Yaaa, ternyata dah lebih dari sebulan sejak terakhir update. Makasih buat yang masih ngikutin ya dan jangan harap aku bisa update cepet. Tapi tenang, ga akan lebih dari dua bulan kok. Aku sendiri ngerasa itu kelamaan.
Ada beberapa hal yang terungkap disini, tapi masih ada yang jadi misteri juga hehe. Perasaan aku aja atau aku bikin Sasuke lebih banyak blushing ya? Hahaha. Silahkan nikmati aja deh ya :D
Note :
Isi hati Naruto
Isi hati Sasuke
'Isi hati yang lainnya'
Tidakkah kalian berpikir ini saatnya menjelaskan semua masalah yang membingungkan ini? Itu juga yang para gadis Naruto pikirkan. Mereka ingin penjelasan atas semuanya. Terutama hal yang menyangkut Sasuke.
"Sasuke adalah calon istriku," Naruto berkata dengan ringan.
"Apa?!"
Ini adalah syok kedua yang dialami Temari dan Ino setelah mendengar Sasuke memanggil Kushina dengan sebutan ibu tadi siang. Tapi kali ini mereka ditemani gadis-gadis yang lain dan ditambah Gaara. Agar dapat mendengarkan keseluruhan cerita semuanya memutuskan untuk menginap disini malam ini. Sasuke juga dipaksa untuk menginap dengan pelukan erat Naruto yang tidak pernah lepas juga persuasi dari Kushina. Ini sudah sangat lewat dari waktu makan malam dan mereka semua saat ini sedang berkumpul di kamar Naruto karena si pemuda masih belum sembuh dari kelelahannya.
"Naruto!"
Sasuke yang sedari tadi diam pun ikut kaget mendengarnya. Dia melepaskan pelukan maut Naruto dan dengan satu gerakan berdiri sambil menatap mata biru si pemuda.
Naruto menatap balik mata hitam Sasuke. "Kenapa, Sasuke?" Dia menatapnya bingung dengan reaksi si Uchiha. Yang ditanya tidak menjawab dan terus menatapnya. Itu membuatnya semakin bingung. "Sasuke?"
"Hei hei, kalian berdua. Bisa gak hentiin dulu adegan romantisnya? Kami semua disini mau dengerin penjelasan, bukan nonton drama langsung." Sakura angkat bicara karena gemas melihat kelakuan mereka berdua. Lagipula kasihan juga dia melihat Gaara yang duduk di samping tempat tidur lainnya menggigit-gigit bajunya melihat bagaimana Naruto memeluk Sasuke begitu. Kalau masih harus menonton adegan drama ini entah apa yang akan terjadi pada hati adik Temari itu.
Sasuke akhirnya berhenti menatap Naruto dan memilih untuk menatap lantai di bawahnya. Dengan begini semuanya tidak bisa melihat dengan jelas ekspresi seperti apa yang ada di wajah Sasuke. "Naru." Suara memelas dari Gaara membuat Naruto mengalihkan perhatian padanya. Aah, mata itu jelas meminta sesuatu dan Naruto tidak mungkin menolaknya.
Dengan satu helaan napas Naruto mulai bicara. "Kami pergi ke sekolah yang sama saat SD dulu. Intinya kami dulu sangat dekat dan sesuatu terjadi yang membuatku melupakan Sasuke sampai baru-baru ini. Tapi sewaktu kecil kami berjanji akan menikah ketika dewasa."
Semua menunggu kalimat berikutnya dari Naruto. Tapi setelah beberapa menit berlalu mereka sadar bahwa ceritanya berhenti sampai disitu saja. Mereka hanya menganga mendengar ucapan Naruto. "Penjelasan apa itu? Pendek banget."
Sebuah tawa keluar dari mulut Naruto. "Detilnya tidak penting. Intinya seperti itu. Oke?"
"Apanya yang oke?! Kau pikir aku menerima penjelasan seperti itu?!" Tawa Naruto terhenti, sekali lagi dia menatap Gaara. Setelah itu dia juga menatap yang lainnya bergantian. Senyuman yang selalu menjadi andalannya dia lemparkan kepada semuanya membuat mereka tidak dapat berkutik dan lagi-lagi jatuh cinta padanya.
"Semuanya, aku ingin istirahat. Ini sudah larut, kalian juga harus beristirahat. Bisa tolong tinggalkan aku?"
Meski kesal tapi mereka tahu mereka tidak memiliki kekuatan untuk membantah senyuman itu. Setelah mengucapkan selamat malam satu persatu dari mereka meninggalkan kamar Naruto. Kyuubi dan Kurama memberikan kakak mereka kecupan selamat tidur lalu lari keluar bersama. Kushina hanya mengacak rambut putranya yang ditepis oleh Naruto dan keluar kamar sambil terkikik geli.
