Note :

Isi hati Naruto

Isi hati Sasuke

'Isi hati yang lainnya'


Naruto belum lama tiba di rumah dan sedang mempersiapkan kedatangan Sasuke. Dengan mempersiapkan maksudnya memperingatkan ibunya agar tidak membuat masalah dengan menakuti Sasuke atau apalah yang mungkin terpikirkan Uzumaki senior itu. Kyuubi dan Kurama juga perlu sedikit dibuat mengerti karena si kembar ini mewarisi sifat jahil ibu mereka.

"Kami hanya akan mengerjakan tugas di perpustakaan. Aku harap tidak akan ada yang mengganggu kami agar pekerjaan ini bisa cepat selesai. Sasuke mungkin akan tiba sekitar tiga puluh menit lagi."

"Kamu yakin banget dia bakalan dateng. Darimana kamu tau, Naru-chan?" Naruto menoleh pada Ino yang duduk di sampingnya.

"Sasuke pasti datang." Nada suaranya begitu percaya diri seakan-akan ini bukan pertama kalinya hal seperti ini terjadi dan dia sudah mengenal Sasuke sejak lama. Ino menatap Sakura yang hanya mengangkat bahu dan Sai hanya menggeleng sambil tersenyum penuh rahasia.

Pintu ruang Uzuna mendadak terbuka dan masuklah Temari bersama adiknya Gaara. Sejenak Naruto berpikir bahwa yang datang adalah Sasuke. Seperti biasa Gaara segera memeluk Naruto yang sedang berdiri di tengah ruangan dan meminta perhatiannya. "Aku rindu padamu! Halo, Bibi Kushina."

"Halo, Gaara. Kau masih saja manja pada putraku sepertinya." Kushina menawarkan senyuman pada pemuda berambut merah yang sudah dia kenal sejak setahun lalu itu.

"Tidak ada yang bisa menggantikan Naru, Bibi." Naruto mengelus rambut merah Gaara dan Gaara menghadiahinya dengan senyuman.

Naruto kembali menghadap semuanya melanjutkan obrolan yang sempat terpotong tadi dengan Gaara yang masih menempel padanya. Temari yang baru datang tidak begitu mengerti dan meminta penjelasan dari awal. Naruto tidak keberatan. Dia bahkan sekali lagi memperingatkan ibunya juga kedua adiknya yang dibalas dengan putaran mata bosan dari Kushina dan teriakan 'Siap!' dari kedua adiknya. Setelah itu si kembar menghilang entah kemana bersama dengan Sai.

Mendengar penjelasan panjang lebar dari Naruto, Gaara mau tidak mau tertarik. Dia memberikan tarikan pelan di baju Naruto yang membuat pemuda pirang itu menatap mata hijau Gaara. "Ada apa?"

"Kau suka pada Sasuke, ya?"

Kedua alisnya terangkat. "Kenapa kau berpikir begitu?"

Semua mata terfokus padanya. Sebenarnya mereka sangat tertarik dengan topik ini, hanya saja tidak pernah berhasil untuk mendapat jawaban pasti dari pemuda tercinta mereka. Naruto selalu memiliki berbagai macam cara agar mereka berhenti bertanya atau bersikap seakan hal itu tidak perlu dibahas. Mereka berharap kali ini akan mendapat jawaban yang berbeda.

"Akhir-akhir ini, tidak bahkan sudah lebih lama dari itu, nama Sasuke selalu muncul dalam perbincangan. Bahkan Temari bilang padaku kau tidak bisa berhenti memikirkannya. Dan sekarang hanya karena dia akan berkunjung kemari kau sampai mengadakan rapat kecil seperti ini seakan dia itu spesial." Gaara menatapnya dengan penuh harap dan meminta penjelasan penuh. "Kau bahkan pernah menciumnya."

Naruto bergerak dan kali ini dia benar-benar berhadapan dengan Gaara. "Kau tidak suka?" Ini bukan pertama kalinya dia membagi perhatiannya. DI rumah ini saja sudah ada kelima gadisnya dan juga Sai. Orang tuanya ditambah adik kembarnya sudah pasti. Gaara juga termasuk dari orang-orang yang dia sayangi. Kenapa hanya bertambah satu orang saja membuat semuanya bersikap aneh?

Gaara tidak langsung menjawab. Dia tidak yakin harus berkata apa. "Apa kau lebih menyukai Sasuke daripada kami?" Suaranya kecil sekali sampai semuanya harus memasang telinga baik-baik dan berusaha tidak membuat suara apapun agar bisa mendengar apa yang Gaara katakan.

"Kau cemburu?" Kali ini Gaara tidak menatap Naruto dan malah menunduk. Jelas sekali apa yang dipikirkannya. Naruto mengelus lagi rambut Gaara dengan lembut. "Kau tahu kan aku menyayangi kalian semua. Tidak ada yang lebih spesial, kalian semua sama berartinya untukku."

