Maaf ya semua karena aku tipe author yang jarang (apa hampir ga pernah ya?) bales review kalian. Apalagi kalau harus satu persatu. Tapi semuanya aku terima dan terimakasih banget atas dukungannya.

Masalah tinggi badan Naru sebenernya dia itu lebih tinggi dari Sasuke meski ga tinggi-tinggi amat. Kalau sama cowo lain pada umumnya ya hampir sama lah ceritanya. Walau dia tinggi tapi imut itu ya karena karisma dan dandanan, jadi mereka ga terlalu peduli sama tinggi badan.

Ga usah bayangin Sasuke jadi uke gimana. Aku juga awalnya gimana gitu karena lebih sering baca SasuNaru, tapi seiring berjalannya waktu (cieee) baru bisa. Khususnya kalau ceritanya bagus. Dan setelah diingat-ingat di semua cerita aku karakter Sasuke yang aku bikin ga ada yang sama dengan sifat aslinya di manga/anime. Ya paling cool-nya doang, tapi ga Teme gitu. Padahal ga niat begitu, cuma karena tuntutan alur cerita hee. Ada aja OOC-nya yang muncul, tapi meski begitu yang penting ga bikin ceritanya ikut kacau ya hahaha.


"Yang bener, Naruto? Jadi Sasuke-kun suka sama perempuan yang berani? Jadi kita harus ngejar-ngejar dia? Masa sih Sasuke-kun itu pemalu."

"Ya sudah kalau tidak percaya. Dia itu memang pemalu. Dia bilang padaku karena aku sahabatnya. Kalau masih tidak percaya tanya saja Itachi."

"Terus Sasuke-kun beneran suka sama barang-barang manis? Dia koleksi serangga? Dia juga suka sama perempuan yang suka dandan?"

"Iya, benar. Kalau kalian bisa cium saja dia. Kalau Sasuke mengelak dia hanya pura-pura. Setelah pulang dan bertemu denganku dia baru bisa jujur. Karena itu kalian tidak perlu sungkan-sungkan. Kejar saja sekuat tenaga."

.

"Hiks hiks, Naru! Ada yang menyimpan serangga di lokerku. Keluarkan!"

"Mana?! Sini biar kubuang. Kurang ajar. Siapa yang berani mengerjaimu seperti ini?"

"Naruto, kenapa mereka mengejarku terus? Mereka menyeramkan. Hiks hiks hiks. Aku tidak suka anak perempuan. Mereka seram."

"Tenang saja, Sasuke. Aku akan melindungimu."

.

"Naru! Jangan pernah tinggalkan aku. Kalau kau tidak ada siapa yang akan melindungiku?"

"Tenang saja, ketika sudah dewasa nanti aku akan menikahimu. Dengan begitu aku bisa menjagamu selamanya. Mereka tidak akan kubiarkan mengganggumu lagi."

"Benar? Kau janji?"

"Tentu. Tapi kalau mau jadi istriku kau harus pintar memasak dan bisa memijat."

"Baiklah. Aku akan berlatih dengan keras."

.

"Naru, kenapa kau senyam-senyum begitu? Kau terlihat menyeramkan."

Naruto menyeruput teh dari cangkir yang sedang dipegangnya lalu menatap pemuda yang baru saja datang bergabung duduk bersamanya di balkon kamar. "Hanya mengingat masa lalu." Diteguknya lagi minuman tersebut sebelum menaruh cangkirnya di atas meja agar tangannya bisa bebas memeluk kekasihnya.

"Bicara soal masa lalu, Itachi mengatakan kau memiliki cerita menarik saat kita kecil dulu. Cerita yang aku tidak ketahui dan terjadi saat kita masih dekat. Aku tidak tahu ada yang tidak kuketahui mengenai dirimu. Apa itu?"

Naruto menarik kepala Sasuke agar bersandar di bahunya lalu dengan lembut mengelus rambut ravennya. "Tidak perlu mendengarkan Itachi. Sejak kapan kau percaya padanya? Kau tahu sendiri kakakmu itu senang memainkan pikiran orang." Begitu juga denganku.

"Hn, kau benar juga." Sasuke menikmati perhatian yang diberikan Naruto. Sudah dua bulan mereka menjalani hubungan resmi sebagai sepasang kekasih. Meski yang publik tahu adalah Narumi berpacaran dengan Sasuke, bukan Naruto. Sasuke tidak bisa mengeluh lagi mengenai hal ini. Dia sendiri tidak mau mimpi buruk yang dulu terulang kembali. "Oh iya, bukankah hari ini perayaan Neji dan Gaara tinggal bersama? Jam berapa acaranya?"

Sudah satu bulan Sasuke tinggal bersama Naruto di kediaman Namikaze. Temari, Sakura dan Ino masih tinggal disini. Mereka berencana akan keluar dan tinggal bersama kekasih mereka setelah Temari berhasil meyakinkan Shikamaru bahwa itu tidaklah merepotkan, Sakura setelah Itachi kembali dari luar negeri beberapa bulan lagi, Ino dan Sai setelah kuliah Ino selesai. Tenten baru akan bergabung dengan Neji dan Gaara, di apartemen Neji dan Sasuke sebelumnya, setelah dia menyelesaikan kuliahnya dan mendapatkan pekerjaan. Sebelum itu terjadi dia akan sering mampir tentu saja. Sedangkan Hinata masih sama seperti biasa. Dia masih memasak bagi mereka semua, meski awalnya Sasuke tidak suka dan sempat ribut gara-gara itu. Kini keduanya bekerja sama, karena yang harus diberi makan memang banyak, setelah mendapatkan pengertian dari Naruto dan juga ceramah dari Neji. Neji pun menjadi salah satu dari mereka yang sarapan dan ikut makan malam sesekali di kediaman Namikaze, terkadang bersama Gaara. Semakin ramai saja.

