A/N: Sebenarnya saya masih bingung mau bagaimana melanjutkan fanfic ini. Dan saya juga tidak tahu kenapa akhirnya saya buat fanfic ini menjadi multichapter (lagi). Alasan saya bingung mau meneruskannya adalah, karena yang pertama: saya tidak terlalu berbakat dalam menulis sebuah cerita action, yang kedua: saya takut cerita yang akan saya buat ini malah melenceng dari alur cerita yang sebenarnya, yang ketiga: saya takut yang membaca fanfic ini nantinya sedikit bingung akibat dari kekurangan saya yang tidak pandai dalam merangkai kata. Mungkin yang sudah pernah menonton filmnya pasti sudah tahu ceritanya seperti apa. Nah, mungkin yang akan saya buat berbeda di fanfic ini adalah bagian dimana otepe saya ketemu ntar(?) sebenernya saya juga belum mikirin sampai kesitu sih. Pokoknya saya tetep minta maaf kalo ternyata fanfic ini ceritanya tidak sesuai dengan harapan. Tolong maafin saya.

Tidak ada keuntungan material yang saya ambil dari fanfic ini, mengingat ini dibuat dengan tujuan untuk memenuhi janji saya kepada seseorang.

P.S: Alur cerita mungkin sedikit bolak-balik. Tolong diperhatikan setiap tulisan yang dicetak tebal.

Okelah yah, kalo gitu selamat membaca.

.

.

.


Mikasa Ackerman melangkahkan kakinya keluar dari dalam mobil. Wanita cantik itu baru saja berhasil menyelesaikan pekerjaanya—membunuh Ketua Direktur perusahaan Fanasonic—saat ini dirinya sudah berdiri di depan sebuah toko kue yang lumayan terkenal di tempat itu. Sebelum pulang ke rumah, Eren memintanya untuk mampir sebentar ke toko ini. Tanpa membuang waktu lagi, Mikasa langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam.

Kring!

Bunyi suara khas dari sebuah lonceng mungil yang sengaja digantung di atas pintu masuk menjadi penyambut kedatangan setiap pengunjung yang kemari untuk membeli kue atau hanya ingin melihat-lihat saja.

Toko ini memiliki ukuran yang cukup luas. Ada banyak sekali aneka macam jenis kue yang dijual disini. Dengan sentuhan kreatifitas dan imajinasi yang tinggi, kue-kue yang dijual di toko ini dihiasi dengan butter cream, fondant dan aneka gula-gula yang berwarna-warni. Sangat lucu dan unik. Diantara semua kue yang ada, Eren paling suka sekali dengan cupcake. Sejenis kue bolu yang dibuat pada sebuah cetakan yang seukuran cup atau cetakan yang berasal dari kaleng yang biasa dikenal dengan muffi tins.

Paman Hannes, beliau adalah pemilik toko kue ini. Eren dan Mikasa sangat sering membeli kue disini. Toko ini tidak pernah sepi pengunjung, banyak yang menyukai membeli kue disini karena teksturnya yang sangat lembut dan krimnya juga sangat enak.

"Selamat datang di—" Pria itu memutus kalimatnya karena merasa sedikit terkejut melihat siapa yang baru saja datang ke toko miliknya. "Mikasa?"

Wanita cantik itu tersenyum. "Apa kabar paman Hannes?"

"Baik! Tumben sekali kau datang kemari. Biasanya adikmu. Atau jangan-jangan bocah kurang ajar itu sedang sakit?"

Mikasa menggeleng. "Eren baik-baik saja."

Pria itu sedikit lega mendengarnya.

"Aku datang kemari hanya untuk mengambil pesanan kue yang sudah dibeli oleh Eren."

Kedua alis pria itu saling bertaut. "Oh kue yang itu? Tunggu sebentar, aku ambilkan."

Mikasa hanya mengangguk saja.

Pria itu langsung melangkahkan kakinya pergi menuju ke sebuah lemari kue berukuran paling besar di tokonya. Dengan sangat hati-hati dia mengambil sebuah bungkusan berwarna putih yang diletakkan di dalam lemari kue paling atas. Pria itu lalu membawa bungkusan itu, dan memberikannya kepada Mikasa.

"Kemarin Eren datang kemari membeli kue ini, tapi dia minta untuk disimpan dulu disini. Dia bilang kue ini sengaja dibelinya untuk seseorang, dan nanti orang itu yang akan datang kemari untuk mengambilnya. Apakah Eren yang memintamu untuk datang mengambil?"

Mikasa kembali mengangguk.

"Itu artinya Eren membeli kue ini untukmu." Pria itu tersenyum.

"Aku tidak percaya dia melakukan hal seperti ini untukku. Aku fikir dia hanya bisa membuatku jengkel." Mikasa lalu meraih bungkusan itu.

"Eren sebenarnya sangat menyayangimu, hanya saja dia tidak pernah mau menunjukkannya dihadapanmu."

"Benarkah? Darimana paman bisa tahu?"

"Haha. Tentu saja! Aku tahu sekali watak bocah kurang ajar itu. Terlebih hanya kaulah satu-satunya keluarga yang dia miliki saat ini."

"Ya. Karena aku juga adalah kakaknya, itulah mengapa aku sangat menyayangi Eren lebih dari aku menyanyangi diriku sendiri."

"Itu wajar. Tidak ada satupun seorang kakak yang tidak sayang kepada adiknya."

Mikasa tersenyum. "Aku sangat senang sekali. Terimakasih paman Hannes."

"Tidak usah sungkan begitu. Kau boleh mampir kemari kapanpun kau mau. Kapan-kapan akan aku traktir makan kue gratis!" Pria itu tertawa lepas.

"Ah... paman Hannes baik sekali. Baiklah, aku pamit pergi." Mikasa kemudian berpamitan sambil membungkuk sopan, lalu melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu.