Gaara mendongak dan menatap pemuda kesayangannya sekali lagi. Ada keraguan di matanya, dia butuh bukti. "Kalau begitu cium aku." Perkataannya membuat Naruto berhenti mengelus rambutnya. "Kau selalu mencium semuanya, Temari, keempat gadis lain, keluargamu, Sai, dan bahkan Sasuke." Fakta bahwa Naruto tidak pernah menciumnya tidak perlu dia katakan karena semuanya sudah jelas.

Pemuda pirang yang selalu jadi rebutan itu menghela napas. Sejak dulu ini selalu saja terjadi. Semua orang terlalu terobsesi padanya bahkan sampai menjadi pertandingan. Walau begitu dia tidak bisa menolak permintaan ini karena perkataan Gaara ada benarnya. Dia sendiri belum yakin mengapa dia memperlakukan Sasuke berbeda, padahal dia itu tidak termasuk dalam daftar orang yang dia sayangi. Wajar saja Gaara marah dan cemburu. Tangannya merangkul pinggang Gaara menariknya mendekat dan tangannya yang satu lagi mengelus pipi pemuda itu lembut. Ini hanya sebuah kecupan, sama seperti yang selalu dia berikan pada ibunya atau adik-adiknya, tidak lebih. Entah kenapa para gadisnya tiba-tiba menahan napas seperti terkejut saat dia menyatukan bibirnya dengan bibir Gaara. Mereka sudah pernah melihat dia mencium Sai sebelumnya, ini bukan hal baru. Dekit berikutnya saat dia melepaskan Gaara dia mendengar seseorang berteriak. "Aku benci padamu, Uzumaki!" Saat itulah dia sadar mengapa semuanya menjadi tegang.

Dia menoleh ke arah pintu dengan cepat hanya mendapati bahwa tidak ada seorang pun di sana, hanya pintunya saja yang terbuka lebar. "Jika aku tidak salah dengar seharusnya Sasuke ada di sana." Tidak ada yang merespon, mereka semua hanya menatapnya dengan wajah kaget dan was-was. Sakura bahkan menatapnya dengan ekspresi seperti meminta maaf. "Sial." Dia melepaskan Gaara dari pelukannya lalu segera berlari untuk mengejar dan berharap Sasuke belum meninggalkan rumah ini. Mengapa dia harus datang di saat yang tidak tepat? Tapi, kenapa Sasuke harus lari? Lalu kenapa aku mengejarnya?

Belum jauh Naruto mengejar, dia melihat Sai sedang berjalan santai ke arahnya. "Kau mencari sepupuku? Tadi kulihat dia berlari ke arah perpustakaan. Kalian kenapa?"

Informasi yang sangat dia butuhkan. Tanpa menjawab ataupun berterima kasih Naruto segera meninggalkan Sai menuju ke perpustakaan. Semoga saja dia benar ada disana. Hatinya tidak tenang, perasaannya mengatakan bahwa ada yang salah. Matanya menangkap warna raven tidak jauh dari pintu menuju ke perpustakaan. "Sasuke!" Refleks dia memanggil nama pemuda itu.

Tubuh Sasuke menegang dan detik selanjutnya dia sudah berlari lagi menghindari Naruto. Tapi secepat apapun Sasuke berlari Naruto masih lebih cepat darinya, karenanya tidak butuh lama sampai pemuda pirang itu berhasil menangkap Sasuke dan menariknya. "Hei, kau mau bawa aku kemana? Lepaskan!"

Tidak mempedulikan protesan Sasuke, Naruto terus menyeretnya menuju ke kamar pribadinya. Begitu mereka ada di dalam, Naruto segera menutup pintu dan memeluk Sasuke dari belakang. Entah mengapa dia melakukannya, tapi dia rasa dia harus melakukannya atau Sasuke akan lari lagi. "Kenapa kau lari?" Suaranya pelan tapi terdengar jelas oleh si raven karena posisi mereka yang begitu berdekatan.

Tubuhnya dapat merasakan kehangatan dari tubuh yang memeluknya. Napas Naruto sedikit menggelitik lehernya membuatnya tidak bisa tenang. Sasuke sangat ingin lari saat ini namun dia tahu pemuda yang saat ini memeluknya erat tidak akan membiarkannya begitu saja. Kalau tidak ada yang bisa dilakukan, sekalian saja memastikan semuanya. "Siapa dia?" Sasuke tidak peduli jika saat ini dia terdengar ketus.