Karena libur sekolah si kembar sudah usai Kushina dengan berat hati harus meninggalkan mereka. Tapi sebelumnya dia berjanji akan berkunjung lagi bersama dengan Minato juga. Naruto sangat berharap hal itu akan terwujud dalam jangka waktu yang masih lama. Dia mencintai ibunya, tapi terkadang dia ingin ditinggalkan sendiri.

"Acaranya jam 4."

Sasuke melepaskan diri dari rangkulan Naruto dan segera bangkit. "Dua puluh menit lagi jam 4! Kenapa tidak bilang dari tadi?!" Sasuke berbalik untuk menuju kamar tapi menoleh lagi ketika melihat Naruto masih santai duduk. "Kenapa malah diam? Kalau kita terlambat Neji pasti akan menceramahiku lagi. Aku tidak mau mendengar ocehannya yang panjang itu. Jarak dari sini ke apartemennya butuh sepuluh menit dengan mobil dan kita bahkan belum bersiap!"

"Santai saja, Sasuke."

"Jangan memintaku untuk bersantai! Ayo cepat bangun!" Sasuke menarik Naruto berdiri dan membawanya ke dalam kamar untuk bersiap. "Ayolah, Naru. Kau bisa memakai bajumu sendiri, kan?" Sasuke sudah sibuk berganti dengan kecepatan tinggi. Saat dia sedang mengancingkan kemejanya Naruto malah memeluknya dari belakang dan dia belum berganti sedikit pun. "Naru, lepas. Aku sedang tidak ingin bercanda sekarang."

"Tenanglah. Kita tidak akan terlambat. Justru mereka yang terlambat."

Sasuke berusaha untuk menyelesaikan kancing kemejanya dengan susah payah dalam posisinya sekarang ini. "Apa maksudmu? Jangan mengigau."

Naruto malah mengeratkan pelukannya pada Sasuke. "Wangimu enak. Kau pakai parfum apa?" Sasuke mendorong Naruto agar melepaskannya ditemani dengan rentetan kata-kata yang tidak didengarkan oleh pemuda pirang tersebut. "Kau semangat sekali ingin pergi ke tempat Neji."

"Bukan begitu!"

Naruto memutar tubuh Sasuke agar mereka berhadapan. Dia mengecup singkat hidung Sasuke dan tersenyum padanya. "Kau manis jika sedang galak padaku."

Sasuke tidak habis pikir kalau Naruto masih saja menggodanya di saat seperti ini. Selanjutnya dia malah ditarik keluar menuju ruangan lain, ruangan yang Naruto sebut ruang Uzuna. Begitu pintu dibuka ternyata sudah ada beberapa orang disana yang sedang mempersiapkan ini itu. Sai, Sakura, Ino, Temari, Hinata, dan juga Tenten, semua sedang sibuk dengan persiapan pesta. Tinggal tokoh utamanya saja yang belum datang. "Kenapa tidak bilang padaku?"

"Karena aku ingin bersantai-santai denganmu. Lagipula mereka sudah terbiasa dengan hal semacam ini, lebih baik kita tidak mengganggu."

Sasuke menghela napas. "Pantas saja kau tenang-tenang." Setelah mulai terbiasa tinggal dengan semuanya di rumah ini, Sasuke tidak lagi merasa terganggu dengan keberadaan mereka para perempuan. Dia juga sudah bisa mengontrol emosinya asalkan Naruto ada bersamanya. Yup, Naruto, hanya Naruto, bukan Narumi. Jika bersama Narumi terkadang Sasuke malah menjadi semakin temperamen. Entah disengaja oleh Narumi atau tidak. Sasuke terkadang mengobrol dengan mereka, para gadis, meski dia masih belum mau disentuh dengan alasan apapun. Tapi semua itu hanya berlaku bagi mereka para gadis Naruto saja. Ya, mereka masih disebut begitu dan Sasuke tidak keberatan. Jika sudah di luar rumah maka Sasuke yang pendiam yang akan muncul.

"Hei, kalian berdua. Masih ada tiga belas menit sebelum jam 4. Lakukan sesuatu di tempat lain selama itu dan kembali kemari ketika sudah jam 4 tepat." Ino berkacak pinggang dari sudut ruangan bersebrangan dengan mereka.

"Lihat, kan. Gara-gara kau kita diusir. Ino-chan tidak pernah mengusirku sebelumnya."

"Naru-chan!" Ino masih berkacak pinggang.

"Iya iya, kami keluar." Naruto menarik Sasuke keluar dan menutup pintu. "Tiga belas menit katanya. Apa yang bisa kulakukan denganmu hanya dalam tiga belas menit?" Kedua tangannya melingkar di pinggang Sasuke mesra, seulas senyum jahil terukir di wajah tampannya.

Tanpa diinginkannya semburat tipis muncul di pipi Sasuke. Tangan yang melingkar di pinggangnya dia lepas paksa lalu menariknya menuju kembali ke kamar Naruto. "Aku akan membantumu bersiap. Jangan berpikir macam-macam." Meski Sasuke berkata begitu lebih kepada meyakinkan dirinya sendiri daripada untuk meyakinkan Naruto. Mengetahui hal tersebut Naruto sengaja melakukannya dan sering menggodanya dengan cara yang sama.

Pukul empat tepat bel kediaman Namikaze berbunyi menandakan aktor utama perayaan hari ini telah datang. Semuanya segera berkumpul di ruang Uzuna dan memulai pesta mereka. Sebagai tanda bahwa mereka semua ikut senang, masing-masing memberikan hadiah kepada pasangan unik kita. Tentu saja diperuntukkan bagi mereka bertiga, Neji, Gaara, dan Tenten, bukan hanya Neji dan Gaara.

"Hei Neji, emangnya keluarga kamu bakal ngebolehin kalau kamu punya dua istri?" goda Ino. HInata yang duduk tidak jauh darinya mengeluarkan senyuman yang tidak dapat diartikan.

