Hm, gimana ya? intinya semua pertanyaan bakal terjawab di cerita itu sendiri. Tungguin aja, nanti juga keluar kok alasan kenapa Naruto harus jadi Narumi.

:)

Shi-chan, Naru itu kan Dobe kayak kamu. Jadi wajar aja kalau dia itu watados :p hahaha. Saran ditampung tapi belum tentu diterima karena aku masih nungguin kamu muncul.


Note :

Isi hati Naruto

Isi hati Sasuke

'Isi hati yang lainnya'

.

Sudah tiga hari Sasuke tidak masuk kuliah dan sudah tiga hari pula Kushina juga si kembar Kurama dan Kyuubi berada di Konoha ini. Apa semua ini hanya kebetulan atau bukan, Naruto memiliki beberapa prasangka.

"Naru-nii, boleh Kurama ikut ke sekolah?"

"Kyuubi juga mau ikut!"

Satu hal lagi, dia lupa bahwa kedua adiknya ini sangat menempel padanya. Benar-benar menempel sampai baru lima menit saja mereka terpisah keduanya sudah berteriak-teriak mencari dimana Naru-nii. Itu memang manis tapi terkadang menjengkelkan karena dia juga butuh privasi dan terkadang waktu sendiri. DIbandingkan para fans-nya, bisa dikatakan adik-adiknya ini lebih buruk soal mengidolakannya.

"Kurama mau pakai rambut palsu juga."

"Kyuubi juga mau pakai make-up."

Yang terburuk adalah dia tidak bisa menolak mereka, tidak terus-menerus. Bisa jadi malapetaka jika dia melakukannya. "Kurama, Kyuubi, Nii-chan sudah harus berangkat ke kampus. Kalian di rumah saja ya dengan Ibu. Lain kali kita akan main, tapi hari ini Nii-chan sudah akan terlambat. Maaf ya, Nii-chan berjanji sepulang dari kampus nanti kita akan main."

Keduanya terlihat kecewa mendapatkan jawaban seperti itu dari kakak tercintanya. Mereka berdua lalu saling berbisik seperti sedang mengambil sebuah keputusan. Setelah yakin mereka kembali menatap kakak mereka dan tersenyum. "Oke, tapi Naru-nii janji nanti kita main ya."

Meski terkejut dengan sikap penurut mereka yang jarang terjadi ini, Naruto bersyukur akhirnya mereka mau mendengar. Setelah memberitahu kedua adiknya dan terutama ibunya agar tidak membuat masalah selama dia tidak di rumah, Narumi pun berangkat ke kampus diantar oleh Sai. Dia tidak meninggalkan mereka bertiga sendirian, ada Sakura dan juga Temari yang akan menemani karenanya Narumi dapat sedikit tenang saat harus bepergian.

Tidak banyak kelas yang harus dia ikuti hari ini walau seharusnya hari ini dia harus menyelesaikan beberapa eksperimen dari Kakashi dengan Sasuke. Narumi mengerutan dahinya, dia tidak yakin akan bisa melihat Sasuke hari ini pun di kampus. Mungkinkah keajaiban akan terjadi dan pemuda Uchiha itu memutuskan untuk menunjukkan diri hari ini? Narumi sangat berharap begitu karena dia tidak suka terus-menerus menunda permintaan maafnya yang seharusnya sudah dia sampaikan sejak tiga hari yang lalu. Dengan kurang bersemangat dia memasuki kelas dan menempati tempat duduk yang berada di baris keempat dari depan.

Sampai mata kuliah terakhir Narumi melakukan rutinitas yang sama. Masuk kelas dengan sedikit malas, duduk, mengikuti pelajaran lalu keluar menuju kelas berikutnya. Sapaan dan godaan dari setiap orang tidak begitu dia ladeni, walau bibirnya tetap tersenyum entah mengapa hatinya tidak bisa ikut tersenyum. Saat kelas terakhir berakhir dia merasa lega karena setidaknya dia bisa segera pulang. Setelah membereskan semua bukunya Narumi segera beranjak, namun seseorang menepuknya dari belakang. Begitu dia berbalik dia tidak menyangka akan melihat wajah Sasuke yang menatapnya dengan sedikit ragu.

"Sasuke, kenapa?" Narumi mencoba untuk mempertahankan sisi Naruminya dan bersikap seolah tidak apa-apa diantara mereka walau sedikit sulit.

Sasuke terlihat sedikit ragu tapi lalu menatap Narumi dengan tegas seakan ingin memberitahunya sesuatu. Untukmu.

Hanya satu kata itu yang dia dengar dan Narumi tidak begitu paham apa maksudnya. "Maksudnya apa, Sasuke?" Sasuke menjawabnya dengan meletakkan sebuah kotak di atas meja Narumi lalu pergi begitu saja meninggalkan sang gadis dalam kebingungan.

Para siswa lainnya yang belum sempat keluar kelas dan menyaksikan kejadian barusan langsung menggerubungi Narumi. Semua mata tertuju pada satu kotak yang ditinggalkan Sasuke dengan penuh keingintahuan. "Narumi-chan, ayo buka. Aku ingin tahu apa isinya."

Dia sendiri memang penasaran dengan isi kotak di hapadannya. Tanpa disuruh pun Narumi sudah akan membukanya. Dengan perlahan tutup dari kotak berwarna hitam itu dibukanya, Narumi sudah takut saja bahwa isinya semacam racun atau bom dilihat dari warna kotaknya yang begitu gelap. Semua mata pun tercengang saat melihat isinya yang begitu cantik, indah dan juga menggiurkan. Pertanyaan pun muncul dibenak mereka akan siapakah gerangan yang membuatnya. Secarik kertas tertempel di balik tutup kotak tersebut dan bertuliskan 'Berikan padaku nilainya besok, Dobe.' ditulis dengan rapi menggunakan tinta berwarna hitam.