"Dia?" Naruto tidak mengerti siapa yang Sasuke maksudkan. Dia mencoba mengerti dengan melihat raut wajah Sasuke tapi sang Uchiha tidak mau memperlihatkan wajahnya. Yang dia bisa rasakan hanyalah napas yang menderu dari pemuda yang dipeluknya menandakan sedang menahan amarah. Naruto menebak-nebak siapakah gerangan yang dimaksud sampai kejadian beberapa menit lalu terlintas dipikirannya. "Maksudmu Gaara?" Tubuh Sasuke menengang. Dari aura yang terpancar terasa pemuda raven itu dia tidak suka mendengar nama yang keluar dari mulut sang Uzumaki. Naruto tidak berkata apa-apa lagi, dia menunggu reaksi dari sang Uchiha.

"Kau..menyukainya?"

Lagi-lagi Naruto bingung. Kenapa hari ini semua bertanya hal yang sama padaku? Dagunya dia topangkan di bahu Sasuke. Tangan kanannya meraih tangan kanan Sasuke dan menggenggamnya. Terasa hangat. Tidak disangka ternyata pemuda raven ini memiliki tangan yang halus. "Tentu. Gaara pemuda yang baik." Tidak ada keraguan di jawabannya. Dia memang suka pada Gaara, juga yang lainnya.

Sayang Naruto tidak menjelaskan lebih lanjut dan Sasuke merasa sudah dipermainkan. Dia melepaskan diri dari pelukan Naruto, berbalik, lalu menampar wajah si pirang dengan cukup keras. "Aku benci padamu! Mati saja, dasar Uzumaki! Jangan pernah tunjukkan lagi wajahmu di hadapanku!"

Sekali lagi dia berlari untuk keluar dari bangunan besar yang menyesakkan ini dan kali ini usahanya membuahkan hasil. Kaki Sasuke melangkah begitu cepat melewati pintu gerbang kediaman Namikaze. Tidak sekalipun dia menoleh ke belakang, bahkan kenyataan bahwa dia meninggalkan Neji disana dilupakannya. Dia hanya ingin segera berada di tempat lain dan mencoba melupakan semuanya.

Ngomong-ngomong soal Neji, saat ini dia sedang berada dalam situasi yang membingungkan. Dia bingung apakah harus senang, takut, antusias, atau segera kabur saja. Kedua tangannya masing-masing diapit oleh dua orang yang terus saja saling melemparkan ejekan kepada satu sama lain. Yang lainnya sama sekali tidak membantu dan hanya menonton saja. Di tangan kirinya bergelayutan Gaara dan di tangannya yang lain adalah Tenten. Mereka berdua sedang memperebutkan perhatian pemuda bermarga Hyuuga ini seperti yang selalu mereka lakukan juga ketika ada Naruto. Semua bermula ketika Neji berhasil melepaskan diri dari si kembar dan secara tidak sengaja lari ke ruang Uzuna. Hinata segera menyapa kakak sepupunya dan Neji menanyakan soal Sasuke padanya. Tidak lama tiba-tiba saja dua makhluk tadi mendekat dan mencoba berkenalan dengannya. Lalu terjadilah adegan rebutan kepemilikan atas Neji. Neji sangat berharap setidaknya Hinata membantunya, tapi sepupunya itu malah lebih memilih bergabung dengan para gadis lain yang salah satunya adalah Sakura, seseorang yang sangat tidak dia sukai. Dia kesal sekali.

"Lepasin tangan kamu, Panda. Udah aku bilang dia ga suka sama kamu."

"Kau yang lepaskan. Mana mungkin dia mau terus-terusan disentuh oleh cewe karung seperti kamu."

Masing-masing mengeratkan pelukannya pada tangan Neji dan kedua pasang mata semakin saling melemparkan aura persaingan. Oh Neji sangat berharap siapapun akan segera muncul dan menyelamatkannya, karena tidak peduli apa yang dikatakannya mereka tidak mau mendengar. Bisa saja dia memaksa melepaskan diri tapi dia tidak ingin melukai mereka terutama seorang perempuan. Walau tidak bisa dia bantah meski Tenten seorang perempuan kekuatannya tidak boleh diremehkan. Dia sangat yakin saat dia pulang nanti dan bercermin ia akan melihat lengannya berwarna biru di beberapa tempat.

Seakan menjawab doanya seseorang masuk dan semua perhatian jatuh pada siapapun itu. Jika itu adalah Sasuke dia sudah berniat akan segera menerjang dan mencekiknya lalu menyeretnya pulang karena sudah membuatnya mengalami penderitaan seperti ini. Sayang sekali yang datang itu bukan pemuda berambut raven melainkan seseorang berambut pirang. Pemuda tersebut menatapnya dengan mata birunya yang jernih lalu tersenyum.

"Ada apa ini? Gaara dan Tenten terlihat seperti bersenang-senang. Kalian sudah berteman dengan Neji rupanya."

