THE BOY WHO MAKES MY HEART BLOOM
Prenote : This fic is so... flowery... Just don't get your hopes up. I might have ruined that beautiful comic. I'm sorry for causing any kind of disappointment.
(inspired by comic and poem that I've posted on bittsher. livejournal. com)
.
Hanahaki Byou (花吐き病)
A disease of the human system that cough up flowers due to severe one-sided love. Its infection route is through contact with vomited flowers. In order to fully recover the disease, the one's love must be fulfilled.
.
Roses have a long and colorful history.
They have been symbolizing beauty, war, politics,
and so many unspeakable things.
—
There is one boy Jongin hates without reason.
Sampai saat ini, Jongin belum menemukan alasan mengapa ia begitu membenci seseorang bernama Do Kyungsoo.
Kyungsoo adalah murid paling pendiam yang pernah Jongin temui. Lelaki itu lebih memilih duduk menyendiri, menjaga jarak dengan siapapun yang berada di dalam kelas tanpa mengucapkan sepatah kata hingga jam pelajaran berakhir. Raut wajah Kyungsoo selalu menampakkan ekspresi tak acuh walaupun banyak perkataan buruk yang ditujukan kepadanya.
Mungkin sebab itu, Jongin terdorong untuk sedikit berlaku kasar.
"Tidakkah kau penasaran?" bentak Jongin keras setelah melayangkan satu pukulan yang membuat Kyungsoo terjembab. "Tidakkah kau ingin tahu apa yang menyebabkan aku bersikap seperti ini kepadamu?"
Ia mencengkram rambut Kyungsoo, memaksa lelaki itu untuk mendongak menatapnya. "Beg." Ancamnya dengan seringai di sudut bibir. "Aku akan menghentikan ini jika kau memohon dan mengakui kesalahanmu."
Bibir Kyungsoo tetap terkatup rapat. Lelaki itu hanya memandang Jongin dalam diam. Matanya tidak menunjukkan rasa takut ataupun sakit sedikitpun. Hal itu semakin membuat amarah Jongin naik. Ia melepaskan cengkramannya dengan kasar hingga Kyungsoo kembali jatuh ke lantai.
"Speak, you fucking fool!" Jongin menendang Kyungsoo, menumpahkan semua rasa bencinya ke lelaki itu. Ia tidak berhenti mengayunkan kakinya ke tubuh Kyungsoo sembari memaki dengan berbagai umpatan kasar yang merendahkan.
Namun hingga seragam Kyungsoo berubah lusuh dengan banyak jejak sepatu serta noda darah, lelaki itu tetap tidak angkat bicara.
Jongin terkadang menduga apa yang ada di dalam kepala Kyungsoo.
Mungkin lelaki itu bodoh. Batinnya.
Karena sampai sekarang, Kyungsoo tidak melaporkan tindak kekerasan yang Jongin lakukan. Kejadian ini bahkan telah berlangsung lama di antara mereka, namun Kyungsoo seakan tidak menaruh peduli. Padahal, lelaki itu jelas memiliki bukti kuat bahwa Jongin menyakitinya. Hampir tidak ada hari dimana Kyungsoo berakhir tanpa luka.
Jongin benar-benar ingin mengetahui sampai kapan lelaki itu akan terus bungkam.
Ia melirik ke arah Kyungsoo yang sedang menunduk menatap buku catatannya. Luka di tubuh lelaki itu akibat pukulannya tadi pagi telah dibersihkan. Beberapa band-aid terlihat menempel di wajah serta sikunya.
Dua orang murid yang duduk di sebelah Kyungsoo terus mengganggu lelaki itu. Melemparkan banyak kertas kecil serta ejekan 'dia sepertinya bisu atau tuli' kemudian terkikik dengan nada menyindir.
Ada desiran aneh yang mengganggu hati Jongin ketika menyaksikannya. Ia sengaja mendorong salah satu meja dengan kaki, memancing perhatian semua murid serta guru yang tengah mengajar di kelas.
"They're so damn annoying." Ucap Jongin datar sambil menunjuk dua lelaki yang mengganggu Kyungsoo. "Aku tidak bisa berkonsentrasi."
Mr. Kang memandang ke arah Zitao dan Sehun yang berpura-pura bodoh. Pria itu mendesah kemudian meminta dengan tegas agar mereka tidak berulah ketika pelajaran sedang berlangsung.
"Dan Jongin, bicaralah yang sopan ketika kau ingin mengungkapkan sesuatu." Tandas Mr. Kang sebelum melanjutkan pengajarannya yang tertunda.
Jongin mendengus pelan sebagai tanggapan. Ia bersandar malas pada kursi, mengabaikan tatapan penuh dendam dari Zitao dan Sehun kepadanya. Jongin juga merasakan sepasang mata lain yang melihatnya dengan membelalak. Lelaki yang berjarak tiga bangku darinya itu seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan.
Jongin ingin tertawa. Jika Kyungsoo menganggap ia sedang menyelamatkannya tadi, maka lelaki itu salah besar. Jongin hanya tidak suka berbagi sesuatu yang merupakan miliknya. Menurut Jongin, seseorang yang mempunyai hak penuh atas Kyungsoo hanyalah dirinya.
Sembari masih memasang raut wajah antipati, Jongin membalas tatapan Kyungsoo. Ia sama sekali tidak mengantisipasi sesak yang kembali menyerang dadanya ketika mata mereka saling tertambat.
Jongin mendadak terbatuk hingga membungkuk. Ia mengenggam erat pulpen yang tadi digigitnya saat sesuatu memenuhi tenggorokannya. Dengan terburu-buru, Jongin menutup mulut.
Ia tidak lagi terkejut mendapati beberapa kelopak mawar biru memenuhi telapak tangannya.
—
Blue roses embody the desire for the unattainable.
They say,
"I can't have you, but I can't stop thinking about you"
—
Jongin mencengkram rahang Kyungsoo kuat. Ia menghantamkan kepala lelaki itu ke dinding di belakangnya. Deru nafas Kyungsoo terdengar memburu namun mulutnya tetap terkunci. Tidak ada suara perlawanan apapun keluar dari lelaki itu walaupun Jongin telah menghajarnya selama lebih dari sepuluh menit.
"Are you retarded?" Desis Jongin penuh dengki.
Ia benar-benar tidak mempercayai lelaki ini masih mampu bertahan walaupun darah telah mengalir dari bibir serta pelipisnya.
"Brengsek." Jongin kembali memaki.
Ia menghempaskan tubuh Kyungsoo kemudian memukul perut lelaki itu menggunakan lututnya. Kyungsoo jatuh terduduk akibat serangan Jongin. Lelaki itu mengeluarkan rintihan sambil meringkuk di atas lantai.
Kebencian Jongin kepada Kyungsoo semakin menjadi. Ia selalu memiliki alasan untuk menghabisi Kyungsoo atau sekedar memukul wajah arogan lelaki itu sekali dua kali. Tapi Kyungsoo tidak pernah bicara. Kyungsoo hanya menerima setiap pukulannya, tanpa berusaha berlari apalagi berteriak minta tolong.
Lelaki itu seolah meminta Jongin untuk terus menghajarnya.
"Fucking mute." Jongin menginjak paha Kyungsoo, membuat lelaki itu meringis kesakitan.
Ia terlalu larut dalam amarahnya, menendang Kyungsoo tanpa ampun seperti lelaki itu hanyalah benda mati ketika merasakan genggaman seseorang menghentaknya kasar.
"Apa kau sudah gila?!"
Pandangan Jongin disambut dengan wajah gusar Park Chanyeol. Lelaki bepostur tinggi itu segera menghampiri Kyungsoo kemudian membantunya berdiri. Melihat banyaknya luka di sekujur tubuh Kyungsoo, kilat mata Chanyeol berubah menghakimi.
"Aku akan melaporkan perbuatanmu, Kim Jongin." Ancam Chanyeol.
Jongin mendengus menantang. "Oh, please do."
Chanyeol menggeleng kecil, tidak mempercayai betapa brengseknya Jongin. "Kau keterlaluan."
Jongin menyeringai tipis.
Chanyeol memutuskan membuang muka sesaat setelah memastikan Kyungsoo mampu melangkahkan kaki . Ia mencoba mengucapkan berbagai kalimat untuk menenangkan Kyungsoo sambil memindai di bagian mana saja Kyungsoo mengalami cedera. Secara sigap, Chanyeol menuntun Kyungsoo untuk berjalan perlahan dengan melingkarkan tangannya ke pinggang lelaki itu.
Seringai di wajah Jongin mendadak hilang.
Ia tidak menyukai apa yang dilihatnya.
Oh, ia sama sekali tidak menyukainya.
Jongin membawa tangannya ke bibir saat merasakan dadanya meledak, memaksanya untuk terbatuk dengan lengan bertumpu pada dinding sekolah. Ia terus terbatuk, berusaha memuntahkan sesuatu yang seolah membakar tenggorokannya.