"Apa itu berarti Sasuke yang buat? Tak disangka."

Siapa yang menyangka seorang pemuda yang alergi perempuan dan selalu membisu itu bisa menciptakan suatu karya seperti ini. Kotak hitam itu kembali diitutupnya lalu Narumi masukkan ke dalam tasnya dengan cepat membuat teman sekelasnya bereaksi dengan mundur satu langkah menjauhi dirinya karena kaget. "Maaf semua, Naru mau pulang. Sampai ketemu besok lagi, ya." Dia mengedipkan sebelah matanya membuat yang pria meleleh dan yang perempuan berteriak kalau dia manis. Jarang sekali dia memberikan fans service, jadi wajar saja kan kalau reaksi teman-temannya seperti itu. Dalam kesempatan itulah dia melarikan diri dari semuanya dan berhasil keluar dari kampus dengan selamat tanpa ditanya-tanya. Alasan lainnya adalah sebenarnya dia ingin mengejar Sasuke dan menanyakan apa sebenarnya maksud semua ini tapi entah menghilang kemana Uchiha satu itu. Cepat sekali dia pergi, bahkan Narumi belum sempat meminta maaf.

Mengingat pesan singkat yang Sasuke tinggalkan di balik tutup kotak tadi setidaknya membuat Narumi sedikit tenang. Besok dia akan bertemu lagi dengan Sasuke dan dia akan memastikan di pertemuan mereka selanjutnya banyak yang harus mereka bicarakan. Sebelum itu, ada tugas yang harus dia selesaikan. Dia harus melakukan sesuatu dengan isi kotak yang diberikan Sasuke.


Sumpit sudah siap di tangan sejak lima belas menit yang lalu, tapi Naruto masih saja belum melakukan gerakan untuk mencoba mengambil makanan di hadapannya. Para gadisnya sudah gemas sekali menunggu kapan pemuda kesayangan mereka akan mulai mencicipi dan menceritakan bagaimana rasanya.

"Naru-chan, kamu mau makan atau engga? Nanti biar.."

Naruto menghentikannya dengan satu gerakan tangan. Sepertinya dia sudah siap untuk mencicipi dan tiba-tiba saja semuanya mejadi gugup. Padahal jarak tangan Naruto ke makanan tersebut hanya sekitar sepuluh senti saja tapi terasa jauh sekali di saat begini. Baru saja sumpitnya menyentuh nasi dan semua mata terfokus kesitu, mereka terinterupsi oleh suara pintu yang dibuka dengan penuh semangat.

"Naru-nii! Naru-nii lagi apa?"

"Naru-nii, Kurama mau ikutan!"

Kelima gadisnya dan juga Naruto sendiri terkulai lemas. Ternyata mereka semua merasakan kekecewaan yang sama setelah terlalu bersemangat tadi. "Padahal dikit lagi tuh." Keempat gadis lainnya mengangguk setuju dengan pernyataan Ino. Naruto sendiri masih terkulai lemas dengan masih memegang sumpit di tangannya. Si kembar Kyuubi-Kurama tidak mengerti apa yang telah mereka rusak menatap keenam orang yang lebih tua dari mereka dengan penuh ketertarikan.

Sebuah kotak hitam yang terbuka di atas meja menarik perhatian mereka. Ketika melihat apa isinya mereka semakin tertarik dan memintanya dari kakak tercinta agar mereka boleh mencobanya. Saat tangan-tangan kecil mereka berjarak tinggal satu senti dari kotak tersebut, secepat itu pula kotak itu menghilang dari pandangan mereka.

"Kyuubi, Kurama, ini milik Nii-chan. Kalian tidak boleh seenaknya menyentuhnya, ya." Kedua adiknya mengeluh dan berkata bahwa kakak mereka pelit. Naruto tidak peduli, makanan ini dibuatkan oleh Sasuke khusus untuknya. TIdak ada yang boleh menyentuhnya sebelum dirinya dan bahkan tidak akan dia biarkan siapapun menyentuhnya sedikitpun, tidak peduli siapa mereka. "Sudah sana, ganggu Ibu saja ya. Jangan ganggu Nii-chan."

Keduanya menggerutu dan Sakura pun harus turun tangan. Dia membawa kedua Namikaze junior keluar untuk bermain bersamanya. Keempat gadis lainnya pun dia ajak, di saat seperti ini memang lebih baik jika pemuda kesayangan mereka ditinggalkan sendiri saja. Semuanya keluar dengan perlahan yang tidak begitu dipedulikan oleh Naruto. Hanya saja ternyata semua itu hanya akal-akalan Sakura saja. Begitu mereka semua sudah berada di luar ruangan bukannya segera menutup pintu dan pergi dia justru mengintip dari balik pintu dan menunggu. Sikapnya ini tentu saja membuat yang lainnya mengerutkan dahi. Tanpa melihat mereka semua Sakura melambaikan tangannya dan meminta mereka diam dan ikuti saja apa yang dilakukannya.

Di dalam ruangan Naruto masih menatap kotak makanan di tangannya. Dilihat dari sorot matanya dia akhirnya memutuskan untuk tidak menunggu lebih lama lagi dan menyantap makanan yang spesial ini. DIa mengangkat sumpitnya dan mengambil suapan pertama. Dari tampilannya memang tidak begitu menjanjikan walau dia bisa melihat usaha dari sang pembuat dalam menyajikan makanan ini, Sasuke sepertinya mencurahakan seluruh jiwanya pada satu kotak bekal ini.