Neji hampir percaya dengan apa yang dia dengar. Dari mana pemuda yang baru dia lihat ini bisa mengetahui tentang dirinya? Belum sempat dia bicara, lagi-lagi dua orang yang sama mengalahkannya.

"Naru-kun, dia ga mau lepasin Neji-kun dan dah bikin aku kesel." Tenten melepaskan rangkulannya pada Neji dan berlari kecil sampai ke dekat Naruto.

Gaara mengikuti Tenten, atau lebih tepatnya mereka melakukannya dalam waktu bersamaan. "Naru-kun, dia yang sudah menggangguku dan juga Neji. Beritahu dia agar tidak menghalangiku."

Keduanya saling melotot lagi, tidak ada yang mau mengalah. Tidak perlu dijelaskan pun Naruto sudah mengerti apa yang sedang terjadi disini. Dia mendekat lalu mengelus rambut keduanya bersamaan. "Yang sedang jatuh cinta memang manis. Tapi kalau kalian seperti ini, bisa-bisa Neji malah lari kan?" Suaranya yang lembut dan senyumannya yang menawan sudah meluluhkan amarah keduanya dan menggantikannya dengan sapuan rona di wajah mereka.

"Naru-kun tetep yang paling keren kok. Aku ga akan gantiin Naru-kun sama siapa pun."

"Tidak ada yang bisa menggantikanmu, Naru. Kau yang terbaik."

Tidak lama para gadis yang lain bergabung dan mereka juga mengatakan bahwa Naruto adalah yang paling penting bagi mereka semua. Si pemuda mengelus kepala mereka satu persatu dengan penuh kasih sayang dan mengatakan bahwa dia juga menyayangi mereka.

Bagi Neji pemandangan ini sungguh tidak biasa. Apalagi salah satu diantara para gadis itu adalah sepupunya sendiri yang dia kenal pemalu. Bagaimana bisa seorang pemuda memiliki pengaruh yang begitu kuat pada banyak lelaki dan juga perempuan? "Hei, jadi kau yang bernama Naruto?"

Mendengar namanya dipanggil, Naruto menatap pemuda yang sedang kebingungan tersebut. "Neji, iya aku Naruto. Kau pasti tidak ingat padaku ya? Tentu saja waktu kita bertemu sebelumnya penampilanku tidak seperti ini."

Neji tidak mengerti apa yang dimaksudkan, tapi dia mengesampingkannya. "Dimana Sasuke? Seharusnya dia bersamamu, bukan? Setidaknya begitu dugaanku."

Mengingat Sasuke membuat Naruto berhenti sejenak namun segera mengembalikan sikap. "Sasuke sudah pulang. Dia..terburu-buru."

"Apa?!" Kali ini Neji benar-benar berteriak. Dia tidak pernah berteriak sebelumnya, setidaknya selain kepada Sasuke. "Dia pulang dan meninggalkanku disini begitu saja. Kau cari mati, Uchiha." Suaranya terdengar begitu seram, seperti sudah siap menyiksa orang. Naruto dan para gadisnya harus mundur satu langkah agar menjauh dari aura hitam yang menyelubungi si pemuda Hyuuga. Neji mendapatkan kembali kendali diri lalu segera pamit karena dia memang tidak ada urusan lagi di tempat ini.

Tenten dan Gaara sekali lagi berebut untuk mengucapkan, "Sampai bertemu lagi," pada Neji yang dibalas dengan tatapan-tak-bisa-diartikan oleh si pemuda. Sepanjang jalan pulang Neji merutuk dalam hati. Dia menyalahkan sikap sahabatnya yang terlalu penakut dan kali ini sampai menyeret dia masuk ke dalam masalah yang lumayan rumit. Bagaimana tidak? Dia sendirian harus melepaskan diri dari dua ekor monster kecil yang tidak berhenti memanggilnya banci hanya karena rambutnya yang indah dan panjang. Apa hak mereka menghakiminya seperti itu? Neji bangga dengan rambut indahnya. Selain itu, Ini pertama kalinya baginya diperebutkan oleh perempuan dan lelaki dalam waktu yang bersamaan. Itu gila. Dan Neji merasa dia akan menjadi semakin gila jika tidak berhasil meluapkan kekesalannya pada si Uchiha sahabatnya itu.

"Untuk apa sebenarnya tadi aku pergi kesana?" Pemuda Hyuuga itu memasuki apartemennya dan mendapati semua lampu masih mati. Sasuke pasti sedang ada di kamarnya. Dia segera melangkah kesana untuk menyampaikan semua hal yang ada di benaknya saat ini. Ketika Neji mengira hari ini tidak akan menambah dia lebih gila lagi, semuanya terbantah begitu dia membuka pintu kamar sahabatnya dan memandang sebuah pemandangan yang mengerikan.

