Maaf, semuanya. Aku kemarin hampir aja mau HIATUS untuk jangka waktu yang panjang. Tapi cuma HAMPIR, aku putusin ga jadi. Hidup tanpa nulis itu gimana gitu buat aku. Meski update nya jadi lama banget ya hehe.

Aku juga sebenarnya ga suka Naru tebar pesona gitu. Bibir Naruto cuma buat Sasuke! Tapi ya gimana ya, demi kelancaran cerita jadi harus sabar. Tahan diri biar ga kesel. Yang bikin Naru lupa sebenarnya cuma hal kecil dan bodoh. Tapi bagi Sasuke itu berarti banget. Niatnya ini adalah chapter terakhir, tapi entahlah. Anggap aja ini terakhir ya. Selamat baca!


Note :

Isi hati Naruto

Isi hati Sasuke

'Isi hati yang lainnya'


Hari ini bukan hanya menjadi supir tapi Sai juga harus menjadi penjaga bagi mereka yang sakit. Saat ini dia sedang menemani kakak sepupunya yang masih tidak sadarkan diri di ruang kesehatan kampus. Berhubung Narumi masih kuat mengikuti kuliah selanjutnya dia akan menunggu sampai semua kelasnya selesai, juga menunggu Sasuke sadar mungkin jika dia beruntung. Sai hanya sendirian disini karena perawat yang seharusnya berjaga sedang keluar mengantar mahasiwi yang sakit untuk pulang. Dia akan sedikit bosan, tapi menunggu sudah menjadi bagian dari pekerjaannya.

Sai melirik jam di tangannya. Masih ada sekitar dua puluh menit sampai kelas terakhir Narumi selesai. Di sampingnya tidak jauh dari dimana dia duduk, Sasuke terdengar tenang dilihat dari napasnya yang teratur. Sai sangat berharap kakak sepupunya membuka mata sebelum Narumi datang. Dia tidak mau sampai harus mengangkut Sasuke lagi ke mobil nanti. Sepupunya itu tidaklah ringan.

Para mahasiswa dan mahasiswi tidak bisa tenang saat belajar. Sebagian tahu jelas apa masalahnya dan sisanya bingung sambil bertanya-tanya. Baru kali ini mereka berharap tidak berada dalam satu kelas yang sama dengan gadis yang selama ini mereka kagumi. Mereka ingin berada sejauh mungkin, setidaknya untuk beberapa saat.

Di tempat duduknya Narumi mengeluarkan aura gelap, bahkan lebih gelap dari aura yang selama ini dipancarkan oleh Sasuke yang diduga sebagai orang dengan aura tergelap di kampus ini. Aura tersebut ditujukan kepada semua orang yang ada di kampus, baik itu mahasiswa maupun dosen. Dia tidak peduli dengan kenyataan bahwa tidak semua tahu apa alasannya. Narumi benar-benar kesal dan tidak menerima alasan apapun dan dari siapapun. Berani sekali mereka menyentuh Sasuke-ku seenaknya. Dasar perempuan-perempuan gila. Yang laki-laki juga sama saja. Kalau sampai mereka berani menyentuhnya lagi, liat saja apa yang akan kulakukan pada mereka nanti. Bolpoin yang sedang dipegangnya patah menjadi dua karena genggamannya yang sekuat belitan ular piton. Berlebihan. Suara patah tersebut membuat semua orang yang mendengarnya menjadi semakin tegang. Kata-kata yang sebelumnya meluncur keluar dari mulut si dosen dengan lancarnya sekarang menjadi sedikit terbata-bata.

Begitu leganya mereka ketika mendengar tanda bahwa kelas sudah berakhir. Semua melepas napas yang tidak sadar mereka tahan hanya untuk menahannya lagi saat Narumi berdiri dan berjalan melewati mereka semua untuk pergi keluar kelas. "Aku tidak suka melihat Naru yang seperti itu," seseorang dari mereka berkata setelah Narumi tidak lagi terlihat. Yang lain mengangguk setuju memiliki pemikiran yang sama.

Masih dengan mood yang jelek Narumi berjalan menuju ke ruang kesehatan. Setiap dia lewat mahasiswa yang akan menyapanya segera menyingkir dan memberi jalan melihat raut wajahnya yang tidak biasa. Dengan agak kasar Narumi membuka pintu ruang kesehatan dan dalam seketika raut wajahnya berubah senang melihat Sasuke sudah bangun dan sedang bermain dengan hapenya di atas tempat tidur. "Sasuke-kun!" Narumi berlari dan menerjang Sasuke. "Kau sudah bangun?"

Geraman terdengar dari mulut Sasuke yang rapat. Dia mendelik tajam pada sosok yang memeluknya tiba-tiba yang membuatnya salah menekan tombol hape dan menghapus pesan yang sudah susah payah dia ketik. Dobe. Jangan menerjangku sembarangan! Sekarang aku jadi harus mengetik ulang apa yang sudah kuketik! Aku tidak suka mengulang sesuatu yang tidak perlu diulang! Baru saja aku bangun dan kau sudah merusak hariku. Apa tujuanmu ada hanya untuk menggangguku? Kuikat lehermu dengan rambut palsumu baru tahu rasa kau!

"Iya, Sasuke-kun. Naru juga rindu."

Kau mempermainkanku?!

Tidak menjawab Sasuke, Narumi hanya tersenyum padanya. Karena penasaran Narumi melirik hape yang dipegang Sasuke dan melihat nama kontak yang tertera di layar. Dengan gerakan yang cepat Narumi merebut benda tersebut dari tangan Sasuke dan menyitanya. "Kita pulang bareng ya. Ga usah ganggu Neji."

Kembalikan hape-ku! "Hn!" Sasuke turun dari tempat tidur dan mencoba merebut kembali hape miliknya. Aku harus memberitahu si bodoh yang kusebut sahabatku itu untuk menjemputku! Cepat kembalikan!

Tanpa aba-aba Narumi melemparkan hape tersebut kepada Sai yang ditangkap dengan mudah oleh pemuda tersebut. Melihat hal tersebut Sasuke segera berbalik ke arah sepupunya tapi gagal karena Narumi segera menangkap tangannya dan menariknya mendekat sampai dada mereka bersentuhan. Tangan Narumi segera mencengkram kemeja depan Sasuke dan menatap matanya berbinar. "Sasuke-kun, pulang bareng Naru ya?" Jika dilihat dari sisi Sai dan orang lain, Narumi terlihat seperti gadis paling manis yang sedang memohon pada kekasihnya agar menuruti kemauannya. Narumi memang paling manis, tapi Naruto tetap yang paling mempesona.

Keringat mengalir di pelipis Sasuke. Dia merasakan ada bahaya tapi tidak memiliki kekuatan untuk menghindar. Tanpa menunggu jawaban atau protes dari si Uchiha, Narumi segera mendorong Sasuke ke arah Sai dan meminta agar Uchiha muda itu menarik kakak sepupunya ke mobil. Sasuke mencoba memberontak tapi apa daya ketika dia sedang tidak dalam kondisi terbaiknya dan adik sepupunya yang penggemar olah raga ini memang lebih kuat darinya.

Setelah memastikan Sasuke tidak akan kabur, dengan cara menguncinya di dalam mobil, Sai kembali ke dalam gedung untuk memapah Narumi ke mobil. Begitu semua nyaman di kursi belakang, Sai menjalankan mobil dan membawa mereka semua kembali ke rumah. Karena lelah, Narumi tidak mengganggu Sasuke lebih lanjut dan lebih memilih beristirahat sepanjang perjalanan pulang. Sasuke sangat bersyukur walau dia tidak mau mengakuinya sekalipun. Sekali saja keheningan ini ingin dia nikmati. Tidak perlu mempedulikan orang di sebelahnya yang sedang merajuk sambil menatap keluar jendela berharap apapun yang ditatapnya akan terbakar.

Tunggu. Sejak kapan dia bangun?

Perlahan mata Sasuke melirik ke arah Narumi ingin memastikan apa yang dilihatnya adalah benar hanya untuk kembali membuang muka begitu melihatnya. Bahkan sampai mereka sampai dan Narumi segera keluar dari mobil begitu mereka parkir, Sasuke tidak berani melirik lagi sedikit pun. "Nona, apa yang harus saya lakukan dengan Sasuke-san?" Pertanyaan Sai pun diabaikan, Narumi memasuki rumah dengan cepat dan meninggalkan mereka berdua di luar.