Suapan pertama tadi dia masukan ke dalam mulut dan mulai mengunyahnya perlahan dan dengan penuh observasi. Belum merasakan apa-apa dia ambil suapan kedua dan mengunyahnya lagi. Matanya tiba-tiba membelalak dan rahangnya berhenti bergerak. Sungguh tidak bisa dipercaya yang dia rasakan saat ini, sesuatu yang berbeda dan menantang. Naruto menelan makanan di mulutnya dan menatap kotaknya lagi. "Sasuke, aku mencintaimu."

Kata-kata Naruto barusan itu membuat para pengintipnya terkejut, benar-benar terkejut. Mereka tahu benar bahwa pemuda kesayangan mereka itu tidak mudah mengatakan cinta meski hanya bercanda. Selain kepada anggota keluarga hanya kepada mereka berlima saja Naruto mengatakan kata sakral tersebut. Ini sungguh suatu keajaiban. Melihat bagaimana Naruto menyantap sisa makanannya dengan begitu lahap dan dengan mata berbinar, seperti bukan seorang Namikaze saja. Jerit tertahan keluar dari mulut dua orang gadis yang membuat gadis lain kaget dan menatap mereka aneh. Tapi setelah dipikir kembali mereka sangat mengerti mengapa Ino dan Sakura bereaksi seperti itu. Naruto sudah menghabiskan makanannya dan para pengintip pun pergi meninggalkan tempat kejadian perkara dengan perasaan yang beragam.

"Hmm, jadi ga sabar sampai Kushina-san tau."

Mendengar nama ibunya disebut si kembar Kurama-Kyuubi saling menatap penasaran. Mereka masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Satu hal yang mereka yakin adalah kakak tercinta mereka sedang berada dalam satu permainan yang menarik dan mereka berniat untuk berada di dalamnya, apapun itu. Lari dari kesenangan bukanlah hobi mereka.


~Esoknya~

Saat ini Narumi berhadapan lagi dengan Sasuke untuk kedua kalinya di minggu ini. Hanya saja kali ini tidak ada teman-teman sekelasnya yang ikut menggerubungi mereka karena Sasuke tiba-tiba saja muncul dan menarik Narumi menjauh dari semuanya yang membuat semua teman-temannya menganga untuk kedua kalinya.

Mereka berdua kini ada di sebuah kelas kosong dan masih saling bertatapan, belum ada yang mengatakan apapun. Setelah beberapa menit tanpa ada suara maupun gerakan, Sasuke mulai merasa tidak sabar. "Jadi?"

Kedua alis Narumi terangkat, tidak begitu mengerti dengan pertanyaan tiba-tiba Sasuke dan lagi pemuda Uchiha itu menggunakan suara aslinya bukannya telepati. "Jadi apa, Sasuke-kun?"

Sasuke berdecak kesal mendengar suara dibuat-buat Narumi. "Jangan gunakan nada suara itu padaku, Dobe. Menjijikan."

Narumi menghela napas pasrah dengan sikap unik Uchiha satu ini. "Lalu apa maumu, Sasuke?"

Mendengar lagi suara Naruto setelah sekian lama membuat Sasuke sedikit merinding. Suaranya sudah berubah dan terdengar begitu dewasa juga menggoda. Dia berdehem sebelum akhirnya bicara lagi. "Penilaian. Bukankah kemarin kuminta? Jadi bagaimana?" Dia menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan memperlihatkan raut tidak sabar ingin mendengar jawaban Naruto.

Bukannya menjawab Naruto, yang masih berpenampilan Narumi, mengambil langkah mendekat sampai mereka hanya berjarak sepuluh senti saja. Dia bahkan mendekatkan wajahnya pada Sasuke dengan tatapan yang bisa dibilang jahil. "Kau yakin itu saja yang kau inginkan? Lagipula, aku masih tidak mengerti mengapa kau tiba-tiba membuatkanku makanan setelah sebelumnya menghilang begitu saja selama berhari-hari. Jika kau tidak keberatan untuk menjelaskan, aku menunggu."

Wajah Naruto terlalu dekat bagi Sasuke dan dia mengambil satu langkah mundur. Wajahnya sedikit memerah, entah karena malu atau marah, mungkin saja campuran akan keduanya. "Bodoh, kau pikir kau siapa mempermainkanku seperti ini?! Jangan salah paham hanya karena selama ini aku diam saja, dasar kepala kuning! Jika kau tidak mau menjawab, oke. Aku pergi!" Dengan kesal Sasuke membalikan badan dan berniat untuk pergi.

Satu tarikan di pundaknya memaksanya untuk kembali berhadapan dengan si pirang. Tapi kali ini jarak diantara mereka benar-benar tidak ada, dada mereka bersentuhan dan tangan Naruto melingkar dengan erat di pinggang Sasuke. Bahkan Sasuke bisa merasakan napas Naruto begitu dekat dengan wajahnya yang dia yakini saat ini pasti semerah buah favoritnya.

"Kau cepat sekali marah. Aku bahkan belum memberikan penilaianku. Bukankah itu tujuanmu sampai membawaku kemari? Apa kau tidak mau mendengarnya?"

Sasuke berusaha melepaskan diri dari pelukan Naruto, namun usahanya itu seperti sia-sia karena Naruto ternyata lebih kuat darinya. "Kalau mau jawab ya jawab saja. Tidak perlu menahanku seperti ini, bodoh! Cepat lepaskan aku!" Tangannya memukul-mukul tangan tan Naruto yang tetap saja tidak bergeming apapun yang dia lakukan terhadapnya.