Sasuke sedang berbaring di atas tempat tidurnya. Dia bukan hanya malas menyalakan mampu, bahkan dia sama sekali tidak berpikir untuk membuka sepatunya sebelum naik ke atas kasur. Tapi yang membuat horor bagi Neji adalah cairan yang mengalir di pipi si Uchiha dan racauannya yang tidak dia mengerti.

"Lupakan dia, Sasuke. Kau bodoh, Sasuke. Dia itu brengsek, Sasuke. Kau tidak mencintainya, Sasuke."

Kalimat itu terus saja diulangnya. Walau tidak ada suara isak tangis tetapi air matanya tidak berhenti mengalir. Sesaat Neji merasa dia akan mendapatkan serangan jantung menyaksikan hal yang tidak pernah terbayangkan ini. Sasuke memang sering menunjukkan sisi-tidak-Uchihanya di hadapan Neji, tapi yang ini jauh dari jangkauan pemikirannya.

'Apa yang sebenarnya terjadi di rumah itu? Mungkin yang dikatakan Sasuke ada benarnya. Rumah itu adalah sarang penyihir. Yang kudengar dan kualami semuanya hanyalah mimpi buruk.' Dan kali ini Neji percaya bahwa sahabatnya telah diguna-guna.


Disisi Naruto, dia bersikap dan beraktifitas seperti biasa seakan apa yang terjadi diantara dirinya dan Sasuke tadi tidak pernah ada. Karena tidak melihat ada yang aneh, para gadisnya, ibunya, dan juga Sai tidak bertanya apa-apa mengenainya. Si kembar Kyuubi dan Kurama juga terus saja bercerita tentang pengalaman mereka bermain dengan kakak banci dengan bersemangat pada kakak mereka.

"Kalian tidak boleh begitu, Kyuubi, Kurama. Memanggil orang banci itu tidak sopan." Telunjuknya menari-nari di depan wajah si kembar menunjukkan betapa seriusnya dia. "Ibu juga, jangan mengajari mereka yang tidak-tidak. Mereka ini masih kecil, harus diajari mana yang benar dan mana yang salah."

Kushina ikut melotot pada anak tertuanya yang sedang melotot juga ke arahnya. Kedua tangannya berkacak di pinggang dan tubuhnya sedikit dicondongkan ke depan seperti mengajak bertengkar. "Kenapa Ibu yang disalahin? Bukan salah Ibu kalau Kyuubi dan Kurama emang anak yang pintar."

"Itu tidak ada hubungannya. Lagipula Ayah tidak mungkin mengajarkan mereka hal seperti itu. Pasti ulah Ibu yang memang selalu membuat masalah."

"Jadi maksud kamu Ibu ini pembuat masalah? Berani sekali kamu ngomong kayak gitu sama ibu sendiri, Naruto."

"Memang begitu kenyataannya. Kemana Ibu pergi selalu ada saja masalah."

"Kamu ga suka Ibu ada disini?"

"Kalau sudah tahu cepatlah pulang."

Pertengkaran diantara ibu anak semakin sengit. Semua yang menonton merasa sedikit khawatir. Tidak semua sih, Sakura terlihat tenang-tenang saja. Kedua anak yang tadinya sedang dimarahi pun saat ini malah asik sendiri dengan permainan mereka yang entah apa dan terlihat tidak begitu terganggu dengan pertengkaran antara kakak dan ibunya itu. Temari yang berdiri di samping Sakura menyikutnya pelan lalu berbisik padanya. "Oi Sakura, apa ga apa-apa mereka dibiarin gitu? Apa ga diberhentiin aja?"

Bukannya menjawab Sakura malah menyuruhnya diam dan menonton. Temari tidak mengerti dengan sikap temannya tapi menurut dan lanjut menonton dalam diam. Sementara itu Kushina yang belum merespon kata-kata terakhir putranya tiba-tiba saja melakukan sesuatu yang membuat keempat gadis lainnya panik. "Ja-jahat banget! Masa sama ibu sendiri ngomong gitu. Hiks hiks. Minato, Naru udah ga sayang lagi sama aku. Huwaaa!"

Tangisnya lama-lama semakin keras. Temari, Tenten, Ino dan Hinata semakin panik dibuatnya. Mereka segera menghampiri ibu pemuda tersayang mereka dan mencoba menenangkannya. Sayang sekali apapun yang mereka lakukan tidak berhasil mengurangi kerasnya suara tangisan Kushina.

Menyaksikan semua keributan di hadapannya Naruto menghela napas. Ibunya ini, dia sudah tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. "Pokoknya aku tidak mau lagi mendengar mereka berdua berbicara tidak sopan seperti itu pada siapapun. Ibu mengerti?" Setelah berkata begitu dia pergi begitu saja meninggalkan mereka semua dan menuju ke kamarnya.