Kring!

Pintu toko tertutup kembali.

Mikasa terus berjalan menuju ke lokasi tempat mobilnya terparkir. Akan tetapi, langkah kaki wanita cantik itu tiba-tiba terhenti saat telinganya mendengar suara seseorang yang berteriak memanggil namanya.

"Mikasa!"

Suara itu seperti tidak asing.

"Mikasa!"

Benar. Suara itu... tidak salah lagi!

Wanita cantik itu langsung menoleh.

Kedua bola mata Mikasa langsung terbuka lebar saat melihat ke arah orang yang sejak tadi memanggilnya.

Seorang pria tampan berambut pirang, dengan postur tubuh lumayan tinggi. Pria itu melempar senyum, lalu berjalan mendekat.

"Apa kau masih ingat denganku?"

"Jean?"

"Ya. Aku kembali ke Jepang. Sudah lama sekali kita tidak pernah bertemu."

Mikasa melempar pandangannya ke arah lain. Wanita cantik itu berusaha menghindar dari tatapan pria itu.

"Kau masih marah padaku?"

Mikasa menggeleng. "Aku tidak pernah marah padamu."

"Benarkah?"

"Hm..."

"Sebenarnya setiap setahun sekali aku selalu kembali ke Jepang hanya untuk mengunjungi makam Annie, aku pikir aku akan bertemu denganmu di kuburan. Tapi ternyata aku tidak pernah melihatmu disana."

Mikasa tersenyum kecut. "Annie ya? Aku sudah jarang mengunjungi makamnya."

"Beberapa tahun yang lalu kenapa tiba-tiba kau menghilang? Aku bertanya kepada semua orang, tapi tidak ada yang tahu kau dimana."

"Beberapa tahun yang lalu, sesuatu yang buruk terjadi dengan keluargaku, jadi aku dan adikku pindah rumah."

"Ah..." Jean mengangguk mengerti.

"Kau masih bekerja di New York?"

"Masih. Tidak ada yang berubah dengan diriku. Kau sendiri bagaimana?"

Mikasa hanya diam tidak menjawab.

"Oh iya, aku akan kembali ke New York pada penerbangan besok sore. Aku berharap, kau dapat datang ke bandara besok. Aku sangat ingin bertemu denganmu sebelum aku pergi."

Mikasa sangat terkejut mendengarnya, akan tetapi wanita cantik itu tidak mampu berkata apapun, dia hanya bisa tersenyum dihadapan pria itu.

.

.

.

[ Flashback ]

Mikasa Ackerman

Aku masih sangat ingat tahun itu.

Saat dimana aku masih sangat muda.

Saat itu aku masih sangat bahagia menikmati hidupku sebagai seorang mahasiswi.

Aku pergi bersama sahabatku, Annie... ke sebuah pulau pada malam Natal.

Disana... aku bertemu denagan Jean.

Jean tinggal di New York untuk mengurus beberapa perusahaan disana.

Meskipun begitu, Jean sangat benci sekali kedinginan.

Kami bertiga menghabiskan waktu bersama.

Annie sangat menyukai Jean sejak lama, dan aku tahu akan hal itu.

Aku dan Jean juga sudah lama sekali menyimpan rasa satu sama lain.

Aku dan Jean saling mencintai.

Akan tetapi kami berdua sepakat untuk merahasiakannya dan tidak akan membiarkan Annie sampai tahu tantang semua hal ini.

Jadi, kami berdua menyembunyikan rasa itu... selama liburan.

Annie sengaja membuat rencana berlibur untuk kami bertiga agar dapat liburan bersama setelah bertahun-tahun kami tidak pernah bertemu dengan Jean.

Akan tetapi... di hari sebelum Jean kembali ke New York... Annie mengalami sebuah kecelakaan maut di dekat gunung.

Kecelakaan maut itu telah merenggut nyawanya hingga Annie meninggal dunia.

Apakah itu adalah sebuah takdir?

Apakah itu semua adalah kehendak Tuhan?

Jawabannya adalah... bukan!

Aku yang telah mengatur semuanya!

Aku yang telah membuat kecelakaan itu terjadi!

Aku yang telah membunuh Annie!

Semua itu sengaja aku lakukan agar aku dapat memiliki Jean.

Tidak ada lagi yang menghalangi cinta kami berdua.

Aku dan Jean sepakat untuk bertemu di kamar mayat.

Akan tetapi... yang terjadi selanjutnya... mengubah hidupku.

Aku sempat berpikir untuk tidak akan pernah mau bertemu dengan Jean lagi.

.

.

.

Chapter 03: Sidik Jari

.

.

.

Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime

[ Cover is not mine ]

a RivaEre Fanfiction Written by Heichouxi

REVENGE

Action, Adventure, Crime, Drama, Romance, Thriller

Rate: M

Warnings: AU, Yaoi/BL/BoyXBoy/MaleXMale, deskripsi agak ngawur, EYD berantakan, bahasa tidak baku, OOC, alur cerita dan sudut pandang yang bergonta-ganti.

.

.

.

Don't Like? Don't Read, Don't Flame.

.

.

.

Enjoy Reading.

.

.

.


Bau anyir darah tercium hampir memenuhi seluruh sudut ruangan. Membuat perut mual seperti ingin muntah. Sebagian mayat para penjaga yang mati sudah mulai dipindahkan. Para pegawai yang masih hidup segera diamankan oleh polisi untuk dimintai keterangan seputar kejadian yang baru saja terjadi di perusahaan terkemuka nomor satu di Jepang—Fanasonic. Petugas kepolisian sedikit merasa kesulitan saat menangani khasus ini, sebab mereka tidak menenukan satupun sidik jari pelaku yang tertinggal di lokasi tempat kejadian. Anehnya lagi, wajah pelaku juga tidak terekam oleh kamera CCTV di semua tempat di gedung ini.