"Kau manis sekali kalau sedang marah." Komentarnya itu membuat wajah Sasuke semakin memerah. Dia tidak pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya, oleh siapapun, bahkan Itachi saja tidak pernah menjahilinya sampai seperti ini. Sasuke tidak berhenti menggeliat mencoba lepas dari Naruto, apalagi ketika wajah Naruto semakin mendekat dia menjadi panik. Tidak tahan menerima apa yang akan terjadi Sasuke menutup matanya erat. "Kau pintar memasak, Sasuke. Terima kasih atas makanannya." Suara Naruto terdengar seperti berbisik tapi begitu jelas karena dia mengatakannya tepat di samping telinga Sasuke.

Dengan satu kali hentakan yang mengerahkan seluruh tenaganya akhirnya Sasuke berhasil mendorong Naruto dan lepas dari pelukannya. Telinga dan pipinya terasa seperti terbakar, terima kasih pada pemuda berambut pirang di depannya karena sudah melakukan hal yang tidak perlu dilakukan. "Ba-baiklah. Itu artinya aku lulus, kan?" Nada suaranya tidak sekeras sebelumnya, tapi masih ada sedikit nada kekesalan disana.

"Ya, kau lulus," Naruto menjawab tanpa pikir panjang. Dia tidak mengerti lulus dalam artian apa, tapi sepertinya jawabannya membuat Sasuke puas. Tanpa berkata-kata lagi Sasuke berbalik dan bergegas menuju pintu sebelum Naruto menghentikannya lagi. Dia menengok sebentar dan menatap Naruto tajam seakan berkata bahwa ini belum selesai lalu keluar dengan membanting pintu cukup keras. Naruto menatap kedua tangannya yang beum lama tadi sudah memeluk Sasuke. "Hm, entah kenapa aku ingin sekali menyentuhnya dan menggodanya."

Mengikuti jejak Sasuke keluar ruangan, Narumi berjalan dengan santai menuju kelas berikutnya. Terlihat beberapa siswa dan siswi berkelompok dan berbisik-bisik, dan begitu menyadari kehadirannya mereka langsung berpaling padanya. "Naru, kudengar kau ditarik oleh Sasuke ya? Apa yang sudah dia lakuin sama kamu?"

"Bukannya dia itu alergi cewe, ya? Kok bisa sih dia malah narik-narik kamu?"

Mungkin lebih tepatnya aku yang melakukan sesuatu padanya. Narumi tersenyum pada mereka semua, sebuah senyuman yang cukup membuat hati mereka luluh. "Ga kok, Sasuke-kun ga ngapa-ngapain Naru. Kita cuma bahas soal tugas dari Kakashi-sensei terus Naru kasih pendapat soal masakan Sasuke-kun kemarin." Mereka mulai bertanya lagi apa yang Narumi katakan mengenai masakan itu, tapi Narumi hanya mengedipkan mata dan berkata bahwa itu rahasia.

Meskipun kecewa mendengar jawaban Narumi mereka memberi sang gadis jalan agar dia bisa segera menuju ke kelasnya yang berikutnya. Selama kelas berlangsung Narumi tidak begitu memperhatikan penjelasan dosen, pikirannya melayang ke tempat seorang Uchiha yang baru-baru ini sering sekali lewat di lamunannya. Semakin lama dia semakin merasa bahwa ada yang janggal dengan sikap Sasuke terhadapnya. Apa aku melupakan sesuatu? Perasaannya mengatakan begitu tapi memorinya tidak mau bekerjasama untuk memberikan penjelasan maupun bukti-bukti yang mengarah kesitu. Sudut biibirnya semakin tertarik ke bawah, semua hal yang berkaitan dengan Uchiha entah mengapa selalu saja membuat kepalanya pusing.

"Naru sayang, katanya kemarin kamu dapet makanan dari seseorang ya? Siapa? Siapa?" Hm, ditambah dengan ibunya yang selalu saja ingin tahu dan ikut campur dengan masalahnya menambah rumit semuanya. Belum dia duduk sepuluh menit setelah berganti pakaian sepulang dari kampus, ibunya sudah menghujaninya dengan berbagai pertanyaan tentang berbagai hal. "Hei, kamu denger Ibu ga sih? Jawab dong, Naru."

"Memang kenapa Ibu ingin tahu?" Dia sedang tidak ingin berurusan dengan keisengan ibunya saat ini jadi dia menjawab seadanya dengan nada bosan.

Mata Kushina mendelik jahil. Tentu saja dia tahu kebiasaan putranya dan salah satunya adalah putranya itu tidak pernah menerima hadiah terutama makanan buatan sendiri dari seseorang jika dia tidak benar-benar menyukai orang tersebut. "Ayo dong kasih tau Ibu. Cewe mana lagi yang udah jatuh cinta sama putra Ibu?"

Naruto berdecak masih tidak suka dengan cara ibunya bicara yang seperti ini. "Bukan perempuan."

"Hoo? Kali ini cowo? Waah, putra Ibu hebat ya. Hahahaha." Suara tawanya terdengar nyaring di rumah yang cukup besar itu. "Terus anaknya ganteng ga? SIapa namanya?"

"Ya dia lumayan tampan, walau menurutku lebih cocok kalau dia disebut manis." Naruto sedikit terkejut dengan kata-katanya sendiri. Hah? Mengapa aku berpikiran begitu, ya? Tapi wajahnya sewaktu aku menggodanya itu memang manis.

Sebuah seringai mucul di bibir Kushina dan dia semakin penasaran dengan pemuda yang sudah berhasil menyita perhatian putranya ini. "Jadi kamu juga suka ya sama dia?" Kushina puas sekali saat melihat keterkejutan di raut putranya karena tidak menyangka pertanyaan darinya ini.

