The Protector
PART 2.
Seorang polisi muda berpangkat 'iptu' mendudukkan dirinya di belakang meja kerjanya. Polisi itu melepas jaket kulit hitam yang sedari tadi ia pakai lalu meletakkannya di sandaran kursinya. Ia memejamkan mata sambil memijit keningnya selama beberapa saat, kasus yang ia tangani selama beberapa bulan belakangan ini benar-benar membuatnya letih. Di tambah sampai sekarang belum juga di temukan bukti yang menjadi titik terang terungkapnya kasus pembunuhan itu. Ketika ia membuka mata ia menyadari sebuah map berwarna hijau gelap yang telah terdapat di mejanya di antara tumpukan file lain. Polisi itu mengerutkan keningnya keheranan, ia mengambil map itu lalu membukanya. Di sana tertulis tentang seorang saksi yang menurut keterangan telah melihat kejadian pembunuhan di gang semalam. Merasa mendapat sebuah titik terang polisi muda itu tanpa sengaja melengkungkan senyum, ia bangkit dan meraih jaketnya kembali lalu berjalan keluar dari kantor sembari membawa map tadi.
Di tengah jalan seorang polisi berkumis tebal berpapasan dengannya.
"Hamzah, apa kamu sudah memeriksa file yang saya letakkan di meja kamu ?" tanya polisi berkumis tebal itu.
"oh, sudah pak." Hamzah menunjukkan map di tangannya. "ini."
"Baguslah." Polisi itu mengangguk. "sekarang kamu mau kemana ?"
"em, saya mau langsung menemui saksi ini."
"kamu semangat sekali, apa kamu tidak mau istirahat dulu ?"
"tidak ada waktu pak. Mungkin pembunuh itu akan beraksi kembali kalau kita tidak bertindak cepat."
Polisi itu tersenyum. "iya juga. Semoga berhasil, ya."
"terima kasih, pak."
Hamzah pun segera menuju motornya yang terparkir, menyalakannya kemudian memacunya membelah jalan raya.
Kinal baru saja memasuki rumahnya. Suasana terlihat sepi, lampu-lampu pun belum dinyalakan sehingga ruangan menjadi remang. Hanya sinar matahari yang hampir tenggelam yang merasuk lewat celah ventilasi menerangi rumahnya. Kinal mengambil ponselnya dari saku celana. Di sana ternyata sudah ada pesan dari mamanya.
"Nal, mama sama papa ada urusan penting di luar, kyanya pulangnya agak malem jadi kamu jaga rumah ya. Kalo takut sendirian minta aja Ve datang ke rumah buat nemenin kamu."
"haah.." Kinal menghela napas, ia lempar ponselnya sembarang di atas sofa lalu berjalan ke dapur mengambil sebotol minuman dingin dari kulkas dan meminumnya.
'KRRIING. !'
Tiba-tiba telepon rumahnya berbunyi. Kinal segera berjalan ke ruang tengah lalu mengangkatnya.
"halo,"
"..."
Kinal mengerung. Tak ada jawaban. Kinal pun mengira itu hanya salah sambung dan langsung mematikannya kembali.
'KRIING. !'
Telepon berbunyi lagi, Kinal yang baru saja akan duduk pun terpaksa kembali ke tempat telepon itu.
"halo,"
"..."
Namun kembali tak terdengar jawaban.
"siapa sih !" rutuk Kinal sambil menghempaskan gagang telepon itu di tempatnya.
'KRIING. !'
Untuk ketiga kalinya telepon kembali berbunyi. Kinal bersumpah jika tak ada jawaban lagi ia tak akan sudi mengangkat telepon untuk keempat kalinya.
"halo, ini siapa. Tolong kalo gak penting gak usah telepon-telepon !"
"ini saya mbak," kali ini rupanya ada balasan dari si penelepon. Suaranya terdengar tak begitu asing di telinga Kinal.
"siapa ya ?" tanya Kinal.
"ini saya, kita pernah ketemu malam itu."
Kinal mengerutkan keningnya, ia tak mengerti dengan perkataan si penelepon yang terdengar seperti suara seorang pemuda itu.
"maksud kamu apa, ya ? malam... kapan ?"
"malam itu hujan, mbak melihat saya di gang, setelah saya baru saja membunuh seseorang." Ucapan terakhir orang itu benar-benar membuat Kinal tertegun. Jantungnya tiba-tiba saja berdetak kencang, Kinal menjatuhkan gagang telepon di tangannya. Ketakutan langsung menyelimutinya. Sekarang pembunuh itu sudah mengetahui siapa dirinya, dan mungkin sebentar lagi ia akan ikut menjadi korban, pikirnya.
