Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : Sasufemnaru
Genre : Hurt/Comfort, Family, Romance
Warning : OOC, Alur kecepatan, Typo, Tidak sesuai EYD, Gender switch, Pendek
¡Happy Reading!
Naruto terus mengeluarkan umpatan nya yang tergelincir dari lidahnya itu. Padahal yang disuruh membersihkan ruangan pak kepala itu Ino, seharusnya. Tapi sepertinya Ino membual jika ia dimintai tolong oleh atasannya.
Naruto segera menyambar kain pel dan ember berisikan air yang digunakan untuk membersihkan ruangan pak kepala. Langkahnya terasa berat saat para karyawan lain menatapnya menyelidik. Tatapan itu seolah menantang Naruto. Meskipun ia tak mendapatkan sambutan hangat di hari pertamanya bekerja, ia tidak boleh membuat kekacauan sedikit pun. Ia tak mau seniornya mencibir dirinya hanya sebagai office girl baru nan payah.
Segera buru-buru Naruto berjalan menuju lift. Setelah pintu lift terbuka, ia langsung masuk tanpa memperhatikan arah pandangannya. Dan tanpa sengaja ia menabrak seorang wanita di depannya. Keduanya terjatuh bersamaan dengan air di dalam ember yang tumpah mengenai jas wanita tersebut.
Naruto segera berdiri dan membungkukkan badannya, meminta maaf atas kecerobohan nya. Gadis itu mempersempit penglihatan nya dan segera berdiri. Ia menaikkan dagunya menatap Naruto sinis.
"Akan kuingat wajah mu!" Desis gadis itu sambil menunjuk hidung Naruto tidak sopan dan melenggang pergi meninggalkan Naruto yang bergeming.
"Dasar bodoh!" Maki-nya kepada kebodohan nya. Padahal puasa untuk tidak membuat ulah di hari pertama baru dimulai beberapa menit sebelumnya. Dan sekarang sepertinya targetnya itu hanya menjadi sebuah ucapan omong kosong belaka.
Ting!
Bunyi pintu lift itu menyadarkan Naruto. Pintu lift tertutup dengan sendirinya, padahal ia belum masuk kedalam. Jika sudah begini ia harus menunggu lagi. Alangkah baiknya jika kita lebih bersabar sedikit. Tapi sifat keras kepala Naruto terlalu dominan, ia tak mau terlambat membersihkan ruangan pak kepala. Jadi ia memilih menaiki anak tangga ketimbang harus menunggu lift itu.
Dengan berat hati, satu-satunya jalan adalah menaiki tangga. Kira-kira ada lebih dari seratus anak tangga yang harus ia lewati untuk menuju lantai 39. Naruto menaiki sebuah tangga yang ukuran nya bisa dikatakan sempit. Tangga itu sepertinya jarang di lewati karyawan. Ya mungkin itu karena tangga tersebut berada di gudang. Naruto tak sengaja menemukan nya barusan. Ia juga sempat berfikir kenapa tangga darurat harus di letakkan di dalam gudang yang jarang diakses karyawan lain.
Sepertiga jam lamanya ia habiskan untuk mencapai lantai tertinggi di gedung tersebut, belum termasuk waktu yang ia gunakan untuk memulihkan tenaganya.
"Akhirnya sampai juga." Katanya setelah mencapai lantai tertinggi di gedung tersebut. Peluh membanjiri kepalanya. Semua tenaganya terasa tersedot saat setelah menaiki anak tangga.
Naruto mengedarkan pandangan nya, mencari ruangan yang menjadi tujuan utamanya. Kakinya ia langkah kan pelan. Ia tak menemukan sebuah pintu di lorong tersebut. Hanya ada sebuah foto yang menyerupai sebuah lambang. Mata Naruto melebar saat melihat sebuah lambang yang terasa tak asing lagi di iris birunya. Perlahan Naruto mendekati foto pajangan tersebut.