"Apa maksud Ibu? Aku tidak menyukai Sasuke seperti…"

"Sasuke?" Seringai tadi sudah hilang dari wajahnya dan berganti dengan ekspresi yang sulit ditebak oleh Naruto. Sorot mata Kushina menunjukkan keseriusan yang jarang sekali ditunjukannya. "Maksudmu Uchiha Sasuke?"

Kedua alis Naruto terangkat mendengar nama tersebut. "Darimana Ibu tahu?" Belum sempat dia mencerna apa yang sebenarnya terjadi, Kushina sudah menghilang dari pandangannya. Naruto mengerjap-ngerjap bingung menatap tempat kosong dimana beberapa detik yang lalu ibunya masih terduduk. "Aku semakin tidak mengerti." Jari-jari tangannya yang lentik menyisir rambut pirangnya lambat. Dari sikap ibunya barusan saat mendengar nama Sasuke disebut seperti sebuah tombol yang merubah semuanya. Sikapnya, raut wajahnya, bahkan nada bicaranya terdengar begitu serius. "Mengapa begitu banyak misteri bersangkutan dengan Sasuke?"

Menghela napas lagi Naruto beranjak dari kursinya dan berjalan menuju perpustakan pribadinya. Pekerjaan yang diberikan Kakashi memang tidak terlalu sulit hanya memerlukan kejelian dan juga sedikit trik. Walau begitu memang lebih baik jika dia mengerjakannya bersama dengan Sasuke karena dalam laporannya diperlukan opini mereka berdua. Dia berharap pemuda Uchiha itu mau dia ajak lagi kemari besok.

Sebuah ketukan di pintu mengalihkan perhatiannya dari buku yang sedang dia baca. Dia mempersilahkan Sai masuk, tentu saja dia tahu itu Sai karena hanya pemuda itu saja yang akan mengetuk pintu sedangkan para gadisnya akan memanggil namanya saja tanpa mengetuk. "Naru-kun, kau sedang sibuk?"

"Tidak. Ada apa?"

Sai menarik kursi yang berhadapan dengan Naruto dan duduk disana. Selama beberapa menit tidak ada jawaban dan perhatian Naruto beralih kembali ke bukunya. Beberapa saat Naruto sempat lupa kalau Sai ada disana bersamanya dan dia sedikit kaget ketika pemuda tiba-tiba saja mengajukan pertanyaan. "Menurutmu bagaimana kakak sepupuku?"

"Hm?" Topik ini adalah salah satu topik yang biasanya Sai hindari. Kenyataan bahwa saat ini justru Sai sendiri yang membukanya agak mengejutkan. Naruto berpikir sejenak sebelum menjawab dan dengan hati-hati. "Kupikir dia orang yang unik dan penuh misteri. Dia pintar dan memiliki kemampuan telepati yang entah kenapa hanya aku yang bisa mendengarnya." Saat mendengar bagian ini Sai hanya sweatdrop. "Kata-katanya terlalu kasar bagi seorang Uchiha, walau begitu dia pintar memasak. Sisanya aku tidak begitu tahu."

'Tidak begitu tahu, ya?' Sebenarnya Sai ingin sekali mengatakan langsung, tapi melihat Naruto seperti belum selesai bicara dia hanya diam dan menunggu.

"Akhir-akhir ini dia selalu muncul dalam pikiranku. Ada sesuatu tentang Sasuke yang membuatku ingin tahu lebih banyak tentangnya." Dia hampir mengatakan bahwa dia juga memiliki keinginan untuk menyentuhnya lebih dan membuatnya merona dengan godaannya, tapi dia rasa itu cukup menjadi rahasianya saja. "Seperti ada yang berbisik 'Hei, lihat dia lebih dalam', kau mengerti?" Sai menggeleng. "Hm, aku juga sebenarnya tidak terlalu mengerti. Ya, begitulah kira-kira yang kupikirkan mengenai Sasuke."

Setelah yakin tidak ada lagi yang ingin disampaikan Naruto, Sai menyeringai. "Kenapa kau pikir bahwa yang kumaksudkan itu Sasuke?" Naruto tidak mengharapkan pertanyaan ini dan sedikit tersentak. "Aku hanya bilang kakak sepupuku, aku tidak bilang siapa. Bisa saja yang kumaksudkan itu Itachi."

Sial, dia mempermainkanku. "Ah, itu…"

Sai tiba-tiba berdiri memotong kata-kata Naruto. "Sebentar lagi waktu makan malam. Sebaiknya aku segera ke dapur untuk menyiapkan makan malamnya. Kurasa Hina-chan sudah menungguku disana. Terima kasih karena sudah menjawab pertanyaanku, Naru-kun." Satu senyuman lagi dia lemparkan pada Naruto sebelum akhirnya dia benar-benar pergi.

Naruto kembali melihat buku di depannya dan mencoba membacanya. Setelah membalik beberapa halaman dan yakin tidak ada yang bisa dia ingat dia menutupnya dengan sedikit keras dan meninggalkannya begitu saja di atas meja. Dengan langkah sedikit malas cepat dia berjalan menuju kamarnya dan melakukan apa saja yang bisa menyita perhatiannya dari Sasuke. Rencananya berjalan mulus sampai akhirnya waktu makan malam.

Padahal para gadisnya sudah mengajaknya mengobrol, bahkan Ino dan Sai sempat bertengkar lagi seperti biasanya, ditambah kedua adik kembarnya yang cerewet, tapi dia tidak berkata apapun untuk menjawab maupun untuk menghentikan keributan di meja makan. Dengan malas dia menusuk-nusuk makanannya sementara pikirannya kembali melayang kemana-mana. Dari tempat duduknya Kushina tidak berkomentar dan menyantap makan malamnya dengan tenang. "Naru-kun, kalau ga lapar mendingan disimpen aja makanannya. Jangan dimainin kayak gitu."