"Disini adalah ruangan tempat Ketua Direktur perusahaan dibunuh. Petugas sempat kesulitan untuk mengambil mayatnya karena kaca pelindung yang dibuatnya sangat kuat dan sulit untuk dipecahkan. Setelah dua jam akhirnya mayatnya baru berhasil kami ambil. Kami menemukan sebuah kacamata hitam yang tergeletak di dekat korban."

Levi menghentikan langkah kakinya. "Kacamata?"

Farlan mengangguk. "Ya. Itu bukan jenis kacamata biasa. Bentuknya memang menyerupai kacamata, tapi itu hanyalah tipuan. Benda itu sebenarnya adalah sebuah racun yang memang sudah dirancang khusus untuk membunuh korban. Kacamata itu sekarang sudah kami amankan."

"Pelakunya pasti adalah seseorang yang sangat profesional." Levi kemudian kembali melanjutkan langkah kakinya memasuki ruangan.

"Menurut hasil otopsi, para penjaga tertembak tepat dibagian dada, kepala, dan perut mereka. Dilihat dari situasinya, pelaku sepertinya juga sangat mahir dalam menembak."

"Kenapa kau bisa menarik kesimpulan seperti itu?"

"Karena sangat sulit sekali bagi seseorang menembak tepat pada sasaran jika target dalam kondisi bergerak."

"Hoh, boleh juga pemikiranmu."

"Para penjaga itu bahkan tidak memiliki waktu untuk melawan, mereka hanya berkata 'Akh!' lalu kemudian mati."

Kali ini Levi hanya diam mendengarkan, pria itu malah sibuk melihat-lihat setiap sudut di ruangan itu.

"Ada bukti lain yang aku temukan di lokasi tempat kejadian."

Levi menoleh. "Apa?"

"Aku menemukan sebuah lagu di dalam sistem komunikasi. Lagu ini sempat di putar pada alat pendengaran yang di pasang di setiap telinga para penjaga, sehingga mengakibatkan para penjaga itu tidak dapat berkomunikasi dengan baik antara satu sama lain. Kau mau dengar?"

"Tidak. Berikan saja rekaman itu padaku."

Farlan langsung memberikan benda itu ke tangan Levi.

"Akan aku dengarkan nanti." Levi langsung memasukkan benda itu ke dalam kantung celananya.

Levi kembali melanjutkan langkah kakinya menelusuri setiap sudut tempat di ruangan itu. Matanya lalu terfokus pada sebuah kamera CCTV yang terpasang di pojok ruangan. Pria itu kemudian berjalan mendekati kamera CCTV itu dan memperhatikan lensa kamera itu dengan jelas—entah kenapa dirinya merasa tertarik dengan bekas tembakan yang mengenai tepat di bagian lensa kamera itu.

"Farlan, menurutmu masuk akal tidak jika lensa kamera yang sudah ditembak masih dapat berfungsi?"

Kening Farlan berkerut. "Sepertinya mustahil."

"Jadi kesimpulannya apa?" Jari telunjuk Levi bergerak menunjuk ke arah lensa kamera pada CCTV di ruangan itu.

Pandangan mata Farlan langsung mengarah ke arah jari telunjuk Levi menunjuk, pria berambut pirang itu sempat berfikir sebentar. "Mungkin pelakunya membawa lensa lain?"

"Bukan hanya itu, sepertinya dia memang sengaja merusak lensa kamera CCTV ini agar dapat dengan mudah menggantinya dengan lensa lain yang memang sudah dipersiapkan olehnya, sehingga wajahnya tidak terekam pada kamera CCTV. Rencana yang sangat sempurna. Pelakunya pasti lebih dari satu orang."

"Tapi menurut informasi dari para saksi, pelakunya hanya ada satu orang."

"Tch. bodoh! Tidak mungkin hanya ada satu orang. Pasti ada orang lain yang ikut membantunya dalam melancarkan aksinya."

"Bagaimana kau bisa seyakin itu tanpa ada bukti?"

"Intuisi."

"Mana mungkin kau bisa menyelesaikan khasus ini hanya berdasarkan intuisimu saja?"

"Sudah menjadi tugasmu untuk menemukan buktinya."

"Seharusnya sebagai atasan kau bisa sedikit meringankan tugasku."

"Kau fikir kepalamu itu isinya apa? Kosong? Gunakan kepalamu itu untuk berfikir."

Wajah Farlan terlihat sangat depresi.

Tanpa rasa perduli, Levi lalu berjalan pergi keluar dari ruangan itu meninggalkan pria berambut pirang yang masih diam mematung disana.

Pria itu melangkahkan kakinya menuju lift, dia lalu menekan tombol lift hingga terbuka.

Ting!

Setelah pintu lift terbuka, Levi langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam.

Pintu lift kemudian tertutup kembali.

Levi hanya diam menyandar pada dinding lift. Dia tiba-tiba teringat pada sesuatu. Tangannya lalu bergerak merogoh kantung celananya, dan mengeluarkan sebuah benda yang diberikan oleh Farlan tadi—sebuah rekaman lagu.

Tombol play ditekan.

Sebuah lagu terdengar mengalun lembut di telinga pria itu...

.

.

.

Why do birds suddenly appear

Every time you are near?

Just like me, they long to be

Close to you...

.

Why do stars fall down from the sky

Every time you walk by?

Just like me they long to be

Close to you...

.

.

.

Eren terlihat sedang sibuk mengamati dengan jelas layar monitor besar yang ada di hadapannya. Bola mata hijaunya sedikit bercahaya karena pantulan dari cahaya monitor yang sedang diamatinya. Matanya nyaris tidak berkedip sama sekali. Keningnya berkerut-kerut. Pria manis itu merasa sedikit gugup. Saking gugupnya, dia sampai tidak sadar kalo sejak tadi sedang menggigiti kuku jari tangannya sendiri.