Suara tawa pahit segera memenuhi koridor sepi sekolah itu seiring dengan Jongin yang meremukkan kelopak mawar di genggamannya. Ia ingin tertawa sekeras-kerasnya, mempertanyakan penyakit sialan apa yang sebenarnya sedang bersarang di tubuhnya. Apalagi ketika Jongin menemukan bahwa kelopak mawar kali itu bukan lagi berwarna biru.
Melainkan kuning.
—ooo—ooo—
Kelopak mawar warna kuning berenang, berpusar di atas genangan air wastafel. Bunyi keran yang masih mengucur membuat percepatan degup jantung Jongin sedikit tersamarkan. Dengan masih terengah, ia segera membasuh wajah dan bibirnya.
Menggelikan. Jongin berdecih benci.
Rasa sakit yang Jongin derita mulai beragam setiap harinya. Terkadang sakit itu berupa sesak yang mencekik leher. Terkadang berupa sengatan perih seolah ada sulur berduri yang melilit paru-parunya. Terkadang berupa perasaan hampa—kosong, seakan ada sesuatu yang telah direnggut paksa dari hidupnya.
Mata Jongin beralih pada bayangan dirinya di cermin yang hampir tidak ia kenali. Penampilannya mengerikan. Ia kesulitan tidur dan nafsu makannya terus menurun. Pipinya terlihat cekung, rambutnya kusut berantakan, serta lingkar hitam di bawah matanya seringkali memancing tanya dari teman-temannya.
Unrequited love. Gumam Jongin dalam hati.
Ia membuka dua kancing seragam bagian atasnya dengan tergesa, mencoba menarik udara lebih banyak ke dalam sistem pernafasannya. Jongin belum siap menghadapi kenyataan bahwa penyakit ini ternyata berhubungan dengan cinta. Terlebih lagi setelah mengetahui ia bahkan tidak akan sembuh jika cintanya tidak terbalas.
Atau sebagai jalan lain, Jongin harus melakukan operasi yang akan merusak fungsi hatinya.
Jongin membasuh wajahnya sekali lagi, sedikit berbenah diri sebelum memutuskan untuk kembali. Ia mengabaikan pandangan simpatik seluruh murid ketika memasuki ruang kelas.
"Kau boleh beristirahat di ruang kesehatan jika keadaanmu belum membaik, Jongin-ssi." Tutur Ms. Bae yang mengajar hari itu dengan raut khawatir.
Jongin menarik kursinya kasar. "Oh, tenanglah. Aku sudah tahu mengenai informasi itu. Kau tidak perlu mengulangnya lagi."
Perhatian Ms. Bae segera beralih menyadari sifat tidak santun Jongin telah kembali. Wanita itu meminta para murid untuk fokus ke materi terakhir yang tengah ia ajarkan.
Namun, Jongin justru menerawang jauh ke luar jendela. Ia memperhatikan kerumunan murid dengan pakaian olahraga yang sedang berlarian di lapangan. Bola mata Jongin berhenti bergerak ketika ia menemukan apa yang ia cari; figur seorang lelaki dengan pakaian terlalu besar dan satu murid lain yang menemaninya duduk di pinggir lapangan.
Dari semua rasa sakit, Jongin harus akui yang baru saja terjadi adalah yang paling menyiksa.
Dada Jongin seolah dicabik dari dalam. Ditikam dengan benda runcing yang menyayat berkali-kali, hingga ia merasa organ pernafasannya enggan berfungsi untuk sejenak. Dan Jongin tidak mengerti apakah ini merupakan suatu kebetulan atau bukan. Tetapi rasa sakit itu menyerangnya tepat ketika ia melihat pemandangan yang sama dengan saat ini.
Tepat ketika ia melihat Kyungsoo sedang bercakap riang dengan Chanyeol.
—
Yellow roses might be an expression of exuberance.
But once upon a time in Victorian Era, they expressed,
"Do you know that i'm jealous?"
—
Tidak ada panggilan apapun yang Jongin terima sampai sekarang.
Ia telah menunggu sejak tiga hari lalu, namun tidak ada satupun pemberitahuan yang memintanya datang ke kantor guru maupun kepala sekolah.
Jongin yakin pengaruh Kyungsoo bermain dibalik semua ini.
Lelaki itu sedang mencoba melindunginya. Karena mustahil Chanyeol yang terkenal keras kepala rela melepaskan perbuatan Jongin begitu saja. Kyungsoo pasti telah membujuk Chanyeol untuk tidak melaporkannya.
Lega? Tidak.
Jongin marah. Jongin luar biasa marah hingga ia merasa bisa membunuh siapa saja yang ada di hadapannya.
Dengan langkah panjang yang cepat, Jongin berderap ke arah gerbang sekolah. Ia harus menemukan Kyungsoo. Ia berniat menghajar lelaki itu tanpa belas kasihan karena telah bersikap sok pahlawan. Jika Kyungsoo mengira Jongin butuh perlindungannya, ia akan menunjukkan bahwa hal itu percuma.
Jongin segera berbelok ketika melihat bayangan Kyungsoo memasuki sebuah jalan kecil. Ia sengaja tidak berteriak atau membuat suara sedikitpun agar lelaki itu tidak memiliki waktu untuk mempersiapkan diri.
Jongin berdecak sebal saat jejak Kyungsoo lenyap dari jangkauannya. Ia mencoba terus berlari mengitari jalan kecil itu sambil mengedarkan pandangan. Jongin bersumpah tidak akan pulang sebelum menemukan Kyungsoo.
Langkah Jongin terhenti ketika ia mendengar seorang lelaki yang mengaduh keras. Ia berbalik arah, mengikuti darimana sumber suara itu berasal. Entah mengapa, firasat Jongin mengatakan bahwa itu merupakan suara Kyungsoo.
Benaknya bertanya-tanya apa Kyungsoo juga mendapat perlakuan kasar di luar sekolah?
Kening Jongin berkerut saat menemukan ransel Kyungsoo tergeletak di tengah jalan. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, ia melihat Kyungsoo dan satu orang lelaki sedang beradu pandang. Dari aura yang mereka pancarkan, Jongin bisa menebak bahwa mereka bukan teman atau semacamnya. Mereka jelas sedang berkelahi.
Namun sepintas, pemandangan di depan Jongin terlihat janggal.
Luka yang berada di tubuh lelaki itu jauh lebih banyak dibanding Kyungsoo.
Sebelum Jongin mencerna lebih banyak mengenai fakta yang baru saja ia terima, ia melihat Kyungsoo melayangkan pukulan ke wajah lelaki di depannya.
Jongin tercengang.
Keterkejutannya tidak berhenti sampai di situ saja. Karena detik berikutnya, saat lawan Kyungsoo membalas serangan, Kyungsoo dengan sigap menangkisnya.
Dan itu bukan gerakan keberuntungan semata. Jongin tahu betul seseorang harus memiliki pengalaman yang cukup lama untuk bisa mendapatkan kemampuan seperti itu.
Ia menyaksikan perkelahian yang terjadi antara dua orang lelaki itu dalam hening. Kaki Jongin seolah terpaku, tidak beranjak barang satu centi-pun dari tempatnya. Keduanya saling melayangkan pukulan, sesekali menghindar kemudian kembali menyerang tanpa membuang banyak waktu.
Lelaki di depan Kyungsoo akhirnya memutuskan menyerah dan berlari menjauh setelah Kyungsoo mengirimkan tinju ke tulang rusuknya. Jongin tidak sempat berkutik ketika Kyungsoo menoleh.
Mata Kyungsoo langsung membelalak lebar, mulutnya membuka dan mengatup cepat seakan apa yang baru saja Jongin lihat adalah sesuatu yang ingin lelaki itu sembunyikan darinya.
Udara di sekitar mereka terasa panas walaupun cuaca hari itu sedang meniupkan angin yang membuat dahan pohon berderak ingin lepas dari tangkainya. Keduanya masih bersitatap dengan wajah sama-sama terkejut.
"Kau—" suara Jongin terdengar lebih dahulu, meski terlalu parau dan lemah. "Kau bisa melawan?"
Kyungsoo menarik nafas pendek. Lelaki itu berjalan ragu menghampiri Jongin dengan wajah tertunduk.
"Y—Ya. Aku bisa." Jawab Kyungsoo sambil meraih ranselnya yang berada di kaki Jongin.
Ini adalah pertama kalinya Jongin mendengar Kyungsoo bicara. Pikirannya mendadak kacau karena terlalu banyak kejadian luar biasa yang ia terima dalam sehari.
"Kenapa kau tidak melawanku?"
Kyungsoo menatapnya dalam. Sorot sendu yang terpancar dari kornea mata lelaki itu seketika membuat dunia Jongin berputar.
"Aku tidak mau." Sahut Kyungsoo kemudian.
Jongin mengernyit, mencoba menerka sandiwara macam apa yang sedang Kyungsoo perankan saat ini. "Kenapa?"
"Aku tidak mau."
"Kenapa?"
"Aku tidak mau."
—ooo—ooo—
Jongin menjambak rambutnya kesal. Apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini?