Mata birunya menoleh dan memandang iris lavender yang tersenyum ke arahnya. Tangannya berhenti memainkan makanan di piringnya dan perlahan menaruh garpunya dengan suara denting yang halus. "Maaf, Hina-chan. Malam ini aku tidak begitu bernafsu untuk makan. Padahal masakanmu enak tapi sepertinya aku lebih baik kembali ke kamar saja." Derit pelan terdengar saat Naruto menggeser kursinya untuk berdiri. "Maaf girls, aku meninggalkan kalian. Hina-chan, Tenten-chan, hati-hati saat kalian pulang nanti ya. Sai, tolong antar mereka berdua sampai rumah. Kyuubi, Kurama, selamat tidur ya. Maaf Niichan tidak bisa membacakan kalian cerita sebelum tidur malam ini. Ibu, semuanya, selamat malam." Semua mengucapkan selamat malam pada Naruto dan memandangnya sampai dia benar-benar meninggalkan ruang makan.

Begitu punggungnya menghadap ruang makan dia bisa mendengar suara ibunya yang mulai berbicara dan namanya muncul dalam perbincangan. Dia tidak begitu peduli, ibunya mungkin saja sedang bergosip seperti biasanya. Memasuki kenyamanan kamar tidurnya, Naruto berbaring di kasurnya yang empuk dan melamun.

Wajah Sasuke saat kugoda memang benar-benar manis. Kira-kira jika aku melakukan sesuatu yang lain padanya ekspresi seperti apa yang akan dia tunjukkan? Aku jadi ingin tahu.

Dengan berbagai macam ide dan imajinasi tentang reaksi Sasuke, Naruto tertidur tanpa dia sendiri sadari. Dalam tidurnya dia melihat wajah Sasuke yang imut dengan mata yang berkaca-kaca menatapnya dengan alasan yang tidak dia mengerti. Ingin sekali dia berkata agar Sasuke berhenti menatapnya seperti itu. Sebuah tangan menarik pundaknya membuatnya menjauh dari Sasuke dan Naruto tidak bisa melawannya. Tarikan itu berhenti dan berubah menjadi goncangan pelan pada tubuhnya. Dengan enggan Naruto membuka kedua matanya dan mendapati bahwa Sai lah yang mengguncang-guncang tubuhnya.

"Naru, ayo buka matamu. Bukankah hari ini kau ada kuliah pagi? Kau bisa terlambat."

Terlambat? Hal seperti itu tidak pernah terjadi padanya. Sangat tidak lucu Sai bercanda seperti ini dan mengganggu mimpinya. Sebuah jam muncul di hadapannya dengan jarak yang sangat dekat membuatnya sadar bahwa Sai benar tidak sedang bercanda. Kedua matanya terbelalak melihat angka yang ditunjuk oleh jarum jam dan dengan kecepatan luar biasa Naruto segera bangun dan menuju kamar mandi.

"Kenapa kau tidak bangunkan aku sejak tadi, Sai!" Teriakannya terdengar dari arah kamar mandi. "Aku sekarang hanya memiliki tiga puluh menit untuk bersiap!" Kau pikir itu cukup! tambahnya dalam hati.

"Memangnya menurutmu apa yang kulakukan sejak satu jam yang lalu?" Sai dengan santainya menyender ke tembok di samping pintu kamar mandi. "Ini pertama kalinya aku membutuhkan waktu sepanjang itu hanya untuk membuatmu membuka mata."

Naruto hanya menghabiskan waktu sepuluh menit saja untuk membersihkan diri dan segera keluar untuk berganti pakaian. Setelah meminta Sai agar segera menyiapkan mobil, dia memasuki ruang makan dimana semua sudah berkumpul dan membuat mereka tercengang melihat penampilannya yang tidak biasa ini. "Naru-chan, kamu kenapa? Kok berantakan gitu?"

Dia tidak begitu mempedulikan pertanyaan Temari dan menatap semuanya bergntian. "Hina-chan, tolong sarapanku dibekal saja. Aku akan berangkat sebentar lagi. Sakura-chan, Ino-chan, kalian ikut aku dan bawa semua peralatan make-up untuk Narumi. Tenten-chan, kau tidak apa-apa kan berangkat sendiri? Temari-chan, maaf aku harus pergi terburu-buru. Kurama, Kyuubi, Niichan pergi dulu ya. Ibu, jangan buat masalah."

"Kenapa kamu cuma ngancem sama Ibu? Sama yang lain kamu ngomong yang manis-manis." Kushina cemberut yang dibalas dengan satu putaran bola mata oleh putranya.

"Sakura-chan, Ino-chan, aku tunggu di mobil. Jangan lupa bawakan sarapanku juga." Lagi-lagi dengan kecepatan yang luar biasa Naruto segera menghilang dari ruang makan dan dalam waktu singkat sudah berada di dalam mobil. Sai yang sudah menunggu di belakang setir hanya melirik tuannya dari kaca spion tanpa berkata apapun.

Lima menit kemudian Sakura dan Ino memasuki mobil dengan segala peralatan yang dibutuhkan untuk mengubah Naruto menjadi Narumi, tidak lupa bekal sarapan Naruto yang sudah dipesan tadi. Sai segera menancap gas membawa mereka semua menuju kampus Naruto, oke Narumi.

Tanpa membuang waktu sedikit pun tangan Sakura dan Ino segera bekerja menyulap Naruto menjadi Narumi. Dengan semua pergerakan mobil mereka berusaha sekeras mungkin untuk menampilkan Narumi yang selalu menarik seperti biasanya. Saat ini mereka merasa seperti sedang mendandani seorang artis sebelum dia akan tampil, sang artis yang tidak begitu memiliki jeda untuk beristirahat saking sibuk dan terkenalnya.

