Taufan menghela napas sambil memandang keempat Boboiboy dengan tatapan bosan.

"Hanya tinggal melempar buah apel pada Fang, susah banget sih," Ujar Taufan.

"Kami tak ingin bernasib tragis sepertimu, tahu!" Ujar Api menyeringai mengejek. Sedangkan Taufan menggembungkan pipinya sebal.

"Air, Api kejam!" Rengek Taufan sambil memeluk air.

"Bukan urusanku," Ujar Air datar. "Lepaskan pelukanmu. Tak sudi aku dipeluk olehmu, bisa-bisa Fang juga menolakku lagi," Ujarnya kalem sambil melepaskan pelukan Taufan.

"Benar juga! Kalau kita dekat-dekat Taufan, bisa-bisa kita ikut ditolak Fang lagi. Taufan menjauhlah dariku," Ujar Api dengan riangnya.

"Huwaa Hali! Air dan Api kejam padaku!" Rengek Taufan ingin menubruk Halilintar, namun langsung mendapat tendangan penuh kasih dari Halilintar.

"Menjijikan," Ujar Halilintar dingin menatap tajam Taufan yang tergeletak tak berdaya di tanah.

"Hali, tidakkah itu terlalu kejam?" Gempa miris melihat Taufan.

"Tak peduli," Ujar Halilintar langsung berjalan pergi.

"Kau ingin kemana?" Tanya Air. Mengabaikan Gempa yang sedang mencolek-colek tubuh pingsan Taufan, dan Api yang tertawa puas.

"Menemui Fang," Ujar Halilintar acuh tak acuh.

"Oh. Semoga tak berhasil," Ujar Air dengan datarnya.

Halilintar melirik sinis Air sebelum akhirnya benar-benar pergi. Sedangkan Air mengabaikan tatapan sinis Halilintar dan menghampiri Gempa, Api, dan Taufan yang sudah sadar.

"Hey Air, kemana Halilintar?" Heran Gempa saat iris goldnya tak mendapati sosok merah mengintimidasi.

"Dia pergi menemui Fang," Ujar Air kalem.

"Apa?! Kau pasti bercanda!" Kejut Gempa. Air hanya menggedikkan bahunya acuh.

"Tak akan kubiarkan!" Ujar Taufan langsung menggunakan air skeatboardnya dan pergi begitu saja.

"Ah.. Taufan ingin membuat Halilintar senasib dengannya," Ujar Api sambil terkekeh senang.

"Ayo kita susul," Ujar Gempa menarik tangan Air dan Api.

.

.

.

.

Fang sedang berada di kedai Tok Aba, ia sedang meminta tolong pada Ochobot untuk membantunya memperbaiki Jam Kuasanya yang dirasanya sedikit rusak.

"Bagaimana, Ochobot? Apakah bisa diperbaiki?" Tanya Fang memperhatikan Ochobot yang masih serius memperbaiki jam kuasanya.

"Sudah selesai kuperbaiki kok." Ujar Ocho setelah beberapa saat sambil menyerahkan jam kuasa itu kembali pada Fang.

"Syukurlah," Lega Fang.

"Bagaimana bisa rusak?" Tanya Ochobot bingung, "Setahuku akhir-akhir ini tak ada serangan dari Adudu,"

"Oh ini... setiap malam aku selalu berlatih, makanya semalam jam ini rusak karena aku tak sengaja terjatuh dari atap,"

"Jatuh dari atap? Kau tak apa kan, Fang?" Tanya Ochobot panik sambil mengecek tubuh Fang.

"Ayolah,Ochobot. Jatuh seperti itu bukankah hal yang biasa," Ujar Fang memutar bola matanya bosan.

"Oh iya ya,"

"Fang,"

Fang menolehkan kepalanya kebelakang saat mendengar seseorang memanggilnya. "Boboiboy?" Heran Fang.

"Kenapa kau ada disini?" Tanya Halilintar dingin.

"Suka-suka dong," Ujar Fang ketus.

Kening Halilintar berkedut kesal. Kalau tahu Fang ada disini, Halilintar tak perlu capek-capek berjalan kaki pergi kerumahnya tadi. Ia diberitahu oleh adik Fang kalau Fang ada di kedai Tok Aba, Ia lantas pergi dengan gerakan kilat, ia lelah berjalan kaki dan terlebih ia sadar ada yang mengikutinya.

"Ada apa kau memanggilku?" Suara Fang menyadarkannya.

"Kau mau apel?"

Fang menaikkan sebelah alisnya mendengar perkataan Halilintar.

Serius nih? Halilintar manawarinya?