Kejadian kemarin masih melayang-layang di ingatannya. Wajah Kyungsoo yang tampak begitu kosong, kenyataan bahwa lelaki itu memiliki kekuatan untuk melawan, serta kalimat 'aku tidak mau' yang berputar seperti siklus berulang dalam kepalanya.
Seberapa kalipun Jongin bertanya, Kyungsoo tidak memberikan jawaban lain selain tiga kata itu.
Jongin tidak menaruh perhatian kepada pelajaran apapun yang sedang diajarkan guru saat ini. Kombinasi antara berbagai hal yang berdesakan dalam kepalanya tidak memberikan ruang barang sedikit saja kepada sejarah Republik Korea untuk meninggalkan jejak di memorinya.
Begitu jam pelajaran berakhir, Jongin bergegas mencari dimana Kyungsoo berada.
Ia segera menarik lengan Kyungsoo kasar saat menemukan lelaki itu di koridor utama. Jongin dengan cepat membawa Kyungsoo ke tempat yang tidak akan menarik banyak perhatian. Di lain pihak, Kyungsoo, seperti biasa menuruti kemana Jongin menyeretnya tanpa protes sedikitpun.
Sungguh menyebalkan.
Jongin menghimpit tubuh Kyungsoo sesaat setelah mereka mencapai ruang ganti pria. Lelaki itu sedikit berjengit, merasakan besi yang dingin menyentuh punggungnya.
"Jika kau tetap berpikir untuk diam kali ini, percayalah aku tidak akan segan menghabisimu." Ancam Jongin seraya mencekik leher Kyungsoo.
Kyungsoo memejamkan mata karena suplai udara yang berkurang ke paru-parunya. Tetapi kedua tangan lelaki itu tidak berusaha menghentikan cengkraman Jongin di lehernya.
"Aku tidak mau, Jongin." Tutur Kyungsoo susah payah.
Mendengar namanya bergulir dari lidah lelaki itu membuat perasaan hangat menjalar ke seluruh nadi Jongin. Namanya tercecap sebagai sesuatu yang asing sekaligus renyap di telinganya. Jongin menelan ludah, genggaman tangannya tidak lagi cukup kuat untuk membuat Kyungsoo merasa sedang di bawah ancaman.
Merasa bingung, Kyungsoo justru menatapnya heran. Perbedaan tinggi badan di antara mereka membuat lelaki itu harus mendongak untuk menemukan mata Jongin.
Pada saat itulah Jongin menyadari, ia tidak pernah menemukan kebencian dari mata Kyungsoo ketika mereka bersitatap. Kenyataan itu membuat emosinya semakin meluap. Ia memukul loker di belakang Kyungsoo hingga lelaki itu terlonjak kecil.
Nafas Jongin berubah berantakan. Sembari terengah, ia menyandarkan keningnya ke loker di sisi kepala Kyungsoo. Bibirnya begitu dekat dengan bahu Kyungsoo, harum softener dari pakaian lelaki itu lambat laun meracuni penciumannya.
"Tidakkah kau lelah?" Jongin tiba-tiba bertanya dan ia ingin menambahkan terus berlarian di dalam kepalaku? tetapi itu terdegar seperti rayuan norak yang membuat dirinya sendiri mual, jadi ia membiarkan pertanyaan itu tetap menggantung tanpa penjelasan lebih.
Ia segera melepaskan kungkungan kedua lengannya di sisi tubuh Kyungsoo dan berlalu sebelum lelaki itu sempat menanggapi.
Jongin tidak memiliki hasrat untuk hadir di periode pelajaran berikutnya. Ia memilih duduk bersila di taman belakang sekolahnya, memandang ke kumpulan bunga liar di hadapannya dengan senyum getir mewarnai wajah.
"Pretending," Jongin berbisik pelan kepada bunga yang tumbuh di sana, "is a painful thing." Ia merebahkan diri tanpa mempedulikan tanah yang akan mengotori pakaiannya.
Isn't it?
—ooo—ooo—
Jingga.
Jingga. Jingga. Jingga.
Ada jingga di meja belajar Jongin, di atas tempat tidurnya, di lantai kamar mandinya, di genggamannya dan semua itu membuat ia muak dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan mawar.
"Kau keras kepala." Jongdae memandang ke kepalan tangan Jongin dimana ia menyembunyikan kelopak mawar yang baru saja ia muntahkan.
"Jika kau hanya ingin mengejekku, aku sarankan kau pergi sekarang juga." Balas Jongin.
Ia mengambil tisu yang berada di laci samping tempat tidurnya, kemudian membersihkan tangannya sambil menggerutu. Jongdae memutar bola mata melihat sikap kekanakan Jongin. Lelaki itu mengamati kelopak mawar jingga yang tidak sengaja jatuh di dekat sikunya.
"Kenapa kau seperti ini?" desah Jongdae pelan. Ia tidak mengerti mengapa Jongin penuh pengingkaran padahal lelaki itu jelas-jelas tersiksa dengan penyakit yang di deritanya.
Jongin membuka seragam sekolahnya kemudian mengeluarkan kaus tanpa lengan dari dalam lemari. "Aku tidak menangkap maksud pertanyaanmu."
"The whole being-an-asshole thing. Kenapa kau seperti ini?"
"Bukan urusanmu." Jawab Jongin cepat. Ia sedang tidak dalam suasana hati yang baik untuk membicarakan perkara apapun yang berkaitan dengan asmara.
"Lihat? Kau bertingkah menyebalkan semenjak ini terjadi." Jongdae menggeleng kecil. Lelaki itu kemudian bergeser ke tepi tempat tidur sementara Jongin membuka tirai kamar.
Dari luar jendela, tetes air hujan turun dengan anggun membasahi bumi, menghilangkan dahaga dari tanah yang merindukannya. Jongin mengamati bagaimana dedaunan menyambut rinai hujan yang mengecupnya.
Sementara di belakangnya, Jongdae masih meracau panjang lebar mengenai bagaimana sikap kasarnya berubah semakin parah dari hari ke hari. Jongin berpura-pura tidak mendengar walaupun telinganya tidak melewatkan apa yang Jongdae bicarakan.
Setiap perkataan Jongdae memancing ingatan Jongin akan Kyungsoo. Atau mungkin memang kepalanya sedang melakukan suatu sabotase diam-diam yang membuat semuanya berubah menjadi tentang Kyungsoo.
"Berhenti." Perintah Jongin tegas.
"Aku tidak akan berhenti sebelum kau menjelaskan apa yang membuatmu—"
"Aku bilang berhenti."
Jongdae mengangkat tangan ke udara, mengisyaratkan rasa frustasinya karena tingkah Jongin. "Kenapa ini begitu sulit—"
"Jongdae," Jongin memejamkan mata, berusaha menahan amarah yang mendaki ke ubun-ubunnya, "berhenti."
"Would you just fucking tell me—"
"Because i don't want to be in love!" Seru Jongin sambil terengah.
Ia lelah. Ia tidak tahu apa yang membuatnya lelah namun seluruh persendiannya seolah enggan bekerja sama dengan tubuhnya.
"It feels weird!" Lanjut Jongin dengan nada tinggi yang sama. "Aku tidak menyukai kepalaku yang mendadak ringan setiap kali aku melihatnya, atau gejolak di perutku yang membuatku ingin menyentuh atau sekedar mengusap rambutnya. It's fucking weird, i tell you!"
Jongdae tetap duduk tanpa menyela, menunggu Jongin untuk menumpahkan semua isi hatinya.
"Aku membenci rasa bersalah yang terus membakar diriku dari dalam, membenci ketika dia berbicara orang lain, dan kau tidak akan tahu seberapa putus asanya aku ingin mendengar suaranya atau menghadirkan senyumnya. Aku benci karena hal-hal konyol ini membuatku lemah, Jongdae."
Jongin menghempaskan tubuhnya ke atas sofa, menghindari tatapan Jongdae yang mengikutinya sedari tadi. Suasana dalam ruangan itu berubah hening. Hanya samar suara air hujan bercampur dengan hembusan berat nafas Jongin yang mengisi sepi di antara mereka.
Melihat kondisi Jongin yang begitu menyedihkan, Jongdae terdorong untuk memeluk lelaki itu. Ia merangkul pundak Jongin mendekat, mencoba meredakan segala kelumit di pikiran sahabatnya.
"Wow, you're deeply in love, aren't you?" celetuk Jongdae ringan.
Jongin menggosok wajahnya kuat. "I don't know. I'm so fucking confused."
Jongdae mendengar Jongin menggumam rentetan kalimat tidak jelas dari balik tangan. Ia bisa menangkap umpatan 'Stupid Do Kyungsoo' yang diiringi banyak kata 'kenapa, kenapa, kenapa' berulang dari bibir Jongin.
"Aku merasa seperti orang sekarat."
"Oh, Jongin." Bisik Jongdae lirih.
Ia sedikit menyesal telah memaksa Jongin untuk terbuka. Namun keadaan lelaki itu semakin memprihatinkan setiap harinya.