Ino terkikik dengan pemikirannya sendiri, Sakura yang memilki pemikiran yang sama ikut tersenyum masih sambil merapikan rambut Narumi.

"Apa yang kalian tertawakan?" Naruto berhenti mengunyah sarapannya sebentar dan menatap kedua gadisnya yang masih terkikik.

"Hari ini kamu imut banget, Naruto." Ino mengangguk menyetujui kata-kata Sakura. Mereka melanjutkan merapikan dandanan Narumi tanpa menjelaskan lebih tentang fantasi mereka tadi.

Naruto, yang sekarang sudah menjadi Narumi, melanjutkan mengunyah tidak terlalu mempermasalahkan sikap rahasia gadis-gadisnya. Ketika mereka sampai di kampus Narumi, Sakura dan Ino ikut turun dari mobil dengan alasan ingin melihat-lihat berhubung sudah kemari. Tidak melihat apa salahnya Narumi tidak melarang. Dia sendiri bergegas menuju kelas pertamanya, dia tidak pernah terlambat dan tidak akan memulainya hari ini.

Ditinggal berdua, Ino dan Sakura memulai petualangan mereka sesudah sebelumnya meminta Sai menunggu mereka selesai untuk pulang bersama. Niat mereka hanya ingin tahu kampus tempat pemuda kesayangan mereka yang juga kampus dimana Tenten belajar ini seperti apa. Tidak disangka baru lima belas menit berkeliling mereka menemukan wajah yang tidak asing dan memutuskan untuk menyapa wajah yang cenderung selalu datar tersebut.

"Sasuke-kuuuuun!"

Mendengar namanya dipanggil dan dengan nada juga suara yang seperti itu, ditambah dari volume suaranya, Sasuke tahu dia harus segera menghindar. Dia mengambil tiga langkah ke depan dengan cepat, berbalik, lalu memasang kuda-kuda tepat sebelum tangan Sakura dan Ino menyentuh pundaknya.

"Wah, refleksnya bagus. Sasuke-kun apa tertarik buat ikut beladiri? Kayaknya bisa jadi lawan tanding Tenten kalau punya refleks cepet kayak tadi."

Yang diterima Ino sebagai jawaban adalah sebuah tatapan membunuh dari sang Uchiha. "Sasuke-kun galak, ya. Tapi beda kalau sama Naru."

Tanpa bisa dikontrolnya, sebuah semburat merah muda muncul di pipi Sasuke. Dia segera kembali membalikan badan untuk menutupinya, tapi sayang kedua gadis itu sudah melihatnya. Sebelum sempat mereka mengganggunya lebih lanjut, pemuda Uchiha itu dengan cepat melarikan diri dari mereka. "Tuh kan liat, larinya aja cepet. Sasuke-kun pasti bagus tuh kalau ikutan beladiri."

Setelah itu mereka melanjutkan petualangan mereka. Setelah sekitar satu jam berkeliling dan tidak menemukan apapun yang menarik, maksudnya tida lebih menarik dari menggoda Sasuke, mereka meutuskan untuk pulang saja. Sai sangat bersyukur saat melihat mereka berdua berjalan menuju mobil, dia sudah hampir mati kebosanan ditinggal sendirian di parkiran mobil.

Masih di kampus, Sasuke yang baru saja berhasil lolos dari cengkraman dua ekor monster (menurutnya mereka itu memang monster) menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan degup jantungnya. Ke-kenapa dua makhluk itu tiba-tiba muncul disini? Apa Naruto yang meminta mereka untuk menghantuiku? Jangan-jangan sebenarnya masakanku tidak enak dan ini cara dia untuk membalas dendam. Sialan si kepala kuning itu! Beraninya dia mempermainkanku. Dia memukul pintu terdekat darinya yang tanpa dia sadari adalah pintu menuju tempat dimana si kuning yang sedang dia cerca menjalani kelas saat ini.

Terganggu dengan suara yang dibuat Sasuke, dosen yang sedang mengajar di dalam kelas membuka pintu dan hampir terkena pukulan Sasuke yang baru saja akan melampiaskan kekesalannya sekali lagi pada pintu yang tidak bersalah. "Uchiha-san, apa yang sedang kau lakukan disini? Sudah jelas bukan untuk mengikuti kelas karena seingatku kau tidak mengambil mata kuliah ini." Keduanya saling menatap untuk beberapa saat sampai dosen tersebut membuka mlut lagi. "Aah, aku lupa kau tidak akan mengatakan apapun walau apapun yang terjadi."

Sasuke manyipitkan matanya pada pria yang sekarang berdiri di depannya. Apa maksud kata-katanya itu? Dia mengejekku? Menghinaku? Berani sekali dia. Dia pikir dia itu siapa? Dia pikir aku ini siapa? Dasar orang tua mesum, jelek, rambut ijuk, ke… Cercaannya terhenti saat dia menangkap warna kuning yang sangat dia benci tapi juga dia rindukan. Kenapa dia harus ada disini?!

Narumi yang menyadari tatapan Sasuke padanya mendadak bangkit dari tempat duduknya sambil tersenyum dan melambaikan tangan. "Sasuke-kun!" Tentu perbuatannya itu mengundang perhatian seluruh kelas padanya. "Cari Naru, ya?"

Sebuah tatapan tajam dihadiahi oleh Sasuke berkat pertanyaannya. Justru aku tidak ingin melihat wajahmu, Dobe!

Wajah Narumi berubah cemberut. Saat itu seluruh kelas, termasuk sang dosen ingin sekali mencubit Narumi saking gemasnya. "Sasuke-kun jahat banget, sih. Padahal kan kalau kangen tinggal bilang aja. Ya udah, nanti abis makan siang Naru tunggu di deket gerbang ya. Jangan lupa loh, Sasuke-kun." Narumi melambai-lambaikan tangannya lagi pada Sasuke.