Pintu mobil terbuka dari luar, Sai berdiri di depannya. Sejenak Sasuke ragu apakah dia ingin keluar atau tidak tapi tidak ada pilihan. Sedikit dia berharap bahwa apa yang dilihatnya tadi hanyalah bayangannya saja, meski dia tahu pasti bukan begitu kenyataannya. Naru.

Kali ini tanpa harus diseret maupun dipaksa Sasuke melangkah masuk ke kediaman Namikaze sekali lagi diikuti oleh Sai dibelakangnya. Di setiap langkahnya dia bertanya-tanya mengapa dia tidak lari. Selain karena sepupunya mengawasinya tentu saja. Dia tidak ingin mengakui bahwa dalam hatinya dia penasaran dan juga khawatir pada Naruto. Tentu saja Naruto, dia tidak akan pernah mengakui makhluk bernama Narumi meski pada dasarnya mereka adalah sama.

Perjalanan dari pintu depan sampai ke kamar Naruto hanya memakan waktu sekitar lima menit, sepuluh menit jika memakai kecepatan Sasuke saat ini. Ketika dia sampai disana Naruto sudah terlepas dari make-up, wig dan juga pakaian yang dipakainya untuk menyamar. Dia hanya memakai celana panjang yang biasa dia pakai ketika di rumah sedangkan tubuh bagian atasnya dibiarkan terekspos. Naruto duduk di kursi dekat meja belajarnya, kakinya mengetuk-ngetuk ke lantai tanda bahwa dia sedang tidak senang, alisnya berkerut dan matanya menyipit tajam. Ragu-ragu Sasuke mendekat setelah menutup pintu di belakangnya. Meski saat Sasuke sudah berdiri di depannya pun Naruto tetap tidak memberi reaksi. Hal ini membuat Sasuke semakin merasa tidak nyaman.

"Naru…" Lidahnya tercekat saat Naruto tiba-tiba menoleh dan menatapnya tajam. Dia tidak pernah ditatap seperti ini olehnya sebelumnya dan meski malu mengakuinya Sasuke merasa sedikit takut. "Naru, kenapa?"

Kali ini Naruto berdiri dan melangkah maju membuat Sasuke harus melangkah mundur. Selangkah demi selangkah mereka ambil sampai Sasuke terjebak antara Naruto dan tempat tidur. Dengan satu dorongan yang cukup kuat Naruto membuat Sasuke terbaring di atas kasur dengan dirinya yang memerangkapnya membuat Sasuke tidak bisa lari. "Tidak ada yang boleh menyentuhmu selain aku." Nada suaranya terdengar begitu posesif. "Bagaimana bisa kau membiarkan para wanita itu menyentuhmu seenaknya?"

"Hah?" Sasuke yang awalnya ketakutan sekarang berubah kesal mendengar tuduhan Naruto. "Kau yang seenaknya membiarkan mereka menyentuhmu! Kau selalu tebar pesona dan menebar senyum kesana kemari. Kau yang senang dengan semua perhatian yang kau terima itu! Jangan salahkan aku yang bahkan tidak ingin dekat-dekat dengan mereka! Dasar tidak tahu diri!"

"Jangan balik menuduh. Yang sedang kupermasalahkan saat ini adalah kau, Sasuke."

Tidak suka dengan perubahan sikap Naruto, Sasuke tidak mau kalah. Meski dia tidak bisa pungkiri bahwa Naruto yang seperti ini belum pernah dia lihat sebelumnya. "Maksudmu kau bebas melakukan apa saja sedangkan aku hanya bisa melakukan sesuatu jika itu sesuai dengan keinginanmu? Kau mengatur hidupku juga sekarang hah, Uzumaki?!"

"Kau adalah calon istriku, bukan? Sudah sepantasnya aku bersikap seperti ini."

Beberapa detik Sasuke butuhkan untuk merespon pernyataan tersebut. "Oh, sekarang kau ingat tentang hal itu?" Sasuke berkata dengan nada sarkasme. Setelah semua yang terjadi sekarang Naruto memakai hal itu sebagai senjatanya, Sasuke tidak bisa terima. Meski sebagian dari dirinya senang mendengar pemuda yang disukainya akhirnya mengatakannya sendiri.

Naruto meremas sprei yang ada di masing-masing sisi kepala Sasuke. Mendengar nada yang digunakan Sasuke ditambah lagi caranya memandangnya saat ini, dia tidak suka. "Aku tidak melakukannya dengan sengaja, Sasuke. Aku tahu apa yang sudah kulakukan, tapi bukan berarti kalau aku tidak terluka, Sasuke."

"Huh, pintar sekali kau bicara. Sejak dulu kau memang pintar berkata-kata manis dan cerdas. Aku tidak percaya padamu, dasar pembohong! Yang kau pedulikan hanya dirimu sendiri! Kau hanya menganggap semua orang sebagai bonekamu, kan?! Semua hanya demi kepuasanmu, kan?!"

Kedua mata biru Naruto menyipit dan menatap onyx Sasuke serius. "Berhenti berteriak padaku, Sasuke."

"Jangan menatapku seperti itu! Kau pikir aku takut padamu?"

"Sasuke."

"Maaf saja ya Tuan Uzumaki Naruto, aku ini bukan budakmu! Kau tidak berhak mendikteku! Kau bahkan tidak pernah ada dalam hidupku selama bertahun-tahun! Aku hidup atas kemauanku sendiri! Jangan samakan aku dengan mereka yang bersedia berlutut di depan kakimu hanya untuk mendapatkan perhatianmu! Aku tidak serendah itu!"

"Aku benar-benar serius. Berhentilah, Sasuke."

"Aku tidak peduli padamu!"

"Sasuke."

"Berhenti menyebut namaku, Uzumaki bodoh! Dasar egois! Tidak tahu diri! Pembohong! Besar kepala! Tidak tahu malu! Wanita jadi-jadian! Pencuri! Perusak hidup orang! Penipu! Munafik! Kau! Aku..aku ben…"

Naruto segera menutup mulut Sasuke mencegahnya menyelesaikan kata yang ingin diucapkannya. "Jangan katakan." Sudah dua kali dia mendengarnya dari mulut Sasuke dan dia yakin tidak ingin mendengarnya lagi untuk yang ketiga kalinya. "Hanya kata itu saja, jangan katakan lagi."

Keduanya saling menatap selama beberapa saat. Tidak suka terus berdiam diri Sasuke menyingkirkan tangan yang menutupi mulutnya, tidak pernah memutuskan pandanganya dari Naruto. "Kau benar-benar egois. Setelah kupikir makhluk yang paling tidak kusukai di dunia ini adalah wanita, ternyata kau lebih menyedihkan dari mereka."

Menyedihkan, eh? Naruto berpikir miris.

Mereka masih saling menatap selama beberapa menit sampai akhirnya Naruto menjauhkan diri dari Sasuke, bangkit, dan berdiri membelakanginya. Sasuke sendiri masih berbaring di kasur menatap punggung Naruto.

Dia tidak pernah suka melihat punggung itu, seakan memberitahu bahwa Naruto akan menghilang sekali lagi. "Kenapa kau harus muncul kembali jika hanya untuk mengganggu hidupku?" Perlahan kelopak matanya menutup, tidak sanggup terus menatap Naruto yang terus memunggunginya. "Harus bagaimana lagi sampai kau puas, hm Naruto? Apa yang selama ini sebenarnya kuperjuangkan?" Kenangan masa lalu mulai membanjiri kepala Sasuke. Apa yang telah dia lalui sejak Naruto menghilang tanpa kabar berita dan tidak ada jejak untuk ditelusuri. Bertahun-tahun dia mencari, percaya, dan menunggu. Dan akhirnya ketika mereka bertemu kembali Naruto bahkan tidak mengingatnya dan malah dikerumuni oleh sesuatu yang paling dia benci. Lalu dengan sikapnya sekarang yang seperti ini, Sasuke sudah hampir putus asa.

