The Protector
PART 4.
Hamzah tiba di depan sekolah Kinal. Pandangannya cemas menatap gerbang sekolah yang sudah tertutup itu. Di sana nampak sudah sepi, jam pulang sekolah Kinal telah berlalu satu jam yang lalu. Kemudian tatapannya terpaku pada seorang gadis yang tengah duduk di bangku dekat gerbang sekolah, tempat di mana Kinal biasa menunggunya. Hamzah langsung menghampiri gadis itu.
"kamu temannya Kinal, kan ?" tanya Hamzah tiba-tiba. Gadis berambut panjang itu pun nampaknya terkejut. Ia melebarkan matanya menatap Hamzah.
"i-iya. kamu siapa ?"
"di mana Kinal ?" Hamzah yang dalam keadaan cemas itu tak mempedulikan pertanyaan gadis tersebut. Ia langsung kembali bertanya.
"K-Kinal tadi sudah di jemput sama seseorang." Katanya. Hamzah tercengang.
"kamu tahu kemana mereka pergi ?" namun gadis itu hanya menggeleng. Gusar, Hamzah khawatir. Matanya mulai memerah pertanda ia sedang tertekan.
"permisi, apa kamu melihat motor yang membawa Kinal ?" tiba-tiba, Dana muncul dan mulai bertanya pada gadis tersebut.
"motor bebek model terbaru, kalau plat nomornya-"
"kamu ingat plat nomornya ?" potong Hamzah.
"kebetulan aku tadi sempet lihat."
"kamu ingat ?" kali ini Dana bertanya.
"kalau gak salah... B 148 SH." Jawab gadis tersebut.
"baik, terima kasih atas bantuannya. Ayo Zah." Dana pun berbalik dan mengisyaratkan pada Hamzah untuk mengikutinya.
"h-hey tunggu, sebenarnya apa yang terjadi sama Kinal ?" tanya gadis itu khawatir. Dana tersenyum hangat padanya sebelum menjawab.
"kamu tenang saja. Teman kamu gak apa-apa." Setelah itu, Dana dan Hamzah pun pergi berlalu dari tempat itu. Gadis yang mereka tanyai tadi itu sekarang hanya diam memperhatikan mereka yang kini mulai menjauh.
Di dalam ruangan pengap mencekam itu Kinal masih duduk terikat di kursi kayu kusam tersebut. Tangisannya yang mulai keluar sejak beberapa menit yang lalu kini mulai berhenti. Mungkin karena ketakutan akan kematian di depan matanya kini membuat Kinal diam, putus asa. Heri duduk di seberang ruangan di hadapan Kinal. Di atas sebuah kursi yang ia siapkan. Senyumnya tak berhenti sejak tadi. Heri menikmatinya, saat keputus asaan akan kematian yang hampir pasti itu ia ciptakan di sekeliling Kinal yang kini hanya menunduk ke bawah. Menatap kosong entah pada apa.
"kamu tahu Kinal ? sebenarnya apa tujuan dari seorang manusia saat ia diciptakan oleh Tuhan ?" Heri bertanya. Kinal tentu saja tak akan mampu menjawab lalu beradu argumen dengannya saat ini. Meskipun ia mendengar dengan jelas setiap katanya.
"jujur saja, aku tidak tahu. Maka dari itu aku mencoba mencari jawabannya. Saat aku melakukan pembunuhan-pembunuhan itu aku bukannya tidak mempunyai tujuan." Heri mulai menatap Kinal dengan antusias. Seakan Kinal saat ini tengah mendengarkan setiap inci kata-katanya.
"lalu aku mulai menyadarinya, aku mendapatkan jawabannya. Satu-satunya tujuan seorang manusia di ciptakan adalah untuk merasakan kematian. Kau pasti masih bingung kan ? biar aku jelaskan." Heri berdiri dan mendekat ke arah Kinal, seakan ia akan mulai menjelaskan sesuatu yang amat penting.
"lihatlah orang-orang yang aku bunuh. Mereka semua masih muda, dan aku melihat sebagian di antara mereka bahkan belum meraih apapun dalam hidupnya. Dengan begitu semuanya jelas. Kematian adalah satu-satunya tujuan mereka hidup. Aku mendapatkan jawabannya. Tapi belum, sedikit lagi." Heri menarik rambut Kinal ke belakang hingga kepalanya mendongak ke atas.
