Note :
Isi hati Naruto
Isi hati Sasuke
'Isi hati yang lainnya'
"Udah tiga hari dan dia belum sadar juga." Dalam tiga hari itu pun Naruto mengalami demam yang sangat hebat. Entah berapa kali Sai harus mengganti baju majikannya itu dalam satu hari karena selalu basah oleh keringat. Temari menatap khawatir wajah pemuda yang sedang terbaring tidak sadarkan diri di atas tempat tidurnya. Meski terlihat seperti hanya tertidur, tapi mana ada orang tertidur selama tiga hari baik-baik saja. "Apa ga sebaiknya kita tanya Sasuke-kun aja?"
"Kalau berbicara pada sepupuku semudah itu sudah kulakukan sejak dulu."
Semua menyadari apa yang dikatakan Sai itu memang benar. Di dunia ini yang bisa berbicara dengan Sasuke, atau lebih tepatnya yang bisa membuat dia bicara, hanyalah Neji dan Naruto. Bahkan keluarganya sendiri saja diragukan bisa mengerti dia atau tidak jika dia bicara sekalipun. "Tapi kalau kayak gini terus Naru-chan gimana?"
Sebenarnya selama tiga hari ini Tenten selalu bertemu dengan Sasuke di kampus. Hanya saja saat dia ingin menyapanya Sasuke pasti sudah kabur terlebih dulu. Pemuda itu seperti memiliki radar di tubuhnya, bahkan saat tidak melihat pun dia sudah tahu bahwa Tenten mendekat dan segera lari menjauh. Kecepatan larinya memang tidak bisa diremehkan seperti yang sudah diceritakan Ino dan Sakura.
Sasuke tidak tahu menahu tentang kondisi Naruto. Setiap kali ada yang mencoba memberitahunya dia akan menusuk mereka dengan aura membunuh yang sangat hebat. Dia bahkan tidak peduli lagi dengan tugas yang diberikan Kakashi pada mereka. Jika ada yang mencoba menyebut namanya di hadapannya dia benar-benar akan menyiksa orang itu, setidaknya tatapannya mengatakan begitu. Tidak ada yang curiga dengan sikapnya yang seperti itu. "Sasuke kan memang alergi perempuan. Itu sih wajar." Mereka tidak tahu saja bahwa kali ini yang Sasuke benci bukan hanya perempuan, tapi juga laki-laki. Sedikit lagi saja dia akan membenci manusia.
"Kita tunggu aja sampai Naru sadar." Semua melirik pada Kushina. Dia sendiri tidak yakin apakah keputusannya ini benar. Ini kedua kalinya putranya berada dalam kondisi seperti ini.
"Tapi sampai kapan?"
Tidak ada yang tahu pasti jawabannya karenanya tidak ada yang menjawab. Terakhir kali butuh waktu satu minggu sampai Naruto benar-benar sadar. Maksudnya begitu dia bangun di hari ketiga pun di sisa empat harinya Naruto seperti orang linglung. Kali ini tidak ada yang tahu apakah akan butuh waktu lebih lama dari itu atau tidak. Semoga saja tidak.
Sejak hari pertama Kushina meminta semuanya beraktifitas seperti biasanya saja dan jangan terlalu mengkhawatirkan keadaan putranya. Mereka tentu saja menolak tapi berhasil dibujuk dengan dalih bahwa Naruto pasti tidak akan suka melihat semuanya bersedih-sedih dan menelantarkan kewajiban masing-masing hanya karena dia. Mereka juga mengatakan akan bergantian menjaga Naruto dengan mencocokkan jadwal masing-masing sampai pemuda itu sembuh.
Di hari keempat ini yang menjaga adalah Kushina sendiri. Tenten ada latihan beladiri, Hinata baru bisa datang sore sehabis pulang sekolah, Sakura ada pekerjaan di butik, Ino harus mengejar tugas kuliah dan Temari harus menemani Gaara untuk urusan keluarga. Sewaktu jam menunjukkan pukul satu siang, Kushina harus menyerahkan tugasnya tersebut pada Sai karena dia harus mengantar si kembar membeli beberapa perlengkapan untuk sekolah. Untuk beberapa lama Sai harus ditinggal sendirian bersama Naruto yang masih terbaring.
Baju Naruto baru saja diganti dan dia harus mengganti air untuk mengompres Naruto. Hening sekali rumah ini tanpa adanya kehadiran semuanya. Ini bukan pertama kalinya Sai harus tinggal sendirian menjaga rumah, tapi kesunyian kali ini terasa lain. Dengan membawa baskom kecil untuk kompres, Sai kembali ke kamar Naruto. Baskom yang berisi air itu tumpah ketika dia masuk ke kamar karena mendapati pemuda yang seharunya terbaring disana tidak ada. Membiarkan air yang berceceran dia segera mencari Naruto di sekitar rumah. Tapi belum lama dia mencari dia sudah menemukannya.