Atas pertanyaan yang tidak terduga ini kedua "calon istri" yang dimaksudkan menatap Neji dengan penuh harap. 'Bukankah ini terlalu cepat untuk memikirkan pernikahan?' pikirnya. Mereka bertiga baru saja menjalani hubungan selama satu bulan. Sebelum menjawab Neji melemparkan tatapan kesal ke arah Ino yang diabaikan oleh si gadis. "Kurasa selama aku bisa mempertanggung jawabkannya mereka tidak akan keberatan." Karena satu pertanyaan tadi semua mulai ikut menggoda Neji dan memberikan begitu banyak pertanyaan yang membuatnya kewalahan untuk menjawab. "Kalian semua semakin seperti Sasuke saja yang tidak bisa diam jika sudah membuka mulut."

"Hei!" Sebelum Sasuke bisa meneruskan ocehannya Naruto segera menutup mulutnya menggunakan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya menahan Sasuke untuk menyerang Neji. Tentu saja Sasuke tidak berdiam diri dan memaki dalam hati sambil mencoba melepaskan diri.

Terlihat sebuah seringai muncul di bibir Neji melihat ketidakmampuan sahabatnya. Sambil merangkul Gaara dan Tenten di kedua tangannya dia berbicara dengan nada mengejek. "Kurasa mulai dari sekarang hidupku akan menjadi lebih tenang. Terimakasih, Naruto. Kau telah menyelamatkan telingaku dari ancaman tuli seumur hidup." Sudah pasti ucapan tersebut membuat Sasuke semakin beringas untuk melepaskan diri dan menyerang Neji.

Naruto sudah hampir mengeluarkan semua kekuatannya untuk menahan sang kekasih, namun dia belum merasa terancam dan malah menjawab Neji dengan santai. "Senang sekali bisa membantu, Neji. Jika ada hubungannya dengan Uchiha satu ini aku tidak keberatan apapun itu." Sekarang Sasuke mengarahkan tatapan tajamnya ke arah orang yang sedang mendekapnya mencegahnya menyiksa sahabatnya sendiri namun malah berbalik bersekongkol. Entah makian apa yang Sasuke ucapkan di dalam hatinya, karena Naruto belum mengizinkan Sasuke untuk membaginya pada mereka semua hanya dia yang tahu pasti apa itu. Meski bagaimana dia bisa tahu masih menjadi misteri. "Maaf semuanya, aku harus mengendalikan calon istriku ini dulu. Kalian nikmati saja pestanya. Sekali lagi selamat ya, Neji, Gaara. Kau juga Tenten, dan yang lainnya. Tidak perlu berpamitan jika akan pulang, mau menginap pun boleh. Sai akan mempersiapkan kamarnya nanti. Aku permisi dulu."

Begitu melepaskan tangannya dari mulut Sasuke, Naruto segera mengangkatnya dan menggotongnya keluar. "Hei! Lepaskan aku, Naruto! Apa yang kau lakukan? Kau mau bawa aku kemana? Aku belum menyelesaikan urusanku dengan si Neji. Rambutnya itu akan benar-benar kujambak dan kugunting kecil-kecil. Naruto! Kau dengar aku?!" dan seterusnya. Orang-orang yang ada di ruangan Uzuna hanya mendengar sebagian kecil dari apa yang Sasuke katakan karena Naruto begitu cepat meninggalkan mereka. Neji terlihat puas sekali. Meski dalam hati dia ikut merasa bahagia untuk sahabatnya itu karena akhirnya mendapatkan apa yang selama ini dia cari dan tunggu.

Naruto berjalan santai di dalam rumah masih menggendong Sasuke. Dia tidak begitu mempedulikan kata-kata yang dilontarkan padanya dan terus melangkah seperti tidak membawa beban. Ketika dia merasa menjadi sepi baru dia sadar bahwa Sasuke sudah berhenti bicara. "Sasuke? Kau baik-baik saja?"

"Kau mau membawaku kemana? Kupikir kita akan kembali ke kamar." Nada suaranya terdengar penasaran.

"Di rumah ini banyak sekali ruangan yang bisa kita kunjungi. Tapi jika kau lebih suka di kamar dan melakukan sesuatu denganku, aku bisa berbalik kapan saja. Tinggal katakan saja."

Sasuke sedikit merona, dia bersyukur tidak perlu melihat Naruto sekarang. "Hn." Kamar bukanlah pilihan yang baik saat ini dan lagipula dia penasaran kemana Naruto akan membawanya sebenarnya. Banyak sekali ruangan yang belum pernah dia kunjungi disini. Tidak ada salahnya mencari tahu.

Naruto tersenyum dan melanjutkan perjalanannya. Sejujurnya dia sendiri ingin sekali kembali ke kamar dan melakukan banyak hal pada Sasuke. Hanya saja dia harus menahan diri sampai saatnya tiba nanti. Tenang saja. Itu tidak akan lama lagi. Kau tidak perlu menunggu lama lagi untuk menjadi milikku seutuhnya, Sasuke. Oh, kita sudah sampai. Dengan tangannya yang bebas Naruto membuka pintu lalu masuk tidak lupa menutup lagi pintu di belakangnya.

Sasuke dia dudukkan di sebuah kursi yang ada disana sementara dia sendiri berjalan menuju sebuah rak dan mencari sebuah kotak tertentu. "Sedang apa kita di gudang?"

"Hm?" Naruto terus mencari tanpa menjawab pertanyaan Sasuke. Dimana Ibu menyimpannya, ya? Sejenak dia berpikir untuk meminta Sai membantunya mencari tapi diurungkan. Dari sekian banyak kotak yang ada di ruangan ini kenapa justru tidak ada yang bertuliskan apa yang dia inginkan.

"Naru!"

"Sabar. Nanti kau juga tahu." Jawabannya tidak membuat Sasuke puas malah membuatnya semakin kesal. Tapi membayangkan wajah Sasuke nanti saat melihat apa yang dia temukan membuatnya ingin menggodanya sedikit lebih lama lagi. Lagipula Naruto bukan sengaja menemukannya selama ini, dia memang tidak tahu kotak yang mana.