'TOK, TOK, TOK'
Kinal menolehkan kepalanya ke arah pintu dimana suara ketukan terdengar. Dengan tubuh yang masih gemetaran ia melangkahkan kakinya, berjalan ke arah dimana stick golf ayahnya tersimpan lalu mengambil salah satunya. Kinal kemudian berjalan ke arah pintu, perlahan ia pegang handle pintu itu dengan tangan kiri sementara tangan kanannya bersiap mengayunkan stick golf ke arah seseorang yang ia sangka sebagai si pembunuh yang baru saja menerornya. Pintu terbuka perlahan, ketika sebagian pintu telah terbuka langsung saja Kinal ayunkan stick golf itu sekuat tenaga.
'BUK !'
"arggh !" terdengar pekikan seorang laki-laki. Namun Kinal tak mempedulikannya, ia terus saja mengayunkan stick golf di tangannya berulang-ulang.
"hey, hey, hey ! stop !" Kinal masih saja memukulkan stick golf itu sampai seseorang yang dipukulnya menangkap stick golf Kinal dengan kedua tangannya.
"tenang dulu. Saya bukan orang jahat." Kata orang itu.
"aku gak percaya, dasar psikopat !" Kinal meronta berusaha melepaskan stick golf dari cengkraman orang itu.
"saya ini polisi !" lelaki itu akhirnya mengeluarkan tanda pengenal kepolisiannya. Kinal berhenti dan melihat tanda pengenal itu.
"a-apa ini asli ?"
"asli lah !"
"k-kalo gitu, maaf deh pak. Soalnya aku baru aja dapet teror lewat telepon. Jadi..."
Polisi muda itu meringis sambil mengusap-usap bagian tubuhnya yang terasa nyeri.
"jadi gitu ? pantesan." Polisi itu mengedarkan pandangannya pada sekitar lingkungan rumah Kinal selama beberapa saat, lalu beralih pada Kinal lagi. "sekarang kamu tenang aja. Saya akan jagain kamu." Ucap polisi itu sembari tersenyum.
"Nama ku Hamzah." Polisi muda itu mengulurkan tangannya. Kinal pun membalas.
"Kinal."
Keheningan terjadi setelah kedua tangan mereka terlepas. Sampai akhirnya Kinal memutuskan mempersilahkan polisi bernama Hamzah itu masuk.
"ehm.., silahkan masuk."
"oh iya, makasih."
Mereka berdua pun memasuki rumah. Beberapa meter dari rumah Kinal seseorang terlihat sedang mengamati dari balik semak-semak. Kedua matanya yang tajam tak henti-hentinya memandang ke arah rumah itu sedari tadi.
Ia mendengus kesal. "polisi itu lagi."
Kinal menyalakan lampu di rumahnya karena hari yang mulai gelap. Hamzah mengitarkan pandangannya di dalam rumah Kinal, dan sepertinya pukulan Kinal yang tadi masih terasa.
"maaf ya, tadi aku ngira kamu orang jahat itu jadi aku pukul deh." Kata Kinal sembari meletakkan stick golf ayahnya di tempat semula. "eh, aku gak papa kan gak manggil "pak" kamu kan masih muda."
Hamzah tersenyum, "gak papa, kok. Lagian juga gak begitu sakit."
"rasanya tulangku ada yang remuk tadi." Kata Hamzah dalam hati.
"bagus, deh." Kinal tersenyum. "eh, iya. silahkan duduk."
"iya, makasih." Hamzah duduk di sofa berwarna coklat di ruang tamu Kinal.
"mau minum apa ?"
"terserah."
"oke, tunggu bentar."
Beberapa menit kemudian Kinal datang dengan dua gelas berisi jus di tangannya. Kinal meletakkan salah satunya di hadapan Hamzah dan satunya ia minum sendiri.
"bisa aku tanya sekarang ?" ucap Hamzah setelah meminum jus-nya.
"silahkan."
"apa kamu benar melihat dengan jelas pembunuhan di gang kemarin malam ?"
"iya. Aku lihat dengan jelas ciri-ciri orang itu, terus aku juga ingat suaranya karena tadi dia nelepon aku, mungkin maksudnya neror. Tapi aku gak bisa lihat wajahnya karena waktu itu gelap." Jelas Kinal. Hamzah mengangguk.
"gimana ciri-cirinya ?" Hamzah mengeluarkan sebuah note dan ballpoint dari sakunya.
"dia laki-laki, waktu itu pake kaos warna merah, jaket abu-abu terus celana jeans, iya itu. Tingginya sekitar dua meter kurang lah." ungkap Kinal sembari mengingat-ingat. Hamzah segera mencatat keterangan Kinal dalam note-nya.
"kamu bilang penjahat itu tadi neror kamu di telepon."
"iya."
"berarti sekarang dia sudah tahu siapa kamu. Dan..." Hamzah menengok ke arah pintu. "mungkin dia mengawasi kamu."
"hah ? terus gimana ?" ucap Kinal cemas. Hamzah menolehkan wajahnya menghadap Kinal, menatapnya serius.