Ketika yang tertinggal hanya Sasuke dan dirinya saja kamar terasa sangat sepi. Sepertinya Sasuke tidak menyadari keheningan tersebut karena melamun. Ketika dia sadar yang lainnya sudah pergi dia juga bermaksud untuk keluar tapi segera dihentikan oleh Naruto. Pergelangan tangannya ditahan oleh Naruto dan genggamannya cukup kuat. "Lepas." Sasuke memunggungi Naruto sambil mencoba untuk melepaskan diri. Dia tidak ingin melihat wajah itu sekarang. Hatinya lagi-lagi kacau saat ini, dia hanya ingin pergi sejauh mungkin, jika saja Naruto membiarkannya.
Perlahan genggaman di pergelangannya melonggar dan terlepas. Yang awalnya Sasuke pikir dia akan segera pergi ternyata kakinya malah terdiam di tempat, tidak mengambil satu langkah pun untuk menjauh. Sebuah tangan muncul dari sela lengan dan tubuhnya dan melingkar memeluknya dari belakang. "Kau marah." Itu bukanlah sebuah pertanyaan dan Sasuke memang tidak ingin menjawab. "Apa ada yang bisa kulakukan agar kau memaafkanku?"
Panas tubuh Naruto dapat dia rasakan karena dadanya yang kini menempel tanpa ada jarak dengan punggung Sasuke. "Kau bahkan tidak mengingatku." Napasnya pun dapat dia dengar dengan jelas dan sedikit menggelitik telinganya.
"Hm." Terdengar suara Naruto yang menarik napas seperti sedang menghirup wangi tubuh Sasuke. Suara tersebut membuat si Uchiha semakin sulit menahan diri untuk tidak jatuh saja kedalam pangkuan si pemuda Uzumaki. "Kau tidak mendengar seluruh kalimat yang kusampaikan. Kubilang sampai baru-baru ini. Aku mengingatmu dengan jelas sekarang." Naruto menyenderkan kepalanya di pundak Sasuke dan menutup mata menunggu respon apapun yang akan dia dapatkan. Setelah beberapa lama tidak ada respon Naruto mulai melonggarkan pelukannya. "Kau tidak mau memaafkanku, ya."
Ingin sekali Sasuke melakukannya, tapi itu artinya dia lemah dan tidak sanggup mempertahankan keyakinannya sendiri. Saat Naruto melonggarkan pelukannya saat itu pula Sasuke berlari sekuat tenaga meninggalkan kamar tersebut. Dia menutup pintunya lalu pergi sejauh mungkin entah kemana karena dia masih belum hapal dengan peta rumah ini.
Entah keberuntungan atau sebaliknya ternyata kakinya membawanya ke arah dapur. Lampunya masih menyala dan suara sendok berdenting menandakan ada seseorang disana. Dengan sedikit ragu Sasuke masuk dan melihat Kushina sedang menikmati sesuatu dari cangkirnya yang dari baunya sepertinya itu teh. Ibu para Uzumaki itu menyadari kehadiran seseorang dan tersenyum ketika melihat siapa yang datang. "Sasuke, ayo sini duduk sama Ibu." Kushina menggeser kursi yang ada di sebelahnya mengisyaratkan Sasuke agar duduk di situ.
Dengan patuh Sasuke mendudukan diri di samping Kushina. Wajahnya tertunduk dan rautnya mengisyaratkan kebingungan. "Ibu, aku tidak mengerti." Yang dia maksud adalah segala hal, semua yang terjadi belakangan, juga yang terjadi dulu. Satu pun tidak ada yang dia mengerti dan dia ingin jawaban.
Tanpa menunggu aba-aba Kushina pun mulai bercerita. "Satu minggu lalu sehari setelah kunjungan terakhirmu kemari Naru jatuh pingsan. Dia gak sadar selama tiga hari dan selama tiga hari itu dia demam hebat. Beberapa belas taun yang lalu juga pernah kayak gini. Pulang main denganmu Naru tiba-tiba pingsan dan gak sadar selama tiga hari. Setelah sadar dia kayak orang linglung. Ga lama dari situ kami harus pindah ke kota lain. Kamu inget?"
Tentu saja dia ingat. Di hari itu mereka bermain seperti biasanya dan seperti biasanya bertengkar sedikit. Setelah itu mereka tidak bertemu lagi sampai setelah seminggu keluarga Namikaze pindah tanpa kabar sedikit pun dari Naruto tentang hal tersebut. "Kalian pergi begitu saja. Bahkan setelah itupun aku tidak tahu apapun tentang keberadaan kalian, sampai hari ini."
"Kamu juga ga tau alesan kami pindah tanpa ngasih tau kamu, kan?"
Sasuke memgangkat wajah dan menatap Kushina penuh harap. "Kenapa, Bu? Kenapa Naru pergi tanpa memberitahuku? Apa dia membenciku? Apa dia sudah tidak suka lagi padaku? Beritahu!" Selama belasana tahun Sasuke menanyakan hal yang sama. Selama belasan tahun juga dia menunggu dan terus menunggu, percaya bahwa Naruto akan kembali dan menepati janjinya. Dia selalu percaya dan menunggu.