Tidak ada suara apapun. Tidak ada jawaban maupun gerakan dari Naruto. Sesaat Sasuke berpikir bahwa Naruto sudah tidak berada disana. Dia sangat kesal, kesal dengan sikap Naruto yang seenaknya. Dia juga kesal pada dirinya sendiri karena begitu bodohnya percaya sampai menyia-nyiakan bertahun-tahun hidupnya hanya untuk dikecewakan. Hanya karena kalimat itu terdengar begitu manis dan indah dia, begitu mudahnya percaya.

Air mata yang sempat tertahan kini mengalir di pipinya. Kali ini akan dia biarkan, tidak peduli lagi dengan harga diri. Naruto harus tahu bahwa dia sudah menyakitinya. Sasuke akan membuat Naruto sadar bahwa dia, dirinya sudah tersakiti sejak pertama kali Naruto menghilang, hingga detik ini. "Aku menyesal sudah percaya dan menunggumu. Semuanya hanya sia-sia." Sasuke mengucapkannya pada dirinya sendiri tidak berharap pemuda yang dimaksudkan mendengar kata-katanya. Dia berharap sakit hatinya bisa berkurang seiring dengan semua aliran yang keluar dari ujung matanya ini. Walau aku tidak yakin aku bisa melupakannya.

Naruto berharap bahwa apa yang barusan dia dengar bukan berasal dari mulut Sasuke. Apa yang dia maksud dengan sia-sia? Dia berpikir bahwa Sasuke sekarang membuangnya, memutuskan janji yang pernah mereka ukir dulu, tidak lama setelah akhirnya dia ingat. Rasa lelah yang sempat menjalar di tubuhnya terlupakan digantikan oleh kekesalan. Helaan napas yang keras dia keluarkan dan kakinya mulai melangkah menjauh dari tubuh Sasuke yang masih berbaring di belakangnya. Entah apa yang membuat Naruto berbalik tapi dia merasa dia akan menyesal jika tidak berbalik sekarang. Yang tidak dia percaya adalah cairan yang terus mengalir dari mata Sasuke yang masih tertutup dan terus jatuh membasahi sprei di bawahnya ketika dia akhirnya melihat lagi ke arah pemuda Uchiha tersebut. Sejak kapan dia menangis?

Entah berapa lama Naruto menatap setiap bulir yang jatuh itu sampai akhirnya dia mengambil langkah untuk mendekat. Sasuke tidak terisak, tidak ada gerakan apapun, tidak ada suara apapun, bahkan tidak terlihat dia sedang menangis tapi air matanya tetap tidak berhenti. Jika bukan karena satu kenyataan itu Naruto tidak akan tahu bahwa Sasuke sedang menangis.

Perlahan tubuhnya sekali lagi memberati tempat tidurnya dan memerangkap lagi tubuh Sasuke. Dia tidak mencoba untuk mengusap ataupun menghentikan aliran air mata pemuda di bawahnya. Naruto memeluknya lalu berbaring di sampingnya tanpa melepaskan dekapannya. "Sasuke." Sasuke terlihat tidak keberatan dengan apa yang dilakukan karenanya Naruto menyamankan posisinya lalu memeluknya lebih erat.

Meski Naruto sudah memeluknya bahkan memanggilnya pun Sasuke tetap tidak membuka matanya. Saat Naruto mendekapnya lebih erat Sasuke berbalik dan memeluk Naruto juga. "Naruto, aku benci padamu." Kata-kata yang tadi sempat dihentikan kini terucap. "Aku benci padamu." Sasuke terus mengulang kata-kata tersebut dan dengan setiap pengulangannya kedua tangannya memeluk Naruto semakin kuat pula. Wajahnya semakin tenggelam di dada Naruto yang terbuka. Tidak ada jawaban ataupun tanggapan dari Naruto, dia hanya terus memeluk Sasuke dan membiarkan dia meracau sepuasnya.

Meski kata-kata itu yang dia yakini tidak ingin didengarnya kembali, entah mengapa kali ini Naruto tidak ingin menghentikannya.


"Naru, kamu ga mau makan?" Ini ketiga kalinya mereka bertanya pada pemuda yang sedari tadi hanya diam saja di kamarnya.

"Aku tidak ingin."

Setelah saling berpelukan tadi Naruto tertidur mengetahui Sasuke ada dalam pelukannya. Tetapi ketika dia membuka mata pemuda itu sudah tidak ada. Sai mengabari bahwa Sasuke sudah pulang dijemput oleh Neji. Dia tidak tahu apa arti dari kepergian Sasuke. Ini memang bukan rumahnya dan dia memang harus pulang. Itu sudah sewajarnya. Naruto terus meyakinkan dirinya bahwa apa yang dipikirkannya itu benar walau perasaannya tidak mengatakan begitu.

Naruto meminta Sai untuk menyiapkan air untuknya berendam. Berapa lama yang dia habiskan untuk melamun di dalam air hangat tidak Naruto pedulikan. Ketika air yang dipakainya berendam terasa dingin dengan terpaksa dia melangkah keluar dan berganti ke pakaian tidur. Tapi bukan berarti dia sudah siap untuk terlelap. Apalagi tadi siang dia sudah sempat mendapatkan beberapa jam untuk tidur.

Bagian dimana air mata Sasuke tadi siang terjatuh disentuhnya. Jejaknya sudah tidak ada, menguap karena sudah berjam-jam berlalu. Tetapi Naruto masih ingat dan merasakan dengan telapak tangannya. "Baru kali ini aku melihat Sasuke menangis." Tentu bukan itu maksudnya. Naruto sudah beberapa kali menyaksikan Sasuke menangis sewaktu mereka kecil dulu yang disebabkan oleh para anak perempuan di sekitar mereka yang menggangunya. Sasuke selalu berlari menangis padanya dan meminta perlindungan, berapa kali itu terjadi Naruto sudah tidak menghitung lagi. Tapi semua tangisan itu tidak pernah disebabkan olehnya, setidaknya tidak secara langsung. "Aku harus meminta maaf padanya besok."

Yang paling dia harapkan saat ini bukanlah Sasuke menerima permintaan maafnya. Dia sendiri tidak yakin setelah apa yang terjadi hari ini apakah besok Sasuke masih mau bertemu dengannya. Dan besok mereka tidak memiliki satu pun kelas yang sama. Kemungkinan bagi mereka untuk bertemu semakin berkurang. Belum lagi jika Sasuke memutuskan untuk tidak datang ke kampus seperti sebelumnya. Jika itu terjadi dia akan menyusulnya ke apartemennya sekali lagi. Hanya itu yang bisa dia lakukan.


Bisikan yang semakin lama semakin banyak di sekitarnya sama sekali tidak mengganggu Narumi. Biarkan saja mereka mau bicara atau berpikir apa tentangnya, yang dia khawatirkan saat ini hanyalah keberadaan Sasuke. Bolpoin yang sedari diketuk-ketukannya membuat banyak titik-titik tidak beraturan di halaman buku tulisnya. Tidak satupun kata yang dia tuliskan disana, malas mendengarkan penjelasan dosen mengenai apapun maksud angka yang tertulis di papan tulis di depan sana.

Bosan dengan suara ketukan bolpoin, Narumi meletakkan benda tersebut di atas meja lalu menopang dagu. Mungkin dia melamun, atau hanya tidak sadar akan waktu saja, detik berikutnya yang dia ingat hanyalah tanda bahwa kelas sudah selesai. Yang dia pikir baru satu menit ternyata sudah jauh lebih lama dari itu.

Membereskan barang-barangnya dengan cepat, Narumi segera meninggalkan ruangan menuju ke bagian gedung lain. Aku harap kau ada disana, Sasuke. Tidak peduli semua orang melempar pandangan heran ke arahnya, Narumi berlari sekuat tenaga menuju ke kelas Sasuke. Begitu sampai dia melihat beberapa mahasiswa yang mulai keluar meninggalkan ruangan. Saat akan mendekat untuk mencari sosok Sasuke sebuah tangan menghentikannya.

"Kau tidak boleh menemuinya."

Narumi menatap orang yang menghalanginya untuk bertemu dengan Sasuke. "Neji-kun?" Baru kali ini dia mendapati Neji berada di kampus, terlebih lagi di depan kelas. "Kenapa Neji-kun ada disini?"

Mata lavender Neji menatapnya tajam. "Kau tidak boleh menemuinya atau kau akan berhadapan denganku."

