The Protector

PART 3.

Rasanya baru sekitar empat puluh delapan jam lalu Kinal bertemu dengan Hamzah, sosok polisi muda yang menjadi pelindungnya saat ini. Namun, entah mengapa ia sudah merasa nyaman dengannya. Seperti lilin di dalam kegelapan, Hamzah memberikan harapan pada Kinal untuk tetap bertahan di dalam teror seorang pembunuh. Ia membuatnya yakin, bahwa selalu ada dirinya yang akan memastikannya aman dan terlindungi setiap saat. Di dalam kamarnya Kinal duduk di tepi ranjang menatap bulan dari jendela yang terbuat dari kaca. Ia berpikir, hari-harinya akhir-akhir ini terasa sangat mengerikan sekaligus membahagiakan, ia tersenyum tanpa sadar. Tiba-tiba bayangan wajah Hamzah terlintas begitu saja.

"ah ! ya ampun..." Kinal mengacak-acak rambutnya. Kemudian ia melompat ke tengah ranjangnya, lalu memeluk gulingnya erat masih dengan senyum dan wajah yang sumringah.

Hamzah merebahkan tubuhnya di atas ranjang mungil miliknya. Kedua tangannya ia pakai untuk memangku kepalanya. Di dalam kamar kost yang sederhana inilah seorang Hamzah tinggal. Waktu menunjukkan pukul sebelas malam lebih sedikit, Hamzah melirik jam dindingnya. Baru selarut inilah Hamzah dapat beristirahat seharian ini. Sepintas, terlintas saat dimana sebuah tongkat golf pernah melayang ke punggungnya. Setelah empat puluh delapan jam bekasnya masih tersisa.

"sekarang dia lagi ngapain, ya ?" tanya Hamzah pada dirinya sendiri.

Semenit kemudian ponselnya berbunyi, nada panggilan masuk. Hamzah meraih ponselnya yang terletak di meja tepat di samping kepalanya. Di layarnya terdapat nomor panggilan tak dikenal, Hamzah mengerutkan keningnya heran. Namun, ia segera mengangkatnya.

"halo, selamat malam."

"selamat malam, pak polisi." Jawab si penelepon.

"iya. Malam, ini siapa ?"

"sepertinya anda sangat lelah malam ini. Maaf mengganggu."

Hamzah mengerung. "siapa ini ? Ada kepentingan apa ?"

"saya adalah orang yang selama ini anda cari-cari. Dan... ah, sepertinya saya tidak perlu menyebutkan nama."

Mendengar ucapan orang di seberang telepon tersebut Hamzah tersentak. "kamu... pembunuh itu !?"

"ya. Dan saya punya informasi untuk anda, pak polisi." Ucapnya serius. Hamzah hanya terdiam, ia menunggu si pembunuh itu meneruskan kata-katanya.

"besok, saya akan melakukan pembunuhan lagi."

Hamzah membelalakkan matanya.

"saya akan memberikan petunjuk siapa korban saya dan kapan saya akan menghabisinya. Jika anda, pak polisi, bisa memecahkan teka-teki saya dan menghentikan saya tepat waktu..." ia menghentikan ucapannya sejenak.

"...mungkin anda bisa menangkap saya." Sambungnya.

"heh ! jangan main-main kamu !" bentak Hamzah.

"whoa, whoa... bukannya ini adalah peluang bagus buat anda pak polisi ? biasanya saya akan langsung membunuh tanpa peringatan apapun. Dan seperti biasa juga, anda semua tidak bisa menemukan saya. Hahaha..." ujar si pembunuh dakhiri tawa yang mengesalkan.

"sialan ! kamu pikir nyawa manusia itu Cuma mainan, hah !"

Hamzah masih berusaha menahan kesabarannya sampai tahap akhir. Ia tak bisa memungkiri bahwa perkataan si pembunuh itu memang benar, ia memang tak pernah berhasil menemukan pembunuh itu. Jadi ia tak punya pilihan selain menunggu pembunuh itu menyelesaikan ucapannya. Mungkin ini akan memberikannya peluang, pikirnya.

"entahlah, yang pasti ini sangat menyenangkan. Jadi bagaimana, kita mulai petunjuk pertama."

Hamzah hanya terdiam cemas menunggu si pembunuh meneruskan kata-katanya. Ia yang sudah bangkit dari tidurnya kini mempersiapkan note-nya.

"baik pak polisi, seseorang yang akan saya bunuh adalah ia yang muncul di antara hidup dan mati. Dan, ia telah memakai jalan lain ketika jalannya mungkin tertutup. Bagaimana ? terlalu sulitkah ?" ujar si pembunuh. Hamzah tak menjawab. Ia hanya diam setelah mencatatnya di note.

"anda tidak menjawab, baiklah petunjuk berikutnya. Dia tinggal di antara bunga kamboja. Itu saja."

"apa tidak ada petunjuk lain ?" tanya Hamzah cepat.

"haha. Pak polisi sepertinya dari nada bicara anda, anda merasa kebingungan ya ? tidak pak polisi. Itu saja, selamat berpikir."