Plak!

Sebuah tepukan yang sangat keras mendarat di pundaknya. Tepukan itu menginterupsi kegiatannya—yang sedang asik mengamati layar monitor—menjadi terganggu. Pria manis itu langsung melempar dath glare ke arah wanita cantik yang entah sejak kapan sudah duduk disampingnya.

"Sakit, Mikasa!"

"Pelan begitu saja sakit?"

Merasa sebal, Eren tidak menggubris pertanyaan dari kakaknya itu. Pandangan matanya kembali fokus mengamati layar monitor.

"Apa sih yang sedang kau lihat?"

"Pria ini adalah pemimpin kepolisian kan?" Eren malah balik bertanya dengan tatapan polos.

"Sepertinya." Mikasa mengedikkan bahu.

"Aku sudah memeriksa semua keadaan di perusahaan itu melalui kamera CCTV disana, dan sejak tadi pria ini menarik perhatianku."

"Apanya yang menarik?" Mikasa sama sekali tidak tertarik dan lebih memilih menikmati kue yang tadi baru diambilnya dari toko paman Hannes.

"Pria ini tidak cocok jadi pemimpin kepolisian. Dia bahkan tidak lebih tinggi dariku, dan dia juga tidak terlihat cukup hebat. Hanya wajahnya saja yang tampan."

Mikasa menghentikan acara makannya dan melirik ke arah adiknya. "Jangan berfikir kalo dia itu bodoh. Aku bertaruh dia bisa lari mengitarimu sampai seribu kali."

Mikasa lalu berdiri dari kursi tempat duduknya dan pergi meninggalkan adiknya.

Eren hanya melongo saja.

"Masa sih dia sehebat itu?" Kening Eren berkerut. "Oke, biar aku cek!"

Jari tangan pria manis itu kemudian bergerak dengan sangat lihai menekan tombol pada papan keyboard miliknya. Eren menekan tombol pause berkali-kali pada rekaman gambar video pada saat pria itu sedang berada di dalam lift. Gambar itu lalu diperbesar olehnya tepat dibagian kartu identitas pengenal yang tergantung pada jas miliknya. Eren mengamati dengan jelas identitas pria itu.

.

.

.

Name : Levi

Pin no : G443107151

Date of birth : 25 Desember 1980

.

.

.

Eren tersenyum melihat apa yang baru saja di dapatnya.

"Ah... ternyata dia mempunyai tanggal lahir yang bagus. Orang ini boleh juga."

Mikasa yang sedang sibuk mencuci piring bekas kue tadi, langsung menoleh ke arah adiknya. "Kau bicara apa barusan?"

Eren menggeleng. "Tidak. Aku tidak bicara apa-apa."

"Oh iya, nanti sore aku ingin pergi ke bandara." Mikasa lalu meletakkan piring yang sudah dicucinya itu ke dalam lemari.

"Mau apa ke bandara?"

"Aku ingin bertemu dengan seseorang."

"Siapa?" Eren mendadak ingin tahu.

Mikasa hanya diam tidak menjawab.

"Pacarmu ya?" Eren asal nyeplos.

Mikasa langsung mendelik. "Jangan sok tahu!"

"Ah... ternyata kau punya pacar."

"Aku bilang jangan sok tahu!"

Eren hampir saja terkena lemparan sendok kalo saja pria manis itu tidak cepat menghindar.

"Kau ingin membunuhku ya? Kalo sendok itu sampai menancap di leherku, aku bisa mati."

"Jangan terlalu berlebihan."

"Pokoknya nanti sore aku ikut juga ke bandara!"

"Mau apa kau ikut?"

"Aku mau melihat pacarmu. Tidak boleh?"

Mikasa menghela nafasnya. Menahan setengah mati emosinya yang sudah ada di puncak ubun-ubun. Wanita cantik itu sudah tidak tahu lagi harus dengan cara apa menghadapi sifat menjengkelkan adiknya itu.

"Terserah kau saja."

.

.

.

Sore hari itu suasana di Bandara Internasional Narita terlihat sangat ramai dipenuhi oleh banyak sekali orang yang hendak berpergian ke luar negeri menggunakan pesawat. Mengapa bandara ini diberi nama Narita? Karena bandara ini terletak di Narita, Prefektur Chiba, Jepang. Bandara ini merupakan bandara tersibuk kedua di Jepang setelah Bandara Haneda.

Eren dan Mikasa tiba di bandara tepat pada pukul 16:25 menit. Pesawat penerbangan menuju New York akan berangkat pada pukul 17:00, masih tersisa waktu sekitar 35 menit.

"Sudah ketemu?" Eren terlihat tidak sabar.

"Belum." Mikasa masih terus berusaha mencari orang itu.

"Padahal waktu yang tersisa tinggal 30 menit lagi loh." Eren melirik pada arloji yang terpatri manis di pergelangan tangan kanannya.

"Mungkin dia sudah berada di dalam pesawat." Ekspresi wajah wanita cantik itu langsung terlihat murung.

Eren dapat melihat dengan jelas perubahan pada wajah kakaknya itu. "Kita tunggu sebentar lagi."

"Tidak perlu. Kita pulang saja."

Belum sempat Mikasa berbalik badan dan hendak melangkahkan kakinya pergi. Tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggil namanya.

"Mikasa!"

Wanita cantik itu langsung menoleh.

"Mikasa!"

Seorang pria masih terus memanggil namanya. Pria itu kemudian berlari menghampiri wanita cantik itu.

"Aku pikir kau tidak akan datang."

Pria itu langsung bergerak cepat memeluk wanita cantik itu.