Kushina tersenyum sebelum menjawab. "Kami pindah karena keadaan Naru. Waktu Ibu bilang kayak orang linglung dia bener-bener ada di dunianya sendiri. Tapi setiap kali kami tanya tentang kamu dia bakal mendadak takut terus ga mau ngomong. Lama-lama dia lupa sama kamu dan Naru berubah. Naru jadi peduli banget sama penampilan padahal dulunya kan ga gitu."
"Yang benar?" Sasuke sendiri tidak percaya. Naruto yang dia kenal dulu selalu mengejeknya karena terlalu rapi. Walau sekarang itu sudah berubah.
"Selain itu dia juga jadi terobsesi sama karisma. Ibu ga gitu ngerti kenapa. Tapi karena salahnya sendiri obsesi itu malah jadi senjata makan tuan." Sasuke memberi tatapan tidak mengerti. "Gara-gara terlalu tebar pesona dia bukan cuma dipuja-puja orang tapi sampai dikejar-kejar." Mendengar penjelasan Kushina membuat Sasuke mengingat masa lalunya sendiri.
"Perempuan memang mengerikan."
Kushina menggeleng. "Bukan cuma perempuan, laki-laki juga. Bahkan kadang mereka lebih serem." Sasuke membelalak tidak percaya. "Waktu SMP sih ga gitu-gitu amat. Tapi waktu di SMA Naru sempet beberapa kali diculik bahkan hampir di..mm ya kamu tau lah, baik sama cewe maupun cowo. Menurut pengakuan Sakura dan yang lainnya yang jadi daya tarik Naru itu wajah, senyum, sama suaranya kalau lagi ngerayu. Ibu sih bangga, anak sendiri banyak yang suka ternyata hahaha."
"I-Ibu." Sasuke hampir sweatdrop mendengar komen Kushina.
"Karena repot dan capek dikejar-kejar melulu apalagi sampai diculik gitu akhirnya Ibu dan Ayah minta dia balik lagi ke Konoha. Buat cegah supaya kejadian yang sama ga terulang makanya dia nyamar jadi cewe. Sampai sini kamu ngerti?"
Ragu-ragu Sasuke menganggukan kepala. "Tapi aku masih tidak mengerti bagaimana Naru bisa lupa padaku. Apalagi itu tidak lama setelah dia mengatakan janji itu." Wajahnya berubah sendu mengingat hari-hari dimana dia merasa paling kehilangan dalam hidupnya.
Kushina mengerti kebingungan Sasuke. "Itu Ibu ga bisa jawab. Yang pasti dia lupa sama kamu karena shock dan dia bisa ingat lagi pun karena hal yang sama. Yang bisa Ibu simpulkan sesuatu terjadi dulu diantara kalian berdua dan yang tau itu cuma kamu sama Naru sendiri. Apa yang terjadi, Sasuke? Apa yang kalian obrolin sebelum Naru jatuh pingsan? Pasti ada hal yang sama terulang dan cuma kamu yang bisa tau itu." Tangan kanannya meraih kepala Sasuke dan mengelus rambut raven itu sayang.
Tidak ada yang bisa Kushina katakan lagi, dia mohon diri untuk pergi tidur lebih dulu. Sasuke ditinggalkan dengan kunci yang mungkin bisa membuka semua misteri yang selama ini tersimpan. Dia harus mencoba merangkai kejadian dulu dan kejadian kemarin lalu menarik satu benang merah yang sama. Dia tentu ingat semua detil yang terjadi, dengan ingatannya sebagai seorang Uchiha, meski kejadiannya sudah belasan tahun yang lalu tidak menjadi masalah baginya. Sasuke duduk termenung di dapur beberapa lama sampai secercah cahaya muncul di otaknya. "Tidak mungkin." Dia rasa dia sudah menemukannya. "Tapi, itu terlalu…" Semburat merah tipis muncul di pipinya. "Hanya gara-gara itu?"
Pagi-pagi Naruto sudah bangun dan duduk di kursinya di meja makan. Dia sedikit dibantu oleh Sai untuk berjalan sampai kesana. Secara keseluruhan kondisinya sudah baik hanya masih sedikit kelelahan. Segera yang lainnya menyusul dan ketika semua berkumpul mereka mulai makan sarapan yang dibuat oleh Hinata.
"Aku akan ke kampus siang ini."
Dan satu kalimat itu sukses merubah suasana pagi yang tenang menjadi ricuh kembali. Dengan kedua tangannya Naruto menutup kedua telinganya tidak mau mendengar protesan dari para gadisnya juga Gaara. Kushina terlihat cuek dan menyantap sarapannya dengan tenang sambil sesekali memastikan si kembar menghabiskan makanan mereka. Sasuke dengan alasannya sendiri tidak mau ikut dalam keributan ini mengikuti jejak Kushina menikmati makanannya dalam diam.
"Gimana kalau kamu pingsan lagi?"
"Tenang saja, Sai sudah kuminta untuk menunggu di kampus siapa tahu aku membutuhkan dia."