Jangan-jangan Ibu mengerjaiku saat bilang dia menyimpannya di gudang ini. Awas saja kalau memang itu benar. Oh, ini dia. Kotak itu tertumpuk di bawah beberapa gulungan karpet. Naruto membawanya lalu menaruhnya di pangkuan Sasuke. "Maaf sedikit berdebu, setelah ini jangan lupa bersihkan dirimu ya."

Sasuke menatap kotak di pangkuannya lalu menatap Naruto bertanya. "Apa ini?"

"Buka saja." Dengan sedikit curiga dan juga penasaran Sasuke membuka kotak tersebut. Dia tercengang saat mengeluarkan isinya dan hanya menatap benda tersebut tanpa berkedip. Melihat reaksi Sasuke ini Naruto tidak tahan ingin tertawa tapi yang keluar hanyalah sebuah tawa kecil. Dia mengambil benda tersebut dari tangan Sasuke lalu memakaikannya pada tubuh Sasuke. Kotak tadi dia pindahkan ke lantai lalu setelah semuanya rapi dia memakaikan aksesoris terakhir pada kepala Sasuke. "Sudah kuduga kau terlihat cantik memakai ini."

Sasuke tersadar mendengar apa yang baru saja dikatakan Naruto padanya. Sambil berusaha menarik lepas aksesoris di kepalanya dia berteriak sekali lagi. "Apa-apaan ini?! Jangan mengejekku. Aku ini bukan perempuan tahu! Dan jangan menyebutku cantik. Aku tidak cantik!" Padahal wajahnya merah karena dipanggil begitu. "Meski kau yang melakukannya bukan berarti aku akan memaafkanmu karena memperlakukanku seperti ini. Kau tahu aku tidak suka! Jangan samakan aku dengan para makhluk itu!"

Masih sambil menahan tawanya yang membuat Sasuke sangat ingin memukulnya, Naruto memakaikan lagi aksesoris kepala Sasuke lalu menarik wajahnya mendekat. "Sasuke, aku tidak mempermainkanmu. Ini adalah baju yang dipakai ibuku di hari pernikahannya. Aku ingin kau memakainya juga, aku tidak sabar ingin melihatmu memakainya. Tidak ada hubungannya meski kau laki-laki, kau tetap terlihat cantik bagiku."

"Na-Naruto." Wajah Sasuke semakin bertambah merah. Dia bilang ingin segera menikahiku!

Naruto terkekeh. "Iya benar, aku ingin segera menikahimu. Bagaimana kalau kita menikah sekarang saja?"

"Eeh?!"

Naruto akhirnya tertawa dengan bebas kali ini. Dia tidak tahan melihat wajah Sasuke yang manis dan reaksinya yang polos. Sasuke menghadiahinya sebuah pukulan sayang di kepala karena sudah menertawakannya. "Maaf maaf." Setelah mengendalikan tawanya dia mengecup bibir Sasuke sekilas lalu memeluknya sambil menyandarkan kepalanya di paha Sasuke. "Ah, aku tidak tahan. Kita menikah besok saja, ya."

Sasuke menghela napas lalu menyunggingkan sebuah senyuman. Tangannya mengelus sayang rambut pirang Naruto yang masih bersandar manja padanya. "Terserah kau saja."


Esoknya ketika Sasuke sedang berjalan menuju kelas yang dia ikuti bersama Narumi, ditemani oleh Neji tentunya, mereka mendengar suara-suara berisik dari dalam ruangan. Terdengar beberapa mahasiswa yang sedikit berargumen dengan Narumi sambil menyebut-nyebut namanya. Sasuke dan Neji saling bertatapan bingung. Ada apa lagi sekarang?

Begitu Sasuke memasuki kelas Neji harus berusaha sekuat tenaga untuk melindunginya karena semuanya seketika mengerubunginya ketika sadar akan kehadirannya.

"Sasuke, ini bohong kan? Tidak mungkin secepat ini, kan?!"

"Sasuke-kun, kamu manis banget. Kyaaa!"

"Hei, kapan ini terjadi?"

"Itu pasti photoshop!"

Di antara semua keributan ini Narumi terlihat duduk santai dengan senyuman manis di bibirnya. Apalagi yang kau lakukan kali ini, Naruto?! Jangan melibatkanku dalam kegilaanmu lagi! Aaargh, singkirkan mereka! Sasuke sembunyi di belakang Neji, ekspresi wajahnya ketakutan meskipun dia tahu mereka tidak akan menyentuhnya jika tidak ingin mendapat amukan dari Narumi mereka tersayang.

"Semuanya!" Narumi tiba-tiba berteriak. "Tolong kasih Sasuke-kun jalan, ya. Lagian bentar lagi kelasnya mau mulai loh."

Tak lama kemudian dosen pun masuk dan mata kuliah harus segera dijalankan. Sasuke selamat dari satu mimpi buruk yang masih dia tidak ketahui apa penyebabnya. Dia duduk di sebelah Narumi dan menatapnya penuh curiga. Aku butuh penjelasan.

Narumi tidak segera menjawab malah berpura-pura serius mendengarkan penjelasan dosen padahal terlihat sekali dia sedang menahan senyum. Sasuke yang awalnya kesal lama-kelamaan membiarkannya dan ikut mendengarkan mata kuliah. Di tengah-tengah jam kelas Narumi tiba-tiba saja menyodorkan sesuatu pada Sasuke. Secarik kertas yang bertuliskan, "Aku hanya menunjukkan bagaimana cantiknya istriku." Selanjutnya dia menyodorkan satu benda lagi.

Sasuke mengambilnya dan terbelalak. Itu adalah foto dirinya yang memakai gaun pengantin tradisional Jepang milik Kushina yang diambil Naruto kemarin. Setelah obrolan di gudang kemarin Naruto memaksa dan setengah merengek agar Sasuke mau memakai pakaian tersebut dengan benar layaknya pengantin. Merasa luluh Sasuke menuruti keinginannya dan Naruto mengambil beberapa gambar dengan menggunakan kamera miliknya. Untuk koleksi katanya, ada-ada saja tapi Sasuke tidak bisa menolak. Dan ternyata foto tersebut malah dia perlihatkan pada orang lain. Pantas saja semuanya ribut sekali.