"Naru-kun!"
Naruto sedang berlutut di lantai dengan napas yang tersengal. Terlihat dia mencoba untuk berjalan tapi belum jauh tubuhnya sudah tidak kuat. Wajahnya masih merah tanda bahwa demamnya belum hilang. Sai membantunya berdiri dan mencoba membawanya kembali ke kamar. Naruto menolak untuk kembali bahkan mendorong Sai agar melepaskanya. "Aku harus pergi ke tempat Sasuke."
"Naru-kun, kau akan jatuh pingsan lagi bahkan sebelum sampai pintu depan. Kita kembali saja, kau harus beristirahat."
Sai meraihnya lagi tapi tangannya langsung ditepis. Mata biru Naruto menatap onyx Sai dengan penuh keteguhan hati membuat Sai tidak bisa bergerak. "Aku akan pergi ke tempat Sasuke." Tidak mendengar sanggahan apapun dari Sai, Naruto mulai berjalan lagi dengan tergopoh-gopoh. Kakinya gemetaran karena tidak kuat menahan tubuhnya. Demamnya membuat kepalanya terasa pening tapi dia tidak mau menyerah begitu saja. Meski hanya satu langkah dia harus bertahan.
Sai tidak suka melihat ini. Dia tahu bahwa Naruto terkadang sangat keras kepala, seperti sekarang ini. Tidak ada yang bisa menghentikannya jika sudah menentukan sesuatu. Tapi melihatnya menderita seperti ini dia tidak tahan. Naruto tiba-tiba jatuh lagi dan Sai refleks mendekatinya. Dari matanya yang sayu terlihat Naruto sudah hampir tidak bisa mempertahankan kesadarannya. Sai segera membantunya bangun dan merangkulnya untuk mulai berjalan. Lagi-lagi dia mendorong Sai untuk mencoba melepaskan diri tapi kali ini gagal karena tenaganya sudah tidak ada. "Aku akan membawamu ke tempat Sasuke, jadi diam dan menurut saja." Memang tidak ada gunanya mencoba mengubah pikirannya dan Sai mencoba mengikuti saja apa maunya, tapi dia akan memastikan pemuda kesayangannya baik-baik saja.
Naruto menoleh sedikit dengan lemas sambil tersenyum pada Sai sebagai ucapan terima kasih. Sai membantunya berjalan perlahan sampai ke mobil. Setelah mendudukan Naruto dengan nyaman, Sai kembali ke dalam untuk mengambil beberapa perlengkapan untuk di perjalanan. Dia kembali dengan sebuah tas kecil di tangan kirinya lalu mengompres kembali kepala Naruto sebelum naik ke belakang kemudi.
Selama perjalanan Sai mencoba sebisa mungkin agar mobil tidak terlalu kencang dan tidak melalui jalan yang tidak mulus. Guncangan sedikit saja mungkin dapat membuat sakit kepala Naruto semakin buruk. Mereka berjalan dengan sangat lambat tapi Naruto tidak protes. Matanya tertutup dan kepalanya menyender di bangku belakang. Dengan sekuat tenaga dia mencoba mengendalikan sakit kepalanya. "Sai, maaf sudah merepotkanmu." Dia mengucapkannya disela-sela napasnya yang masih sedikit tersengal.
Sai meliriknya sebentar dari kaca spion lalu kembali fokus ke jalan. "Aku tahu percuma mencegahmu. Setidaknya aku akan memastikan kau sampai dengan selamat." Entah apa yang akan terjadi jika dia membiarkan Naruto pergi sendirian. Dan ini benar-benar Naruto yang pergi. Tidak ada waktu di saat seperti ini untuk mendandaninya menjadi Narumi. Akan berbahaya sekali membiarkan pemuda itu berkeliaran sendirian ketika dia bahkan tidak bisa berdiri sendiri dengan benar. Mimpi buruk di masa lalu bisa terulang lagi, bahkan mungkin lebih buruk.
Mereka berkendara menuju apartemen Sasuke karena ada atau tidak Sasuke disana saat ini itu adalah tempat yang aman untuk bertemu melihat kondisi Naruto seperti ini. Jarak yang seharusnya bisa ditempuh dalam dua puluh menit dalam kondisi biasa ditempuh mereka dalam waktu hampir empat puluh menit karena Sai tidak ingin mengebut walau hanya sedikit.