"Lambang ini, bukannya lambang ini yang ada di jas milik tousan?" Gumam Naruto sambil menyentuh foto tersebut.
Naruto mengedarkan lagi pandangan nya, dan ia baru tersadar kalau ia sepertinya tersesat. Dia berada di sebuah lorong ber-cat kuning dan di ujung lorong tersebut terdapat sebuah balkon. Naruto menekukkan dahinya dan melangkah ke balkon tersebut.
Ia cukup terperangah saat melihat pemandangan kota dari balkon tersebut. Indah, cukup hanya sepatah kata yang mampu ia gambarkan dari yang apa ia lihat sekarang. Matanya seolah terbius melihat pemandangan yang takjub itu.
Segera ia memutarkan badannya dan kembali turun kebawah. Sepertinya ia salah naik tangga, pikirnya. Namun tanpa sengaja Naruto memencet sebuah tombol lampu. Dengan reflek ia segera menjauhkan tangganya.
Bingung dan kaget menjadi satu. Ia bingung, kenapa ada sebuah tombol lampu sedangkan di lorong tersebut tak ada lampunya. Ia takut nasib buruk akan menimpanya. Tapi Naruto langsung menggelengkan kepalanya, mengidahkan semua pikiran negatif.
Tiba-tiba saja lantai yang Naruto pijak bergetar dan berputar bersamaan dengan dinding yang berada di sebelahnya. Dinding itu berputar 180° sama dengan lantai yang Naruto.
"Ah, kenapa ini?!" Naruto panik tak tertahankan. Segera Naruto mengambil posisi jongkok dan memegangi kepalanya.
"Kami-Sama tolong hambamu ini!" Lirih Naruto merasa kalau hidupnya tak akan lama lagi. Lantai yang Naruto pijak berhenti bergerak.
'Berhenti?' Pikir Naruto dalam hati. Naruto membuka pelan-pelan kelopak matanya. "Sepertinya tuhan masih sayang kepadaku." Tukas Naruto. Ia memuji syukur kepada sang maha kuasa. Keselamatan nya terjaga.
Naruto meneliti ruangannya saat ini yang sepertinya berbeda, "I-Ini dimana?" Tanya Naruto entah pada siapa. Naruto cukup terkejut saat lorong yang ia masuki berubah menjadi ruangan yang aneh.
Gempa tersebut sepertinya merubah tata susunan lorong awal yang Naruto masuki. Ruangan ber-cat putih gading itu terlihat memamerkan barang-barang antik. Kaca-kaca yang melindungi barang-barang tersebut terlihat eksotis dengan aksen yang menarik.
Naruto menganga, mulutnya tak sanggup mengeluarkan pujian yang tepat mengenai ruangan ini. Mungkin saja gempa barusan adalah gempa ajaib, pikirnya.
"Ini seperti di surga," gumam nya.
"Tunggu! atau ternyata benar aku sudah mati dan aku ada di surga?!" Ucapnya dengan meremas rambut pirang nya. Naruto langsung dongkol ditempat dengan kepala merunduk.
"Siapa disana?!" Teriak seorang pemuda tiba-tiba yang datang entah dari mana. Pria bersurai raven itu mendekati Naruto yang bergeming. Setelah sampai, ia berjongkok di depan Naruto dan mengangkat dagu Naruto pelan.
"Malaikat!" Teriak Naruto nyaring saat melihat pemuda tampan yang muncul didepan matanya. Pria itu menutup kedua telinganya dan beranjak berdiri.
Sasuke mengerutkan dahinya menatap kepolosan gadis pirang ini. Sasuke, nama pria itu sudah terbiasa menerima pujian dari seseorang dan ia akan menganggap itu hanya menganggap itu sebuah hal yang sia-sia. Tapi tidak untuk kali ini, perkataan Naruto barusan sepertinya membuat hatinya sedikit senang. Sasuke juga bingung, kenapa ia merasa senang dipuji gadis ini.