Sadar akan reaksi apa yang akan diberikan Sasuke, Narumi segera menutup mulut Sasuke menggunakan tangannya lalu memeluknya erat. "Kalau pengen protes nanti aja ya. Sekarang kita kan lagi ada di kelas. Kalau Sasuke-kun maksa nanti Naru cium lagi loh, biar ada Sensei juga."

Ancaman tersebut sukses membuat Sasuke menahan makiannya. Tapi bukan berarti dia tidak memaki dalam hati. Setelah yakin Sasuke tidak akan berteriak Narumi melepaskannya dan kembali mengikuti pelajaran. Sasuke memalingkan wajah dan ketika Narumi tidak melihat wajahnya berubah merah. Aku tidak percaya dia memperlihatkanku dengan dandanan seperti itu. Huwaa, memalukan! Kenapa juga dia masih bersikeras berkata kalau aku ini cantik?! Bukankah dia yang lebih suka berdandan seperti perempuan? Naruto bodoh! Seenaknya saja berbuat seperti itu padaku. Tapi kenapa aku malah berdebar-debar? Tenang Sasuke, tenang.

Begitu kelas selesai Narumi segera menarik Sasuke lari keluar gedung menghindari interogasi lebih lanjut tentang foto tadi dari yang lain. Mereka bertemu Neji, Gaara, dan Tenten di luar dan mereka pun menghabiskan waktu makan siang bersama. Ternyata keributan tadi pagi begitu cepat menyebar di kampus sampai Tenten dan Gaara yang beda Fakultas saja mendengarnya.

Awalnya mereka menggoda Sasuke setelah melihat foto tersebut tapi berujung pada saling mengejek dan menggoda satu sama lain. Kira-kira seperti ini obrolannya.

"Hee, Sasuke-kun ternyata cantik juga ya."

"Aku tidak cantik!"

"Lihat aja, padahal ga dimake-up, gimana kalo pake coba. Iya kan, Gaara?"

"Betul. Aku juga tidak menyangka."

"Selama tinggal bersama denganmu dulu aku tidak pernah berpikir kalau kau itu bisa mempunyai sisi seperti ini."

"Diam kau, Hyuuga!"

"Tidak perlu berteriak, Sasuke. Sudah kubilang kan kalau kau ini cantik, mereka saja setuju."

"Kau juga diam, Naruto!"

"Jangan-jangan Gaara juga akan terlihat cantik jika memakai gaun pengantin."

"E-eh?! Neji-kun!"

"Kenapa cuma Gaara? Aku juga bisa dan pasti cantik juga, kan."

"Kalau Tenten sudah pasti. Tapi yang kumaksudkan adalah meskipun Gaara laki-laki tetap bisa terlihat cantik."

"Hah, rasakan itu Sabaku. Kau juga akan dirubah menjadi perempuan oleh kekasihmu."

"Berisik kau, Uchiha. Oh tunggu, apa itu artinya kau mengaku bahwa sudah berubah menjadi perempuan?"

"Aku bukan perempuan! Dasar pohon cabe!"

"Apa yang kau maksud pohon cabe?"

"Lihat saja rambutmu merah, matamu hijau, dan kau kecil seperti cabe rawit. Kata-katamu juga pedas."

"Kau sendiri kepala bebek!"

"Pohon cabe!"

"Kepala bebek!"

"…"

"…"

"…"

"Sasuke tetap lebih cantik."

"Tidak, Gaara pasti lebih cantik."

"Bener juga. Sakura sama Ino pasti bakal heboh kalau denger cerita ini deh. Pasti mereka mau ngajuin diri buat dandanin kalian."

"Diam kalian semua!"

Bisa tebak siapa bilang apa? Yang terakhir itu adalah Sasuke dan Gaara yang berteriak bersama. Untung saja mereka berada di taman belakang kampus yang memang jarang dikunjungi orang. Jika ada orang yang mendengar percakapan mereka terdengar agak gila, bukan?

Setelah hari itu pun dipercaya bahwa Narumi dan Sasuke sudah menjadi sepasang suami-istri. Banyak yang menangis dan juga meratap karena benar-benar kehilangan harapan juga kesempatan. Narumi tidak pernah meluruskan berita tersebut dan malah menikmati keadaan sekarang. Tapi tidak dengan Sasuke. Kenapa? Alasannya simpel saja.

Begini, karena dipercaya mereka suami-istri itu artinya mereka bebas melakukan apa saja. Baik di depan umum maupun secara private. Terkadang Narumi menggoda Sasuke mengenai waktu yang mereka habiskan ketika hanya berdua di depan semua yang mengarah ke hal-hal yang biasanya sepasang suami-istri lakukan. Karena itu tidak terjadi tentu Sasuke tidak setuju tapi tidak bisa protes. Yang lebih parahnya lagi candaan tersebut membuatnya semakin berpikir ke arah sana dan menginginkan Naruto lebih dari sebelumnya. Kenyataan bahwa mereka belum benar-benar menikah dan hal yang ingin dia lakukan tidak bisa dilakukan namun Narumi selalu menggodanya mengenai hal tersebut membuat Sasuke frustasi. Dia sangat ingin disentuh Naruto. Kenyataan lain bahwa Narumi terlihat menikmati keadaannya yang seperti ini membuatnya semakin sakit kepala.

Keadaan ini bertahan sekitar tiga bulan. Selama tiga bulan itu godaan Narumi tidak pernah berhenti dan saat di rumah Naruto meminta maaf dan berjanji tidak akan macam-macam. Hal itu justru membuat keinginannya semakin hari semakin besar. Tarik ulur seperti itu membuatnya gila. Ketika dia bertanya kapan mereka akan menikah Naruto hanya akan memeluknya dan menggodanya tanpa memberikan jawaban yang jelas.