"Itu karena kau terus melawan perasaanmu." Jongdae mengusap punggung Jongin lembut. "Play along. Jatuh cinta bukan sesuatu yang bisa kau kendalikan."
Jongin memijat pangkal hidungnya selagi Jongdae membawa kepala lelaki itu ke pundaknya. "There, there, my big boy Jonginnie. Aku tidak menyangka kau akan jatuh cinta secepat ini."
Jongin mendengus sambil berupaya melepaskan diri dari dekapan Jongdae. "Kau menjijikan."
Jongdae tertawa. Ia ingin melanjutkan untuk menggoda Jongin, namun tiba-tiba pikirannya mengingat sesuatu yang lebih penting. "Hey, Jongin."
"Ya?" Alis Jongin berkerut penasaran dengan perubahan ekspresi Jongdae.
"Jalan dimana kau melihat Kyungsoo berkelahi adalah daerah berbahaya. Kau harus segera memperingatkannya."
Jongin tidak menanggapi.
—
Orange roses can be used to represent intense desire,
convey a sense of fascination, or say a simple,
"I want to know you better."
—
Barisan awan cumulonimbus pekat menggantung di langit sejak pagi. Para murid yang pulang hari itu telah siaga dengan payung dan jas hujannya. Murid-murid itu berjalan terburu-buru, berharap hujan tidak turun sebelum mereka sampai ke rumah. Beberapa di antaranya bahkan saling mendahului, mengucapkan kata pamit singkat karena sepatu basah adalah hal yang paling mereka hindari.
Jongin, bukan salah satu dari murid-murid itu.
Ia justru menemukan dirinya berada jauh dari rute pulang ke rumahnya dengan energy bar terjepit di mulut.
Tidak berjarak jauh darinya, Kyungsoo berjalan dengan langkah ragu. Jongin yakin lelaki itu mengetahui bahwa ia sedang mengikutinya. Tetapi, Jongin tidak ambil pusing. Ia memang tidak berusaha sembunyi setiap kali Kyungsoo sedikit memalingkan wajah untuk mengintip keberadaannya.
Sesuatu yang Jongin simpan rapat-rapat justru adalah motif dibalik tindakannya kali ini; ia ingin memastikan Kyungsoo selamat sampai ke rumah.
Jongin tidak mengerti darimana gagasan itu berasal. Ide itu muncul tiba-tiba dalam bentuk naluri untuknya. Ia mengekor kemana Kyungsoo berjalan sambil mengunyah kudapannya. Jongin melihat lelaki itu memegang ranselnya kuat dengan lipatan di dahi yang tidak kunjung hilang.
Ketika tiba di suatu pertigaan, Kyungsoo tiba-tiba menoleh ke arahnya.
Jongin menatap lelaki itu datar. "What the hell are you looking at?"
Kyungsoo menggigit bibir sambil mencengkram bagian depan pakaian seragamnya. "Kau mengikutiku?"
Jongin mendengus mengejek. "Don't be so cocky. Kau hanya tidak tahu kita punya arah jalan pulang yang sama."
Walaupun sepertinya Kyungsoo ingin membantah, lelaki itu tidak tidak mengutarakannya. Kyungsoo kembali meneruskan perjalanan, sesekali berpaling ke belakang untuk memastikan Jongin masih ada.
Jongin tengah membuka energy bar keduanya saat Kyungsoo berhenti di sebuah rumah berpagar kayu. Lelaki itu terlihat meraba saku celana lalu mengeluarkan kunci perak dari dalam sana. Menyadari bahwa itu adalah tempat tinggal Kyungsoo, Jongin berpura-pura terus berjalan melewatinya sambil memasang mimik tidak peduli.
Namun baru beberapa langkah, suara Kyungsoo menahannya di tempat.
"Kau yakin rumahmu melewati jalan itu?" Kyungsoo bertanya dengan nada lembut.
Jongin berputar menghadap lelaki yang masih berdiri di depan pagar.
"Ya." Sahutnya singkat.
Kyungsoo melipat bibir ke dalam, wajahnya menampakkan raut bingung. "Tapi itu jalan buntu."
Oh?
Jongin berubah canggung seketika. Ia melihat Kyungsoo yang terus memandangnya, menunggu ia untuk mengucapkan sesuatu.
"I—I can do what the fuck i want." Sangkal Jongin gusar.
Ia segera berlari cepat ke arah yang sama tanpa ingin tahu respon dari Kyungsoo. Saat menemukan bahwa jalan itu benar-benar buntu, Jongin mengutuk dirinya sendiri.
Moron airhead. Makinya kesal.
—ooo—ooo—
Mengikuti Kyungsoo berubah menjadi rutinitas resmi Jongin setiap harinya.
Ia masih menolak untuk mengatakan bahwa ia mengantar Kyungsoo pulang. Ia hanya mengikuti, tidak lebih dari itu.
Karena pada kenyataannya, mereka tidak berjalan beriringan. Kyungsoo selalu berada di depan Jongin, mengambil langkah-langkah lambat agar perjalanan itu sedikit lebih lama tanpa sepengetahuan Jongin.
Jongin juga tidak menyadari Kyungsoo tersenyum diam-diam setiap kali menangkap wajah bosannya. Kyungsoo pasti berbangga diri melihat Jongin tetap mengikutinya, walaupun itu merupakan hal paling tidak menarik yang pernah ada.
Sejauh ini, Jongin tidak melihat tanda bahaya mengancam Kyungsoo. Ia sedikit lega sebab paling tidak ia tidak perlu mengotori tangannya untuk melindungi lelaki itu.
Setelah memandang punggung Kyungsoo dari belakang, Jongin baru menyadari lelaki itu memiliki postur tubuh yang mungil. Rambut kecoklatannya paling sempurna ketika bermandikan sinar matahari siang. Jika biasanya Kyungsoo dipenuhi dengan band-aid, Jongin sudah tidak lagi menemukannya menempel di tubuh lelaki itu.
Ia berhenti menyakiti Kyungsoo. Perlakuan kasarnya kepada lelaki itu mendadak tidak lagi menyenangkan untuknya.
Kyungsoo menoleh sejenak ketika mereka sampai di pagar rumah lelaki itu. Seperti biasa, Jongin berjalan lurus menuju jalan buntu sialan di depannya. Harga diri Jongin belum mengizinkannya untuk mengakui bahwa ia hanya berbohong selama ini.
"Jongin?" suara pelan Kyungsoo segera membuatnya berhenti.
Ia masih belum terbiasa mendengar suara lelaki itu di telinganya. Tetapi di sisi lain, Jongin sering mendapati dirinya menggigiti kuku seperti orang kecanduan hanya karena merindukan suara Kyungsoo.
Setelah mengatur ekspresinya seddemikian rupa, Jongin memalingkan wajah ke arah Kyungsoo. "Hm?"
Kyungsoo terlihat gugup di posisinya. Kakinya terus bergerak-gerak kecil, menyiksa rumput di bawah sepatunya. "Terimakasih." Gumam lelaki itu pelan.
Oh, sekarang dia tahu bahwa aku sedang melindunginya. Great, just great Kim-Stupid-Jongin. Gerutunya kesal.
"Sudah aku katakan jangan terlalu percaya diri. Kita hanya berbagi rute pulang yang sama." Balas Jongin dingin—tetap memilih berpura-pura.
"Aku tahu." Ucap Kyungsoo sambil menunduk. "Aku hanya ingin berterimakasih."
Jongin mengibaskan tangan tidak peduli. "Ya, ya, ya. Terserah."
Ia bersiap untuk berbalik saat itu juga dan membiarkan Kyungsoo masuk ke dalam rumahnya.
Tetapi kemudian, Kyungsoo tersenyum.
Gravitasi seakan berkumpul tepat di bawah kaki Jongin. Menariknya untuk tetap tinggal dan menyaksikan lengkung setengah lingkaran yang menghiasi wajah Kyungsoo. Debar jantung Jongin berubah liar dalam irama boom boom boom keras yang terdengar hingga ke telinganya sendiri.
Jongin sadar Kyungsoo tidak banyak tersenyum, ia paham betul itu.
But when he does, it's a perfect kind of thunderstorm.
Datang tanpa peringatan, melemaskan tulang kakinya, dan membuat pendengarannya tuli untuk sejenak.
"Hati-hati." Tutup Kyungsoo sebelum membuka pagar rumahnya.
Jongin hanya berkedip pelan, masih menenangkan gemuruh yang bertalu dalam dadanya. Ia segera bersandar pada tiang di dekatnya ketika tubuhnya mendadak limbung.
Jongin sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.
Beberapa tarikan nafas serta suara batuk yang menggema kemudian, ia melihat kelopak mawar menari di telapak tangannya.
Entah mengapa, warna mawar kali ini mengingatkan Jongin akan semu di pipi Kyungsoo saat lelaki itu mengucapkan kalimat perpisahan tadi.
Merah muda.
—
Pink roses have deep significance when it comes to affections given and received.
The meaning of pink roses is as beautiful as the delicate blossom,
"I think i like you."