Nada suara Neji yang begitu serius membuat Narumi semakin tidak tenang. "Tapi Neji-kun, Naru…"

Tangan Neji menghentikan kata-katanya. Pemuda Hyuuga itu berbalik tanpa memberikan kesempatan bagi Narumi menyelesaikan kalimatnya. Tidak lama Sasuke keluar dari kelas dan langsung dibawa pergi oleh Neji, Narumi tidak sempat bereaksi apa-apa. Bahkan memanggil namanya pun terasa sulit, apalagi ketika melihat ekspresi wajah Sasuke saat keluar kelas. Matanya terlihat sendu dan wajahnya terlihat lelah seperti kurang istirahat.

Apa aku yang membuatnya menjadi seperti itu? Wajahnya merenggut sedih. Setelah melihat air mata Sasuke kemarin dan sekarang ini, dadanya terasa sakit. Aku harus menelepon Itachi. Dan itu yang dia lakukan begitu sampai ke rumah. Naruto bahkan meminta Sai untuk menjemput sepupunya itu sebelum Itachi sempat protes. Walau Itachi menolak permintaan Naruto itu hampir tidak akan mungkin terjadi.

"Dua kali diminta datang olehmu aku merasa spesial, Naru. Aku sangat bahagia." Belum lama mereka duduk berdua Itachi sudah mulai merayu lagi saja.

Kali ini Naruto tidak begitu mempedulikan hal tersebut. Kepalanya sedang dipenuhi satu hal. "Bagaimana caranya agar Sasuke memaafkanku?"

Giliran Itachi yang bingung saat ini. Mendengar Naruto ingin mendapatkan maaf dari Sasuke dan terdengar takut juga sedih bukanlah hal yang setiap hari dia bisa lihat. "Ada apa dengan Sasuke?"

Naruto sempat menatap Itachi seakan dia itu aneh tidak mengetahui keadaan adiknya sendiri, tapi dia segera ingat bahwa mereka tidak pernah tinggal bersama dan Sasuke terlihat tidak begitu menyukai Itachi. "Sudah beberapa hari ini Sasuke menghindariku. Bahkan Neji selalu ada di sampingnya untuk memastikan aku tidak mendekatinya. Aku merasa seperti penjahat."

"Memang apa yang sudah kau lakukan pada Sasuke?" Naruto tidak segera menjawab. Dia tidak yakin apa perlu Itachi mengetahui apa yang sudah dia lakukan pada adiknya. "Aku penasaran, sebenarnya bagaimana perasaanmu pada adikku?"

"Sasuke itu berharga." Itachi menaikan alis mendengarnya. "Dia manis, apalagi ketika ketakutan, membuatku ingin memeluknya. Karena itu aku ingin menjadikannya istriku."

"Karena itu kau menakut-nakuti dia sampai dia menjadi trauma pada perempuan, kan?" Naruto mendelik tajam pada Itachi. "Jadi kau sudah benar-benar ingat semuanya?"

"Aku ingat seberapa besar keinginanku untuk memilikinya."

Tentu Itachi mengetahui apa yang sudah Naruto lakukan untuk mewujudkan keinginannya itu. Itu adalah salah satu rahasia jahat yang dia ketahui mengenai pemuda yang dia kagumi ini. Meski yang menjadi korban adalah adik kandungnya sendiri Itachi tidak bisa menyangkal bahwa dia menikmati dan mendukung bahkan pernah beberapa kali membantu Naruto untuk menjalankan rencana liciknya.

"Aku masih penasaran apa yang akan Sasuke lakukan jika dia tahu apa yang sudah kau perbuat. Kau bilang merasa seperti penjahat sekarang, kau memang sudah menjadi penjahat sejak dulu Naru." Sebuah senyum jahil terukir di bibir Itachi.

"Jangan menambah sakit kepalaku, Itachi. Aku hanya ingin mendapatkan Sasuke kembali seperti yang sudah seharusnya. Aku tidak ingin melupakannya lagi dan aku tidak ingin dia melupakanku."

"Seperti yang sudah kau rencanakan." Naruto kembali melirik tajam Itachi. "Oke, seperti yang sudah seharusnya." Benar sekali, jika sudah menyangkut masalah Sasuke Naruto selalu seperti ini. Menurut Itachi ini adalah salah satu hal yang membuatnya tertarik pada si pemuda pirang. "Lalu apa yang kau butuhkan dariku?"

"Sebenarnya aku hanya butuh nasihat. Tapi jika kau tidak punya sebaiknya tidak perlu bicara."

"Mungkin jika kau memberikanku satu kecupan sebuah ide bagus akan muncul."

"Lebih baik kupikirkan sendiri." Tentu Itachi hanya bercanda dan akan membantu meski tanpa imbalan, walau dia sedikit mengharapkan satu kecupan tersebut. Tidak ada salahnya memanfaatkan situasi sedikit, bukan?


Naruto saat ini ada di depan pintu apartemen Sasuke. Tapi kali ini dia tidak ditemani oleh Sai melainkan oleh dua orang lainnya, Gaara dan Tenten. Mereka berdua bersikeras mengatakan hanya ingin memastikan dia baik-baik saja, meski dia tahu itu hanya alasan dan mereka berdua sebenarnya hanya ingin bertemu dengan Neji. Naruto sama sekali tidak keberatan. Dia hanya berharap tidak akan ada pertarungan antara keduanya nanti ketika pemuda Hyuuga itu ada di hadapan mereka.

"Hei, lepaskan aku Hyuuga! Jangan main-main!"

Tiba-tiba terdengar teriakan Sasuke dari dalam apartemen ketika tangan Naruto baru saja akan menekan tombol bel. Sepertinya ada sedikit perkelahian di dalam sana.

"Diamlah kau, Uchiha. Aku bosan dengan kepura-puraanmu. Kali ini ikuti saja apa yang kau katakan dan lepas bajumu."

"Tidak dalam mimpimu sekalipun, Hyuuga!"

Ketiga orang yang masih terpaku di depan pintu berharap mereka salah dengar atau apa yang mereka pikirkan tidak sama dengan apa yang sebenarnya terjadi di dalam. Dengan tangan yang sedikit gemetar Naruto meraih kenop pintu dan mencoba memutarnya. Entah itu keberuntungan atau bukan ternyata pintunya tidak terkunci. Butuh keberanian tambahan baginya untuk mendorong pintunya agar terbuka. Kedua orang yang menemaninya pun terlihat ragu untuk masuk atau lebih baik mereka mundur sebelum melihat sesuatu yang tidak ingin mereka lihat.

"Berhenti lari, Sasuke! Aku tahu kau menginginkannya. Berhenti berpura-pura dan lakukan saja apa yang kuminta."

"Lepas..hei! Kembalikan bajuku! Menjauh dariku sekarang juga, Neji! Aku tidak main-main!"

"Oh, aku sangat serius saat ini. Berhenti mengelak, Sasuke."

Naruto sudah tidak bisa menahan lagi rasa penasaran dan juga amarahnya membayangkan Sasuke miliknya tengah disentuh orang lain. Dengan satu bantingan dia membuka pintu lebar-lebar dan segera masuk ke koridor yang langsung terhubung ke ruang tamu diikuti oleh Tenten dan Neji.

Kelimanya terpaku seketika. Neji dan Sasuke karena tidak mengharapkan kedatangan tamu seperti ini, sedangkan tamu tak diundangnya karena pemandangan yang mereka lihat. Sasuke terbaring di atas sofa dan Neji ada di atasnya sepertinya mencoba untuk menghentikan tangan Sasuke yang mencoba menjauhkannya. Yang membuat mereka lebih shock lagi karena saat ini Sasuke sedang topless, ditambah dengan perbincangan yang sempat mereka dengar juga posisi mereka saat ini sangat sulit untuk tidak berpikir yang tidak-tidak.

"Neji-kun." Yang pertama bicara adalah Gaara. Matanya mulai berair dan tanpa berkata apa-apa lagi berbalik dan lari keluar dari sana.

Tenten yang berdiri di sebelahnya berusaha mengejar. "Gaara! Tunggu!" Sebelum dia meninggalkan apartemen dia melihat ke arah Neji sekali lagi dengan ekspresi yang menunjukkan kekecewaan lalu segera menyusul teman sekaligus rival dalam cintanya keluar.