"Apa yang kau lakukan disini?!" Sasuke bertanya kembali dengan angkuh. Tapi sepertinya Naruto tak ada niat untuk menyahuti perkataan Sasuke. Iris jernih Naruto memandang lekat Sasuke. Bola matanya membulat lucu dimata Sasuke.
"Oi, dasar dobe!" Panggil Sasuke sarkastik dengan mengguncang bahu Naruto kasar. Kesadaran Naruto kembali seketika. Dia melirik Sasuke masih dengan pandangan mata yang sama.
"Kau panggil aku apa tadi?!" Naruto menggenggam erat kain pel yang ia pegang. Pandangan bulat nya tiba-tiba berubah menjadi tatapan yang mengintimidasi.
"Hn. Akhirnya kau sadar." Ucap Sasuke datar menatap Naruto yang juga sedang menatapnya.
"Bukan itu yang ku maksud!" Nada bicara Naruto terdengar meninggi. Ia bangun dan berdiri dengan posisi yang hendak menantang Sasuke.
"Hn. Cepat pergi, kerjakan tugasmu sana!" Usir Sasuke yang lebih mirip perintah di telinga Naruto.
"Memangnya kau siapa? Berani-beraninya kau memerintahkan ku?!" Papar Naruto dengan mengangkat dagu nya. Sasuke cuma bisa menatap Naruto datar.
"Dan lagi aku berani bertaruh kalau kau itu bukanlah CEO ataupun Manager. Kau pasti hanya Office Boy disini 'kan?!" Tambah Naruto dengan sekali tarikan nafas. Hatinya yang awalnya terasa panas pun akhirnya memadam perlahan setelah melucuti Sasuke.
Sasuke memiringkan sebelah alisnya dan tersenyum miring kearah Naruto.
"Ya, kau benar. Aku Office boy," Sasuke menjeda kalimatnya dan memperpendek jarak antara mereka berdua.
"Maka dari itu pergi dari sana jika kau masih ingin masa depan mu terselamatkan." Sasuke berbicara dengan suara rendah tepat di telinga Naruto. Naruto bergidik ngeri, bola matanya melirik Sasuke. Ia berusaha menetralkan rasa ngeri yang ia rasakan saat ini.
"Memangnya kenapa aku harus pergi?" Tanya Naruto dengan penuh penekanan.
"Baiklah." Sepatah kata yang keluar dari mulut Sasuke cukup membuat Naruto menekuk dahinya. Suara Sasuke barusan terdengar seduktif. Naruto akan menduga kalau ada yang tak beres dari orang yang belum ia ketahui namanya. Dan tiba-tiba saja Sasuke menjilat leher tan Naruto.
"KYAAAAAAAAA!" Naruto menjerit tepat di telinga Sasuke. Sasuke menutup telinganya dan memberi jarak. Tentu saja ia tak mau menjadi tuli hanya karena ke usilan-nya. Kalau tidak, bisa saja ungkapan senjata makan tuan menimpanya.
Sasuke tersenyum penuh kemenangan. Pandangan Naruto berubah kosong. Bahunya terlihat bergetar. Nyali Naruto yang awalnya membara menjadi ciut hanya karena sebuah sentuhan. Iris Safir-nya terlihat berkaca-kaca. Air matanya seolah memberontak keluar untuk membasahi pipinya.
'Apa aku terlalu berlebihan?' Tanya Sasuke seraya menatap Naruto datar.
"Ka-Kau..." Suara Naruto bergetar. Ia menatap Sasuke sambil menahan air matanya. Sasuke lebih memilih untuk diam dan menyilangkan kedua lengannya.
"Dasar mesum!" Tambahnya dengan suara serak. Amarahnya seakan ingin membotaki rambut aneh Sasuke. Ingin rasanya ia membabi buta Sasuke. Namun apalah daya, kekuatan nya sudah terlanjur tumbang.