Eren hanya melongo saja melihat kakaknya dipeluk oleh seorang pria aneh yang wajahnya agak mirip kuda dan badannya sedikit ya—lebih tinggi darinya.

"Jika kau tidak datang hari ini... aku tidak akan mau kembali lagi ke Jepang untuk mengunjungi makam Annie..."

Pria itu masih terus memeluk wanita cantik itu.

"...bagaimana bisa aku melupakanmu? Aku sangat mencintaimu, Mikasa."

Bleh. Eren nyaris mau muntah mendengarnya.

Pria itu lalu melepas pelukannya, dan menatap ke arah wanita cantik itu.

"Terimakasih karena kau sudah bersedia untuk datang."

Mikasa hanya mampu tersenyum dan tidak sanggup berkata apa-apa.

"Eh... ngomong-ngomong orang ini kok wajahnya agak mirip tetangga di samping rumah kita ya?" Eren yang semula hanya diam saja jadi obat nyamuk bakar diantara mereka berdua, akhirnya tidak tahan lagi untuk tidak berbicara.

Pria itu langsung menoleh. "Mungkin hanya kebetulan. Namaku Jean. Kau siapa?"

"Hah... kau tidak tahu aku siapa?" Eren sedikit terkejut.

"Tidak. Memangnya kau siapa?"

"Aku Eren. Adiknya Mikasa."

"Jadi kau adiknya Mikasa?" Kali ini Jean yang gantian terkejut.

"Ya. Restu dariku diperlukan loh untuk hubungan kalian."

"Sori. Tadi itu aku cuma sedikit kaget."

"Kaget kenapa?"

"Karena kau sangat tidak mirip dengan Mikasa."

Hati Eren mencelos. Ingin sekali rasanya meninju wajah pria yang mirip kuda itu.

"Kalian berdua, hentikan!" Mikasa mencoba melerai.

"Dia duluan." Eren membela diri.

"Hah? Aku? Memangnya aku melakukan apa padamu?"

"Tuh dia mulai lagi."

"Apa maksudmu, bocah?"

"Brengsek! Jangan panggil aku bocah!"

"Hei bicara yang sopan padaku!"

"Tidak sudi!"

Mikasa hanya bisa menghela napas melihat tingkah laku mereka berdua. Memang seharusnya Eren tidak usah ikut pergi ke bandara dengannya.

.

.

.


Farlan menyetir mobilnya melaju dengan kecepatan sedang. Suasana di jalanan masih belum terlalu ramai karena hari masih pagi. Pria itu terlihat masih mengantuk sekali—entah sudah yang ke berapa kalinya dia menguap lebar. Jam kerjanya hari ini seharusnya dimulai tepat pada pukul sepuluh, jadi kemarin malam dia sengaja menghabiskan waktunya semalaman tidak tidur untuk menyelesaikan tugas-tugasnya memecahkan beberapa khasus lain, dia berencana untuk bangun siang. Akan tetapi, rencana hanyalah sebuah rencana, tetap saja Tuhan yang menentukan. Acara tidurnya terganggu total ketika atasannya mengirim padanya sebuah pesan singkat yang memintanya untuk segera datang ke kantor lebih awal. Sebagai seorang asisten teladan, Farlan terpaksa harus mematuhi aturan yang sudah dibuat oleh atasannya itu. Sekali dia berani untuk melanggar, maka habislah sudah. Dan sekarang, setelah dia sudah repot-repot datang ke kantor lebih awal, ternyata dia hanya diminta untuk menemani atasannya itu pergi ke suatu tempat—dengan dalih butuh supir pribadi.

"Untuk apa kau memintaku menemanimu pergi kesana? Kenapa kau tidak pergi sendiri saja?" Farlan tidak tahan lagi untuk tidak jengkel.

"Berisik. Karena kau harus ikut juga."

"Kenapa aku harus ikut juga?"

"Kemarin kau bilang sebagai seorang atasan, aku harus bisa sedikit meringankan tugasmu. Dan sekarang, aku ingin memberi tahu padamu sebuah informasi penting."

"Informasi penting apa? Jangan katakan padaku kalo itu hanya berdasarkan intusimu saja." Farlan hanya melirik, lalu kembali fokus menyetir.

"Aku menemukan bukti lain yang ada kaitannya dengan khasus pembunuhan itu."

"Bukti lain?"

"Oh..."

"Bicara yang jelas, Levi."

"Gunakan baik-baik telingamu itu untuk mendengarkan ucapanku. Aku tidak akan mengulang dua kali."

Farlan mengangguk. "Aku mengerti. Bicaralah."

"Semua sudah tahu kalo Fanasonic merupakan sebuah perusahaan nomor satu di Jepang yang bahkan sudah terkenal sampai ke seluruh penjuru di dunia. Segala sistem keamanan informasi dan data penting termasuk data pribadi di perusahaan itu telah dijaga dengan sangat ketat. Jadi, sangat mustahil sekali jika data tersebut sampai bocor atau dapat dengan mudah diketahui oleh orang luar. Akan tetapi, seseorang bernama Malaikat Komputer dapat dengan mudah merusak keamanan sistem informasi di perusahaan itu, dan menembak mati seluruh penjaga tanpa wajahnya terekam oleh kamera CCTV. Apa kau pernah berpikir kalo pelakunya adalah orang dalam?"

Farlan menurunkan laju kecepatan mobilnya. "Jadi maksudmu kau mencurigai salah satu dari orang di dalam perusahaan itu sendiri yang menjadi pelakunya?"

"Ya."

"Buktinya apa?"

"Kepala keamanan di perusahaan itu bilang padaku bahwa semua data penting di komputer perusahaan itu hanya dapat dibuka dengan menggunakan sidik jari milik Ketua atau Wakil Direktur perusahaan. Akan tetapi, Nile Dawk sudah lebih dulu mati di ruangannya. Jadi menurutmu dengan menggunakan sidik jari milik siapa pelakunya dapat dengan mudah melancarkan aksinya?"