—
Jongin terkadang merasa dirinya adalah penangkal hujan.
Walaupun langit terlukis dalam warna abu-abu gelap, guntur terdengar setiap beberapa menit sekali, bahkan hingga rintik gerimis mulai turun, ia idak pernah menemukan dirinya pulang dalam keadaan basah kuyup.
Jadi, saat mendengar peramal cuaca mengatakan bahwa hujan deras akan mengguyur hari ini, Jongin hanya mendengus.
Namun sepertinya ia tidak bisa membanggakan keberuntungannya terlalu lama.
Segera setelah memastikan Kyungsoo masuk ke rumahnya, hujan turun dengan lebat. Tiap tetes air sebesar kacang polong yang jatuh ke tubuh Jongin seakan sedang mengajaknya berlomba. Jongin berjalan cepat, memanfaatkan sweater seragamnya sebagai pelindung kepala. Ia mengumpat kasar ketika tidak sengaja menginjak genangan air hingga celana seragamnya bernoda lumpur.
Jongin terlalu malas untuk mencari tempat berteduh. Ia lebih memilih melawan hujan daripada menunggu. Kesabarannya diciptakan bukan untuk hal semacam itu.
Di antara telinganya yang terisi oleh suara hujan beradu dengan aspal, sayup-sayup Jongin mendengar seseorang memanggil namanya. Alis Jongin bertaut selagi ia menoleh mencari tahu siapa yang bisa mengenalinya di cuaca seperti ini.
"Jongin!"
Mulut Jongin segera menganga mendapati Kyungsoo tengah berlari ke arahnya. Lelaki itu masih mengenakan seragam sekolah lengkap dengan ransel dan payung yang membuatnya terhindar dari basah.
"The fuck are you doing?" teriak Jongin marah, meski ia tidak tahu apa alasan yang membuatnya marah.
Kyungsoo mengatur nafas sejenak. "Aku membawakanmu payung." Lelaki itu menyerahkan gagang payung yang sedang ia gunakan. "Aku tidak menemukan payung lain. Kau bisa membawanya."
Jongin benar-benar ingin mengutuk kebodohan Kyungsoo. Lelaki ini pasti sudah kehilangan akal sehat sampai berbuat hal konyol seperti sekarang.
Seakan menangkap raut kemarahan Jongin, Kyungsoo dengan cepat menambahkan. "Aku takut kau terserang flu."
Jongin melepas sweater yang menutup kepalanya. "Lalu kau akan berlari pulang di tengah hujan seperti ini?"
Kyungsoo mengangguk kaku.
"Then you, fuckhead, are the one who will catch a fucking cold!" teriak Jongin frustasi.
Genggaman Kyungsoo ke payungnya mengerat sedangkan kepala lelaki itu menunduk. Jongin menggertakkan gigi. Ia tidak berniat berteriak kepada seseorang yang sedang mencoba menawarkan bantuan. Jongin hanya tidak suka Kyungsoo menyusulnya saat hujan lebat seperti ini. Ia tidak suka Kyungsoo mengalah hanya untuk dirinya. Ia tidak suka membayangkan Kyungsoo jatuh sakit karena masalah sepele, apalagi karena dirinya.
Tetapi Kyungsoo terus memandang Jongin penuh harap, dengan kilatan sendu yang melumpuhkan logikanya.
"Oh, fuck." Jongin meraih gagang payung Kyungsoo kemudian berdiri di samping lelaki itu. "Aku akan mengantarkanmu ke rumah, setelah itu aku akan membawa payungmu pulang. Are you fucking statisfied?"
Kyungsoo mendongak menatapnya kemudian tersenyum kecil. "Ya."
Keduanya akhirnya berjalan berdampingan, dengan iringan rinai yang mengetuk payung Kyungsoo, serta gerutu pelan dari mulut Jongin yang belum juga hilang. Kyungsoo sengaja memberi jarak di antara lengan mereka, membiarkan hujan bersahabat dengan bahunya.
Menyadari itu, Jongin mendesah panjang. "Mendekatlah." Kyungsoo berkedip bingung, hingga Jongin berteriak, "Just come fucking closer!"
Tanpa banyak bicara, Kyungsoo menipiskan jarak di antara mereka. Jongin membuang muka saat hangat tubuh Kyungsoo merambat di lengannya.
"Fucking stupid." Jongin mengumpat keras. "Such a fucking burden."
"Can you please stop saying 'fuck'?" Pinta Kyungsoo lirih.
Jongin memandang Kyungsoo tajam. "And do you fucking think i will give a fuck about the fucking fuck that you fucking said?"
Kyungsoo tidak membalas. Lelaki itu seolah menghindari pandangannya dengan sengaja menunduk, memperhatikan langkah sepatu mereka. Jongin menghela nafas. Ia sungguh muak ketika dirinya merasa bersalah hanya karena beberapa perubahan mimik Kyungsoo.
Namun Jongin sadar, perkara utama yang membuat emosinya membumbung mengacaukan segala kosakata yang ia keluarkan saat ini bukanlah hal itu. Ia melirik Kyungsoo sejenak. Kelopak lelaki itu tergantung rendah menutupi matanya sementara jajaran gigi Kyungsoo tenggelam ke bibir bawahnya sendiri.
"Kau seharusnya membenciku." Tutur Jongin pelan, sedikit lega karena akhirnya ia dapat mengemukakan apa yang mengganjal di hatinya. "Ketika kau menemukan seseorang yang menyakitimu terjebak hujan, kau seharusnya berharap agar orang itu jatuh sakit, atau ada mobil yang tergelincir lalu menabraknya hingga mati. Bukan justru menawarkannya payung, idiot."
Jongin menyisir rambutnya ke belakang dengan frustasi. Perihal tentang Kyungsoo benar-benar membuat kepalanya penuh. Ia khawatir pemikiran bodoh Kyungsoo dapat menjebak lelaki itu dalam situasi yang tidak menguntungkan nantinya.
"Kau ingin aku marah padamu?" tanya Kyungsoo sedikit gugup.
Jongin berdecak jengkel. "Itu bukan sesuatu yang bisa kau tanyakan kepada seseorang."
"Aku serius." Sergah Kyungsoo. "Jika aku marah kepadamu apa kau akan berhenti membenciku?"
"Aku tidak membenc—"
"Kim Jongin, kau brengsek."
Jongin melongo di tempat. Ia melihat Kyungsoo yang sedang berupaya menampakkan raut gusar. Tetapi usaha lelaki itu jelas gagal. Karena detik berikutnya, Jongin justru tergelak geli.
"Oh, astaga. Kau benar-benar buruk dalam hal ini." Ungkap Jongin sambil sedikit menggelengkan kepala.
Kyungsoo menampakkan ekspresi kosong, tatapannya tertuju lurus ke arah Jongin. Sejumput semu mewarnai pipi Kyungsoo sebelum senyum lelaki itu tiba-tiba mengembang, menghasilkan kerutan di sekitar pelupuk matanya.
"Aku membuatmu tertawa." Ucap Kyungsoo samar.
Tawa Jongin meredup tetapi bukan karena kalimat Kyungsoo. Senyum lelaki itu merupakan hal paling indah yang pernah Jongin saksikan. Sorot matanya berubah menjadi kekaguman terhadap lelaki di sebelahnya. Bibirnya mendadak kering dan ia menemukan penglihatannya membelot untuk berpindah dari Kyungsoo.
Tidak ada kata yang tertukar setelahnya. Keduanya berjalan lambat, merasakan kesunyian membelai mereka seperti senandung yang melenakan. Pandangan Jongin terus mengikuti Kyungsoo, mengahafal tiap gerakan kecil lelaki itu.
Kyungsoo yang tersenyum, Kyungsoo yang sedikit menggigil, Kyungsoo yang melompat ketika petir menyambar, Kyungsoo yang meliriknya malu-malu,
Kyungsookyungsookyungsookyungsookyungsookyungsookyungsoo hingga nama itu menjadi tak berhingga di otaknya.
Walaupun Jongin telah melakukan beragam cara untuk membuat perjalanan ini sedikit lebih panjang, ia tetap tidak rela ketika melihat pagar rumah Kyungsoo sudah berada di depan mata.
Kyungsoo berbalik menghadapnya, dengan senyum lebih lebar. Menelantarkan nalar Jongin dalam kabut pekat yang menghapus isi kepalanya seketika.
Apa yang tersisa dari pikirannya hanyalah; hujan, halilintar dan bibir Kyungsoo.
"Jangan terserang flu." Kyungsoo menggumam, merah muda di wajah lelaki itu kembali mendominasi.
Hujan, halilintar dan lengkung bibir Kyungsoo.
"Jongin?" Kyungsoo menatapnya heran—mungkin bingung kenapa ia tetap bergeming seperti patung.
Jongin terkesiap. Kesadarannya pulih hanya untuk dihantam dengan kenyataan bahwa jarak antara ia dan Kyungsoo sedang tidak berlaku adil untuk kewarasannya.