'tut...tut...tut...'

Sambungan telepon pun diputus begitu saja. Hamzah masih terdiam, menatap lembaran note-nya yang tertulis petunjuk-petunjuk buntu yang di berikan si pembunuh.

"dasar pembunuh sialan !" geram Hamzah.

Waktu menunjukkan pukul dua lebih sepuluh menit, bel telah berbunyi sepuluh menit lalu. Kinal yang sudah menanti Hamzah di bangku di dekat gerbang sekolahnya mulai merasa gusar. Hamzah belum datang juga. Tak lama kemudian sebuah sepeda motor berhenti di depannya. Namun, bukan Hamzah. Si pengemudi membuka helm-nya, seorang lelaki muda berkulit sawo matang dan berkumis tipis tersenyum melihat Kinal.

"selamat siang, kamu yang namanya Kinal, ya ?" tanya lelaki itu ramah dengan suara yang agak serak.

"i-iya, kamu siapa ?"

"oh, saya temannya Hamzah. Nama saya Heri. Dia lagi ada urusan penting, dan katanya saya suruh jemput kamu." Jelas lelaki bernama Heri itu. Kinal yang mendengar nama Hamzah tak memasang kecurigaan sedikit pun.

"ini.." Heri memberikan sebuah helm lainnya untuk Kinal. Kinal menerima helm tersebut lalu naik ke jok belakang motor bebeknya. Semenit kemudian, sepeda motor itu telah melaju di tengah jalan raya.

Jalan yang di penuhi pepohonan dan sedikit sepi itu dilalui Kinal. Ia mulai merasa sedikit aneh dengan keadaan ini, ini jelas bukanlah jalan menuju rumahnya.

"pak, anda polisi juga kan ?" tanya Kinal memastikan.

"hm ? emm... begitulah." Jawab pria bernama Heri itu ambigu.

Kinal mengerutkan keningnya. "k-kita mau kemana, pak ? ini sepertinya bukan jalan ke rumah saya."

"kita mampir dulu." Ucap Heri dengan nada tajam. Kinal pun memilih diam.

Beberapa menit kemudian Heri menghentikan motornya di depan sebuah rumah yang berdiri sedikit berjauhan dari rumah-rumah lain di sekitar lingkungan itu.

"kita sudah sampai." Ucap Heri. Kinal pun turun, lalu mengamati rumah sederhana berwarna putih itu.

"i-ini rumah siapa ?" tanya Kinal.

"rumah saya."

Kinal bergidik ngeri. Pria itu, Heri, nada suaranya berubah. Kinal mengenali suara itu. Itu suara si pembunuh waktu itu. Yah, Kinal tak pernah bisa lupa. Perlahan, Kinal menoleh ke arah Heri. Setelah mereka berhadapan kembali, Kinal langsung melihat sebuah seringai mengerikan. Heri yang sudah membuka helm kini menyeringai ke arahnya. Seakan terpaku ke Bumi, Kinal tak bisa menggerakkan kakinya walau ia ingin segera pergi dari sana.

"Kinal, selamat datang."

'DUAK !'

Dengan sekali pukulan yang lumayan keras di tengkuknya Heri membuat Kinal tak sadarkan diri. Ia langsung membawa tubuh Kinal memasuki rumahnya. Keadaan yang sepi ini membuatnya lebih leluasa.

"Hamzah, ini. Ini data yang kamu minta." Ucap seorang polisi berpakaian preman sambil menyerahkan beberapa kertas yang terbendel menjadi satu dengan penjepit. Hamzah menerima kertas itu dengan gusar, lalu mengamatinya. Beberapa saat kemudian Hamzah mengalihkan pandangannya pada polisi tadi.

"Dana, kamu ikut saya." Kata Hamzah.

"kemana ?"

"kita harus menghentikan pembunuh itu."

Hamzah langsung bergegas pergi diikuti seorang polisi bernama Dana tadi. Tak lupa, ia membawa note-nya dan kertas yang baru saja ia terima.

Sekitar lima belas menit kemudian Hamzah menghentikan sepeda motornya di pinggir jalan. Ia ambil kertas tadi dan note-nya. Lalu mengamati petunjuk yang di berikan si pembunuh semalam. Hamzah yang merasa harus bertindak cepat tak memikirkan hal lain selain pemecahan petunjuk-petunjuk itu yang ia kira bisa digunakan untuk menghentikan si pembunuh. Bahkan, ia melupakan Kinal.

"dia tinggal di antara bunga kamboja." Gumam Hamzah ketika membaca tulisan di note-nya. Kemudian ia melihat ke arah papan nama jalan tidak jauh dari situ yang bertuliskan ' .'

"apa kamu yakin Dan, kalau teka-teki yang ini maksudnya targetnya adalah orang yang tinggal di jalan kamboja. ?" tanya Hamzah memastikan. Dana mengangguk yakin menaggapi rekannya itu.

"iya. masa begini aja kamu gak ngerti, sih ?" kata Dana.