Neji yang sebelumnya masih terpaku segera sadar dan bangun dari posisinya. "Tenten! Gaara! Tunggu!" Tanpa menghiraukan tatapan membunuh dari Naruto dia berlari melewatinya menyusul dua orang yang sudah berlari keluar lebih dulu dan membanting pintu tertutup sambil berlari secepat mungkin.

Kedua mata Naruto masih menatap sosok Sasuke di atas sofa yang setengah telanjang dengan tatapan cemburu dan posesif. Tangannya terkepal menahan amarah. Padahal dia datang kemari ingin meminta maaf pada Sasuke. "Kenapa?" Wajahnya menunjukkan kesedihan dan tidak sedikit pun berubah ketika Sasuke bergerak mengambil bajunya dan berusaha menutupi tubuh bagian depannya dengan benda tersebut. "Kenapa harus Neji? Kenapa..Apa kau benar-benar sudah melupakanku?"

"Naru…"

"Kau bahkan tidak pernah membiarkanku menyentuhmu sebelumnya."

Sasuke meremas bajunya kencang dan menatap Naruto tidak percaya. "Kau pikir aku dan Neji sudah melakukan sesuatu?!" Meski nada yang dia pakai terdengar marah tadi tangannya yang gemetar menunjukkan sebaliknya. Sasuke takut, tapi tidak tahu apa yang dia takutkan sebenarnya. "Meski aku melupakanmu aku tidak akan semudah itu berpindah hati kepada orang lain! Kau pikir berapa lama aku sudah menyukaimu?! Dan Neji? Apa kau sudah gila?! Dia itu sahabatku! Aku tidak mungkin menyukai dia seperti itu. Dia tidak mungkin bisa. Dia tidak akan pernah bisa." Sasuke memalingkan wajahnya tidak kuat menatap Naruto terus-menerus. Dia tidak akan pernah bisa menggantikanmu, Naru. Tangannya masih gemetar, kali ini campuran antara takut dan juga kesal.

Langkah kaki yang mendekat membuat Sasuke semakin gugup. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukan Naruto padanya. Ketika baju yang dicengkramnya perlahan ditarik menjauh darinya ketakutannya semakin besar. Tapi sewaktu dia merasakan sesuatu menutupi punggung dan bahunya dia bingung. Detik selanjutnya tangannya yang gemetar digenggam oleh Naruto dengan penuh kelembutan. Meski begitu dia masih belum berani menatap Naruto langsung dan matanya hanya terfokus pada bagian tubuh Naruto yang kini duduk bersamanya di atas sofa.

"Maaf. Apa aku keterlaluan?" Kali ini Sasuke hampir tidak percaya dengan apa yang dia dengar, karena itu dia memutuskan untuk melihat kebenarannya dari wajah Naruto. Mata biru Naruto sedang memandangnya penuh kesedihan, tapi kali ini kesedihan itu untuknya, bukan untuk Naruto sendiri. "Sasuke, berhenti menatapku seperti itu. Aku tidak berniat menyakitimu lebih dari yang sudah kulakukan."

Mata onyxnya mulai berair membuat pandangannya sedikit kabur. "Kenapa?" Sebutir air mata ikut menetes bersamaan dengan pertanyaannya. "Aku tidak mengerti."

"Sasuke." Naruto tidak mengusap air mata Sasuke. Baginya melihat Sasuke menangis karena dirinya adalah sebuah hukuman. Jika dia mengusapnya sekarang itu berarti dia tidak menerima kesalahannya dan mencoba menghapusnya sebelum meminta maaf. "Sekali lagi maaf karena sudah menuduhmu tanpa bertanya dulu. Aku hanya cemburu."

"Kau cemburu?"

Sasuke mengatakannya dengan nada polos dan itu sangat manis menurut Naruto. "Tentu saja aku cemburu. Melihat orang lain selain aku menyentuhmu aku tidak suka. Aku sudah pernah mengatakannya, bukan?"

"Tapi kau tidak pernah bilang kalau kau cemburu."

"Ah, itu…" Naruto rasa kali ini dia tidak bisa mengelak lagi. "Itu karena aku terlalu peduli dengan egoku daripada memikirkan perasaanmu. Selama kau tidak ada sebelumnya, semua orang selalu mengikuti apapun yang kuminta. Kurasa karena itu sifat burukku yang selalu seenaknya muncul dan menjadi terbiasa. Aku tidak ingat bahwa yang kau kenal adalah aku yang dulu." Naruto tidak pernah menyangka dia akan mendapatkan satu pukulan di kepalanya karena pernyataannya ini. "Aw! Kau memukulku, Sasuke."

"Tentu saja aku memukulmu! Apa kau tidak tahu bagaimana sakitnya hatiku saat kau mengataiku macam-macam? Seharusnya aku bukan hanya memukulmu tapi juga menghajarmu habis-habisan. Kau seharusnya bersyukur aku hanya memukulmu sekali! Dasar tidak tahu diuntung."

"Iya iya, aku mengerti," Naruto menjawab sambil mengelus kepalanya yang dipukul tadi. "Terima kasih karena sudah berbaik hati padaku yang sudah banyak menyakitimu ini, Sasuke."

"Kau mempermainkanku?"

"Tentu saja tidak. Aku tulus berterima kasih." Entah kenapa pipi Sasuke tersipu karena kalimat ini. Sejak kapan dia berhenti menangis? Sasuke lagi-lagi tidak mau melihatnya, tapi kali ini karena alasan yang berbeda dan Naruto sangat bersyukur karenanya. "Sasuke, aku ingin memastikan sesuatu. Boleh?"

"Hn?"

Pertanyaan ini mungkin saja akan membuat Sasuke marah lagi, tapi Naruto tidak bisa tahan untuk tidak memastikannya. "Benar Neji tidak melakukan sesuatu atau memaksakan sesuatu padamu?" Naruto bahkan sangat hati-hati menggunakan nada suaranya takut jika Sasuke salah paham. Tapi bagaimana pun dia mengatakannya dia tetap mendapatkan satu pukulan lagi di kepalanya. "Oke, itu artinya tidak."

"Tentu saja tidak! Bodoh! Apa yang kau pikirkan?"

"Hei, aku hanya memastikan. Posisi kalian tadi sangat menjanjikan."

Wajah Sasuke memerah lagi sebelum dia mendorong Naruto menjauh darinya dan memalingkan wajah. "Neji memang memaksaku."

Ketika mendengar kata-kata tersebut Naruto berubah posesif lagi dan kali ini dia mengguncang Sasuke untuk mendapatkan penjelasan. "Apa?! Apa yang dia lakukan? Apa yang sempat dia lakukan padamu? Katakan padaku, Sasuke!"

"Hei hei, tenang dulu! Aku belum selesai bicara! Berhenti mengguncangku, kau membuat kepalaku sakit!"

"Kau barusan bilang Neji memaksamu!"

"Ya, tapi bukan apa yang kau pikirkan. Dengarkan dulu, bodoh!" Naruto mencoba menenangkan diri dengan menarik napas panjang sebanyak mungkin. Dia belum akan menguliti Neji, tidak, dia belum mau Hinata kehilangan sepupu kesayangannya. Di saat yang sama Sasuke juga menenangkan diri. Barusan tadi itu jarak mereka berdua terlalu dekat dan dia bisa melihat wajah Naruto dengan jelas. Jantungnya mau tidak mau berdebar-debar. Setelah keduanya tenang barulah dia mulai bicara lagi. "Neji memaksaku untuk menemuimu."

Naruto menoleh tidak percaya. "Kau bercanda."

"Memang begitu! Dia bilang dia muak melihat kebiasaanku setiap hari. Dia juga sudah sangat bosan mendengarkan ocehanku. Sahabat macam apa dia itu? Dia itu seharusnya membantuku. Dia tahu apa yang kubutuhkan tapi malah seenaknya saja memerintahku. Pagi ini dia bahkan berencana menyeretku keluar agar menemuimu. Sudah kukatakan padanya aku hanya butuh waktu dan dia bahkan tidak mau mendengar, dasar Hyuuga. Tanpa dia minta pun aku sudah pasti akan kembali padamu. Kenapa dia tidak mau percaya padaku dan bilang bahwa aku hanya berpura-pura? Kenapa aku harus berpura-pura? Aku memang mencintai Naruto, aku hanya butuh waktu untuk menemuinya lagi. Bukankah aku harus mempersiapkan diri menjadi seseorang yang dia harapkan? Dia pikir itu tidak butuh waktu dan bisa instan begitu saja. Hyuuga bodoh, kurang ajar, tidak tahu diri. Kalau dia pulang nanti akan kuacak-acak rambutnya."