"aku tanya padamu. Apa tujuanmu untuk hidup ? apakah Cuma untuk mati sama seperti mereka ?"
"manusia... diciptakan untuk... mengejar mimpi mereka." Kinal menjawab sambil terbata, kepalanya panas karena rambutnya ditarik Heri. "Kamu... Cuma seseorang yang menggagalkan mimpi mereka. Kamu tidak pantas hidup !"
Setelah itu, Heri menghempaskan kepala Kinal. Ia menatapnya yang kini tertunduk selama beberapa saat. Ia kemudian berlalu meninggalkan Kinal di ruangan temaram yang hanya diterangi sebuah bohlam yang menggantung itu.
"apa kamu yakin tempatnya di sini, Dan ?" tanya Hamzah sembari memperhatikan sebuah rumah sederhana yang terpencil itu.
"yakin." Dana mengangguk. "tidak ada rumah lain di sini. Dan itu.." Dana menunjuk sebuah sepeda motor berplat nomor B 148 SH yang terpakir di depan rumah tersebut.
"itu motor yang menjemput Kinal." Kata Hamzah. Dana mengangguk.
"sebaiknya kita bergerak sekarang. Aku khawatir pada Kinal." Hamzah dan Dana turun dari motornya. Mereka menuju rumah tersebut dengan langkah cepat. Hamzah tak bisa menyembunyikan kecemasannya, walau ia sudah memasang tampang setenang mungkin. Bayangan-bayangan buruk yang mungkin dialami Kinal membuatnya frustasi.
"dia akan baik-baik saja, Zah." Dana berusaha menopang rekannya. Hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini agar Hamzah tetap fokus.
"semoga saja."
Mereka berdua kini sampai didepan pintu rumah itu. Dana melihat kedalam melewati kaca jendela. Kosong.
Dana mengangguk. Hamzah dan Dana mengeluarkan pistolnya, ia pun langsung menendang daun pintunya. Mereka berdua memasuki rumah itu dengan sikap waspada. Tak mereka pikirkan tentang surat perintah yang seharusnya mereka minta dahulu, Hamzah mempertaruhkan reputasinya, Dana sebagai sahabat yang baik membantu rekannya.
Kini mereka menyisir setiap sudut rumah tersebut. Sampai akhirnya Hamzah menemukan sebuah pintu kayu kusam di samping tangga.
"di sini, Dan."
Dana menghampiri Hamzah. Hamzah memutar kenopnya. Ketika pintu itu terbuka mereka mendapati tangga menurun yang gelap, hanya cahaya ketika pintu terbuka yang meneranginya. Hamzah menuruni tangga terlebih dahulu, mengacungkan pistolnya. Beberapa menit menyusuri tangga yang gelap mereka mendapati sebuah pintu lagi, pintu besi yang ternyata tidak terkunci. Pintu itu terbuka sedikit, ada sedikit cahaya menyembul dari dalam. Hamzah memasukinya dengan sangat berhati-hati.
"selamat datang, pak polisi." Sebuah suara menyeruak di tengah ketemaraman itu. Hamzah seketika menoleh ke asal suara. Seketika matanya terbuka lebar. Di tengah ruangan itu Kinal tertunduk lesu terikat di sebuah kursi besi seperti tak ada nyawanya. Di sampingnya ada seorang pria yang memegang sebuah golok berkarat. Tersenyum ke arah Hamzah dan Dana.
"apa yang kamu lakukan padanya !?" bentak Hamzah. "lepaskan dia !"
"apa maksud anda ?" Heri mengusap kepala Kinal. "dia sudah merasa nyaman di sini. Buktinya dia sekarang sedang tertidur."
"Kinal !" panggil Hamzah. Mendengar suara itu, entah apa yang ia rasakan. Kinal membuka matanya lalu menggerakkan kepalanya perlahan. Ia bisa melihat Hamzah di depannya, namun pikirannya sudah terlanjur terganggu.
Melihat tatapan nanar itu Hamzah semakin geram. "Brengsek ! apa yang kamu lakukan padanya !?"
"kita Cuma sedikit bermain, pak polisi." Heri menggerakkan goloknya mendekat ke leher Kinal.