Keduanya bersitatap. Kyungsoo berkedip pelan, membuat ujung jari Jongin gemetar tetapi bukan karena dingin udara yang merayap saat itu.
Hujan, halilintar dan bibir Kyungsoo yang mendekat.
Jongin terpejam seraya membungkukkan badan. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun firasatnya mengatakan bahwa itu adalah sesuatu yang baik.
Hujan, halilintar dan bibir Kyungsoo di pipinya.
Nafas Jongin tercekat cepat. Ia membuka mata sementara Kyungsoo masih belum menjauh dari wajahnya.
Jongin mendengar Kyungsoo berdehem kecil diiringi sebuah bisikan dengan suara dalam, parau, yang menggelitik telinga. "Sampai bertemu besok, Jongin."
Kemudian lelaki itu melangkah mundur, memasuki pekarangan rumahnya terburu-buru. Meninggalkan Jongin sendiri untuk mengatasi kontradiksi yang terjadi dalam hatinya.
Karena meskipun hujan belum juga reda, Jongin merasakan matahari telah bersinar terang di dunianya.
Hari itu, ia memutuskan bahwa jatuh cinta bukanlah hal yang buruk. Mungkin tidak masalah membiarkan dirinya sedikit jatuh.
Just a little. Batin Jongin. Yeah, maybe just a little.
Tetapi warna kelopak mawar yang ia muntahkan malam itu mengatakan sebaliknya.
—ooo—ooo—
Putih mengepung dari segala sisi ketika Jongin membuka mata. Ia berdesis pelan, merasakan kepalanya berdentum menyakitkan. Perlahan, Jongin bangkit dari posisi tidur. Ia sedikit membungkuk sembari mengamati sekelilingnya dengan seksama. Otak Jongin berusaha mengumpulkan memori di samping panas tubuhnya yang membakar. Bau antiseptik serta pahit obat yang mampir ke penciuman Jongin membantunya untuk mengingat.
Ruang Kesehatan.
Ia meminta izin untuk tidur di ruangan ini pada periode jam pelajaran kedua karena nyeri yang hadir di kepalanya. Jongin merutuk kasar. Daya tahannya tenyata kalah dibanding hujan kemarin. Tubuhnya masih terasa berat walaupun ia yakin ia telah lama tertidur.
Sambil terus mengumpulkan tenaga, Jongin melirik arlojinya. Ia tidak heran ketika melihat jam sudah melampaui waktu pulang sekolah. Masih dengan limbung, Jongin akhirnya memutuskan untuk beranjak. Ia menapakkan kakinya hati-hati ke atas lantai, berjuang untuk menopang tubuhnya sebisa mungkin.
Pada langkah pertama, Jongin menyadari ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang penting. Sesuatu yang mengikatnya melebihi janji, seperti sebuah kewajiban.
"Shoot!" Jongin terkesiap cepat.
Ia segera berlari dari dalam ruang kesehatan tanpa memikirkan tubuhnya yang menjerit meminta berhenti. Jongin bahkan tidak mengambil satupun barangnya di loker.
Apa yang menjadi perhatiannya hanya satu.
Kyungsoo.
—
Red rose is undeniably the most beautiful among all the roses.
The color of consummation, of raging desires and craving passion.
A full blooded and blazing red of,
"I deeply in love with you."
—
Jongin tidak pernah menemukan dirinya berlari secepat ini. Kakinya bertumbuk keras dengan jalan, memaksa tubuhnya untuk semakin mempercepat langkah. Detak jantungnya berubah menggila di dalam rongga dada. Tenggorokan Jongin terasa kering akibat pengaruh demam serta teriakannya yang memanggil nama Kyungsoo.
Perkataan Jongdae yang berputar tanpa henti membuat Jongin berusaha untuk menahan sakit di seluruh anggota badannya. Bahaya yang bisa mengancam Kyungsoo bukan sekedar segerombolan anak ingusan seusia mereka. Tetapi berandalan dengan otak kriminal tinggi yang menganggap kekerasan adalah sebuah hiburan.
Alih-alih umpatan, apa yang kali ini keluar dari mulut Jongin adalah doa. Ia rela Tuhan mengambil semua pintanya asalkan Kyungsoo tidak terluka.
Kepala Jongin melongok ke sekitar sembari langkahnya masih terpacu konstan. Ia berharap Kyungsoo masih belum jauh. Ia sangat berharap Kyungsoo bisa mendengar suaranya, serta nada putus asa yang terhantar di lidahnya.
Namun tubuh Jongin mendadak lemas—melebihi lemas akibat demam yang menyerangnya ketika melihat Kyungsoo dikepung tiga orang lelaki yang jelas bukan lawan sebanding untuknya.
"Hey!" Jongin berteriak lantang.
Satu lelaki yang berdiri di depan Kyungsoo menoleh tepat saat Jongin berhasil menendang rusuknya kuat. Kedua lelaki lain terkejut menyaksikan serangan tiba-tiba itu. Tangan mereka yang sebelumnya mencengkram lengan Kyungsoo kini berada pada posisi siaga.
Jongin dengan sigap menghindari pukulan pertama yang datang dari lelaki di kanannya. Ia membungkuk, kemudian melontarkan uppercut ke dagu lelaki itu. Melihat lelaki itu terjembab, Jongin segera beralih ke lelaki di kirinya. Sebuah pukulan lain Jongin daratkan di perut lelaki itu hingga lelaki itu tersedak.
Ia segera mengangkangi salah seorang lelaki yang berusaha berdiri, menahan tubuh lelaki itu dalam posisi telentang kemudian menghajarnya tanpa ampun di wajah. Walaupun lelaki itu sudah merintih meminta ampun Jongin tidak bisa berhenti.
Ia tidak mau berhenti.
Pikiran Jongin terasa berkabut karena semua lelaki ini melukai Kyungsoo.
Seperti orang kerasukan, kepalan tangan Jongin mengerat seiring entah berapa kali tinju yang ia layangkan. Jongin terus memukul, memukul, memukul, mengabaikan darah yang mulai memenuhi ruas jarinya.
Sepasang lengan tiba-tiba memeluk pundaknya dari belakang lalu menariknya menjauh. Lengan itu mengusap dadanya, mencoba menarik akal sehat Jongin untuk kembali ke tempatnya.
"Jongin, cukup." Suara Kyungso yang berbisik membuat bahu Jongin melemah. "Cukup. Aku sudah memanggil polisi. Mereka akan tiba sebentar lagi."
Tangan Kyungsoo berpindah ke pinggangnya, mendekapnya dalam selubung yang begitu nyaman. Jongin mengatur nafasnya agar kembali stabil. Matanya yang melebar karena amarah kini kembali normal.
"Kenapa kau tidak menungguku?" meski kalimat itu seharusnya dilemparkan dengan intonasi tinggi—mungkin juga sedikit bentakan frustasi, Jongin tidak dapat melakukannya kali ini.
"Kau tertidur sangat nyenyak. Aku tidak ingin membangunkanmu." Gumam Kyungsoo di punggungnya.
Jongin mendesah lelah. Ia kemudian memberanikan diri untuk berbalik, memeriksa apakah Kyungsoo mengalami luka yang fatal. Kyungsoo mundur beberapa langkah, mata besarnya menatap Jongin lurus, hangat, membuat Jongin ingin kembali terjatuh di pelukan lelaki itu.
Jongin meniti luka gores di bibir Kyungsoo, atas alis dan juga pipinya. Ia bernafas lega karena luka itu terlihat tidak cukup parah. Namun begitu pandangannya beralih ke tangan Kyungsoo, suatu perasaan aneh menusuk dadanya.
Jongin tidak tahu apa yang dilakukan para lelaki itu. Mungkin Kyungsoo terjatuh ketika berkelahi tadi hingga bilur serta sayatan memenuhi punggung tangan sampai sikunya.
Dan Jongin tidak rela.
"Kau terluka." Ucap Jongin parau. Ia membawa tangan Kyungsoo lebih dekat, wajahnya tertunduk melihat bercak darah di pakaian lelaki itu. "Kyungsoo, kau terluka."
"Ini hanya luka kecil. Tidak perlu kh-"
Kalimat Kyungsoo terhenti di udara. Lelaki itu menekuk lutut, sengaja menyejajarkan pandang dengan Jongin yang masih menunduk. Ragu-ragu, tangan kikuk Kyungsoo bergerak mendekat ke wajahnya. Jongin dapat menangkap lara yang tercermin dari dalam mata Kyungsoo. Lelaki itu termangu di depannya, melihatnya dengan sorot yang tidak bisa ia terjemahkan. Ibu jari Kyungsoo tiba-tiba menyeka bagian bawah matanya lembut.
"Kenapa kau menangis?"
Jongin mengusap matanya cepat. Ia terkejut mendapati air membasahi jarinya. Kepalanya segera menengadah, karena mungkin Kyungsoo salah paham. Mungkin itu hanya air hujan dan lelaki itu terlalu bodoh sampai tidak bisa membedakannya.