Di sampingnya, Naruto mendengarkan semuanya dengan seksama. Ketika Sasuke mulai meracau sepertinya dia terkadang tidak memperhatikan sekitar dan meluapkan isi hatinya begitu saja. Mata biru Naruto menatapnya dengan penuh sayang. Tangan kanannya meraih pipi Sasuke dan menolehkannya agar mereka saling berhadapan. "Sasuke, aku juga mencintaimu." Mendengar kalimat yang tidak dia harapkan membuat wajah Sasuke memerah tak terkendali. "Kupikir kau membenciku dan sudah tidak mau memaafkanku. Mendengar kata-katamu barusan membuatku bahagia."

"Te-tentu saja aku marah padamu! Tapi aku tidak bisa melepaskanmu begitu saja." Rona di wajah Sasuke masih belum menghilang. Ditambah dengan topik dan juga kalimat yang mereka ucapkan tidak memungkinkan bagi dirinya untuk menghilangkan rona tersebut. "Seluruh hidupku sudah kuhabiskan untuk menunggumu dan sampai saat ini hanya kau saja yang kupercaya. Neji memang sahabatku tapi dia bukan kau. Dan lagipula aku masih memegang janjimu yang dulu." Sasuke sudah merasa seperti daging panggang sekarang. Pipinya terasa panas sekali.

Sasuke saat seperti ini memang yang paling manis. Membuatku semakin tidak ingin melepasnya. "Untuk itulah aku datang kemari." Kedua tangan Sasuke dia genggam sambil menatap penuh arti. "Sasuke, aku datang kemari untuk meminta maaf dan juga memenuhi janjiku padamu. Maukah kau menerimanya? Maukah kau menikah denganku?"

Dalam hati Sasuke berteriak penuh riang tapi di matanya masih ada sedikit ketakutan. Dia belum yakin sepenuhnya dengan kata-kata Naruto. Mungkin saja Naruto akan meninggalkannya lagi seperti dulu. Meninggalkannya lagi sendirian kehilangan arah tujuan. "Aku sangat ingin, tapi…" Sasuke menggigit bibir bawahnya tidak sanggup mengatakan isi hatinya.

"Apa yang harus kulakukan agar kau tidak ragu lagi?" Sasuke tidak langsung menjawab. Dia sibuk berpikir apa yang dia inginkan agar hatinya tidak ragu lagi. Tiba-tiba saja sesuatu terlintas di benaknya dan membuat pipinya kembali merah. Naruto dapat menebak jelas apa yang pemuda Uchiha itu pikirkan dan segera menjawab dengan tegas. "Tidak yang satu itu."

"Kenapa? Kalau kau memang menginginkanku seharusnya itu bukan masalah, kan? Aku ingin sesuatu yang berbeda. Aku tidak ingin disamakan dengan para gadismu atau para pengagummu, termasuk Itachi dan juga orang-orang lainnya yang mengaku memberikan hatinya padamu. Aku juga tidak ingin diperlakukan sama olehmu, disamakan dengan perhatianmu kepada mereka. Aku ingin sesuatu yang lebih. Sesuatu yang hanya kau berikan padaku."

Sebuah helaan napas keluar dari mulut Naruto. "Sasuke, aku tidak pernah menyentuh para gadisku. Aku memang juga tidak pernah menyentuhmu tapi dengan alasan yang berbeda." Sasuke menatap Naruto dengan penuh perhatian. Dia sangat ingin penjelasan. "Aku tidak pernah menyentuh mereka karena tidak pernah aku memikirkan mereka seperti itu. Mereka memang berharga, tapi bukan seperti itu. Sedangkan kau, aku tidak menyentuhmu karena kau spesial. Jika aku akan menyentuhmu aku ingin menyentuhmu dengan benar, bukan seperti ini. Karena itu aku ingin kita menikah agar aku bisa melakukan semuanya dengan benar, apapun itu. Kau selalu berbeda Sasuke, karena kau spesial. Aku bahkan rela membuang para gadisku jika itu yang kau mau."

"Benarkah?" Nada antusias tidak bisa Sasuke hilangkan di dalam pertanyaannya.

Reaksi yang jujur ini membuat Naruto tidak dapat menahan senyumnya. Apa dia tidak sadar bahwa dirinya yang dulu lambat laun kembali? Tangannya kembali meraih Sasuke dan kali ini membawa pemuda Uchiha itu kedalam dekapannya. "Apapun agar kau tidak lagi ragu padaku." Dalam pelukannya Sasuke mengangguk sebagai jawaban. Sepertinya dia sudah tidak bisa berkata-kata saking bahagianya. "Lagipula dengan begini mereka akan menjadi lebih bebas menjalani hubungan mereka. Tidak perlu sungkan lagi."

"Apa maksudnya?"

"Hm." Naruto menyenderkan kepalanya di atas kepala Sasuke. "Ino-chan dan Sai, Sakura-chan dan Itachi, Temari-chan dan Shikamaru, lalu sekarang Tenten-chan juga Gaara dan Neji." Dia memberi jeda sejenak sebelum meneruskan. "Apa kau tahu bahwa mereka itu menyukai satu sama lain? Tidak ada yang berani maju dan menjalani hubungan karena ada aku di antara mereka. Hanya Hinata-chan saja yang belum memiliki pasangan. Tapi dia memang masih lebih muda dibandingkan yang lain."

Mendengarnya Sasuke menjauhkan diri dan menatap Naruto langsung walau tidak lepas dari pelukannya. "Kau bercanda. Sejak kapan?"

"Yang mana maksudmu?"

"Semuanya!"

"Coba kuingat dulu." Sasuke masih belum mengalihkan pandangannya selama Naruto berpikir dan mengingat-ingat. "Ino dan Sai kurasa sudah sekitar satu tahun, mungkin lebih. Temari-chan dan Shikamaru sejak semester lalu. Tenten-chan, Gaara, dan Neji kurasa kau sendiri tahu. Sakura-chan dan Itachi yang paling lama, mungkin hampir selama mereka saling mengenal. Meski mereka selalu terlihat bertengkar, aku tahu perasaan mereka yang sesungguhnya."

Sasuke kembali menyamankan diri dalam pelukan kekasihnya. "Aku benar-benar tidak percaya." Yang terdengar sebagai jawaban dari Naruto hanyalah sebuah gumamam tidak jelas. "Naru, tidak bisakah kau berhenti menjadi Narumi?"

"Hanya saja jika para wanita dan lelaki berhenti mengejarku seperti orang gila, aku mau saja." Kenangan buruk kembali teringat oleh mereka berdua. Sasuke mengeratkan pelukannya. Dia tidak mau mengalami hal itu lagi, baik padanya maupun pada Naruto. "Sebaiknya kita mencari Gaara dan yang lainnya. Aku sedikit khawatir, terkadang Gaara bisa sangat emosional." Awalnya Sasuke tidak mau karena masih sedikit cemburu pada pemuda berambut merah. Tapi Naruto memang benar, dia juga sedikit khawatir pada Neji.

Tangan mereka bergandengan saat keluar menemui Sai di tempat parkir. Naruto segera memakai beberapa peralatan darurat yang disimpan di mobil untuk menyembunyikan jati dirinya karena tidak ada waktu untuk menjadi Narumi. Mereka akhirnya menemukan ketiga orang yang dicari setelah beberapa lama mencari. Gaara sedang ada di dalam pelukan Neji dan di sampingnya Tenten menyandarkan kepalanya di pundak Neji dan memeluknya dari samping. Mereka segera melepaskan diri ketika melihat Naruto dan Sasuke datang.

Mata Gaara masih sedikit merah bukti bahwa dia sempat menangis tadi. Naruto menambahkan beberapa penjelasan pada mereka dan kini sepertinya pasangan baru muncul. Beruntung sekali si Neji mendapatkan dua pacar sekaligus. Dia pasti sombong nanti. Sasuke melirik Naruto yang berdiri di sebelah dan tersenyum. Tapi aku tidak kalah darinya. Akhirnya Naru hanya untukku! Hah! Rasakan itu, Hyuuga! Senyum yang mencurigakan itu sempat mengundang kecurigaan dari semuanya tapi segera diabaikan karena mereka semua sedang bahagia saat ini. Tidak ada waktu untuk mengurusi keanehan Sasuke yang sudah biasa aneh itu.


