THE BOY WHO MAKES MY HEART BLOOM
(EXTRA)
.
Decided to make a not-so-smutty-but-smut sequel. If you can't read smut please go to the author's note! I'll answer all of your questions on prev chap :)
Hujan.
Gelegar guntur terdengar bergemuruh seiring dengan kilat petir yang seolah ingin membelah langit menjadi kepingan awan kecil. Bunyi rintik hujan berkejaran di atas atap, melompat riang, menjadikan sore hari itu sebagai ruang bermain.
Dua pasang mata menyaksikan bagaimana angin bertiup kencang menerbangkan ranting lewat jendela sebuah ruang tengah. Bunyi ketel air mendidih telah berhenti beberapa menit lalu, namun belum ada satupun dari mereka yang menyentuh cangkir teh yang kini mulai dingin.
Kyungsoo mendesah panjang, tidak menyangka pada titik dimana ia sudah terbiasa dengan hujan, semesta mengirimkan badai terburuknya.
Walaupun hujan memutuskan untuk turun ketika sisa perjalanan ke rumahnya tinggal beberapa meter, Kyungsoo tetap berakhir basah kuyup.
Ia bahkan harus memeras pakaian seragamnya beberapa kali sebelum memasukkannya ke mesin cuci beserta dengan satu pakaian milik lelaki lain.
Jongin.
Lelaki itu duduk canggung, mengenakan baju milik Kyungsoo yang tampak terlalu kecil di tubuhnya. Sesekali, Jongin menarik ujung kausnya ke bawah untuk menutup bagian punggungnya yang masih terlihat. Kyungsoo merasa sedikit iba karena tidak berhasil menemukan ukuran celana yang sesuai dengan Jongin. Lelaki itu terpaksa harus duduk dengan celana basah dan noda rembesan air yang tercetak di sofanya.
Jongin mendadak berdeham, sedikit ragu untuk menyesap teh yang telah disajikan Kyungsoo sebagai bentuk sopan santun. Lelaki itu kemudian menoleh ke arahnya, tersenyum kecil sebelum meletakkan cangkirnya kembali.
Kyungsoo membalas senyum Jongin, matanya masih bertahan pada Jongin meski lelaki itu telah mengalihkan pandangan.
Disamping hubungan mereka yang telah berlangsung cukup lama, keduanya belum juga menemukan koneksi untuk saling bercakap. Selain kata sapaan singkat, ungkapan basa-basi mengenai bagaimana harimu, atau kecupan kikuk setelah mengucapkan salam perpisahan, mereka lebih sering memberikan tahta kepada hening untuk berkuasa.
Namun, Kyungsoo mulai mengenal Jongin lebih baik.
Kyungsoo tahu bahwa Jongin akan berubah terbata ketika ia memiliki keberanian untuk melingkarkan tangannya ke lengan lelaki itu. Kyungsoo tahu bahwa Jongin memperhatikannya pada pelajaran olahraga dari jendela lantai dua gedung sekolah mereka. Kyungsoo tahu bahwa Jongin sering tersenyum tanpa sebab ketika melihatnya tertawa.
Dan Kyungsoo jelas tahu bahwa Jongin mempunyai suatu rahasia yang sedang disembunyikan, dari cara lelaki itu menatap bibirnya lebih lama sesaat setelah memberikan kecupan perpisahan.
Atau mungkin juga saat ini.
Karena tepat ketika Kyungsoo memalingkan wajah, ia menangkap Jongin sedang memandangnya dengan sorot yang tidak bisa ia tafsirkan. Lelaki di sebelahnya terlonjak sejenak, seolah tidak mengantisipasi bahwa ia akan menoleh sebelum tiba-tiba berdiri cepat dari sofa.
"K—Kurasa, aku harus pergi." Tutur Jongin sembari menyambar ranselnya.
Kyungsoo beranjak panik, ia menahan tangan Jongin tepat ketika lelaki itu ingin berbalik menuju pintu depan.
"Stay." Perintah Kyungsoo tegas. "Hujan di luar sana masih lebat. Kau bisa jatuh sakit." Ia menatap Jongin lurus, tidak mengizinkan lelaki itu untuk berkilah dengan alasan apapun.
Merasa kalah, Jongin akhirnya kembali duduk.