"Menurut informasi yang aku dapat, Wakil Direktur di perusahaan itu bernama Reiner Braun. Dia adalah sepupu dari Nile Dawk. Sangat mustahil sekali kalo dia sampai tega membunuh sepupunya sendiri, kecuali dia tidak waras." Farlan masih belum yakin dengan ucapan Levi.

"Yang aku dengar, hubungan mereka berdua tidak terlalu baik. Bahkan mereka sempat pernah berselisih paham soal jabatan. Banyak kejadian seorang adik menghabisi nyawa kakaknya sendiri hanya demi sebuah harta warisan. Jadi tidak ada yang mustahil, Farlan."

"Jadi sekarang kau memintaku untuk mengantarmu pergi ke perusahaan itu adalah untuk bertemu dengan Reiner?"

"Ya."

"Kenapa tidak kau katakan sejak awal saja sih?"

"Aku tidak pernah memintamu untuk menemaniku tanpa tujuan yang jelas."

Farlan tidak berbicara apapun lagi. Pria itu langsung memacu mobilnya dengan kecapatan tinggi.

.

.

.

Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh lima menit, akhirnya Farlan dan Levi tiba di perusahaan Fanasonic. Keduanya langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam perusahaan itu. Setelah mendapatkan izin untuk masuk, keduanya langsung pergi menuju ke ruangan milik Wakil Direktur perusahaan berada. Akan tetapi, belum sempat mereka berdua berhasil mendekati ruangan itu, langkah kaki mereka tiba-tiba saja dihalangi oleh salah seorang pria yang mengaku bahwa dirinya adalah penjaga ruangan tersebut.

"Maaf. Ada kepentingan apa polisi datang kemari?"

Levi malas untuk menjawab. Akhirnya Farlan yang membuka mulut.

"Kedatangan kami kemari adalah untuk mengusut tentang khasus pembunuhan Mr. Dawk."

"Tapi ini bukan ruangan milik Mr. Dawk."

"Ya. Kami sudah tahu. Maksud kedatangan kami kemari adalah hanya untuk berbicara sebentar saja dengan Reiner Braun."

"Berbicara soal apa?"

"Meladeni pertanyaan bodohmu itu hanya akan membuat waktuku terbuang sia-sia. Sebaiknya kau cepat minggir dan biarkan kami lewat." Levi akhirnya membuka mulut.

"Tidak bisa!" Penjaga itu tetap ngotot.

"Mempersulit polisi dalam proses penyelidikan termasuk ke dalam tindak kejahatan loh. Kau bisa kami tangkap." Farlan sedikit mengancam.

Penjaga itu langsung merasa ketakutan, lalu mundur selangkah. "Si-silahkan masuk! Wakil Direktur ada di dalam."

"Dari tadi kek—biar cepet." Farlan menggerutu dengan volume suara pelan.

Pintu ruangan besar itu lalu dibuka. Di dalam ruangan sudah ada Reiner Braun yang sedang duduk santai di atas kursinya.

"Maaf, keberatan untuk diganggu sebentar?" Farlan melempar senyuman ke arah pria itu.

"Tidak, silahkan duduk."

Farlan dan Levi kemudian duduk di hadapan pria itu.

"Ada keperluan apa polisi datang kemari?"

"Anda dicuragi telah terlibat dalam khasus pembunuhan Mr. Dawk." Levi bukan tipe orang yang suka basa-basi.

"Saya terlibat? Mana mungkin saya membunuh sepupu saya sendiri."

"Saat kejadian berlangsung Mr. Dawk sudah lebih dulu tewas di ruangannya, jadi dapat disimpulkan bahwa semua sistem keamanan informasi di komputer perusahaan ini hanya dapat dibuka dengan menggunakan sidik jari milik anda. Apakah anda pernah memberikan data salinan sidik jari anda kepada orang lain termasuk orang diluar perusahaan?"

"Tidak! Saya tidak pernah memberikan data salinan sidik jari saya kepada orang lain, apalagi kepada orang luar."

"Apakah anda berkata jujur?"

"Ya. Saya berkata jujur."

"Baik kalo begitu, boleh kami meminta data salinan sidik jari anda untuk kelancaran penyelidikan?"

Reiner sedikit ragu untuk memberikan data salinan sidik jarinya kepada polisi.

"Jika memang benar anda tidak terlibat, seharusnya anda tidak perlu ragu. Karena ini menyangkut khasus kematian sepupu anda sendiri." Farlan ikut bicara.

"Baik. Akan saya berikan data salinan sidik jari saya."

Dengan tangan sedikit gemetar, Reiner membuka laci meja kerjanya dan mengeluarkan sebuah berkas. Di dalam berkas itu terdapat beberapa lembar kertas beserta hasil data scan sidik jarinya. Pria itu lalu memberikan berkas itu kepada polisi.

"Terimakasih atas kerja sama anda."

"Ya."

"Untuk saat ini kami masih belum dapat memastikan apakah anda benar bersalah atau tidak. Tapi jika semua bukti mengarah kepada anda, maka anda akan segera kami tangkap."

"Silahkan saja tangkap saya, kalo memang saya terbukti bersalah."

Farlan tersenyum. "Baik. Maaf telah mengganggu waktu anda, kami permisi."

Farlan dan Levi langsung melangkahkan kaki mereka pergi meninggalkan ruangan itu.

Selang waktu beberapa menit setelah kedua polisi itu pergi, Reiner langsung meninju meja kerjanya sendiri dengan sangat keras.

Brak!

"Keparat!"