Tetapi langit kala itu jernih. Bersih, dengan biru menghampar seperti kubah lautan yang tinggi di atasnya.
Ia kembali mengalihkan pandangan ke Kyungsoo. Rasa menusuk di dadanya hadir setiap kali luka di tubuh lelaki itu terjamah oleh penglihatannya. Pengaruh demam yang tadi ia abaikan mendadak merengkuhnya lagi. Kaki Jongin bergetar hingga ia menghempaskan tubuh ke salah satu dinding terdekat.
Jongin terduduk lemah dengan nafas memburu dari dalam mulutnya juga sesuatu yang membara di matanya. Kyungsoo berjongkok di depan Jongin, kedua tangan lelaki itu bertumpu ke lututnya.
"Oh, astaga. Kau pucat." Pekik Kyungsoo. Raut lelaki itu menampakkan khawatir yang teramat sangat. Ketika Kyungsoo berniat menyentuh keningnya, Jongin segera meraih pergelangan tangan lelaki itu.
"Don't get hurt." Bisik Jongin di tengah mual yang merangkak naik. "Kyungsoo, promise me you won't get hurt anymore."
Kyungsoo membelalak lebar saat Jongin mulai terisak pelan. Lelaki itu terdiam di tempat, tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Aku—" Jongin menutup kedua matanya sendiri, ia seharusnya tidak bersikap cengeng seperti ini, "Aku—tidak bisa, Kyungsoo." Isakannya berubah menjadi sesenggukan panjang yang pilu. "Aku tidak bisa melihatmu terluka lagi. Aku menyesal. Aku minta maaf. Aku mohon jangan pernah terluka lagi. Aku mohon."
Jongin merasa ia bisa meneruskan permintaan maafnya, berulang-ulang, hingga Kyungsoo bosan. Memberi tahu lelaki itu bahwa ia memang brengsek, bahwa ia pantas mendapat pembalasan, apa saja. Oh, Tuhan, apa saja asalkan ia bisa bebas dari penyesalan ini.
"Please, please, don't get hurt. Please." Jongin meracau, mengulang kata yang sama terus menerus.
Mungkin dulu, ia salah memulai kisah cinta ini. Mungkin nantinya, ia bukan merupakan tipe kekasih impian Kyungsoo. Tetapi mungkin sekarang, ia harus memberi kesempatan dirinya sendiri untuk mencoba mencintai lelaki itu dengan cara yang benar.
"Jika aku—" Jongin menyentuh pangkal hidungnya kuat, "Jika aku, meminta sebuah tombol restart untuk memperbaiki setiap kesalahan yang telah aku lakukan, apa kau akan memberikannya?"
Jongin memberanikan diri untuk mendongak, mempertemukan matanya dengan Kyungsoo. Lelaki itu terlihat terkejut dengan pernyataannya.
Selanjutnya yang terjadi adalah jeda terpanjang dalam hidup Jongin. Dimana waktu mengalun malu-malu, gemuruh di atas kepala mereka mengusir keduanya untuk segera berlalu, dan bibir Kyungsoo yang terkatup semakin membungkus kesunyian dalam belenggu.
Namun, mata lelaki itu seolah ingin mengungkapkan sesuatu.
"Kau tidak perlu memperbaiki apapun." Kyungsoo menjawab, lirih sekali. "Percayalah. Kau tidak perlu memperbaiki apapun."
Jongin tersengal sarkastik. Ini sangat tipikal Kyungsoo. Sampai kapan lelaki itu ingin bersikap baik kepadanya, bertindak seakan tidak pernah ada masalah apapun di antara mereka?
Kyungsoo begitu bodoh. Sangat bodoh. Jongin ingin membunuh dirinya sendiri karena penyesalan membasuh sanubarinya dengan cara seperti ini.
Ia berniat untuk mengumpat lelaki itu, tetapi mulutnya segera menganga saat melihat wajah Kyungsoo.
Mata lelaki itu berkaca-kaca sedang sudut bibirnya tersungging sampai ke pipinya. "I'm so happy."
Kenapa? Jongin ingin bertanya. Kenapa kau ikut menangis? Kenapa kau tidak melawanku? Kenapa kau justru mengatakan bahwa kau bahagia sekarang? Kenapa? Apa yang sebenarnya ada di pikiranmu?
Situasi ini terlalu membingungkan untuknya. Kyungsoo, terlalu misterius untuknya.
Suara petugas kepolisian yang datang tidak membuat Jongin mengalihkan pandangan. Ia mencoba menyelami mata Kyungsoo, mencari jawaban. Meskipun kedua pria berseragam itu menanyakan keadaan Jongin, lidahnya kelu tidak mampu bicara.
Karena Jongin tidak bisa fokus terhadap apapun saat ini.
Tidak ketika mata Kyungsoo menatapnya penuh perhatian, sorot lembut yang tertangkap dari mata lelaki itu membuat Jongin ingin larut. Ia ingin hanyut.
Dalam, dalam sekali.
Bibir Kyungsoo terlihat begitu merah, seperti siluet mawar yang menghantuinya sejak kemarin. Jongin benar-benar sedang tidak ingin menggubris dunia sekitarnya. Ia tidak ingin berpikir apapun selain membawa bibir Kyungsoo untuk menyentuh bibirnya.
Detik berikutnya, tangan Jongin melingkar di tengkuk Kyungsoo, menarik wajah lelaki itu mendekat, menyatukan bibir mereka pada ciuman yang melehkan setiap persendiannya. Walaupun hujan belum turun, Jongin dapat merasakan petrichor di bibir Kyungsoo. Aroma tanah serta rerumputan basah tercecap yang bercampur dengan sedikit air mata.
Jongin sekarang mengerti alasan mengapa seseorang ingin jatuh cinta.
Kemudian seperti sebuah cliché dalam film romantis murahan, tetes pertama air hujan jatuh ke hidungnya.
—ooo—ooo—
"J—Jongin," Kyungsoo menggenggam tangan Jongin. "Itu bukan cara kau melakukannya."
Jongin tidak mendengarkan. Ia masih berusaha untuk membalut luka di tubuh Kyungsoo meski tangannya gemetar. Jongin terus memikirkan cara bagaimana perban ini bisa menempel sempurna di luka Kyungsoo.
Dengan frustasi ia menggunting perban yang ia genggam, menggulungnya menjadi persegi tetapi tetap berujung berantakan hingga ia menggeram, dan cairan povidone-iodine yang ia oleskan tadi mulai mengering, dan karpet di bawahnya basah karena sisa hujan di pakaiannya, dan Kyungsoo masih mengeluarkan protes mengenai metodenya menangani luka, dan itu membuatnya semakin frustasi, dan sial, kenapa ia belum bisa menghentikan tangisnya sedari tadi?
"Jongin—"
"Shut up, Kyungsoo. Just shut up." Jongin menyeka tangisnya menggunakan lengan. Pandangannya berubah kabur karena air mata, membuat ia merutuk kasar karena hal itu mempersulit pekerjaannya.
Mereka berdua berakhir di ruang tidur Jongin. Dengan Kyungsoo yang duduk di atas ranjang Jongin, serta Jongin yang berlutut di depan lelaki itu dalam keadaan sama-sama basah. Namun tidak ada satupun dari mereka yang berniat untuk mengganti pakaian.
Kyungsoo tidak mengatakan sepatah katapun setelah kalimat tadi. Tetapi Jongin bisa merasakan mata lelaki itu mengikuti setiap gerakannya, setiap tarikan nafas, serta sengguk yang tidak sengaja lolos dari bibirnya.
"Kau ingin tahu jawabannya?" Cetus Kyungsoo tiba-tiba.
Meskipun itu seperti sebuah pertanyaan ambigu, Jongin tahu persoalan apa yang sedang ingin dia bicarakan.
"Ya." Jongin menjawab lemah.
Jemari Kyungsoo menelusup perlahan ke sela jarinya, sebelum lelaki itu menggenggamnya lembut. "Karena aku menyukaimu."
Ucapan Kyungsoo terdengar sureal di telinga Jongin.
Kata tanya 'kenapa' berenang lebih banyak dalam benaknya, bersamaan dengan 'bagaimana bisa', 'sejak kapan?', namun ia kembali menelannya.
Jongin menjatuhkan apa saja yang ada di tangannya. Ia menyandarkan kening ke paha Kyungsoo kemudian memeluk kaki lelaki itu erat.
"Aku sangat menyukaimu." Ulang Kyungsoo, seolah pernyataan pertama lelaki itu tidak cukup mengacaukan detak jantung Jongin.
Jongin merasakan hatinya bersemi. Merekah indah seperti padang bunga Canola di awal bulan April.
"You deserve more, Kyungsoo." Bisik Jongin. "You deserve all the happiness in the world, you deserve a sweet morning text the moment your eyes open, you deserve someone who washes all your troubles away."
Jongin menarik nafas panjang, matanya terasa beribu kali lipat lebih menyengat dibanding sebelumnya. Ingatannya berkelana pada mawar yang ia muntahkan selama ini. Biru, kuning, jingga, merah muda. Merah. Yang mungkin akan terlihat indah di langit kelabu layaknya sebuah pelangi.