Tetapi kali ini, alih-alih membatasi jarak di antara mereka, Kyungsoo bergeser mendekat hingga kaki keduanya bersentuhan. Jongin membelalak kaget, sedangkan Kyungsoo hanya bisa menunduk, mencoba melawan getaran yang dihasilkan dari hangat tubuh lelaki itu.
"Jongin," bisik Kyungsoo lirih, "aku tahu apa yang mengganggu pikiranmu belakangan ini."
Kyungsoo merasakan wajahnya menghangat. Ia semakin menunduk, menolak beradu pandang dengan Jongin. Lelaki di sampingnya memang tidak berkutik maupun bersuara. Namun Kyungsoo tetap dapat menarik kesimpulan bahwa Jongin mendengarkan dari deru nafas lelaki itu yang berganti tidak teratur.
"I—I mean, we're together. Right?" Kyungsoo menggenggam kedua tangannya sendiri kuat. "Jadi, kukira tidak akan menjadi masalah bila kau—"
Ia mengambil jeda sejenak, mengumpulkan setiap keberanian yang berceceran di otaknya untuk melanjutkan kalimat selanjutnya.
"Bila kau—um, menginginkan sesuatu yang lebih."
Seketika, nafas Jongin tercekat di tenggorokan.
Lelaki itu menelan ludah beberapa kali seraya menyisir surainya ke belakang. Rahangnya tampak mengeras, seakan sedang meredam sesuatu yang bergejolak dalam dirinya. Jongin berdecak kecil, kemudian melipat bibirnya ke dalam—bingung.
"You're my most valuable treasure, Kyungsoo." Desah Jongin lemah, sepulas seringai getir muncul dari bibirnya. "There's no way in hell, I could do such a wicked thing to you."
"Kenapa?"
"Karena aku—atau bahkan siapapun bukan seseorang yang pantas untuk menyentuhmu dengan cara seperti itu."
Kyungsoo menggeleng tidak setuju, menarik wajah Jongin agar menghadapnya. Terdapat banyak sekali kebimbangan yang dapat ia temukan berenang di mata Jongin. Dan Kyungsoo tidak bisa membiarkan rasa bimbang itu mengikis kepercayaan Jongin terhadap dirinya sendiri maupun hubungan ini.
"Bagaimana jika aku juga menginginkannya?" Ujar Kyungsoo dengan penuh penekanan.
Mulut Jongin menganga kemudian mengatup tanpa suara. Tangan lelaki itu tiba-tiba naik ke tengkuk Kyungsoo, menyatukan kening mereka hingga ujung hidung mereka saling bergesek.
Suara hujan di luar jendela mendadak terdengar begitu keras dalam ruangan itu, begitupun debar jantung mereka.
"Kyungsoo, jangan mengujiku. Aku mohon, jangan—"
"Aku serius," Kyungsoo menyergah segera, "bagaimana jika aku juga menginginkannya sama sepertimu?"
Jongin menyandarkan keningnya lebih dekat lagi, bibir mereka nyaris bertemu namun tidak cukup rapat untuk bersatu. Apa yang dapat Kyungsoo rasakan berikutnya hanya pergeseran udara di sekitar bibirnya ketika Jongin berbisik—rendah sekali, "Oh, Tuhan kau membuatku gila."
Kemudian tangan Jongin berpindah ke punggungnya, jatuh perlahan hingga ke belakang pinggang sebelum lelaki itu mencium bibirnya.
Berbeda dengan kecupan yang Jongin tinggalkan biasanya, kali ini, lelaki itu benar-benar menciumnya. Bibir Jongin bergerak memagut Kyungsoo—lambat juga malu-malu, hingga Kyungsoo merasakan kepalanya berputar hebat.
Kyungsoo menuntun Jongin untuk berdiri dengan tenaga yang ada tanpa melepas ciuman mereka. Membimbing langkah lelaki itu perlahan menuju ruang tidurnya. Derit kayu menggema ketika punggung Kyungsoo bertemu dengan pintu. Jongin secara sigap menelusupkan tangannya ke balik tubuh Kyungsoo, mencari gagang pintu dengan serabutan.
Bunyi pintu yang terbuka segera mengirimkan keduanya untuk masuk ke dalam.
Dan semudah itu pula, mereka tenggelam ke dalam hasrat satu sama lain.
-o-o-o-
Jongin tidak pernah membayangkan kejadian seperti ini akan terjadi di hidupnya.
Mendapati Do Kyungsoo berada di kungkungan kedua lengannya dengan mata sayu, nafas terengah serta rambut berantakan yang jatuh ke atas bantal.