"Memangnya kamu udah bisa ngikutin kuliah?"
"Aku sudah bolos tiga hari, tidak baik jika aku menunda lebih lama lagi. Sudah cukup banyak materi yang tertinggal."
"Sai pasti kan nunggu di tempat parkir. Kalau kamu kenapa-napa pas di kelas gimana?"
"Soal itu tenang saja." Naruto merangkul Sasuke yang duduk di sebelahnya. "Seharian ini Sasuke ada bersamaku dan aku yakin dia pasti akan menjagaku." Dengan senyum cerianya Naruto mencoba membuat mereka semua mengikuti keputusannya.
Karena ditarik tiba-tiba, Sasuke menjatuhkan makanannya dan membuat mejanya sedikit berantakan. Selain karena malu dia juga kesal pada sikap Naruto yang seenaknya. Tangan Naruto yang merangkulnya dia tepis dan kebiasaan buruknya kembali muncul. "Dobe, lihat apa yang kau lakukan! Kau menghancurkan sarapanku. Apa tidak bisa kau urusi saja masalahmu tanpa menarikku kedalamnya?! Jangan seenaknya memutuskan segalanya dan merepotkanku! Kau pikir semua orang di dunia ini harus mendengarkanmu? Kau pikir kau siapa?! Aku juga memiliki masalahku sendiri tanpa harus ditambah dengan urusanmu!" Mulutnya itu memang tidak tahu kapan harus berhenti kalau sudah mulai.
Naruto mencoba meminta maaf ditengah racauan Sasuke yang semakin menjadi. Yang lainnya tidak bisa menginterupsi padahal mereka belum selesai melempar protes pada Naruto. Tetapi mendengar semua kalimat dari mulut Sasuke yang tidak ada hentinya itu membuat mereka tidak ingin bicara lagi. Meski Naruto sudah meminta maaf seperti apapun dan mencoba menghentikan Sasuke, tapi semua tidak berhasil. Hanya ada satu cara. "Sasuke." Naruto menatap kedua onyx Sasuke serius. "Kalau kau tidak berhenti, aku akan menciummu lagi di depan semuanya."
Tentu saja itu berhasil membuat Uchiha satu itu menutup mulutnya rapat-rapat. Meski kenyatannya dia senang sekali Naruto menciumnya, tapi melakukannya untuk menggodanya apalagi di depan yang lainnya itu terlalu berlebihan. Sasuke segera menghabiskan sarapannya dan beranjak dari meja makan. Entah kemana dia pergi, mungkin ke kamar tamu dimana dia tidur semalam, mungkin juga ke bagian rumah yang lain. Yang pasti mereka tidak melihatnya lagi sampai saat Naruto akan pergi ke kampus.
Di satu titik pemuda berambut pirang itu berhasil membuat para gadisnya setuju akan keputusannya dan berakhir dengan Ino dan Sakura yang membantunya bersiap seperti biasa. Hinata pamit karena dia harus segera pergi ke sekolah, Tenten ada latihan pagi, Gaara harus kembali ke rumah terlebih dahulu sebelum pergi ke kampus dan Temari membantu Kushina mempersiapkan si kembar untuk pergi hari ini bersamanya entah kemana.
Ketika Naruto sudah menjadi Narumi dan beranjak menuju mobil, ternyata Sasuke sudah ada disana menunggunya. Hal ini menimbulkan senyuman di bibirnya. Sejenak dia sempat berpikir mungkin Sasuke sudah meninggalkan rumah ini sedari tadi. Karenanya dia sangat senang melihat Sasuke sudah duduk di bangku penumpang meskipun tidak mau melihat ke arahnya.
Naruto duduk di samping Sasuke lalu menutup pintu mobil. Sai segera naik ke bangku pengemudi dan menjalankan mesin untuk membawa penumpangnya ke tempat tujuan, yaitu kampus. Dalam perjalanan Sasuke terus saja memandang keluar jendela, tidak sedikit pun melirik ke pemuda di sebelahnya. Tidak suka didiamkan seperti ini, Naruto mencoba memulai percakapan.
"Kau masih marah padaku?" Tidak ada pergerakan dari sang Uchiha. "Ne, Sasuke." Bahkan reaksi sekecil apapun tidak ada. Naruto perlahan mendekat dan berbisik sangat dekat di telinga Sasuke. "Sasuke."
Tidak mungkin kalau dengan begini dia masih tidak mendapatkan reaksi. Dan benar saja, Sasuke segera berbalik untuk menepis Naruto. Tapi begitu kagetnya pemuda Uchiha tersebut mendapati wajah Naruto yang begitu dekat dengan wajahnya. Napas dari sang Uzumaki dapat dia rasakan menggelitik wajahnya. Semburat merah muncul di pipinya dan dengan spontan Sasuke mendorong Naruto agar menjauh. "Apa yang kau lakukan begitu dekat denganku, Dobe?! Sana jauh-jauh!"