Pagi ini Naruto bangun dengan penuh keceriaan. Dia bahkan tidak berhenti tersenyum membuat semua orang di rumah sedikit khawatir dengan kondisi jiwanya. Ah tapi ternyata bukan Naruto saja. Tenten pun terserang penyakit yang sama. Ketika ditanya yang lain mereka berdua hanya ber "Hm?" ria dan senyumnya pun tidak menghilang sedikit pun. Mereka belum mendengar apa-apa tentang kunjungan ke apartemen Sasuke kemarin dan menurut Temari yang dapat kabar dari Kankuro bahwa Gaara juga sepertinya dalam keadaan yang sama.

"Apa sih yang sebenernya terjadi di apartemennya Sasuke?" Ketiganya memang terlihat bahagia, tapi mereka tidak yakin apakah mereka harus ikut senang atau justru harus khawatir.

Candaan Kushina dan juga rengekan si kembar bahkan tidak berhasil merusak keceriaan Naruto. Semua hanya bisa saling pandang dan bertanya-tanya dalam hati ketika akhirnya Naruto meminta Sai mengantarnya ke kampus bersama dengan Tenten.

Kampus lagi-lagi gempar. Hanya saja kali ini penyebabnya bukan karena Narumi kesayangan mereka yang mengamuk, justru Narumi sangat ramah hari ini dan menyapa semua orang yang dia lewati. Semua kembali berbisik karena keceriaan tingkat tinggi ini. Seperti halnya di rumah, ketika ada yang bertanya apa yang membuatnya begitu bahagia Narumi hanya tersenyum tanpa penjelasan membuat semakin penasaran saja. Belum lagi perubahan ini begitu drastis mengingat mood si gadis kemarin.

Saat waktunya mata kuliah yang diikutinya bersama Sasuke tiba, Narumi bukan hanya bersenandung tapi juga sedikit berjingkrak menuju kelas tersebut. "Sasuke-kun~~!" Dia bahkan menyanyikan nama Sasuke saat memanggilnya membuat orang yang dipanggil sedikit bergidik.

Kau kerasukan apa, Dobe? Jangan memanggil namaku seperti itu! Itu mengerikan. "Hn." Narumi terlihat tidak begitu peduli dengan protes dari Sasuke dan lanjut mendekati Uchiha tersebut. Selama mata kuliah berlangsung mereka duduk bersebelahan, Narumi masih dengan senyum tak hentinya dan Sasuke yang tanpa reaksi berarti seperti biasa.

Begitu kelas berakhir beberapa siswa mendekati mereka berdua. Karena setelah ini jam makan siang jadi tidak ada alasan bagi siapapun untuk cepat-cepat pergi, kecuali yang sudah sangat lapar. "Naru-chan, boleh tanya sesuatu?"

Narumi yang baru saja selesai membereskan barang-barangnya menoleh. "Tanya apa?"

"Um, itu..soal kalian." Sasuke yang sebenarnya ingin segera pergi diam sejenak karena dia menjadi salah satu bahan pertanyaan. "Apa benar kalian bertunangan?"

"Iya, kok. Kan udah Naru bilang, Sasuke itu calon istri Naru." Sasuke melirik tajam karena dibilang istri seperti perempuan. Bukan karena dia keberatan, tapi lebih kepada yang mengatakannya saat ini adalah Narumi bukan Naruto.

"Tapi itu tidak mungkin. Lagipula Sasuke kelihatannya tidak setuju."

Kali ini Narumi menatap mereka semua satu persatu. "Kalian mau bukti?" Semua balik menatapnya bingung sekaligus penasaran. Tiba-tiba saja Narumi menerjang Sasuke dan memeluknya membuat pemuda berambut raven itu kaget. "Sasuke, aku tahu kau tidak suka Narumi. Kali ini saja jangan berpikir dan nimati saja oke? Ini aku," Narumi berbisik di telinga Sasuke agar hanya dia saja yang mendengar dan menggunakan suaranya yang asli.

Hah? Apa maksud…

Sasuke tidak berhasil menyelesaikan kalimat apapun yang ingin diucapkannya karena bibirnya tiba-tiba saja dikunci. Begitu terkejutnya dia karena lagi-lagi dicium ketika dirinya tidak siap. Tapi ciuman kali ini berbeda dengan ciuman-ciuman sebelumnya. Naruto membuatnya mau tidak mau menikmati ciuman ini dan Sasuke bahkan membalas menciumnya meski sedikit malu-malu.

Mmm. Naruto. Tangan Naruto bahkan mulai mengelus punggung dan tengkuknya membuat Sasuke semakin lumer. Tanpa dia sadari suara desahan yang tertahan keluar dari bibirnya. Naru, kau membuatku gila. Entah sudah berapa lama mereka berciuman ketika akhirnya Naruto menyudahi kegiatan yang menguras napas mereka tersebut. Yang Sasuke lihat pertama kali adalah mata biru Naruto yang menatapnya intens membuatnya mengerang. "Mm, Naru."

Mendengar suara tersebut Narumi tersenyum. Sasuke sepertinya tidak sadar sudah menggunakan suaranya dan juga lupa dengan keadaan sekitar. "Sasuke-kun, kamu calon istri Naru kan? Kamu mau kan jadi istri Naru?"

Sasuke yang masih sedikit terengah-engah menjawabnya sambil menatap sayu. "Tentu. Aku mau jadi istrimu. Jangan tinggalkan aku lagi, Naru." Sasuke bahkan tidak sadar bahwa yang tadi bertanya adalah suara Narumi, bukan Naruto. Dia hanya fokus pada mata biru yang menatapnya juga kata-kata yang meluncur dari bibir yang belum lama menciumnya mesra.

Narumi semakin tersenyum lebar. Dia memeluk Sasuke lagi lalu menatap kepada semuanya yang ternyata wajahnya sudah berubah sangat merah dan bahkan ada yang mimisan. Hanya kali ini saja dia membiarkan mereka melihat Sasuke yang menggoda seperti ini dan juga mendengar suaranya yang seksi. "Nah, kalian liat kan? Sasuke-kun cuma malu-malu, tapi dia punya Naru. Kalian ga boleh ganggu dia lagi." Tidak ada yang membalas kata-katanya karena semua segera pergi meninggalkan ruangan begitu mendapatkan kesadarannya kembali. Sepertinya untuk beberapa saat toilet akan penuh. Sebuah cengkraman di bahunya membuat Narumi menoleh ke arah pemuda yang masih ada di pelukannya. "Kenapa, Sasuke-kun?"

Cengkaraman Sasuke semakin kuat. "Apanya yang Sasuke-kun?! Seenaknya saja kau menciumku lagi dan kali ini di depan semuanya. Kau sengaja ingin mempermalukanku?! Kau bahkan membuatku bicara dan mendesah di depan mereka. Itu sangat memalukan! Dan kau menciumku sebagai perempuan! Perempuan!" Yang dimarahi malah tertawa membuatnya semakin geram. "Jangan tertawa, bodoh! Kau mau kucincang hidup-hidup!"

"Tenanglah, Sasuke. Tidak perlu berteriak." Dengan tidak adanya siswa lain Naruto bisa menggunakan suara aslinya dengan bebas. "Aku tidak ada niat mempermalukanmu. Aku justru melakukannya agar tidak ada yang mengganggu lagi. Dengan begini sekarang semua tahu bahwa kau adalah milikku. Kita bisa bebas berkencan, bukan?"

"Aku tidak mau berkencan dengan perempuan."

"Tapi jika di ruangan tertutup aku Naruto dan aku milikmu seutuhnya."

Sasuke semakin menyembunyikan wajahnya di pelukan Naruto. "Kau mesum." Lagi-lagi Naruto tertawa, apalagi mengingat perbincangan mereka kemarin. Bukannya Sasuke itu yang lebih mesum dari dirinya?