Sasuke menatap intens Naruto. Apa ia yang terlalu berlebihan atau Naruto saja yang memang sangat berlebihan? Entah ia tak peduli. Ia ingin bermain-main sebentar dengannya. Sebuah hal yang tabu bagi Sasuke untuk menggoda atau menjahili seorang gadis. Ia memang cukup anti kepada perempuan. Ia akan selalu pilih-pilih jika ingin berteman dengan seorang perempuan. Dan ia juga tak akan pernah mau berhubungan dengan orang yang baru dikenalnya.
Tapi sepertinya semua fakta tersebut tak berlaku bagi Naruto. Pasalnya ia baru mengenal Naruto belum sampai satu jam dan ia pun belum mengetahui namanya. Sepertinya ada perlakuan khusus yang diberikan Sasuke.
Tiba-tiba saja pandangan Naruto sedikit memburam. Matanya setengah tertutup. Hingga akhirnya ia pingsan dan terhuyung jatuh. Tapi dengan sigap Sasuke langsung menarik nya kedalam pelukannya.
.
.
.
Naruto terbangun dari tidurnya. Ia pingsan tak sadarkan diri. Matanya menelusuri ruangan berwarna putih. Ia mengucek matanya pelan.
"Ini dimana?" Gumamnya kecil dengan rambut pirang-nya yang tergerai bebas. Ia masih tak sadar hal apa yang membuatnya ia berada disini. Ia sudah berada diatas kasur saat bangun.
Sret!
Suara deritan tirai membuat Naruto mengedarkan pandangan nya ke arah tirai pembatas.
"Naruto, kau sudah sadar." Panggil Ino dengan suara melengking. Ino segera menghambur memeluk Naruto.
"Aku khawatir tau." Rajuk Ino di sela-sela memeluk Naruto. Naruto mencebikkan bibirnya dan melonggarkan pelukan mereka.
"Memangnya kau kira aku seperti karena siapa?" Naruto berkacak pinggang sambil menatap Ino bosan. Ino hanya menjulurkan jari telunjuk dan jari tengahnya ditambah senyum lebar.
"Hihi, Gomen Naru-chan!" Kata Ino sambil memegang tangan Naruto.
"Tapi kau bisa pingsan?" Tanya Ino. Naruto terdiam sejenak, merenungkan kejadian yang membuatnya pingsan. Ia bimbang apa ia harus mengatakannya atau tidak.
"Ah itu, aku tak sengaja terpeleset" Ujar Naruto se-normal mungkin untuk menutupi kecurigaan. Ino menyahuti hanya dengan sekali anggukan.
"Tapi, tadi aku melihat kau sedang di gendong pak kepala!" Protes Ino yang sepertinya mulai menyadari kejanggalan.
"Pak kepala?" Beo Naruto. "Maksudmu?"
Ino memutar kedua bola matanya bosan, "Kau tidak tau siapa itu pak kepala disini?" Tebak Ino yang sepertinya ia sudah menduga jawabannya. Dan benar saja, Naruto menggeleng polos.
"Kau ingat wajah orang yang menggendong mu?" Tanya Ino lagi.
"Wajahnya tampan seperti malaikat," Naruto menjeda kalimatnya sambil membayangkan wajah Sasuke. "Tapi sifatnya itu tak sepadan dengan rupanya. Memikirkan nya saja sudah membuat ku pusing!" Naruto mengacak-acak rambutnya frustasi.
Naruto baru menyadari suatu hal. Ternyata hari ini bukanlah hari keberuntungan nya justru sebaliknya. Ia merasa kalau hal buruk terus membuntuti hidupnya tanpa henti.
Naruto membekap mulutnya. Ino mengerutkan dahinya dan menautkam sebelah alisnya. "Apa ada masalah Naruto?" Tanya Ino penasaran dengan perubahan raut wajah Naruto.
"Tidak!"
TBC
Hai, akhirnya bisa update setelah sekian lama. Maaf ya kalau saya kelamaan update, soalnya tuh bikin cerita itu saya harus tergantung dari mood.
Sekian