Mendengar putranya pergi Kushina mengintip dan setelah yakin dia tidak ada seketika berhenti menangis. "Dasar anak keras kepala." Dengan lengan bajunya dia menghapus jejak air mata di pipinya dan sekali lagi berkacak pinggang. "Tapi itu ngebuktiin kalau dia memang anakku."

Empat orang gadis yang beberapa saat lalu mencoba menenangkannya berubah bingung melihat perubahan sikapnya tersebut. Sakura yang sedari tadi diam menghampirinya dan berdiri di sampingnya. "Kushina-san terlalu maksain diri. Untung aja Naruto kali ini ga marah."

Kedua matanya melirik gadis berambut merah muda itu. "Kamu tau apa artinya, kan?" Sakura mengangguk. "Dasar ga jujur. Kali ini apalagi sih yang dia pikirin? Pasti ada sesuatu yang terjadi"

Yang dimaksudkan mereka berdua adalah jika Naruto yang biasanya pasti akan habis-habisan memarahi ibunya tadi. Jika dia berhenti hanya karena melihat ibunya pura-pura menangis, ya tentu dia tahu itu hanya pura-pura, artinya ada sesuatu yang sedang mengganggu pikirannya sadar atau tidak. "Kali ini kayaknya dia sendiri ga sadar, iya kan Kushina-san?"

Kali ini Kushina yang mengangguk. "Jadi penasaran bakal jadi kayak gimana nantinya." Mereka berdua pun terkikik geli sendiri.

Ino dan yang lainnya semakin tidak mengerti mendengar percakapan Kushina dan Sakura. Mereka segera meminta penjelasan dan dengan senang hati keduanya menceritakan segalanya. Butuh waktu yang cukup lama untuk memberitahu semuanya tapi ya tidak apa-apa. Sejak Naruto memutuskan untuk pergi menyendiri mereka memiliki banyak waktu senggang. Lalu bagaimana dengan Naruto sendiri?

Pemuda itu sedang membaca buku di kamarnya walau entah mengapa pikirannya tidak bisa fokus akan apa yang sedang dibacanya. Situasi saat ini begitu tenang, berada di kamarnya sendirian jauh dari suara berisik penghuni rumahnya, jauh dari semua orang yang selalu berusaha mendapatkan perhatiannya. Situasi saat ini sangatlah cocok untuk membaca sebuah buku ringan. Tapi walau bagaimanapun otaknya seperti sulit untuk diajak kerjasama, meski hanya untuk mengerti sebuah bacaan ringan sekalipun. Naruto membalik beberapa halaman sebelum akhirnya menyerah dan menutupnya. Buku tersebut diletakkannya di atas meja kecil di samping tempat tidurnya lalu dia beranjak pergi ke kamar mandi. Dia sangat berharap mungkin berendam dengan air hangat bisa membantu menangkannya, walau dia sendiri tidak yakin apa yang membuatnya tidak tenang.

Sambil menikmati kehangatan air di sekujur tubuhnya, Naruto mencoba mengingat-ingat apa gerangan yang bisa membuatnya merasa seperti ini. Kedatangan Gaara, percakapan dengan Sasuke, pertemuan dengan Neji, pertengkaran dengan ibunya, semua dia perhitungkan. Semua hal kecil pun dia pertimbangkan namun dia tetap tidak melihat ada yang bisa menjadi sebuah masalah.

"Lalu kenapa aku merasa begini gusar?"

Cukup lama dia berpikir sampai air yang digunakan untuk berendam sudah tidak terasa hangat lagi. Naruto meninggalkan kamar mandi untuk berpakaian dan memutuskan untuk segera beristirahat saja walau sebenarnya masih terlalu dini dari kebiasannya tidur. Setelah mematikan semua lampu dan menyamankan posisi di atas tempat tidur, Naruto segera menutup mata dan menuju ke dunia mimpi.

Sayang sekali mimpi yang dia dapatkan kali ini bukanlah mimpi yang berisi bunga-bunga. Dirinya berada di suatu tempat yang sama sekali dia tidak ingat tapi perasaanya mengatakan dia mengenal tempat ini. Sungguh perasaan yang membingungkan. Tiba-tiba dia merasa ada yang menggenggam tangannya. Dia menoleh dan melihat seorang anak kecil berdiri di sampingnya namun wajahnya tidak terlihat jelas. Di saat itu dia baru menyadari bahwa dia sendiri juga adalah seorang anak-anak.

Siapa?

Anak kecil itu berlari di belakangnya. Sejak kapan aku berlari? Mereka terengah-engah seperti sudah berlari seharian tanpa berhenti. Entah apa yang mengejar mereka. Meski tidak bisa melihat wajah anak tersebut tapi Naruto justru dapat melihat dengan jelas raut ketakutan di wajahnya. Dia tidak suka lari dari sesuatu yang bahkan tidak dia yakini akan keberadaannya, walau begitu kakinya tidak mau berhenti.