Mereka berdua keluar menuju kantin setelah Sasuke tenang dan berjalan bergandengan. Semua orang memperhatikan mereka dengan berbagai ekpsresi yang berbeda. Ada yang cemburu, ada yang sedih bahkan menangis, ada juga yang malah teriak-teriak seperti fans. Begitu kagetnya Narumi ketika tiba-tiba ada yang berlari ke arahnya dan memeluknya. "Naru!"

"Gaara-kun?"

Pemuda berambut merah itu mendongak menatapnya. "Naru, aku rindu."

Narumi mengelus rambut Gaara dengan tangannya yang bebas. "Kan kemarin ketemu." Pemuda satu ini memang manja sekali padanya.

"Tapi kan itu…" Belum sempat Gaara menyelesaikan kata-katanya dia dipaksa melepaskan pelukannya dan Narumi ditarik menjauh darinya. "Kau. Uchiha." Sasuke menatapnya seakan bicara 'Dia milikku' dan mereka pun saling melemparkan tatapan dingin. Seseorang memanggil namanya dan ketika menoleh Gaara melihat Tenten sedang berjalan ke arah mereka sambil menggandeng seseorang. "Tenten! Neji-kun!" Gaara melupakan pertarungannya dengan Sasuke dan lari menghambur ke arah Neji. "Kenapa bisa disini?"

"Aku hanya ingin memastikan Sasuke baik-baik saja dan juga menemui kalian." Neji menatap Sasuke yang masih memeluk Narumi sedang menatap tajam ke arahnya penuh arti. "Kau tahu aku tidak bisa membaca pikiranmu kan, Sasuke? Dan tatapan membunuhmu itu tidak mempan padaku." Sasuke malah semakin menyipitkan matanya. "Terserah kau saja, Uchiha."

Dengan kedatangan Neji, Gaara tidak mempermasalahkan lagi soal Sasuke dan dengan manja merangkul tangan kanan Neji sedangkan di sebelah kirinya ada Tenten. Mereka berlima duduk bersama dan memesan makan siang. Gaara yang manja disuapi Neji sedangkan Tenten menyuapi Neji sambil makan sendiri sesekali, mereka bertiga harmonis sekali. Narumi ingin sekali menyuapi atau disuapi, sayangnya Sasuke tidak mau karena itu memalukan katanya. Narumi sedikit kecewa tapi tidak keberatan, Sasuke memang begitu dan menurutnya sikapnya yang malu-malu itu manis.

Dengan terbukanya hubungan mereka semua menjadi mudah dan juga sulit. Sekarang Narumi bisa dengan mudah menolak ajakan siapapun padanya, tapi ternyata bagi Sasuke justru sebaliknya. Gara-gara insiden di kelas waktu itu beberapa orang malah mengejarnya, Narumi jadi harus siap melindungi atau ketika dia tidak bisa dia mengirim Sai atau meminta tolong Neji untuk menjaga Sasuke dari serangan binatang liar.

Kushina berteriak senang dan memeluk Sasuke erat ketika mendengar bahwa sebentar lagi calon menantunya akan segera menjadi menantu. "Ibu dah nunggu lama banget! Akhirnya Sasuke jadi anak Ibu." Si kembar Kyuubi-Kurama ikut menerjang calon kakak baru mereka dan Sasuke harus berusaha keras untuk lepas dari mereka.

Kenapa keluarga Uzumaki senang sekali menyerang orang dengan pelukan maut mereka?

Keluarga Uchiha dikabari juga mengenai berita bahagia ini. Para gadis Naruto pun tidak bisa menyangkal bahwa mereka ikut senang. Mereka sedikit terkejut ketika diberitahu ternyata Naruto sudah lama mengetahui tentang kekasih mereka masing-masing. Semua dibicarakan dengan baik dan tidak ada lagi masalah dan tidak ada lagi yang perlu disembunyikan. Semua merasa lega.

Di hari Minggu Naruto menghabiskan waktunya bersama Sasuke di apartemennya. Neji sedang kencan bersama Tenten dan Gaara jadi mereka hanya berdua disini. "Sasuke, kau masih ingat syarat yang kuajukan dulu jika kau ingin jadi istriku?"

Sasuke yang sedang menikmati cemilan berhenti mengunyah dan menatap Naruto. "Tentu saja aku ingat."

Suara Sasuke jika sedang bicara normal seperti ini memang merdu. Naruto ingin hanya dia saja yang bisa mendengar suara ini seterusnya. "Syarat nomor satu sudah kau penuhi, itu artinya tinggal satu lagi. Kau mengerti kan?"

"Ya, sudah pasti." Syarat yang pertama adalah Sasuke harus pintar memasak. Naruto sudah mengakui kemampuan Uchiha ini dalam membuat makanan. Syarat yang kedua belum dia coba dan Naruto penasaran dengan kemampuan Sasuke. Naruto mendekatkan wajahnya sedikit demi sedikit ke arah Sasuke sambil senyam-senyum. "Kenapa kau menatapku begitu, Naruto? Jangan macam-macam."

"Aku hanya ingin mengetes kemampuanmu. Kebetulan aku sedang sedikit pegal, kau tidak keberatan kan?" Wajah Naruto semakin dekat dan Sasuke refleks mundur sedikit demi sedikit sambil merona. "Kenapa? Hanya memijat, kan? Aku tidak meminta yang lain."

"Ba-baiklah! Tapi disini saja." Sasuke mendorong Naruto menjauh darinya dan segera pergi ke kamarnya untuk mengambil beberapa perlengkapan yang dia perlukan. Dia tidak ingin mengambil resiko memijat Naruto di dalam kamar. Meski sebelumnya dia yang berinisiatif mengajak untuk melakukan yang iya-iya, tapi kali ini dia yang harus menahan diri. "Kontrol dirimu, Sasuke. Ini hanya Naruto, kau hanya akan memijat Naruto." Justru itulah masalahnya, dia harus memijat Naruto. "Sial." Sasuke menarik napas panjang dan membuangnya perlahan sebelum kembali ke ruang tamu.

Naruto sudah berbaring telungkup di sofa dan dia pun sudah topless. Batin Sasuke ingin berteriak melihat tubuh Naruto yang terekspos. Sekali lagi dia menarik napas lalu berjalan dan duduk di samping Naruto. Dia menuangkan sedikit minyak pada tangannya lalu mulai memijat punggung yang ternyata lumayan kekar itu.

Pantas saja pelukannya terasa hangat dan membuatku merasa aman dalam dekapannya. Tubuhmu indah sekali, Naruto. Aku ingin didekap olehmu selamanya. Eh? Apa yang kupikirkan?! Aku terdengar seperti perempuan murahan. Tunggu. Aku bukan perempuan!

"Sasuke, kau kenapa?"

Untung saja dia tidak bisa melihatku sekarang. "Uh, tidak ada. Bagaimana? Apa pijatannya cukup?" Naruto terkekeh entah karena alasan apa. Berhenti bersuara seperti itu! Kau membuatku semakin gugup, kau sadar tidak?!

"Tenang saja. Pijatanmu enak. Pegal-pegalku sudah mulai hilang. Kau memang istri idaman." Sasuke hanya bisa merona tanpa bisa merespon. "Lain kali aku mengandalkanmu untuk memijat seluruh bagian tubuhku, Sasuke."

Tangan yang sedang memijat menghentikan pekerjaannya dan meraih bantal yang tergeletak tidak jauh dari sofa. Dengan sekuat tenaga Sasuke melemparnya ke kepala Naruto. "Dasar mesum!" Dengan satu gerakan dia bangkit dan berniat pergi tapi segera dihentikan oleh sebuah pelukan di pinggangnya.

"Tidak perlu marah begitu. Aku juga akan memijatmu."

"Berisik!" Berhenti berkata seperti itu! Kau membuatku semakin tidak bisa menahan diri! Kau sengaja. Kau pasti sengaja! Uzumaki, bodoh! Menyebalkan!

Naruto tertawa terbahak-bahak sementara Sasuke berusaha untuk lepas dari pelukan maut Uzumaki. Padahal maksudku tidak mengarah kesana. Sasuke yang pervert manis juga. Jadi semakin ingin menggodanya. Ah, uke-ku yang manis.


Yup, berakhir begitu saja hahaha.

Setelah dipikir-pikir dan menimang, aku putusin bakal kasih satu chapter tambahan. Kalau masih mau baca silahkan tunggu, chapternya bakal aku publish minggu depan.

Ya, doakan saja begitu.

:D