Ia bahkan belum bisa berhenti untuk mencium Kyungsoo. Melumat bibir lembut itu sedikit kasar hingga menyusupkan lidahnya untuk mengecap Kyungsoo lebih banyak lagi.
Setidaknya, Jongin sudah hilang ingatan. Ia sudah melupakan rasa tidak nyaman dari celananya yang masih basah atau keraguan dalam dirinya semenjak Kyungsoo mengatakan bahwa lelaki itu memliki keinginan yang sama.
"Jongin." Kyungsoo mendesah, terkejut ketika lidah Jongin berpindah ke lehernya.
Suara lelaki itu terhantar seperti sebuah melodi di telinga Jongin. Ia menggigit leher Kyungsoo kuat, menahan geraman yang sudah mencapai tenggorokannya.
Jongin pikir akal sehatnya sudah terbengkalai pada detik itu. Bahkan dengan keadaan masih berbalut pakaian, seluruh tubuhnya serasa remuk karena dekap tubuh Kyungsoo yang lekat. Kulitnya terasa terbakar setiap kali Kyungsoo mendesahkan namanya, atau memekik kecil ketika ia menggigit bagian tertentu.
Jongin mengambil nafas panjang. Memasukkan oksigen ke dalam otaknya agar ia bisa berpikir jernih. Jongin kemudian menatap Kyungsoo yang sedikit bingung karena ia mendadak diam.
Ia tidak bisa melakukan ini.
Jongin jatuh bersimpuh—menunduk menyalahkan dirinya sendiri. Ia tidak mempercayai ia hampir kehilangan kendali. Sementara, Kyungsoo duduk di hadapannya dengan ekspresi khawatir. Menunggu Jongin menjelaskan apa yang membuatnya berhenti.
"Kau—" Jongin memulai sambil mengusap pipi Kyungsoo menggunakan ibu jarinya. "Kau berarti segalanya bagiku. Aku tidak ingin tindakan tanpa pikir panjang kali ini menghancurkan apa yang telah kita miliki."
Kyungsoo mengerutkan kening, seolah apa yang Jongin katakan barusan merupakan suatu hal yang tidak masuk akal.
"Apa kau melihatku mundur barang sedikitpun?" Kyungsoo meraih tangan Jongin, lalu menggenggamnya erat. "Jika bukan denganmu, aku tidak ingin melakukan ini dengan siapapun lagi."
Jongin terdiam. Melihat sosok lelaki yang begitu sempurna itu mengucapkan kalimat yang membuat hatinya haru. Ia merasa berharga. Ia merasa dunia bukan lagi tempat yang buruk untuk hidup. Dan ia merasa beruntung menemukan Kyungsoo di tengah lautan manusia yang mengelilinginya.
Jongin bergerak mendekat, merengkuh Kyungsoo ke dadanya. Ia mencium rambut Kyungsoo beberapa kali sebelum bibir mereka kembali bertaut bersama hasrat yang lebih menggebu. Jongin membuka pakaian Kyungsoo perlahan, meminum banyak-banyak Kyungsoo yang bersemu karena tindakannya.
Ia segera mencium tiap bagian tubuh Kyungsoo yang terbuka, menyapukan lidahnya perlahan demi meraup desahan Kyungsoo lebih keras lagi ke telinganya.
Tangan kikuk Kyungsoo kini menggantung di ujung kaus Jongin, seakan meminta permisi.
Jongin tersenyum seraya memandu Kyungsoo untuk menanggalkan pakaiannya. Lubang leher kaus Kyungsoo yang terlalu kecil untuk Jongin membuat pekerjaan itu terhambat, hingga Kyungsoo harus menyentakkan pakaiannya agar lepas dari Jongin.
Mereka berdua tertawa ketika Kyungsoo akhirnya berhasil.
Namun tawa itu segera redup ketika mata Kyungsoo beranjak turun menelusuri dada Jongin yang telanjang. Dengan sedikit gemetar Kyungsoo menjelajahi dada sampai perut Jongin.
Jongin mendesis merasakan perbedaan suhu di antara kulit mereka, juga sensasi sentuhan malu-malu Kyungsoo.
Ia menahan pergelangan tangan Kyungsoo. Menghimpit lelaki itu hingga bertemu kepala ranjang, kemudian memanfaatkan waktu sebisa mungkin untuk memuja keindahan Kyungsoo dengan bibirnya.