"Kenapa? Aku suka melihatmu dari dekat. Kau terlihat lebih manis." Semburat di pipi Sasuke bertambah mendengar kalimat tersebut. "Itu juga karena kau tidak mau menjawabku sedari tadi. Karena itu aku mendekat. Aku ingin kau memperhatikanku, Sasuke."
Sasuke merasa ini sudah lebih dari yang sanggup dia hadapi. "Bo-bodoh, berhenti mengatakan hal-hal bodoh seperti itu! Sudah, sana menjauh! Aku akan mendengarkanmu!" Degup jantungnya sendiri dapat dia dengar dengan jelas. Naruto memang tidak baik untuk kesehatan jantungnya.
"Hm, baiklah." Dengan sedikit enggan Naruto mundur menjauh dari Sasuke dan membiarkan pemuda tersebut melihat penampilannya dengan jelas. Decakan tidak suka keluar dari bibir Sasuke meski semburat di pipinya masih belum sepenuhnya hilang. "Kau benar-benar tidak suka dengan Narumi, ya?"
"Kau terlihat seperti perempuan. Tentu saja aku tidak suka. Kalau kau benar-benar ingat, seharusnya kau tahu itu." Bukannya menjawab, Naruto malah mendekat lagi membuat Sasuke grogi. "Kenapa kau mendekat lagi?!"
Senyuman jahil terukir di bibir Naruto. "Karena dengan begini kau tidak perlu melihat Narumi dan aku lebih suka duduk dekat denganmu. Juga sudah kukatakan, kau terlihat lebih manis dari dekat."
Dalam hatinya Sasuke merasa dia sedang dalam bahaya. Senyuman yang Naruto berikan saat ini berbeda dengan senyuman manapun yang pernah pemuda itu berikan. Karenanya dia sangat bersyukur, benar-benar bersyukur saat adik sepupunya memberitahu bahwa mereka sudah sampai. Sasuke segera membuka pintu mobil dan berlari menuju gedung kampus. Dia lupa bahwa salah satu tugasnya hari ini adalah membantu Naruto atau Narumi berjalan ke kelasnya dan memastikan dia baik-baik saja. Tugasnya itu pun diambil alih oleh Sai yang dengan senang hati membantu majikan sekaligus pemuda yang sangat dia sekali menuju kelas pertamanya.
Begitu banyak orang yang mengerubungi Narumi begitu dia berjalan di koridor membuat perjalananya menuju kelas sedikit terhambat. Dengan sedikit penjelasan mereka semua akhirnya mengerti dan memberi Narumi jalan. Begitu dia duduk semua segera menyapanya. Semua teman sekelasnya terlihat begitu khawatir dan Narumi merasa begitu berterimakasih atas perhatian semuanya. Sai segera kembali ke mobil sesudah sebelumnya mengingatkan agar Narumi menghubunginya jika ada sesuatu.
Di sudut lain ruangan sepasang mata onyx memperhatikan dan mengawasi. Dia memang tidak pernah suka melihat penampilan Narumi. Tapi dia lebih tidak suka siapapun dekat-dekat dengan Narumi mengetahui bahwa dia adalah Naruto-nya. Dia tidak rela meski saat ini Naruto sedang menyamar sekalipun, baik laki-laki maupun perempuan, Sasuke tidak rela orang lain ada di dekat Naruto, apapun alasan mereka.
Naruto bukannya tidak menyadari tatapan tidak suka Sasuke, tapi dia membiarkannya. Menurutnya bagus jika Sasuke merasa sedikit cemburu pada semua perhatian yang Narumi dapatkan. Dia sangat tahu bahwa seorang Uchiha begitu posesif pada apapun milik mereka. Itu artinya meskipun Sasuke marah tapi pemuda Uchiha itu tetap menganggap bahwa Naruto adalah miliknya, dan itu bagus.
Pada semua perhatian yang dia dapatkan Narumi mengucapkan terimakasih ditambah dengan senyuman manis di bibirnya. Setiap kali dia hampir bisa mendengar suara geraman dari satu orang tertentu yang tentunya sebenarnya tidak ada, suara itu hanya ada di dalam kepalanya saja. Meski begitu Narumi bersumpah dia dapat mendengarnya dengan jelas. Sebut dia sadist, tapi dia senang mendapatkan reaksi Sasuke yang satu ini. Dia ingin Sasuke menunjukkan perasaannya yang sebenarnya. Dia ingin melihat Sasuke menunjukkan perasaannya dan berhenti bersikap tsundere. Dia sangat membutuhkannya. Karena itu Narumi melanjutkan aksinya dalam membuat Sasuke cemburu. Dia bahkan menerima tawaran salah satu teman sekelasnya untuk makan siang bersama. Tawaran yang biasanya selalu dia tolak dengan baik-baik. Narumi hanya pernah menerima tawaran dari Kiba atau Shikamaru saja, tapi kali ini siapapun tidak masalah.
"Naru, kau bisa berjalan sendiri? Apa perlu kupapah untuk sampai ke kantin?"