Merasakan mobilnya berhenti, Naruto membuka mata dan melihat keluar jendela. Dia dapat melihat sebuah bangunan apartemen yang belum pernah dilihatnya. Tanpa bertanya pun dia bisa menebak bahwa ini adalah apartemen dimana Sasuke tinggal. Pintu mobil terbuka dari luar dan Sai segera membungkuk untuk membantunya keluar. Tangannya meraih pundak pemuda Uchiha itu untuk bertumpu agar bisa berdiri. Tubuhnya sedikit bersandar pada tubuh Sai agar tidak rubuh karena tidak yakin kakinya sendiri bisa kuat menopang berat tubuhnya.
Setelah memastikan mobil terkunci dengan aman, mereka mulai berjalan memasuki gedung secara perlahan. "Kamar Sasuke ada di lantai lima. Perjalanannya sedikit jauh, kau yakin tidak apa-apa?"
"Aku akan baik-baik saja." Meski nadanya terdengar yakin, Naruto sendiri tidak tahu apakah tubuhnya sehati dengan tekadnya.
Siang itu apartemen sepi, mungkin karena para penghuninya berada di luar baik yang sekolah maupun bekerja. Mereka masuk ke dalam lift yang mengantarkan mereka sampai ke lantai lima. Dalam perjalanan menuju pintu apartemen Sasuke pun tidak ada siapa pun di koridor. Sai yang menekan bel sementara Naruto hanya menyandarkan diri pada butler-nya karena kepalanya sedang terasa sakit sekali.
Awalnya tidak ada respon dari dalam dan Sai sempat berpikir bahwa tidak ada siapapun di sana. Dia menekan bel lagi dan kali ini terdengar langkah kaki yang semakin mendekat dan berhenti di depan pintu. Saat terbuka terlihatlah wajah Neji yang terkejut bercampur bingung melihat siapa yang bertamu. "Kau?" Pemuda Hyuuga itu hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, aplagi melihat kondisi sahabatnya setelah meninggalkan kediaman Uzumaki beberapa hari yang lalu. Tangannya dia lipat di depan dada dan menatap Naruto dengan sedikit tajam. "Jika mencari Sasuke maaf saja dia sedang tidak ada. Walau dia ada pun, aku tidak yakin dia mau bertemu denganmu. Sebaiknya kalian pulang saja."
"Hm. Aku tidak tahu jika seorang Hyuuga tidak memiliki sopan santun seperti ini." Perkataan Sai tidak diterima dengan baik oleh Neji. "Mana ada yang mengusir tamu mereka hanya dalam waktu lima detik setelah mereka datang bahkan tanpa melihat kondisinya yang seperti ini."
"Kalian bukan tamu. TIdak ada yang memintamu datang."
Keduanya saling menatap tajam. Naruto yang masih bergantung pada Sai menjulurkan tangannya unutk menggapai Neji dan mencengkram baju bagian depannya membuat si pemuda kaget. "Biarkan aku menunggunya. Aku harus bertemu Sasuke." Dengan terucapnya kata Sasuke tubuh Naruto mulai rubuh lagi ke arah depan. Neji secara releks menangkapnya dan dia bisa merasakan panas tubuh Naruto yang disebabkan oleh demamnya.
"Badanmu panas sekali." Dia menatap Sai. "Kau membiarkannya datang dengan kondisi seperti ini?"
Sai menggidikkan bahu. "Kau tidak tahu seberapa keras kepalanya dia. Sebaiknya kau biarkan dia masuk sebelum dia pingsan disini." Sai berbalik dan mulai berjalan menjauh. Tangannya melambai memberikan salam. "Kutitipkan dia padamu. Kalau Naruto sudah ingin dijemput hubungi saja aku."
"Hei!" Neji tak sempat melempar protes lebih banyak lagi karena tubuh Naruto semakin berat dan hampir jatuh ke lantai. Saat dia berhasil menahan berat tubuhnya Sai sudah hilang dari pandangan. Dengan sangat berat hati dia memutuskan untuk membawa Naruto ke dalam. Walau nantinya Sasuke pasti akan marah besar, tidak mungkin dia membiarkan orang sakit begitu saja. Apalagi orang sakit ini adalah seseorang yang dikenalnya dan juga berada di depan apartemennya.
"Sasuke." Naruto meracau saat dibawa masuk. Dia sudah tidak punya kendali lagi atas energi di tubuhnya dan membiarkan Neji membawanya berjalan menuju satu kamar.
Neji menyalakan lampu kamar lalu dengan perlahan dan hati-hati membaringkan Naruto di tempat tidur yang ada disana. "Sasuke akan pulang sekitar satu jam lagi. Kau tidur saja disitu. Ada yang harus kukerjakan jadi aku akan ada di ruang tengah."