Setelah memastikan bahwa ia telah meninggalkan cukup banyak jejak di sekujur tubuh Kyungsoo, nafas Jongin berubah memburu.
"Kau ingin berhenti?" Jongin bertanya untuk meyakinkan Kyungsoo—dan dirinya sendiri bahwa lelaki itu masih menginginkan ini.
Kyungsoo menggeleng sementara Jongin menggumam mengerti. Ia menjilat bibir sekilas, selagi tangannya bermain di tepi celana Kyungsoo.
Seakan menangkap keresahan Jongin, Kyungsoo menyibak rambut Jongin yang sudah setengah kering untuk mempertemukan mata mereka. "Jangan ragu."
Mereka bertukar ciuman sekali lagi sebelum seluruh penghalang di antara mereka lenyap.
Keduanya bersitatap. Saling mengagumi tanpa kata—hanya lewat mata, lewat sentuhan yang beralih semakin turun, terus turun, hingga ke pusat hasrat mereka.
Kyungsoo memejamkan mata kuat ketika tangan Jongin yang menggenggam miliknya mulai bergerak. Jemari Kyungsoo yang bebas mengerut di lengan Jongin, tidak menduga bahwa sentuh sesederhana itu dapat menghapus isi kepalanya.
Jongin terus melakukan gerakan yang sama berulang-ulang, membuat Kyungsoo melepaskan cengkramannya pada milik Jongin. Punggungnya melengkung merasakan ketika sesuatu yang hangat berkumpul di bagian bawah tubuhnya.
"Berhenti!" Kyungsoo menahan tangan Jongin.
Jongin refleks melompat ke belakang, terperanjat mendengar pekikan panik Kyungsoo. "Aku menyakitimu?"
Kyungsoo mengatur nafas sejenak, dadanya naik turun sementara kedua pipinya merah matang. "Tidak, hanya saja, um—" Lelaki itu membetulkan posisi duduknya, kemudian menunjuk ke bawah tempat tidur.
Jongin yang diliputi rasa bingung tetap menuruti perintah Kyungsoo. Ia melongok ke bawah tempat tidur, menemukan satu kotak sepatu yang berisi—
Oh, astaga.
"Kau—Kau mempersiapkan ini?" kali ini giliran Jongin yang bersemu memperkirakan bagaimana wajah Kyungsoo ketika membeli barang-barang di dalam kotak sepatu itu.
"No question asked, please." Jawab Kyungsoo cepat.
Jongin tergelak kecil sambil menanamkan satu ciuman di ujung hidung Kyungsoo untuk mengusir rasa malu lelaki itu. Tetapi sebaliknya, Kyungsoo justru tersipu kian merah—dan jauh lebih merah lagi, ketika Jongin mulai melumuri jarinya menggunakan lube yang telah dipersiapkan Kyungsoo.
Jongin meraih pinggang Kyungsoo, membaringkan lelaki itu kembali ke atas ranjang. Ia belum juga menyudahi tawanya melihat Kyungsoo yang masih gelisah.
"Berhenti tertawa." Kyungsoo menggumam gusar.
Jongin seketika menjatuhkan kepalanya ke dada Kyungsoo, bahunya berguncang pelan karena situasi yang tengah ia hadapi. "Kau sungguh bisa membuatku mati jika terus bersikap seperti ini."
Kyungsoo memberengut, mencoba mendorong Jongin menjauh. Namun Jongin menahan tubuhnya, tidak terpengaruh sedikitpun dengan usaha Kyungsoo. Telunjuknya kini bersiap untuk masuk ke dalam Kyungsoo selagi lelaki itu lengah.
Kyungsoo terkesiap begitu jari pertama Jongin masuk seutuhnya. Lelaki itu memukul lengan Jongin, matanya membelalak lebar sebab Jongin tidak memberi isyarat apapun.
Tetapi setelahnya, hanya suara desahan yang keluar dari mulut Kyungsoo.
Jongin menggerakkan jarinya perlahan sembari memperhatikan perubahan mimik Kyungsoo. Ia ingin memastikan bahwa Kyungsoo tidak merasakan sakit. Jongin menunggu hingga kerutan di kening Kyungsoo pudar sebelum memasukkan jari keduanya. Kyungsoo mencengkram bahunya kuat, kuku lelaki itu sudah dapat dipastikan akan meninggalkan bekas hingga beberapa hari, namun Jongin tidak peduli.