Tetapi ketika ia menatap Kyungsoo, lelaki itu ternyata jauh, jauh lebih indah daripada setiap benda yang dunia tawarkan padanya.
"You deserve, someone, who concedes how beautiful you are in every heartbeat."
Kyungsoo menatapnya ragu. "Could you be that someone?"
Jongin berkedip pelan. Jika ia sedikit jeli, ia pasti dapat menemukan sipu di kedua pipi lelaki itu. "Do you want me to be?"
"Ya."
"Ok." Sahut Jongin. "I could be that someone."
Dan ketika bibir mereka kembali bertemu, mendadak, Jongin merasakan musim semi kembali hadir mengunjunginya.
—
Meanwhile, the meaning of shimmering white roses is not very hard to decipher if you go by their appearance.
They convince that your affections are straight from the heart and are as pure as virgin snow.
"I love you unconditionally."
—
Dari sekian banyak manusia yang hidup di dunia, Do Kyungsoo tidak pernah menyangka hatinya akan jatuh kepada Kim Jongin.
Hampir mustahil bahwa sebuah tindakan dapat mengubah pendapatnya mengenai seseorang. Awalnya, Kyungsoo menilai Jongin sebagai lelaki arogan bermulut kasar. Semua murid bisa mendengar umpatan lelaki itu sepanjang hari tanpa jeda.
Namun kejadian di suatu siang yang tenang membuka prespektif lain Kyungsoo mengenai lelaki itu.
Kyungsoo mengingat Jongin yang duduk di taman belakang sekolah mereka. Ia sedikit heran menemukan Jongin berada di situ. Rasa penasaran menarik Kyungsoo untuk mengamati apa yang sedang Jongin lakukan.
Di samping lelaki itu, tergeletak beberapa alat perkakas.
Kyungsoo memilih bersembunyi sembari menunggu apa yang sebenarnya sedang Jongin kerjakan. Wajah Jongin tampak begitu serius. Sesekali lelaki itu menyeka keringat di keningnya sedang tangannya masih sibuk dengan apapun pekerjaan yang tengah dia lakukan.
Pada menit sebelum jam istirahat berakhir, Jongin akhirnya berdiri. Lelaki itu menepuk bekas tanah di tangan serta celananya. Kyungsoo segera memincing untuk mengetahui lebih jelas apa yang menyibukkan Jongin sedari tadi.
Dan ketika Kyungsoo memandang sesuatu di hadapan Jongin, ia terhenyak.
Jongin membuat pagar kayu di sekeliling bunga liar yang sedang semi.
Hati Kyungsoo mendadak luluh. Ia menatap lelaki yang saat itu sudah berjalan menuju ke gedung sekolah dengan senyum bahagia menghiasi wajah.
Malamnya, Kyungsoo memuntahkan kelopak mawar putih pertamanya.
Setelah kejadian itu, Kyungsoo menjadi lebih sering memperhatikan bunga yang tumbuh di sekitar sekolah mereka serta pagar sederhana yang melindunginya. Mungkin Jongin memiliki gagasan itu, karena murid sekolahnya seringkali berjalan seenaknya hingga tidak sengaja menginjak tumbuhan yang tidak berada pada jalan setapak.
Kyungsoo menyadari ternyata hampir selalu ada noda tanah di celana seragam Jongin. Terkadang, jari lelaki itu juga terluka—mungkin karena tergores kawat atau tidak sengaja tertancap paku, ia berasumsi.
Hati Kyungsoo semakin jatuh kepada Jongin seiring dengan kelopak-kelopak mawar putih yang terus keluar dari dalam mulutnya.
Terlebih saat ia melihat bibit bunga yang baru saja ditanam di tempat yang paling sering dirusak. Kyungsoo berjongkok di sana, mengagumi bibit Aster yang belum mekar. Ia tidak mendeteksi adanya seorang lelaki yang memperhatikannya.
Ketika Kyungsoo menoleh, ia terkejut mendapati Jongin berdiri tidak jauh darinya. Lelaki itu segera menyembunyikan botol air yang dia genggam ke belakang punggung sembari berteriak tajam 'apa yang sedang kau lakukan?'. Kyungsoo dapat menebak bahwa Jongin berniat untuk menyiram Bunga Aster di depannya.
Tanpa sadar, ia tersenyum.
Jongin membelalak lebar. Wajah lelaki itu memerah dengan tatapan yang tertuju lurus ke arahnya.
Berawal dari situ, Jongin mulai berlaku kasar padanya.
Kyungsoo bukan ingin berpura-pura lemah. Tetapi ia memang harus bertahan dengan segala cacian serta luka yang Jongin berikan padanya. Karena Kyungsoo sadar, Jongin hanya ingin bersembunyi di balik kedok arogan untuk menutupi sisi lembutnya dari dunia.
Setiap kali Jongin melayangkan pukulan demi pukulan, Kyungsoo selalu mengulang kalimat yang sama dalam kepala untuk meredam rasa sakitnya.
You just scared.
Makian merendahkan, hantaman kasar, teriakan yang menyakitkan telinga.
You just scared, Jongin. You just scared.
Kyungsoo tidak dapat menghitung berapa kali ia ingin mengatakan dengan lantang kepada Jongin bahwa lelaki itu sempurna. Bahwa Jongin tidak perlu menyembunyikan apapun karena lelaki itu sudah sempurna.
Sekelebat ingatan itu membuat Kyungsoo merasa hubungan resmi antara ia dan Jongin masih terasa seperti sebuah fantasi.
Kim Jongin mencintainya dengan cara berbeda.
Dengan sentuhan malu-malu di kaitan jari mereka yang seolah mempertanyakan 'is this okay?' dan Kyungsoo harus menggenggam tangan lelaki itu erat untuk meyakinkan 'it's totally okay'. Dengan tatapan diam-diam di dalam kelas yang membuat guru selembut Mrs. Choi harus berteriak untuk meminta lelaki itu menghadap ke depan. Dengan gerakan canggung saat lelaki itu ingin meninggalkan kecupan selamat tinggal di depan pagar rumahnya.
Mungkin dalam hubungan ini Kyungsoo memang tidak banyak bicara. Ia masih menjadi pribadi pendiam—karena ia memang memilih diam, bukan karena tekanan dari keadaan sekitarnya.
Keheningan selalu melahirkan inspirasi untuknya.
Tetapi Kyungsoo ingin melengkapi Jongin. Mengusir kekhawatiran lelaki itu ketika tatapannya mengisyaratkan 'apa aku sudah mencintaimu dengan benar?'.
Kyungsoo ingin Jongin tahu bahwa dia tidak pernah salah. Lelaki itu bahkan tidak perlu berbuat apapun dan Kyungsoo akan tetap selalu jatuh cinta.
Sebuket Daffodil kuning cerah yang berada di atas meja menarik Kyungsoo kembali dari lamunannya. Ia meraih buket itu perlahan, seolah takut seseorang ternyata salah mengalamatkan pemberian ini kepadanya. Kyungsoo menyisir ke sekitarnya sejenak, menerka-nerka siapa yang meninggalkan bunga itu di meja tempat ia biasa duduk.
Namun misteri itu seketika terjawab saat mata Kyungsoo bertumbuk dengan Jongin. Lelaki itu menatapnya dengan gelisah, wajah bersemu, serta kaki yang terus bergerak gugup di bawah meja.
Perasaan bahagia yang menggenang pada kadar darah Kyungsoo segera membuatnya meledak dalam tawa. Ia mendekap Daffodil itu erat ke dadanya sembari merasakan debar jantungnya yang berantakan.
Kyungsoo is in love, in love, in love. Ia tidak tahu kata apalagi yang dapat mendeskripsikan arti Kim Jongin di dalam hatinya.
*Daffodil means "The sun always shines when i'm with you.
THE BOY WHO MAKES MY HEART BLOOM : THE END
.
Author's Note :
Actually, i'm not really confident with my writing skill lately. Jadi progress semua cerita aku lambat banget :(
Daaaaannnn aku tambah gak percaya diri karena komik asli cerita ini bagus banget, terus begitu aku bikin FF jadinya cuma kaya gini.
I'm so sorry guys, really...
BUT THANKS FOR YOUR REVIEWS, YOU MADE MY DAY. LEMME HUG YOU ALL AND GIVE YOU COOKIES.Semoga ini ga mengecewakan banget, HAHAHAHA. Karena aku berusaha bikin ceritanya ga begitu mainstream walaupun topiknya mainstream. Terus ini eksplisit banget sih sebenernya, jadi kalo missal ada yang kalian mau tanyain PM aja langsung atau ask ke ask fm aku (username : bittsher).
DON'T BE SHY I DUNOT BITE, I SWEAR :)))))))
So, yeah...
Review, saran, kritik, teramat sangat diapresiasi sekali. Jangan takut ngeluarin pendapat~~
I LOVE YOU ALL!
XOXO
—Red Sherry—