Membiarkan tamunya beristirahat, Neji kembali ke perkerjaannya yang tadi sempat terganggu. Tumpukan kertas yang harus dia selesaikan sore ini dan harus dia antarkan malam ini juga sudah berteriak-teriak padanya agar cepat dibereskan. Belum sepuluh menit dia bekerja pikirannya teralihkan lagi oleh keadaan tamunya yang berada di kamar Sasuke. Tidak bisa menahan perasaannya, Neji beranjak sekali lagi dan kali ini berjalan menuju dapur. Mencari-cari di lemari dia mengambil sebuah baskom kecil dan mengisinya dengan air dingin. Baskom tersebut dia bawa ke kamar Sasuke dan dia letakan di meja samping tempat tidur. Neji mengambil sebuah handuk kecil dari dalam laci baju Sasuke. Dengan handuk tersebut dia mengompres dahi Naruto yang sedang terlelap. Raut wajahnya yang terlihat kesakitan berubah lebih tenang begitu merasakan sesuatu yang dingin menyentuh kepalanya. Sekarang Neji yakin ketika meninggalkan Naruto sendiri lagi dia bisa bekerja dengan lebih tenang sambil menunggu Sasuke pulang.
"Aku pulang."
Tangan Neji berhenti bekerja mendengar suara Sasuke dan segera meninggalkan kertas-kertas berharganya. Wajah sahabatnya terlihat lelah sekali dan juga tidak bersemangat. Ini sudah berlangsung selama tiga hari berturut-turut. Dilihat dari gelagatnya Sasuke sudah siap untuk langsung masuk ke kamar dan segera melepas rindu dengan tempat tidurnya seperti yang dilakukannya tiga hari belakangan ini. "Sasuke, ada yang harus kau tahu sebelum masuk ke kamar."
"Nanti saja. Aku ingin berbaring."
Neji berusaha sebisa mungkin agar Sasuke mau mendengar tapi terlambat saat sahabatnya membuka pintu kamar dan matanya langsung tertuju ke arah tempat tidur. Sasuke berdiri terpaku di tempat dan tangannya yang kehilangan kekuatannya membiarkan tas yang dibawanya jatuh ke lantai. Dia tidak mempercayai penglihatannya sendiri dan perlahan berbalik ke arah Neji meminta penjelasan. "Apa-apan ini! Jelaskan padaku, Hyuuga!"
"Ini yang kucoba jelaskan tadi. Jangan berteriak, nanti dia bangun."
"Aku tidak peduli jika dia bangun! Apa yang dia lakukan di atas tempat tidurku?!" Telunjuknya menunjuk sosok yang sedang berbaring di tempat tidur tercintanya.
"Tenanglah jika kau ingin aku menjelaskannya."
Diberitahu seperti itu justru membuat Sasuke bereaksi sebaliknya. Saat ini mana bisa dia tenang. "Tidak perlu penjelasan. Aku ingin dia menyingkir dari sini sekarang juga! Seret dia jika perlu! Apa kau lupa apa yang sudah dia lakukan padaku?! Bisa-bisanya kau membiarkannya masuk ke kamarku, bahkan tidur disana. Kau sudah gila, Hyuuga! Apa kau juga membenciku? Ingin membuatku gila juga, hah?!"
Keluar lagi sifat Sasuke yang biasanya. Padahal Neji sedikit lega karena beberapa hari ini dia tidak perlu mendengarkan teriakan dan keluhan si Uchiha sahabatnya ini. Pengaruh seorang Naruto memang sebesar ini rupanya.
"Sasuke."
"Apa?!"
Saat keduanya menyadari bahwa yang menyebut nama Sasuke tadi bukanlah Neji mereka terdiam. Perlahan kedua mata mereka melirik ke arah tempat tidur dan disana Naruto sedang terduduk sambil menatap ke arah Sasuke. Matanya terlihat sayu, dadanya naik turun dengan cepat seperti kesulitan bernapas, dahinya pun berkerut karena menahan sakit juga mencoba untuk melihat lebih jelas. "Sa..suke, kau ada disi..ni." Naruto berusaha untuk turun dari tempat tidur. Tangan dan kakinya gemetar tidak sanggup menopang berat badannya dan membuatnya terjatuh ke lantai.