Naruto merasakan sesuatu yang hangat dan juga basah di dadanya. Dia menunduk untuk melihat apa itu dan menemukan anak tadi sedang memeluknya sambil menangis. Mereka sudah berhenti berlari dan kini duduk di lantai sebuah ruangan yang dipenuhi dengan warna biru. Lagi-lagi dia merasa pernah kemari tapi dia tidak ingat satu hal pun yang ada disana.

"Naru, aku takut."

Dari getaran yang dia rasakan di bajunya dapat dipastikan yang bicara barusan adalah anak yang tadi. Tanganya meraih ingin memeluknya dan mengatakan jangan takut, tapi tiba-tiba saja anak itu sudah menghilang. Dari kejauhan dia mendengar suara teriakan. Kakinya otomatis bergerak dan berlari sekuat tenaga menuju ke arah suara teriakan tadi berasal. Kini dia bisa melihatnya. Segerombolan orang sedang mengepung anak tadi dengan wajah menyeramkan. Dari ekspresi wajahnya terlihat mereka seperti ingin memakan anak itu.

Menyadari kehadiran Naruto, anak itu berpaling padanya dengan sorot mata yang begitu menyedihkan. Naruto ingin sekali menolong tapi kali ini justru tubuhnya tidak mau bergerak. "Naru, kau jahat. Aku benci padamu."

Tubuhnya memberontak dan dengan satu hentakan keras dia terbangun. Napasnya memburu, keringat bercucuran sampai membasahi bajunya, tubuhnya gemetar, jantungnya juga berdegup kencang. Naruto menutup matanya dan mencoba untuk mengatur napasnya kembali. Perlahan dia mendapatkan kembali kendali napas dan juga debaran jantungnya kembali normal. Sekali lagi kedua matanya terbuka tapi tidak memandang apapun. Pikirannya mencoba mengingat apa yang baru saja dialaminya.

"Apa itu tadi? Siapa anak itu?"

Sama seperti dalam mimpinya Naruto tidak bisa melihat dengan jelas wajah anak tadi maupun suaranya. Walau begitu entah mengapa sebagian dari dirinya mengatakan dia mengenal anak itu. Kepalanya sakit memikirkan ini semua. Matanya melirik ke samping tempat tidur dan melihat waktu pada jam yang bertengger disana. Dia masih memiliki banyak waktu sampai waktunya untuk bersiap pergi ke kampus. Karena mimpi tadi dia menjadi bangun terlalu cepat dan sekarang dia tidak yakin apa yang harus dilakukannya untuk menghabiskan waktu.

Memutuskan bahwa berdiam diri saja di atas tempat tidur pun tidak akan membantu, Naruto turun dari kenyamanan tempat tidurnya dan melangkah keluar kamar. Seperti yang dia duga belum ada satu pun dari para gadisnya yang sudah bangun sepagi ini. Dengan langkah yang sedikit tidak bersemangat dia berjalan menuju dapur dan menemukan Sai disana. Selayaknya seorang butler pastinya dia akan bangun lebih pagi dari siapapun di rumah ini dan mempersiapkan segalanya untuk semuanya memulai hari baru.

Sai sedang menyiapkan dapur dan juga bahan makanan untuk dimasak Hinata dan yang lainnya nanti ketika Naruto masuk. Dia sedikit terkejut melihat majikannya sudah bangun sepagi ini. "Tumben sekali jam segini sudah bangun, Naru-kun." Nada bicaranya sedikit jahil.

Naruto tidak menjawab dan hanya melambaikan tangan memberitahu agar tidak usah terlalu dipikirkan. "Buatkan aku secangkir teh, Sai." Tanpa menunggu lama teh yang dipesan sudah tersaji di hadapannya. Aroma dari teh yang baru diseduh menenangkan beberapa sarafnya yang tegang. Naruto menghirup cairan berwarna kemerahan itu dan menikmati sensasi panas yang mulai menghangatkan tubuhnya. Teh panas memang selalu bisa membantunya untuk rileks dan sejenak melupakan masalahnya. Sangat disayangkan bahwa cairan di cangkirnya itu ada batasnya dan hanya dalam waktu lima belas menit cangkir keramik itu kosong. Pikiran Naruto mulai melayang-layang kembali. Tidak adanya distraksi dari wangi teh kesukaannya begitu berpengaruh padanya.

Puluhan menit dia habiskan dengan merenung sendirian di dapur. Sebenarnya dia tidak tahu pasti berapa lama sudah dia berdiam diri disana. Sebuah tangan menepuk pundaknya menyadarkannya dari lamunan. "Naru-kun, air untuk kau mandi sudah siap." Ternyata itu Sai dan mendengar pernyataannya Naruto tahu bahwa dia benar-benar kehilangan jejak tentang berapa banyak waktu yang sudah dia lewatkan. "Naru-kun, kau baik-baik saja? Apa kau mau aku membantumu mandi kali ini?" Naruto menyadari nada sedikit menggoda dari butler-nya itu dan segera menggeleng menolaknya.