Seisi kelas menjadi ribut mendengar pernyataan Narumi. Ada yang shock, ada yang tidak percaya, bahkan ada yang menyarankan agar dia membatalkan apa yang baru saja dia katakan. Hanya butuh satu senyuman dan beberapa kalimat manis untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, dalam waktu kurang dari sepuluh menit Narumi dapat kembali melanjutkan pelajarannya dengan tenang setelah berhasil menenangkan semuanya. Setelah sang dosen menutup kembali pintu kelas, Sasuke ditinggalkan di luar dibalik pintu dengan mata yang setengah terbelalak mendengar janji yang baru saja diberikan Narumi padanya.

Dia bilang akan menemuiku setelah makan siang? Apa lagi maunya?

Siang itu dia mengetahui apa yang Narumi inginkan darinya. Dia hampir tersedak mendengar apa yang gadis itu katakan. Sebenarnya Narumi hanya mengundang Sasuke untuk datang lagi ke rumahnya dengan alasan ada yang ingin dia beritahu. "Naru tunggu ya, Sasuke-kun." Hanya saja cara Narumi menyampaikannya dengan nada suara yang centil dan bahkan menggodanya di depan publik membuatnya merinding. Dia tidak tahu apa yang Uzumaki-Namikaze itu rencanakan, dia khawatir tapi juga penasaran.

Sepertinya aku harus menyeret Neji agar menemaniku kali ini.


~Sorenya di kediaman Uzumaki~

Sasuke berkali-kali berjalan melewati Neji dengan wajah bingung. Setelah membiarkannya melakukannya meskipun membuatnya sakit kepala, Neji akhirnya memutuskan bahwa ini bodoh dan sudah berlangsung terlalu lama. "Apa lagi yang kau pikirkan, Sasuke? Kita sudah disini, tinggal masuk saja kan."

Onyxnya dengan cepat menusuk mata lavender milik Neji. Sudah biasa ditatap seperti itu dan bahkan pernah lebih buruk, Neji tidak terpengaruh dan malah berjalan mendekati pintu. Dengan satu sentuhan dia memencet tombol berumah tersebut lalu dengan jelas dapat mereka dengar musik yang bagi Sasuke adalah horor. "Apa yang sudah kau lakukan, Hyuuga?!"

Sasuke bahkan tidak diberi kesempatan untuk menceramahi Neji lebih panjang ketika pintu ke kediaman Namikaze terbuka. Yang membuka pintu tentu saja Sai dan kenyataan itu membuat Sasuke semakin kesal. Kenapa harus wajah ini yang pertama kali kulihat?!

"Ah, Sasuke. Kau sudah tiba rupanya, Naru sudah menunggumu di dalam. Kau dan temanmu boleh masuk." Sai mempersilahkan keduanya untuk masuk dan hanya tersenyum saat Sasuke mendelik padanya tidak suka.

Belum jauh mereka masuk, sesuatu sudah menghentikan langkah Sasuke. Suara yang dia benci dan dia sangat berharap apa yang dia dengar ini hanyalah ilusi. Dia terlalu naif. "Siapa yang datang?"

"Eh, lihat lihat! Ada kepala bebek."

Kyuubi dan Kurama berlarian mendekati Sasuke. Saat ini Sasuke sangat ini lari saja ke suatu tempat tapi kedua monster kecil di depannya pasti tidak akan membiarkannya pergi dengan mudah. Kenapa harus ada monster cilik juga?! Apa Naruto benar-benar ingin membunuhku?!

"Kakak kepala bebek mau ketemu Naru-nii, ya?"

"Kakak yang satu lagi juga mau ketemu Naru-nii? Hoo, rambutnya panjang mirip perempuan. Kakak banci, ya?"

Dengan satu gerakan Sasuke menarik dan menyodorkan Neji ke hadapan makhluk kecil di depannya. "Neji, kuserahkan padamu." Tanpa menunggu lagi, Sasuke segera melarikan diri dari sana menuju ke arah yang dia yakini dimana ruang tempat Naruto biasa berkumpul bersama para penyihirnya berada. Teriakan protes dari Neji tidak didengarnya. Sudah cukup dengan Naruto dan para penyihir gilanya. Aku tidak perlu berhadapan dengan monster kecil macam mereka juga. Kenapa banyak sekali hal menyeramkan di rumah ini?

Sasuke terus berjalan semakin jauh dari Neji dan kedua monster cilik tadi. Lama kelamaan dia menangkap beberapa suara yang datangnya dari satu ruangan. Salah satunya adalah suara Naruto. Mendengarnya saja sudah membuat jantung Sasuke berdebar. Tapi ada suara lainnya yang tidak dia kenal dan itu suara laki-laki. Sepengetahuannya yang tinggal disini hanyalah Naruto, Sai dan juga para perempuan penyihirnya yang berjumlah lima orang. Lalu suara siapa ini?

Dipicu rasa penasaran dan juga kekesalan Sasuke membuka pintu ruangan tersebut dan menerobos masuk. Satu hal yang dia rasakan saat melihat apa yang ada di dalam ruangan itu adalah penyesalan. Jadi ini yang ingin dia tunjukkan padaku? Semua rasa penasaran dan kekesalannya tadi berubah menjadi rasa sakit yang mendalam. Dia hanya ingin segera pergi dari tempat ini dan melupakan semuanya. "Aku benci padamu, Uzumaki!" Itulah yang dia teriakan sebelum berlari meninggalkan ruangan itu dalam keheningan.