Secara refleks tubuh Sasuke bergerak dan mendekat ke samping Naruto yang berada di lantai. Rasa kesalnya tadi dan juga kemarahannya pada si pemuda pirang hilang entah kemana tersapu oleh rasa kekhawatiran. Ini pertama kalinya dia melihat seorang Uzumaki Naruto terjatuh tidak berdaya seperti ini. Uzumaki Naruto yang dia kenal adalah seseorang yang selalu berdiri dengan gagah apapun yang terjadi dan selalu bisa melindunginya dari apapun. Sasuke mencoba membantu Naruto untuk bangkit. Begitu kulit mereka bersentuhan dia bisa merasakan panas tubuh Naruto yang begitu menyengat. "Naru, kau demam." Nada suaranya berubah khawatir.
"Itulah kenapa aku tidak mengusirnya tadi."
Sasuke menatap Neji lalu kembali ke Naruto. Dengan sedikit kesulitan dikarenakan tubuh Naruto yang ternyata lumayan berat, Sasuke berhasil mengembalikan Naruto ke atas tempat tidur dan membaringkannya kembali. "Sasuke, aku…" Kedua mata onyxnya langsung menatap mata biru Naruto dengan tajam, menyuruhnya diam.
"Jika ingin bicara nanti saja. Kita urus dulu demammu." Sasuke menyelimuti Naruto lalu mengambil handuk yang sempat ikut terjatuh bersama Naruto tadi dan membasahinya lagi dengan air dari baskom kecil di samping tempat tidurnya untuk mengompres pemuda tersebut. Tangannya segera disergap oleh Naruto saat menyentuhkan benda basah itu ke dahinya. Mata sayu Naruto menatapnya seraya ingin mengatakan sesuatu. "Tenang saja, aku tidak akan pergi kemana-mana. Lagipula kau ini sedang berada di kamarku. Memangnya aku mau pergi kemana lagi, bodoh? Jika aku mau pergi pun sudah kulakukan sejak tadi, atau mungkin kau sudah kulempar keluar begitu aku melhat wajahmu." Meski kata-katanya tajam seperti biasa tetapi tidak ada emosi yang seperti biasanya dia luapkan.
Menerima alasan Sasuke, Naruto melepaskan genggamannya dan memejamkan mata. Melihat tidak ada yang bisa dia lakukan disini, Neji kembali ke kamarnya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Selama beberapa jam berikutnya Sasuke tidak pernah meninggalkan sisi Naruto dan terus merawatnya. Dia baru bangkit ketika Neji pamit untuk pergi mengantarkan berkas dan baru sadar bahwa hari sudah mulai gelap.
Sasuke beranjak menuju dapur dan menyiapkan makan malam untuknya dan juga untuk Naruto. Dia memasak sup untuk dirinya sendiri lalu membuat bubur untuk Naruto. Supnya dia makan sedikit lebih cepat dari biasanya dan segera membawa semangkuk bubur untuk Naruto ke kamarnya.
Mangkuk tersebut disimpannya di meja di samping tempat tidur lalu dengan lembut dia mengguncangkan Naruto agar pemuda itu bangun. Perlahan kelopak mata Naruto terbuka menunjukkan safir birunya yang masih terlihat sayu. "Waktunya makan. Aku membuatkanmu sup."
Dengan bantuan Sasuke, Naruto bangkit dari posisi tidurnya untuk duduk menyandar di kepala tempat tidur. Kepalanya sebenarnya masih terasa sangat berat dan dia sangat ingin berbaring saja. Tetapi mengetahui Sasuke sudah sengaja membuatkannya sesuatu untuk dimakan dan terlebih lagi dia disuapi seperti ini, Naruto lebih memilih kepalanya sakit. Sasuke menyuapinya dengan perlahan dan hati-hati. 'Aku merasa seperti sedang diurus oleh seorang istri.' Sasuke bahkan melap sup yang sedikit menetes ke dagunya saat menyuapinya dengan lembut. 'Jika bisa diperlakukan seperti ini terus, aku tidak keberatan sakit.'
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
Naruto mengedip dan menatap Sasuke yang tangannya kini berada di udara memegang sendok berisi sup untuk menyuapinya. "Kau baik, Sasuke." Bibirnya dia tarik ke atas sebisa mungkin melengkungkan sebuah senyuman lemah.
Semburat merah tipis muncul di pipi Sasuke. Dia tidak menyangka akan mendapatkan jawaban seperti itu dari Naruto. "Sudah cepat habiskan makanmu. Setelah itu kau harus beristirahat lagi. Aku juga masih ada yang harus dikerjakan selain mengurusimu, Uzumaki."
Bibir Naruto semakin melengkung ke atas. Baginya Sasuke yang seperti ini sangatlah manis. "Terima kasih. Aku senang kau bisa…" Sebuah serangan sakit kepala yang sangat dahsyat menghentikan kata-katanya. Tubuhnya meringkuk seketika mencoba menahan rasa sakit yang begitu menyiksa. Kedua tangannya menarik-narik rambut jabrignya berharap dapat mengurangi sedikit rasa sakit yang menusuk.