"Aku bisa mandi sendiri, Sai-kun." Dia pun sedikit memasukkan nada menggoda di kalimatnya dan sukses membuat Sai berdebar-debar. Sebelum Uchiha muda itu sempat bereaksi, Naruto bergegas menuju kamar mandi di kamarnya untuk mandi. Aku harus berhati-hati jika mau menggoda Sai. Yang barusan itu seperti memberikan lampu hijau pada si Uchiha itu untuk berbuat lebih. Kenapa juga aku menggodanya seperti itu? Yang pernah aku goda hanyalah mereka yang hanya tahu tentang sosok Narumi karena tidak akan berbahaya dan juga Sasuke.

Pikirannya langsung terhenti disitu. Perasaannya sempat mengatakan dia menggoda Sai karena wajahnya yang agak mirip dengan kakak sepupunya itu. Naruto menggelengkan kepala cepat menolak pikirannya sendiri dan segera bersiap-siap untuk pergi ke kampus. Pagi ini dilewatkannya seperti biasa. Berdandan dibantu oleh Ino dan Sakura, sarapan bersama semuanya, memperingatkan ibunya agar tidak macam-macam, mengucapkan selamat tinggal pada kedua adiknya, lalu pergi ke kampus bersama Tenten diantar oleh Sai. Tidak ada yang aneh, hanya sesekali terserang sakit kepala ketika mengingat Sasuke.

Bicara soal pemuda berambut raven itu, berhubung hari ini tidak ada kelas yang sama kemungkinan mereka tidak akan bertemu. Walau iya pun Naruto tidak yakin apa yang harus dilakukan dan kemungkinan besar Sasuke sudah tidak mau bertemu dengannya.

"Narumi?" Mendengar namanya dipanggil dia menoleh ke asal suara. Saat ini dia sedang duduk di kelas dan kuliah sedang berlangsung. Ini adalah kelas terakhir yang harus dia jalani hari ini dan naruto tidak sabar ingin segera pergi. Kiba menatapnya khawatir dan dia tidak mengerti kenapa. Dia menatapnya balik dengan raut bertanya ada apa. "Kamu udah menghela napas sebanyak tiga kali."

Kepalanya miring tanda tidak mengerti. Dia tidak merasa menghela napas sekali pun. Apa bisa seseorang menghela napas tanpa mereka sadari? Baru saja mulutnya terbuka akan menjawab sakit kepala lainnya menyerang lagi. Kali ini sakitnya bukan main dan dia tidak bisa menahannya. Rasanya seperti kepalanya akan terbagi dua, seperti sesuatu memaksa keluar dari dalam. Melihat wajahnya yang kesakitan Kiba terlihat semakin khawatir. Itu tidak bisa dia bantah, melihat temannya tiba-tiba seperti ini dia sendiri akan kaget. Di detik berikutnya dia bahkan tidak bisa mendengar suara semua orang yang berteriak memanggil namanya karena Naruto kehilangan kesadarannya.

Seisi kelas menjadi ricuh dan semua orang bingung apa yang harus dilakukan. Seseorang berlari menuju tempat parkir karena tahu butler Narumi selalu ada disana untuk menjemputnya. Dia memberitahukan kondisi majikannya padanya dan dengan secepat kilat Sai segera berlari ke tempat Narumi berada.

Dalam perjalanan pulang dia memberikan kabar pada semuanya dan saat dia kembali ke rumah membawa Narumi yang tidak sadarkan diri mereka sudah ada. Dokter pribadinya bahkan sudah dipanggil dan Narumi segera diperiksa. Dia mengatakan bahwa tidak ada yang salah dengan tubuhnya, karena itu dia akan memastikan sekali lagi ketika Narumi atau Naruto sudah sadar.

"Ini bukan main-main lagi." Kushina terlihat khawatir sekali melihat putranya yang terbaring di atas tempat tidur. "Apa yang sebenernya terjadi antara kamu dan Sasuke, Naru?" Dia yakin sekali semua ini pasti berhubungan dengan Sasuke.

Sakura berdiri di sebelahnya dan merangkul pundaknya lembut. Karena dokter mengatakan tidak ada yang salah justru mereka semakin khawatir Naruto tiba-tiba saja tidak sadarkan diri seperti ini. Kyuubi dan Kurama berbaring di samping kakaknya dan masing-masing menggenggam tangannya sambil mendoakannya agar cepat sembuh. Mereka semua berharap Naruto akan cepat bangun dan memberitahu mereka yang sebenarnya. Atau haruskah mereka mencari Sasuke?