Dan hari ini tiba-tiba saja dia dipanggil pulang ke kediaman Uchiha dan bahkan dijemput untuk memastikan dia datang. Ada apa kalian memanggilku tiba-tiba seperti ini? Aku sedang tidak ingin berdebat dan ingin segera pulang. "Hn."

"Sasuke, kau tahu kami tidak mengerti apa yang ingin kau sampaikan jika kau hanya menatap kami dan menggunakan dua huruf sakralmu itu," ucap Fugaku.

Karena aku memang tidak ingin bicara dengan kalian.

"Biarkan saja, Ayah. Untuk masalah ini kita tidak perlu dia bicara." Suara yang sangat dia kenal muncul dari arah pintu dan tak lama masuklah Itachi. Sasuke membelalak lalu menatap kakaknya itu kesal. "Halo Sasuke, kau rindu padaku?"

Sedang apa kau disini?! Bukannya seharusnya kau ada di tempat lain, jauh dari hidupku! Kenapa malah muncul disini? Ini semua pasti ulahmu, kan? Kau sengaja membuatku datang kemari dan akan berbuat sesuatu dan merusak hidup bahagiaku! "Hn!"

"Ayah, karena aku juga tidak mengerti arti dua huruf itu sebaiknya kita segera selesaikan saja masalah ini."

"Ayah serahkan padamu." Setelah berkata begitu Fugaku beranjak bersama Mikoto yang sedari tadi ada bersamanya meninggalkan mereka berdua.

Itachi mendekat dan berdiri sekitar satu meter di depan adiknya. Dia mengeluarkan sebuah amplop coklat dari balik bajunya lalu melambai-lambaikannya di depan wajah Sasuke. "Aku mendapatkan sesuatu yang menarik dan semuanya ada di dalam sini. Aku merasa sayang jika hanya aku yang tahu dan berniat untuk menyebarluaskannya. Hm, mungkin dia media sosial bagus juga. Lagipula adikku ternyata cantik juga memakai pakaian pengantin."

Dan dalam seketika aksi kejar-kejaran pun dimulai. Sasuke mengejar Itachi berkeliling rumah untuk mendapatkan amplop di tangannya. Jangan sampai dia merusak hidupku lebih dari ini. Dari mana dia bisa mendapatkan foto itu?! Setelah kejadian tiga bulan lalu aku memastikan foto itu tidak akan pernah dilihat lagi oleh orang lain. Bagaimana Itachi bisa mendapatkannya?! Sialan!

Mereka melewati sebuah ruangan yang pintunya terbuka dan tiba-tiba saja Itachi melempar amplop tadi sementara dia terus berlari. Karena amplopnya lebih penting daripada mengejar Itachi, Sasuke berhenti dan masuk ke ruangan tadi. Dia begitu lega ketika mendapatkan benda itu di tangannya. Tapi ternyata itu hanya jebakan. Pintu di belakangnya tertutup lalu terdengar suara pintu dikunci dari luar. Sasuke segera berbalik dan mencoba membuka pintu tapi tidak berhasil. "Terimakasih karena membuat semua ini mudah, Sasuke. Kau baik-baik saja sendirian di dalam sana, ya. Aku pergi dulu."

"Oi, Itachi! Buka pintu ini sekarang juga!" Sasuke tidak bisa lagi menahan amarahnya dan berteriak sekuat tenaga sambil memukul-mukul pintu. "Brengsek. Apa maksudmu mengunciku disini?! Jangan bercanda, dasar kakak tidak tahu diri! Itachi! Kembali kau kemari! Buka pintunya. Buka!" Yang Sasuke dengar justru suara langkah yang semakin menjauh.

Tangannya berhenti memukul dan selanjutnya yang dia dengar adalah keheningan. Sasuke berbalik mengamati dimana dia berada saat ini dan seketika ekspresinya berubah pucat. Amplop yang tadi masih dipegangnya terlepas lalu jatuh ke lantai. Dia terlalu emosi saat mengejar Itachi tadi dan tidak sadar bahwa ruangan yang dia masuki adalah tempat ini. Tidak ada penerangan karena dia tahu lampu di ruangan ini sudah rusak dan tidak pernah diperbaiki. Mengingat dia datang sekitar sore hari itu artinya sebentar lagi akan gelap.

Tubuhnya mulai gemetar mengingat masa lalu. Dia tidak ingin berada disini lebih lama lagi. Sasuke berbalik lagi ke arah pintu dan mulai menggedor-gedor lagi meminta siapapun untuk membukanya. Entah memang sial atau Itachi memang membencinya tidak ada seorang pun yang datang. Semakin lama Sasuke semakin putus asa.

Rasanya ingin menangis, tapi bagi dirinya untuk menangis itu memalukan meski tidak ada yang melihat sekalipun. Sasuke merogoh sakunya dan segera menghubungi seseorang. Meski hanya sekitar empat dering saja sampai orang yang ditelepon mengangkat terasa lama sekali baginya.

"Sasuke? Ada apa menelepon? Kau sedang di rumahmu, bukan?"

"Naruto." Tanpa dia sadari suaranya bergetar.

"Sasuke, kau baik-baik saja? Kau terdengar ketakutan."

"Na-Naru, tolong aku. Aku ingin keluar dari sini. Keluarkan aku. Disini gelap."

"Tenang dulu. Kau ada dimana?"

"Di ruangan..'itu'." Sasuke yakin Naruto tahu ruangan apa yang dia maksudkan. Dulu Naruto jugalah yang menyelamatkannya saat terkunci di ruangan ini selama hampir lebih dari sehari. Tubuh Sasuke terduduk dan dia memeluk kedua lututnya menggunakan tangannya yang tidak memegang hape. "Aku tidak suka disini. Disini pengap dan aku sendirian. Bagaimana jika aku tidak bisa keluar seperti saat itu?"

"Sasuke, tenanglah. Kau akan baik-baik saja. Kau dengar aku? Bagaimana kau bisa ada disana?"

Tangannya meremas celana panjang birunya masih sambil terduduk tak berdaya. "Itachi."