"kamu tenang aja. Aku akan jagain kamu." Entah bagaimana, ucapan Hamzah membuat perasaan Kinal menjadi tenang. Ia merasa terlindungi dengan adanya polisi muda itu. Mungkin dialah pelindung yang dikirimkan Tuhan untuk menjaganya setelah tak sengaja melihat kejadian mengerikan itu. Memang tidak mungkin Kinal bisa bertahan tanpa adanya seseorang yang menjaganya, karena seorang psikopat gila sedang mengincar nyawanya setiap saat.
Pukul 06.31 Kinal telah siap dengan seragam sekolah dan segala perlengkapannya. Kinal keluar dari rumahnya dan mengambil sepeda yang biasa ia pakai ke sekolah. Namun, ketika ia baru saja melangkahkan kakinya menuju garasi tempat sepedanya tersimpan tiba-tiba terdengar suara klakson dari luar.
'tin, tin.'
Kinal otomatis menolehkan wajahnya ke samping. Ia melihat, di luar pagar rumahnya yang sudah terbuka Hamzah tengah menyandarkan diri di jok motor bebeknya sembari tersenyum.
"aku anterin, biar aman !." Ucapnya lantang. Kinal tersenyum.
"gak usah. Gak papa kok. Lagian ini kan masih pagi."
"orang itu gak peduli waktu, begitu ada kesempatan dia pasti akan mengambilnya." Kata Hamzah dengan intonasi serius. Kinal bergidik ngeri mendengarnya, dia paham betul jika orang itu yang di maksud Hamzah adalah psikopat gila itu.
"ya udah deh." Kinal pun berjalan cepat ke arah Hamzah. Ia akhirnya membiarkan polisi itu mengantarkannya ke sekolah.
Sekitar sepuluh menit kemudian mereka sampai, Kinal turun dari jok motor Hamzah.
"makasih ya. Jadi gak enak ngrepotin." Ucap Kinal.
"gak papa. Ini udah tugasku memastikan kamu aman. Oh ya, nanti aku jemput lagi. Jangan pulang dulu." Kata Hamzah sembari memutar balik motornya dan berlalu pergi sebelum Kinal sempat menjawabnya.
Kinal yang masih diam di tempatnya memandangi Hamzah yang terlihat mulai menjauh lalu menghilang di persimpangan jalan. Ia tersenyum. Tak lama kemudian ia berbalik dan berjalan menuju ke kelasnya.
Sama seperti hari-hari lainnya, Ve sudah duduk manis di kursinya menanti Kinal. Melihat Kinal yang berjalan mendekat, Ve tersenyum.
"selamat pagi, Kinal." Sapa Ve seperti biasanya.
"pagi Ve." Balas Kinal sembari duduk di kursinya.
"kamu udah sembuh pusingnya ?"
"udah sayang... perhatian banget sih, jadi gemes !" kata Kinal sambil meremas kedua pipi Ve yang chubby itu. Lalu bel masuk pun berbunyi. Kedua sahabat ini pun menghentikan candaan mereka ketika guru pengajar masuk beberapa menit kemudian.
Bel tanda pulang telah berbunyi beberapa menit lalu, Kinal dan Ve duduk di bangku di luar gerbang sekolah mereka menunggu jemputan masing-masing.
"kamu mau pulang sama aku aja, Nal ?" tawar Ve sambil menjilat es krim yang baru dibelinya.
Kinal tersenyum penuh arti. "gak usah."
Melihat senyum Kinal, Ve merasa heran. "kenapa sih ?"
"gak kok. Hehehe..."
Tak lama kemudian sebuah sepeda motor berwarna biru-hitam berhenti di depan mereka. Sang pengendara membuka helm-nya.
"udah lama ya ?"
"belum kok. Kita baru keluar." Kinal berdiri. "duluan ya, Ve."
Ve yang masih duduk tertegun menatap Kinal yang kini sudah duduk di jok motor Hamzah. Es krim di tangannya mulai meleleh. Hamzah kemudian memacu motornya, membawa Kinal menjauh dari posisi Ve.
"s-siapa ya ?"
Di dalam sebuah ruangan yang temaram, hanya sinar dari sebuah lampu meja yang redup yang menyinari pandangan seorang pemuda yang tengah sibuh mengasah sebuah belati besar.
'sriing.'
Suara gesekan bilah pisau itu dengan gerinda seakan menyayat siapapun yang mendengarnya saat ini. Bilah pisau yang terlihat sangat terawat itu mengkilap di kenai sinar dari lampu meja, menandakan tajamnya pisau tersebut. Pemuda berkulit sawo matang berkumis tipis itu menyeringai memandangi bayangan wajahnya yang terpantul di pisau itu.
"besok, semuanya akan berakhir. Tunggu aku..."
'dep !' pemuda itu menancapkan pisaunya di atas sebuah foto seorang gadis berambut pendek.
"Kinal." Sambungnya.
BERSAMBUNG...