"lalu, yang ini gimana ?" Hamzah menunjuk tulisan lain dalam note-nya. Dana menatap tulisan itu dengan seksama, sekilas dahinya berkerut, tanda ia tengah berpikir.

"coba lihat nama-nama warga yang tinggal di jalan ini." kata Dana. Hamzah memberikan kertas berbendel tadi. Dana menatap kertas di tangannya yang berisi nama-nama orang-orang yang tinggal di jalan ini yang tadi ia cari datanya sendiri. Tidak butuh waktu lama bagi Hamzah menunggu Dana. Hingga akhirnya Dana pun selesai.

"oke. Kita ke rumah nomer 18 ini." ucap Dana memberi arahan.

"ada apa di sana ?"

"udahlah. Cepet."

Tanpa banyak tanya lagi, Hamzah segera memacu sepeda motornya menyusuri jalan Kamboja itu mencari rumah nomer 18.

Perlahan kelopak matanya terbuka, rambutnya yang tak terlalu panjang terurai ke depan menghalangi cahaya. Kepalanya yang tertunduk coba ia tegakkan, namun terjatuh kembali. Tengkuknya tiba-tiba terasa nyeri.

"ah.." Kinal reflek mendesah karena rasa sakit di tengkuknya itu. Tersadar, Kinal menyadari bahwa tubuhnya telah terlilit tali tambang. Kemudian, pintu terbuka dan seseorang masuk. Kinal masih belum melihat siapa itu, tapi ia sudah tahu.

"kamu sudah sadar, kan ?" Heri berjalan mengitari Kinal beberapa kali. Sedangkan Kinal sendiri masih terdiam menunduk. Heri memegang dagu Kinal lalu menegakkan kepalanya dengan keras hingga membuat Kinal meringis menahan sakit. Heri yang sudah melihat wajah Kinal yang kesakitan mengamat-amatinya selama beberapa saat.

"kamu cantik juga, ya." Kata Heri.

"..mau apa k-kamu ?" tanya Kinal. Heri melepaskan genggamannya pada dagu Kinal.

"bukan apa-apa, aku Cuma mau..." Heri mendekatkan wajahnya ke telinga Kinal. "...kamu."

"dasar gila !" kata Kinal dengan suara lemah.

"kamu pasti bingung kemana perginya polisi itu." Heri berjalan di belakang Kinal, ia tak tahu apa yang di kerjakan orang itu.

"dia sekarang sedang sibuk berkutat dengan pengalih perhatian buatanku, huh, dasar polisi bodoh." Cibirnya.

"kenapa kamu bunuh orang-orang itu ?" tanya Kinal.

"gak ada alasan khusus. Entah kenapa, aku suka aja." Jawab Heri. Kinal mendengar langkah kaki Heri yang mendekat ke arahnya, begitu tiba di hadapannya Kinal terbelalak melihat sebuah celurit bernoda darah kering yang di genggam Heri.

"kita akan bermain-main sedikit." Heri menyeringai.

"eh, sebentar, Zah." Sergah Dana sambil menepuk bahu Hamzah yang tengah mengemudikan motornya menyusuri jalan. Hamzah pun segera menepikan motornya.

"apa sih !?"

"apa kamu gak ngerasa aneh ? sebentar.." Dana mengambil kertas berbendel itu lalu menunjukkannya. "..ini rumah nomer 18 itu. Di situ ada nama 'Beby Chaesara.'" Kata Dana. Hamzah hanya mengerut heran karena ia tidak mengerti.

"terus maksud kamu apa ?"

Dana mendecak. "ck, dasar. Di petunjuk itu kan tertulis 'dia yang muncul di antara hidup dan mati. Dan telah memakai jalan lain ketika jalannya tertutup' ya kan ?" Hamzah mengangguk.

"udah jelas kan ? yang muncul antara hidup dan mati itu bayi atau.." Dana menunjuk sebuah nama. "..Beby ini." sambung Dana.

Hamzah melebarkan matanya. "lalu 'Chaesara' ini..."

"ya."

"kamu memang ahli soal yang seperti ini." kata Hamzah kagum.

"bukan itu intinya...!"

"terus apa ?"

"teka-teki ini terlalu mudah sejak awal. Harusnya kalau pembunuh itu mau menunjukkan hal sepenting ini dia akan memakai teka-teki yang lebih sulit lagi." Jelas Dana.

"jadi..."

"ini pasti Cuma pengalihan. Apa kamu tahu kemungkinan siapa sasarannya sebenarnya ?" tanya Dana. Hamzah kembali melebarkan matanya, ia menyadari sesuatu.

"Kinal."

"apa ?"

"kita harus cepat !" seru Hamzah panik. Ia dengan cepat memutar sepeda motornya lalu segera memacunya berbalik arah. Sesuatu yang sangat penting telah di lupakannya. Jebakan yang di buat pembunuh sialan itu nampaknya berhasil mengecohnya hingga ia tak sadar telah membiarkan Kinal lepas dari perlindungannya.

"bodoh !" rutuk Hamzah dalam hati sembari memacu sepeda motor yang berjalan dengan kecepatan melebihi batas.

BERSAMBUNG...