"Itachi?" Sesaat tidak ada suara dari sebrang telepon, Naruto sepertinya sedang berpikir. "Sasuke, aku akan menjemputmu. Kau tidak perlu khawatir, kau akan baik-baik saja. Tunggu aku."

"Cepatlah datang, Naru."

"Aku mencintaimu, Sasuke." Dan sambungan pun diputus.

Begitu dia tidak mendengar suara Naruto lagi Sasuke membiarkan hapenya merosot terlepas dari genggamannya hingga jatuh ke lantai. Dia hanya bisa tertunduk sambil berharap kekasihnya akan segera datang menyelamatkannya. Entah karena ketakutannya atau memang begitu kenyataannya, Sasuke merasa dia sudah duduk disana selama berjam-jam. Dia tidak bisa melihat apapun dan tidak bisa mendengar apapun. Saat meraih hapenya lagi untuk melihat pukul berapa sekarang ternyata benda itu sudah mati karena baterai nya habis.

Sasuke putus asa. Apa yang membuat Naruto begitu lama datang? Bukankah hanya butuh paling lama satu jam untuk sampai kemari dari rumahnya? Apakah dia tertahan oleh Itachi? Atau mungkin sebenarnya dia tidak akan datang?

"Naruto, kau dimana?"


Sasuke mendengar begitu banyak suara di sekelilingnya. Mereka terdengar ribut sekali dan salah satu dari mereka sedang menyentuh kepalanya. Sasuke mencoba mendengarkan lebih baik dan begitu sadar bahwa pemilik suara-suara tadi adalah perempuan seketika itu juga dia bangun dan mencoba untuk menjauh hanya untuk menabrak kepala tempat tidur.

Neji menatapnya kaget dan tangan kanannya tertahan di udara. Sepertinya yang menyentuh kepalanya tadi adalah Neji. "Kau baik-baik saja, Sasuke?"

"Neji? Sedang apa kau disini?" Ingatan mengenai kejadian sebelumnya tiba-tiba kembali. Sasuke mengamati tempat dimana dia sekarang yang dia ingat adalah kamarnya di kediaman Uchiha. Para gadis Naruto semua ada disini ditambah dengan Neji tapi Naruto sendiri tidak ada. "Dimana Naruto? Kenapa kalian semua ada disini?"

"Tenanglah Sasuke, kau akan bertemu dengannya tidak lama lagi."

"Apa maksudmu?" Apa-apaan ini?! Bagaimana aku bisa ada dikamarku? Dan kenapa mereka semua terlihat begitu rapi? Kenapa Naruto tidak ada bersama mereka? Kenap dia tidak ada bersamaku? "Aku ingin menemuinya sekarang."

Sasuke hendak turun dari tempat tidur tapi Neji segera menghentikannya. "Tidak bisa, kau harus menunggu sebentar lagi."

"Aku ingin menemuinya sekarang juga!" Dia masih bisa merasakan sedikit ketakutan dari kejadian sebelumnya. Dia ingin memastikan bahwa Naruto benar-benar datang menyelamatkannya dan bukan sebaliknya. Dia harus melihat wajah itu sekarang juga demi kewarasannya.

Pintu kamar terbuka dan mereka semua melihat Fugaku yang juga sudah rapi masuk dan langsung mendekati putranya. "Sasuke, kau sudah sadar? Baguslah. Ini sudah hampir waktunya, kita harus pergi sekarang."

Apa maksudnya semua ini? Kenapa Ayah juga? Aku tidak mengerti. Apa sesuatu terjadi pada Naruto? Tidak mungkin, kan? Itu tidak mungkin.

Tanpa penjelasan lebih Fugaku membantu Sasuke berdiri dan mendampinginya berjalan. Di setiap langkah yang dia ambil Sasuke merasa jantungnya berdebar semakin kencang. Apalagi tidak ada seorang pun yang bicara padahal ada banyak orang disana. Hatinya merasa semakin gugup dan juga resah. Dia tidak ingin berpikir yang macam-macam tapi jantungnya tidak mau memperlambat debarannya.

Mereka tiba di depan pintu yang menuju ke ruang depan. "Siapkan hatimu, Sasuke." Kata-kata Fugaku membuatnya semakin cemas. Saat ayahnya membuka pintu tersebut Sasuke sempat merasa jantungnya akan berhenti. Begitu semuanya terlihat jelas dia justru berubah bingung.

Semua anggota keluarga ada disana, baik dari sisi Sasuke maupun Naruto. Beberapa kerabat juga hadir dan semua tersenyum saat melihatnya. Di antara semua orang itu dia melihat Naruto berdiri dan mengenakan pakaian yang membuatnya terlihat begitu tampan dan sedang menatapnya. Sasuke tidak mengerti apa yang terjadi disini. Hal selanjutnya yang dia sadari dia dan Naruto sudah berdiri saling berhadapan padahal dia tidak ingat sudah berjalan mendekat.

"Naruto, ada apa ini?" Suaranya lagi-lagi bergetar tapi karena alasan yang berbeda.

"Sudah kubilang aku akan menjemputmu, bukan? Aku hanya menepati janjiku."

Sasuke hanya bisa berkedip tanpa bisa berkata-kata lagi. Inikah yang Naruto maskud dengan menjemputnya? Menjemputnya sebagai seorang istri untuk hidup bersama selamanya? Tubuhnya yang belum lama masih sedikit gemetar kini berubah ringan. Sasuke merasa dia sedang di atas angin, tidak yakin kalau masih menginjak bumi.

Detik selanjutnya yang Sasuke tahu adalah dia dan Naruto sedang bertukar ikrar dan janji. Dia tidak percaya hari ini akhirnya tiba dan dengan cara yang tidak pernah dia duga. Aku tidak akan mengampuni siapapun jika ada yang berani berkata bahwa ini semua hanyalah mimpi.

Naruto baru saja selesai mengenakan cicin pernikahannya lalu mengangkat dagu Sasuke agar menatapnya. "Tentu saja ini bukan mimpi." Dan mereka pun berbagi ciuman pertama mereka sebagai sepasang suami-istri.