Sasuke benar-benar kaget melihat perubahan sikap Naruto yang begitu cepat. Satu detik pemuda itu terlihat begitu tenang dan di detik berikutnya wajahnya menunjukkan seperti dia sedang sekarat. "Naru, kau kenapa?" Mangkuk yang sudah setengah habis dia letakan di atas meja. Dengan tangannya dia meraih pundak Naruto dan sedikit mendorongnya ke belakang agar dia bisa melihat wajahnya lebih jelas. Kulitnya yang tan terlihat begitu pucat, padahal saat Sasuke membangunkannya tadi Naruto sudah mendapatkan warna mukanya kembali. Beberapa jerit kesakitan keluar dari mulut pemuda Uzumaki itu, Sasuke tidak tahan mendengarnya. Dia segera memeluk tubuh Naruto lalu mendekapnya erat, dia berharap dapat membantu agar rasa sakitnya bisa cepat hilang. Naru, apa yang terjadi padamu? Aku tidak mengerti. Hentikan, aku tidak sanggup mendengarmu yang seperti ini. Hentikan! Terasa seperti setahun ketika akhirnya teriakan Naruto terhenti.
Napasnya masih tersengal seperti sehabis dipaksa berlari puluhan kilometer tanpa henti. "Sa..suke." Dahinya bersandar pada dada Sasuke, tidak ada cukup tenaga untuk menjauhkan diri dan dia sendiri pun tidak ingin menjauh. Sasuke masih mendekapnya erat seperti takut kehilangan. Meski dia senang didekap seperti ini, dia tidak suka membiarkan Sasuke khawatir terlalu lama. "Sasuke, aku sudah tidak apa-apa." Sasuke tidak langsung mempercayainya karena dia tidak langsung melepaskan dekapannya begitu mendengar suara Naruto.
Setelah beberapa menit mendekapnya, Sasuke kembali membaringkan Naruto. Dia mengambil handuk yang sebelumnya dipakai untuk mengompres dan menggunakannya untuk melap keringat di dahi dan leher Naruto. "Apa tidak sebaiknya aku memanggil dokter?" Nada suaranya begitu khawatir.
Naruto menjawabnya dengan lemah. "Biarkan saja aku beristirahat seperti ini." Matanya perlahan menutup. "Maaf, tapi aku tidak kuat…" Dia bahkan tidak sempat menyelesaikan kalimatnya dan tertidur.
Kau tidak perlu minta maaf, bodoh. Bibir Sasuke membentuk garis datar dan matanya memandang sedih. Dia membiarkan Naruto mendapatkan istirahatnya dan meninggalkannya untuk pergi ke dapur membereskan peralatan yang tadi dia pakai untuk memasak. Saat beres-beres banyak hal yang Sasuke pikirkan. Misalnya, tentang apa yang terjadi pada Naruto, apa yang harus dia lakukan setelah ini, juga mengenai perasaannya. "Haa~." Melihat pemuda yang selama ini selalu dia rindukan dalam kondisi seperti tadi membuatnya tidak ingin membiarkannya pergi. "Apa kau ingat dengan janjimu dulu, Naru." Ingin sekali Sasuke menangis saat ini, tapi apa gunanya? Itu hanya membuang-buang tenaga.
Selama tiga hari Sasuke merawat Naruto disela-sela kesibukan kuliahnya. Neji tidak pernah ikut campur dan seperti menghilang dari sana meski dia tinggal di gedung yang sama. Belum ada obrolan serius diantara mereka berdua, karena setiap kali Naruto ingin bicara Sasuke selalu menghentikannya dengan dalih menunggu Naruto sembuh dulu. Padahal sebenarnya hatinya lah yang belum siap mendapatkan penolakan dari pemuda pirang tersebut.
Sekarang raut wajah Naruto sudah terlihat jauh lebih baik meskipun belum pulih sepenuhnya. Karena merasa tidak enak dan juga khawatir dengan orang rumah, Naruto mohon diri untuk pulang. "Terima kasih, Sasuke." Meski dia ingin memaksa pemuda raven itu untuk bicara tentang mereka, tapi melihat bagaimana tiga hari ini Sasuke merawat dirinya, Naruto merasa menundanya sebentar lagi tidak apa-apa.