Narumi tersenyum mendengar tawaran tersebut. "Makasih. Aku emang masih belum gitu kuat buat jalan sendiri, apalagi jauh."
Terlihat mata dari pemuda yang menawarkan bantuan berbinar-binar mendengar jawaban tersebut. Sampai saat ini belum pernah ada seorang laki-laki pun yang pernah menyentuh Narumi, meski itu hanya untuk bercanda. Karenanya dia senang menjadi orang pertama yang melakukannya, sekaligus berhasil membuat yang lainnya iri.
Narumi beranjak dari tempat duduknya setelah membereskan barang-barangnya. Pemuda tadi sudah siap merangkulkan tanganya ke pinggang Narumi saat sesuatu menginterupsinya. "Dobe!" Sebuah suara yang sangat lantang dan belum pernah mereka dengar sebelumnya. Semua kelas bingung dan bertanya-tanya dari mana suara itu berasal dan siapa atau apa gerangan Dobe itu.
Tentu saja Narumi tau jelas darimana suara tersebut berasal. Dia sedikit terkejut tidak percaya Sasuke mau bersuara di depan umum walau itu hanya satu kata saja pun. Dalam hati dia tersenyum puas dan dengan perlahan karena kondisinya yang masih belum pulih mendekat ke arah Sasuke yang menatapnya dengan tajam. "Sasuke-kun." Dari tatapannya Narumi tahu Sasuke masih tidak suka dengan caranya memanggilnya. "Sasuke-kun mau makan bareng Naru?" Narumi menatapnya pernuh harap.
Jika saja yang ada di hadapannya adalah Naruto yang sesungguhnya dan bukan Naruto yang sedang menyamar, Sasuke yakin dia pasti sudah merona. Tapi ini lain soal. Dia tetap tidak suka melihat sosok di hadapannya ini, meski dia tahu ini hanyalah samaran dan yang ada di balik semua make-up ini adalah Naruto miliknya. Naruto yang tampan, gagah dan sangat disukainya.
Kenapa kau harus berdandan seperti para makhluk menyeramkan itu? Kau tahu pasti aku membenci mereka? Dan kenapa juga kau malah bermain-main dengan laki-laki lain?! Memangnya aku ini apa? Sekedar hiasan?! Mainan! Kau pikir aku akan menunggumu selamanya hanya karena janji itu?! Memangnya aku ini sebodoh itu? Memang kau sehebat itu?!
"Sasuke-kun." Panggilan tersebut menghentikan makian Sasuke di dalam kepalanya. "Jadi gimana?" Sasuke sangat manis ketika dia cemburu. Naruto sangat ingin memeluknya saat ini. Sasuke manatap mata biru di depannya. Dia lalu menatap teman sekelasnya dari balik bahu Narumi yang saat ini sedang menatap ke arah mereka bertanya-tanya. Sekali lagi dia menatap Narumi lalu tanpa aba-aba menarik tangannya dan berjalan keluar kelas. Terdengar suara protes dari beberapa anak tapi dia tidak peduli dan tidak berhenti. "Sasuke-kun, kamu tau Naru masih ga kuat jalan jauh."
Sepertinya Sasuke mendengar keluhannya karena pemuda Uciha tersebut segera berbelok ke dalam kelas kosong dan membawanya masuk. Atau memang sejak awal memang itulah rencananya, Narumi tidak peduli. Sasuke masih belum melepaskan genggamannya dan Narumi mencoba mendapatan perhatiannya dengan memanggilnya sekali lagi.
"Hentikan." Sasuke berbalik dan menatap lagi mata biru itu dengan tatapan tajamnya.
Naruto mengerti dan menghela napas. "Kenapa kau membawaku kemari, Sasuke?" Dia yakin tidak akan ada yang mendengarkan percakapan mereka dan kembali menggunakan suara aslinya. "Dan bisakah kau melepaskanku? Kau menggenggamnya sedikit terlalu keras dan aku ingin duduk." Sasuke akui wajah Naruto memang terlihat sedikit lelah dan dia pun melepas genggamannya. Naruto berterima kasih dan segera mengambil tempat duduk dan menyamankan diri disana. "Jadi? Jawaban atas pertanyaanku?"
Sekali lagi Sasuke mengeluarkan jurus tatapan membunuhnya. "Apa kau memang senang bermain dengan banyak orang?"
"Maksudmu?"
"Bukan hanya perempuan tapi juga laki-laki. Kau senang kan dengan semua perhatian yang kau dapatkan? Satu saja memang tidak pernah cukup. Meski kau pernah diperlakukan tidak semena pun kau tetap tidak bisa jauh dari perhatian banyak orang kan? Kau selalu menggoda mereka. Kau bahkan membiarkan mereka menyentuhmu seenaknya! Mungkin kau memang ingin hal yang dulu terjadi terulang lagi karena menyukainya kan? Apa yang Bibi bilang soal trauma itu hanya omong kosong kan? Kau sebenarnya menikmatinya. Kau sengaja mendekati mereka. Kau juga tidak peduli pada apa yang orang lain rasakan. Kau itu egois, makhluk paling egois yang pernah kutemui."