Sasuke sempat merasa emosional dan ingin menitikan air mata bahagia. Tapi dengan alasan apapun itu dia tidak akan menangis, tidak di depan banyak orang seperti ini. Ini adalah hari bahagianya dan dia seharusnya tersenyum juga tertawa.

Setelah upacara utama selesai dan mereka berpindah ke perayaan barulah Sasuke menyadari bahwa dia mengenakan pakaian formal serba putih yang menandakan bahwa dialah yang menjasi istri. Naruto menjelaskan bahwa sebenarnya dia sudah merencanakan semua ini lumayan lama dan meminta bantuan semuanya. Masalah dengan Itachi pun salah satunya, walau sebenarnya yang dia minta adalah untuk menahan Sasuke selama satu malam bukannya membuka trauma lama. Naruto berjanji akan memarahi Itachi nanti.

Saking bahagianya Sasuke tidak terlalu mempermasalahkan soal Itachi dan traumanya. Meski begitu dia tidak keberatan jika Naruto ingin menceramahi kakaknya sedikit.

Pernikahan yang hanya dihadiri oleh orang terdekat itu akhirnya selesai. Naruto bahkan mempersiapkan bulan madu mereka. Meski hanya empat hari tapi itu sudah cukup bagi Sasuke. Naruto tetap berjanji akan menggantinya dengan bulan madu yang lebih baik saat libur panjang nanti. Sasuke tidak bisa lebih bahagia lagi.

Keduanya segera berkendara menuju tempat tersebut yang ternyata sebuah rumah kecil yang terletak lumayan jauh dari kota. Di dekat rumah tersebut ada sebuah danau yang indah dan hanya mereka yang ada disana. Meski begitu jarah menuju pemukiman tidak terlalu jauh dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki jika mereka membutuhkan sesuatu. Tempat ini sering Naruto kunjungi dulu saat kecil bersama kedua orang tuanya saat liburan dan sekarang rumah kecil ini dihadiakan padanya.

Hari sudah semakin gelap dan mereka memutuskan untuk menyantap makan malam setelah sebelumnya sempat merapikan barang-barang mereka. "Naruto, terimakasih. Aku bahagia sekali. Bahkan kemarin aku tidak memikirkan sama sekali semua ini akan terjadi."

Naruto tersenyum padanya. "Maaf karena tidak memberitahumu apa-apa. Tapi aku memang ingin membuatnya menjadi sebuah kejutan terindah untukmu."

"Hn." Wajahnya kini sudah berubah merah. Sasuke menyelesaikan makanannya lalu melihat keliling rumah. "Kenapa kau memilih tempat ini untuk bulan madu kita? Bukannya aku tidak suka hanya penasaran saja. Aku merasa seperti hanya kita saja yang tinggal di daerah sini."

Naruto yang juga sudah menyelesaikan makanannya mendekati Sasuke lalu memeluknya dari belakang. "Bagus, bukan? Aku memang belum tahu pasti tapi aku merasa kau pasti tipe yang berisik. Jika disini kita tidak perlu khawatir akan mengganggu tetangga, jadi kau bisa mengeluarkan suaramu tanpa harus menahannya. Aku juga tidak mau orang lain mendengar suaramu, jadi semua bagus kan?"

Jika mungkin warna merah di wajah Sasuke naik dua tingkat sekarang. "Me-mesum!" Belum sempat protes lagi Naruto sudah menggendongnya dan membawanya ke kamar. "Na-Naruto, kita baru saja makan. Kau mau apa?"

"Kenapa? Tidak apa, kan. Perutku pasti kuat."

"Bukan begitu!"

"Jadi tidak mau?"

"Tentu saja mau! Ma-maksudku.. Hm, itu.. Aku…"

Terdengar Naruto terkekeh geli. "Kau manis sekali jika sedang seperti ini." Baru sempat membuka mulut untuk bicara, Naruto sudah mengunci mulutnya dan memulai ciuman panas mereka.

Ciuman yang dia rasakan kali ini sangat jauh berbeda dengan semua ciuman yang pernah Naruto berikan padanya. Yang ini terasa sangat intens dan juga menuntut. Mungkin bukan hanya aku saja yang menahan diri selama ini. Semakin lama Sasuke semakin kewalahan dan merasa tubuhnya semakin panas. Ini saja tidak cukup, dia menginginkan lebih. Naruto menghentikan ciuman mereka dan menjauh sedikit dari Sasuke. Dengan napas tersengal-sengal Sasuke mencoba untuk bicara. "Naruto, kau mau kemana?"

"Tunggu sebentar. Sudah kubilang aku tidak ingin ada yang mendengarmu apalagi melihatmu seperti ini selain aku."

"Tapi tidak ada siapapun disini kecuali kita."

"Kau yakin?"

Sekarang kedua mata biru Naruto melihat kemari. Oke, pesan diterima. Sesuai janji dan karena ini rate-nya tidak akan naik kita tidak diperbolehkan menyaksikan adegan selanjutnya. Yang terpenting adalah sekarang mereka sudah bersatu dalam ikatan pernikahan dan juga bahagia. Kalau masalah pasti ada, tapi tidak akan cukup membuat mereka berpisah. Kalau masalahnya terlalu besar mungkin tinggal dibuat sekuelnya saja, kan?

Hahaha. Jangan, ah.


Akhirnya tamat juga.

Eh? Fandom SasuNaruSasu sepi sekarang? Aku ga ngeh. Hahaha, rencananya ga kan hiatus kok. Ga bisa lebih tepatnya, ga kuat. Setelah ini ada satu cerita SasuNaru yang udah aku siapin. Itu cerita yang udah lama aku buat sebenernya tapi dalam dan sekarang aku translate dan diubah chara-nya jadi SasuNaru (dulunya RPF gitu). Kalau lancar bakal segera di post, tunggu aja ya kalau emang tertarik buat baca J

Terimakasih sekali lagi semuanya!