Sasuke ikut berjalan keluar apartemennya dan mendapat tatapan bingung dari Naruto. Meski hanya sebuah tatapan singkat tapi cukup untuk membuat pipinya sedikit merona. "Aku akan mengantarmu. Kalau kau pingsan di jalan bagaimana? Bukannya aku khawatir atau apa, tapi merepotkan jika tiba-tiba ada yang menelepon dan memintaku menjemputmu yang tidak sadarkan diri di suatu tempat. Itu merepotkan. Lagipula ada yang harus aku beli di supermarket, jadi sekalian saja…"
"Sasuke." Naruto memotong Sasuke yang lagi-lagi memulai kebiasaannya meracau. "Terima kasih."
Kali ini Sasuke semakin tidak bisa mengatur degup jantungnya, apalagi Naruto lagi-lagi tersenyum lembut padanya. Dia melangkah duluan agar berjalan sedikit lebih di depan dan tidak perlu melihat wajah Naruto saat ini.
Mereka berdua berjalan menuju ke halte bis dalam diam. Karena ada di tempat umum Sasuke tentu saja tidak akan buka mulut seperti biasanya dan Naruto sedang menimang-nimang apa yang harus dia katakan pada pemuda di depannya. Saat melewati sebuah mini market Naruto berkata ingin membeli minuman dingin dulu dan meminta Sasuke menunggunya sebentar. Selama menunggu entah ada berapa makhluk mengerikan yang mencoba berbicara padanya dan semua berhasil dia usir menggunakan tatapan membunuhnya. Setelah bosan barulah dia sadar bahwa ini sudah terlalu lama hanya untuk membeli sebuah minuman kaleng saja. Dia berniat masuk untuk menyusul Naruto saat pemuda pirang tersebut keluar dengan raut wajah pucat dan tiba-tiba menariknya.
"Ayo kita lari, Sasuke."
Tubuhnya ditarik dengan kencang karena sepertinya Naruto berlari sekuat tenaga. Kenapa kita harus lari?! Kau itu masih belum sembuh sepenuhnya, bodoh! Teriakannya tentu saja tidak didengar siapapun. Naruto bahkan tidak menjelaskan apapun dan hanya berlari sambil menariknya. Teriakan lain justru terdengar dan arahnya dari belakang mereka seperti mengejar. Penasaran Sasuke menoleh dan apa yang dilihatnya bukanlah pemandangan yang ingin dia ingat. Ke-kenapa?!
Segerombolan manusia, atau dari penglihatan Sasuke segerombolan monster, saat ini sedang mengejar mereka. Awalnya dia mengira apa Naruto melakukan sesuatu seperti mengutil misalnya di toko tadi dan yang sedang mengejar adalah penjaga toko ditambah beberapa pengunjung. Tapi setelah diperhatikan bukan, sama sekali bukan. Ini sama seperti yang terjadi padanya dulu, mereka mengejar karena menginginkannya, mereka menginginkan Naruto.
Kecepatan Naruto semakin bertambah seperti nyawanya sedang dalam taruhan. Sedikit demi sedikit mereka dapat menambah jarak dari para pengejar. Saat melihat sebuah kesempatan Naruto membawa Sasuke masuk ke sebuah jalan kecil dan bersembunyi disana. Karena tempat yang sempit tubuh mereka mau tidak mau bersentuhan dan tangan Naruto berada di punggung dan pinggang Sasuke memeluknya melindungi. Napasnya memburu dan keringat mengalir cukup banyak di kulitnya yang tan. Semua situasi dan juga keadaan mereka saat ini membuat Sasuke berhenti berpikir sejenak dan hanya fokus pada panas tubuh Naruto yang mendekapnya erat.
"Sepertinya mereka sudah pergi." Dengan kata-kata tersebut tubuh Naruto jatuh merosot ke tanah membawa Sasuke bersamanya. "Maaf, aku tidak bermaksud jadi seperti ini." Dengan tubuh yang kelelahan itu dia tetap berusaha untuk tersenyum.
Sasuke tidak suka melihatnya. Sudah jelas bahwa Naruto memaksakan dirinya dan masih saja tersenyum bodoh seperti itu. Jangan tersenyum, Dobe! Kau ini mau mati?! Apa yang sudah kau lakukan sampai mereka mengejarmu seperti ini?! Kau itu tidak sayang nyawa? Memang ada berapa nyawamu, hah?! "Hn!"
Naruto malah terkekeh lemah. "Bisa kau panggilkan Sai? Sudah kuduga sebaiknya meminta dia untuk menjemputku sejak awal."