Perhatiannya terpusat penuh kepada Kyungsoo, dan hanya Kyungsoo.
Jongin menyeka peluh di pelipis Kyungsoo, rasa khawatir kembali menghantuinya. "Should I stop?"
Kyungsoo melenguh—entah karena Jongin menekan titik yang tepat atau karena pertanyaan serupa yang terus ia utarakan. Lelaki itu mencoba membuka mata kemudian berucap serak, "Keep going."
Jongin mengehela nafas berat. Ia dengan hati-hati memasukkan jari ketiganya sembari mendaratkan banyak kecupan ke wajah Kyungsoo.
"Umf." Kyungsoo menggigit bibir.
Seprai pembungkus matras di bawah mereka kusut akibat cengkraman Kyungsoo yang terlalu kuat.
Jongin tidak berani melakukan apapun selain terus menggerakkan jarinya. Ia berubah tegang, menyesali mengapa ia tidak membujuk Kyungsoo lebih persuasif lagi untuk menghentikan ini sebelum semuanya terlanjur.
"Condom." Pinta Kyungsoo tiba-tiba. Jongin melongo, tidak menangkap maksud Kyungsoo hingga lelaki itu harus mengulang. "Condom, Jongin."
Oh, tidak pernah terlintas—bahkan dalam imajinasi terliar Jongin bahwa lelaki polos yang mudah sekali tersipu seperti Kyungsoo akan mengucapkan kata segamblang itu. Dengan kaku, ia mengaduk isi kotak sepatu Kyungsoo untuk menemukan benda yang dimaksud.
Jongin membuka pembungkus alumunium itu buru-buru, kemudian menggulung benda berbahan latex ke miliknya.
"Kyungsoo," Ia menumpukan kedua tangannya ke lutut Kyungsoo, bersiap menyatukan tubuh mereka. "Aku akan bertanya untuk terakhir kali; haruskah aku berhenti?"
"Jangan menanyakan pertanyaan yang kau sudah tahu jelas jawabannya."
Dengan itu, Jongin menenggelamkan miliknya ke dalam Kyungsoo perlahan. Ia berdesis sebab rasa hangat menyelubungi miliknya inci demi inci. Di bawahnya, Kyungsoo melenguh hebat. Setengah punggung lelaki itu terangkat naik merasakan sesuatu yang penuh mengisinya.
Jongin akan mengumpat setiap kosakata buruk yang ada di kepalanya jika saja seseorang yang sedang mendesahkan namanya sekarang bukan Kyungsoo.
Ketika milik Jongin sudah seluruhnya berada di dalam Kyungsoo, mereka berdua tesengal bersamaan. Persediaan udara di paru-paru mereka habis, tipis, karena rangsangan yang diterima keduanya.
Jongin menegakkan punggung, menarik miliknya keluar, namun tidak sepenuhnya. Sementara itu, Kyungsoo tetap terpejam, hingga Jongin menunduk untuk mendekatkan wajah mereka. "Kyungsoo, keep your eyes on me."
Kyungsoo membuka mata susah payah hanya untuk mendapati Jongin yang sudah kacau. Tubuh lelaki itu mengkilat karena peluh, aura yang mengelilinginya berubah gelap, namun sorot yang tertuju untuknya tetap sama.
Kekaguman dan kasih sayang.
Kyungsoo bangkit dan bertumpu ke siku, mengiyakan Jongin dengan anggukan kaku.
Kemudian Jongin menggerakkan miliknya kembali masuk. Pelan, berirama, menikmati bagaimana Kyungsoo membalutnya begitu sempurna.
"Oh, Kyungsoo." Genggaman Jongin ke paha Kyungsoo mengerat seiring dengan suara kulit mereka yang saling bertemu.
Untaian 'Jongin!' beruntun membuat setiap persendiannya lemas, dan Jongin mengutuk karena gelenyar nikmat merayap di bagian bawah tubuhnya. Ia menghujam ke dalam Kyungsoo lagi, lagi, dan lagi. Mengabaikan kebas dari cengkraman Kyungsoo di punggungnya.
Bibir Kyungsoo sedikit menganga, jantungnya berdentum menggila di rongga dada.
Mereka tidak mengartikan ini sebagai penyaluran nafsu, melainkan sebagai jenjang yang lebih tinggi dari perasaan cinta mereka.