"jatuhkan senjata kamu. Atau dengan terpaksa saya harus menembak kamu." Kali ini Dana berkata memperingatkan pria gila itu. Ujung goloknya mulai menggores kulit leher Kinal.
Heri mendengus. "jika anda menembak saya maka anda juga harus merelakan dia mati terpanggang." Heri menunjukkan sebuah kabel yang ujungnya telah terkelupas di tangannya yang masih bebas. Dana melihat ke daerah di bawah kursi tempat Kinal terikat. Ada genangan air.
"apa yang harus kita lakukan, Dan ?" tanya Hamzah dengan suara yang bergetar. Ia kalut, kalau saja ia menembak mati pria itu kabel di tangannya akan terlepas dan mengenai genangan air di bawah kursi Kinal. Kinal akan mati terpanggang.
"jangan bertindak gegabah dulu. Kinal bisa saja terbunuh." Ucap Dana setenang mungkin.
"sebenarnya apa yang kamu mau ?" tanya Dana pada Heri.
"hahaha..." Heri tertawa, menambah kegilaan dalam ruangan itu. "aku tidak mau apa-apa. Aku sudah cukup dapat jawaban. Mungkin sekarang aku hanya akan membunuhnya. Lalu kalian bisa membunuhku."
Heri bersiap menebaskan goloknya.
"tunggu sebentar !" Dana mencegahnya.
"ada apa ?"
"jawaban apa maksud kamu ? apa kamu yakin sudah mendapatkan jawaban yang benar ?" tanya Dana. Heri mengernyit. Hamzah menoleh ke arahnya, ia mengerti yang di lakukan Dana ini. Ia berusaha mengulur waktu seperti yang di lakukannya sebelumnya. Sementara Dana mengulur waktu, ia akan coba mencari cara menyelamatkan Kinal.
"ya. Saya sudah mendapatkan jawabannya."
"apa pertanyaanmu ? kamu tentunya tidak mau mati tanpa mengetahui jawaban sebenarnya, kan ?" pancing Dana. Ia sepertinya berhasil.
"saya punya pertanyaan. Untuk apa manusia diciptakan di dunia ini ? cepat berikan jawaban kamu !"
Dana memutar otaknya selama beberapa saat.
"jawab !"
"oke. Euhm, manusia diciptakan untuk menjadi penghuni dunia ini. Karena Tuhan tidak akan menciptakan dunia tanpa penghuni, kan ?"
"astaga, jawaban macam apa itu ?" rutuk Dana dalam hatinya.
"maaf," Heri menggeleng. Wajahnya menunjukkan kekecewaan. "jawabanmu tidak memuaskan. Aku hanya membuang waktu."
'SET !' Hamzah tiba-tiba melemparkan pistolnya.
'DAK !' pistol itu mengenai kepala Heri cukup keras. Ia mundur beberapa langkah.
"arghh !" erangnya. Saat itu Heri telah lengah. Dana dengan cepat menerjang tubuh Heri yang tak menyadari gerakannya karena kepalanya yang terasa nyeri. Golok besarnya terlempar, begitupun kabel yang terkelupas itu. Hamzah menghampiri Kinal yang masih tertunduk, buru-buru melepaskan ikatannya.
"Kinal, kamu baik-baik saja ?" tanya Hamzah cemas. Ia langsung memeluk Kinal yang matanya terbuka, tapi belum sadar itu.
Sementara di lain sisi Dana kini menindih tubuh Heri berusaha menahannya agar tak melawan. Dana berusaha mengeluarkan borgolnya. Rupanya lemparan Hamzah cukup keras sampai membuat pria ini lemas, Dana tak perlu bersusah payah. Kemudian Dana membalikkan tubuh Heri dan memasang borgol di kedua tangannya. Heri kini tak berkutik.
"kamu ditangkap atas tuduhan percobaan pembunuhan." Kata Dana. Namun, tiba-tiba Hamzah menyingkirkan tubuh Dana. Ia kemudian langsung menghajar Heri yang sudah terborgol.
"dasar sialan !" umpatnya sembari menghujam wajah Heri dengan tinjunya. Dana yang melihat rekannya yang kalap itu menarik Hamzah menjauh sebelum Heri mati.
"hei, Zah. Tenangkan diri kamu !"