Kau itu! Bisa serius tidak?! Aku ini sedang khawatir dan kau malah tenang-tenang seperti ini. Kalau terjadi sesuatu bagaimana, dobe?! Sasuke sebenarnya belum selesai dengan protesnya tapi saat melihat Naruto menatapnya dengan tatapan bersalah dan seperti meminta maaf dia tidak bisa berkata-kata lagi. Dengan sedikit enggan dia menghubungi adik sepupunya itu dan menjelaskan keadaan mereka. Selama menunggu Sai datang untuk menjemput mereka lagi-lagi dihabiskan dengan diam. Naruto terlalu lelah untuk bicara dan berpikir benar, sedangkan Sasuke sibuk menata perasaannya.
Sepuluh menit kemudian Sai datang dengan wajah cemas. Sepertinya dia datang dengan mengebut. Dengan hati-hati mereka membawa Naruto yang sudah lemas masuk ke dalam mobil, jangan sampai para pengejar tadi melihat mereka. Setelah aman Sai segera membawa mereka pergi menuju kediaman Uzumaki.
Di rumah hanya ada Kushina, si kembar, Temari dan juga Ino. Mereka segera mengerubungi Naruto ketika mendengar pemuda tersebut sudah ada di rumah. Sai membawanya langsung menuju kamar dan membaringkannya di tempat tidur dibantu oleh Sasuke. Melihat begitu banyak orang sekaligus makhluk, Sasuke berniat untuk pergi tapi ditahan oleh genggaman erat tangan Naruto. "Jangan pergi." Naruto bahkan menatapnya dengan mata birunya yang jernih itu dan tatapan memelas. Meski sedang marah pun dia tidak sanggup menolak permintaan seperti ini bukan?
Sasuke duduk di samping Naruto dan tidak melepaskan genggamannya. Satu hal karena belum ingin kehilangan kehangatan tangan Naruto, dan alasan lain adalah sebagai pemberi kekuatan agar dia tidak lari saja dikelilingi oleh begitu banyak monster begini.
"Kamu ga apa-apa, Naru-chan?"
"Naru-nii masih sakit, ya? Kyuubi obatin ya?"
"Kurama jadi dokternya."
Naruto tersenyum pada mereka semua. "Terima kasih. Aku hanya lelah karena berlari. Istirahat satu hari saja cukup." Mereka menjadi lega mendengarnya. Naruto menggeser mundur agar dapat duduk sambil menyender ke kepala tempat tidur. Dia menarik genggamannya dan membuat Sasuke jatuh ke pelukannya. Tangannya yang satu lagi dilingkarkan di pinggang Sasuke memeluknya. "Apalagi Sasuke ada disini. Aku pasti akan cepat pulih."
Hanya dalam dua detik wajah Sasuke berubah merah sempurna. Lepaskan aku, bodoh! Apa yang kau lakukan mempermalukanku di depan banyak orang?! Dendam apa kau padaku? Seharusnya kubiarkan saja kau mati karena demam. Aku menyesal sudah mengurusmu, dasar kuning! "Hn! Hn!" Tangannya memukul-mukul dada Naruto agar mau melepaskan pelukannya.
"Sasuke."
Mendengar suara yang memanggilnya Sasuke terhenti. Ini adalah suara yang sudah sangat lama tak didengarnya tapi dia masih hapal. Dengan sedikit kesulitan karena pelukan erat Naruto dia menoleh ke arah suara tadi dan melihat sosok wanita berambut merah panjang yang berdiri di dekat ranjang sedang menatapnya. "Bibi?"
"Kamu masih inget rupanya. Dan udah dibilang berapa kali, hm?" Kushina mendekatinya dan memukul kepalanya cukup keras sampai membuat Sasuke meringis kesakitan. "Jangan panggil Bibi!" Semua tersentak menahan napas menyaksikan apa yang baru saja terjadi.
Naruto segera memeluk Sasuke lagi dan mengelus kepala raven yang baru saja dihajar Kushina. "Ibu! Jangan sakiti Sasuke!"
Kushina mengelus-elus tangannya sendiri dan bibirnya menyunggingkan senyuman. "Ah maaf, maaf. Ibu kelepasan. Habis, Sasuke kan udah janji dulu. Panggil aja Tante, atau Kushina-san, atau lebih bagus panggil yang lain. Iya kan, Sasuke?" Kali ini dia senyum-senyum penuh arti ke Sasuke.
"Ah iya, maaf." Suara Sasuke terdengar berbeda dari biasanya dan wajahnya tertunduk, bersembunyi di dada Naruto. "Ibu."
"Anak pinter."
"Eeeeeeh?!" Yang berteriak barusan adalah Temari dan Ino. Tidak jauh dari mereka Sai harus menutup telinganya jika ingin organ tersebut masih berfungsi dengan baik.
Naruto yang masih memeluk Sasuke menatap ibunya sambil menggeleng. "Ibu, kau membuat masalah lagi." Dibilang begitu Kushina hanya senyam-senyum.