Kalau Fang perhatikan lagi, memang benar ditangan kanan Halilintar terdapat buah merah tersebut. Tapi seriusan Halilintar menawarinya? Maksudnya, Hey, seingat Fang tadi di kedai ini hanya ada ia dan Ochobot. Namun tiba-tiba Boboiboy Halilintar datang dan menawarinya apel. Jangan-jangan Halilintar datang kemari hanya untuk menawarinya apel?

Entah mengapa Fang merasa malu sendiri dengan apa yang baru saja ia pikirkan.

'Hey, Fang, apa yang baru saja kau pikirkan sih!' Pikir Fang merutuki dirinya sendiri.

"Tch, kau dengar tidak sih?" Nada sinis menyadarkan Fang dari lamunannya.

"Oh-Itu.. Boleh deh," Ujar Fang agak tergagap.

Halilintar menyeringai penuh kemenangan, membuat Fang dan Ochobot bingung.

"Memang seharusnya begitu. Tangkap," Ujar Halilintar masih menyeringai penuh kemenangan, melempar buah apel tersebut dengan jarak yang dekat, agar tak ada yang mencoba menggagalkan aksinya.

"Fang!"

Namun Halilintar tak akan mengira jika Taufan datang dan menubruk tubuh Fang membuat keduanya terjatuh ditanah. Dan membuat apelnya—

̶―ditangkap oleh Ochobot.

"Kau ini apa-apaan sih, Taufan?! Sakitlah!" Ujar Fang kesal mencoba menyingkirkan Taufan dari atas tubuhnya.

"Eheheh.. maaf, maaf," Ujar Taufan tertawa tanpa dosa sambil bangkit dari atas tubuh Fang, mengabaikan aura membunuh yang keluar dari tubuh Halilintar.

Fang mendengus kesal sambil membersihkan pakaiannya dari debu akibat pebuatan Taufan tadi. Namun akhirnya ia bergidik ngeri begitu merasakan aura membunuh yang sangat kuat.

"Taufan...," Ujar Halilintar dengan penuh penekanan.

Gempa, Air, dan Api baru saja tiba di kedai Tok Aba.

"Huh... Harusnya tadi kita langsung kemari, dan bukannya pergi ke rumah Fang," Ujar Api mendengus kesal.

"Maaf, aku kan tak tahu," Ujar Gempa kelelahan.

"Hey lihat! Sepertinya Halilintar sebentar lagi akan mengamuk," Ujar Air dengan tenangnya sambil menunjuk Halilintar.

"Sepertinya Taufan berhasil menggagalkan Halilintar," Gumam Gempa menatap buah apel yang berada di tangan besi milik Ochobot. Bukan hanya Gempa, tapi Air dan Api juga menatap Ochobot.

"Ahahahah... Halilintar selamat ya," Api terbahak-bahak.

Halilintar semakin tersulut emosi.

Taufan tersenyum dengan polosnya.

Gempa tersenyum miris, membayangkan nasib Taufan.

Air memasang wajah tak peduli.

Sedangkan Fang dan Ochobot, mereka memasang wajah tak mengerti.

"Ah..., sebaiknya aku pergi sekarang," Ujar Taufan dengan nada yang terpaksa riang.

"Bye!" Langsung saja Taufan pergi dengan air skeatboardnya.

"Kemari kau, Taufan!" dan tentu saja Halilintar tidak akan membiarkan Taufan pergi begitu saja, ia langsung melesat mengejar Taufan dengan gerakan kilatnya.

Fang sama sekali tak mengerti.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Kenapa Halilintar menyerang Taufan seperti ingin membunuhnya?

Dan kenapa Gempa hanya diam saja? Bukankah biasanya ia akan menghentikan Taufan dan Halilintar?

"Hey, Ochobot, sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Fang pada Ochobot dengan nada berbisik.

"Aku juga tak tahu,"

Sedangkan ketiga Boboiboy itu sendiri...

Api masih asik-asiknya menonton pertarungan Halilintar dan Taufan sambil tepuk tangan dan berteriak menyemangati mereka.

Air masih memasang ekspresi tidak peduli dan mencoba untuk tertidur di meja kedai.

Gempa memijit pelipisnya sambil menghela napas lelah.

"Tak apalah. Setidaknya dengan ini yang tersisa hanya tinggal kami bertiga. Good job, Taufan."

TBC

A.N: oh iya! sebelumnya aku juga pernah buat yang seperti ini di fic-ku yang judulnya 'Drabble BoboiFang' tapi fic itu kuhapus karena sesuatu.

oke lupakan. jadi menurut kalian diantara Gempa, Air, dan Api siapa yang harus kupasangkan dengan Fang?