Sebab dada mereka buncah diisi berbagai gelora yang menyalakan api romansa.
Mungkin mereka belum bertukar kata cinta, tetapi keduanya tahu seberapa jatuh mereka kepada satu sama lain.
"Kyungsoo," Jongin melumat bibir Kyungsoo sedikit kasar, tempo dari gerak pinggunya berubah tidak beraturan. "Eyes. On. Me." Bisiknya, sembari menekankan setiap kata menggunakan hujaman.
Kyungsoo menjerit. Milik Jongin menikamnya pada titik yang tepat, hingga ia tidak mempunyai pilihan lain selain mendesah, "Oh, there, Jongin."
Jongin segera menyerang titik yang sama. Pandangannya berkabut mendengar alunan pinta dari bibir Kyungsoo. Ia mengecup kening Kyungsoo tanpa memperlambat gerakannya di bawah sana. "Beautiful." Kyungsoo menatap Jongin dengan sorot tersentuh, membuat Jongin kembali mengungkapkan pujian yang sama, "You're painstakingly beautiful."
Kyungsoo bersemu, kombinasi dari geliat tubuh mereka serta kalimat Jongin menarik lengkung di bibirnya. "And so are you."
Ciuman di bibir mereka berantakan, intens dan memabukkan. Kyungsoo mencakar punggung Jongin ketika ia mengetahui ia sudah berada di tepi.
"Jongin—"
"Aku tahu, aku tahu, kau menjepitku begitu kuat di dalam sana."
Kyungsoo menyembunyikan wajahnya di cerukan leher Jongin, respon tubuhnya ternyata berbicara lebih banyak dari kata. Tangan Jongin bekerja untuk memuaskan miliknya, seirama dengan hujaman lelaki itu.
Ruang tidur Kyungsoo serasa lebur menjadi serpih debu ketika Kyungsoo mencapai puncaknya dengan teriakan menggema, "Ah, Jongin!"
Jongin menggeram keras, gerakannya semakin dalam, cepat, dan kasar. Cairan lengket di perut Kyungsoo tidak menghalangi Jongin untuk merengkuh tubuh Kyungsoo erat. Tangannya menelusup ke belakang kepala Kyungsoo, lidahnya terus menari di wajah lelaki itu. Memberi jilatan yang turun hingga ke bahu.
"Kyungsoo," Desah Jongin parau, nadanya begitu penuh gairah. "Oh, Kyungsoo." Jongin menghujamkan miliknya tanpa ampun sementara Kyungsoo yang masih sensitif terus memberinya gigitan-gigitan kecil "Mmh, Soo. Kyungsoo, Kyungsoo, Kyung—" Jongin menjerit tertahan, mengubur bibirnya ke bahu Kyungsoo kuat saat klimaksnya menjemput.
Ia terengah, tubuhnya terasa lemas luar biasa. Kyungsoo mengusap punggungya lembut, seakan meminta maaf karena telah membuat luka cakar di sana.
Namun, Jongin tidak memusingkan itu.
Sesuatu dari dalam dadanya merangkak naik, membuat matanya panas. Ia mengingat setiap perlakuannya ke Kyungsoo dulu, setiap kata kasar yang ia layangkan kepada lelaki itu, kemudian meratap karena Kyungsoo tidak pernah menyinggungnya sekalipun hingga saat ini.
Kyungsoo selalu bersikap lembut kepadanya, sentuhan lelaki itu dapat dengan sederhana menenangkannya ketika amarah menguasai, dan Jongin merasa rendah.
Ia merasa rendah karena belum bisa menjadi sosok kekasih yang baik bagi Kyungsoo.
"Jongin?" Kyungsoo mencoba mengangkat wajahnya ketika Jongin tidak sengaja melepaskan isak pelan. "Kau baik-baik saja?"
Tetapi Jongin mendekap Kyungsoo lebih rapat, mengeluarkan semua gundah di hatinya.
Kyungsoo yang bingung hanya membelai rambutnya, walaupun ia yakin lelaki itu sedang ketakutan karena menganggap dirinya melakukan suatu kesalahan.
Jadi—sebelum Kyungsoo berpikir lebih menyimpang, Jongin mencium pelipis lelaki itu.
Setelah menyeka air mata, Jongin melepaskan pelukannya kemudian menarik Kyungsoo untuk duduk.