Naruto menarik tangan Sasuke agar duduk di bangku di sebelahnya. "Lalu, apa maumu?"
"Berhentilah bersikap egois dan lihat orang di sekitarmu, Dobe!"
Naruto menengokkan kepalanya ke beberapa arah di ruangan tersebut lalu kembali ke Sasuke. "Tapi disini hanya ada kau." Mendengarnya Sasuke mendengus kesal berpikir Naruto hanya mempermainkannya dan berpura-pura bodoh. Perlahan bibir Naruto menyunggingkan senyuman dan Sasuke tahu sesuatu akan terjadi. "Dan tenang saja, aku akan selalu memperhatikanmu. Jika itu yang kau maksud." Naruto menarik Sasuke sekali lagi dan kini membuatnya duduk di pangkuannya. "Kau manis sekali saat cemburu. Boleh kucium tidak?"
Katakan saja kalau sekarang warna merah sudah menjalar di sekujur tubuh Sasuke, bukan saja wajahnya. "Ap-apa yang kau katakan?! Tentu saja tidak boleh! Dan aku tidak cemburu! Untuk apa aku cemburu!"
"Jadi tidak apa aku bermain bersama yang lain selain dirimu?"
"Tentu saja tidak boleh!" Respon yang terlalu cepat ini membuat Naruto semakin gemas.
"Nah, kau cemburu kan? Tidak apa, aku senang mendengarnya."
"Dobe!"
"Kucium ya?"
"Tidak! Lepaskan aku!"
"Ayolah, sedikit saja."
Sasuke semakin memberontak apalagi bibir Naruto sekarang sudah semakin dekat dengan wajahnya. Entah Sasuke yang mendadak jadi lebih kuat atau Naruto yang sengaja melonggarkan pelukannya, usahanya pun berhasil dan Sasuke dengan napas sedikit tersengal berdiri empat langkah menjauh dari Naruto. "Bodoh."
Senyuman di bibir Naruto masih belum hilang meski Sasuke sudah tidak ada di pangkuannya pun. "Padahal aku sangat ingin menciummu."
Sasuke memalingkan wajahnya lalu berkata dengan suara sangat pelan. "Aku tidak mau dicium oleh perempuan."
Sejenak Naruto tidak mengerti maksud Sasuke, tapi segera paham ketika mengingat mereka ada dimana. Terkadang saat bersama Uchiha satu ini Naruto tidak begitu sadar dia siapa dan sedang menjadi siapa atau bahkan dimana. Sekali lagi dia tersenyum dan kali ini tulus. "Sasuke, sebentar lagi waktu istirahat selesai dan aku lapar. Kau juga belum makan."
Tidak begitu mempedulikan perubahan topik yang mendadak ini Sasuke berdecak. "Kau mau apa?"
"Kita ke kantin, walau sebenarnya aku ingin makan masakanmu." Sasuke segera berbalik untuk menuju ke kantin. Naruto bangun dan mengaitkan tangannya ke lengan Sasuke. "Ayo kita pergi."
"Dobe, jangan seenaknya menyentuhku! Hei, lepas…" Sasuke tidak sempat menyelesaikan kata-katanya karena Naruto sudah menariknya keluar kelas dan seperti ada tombol switch mulutnya langsung bungkam.
Semua mata memandang ke arah mereka. Mereka bahkan saling berbisik secara terang-terangan. Kebanyakan pertanyaan adalah, "Bagaimana bisa?". Siapapun yang menyapa Narumi hanya dia balas dengan lambaian tangan dan senyuman tanpa memberikan celah untuk bertanya lebih jauh. Karena ini adalah salah satu kejadian yang paling membuat penasaran dan bisa dibilang mencengangkan dan juga terlihat mustahil, banyak orang yang mengikuti mereka sampai ke kantin. Narumi menarik Sasuke duduk di meja yang terletak di bagian tengah kantin. Mereka memesan makanan dan berbincang sebentar sambil menunggu, atau lebih tepatnya Narumi yang memaksakan percakapan sementara Sasuke hanya ber-hn-ria dan 'bertelepati' seperti biasa.
Keduanya terlihat mesra sekali meski Sasuke terus saja menatap tajam Narumi. Sesekali Narumi mengambil makanan jatah Sasuke dan mendapatkan deathglare khas Uchiha darinya, Narumi hanya terkikik sambil mengunyah makanannya. Walau berapa kali pun Narumi mengganggu makan siangnya, Sasuke tidak pernah beranjak pergi. Bahkan mereka berdua duduk sangat berdekatan. Ini adalah sebuah shock lainnya mengingat seorang Sasuke tidak pernah mau dekat perempuan manapun kurang dari satu meter. Dia pasti akan lari.
