CCTV."
Mikasa lalu melangkahkan kakinya menuju lift. Ditekannya tombol lift sampai terbuka. Setelah pintu lift terbuka, wanita cantik itu langsung masuk ke dalam.
Sebelum pintu lift tertutup kembali, Mikasa menahannya.
"Tahan sebentar. Lima... empat... tiga... dua... satu. Oke! Rekaman gambarmu di dalam lift ini akan terus ada untuk mengelabui layar monitor mereka. Sekarang kau boleh keluar dari dalam lift, dan turun ke bawah melalui tangga."
Mikasa menurut saja dengan apa yang diucapkan oleh adiknya.
.
.
.
On the day that you were born the angels got together
And decided to create a dream come true
So they sprinkled moon dust in your hair
Of gold and starlight in your eyes of blue
.
.
.
"Semua pusat kendali kembali normal."
"Kamera CCTV kembali berfungsi."
"Sasaran telah terlacak!"
"Target berada di dalam sebuah lift."
"Wanita itu ada di lantai 7."
"Semua penjaga segera menuju kesana!"
"Baik."
"Aku akan mengunci pintu lift disana."
"Apa kau dengar?"
"Minggir!"
"Disini."
"Pintu lift akan segera terbuka."
"Semuanya bersiaga!"
"Tembak sekarang!"
"Tunggu!"
"Di dalam lift tidak ada orang!"
"Apa kau bilang?"
"Wanita itu tidak ada disana!"
"Apa kau bercanda?"
"Sial. Lift kosong!"
.
.
.
Mikasa terus berjalan menuruni tangga sampai ke lantai dasar. Saat melewati beberapa lorong di tempat itu, dia tidak bertemu dengan satu pun penjaga. Wanita cantik itu sedikit bisa bernafas lega. Adiknya ternyata benar-benar berhasil menipu mereka semua dengan memanipulasi gambar dirinya saat berada di dalam lift tadi.
"Sudah sampai dimana?"
"Aku sudah hampir keluar dari tempat ini."
"Bagus kalo begitu. Jangan sampai bertemu dengan polisi."
"Aku tidak terlalu bodoh untuk lewat pintu depan."
Wanita cantik itu segera melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu keluar sebelah utara di perusahaan itu, dia harus segera pergi meninggalkan tempat ini sebelum polisi datang untuk menangkapnya. Dirinya sangat tidak tertarik jika harus berurusan dengan polisi.
"Oh iya, jangan lupa ambil pesanan kue di toko paman Hannes."
"Kenapa tidak kau ambil saja sendiri?"
"Kue itu aku pesan untukmu."
Mikasa tersenyum mendengarnya. "Ya, nanti aku ambil."
Mikasa segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil Audy putih yang terpakir tidak jauh dari lokasi pintu keluar. Wanita cantik itu langsung memacu mobilnya dengan sangat kencang meninggalkan tempat itu.
.
.
.
Selang beberapa menit setelah Mikasa pergi, muncul banyak sekali mobil polisi berdatangan memenuhi lokasi tempat kejadian. Seorang pria berambut ebony mengenakan mantel tebal berawarna hitam, dengan postur tubuh yang tidak terlalu tinggi, terlihat turun dari dalam mobilnya. Pria itu langsung memerintahkan seluruh bawahannya untuk segera masuk ke dalam perusahaan dan memeriksa lokasi tempat kejadian.
"Aku harus ikut juga?" Seorang pria berambut pirang menyembulkan kepalanya dari dalam jendela mobil.
"Pertanyaan bodoh apa yang barusan kau ucapkan? Berhenti saja kau sekalian jadi asistenku."
Pria berambut pirang itu langsung tertawa. "Haha. Kalo memang itu diperbolehkan, aku juga sudah mau berhenti dari dulu."
"Begitu caramu bersikap pada atasanmu? Siapa yang mengajari?"
Pria berambut pirang akhirnya terpaksa turun dari dalam mobil. Dia terlihat jauh lebih tinggi dari atasannya. Tidak bermaksud mengejek sih, tapi memang fakta. "Tidak ada yang mengajari. Otodidak."
"Tch." Pria yang menjabat diri sebagai Pemimpin Kepolisian itu hanya menatap dengan wajah tanpa ekspresi. Dia langsung melangkahkan kakinya pergi meninggalkan pria berambut pirang.
Pria berambut pirang berjalan mengekor di belakang. "Kau lapar ya? Lupa tidak sarapan? Hari ini kau terlihat uring-uringan seperti perawan datang bulan."
"Tutup mulut busukmu itu, Farlan!"
Pria berambut pirang langsung mendelik. Suasana sepertinya semakin buruk. Mungkin dia harus benar-benar berhenti berbicara jika masih ingin hidup dan masih mau melihat hari esok.
"Terkena kutukan macam apa aku ini sampai punya atasan seperti Levi." Farlan berbicara dengan volume suara sangat pelan, nyaris tidak terdengar.
.
.
.
To be continued
Sampai disini dulu ya.
Maaf banget kalo ceritanya jelek, aneh, terus sedikit ngawur(?) maafkan saya yang tidak pandai dalam merangkai kata-kata agar enak dibaca. orz
Next chapter akan saya usahakan di post cepat. Tergantung bagaimana mood saya untuk menulis datang xD
Kritik dan saran saya terima dengan senang hati, mohon maaf jika masih banyak terdapat kesalahan kata atau pengetikan.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya.
Salam manis,
Heichouxi-