"Hey," Tutur Jongin, suaranya serak akibat tangis. "Aku mungkin tidak akan sering mengatakan ini, jadi aku harap kau mendengarkan baik-baik."
Ia meraih kedua tangan lelaki itu, menciumi ruas jarinya satu persatu. Lalu ia menatap Kyungsoo, menahan pandangannya cukup lama agar apa yang ia katakan selanjutnya tertanam di benak Kyungsoo.
"Do Kyungsoo, aku mencintaimu."
Kyungsoo terhenyak.
Jongin sudah mengantisipasi reaksi terburuk yang akan Kyungsoo berikan kepadanya. Namun keningnya segera berkerut ketika Kyungsoo tiba-tiba membuka laci di samping tempat tidur, mengeluarkan sebuah buku yang tidak terlalu tebal bersampul kulit.
"Jongin." Getar dari lidah Kyungsoo berbisik lirih seiring dengan tangannya yang membuka lembaran buku sebelum akhirnya berhenti di suatu halaman. "Pernahkah kau menemukan dirimu tenggelam, begitu dalam, hingga tidak tahu lagi apa itu permukaan?"
Kyungsoo mengambil suatu benda dari salah satu halaman, kemudian meletakkannya ke telapak tangan Jongin,.
"Karena—denganmu," Lanjutnya, "aku tahu persis bagaimana rasanya itu."
Jongin membeku melihat benda yang berada di telapak tangannya. Ia bahkan tidak berkedip, seolah takut benda itu akan meledak jika ia salah bergerak.
Kelopak mawar putih.
Penyesalan bukan lagi perkara ringan bagi Jongin. Ia mengutuk dirinya sendiri, mengutuk sifat keras kepalanya, mengutuk caranya untuk melawan rasa cintanya kepada Kyungsoo—dulu dengan melakukan hal di luar batas.
Jongin mendongak, di hadapannya Kyungsoo terduduk dengan mata berkaca-kaca.
Mereka masih muda. Mereka masih memilki banyak waktu untuk bertemu orang baru, mencari pengalaman lebih banyak. Mereka jelas tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi di hidup mereka setelah ini karena masa depan adalah jalan panjang berliku yang tidak pasti.
Tetapi paling tidak—sekarang, pada detik ini, keduanya telah memastikan dengan siapa mereka akan melewatinya.
"Have I told you that you're beautiful?" Suara Jongin memecah bisu di antara mereka.
Kyungsoo tertawa ringan, menutupi mulutnya menggunakan punggung tangan. "Ya, setiap hari."
"Kau pikir kau tidak akan bosan mendengarkan kalimat itu terus menerus?"
"Tidak. Kurasa tidak."
Jongin menggaguk dengan mimik datar, tidak memperlihatkan ekspresi apapun. "Apa kau akan keberatan jika aku menambahkan kalimat lain untuk terus kau dengar berulang-ulang?"
Alis Kyungsoo bertaut, mencoba meraba arah pembicaraan karena Jongin terlihat begitu serius. "Aku tidak menger—"
"Dengar." Jongin memotong. "Aku akan merubah pernyataanku sebelumnya dan mengatakan kalimat ini lebih sering kepadamu."
Kyungsoo memiringkan kepala, menunggu Jongin untuk melanjutkan.
"Aku mencintaimu."
Senyum tipis terukir di bibir Jongin saat lelaki itu mengungkapkannya, dan Kyungsoo pikir ia sangat, sangat menyukai Jongin yang terlihat hangat seperti sekarang.
"Do Kyungsoo, I love you, Aishiteru, Je T'aime, Ich Liebe Dich," Racau Jongin panjang hingga Kyungsoo terkikik geli, "Aku akan mempelajari semua bahasa jika perlu agar kau tidak bosan mendengarnya."
Sengal bahagia Kyungsoo merambat ke penjuru ruangan itu, diikuti dengan pukulan kecil yang mendarat di dada Jongin serta kata singkat yang Kyungsoo gumamkan, "Pabo."
Jongin tertawa mendengar ungkapan yang baru saja keluar dari mulut Kyungsoo. "Oh, astaga apa kau baru saja mengumpat?"
"Itu bukan umpatan!" Kyungsoo berkilah. "Hanya sebuah julukan."