Begitu waktu untuk masuk ke kelas berikutnya Narumi lagi-lagi mengaitkan tangan dengan Sasuke. Tentu saja alasan utama karena dia belum begitu kuat berjalan sendiri dan meski sangat tidak suka melakukannya Sasuke tidak bisa meninggalkan Narumi begitu saja dan membiarkannya. Bagaimana jika dia pingsan di tengah koridor? Merepotkan bukan? Itulah kira-kira yang dijadikan alasan oleh si Uchiha.
Setelah sampai ke kelas, dan kebetulan sekali mereka mengambil mata kuliah yang sama, mereka segera mengambil bangku dan duduk. Narumi masih belum melepaskan tangannya dari lengan Sasuke dan dilihat dari wajahnya yang berseri-seri sepertinya dia memang belum mau melepaskannya. "Naru, kenapa kau merangkul Sasuke?"
Mata birunya menatap teman sekelasnya yang bertanya. "Memangnya kenapa? Ga boleh ya?"
"Ya bukan begitu. Tapi bukannya Sasuke itu alergi perempuan?"
Narumi menatap Sasuke di sebelahnya yang berteriak Segera lepaskan aku, Dobe! Kau sudah tidak perlu lagi aku untuk menyanggamu. Segera singkirkan tanganmu!, tentunya dalam hati. "Sasuke-kun baik-baik aja kok. Dia ga alergi Naru."
Para gadis yang mendengarnya segera mendekati mereka. "Eh, yang benar?! Curang." Ya meski sikap Sasuke yang kurang ramah cukup banyak juga yang suka padanya. Tentu saja mereka cemburu melihat Narumi dapat menyentuh Sasuke dan si Uchiha itu membiarkannya dan tidak terjadi apa-apa pula.
"Walaupun begitu, Naru sendiri kenapa mau dekat-dekat Sasuke?" Sudah jelas kan, para laki-laki yang lain juga cemburu. Mereka juga ingin Narumi menggandeng mereka seperti sekarang.
Tapi yang tidak mereka duga, bahkan Sasuke sendiri, adalah jawaban Narumi setelahnya. "Soalnya Sasuke-kun calon istrinya Naru." Narumi bahkan mengatakannya dengan senyumnya yang manis.
Sekali lagi seisi kelas menjadi ribut. "Eeeeh?!" Berbagai pertanyaan, ungkapan tidak percaya, kecewa, protes dan lain sebagainya datang membanjiri tapi semua hanya ditepis oleh senyum oleh Narumi.
"Tunggu, tunggu. Kenapa Sasuke yang jadi istri? Bukannya dia seharusnya suaminya?" Satu pertanyaan ini menarik perhatian Narumi dan dia tidak segan menjawabnya.
"Soalnya Sasuke-kun itu manis ga cocok jadi suami. Biar Naru aja yang jadi suaminya. Lagian Sasuke-kun pinter masak udah pas buat jadi istri yang baik." Tentu saja itu bukan alasan yang cukup untuk diterima, tapi siapa yang bisa melawan jika sudah keluar dari mulut Narumi. Walau mereka sebenarnya bingung, bagian dari Sasuke yang mana yang dimaksud manis itu?
Semua keributan tiba-tiba mati dengan satu hentakan keras dari Sasuke yang membebaskan diri dari Narumi. Dia berdiri dua langkah dari kursi yang baru saja didudukinya dan wajahnya menyorotkan kekesalan. Bicara seenaknya, Dobe! Siapa yang kau sebut manis?! Jangan sembarangan menyebut namaku dan kata itu dalam satu kalimat yang sama! Si-siapa juga calon istrimu? Asal bicara saja kau dan membeberkannya pada semua! Kau bahkan tidak bertanya padaku. Sampai kapan kau egois, dasar egois! Besar kepala! Tidak tahu diri! Uzumaki sia...
Kalimatnya terpotong karena sebuah sentuhan di tangannya. Sasuke dapat melihat mata biru Narumi yang membesar menandakan bahwa ini adalah mimpi buruk atau malah malapetaka baginya. Dengan patah-patah Sasuke menengokkan kepalanya ke arah belakang untuk melihat siapa yang menyentuhnya. "Sasuke-kun, karena kamu udah jadi sama Narumi seenggaknya aku mau nyatain perasaan aku. Dan boleh ga kalau aku minta peluk sekali aja. Kamu udah ga alergi lagi kan?" Salah seorang teman sekelas mereka menggenggam tangan Sasuke dan menatapnya penuh harap. Sudah dipastikan gendernya adalah perempuan. Satu lagi, jarak mereka begitu dekat mungkin kurang dari tiga puluh sentimeter.
Narumi sudah siap untuk menghentikan apapun yang akan terjadi selanjutnya dan dengan satu gerakan bangkit dari tempat duduknya, tidak mempedulikan tubuhnya yang sebenarnya sudah lelah. "Lepas…" Belum dia selesai bicara, tubuh Sasuke sudah rubuh ke lantai tidak sadarkan diri. Tangan Narumi yang sudah akan menarik Sasuke ke arahnya terhenti, begitu juga langkahnya. "Ah, dia pingsan."