"dia tidak pantas hidup, Dan ! biarkan aku menghabisinya !"
"hei, kalau kamu membunuhnya kamu tidak akan ada bedanya dengan dia !" Hamzah mulai terlihat tenang. "tenanglah. Dia akan di adili dengan setimpal. Kamu tidak perlu khawatir."
"maaf." Kata Hamzah.
"tidak apa-apa. Aku mengerti, sekarang kamu bawa Kinal ke rumah sakit. Aku akan menanganinya."
"baik, aku serahkan dia sama kamu." Hamzah segera menghampiri Kinal lalu menggendongnya keluar. Ia segera membawa Kinal ke rumah sakit.
Satu minggu kemudian...
Kinal terbaring di rumah sakit. Wajahnya masih sayu, tubuhnya masih lesu tapi Kinal sudah siuman. Di sampingnya, Ve tidur dengan kepala yang dijatuhkan pada ranjang Kinal. Tangannya menggenggam tangan Kinal seakan Kinal akan lari saat ia tidur. Kinal memandang sahabatnya, tersenyum lemah. Kemudian Kinal mengguncang tangannya yang digenggam Ve pelan.
"Ve, bangun. Sudah pagi."
"hm ?" Ve telah bangun. Matanya masih terpejam tapi kepalanya sudah terangkat. Kinal ingin tertawa melihat wajah sahabatnya itu tapi ia masih terlalu lemah. Ve mngusap-usap matanya.
"kamu sudah bangun, Nal ?"
Kinal hanya mengangguk.
"kamu mau bolos lagi ? sudah empat hari kamu bolos, lho." Kata Kinal.
"aku masih khawatir tahu sama kamu."
Tiba-tiba pintu terbuka. Hamzah bediri di ambang pintu.
"eh, maaf. Aku kira kalian belum bangun. Jadi aku tidak ketuk pintu." Ucapnya sambil tersenyum.
"gak apa-apa, kok." Ucap Kinal. Hamzah pun masuk ke dalam kamarnya. Ia menunjukkan sekeranjang buah-buahan yang dibawanya.
"aku bawa buah."
"teimakasih." Ucap Kinal. "Ve, sudah ada Hamzah di sini. Kamu bisa pergi ke sekolah sekarang. Aku akan baik-baik saja, kok."
"tapi..."
"aku akan baik-baik saja." Kinal meyakinkankan Ve. Ia pun luluh dan akhirnya berpamintan pada Kinal juga Hamzah. Hamzah kini mengambil tempat duduk Ve barusan di samping Kinal.
"bagaimana keadaan kamu ?" tanya Hamzah.
"masih lemas." Jawab Kinal. "terimakasih ya. Kalau bukan karena kamu... aku pasti sudah mati."
"hei, jangan bicara seperti itu." Hamzah telihat begitu cemas. Kinal menyadarinya, ia merasa bersalah.
"maaf."
Kemudian hening melingkupi mereka. Tiba-tiba Hamzah menggerakkan tangannya meraih tangan Kinal. Ia menggenggam tangan Kinal. Kinal terkejut, tapi ia tak melawan.
"k-kamu..."
"kamu tahu, Nal. Semenjak pertama kali aku kenal kamu entah kenapa aku merasa harus melindungi kamu lebih dari orang-orang yang pernah aku lindungi sebelumnya." Ucap Hamzah sambil menatap mata Kinal dalam-dalam.
"aku ingin terus melindungi kamu, Nal. Ijinkan aku terus ada di samping kamu buat selalu melindungi kamu." Hamzah mengangkat tangan Kinal yang ia genggam. Perlahan, lalu menciumnya penuh kasih. Sementara itu, Kinal tak mengucapkan apapun sedari tadi. Perlahan air matanya mengalir dan jatuh. Tapi itu, air mata bahagianya. Kinal mengangguk sambil menatap Hamzah dengan senyum dan tangis bahagianya.
Tak akan bisa selamanya kita menjaga seseorang yang kita sayangi sepenuhnya. Akan ada saat di mana ia mungkin tersakiti. Namun, itu semua tak masalah. Penderitaan yang terjadi itu bukanlah tanpa alasan. Tetapi sebuah momen di mana hasilnya akan saling menguatkan, dan untuk menopang masing-masing hati. Karena kita bukanlah manusia sempurna.
The End