Pria itu langsung meraih ponsel miliknya yang tergeletak tidak jauh di atas meja kerjanya. Diraihnya benda canggih berbentuk persegi panjang dengan lebar layar 5.5 inch. Dibukanya kunci pengaman pada ponsel pintar itu. Saat layar pada ponsel menyala, jari tangannya langsung bergerak cepat menekan beberapa nomor.

Sambungan telepon terhubung.

Suara berat dari seberang sana menjawab telepon tersebut.

"Ada apa, Reiner?"

"Polisi baru saja datang kemari."

"Mau apa polisi itu? Jangan bilang kalo kau tertangkap?"

"Dengarkan aku dulu. Tidak! Mereka belum berani menagkapku sekarang."

"Lantas untuk apa polisi itu datang menemuimu?"

"Mereka datang hanya untuk meminta data salinan sidik jariku."

"Dan kau memberikannya?"

"Tentu saja aku memberikannya! Mereka akan semakin mencurigaiku jika aku tidak memberikan data salinan sidik jari itu."

"Kalo begini sih gawat."

"Apa maksudmu?"

"Tentu saja gawat. Kalo sampai polisi berhasil menemukan sesuatu dari hasil data salinan sidik jari milikmu itu, maka semuanya sudah pasti akan ketahuan."

"Lalu apa sekarang yang harus aku lakukan, Berthold?"

"Cepat atau lambat, polisi pasti akan segera tahu siapa itu Malaikat Komputer yang sebenarnya. Dan kalo sampai polisi berhasil menangkapnya, maka dia pasti akan membuka mulut dan mengatakan yang sebenarnya bahwa kau lah yang menyuruhnya untuk melakukan semua hal itu. Dan jika kau sampai tertangkap, maka aku akan ikut terseret juga. Kemana lagi kita akan melarikan diri?"

"Kau jangan membuatku semakin panik!"

"Aku berkata yang sebenarnya, Reiner. Tapi aku punya satu rencana."

"Apa itu? Cepat katakan!"

"Satu-satunya cara agar kau tidak tertangkap adalah... kau harus dapat menyingkirkan Malaikat Komputer itu. Membunuhnya kalo perlu."

"Kau sudah gila ya?"

"Karena jika sampai dia tertangkap lalu buka mulut, itu akan sangat berbahaya."

"Bagaimana caranya agar aku bisa membunuhnya?"

"Ajak saja dia bertemu denganmu di suatu tempat. Kirim undangan padanya melalui email. Dan pada saat itu, kau suruh orang-orangmu untuk membunuhnya. Mudah bukan?"

"Kau benar juga. Aku terima rencanamu itu."

"Hubungi aku lagi jika terjadi sesuatu."

"Kau tenang saja."

"Aku tunggu kabar baik darimu."

Tut. Tut. Tut.

Sambungan telepon terputus.

Reiner meletakkan kembali ponselnya itu di atas meja kerjanya. Kedua tangan pria itu terlihat mengepal kuat.

"Akan aku bunuh Malaikat Komputer."

Kemudian terdengar suara tertawa yang cukup keras yang berasal dari dalam ruangan Wakil Direktur perusahaan.

.

.

.

A Private Party

Time: 23:00, Thursday

Place: When there is a shining around the tower, people will turn insane.

Note:

Uangnya sudah aku transfer. Kali ini aku menghubungimu bukan untuk memberimu pekerjaan. Aku ingin mengundangmu untuk datang pada pesta yang akan aku buat besok. Aku sangat berharap sekali kau dapat datang. Karena undangan ini sangat spesial.

.

.

.

Eren yang sedang asik mengunyah keripik kentang sambil sibuk mengamati layar monitor besar miliknya, nyaris tersedak saat membaca sebuah email yang baru saja datang dari seseorang yang beberapa pekan lalu terakhir kali mengontaknya lewat email itu juga. Lain dari waktu itu, kali ini orang itu mengirim sebuah email yang berisi undangan.

"Pesta?"

Eren lalu memindahkan pesan email tersebut ke dalam sebuah tablet miliknya, pria manis itu lalu bangkit berdiri dari kursi tempat duduknya dan berjalan menuju ke kamar kakaknya. Eren kemudian mengetuk pelan pintu kamar itu.

Mikasa yang sedang asik berbicara dengan Jean lewat sambungan telepon, sedikit merasa terganggu mendengar suara pintu kamarnya diketuk dari luar. Karena wanita cantik itu tidak mau ketahuan oleh adiknya, dia langsung buru-buru menutup teleponnya.

"Ya. Masuk saja."

Pintu kamar itu kemudian terbuka.

Adik laki-lakinya yang manis perlahan masuk ke dalam kamarnya.

"Kau sedang telponan dengan pria itu ya?"

"Tidak!"

"Bohong."

Mikasa memang paling kesulitan jika harus menyembunyikan sesuatu dari adiknya itu.

"Ada perlu apa kau—?"

Belum sempat Mikasa selesai bertanya, Eren sudah melemparkan tablet miliknya ke atas tempat tidur milik kakaknya.

Mikasa dengan sigap langsung menangkap benda itu.

"Orang-orang yang sedang pacaran memang sangat egois!"

Eren langsung pergi keluar dan menutup kembali pintu kamar kakaknya itu dengan cukup keras.

Brak!

Mikasa sampai harus menutup kedua telinganya dan hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah adiknya yang semakin dewasa malah semakin seperti anak kecil saja. Wanita cantik itu lalu membuka sebuah pesan email yang terdapat di dalam tablet tersebut.

Kedua alisnya saling bertaut.

"Undangan apa ini?"

.

.

.

Eren yang merasa kesal karena melihat kakaknya kepergok sedang asik berpacaran dengan seorang pria yang sangat tidak disukainya, tentu membuat suasana hatinya menjadi sangat kesal dan tidak karuan. Pria manis itu lalu berinisiatif untuk pergi ke sebuah toko kaset yang menjadi tempat langganannya setiap kali dia ingin membeli beberapa album terbaru dari penyanyi idolanya. Eren sangat mengidolakan The Carpenters, sebuah duet vokal dan instrumental yang terdiri dari dua bersaudara Karen dan Richard Carpenter dengan ciri khas harmoni musik popnya, dua bersaudara itu berhasil membubuhkan sebuah rekaman terpopuler dalam American Top 40, dan menjadi tokoh terkemuka dari genre soft rock atau dewasa kontemporer dan menduduki salah satu tempat paling terkemuka di antara para artis rekaman dasawarsanya.

Mikasa tidak tahu sama sekali jika adiknya itu pergi meninggalkan rumah, karena Eren sengaja pergi tanpa meminta izin kepada kakaknya itu terlebh dahulu.

Saat Eren tiba di toko kaset, dia sangat terkejut karena tanpa sengaja dia hampir berpapasan dengan seorang polisi yang wajahnya sangat familiar sekali.

Eren berusaha untuk mengingat wajah polisi itu.

"Dia kan polisi yang bernama..." Eren berfikir sebentar. "Levi?"

Setelah Eren yakin betul dengan wajah polisi itu, dia langsung berjalan mengikuti pria tampan itu dari belakang.

"Mau apa dia datang kemari?" Eren bertanya pada dirinya sendiri.

Levi melangkahkan kakinya menuju ke sebuah rak kaset yang menjual beberapa album milik penyanyi terkenal kelas dunia—The Carpenters.

"Oh, dia datang kemari pasti untuk mencari tahu tentang lagu itu." Pria manis itu lalu tersenyum.

Eren langsung melangkahkan kakinya mendekati pria tampan itu.

"Ehm..." Eren berdehem cukup keras saat dia sudah berdiri tepat di belakang pria tampan itu. Eren semakin yakin kalo pria ini ternyata benar-benar pendek—bahkan tingginya tidak sampai sehidungnya.

Levi tetap saja cuek dan tidak memperdulikan seseorang yang sejak tadi terus berdiri di belakangnya.

Merasa tidak digubris, Eren lalu berpindah bediri di samping pria tampan itu.

"Kau suka dengan album mereka juga?"

"Tidak."

Pria tampan itu menjawab pertanyaan Eren dengan sangat singkat sekali, bahkan tanpa menatap ke arahnya.

"Lalu apa yang sedang kau cari?"

"Sebuah lagu."

Eren semakin yakin kalo pria tampan itu sedang mencari lagu yang pernah di putarnya pada saat membantu Mikasa ketika khasus pembunuhan itu terjadi.

Eren lalu mengambil sebuah headphone yang memang disediakan di toko itu untuk para pengunjung agar dapat mendengarkan lagu yang akan di belinya. Eren lalu memberikannya kepada polisi itu.

Levi meraih headphone yang diberikan oleh pria manis disampingnya. Keduanya saling berpandangan. Obsidian hitam pekat milik pria tampan itu akhirnya bertemu dengan mata cantik emerald milik Eren. Suasana disekitar mereka terasa seperti membeku.

Eren memberikan senyum termanisnya. "Coba dengarkan ini, siapa tahu ini adalah lagu yang sedang kau cari."

Levi langsung memasang headphone itu tepat di kedua telinganya.

Eren tersenyum, lalu menekan tombol play.

Sebuah lagu terdengar mengalun dengan sangat lembut.

.

.

.

Why do birds suddenly appear

Every time you are near?

Just like me, they long to be

Close to you...

.

Why do stars fall down from the sky

Every time you walk by?

Just like me they long to be

Close to you...

.

.

.

.

Kedua kelopak mata Levi terpejam sangat rapat.

Pria itu mencoba mendengarkan dengan jelas suara yang mengalun sangat lembut yang keluar dari kedua speaker headphone yang terpasang di kedua telinganya.

Sejenak kemudian pria itu tersadar...

Dia langsung membuka kedua kelopak matanya.

Pria itu langsung menoleh ke arah kanan, kiri, depan, dan belakang.

Dia berputar dan mengelilingi tempat itu.

Levi berusaha untuk mencarinya ke seluruh tempat di toko itu.

Akan tetapi, dia tidak berhasil menemukannya.

Eren sudah lebih dulu pergi meninggalkan toko itu.

Kedua tangan pria itu langsung mengepal kuat.

Dia sangat marah.

Dia sangat kesal sekali.

Dia merasa sangat dipermainkan.

"Aku akan menemukanmu... sampai dapat. Jangan harap nanti aku akan sudi untuk melepaskanmu."

.

.

.

To be continued.


Haduh ceritanya kenapa jadi makin aneh aja... (terjun)

Saya minta maaf kalo sudah merusak chara, sumpah disini saya bikin Mikasa rada ooc gitu. Abisnya gimana? Saya bingung juga kalo harus ngebayangin gaya Mikasa kalo pacaran terus backstreet di belakang adiknya itu kayak gimana. Tapi Eren disini lucu kayak ngambekan gitu pas liat kakaknya punya mainan baru (maksud lo)

Pokoknya saya tetep minta maaf, kalo mau marah silahkan marahin aja saya jangan marah-marah sendirian ya(?)

Kritik serta saran selalu saya terima dengan senang hati, jangan takut—gak bakalan saya cium (aduh apaan sih) (maapin saya lagi)

Untuk yang sudah membaca fanfic ini dan menyempatkan waktunya untuk memberi review, saya ucapkan banyak terimakasih. I will do my best! (halah)

Untuk silent reader saya minta maaf kalo hasil karya saya ini mengecewakan, atau aneh, atau gaje, atau gimana-gimana(?)

Heichou, I'm not gomen fanfic requestan-nya jadi nista begini (sungkem)

Sampai jumpa di chapter selanjutnya.

Salam manis,

Heichouxi-