Jongin mengangguk-angguk sarkastik, hingga Kyungsoo mendorong tubuhnya. Kelopak mawar putih di genggaman Jongin jatuh ke lantai, tetapi tidak satupun dari mereka mengacuhkannya. Hubungan di antara mereka adalah yang nyata, masa lalu hanya sebuah jembatan penghubung dan mereka tidak berniat untuk kembali satu langkahpun.
Jongin melingkarkan lengannya ke leher Kyungsoo, tubuh mereka masih lengket karena sesi permainan terakhir, tetapi entah darimana mereka menemukan kenyamanan yang langka.
"Jadi, kau tidak keberatan menerima tawaran terakhirku?"
"Ya."
Jongin melepaskan pelukannya, kemudian berpindah menelusuri bibir Kyungsoo. "Dan—um, ketika aku mengatakannya, apa kau akan membalasnya?"
Kyungsoo tergelak mendeteksi kekhawatiran Jongin.
Kisah cinta ini boleh dibilang lambat. Proses mengenal satu sama lain bisa menjadi perkara berat karena kepribadian mereka. Namun keduanya sudah memegang satu kunci utama agar hubungan ini bisa berlanjut. Sebuah kunci yang belum tentu orang lain miliki.
Keberadaan satu sama lain.
Keduanya bisa melewati waktu tanpa bicara hingga berjam-jam lamanya, keduanya bisa menikmati manisnya sentuhan sesederhana dari ikatan jari kelingking mereka, keduanya bisa bertahan selama mata Jongin selalu berusaha untuk menemukan Kyungsoo di keramaian manapun, dan selama Kyungsoo menganggap Jongin adalah dunia kecilnya.
"Tentu." Sahut Kyungsoo setelah menahan jawabannya cukup lama.
"Ok." Jongin berdeham meloloskan tenggorokannya, berniat untuk menguji apakah Kyungsoo benar-benar akan membalas kalimatnya. "So—uh, I love you."
Kyungsoo menjatuhkan tubuhnya ke atas Jongin, menumpukan beratnya ke lelaki itu hingga dada mereka bersentuhan.
"I love you more," Jawab Kyungsoo. "Jagi."
Jongin tidak sengaja melepaskan pekikan melengking mendengar nama panggilan Kyungsoo kepadanya.
Sedang langit luar mulai melukiskan rona gelap, mereka bercinta untuk yang kedua kalinya.
-o-o-o-
Pemandangan tidak biasa akan terlihat bagi mereka yang jeli meneliti interaksi antara Kyungsoo dan Jongin di hari berikutnya.
Keduanya selalu bersemu hebat setiap pandangan mereka bertumbuk. Kejadian kemarin masih mengambil banyak ingatan di kepala mereka.
Satu-satunya yang menyadari itu hanya Kim Jongdae.
Kunjungan isengnya ke sekolah Jongin mengantarkan ia kepada fakta menarik dari sepasang kekasih itu.
Ia duduk menghadap Jongin dan Kyungsoo, sementara kedua lelaki di depannya berusaha berpaling menatap ke arah manapun kecuali satu sama lain.
Sifat penasaran yang dikombinasikan analisis tinggi Jongdae segera menyimpulkan perkara apa yang sedang berlangsung. Ia terkikik pelan, mengamati gerakan canggung Jongin yang berjengit ketika Kyungsoo tidak sengaja menyentuh jarinya.
"So, you two finally have sex?"
Kyungsoo tersedak minumannya sedang Jongin melanggar janjinya untuk tidak mengumpat di depan Kyungsoo.
Jongdae menyeringai puas.
THE BOY WHO MAKES MY HEART BLOOM (EXTRA) : THE END
.
Author's Note:
*coughs nervously*
OKAY IT WAS PORN, I'M SORRY.
But some smut before hiatus won't hurt, right?
Buat yang punya pertanyaan kemarin, aku bakal jawab di sini yah;
1. Hanahaki Disease ini penyakit beneran atau bukan?
Itu cuma penyakit fiksi sayang-sayangnya aku, bukan santet atau sihir hitam, ya (kalian lucu ih, cubit nih). Dan setiap kali Jongin atau Kyungsoo muntahin mawar itu bukan kiasan tapi beneran muntah. Makanya aku masukin genre Fantasi juga :)
2. Terus, Kyungsoo juga punya penyakit sama kaya Jongin?
Yup! Hanahaki ini bakal sembuh kalo orang yang disuka menyatakan cinta. Jadi walaupun Jongin dan Kyungsoo punya perasaan sama, mereka belum bisa sembuh sebelum ngungkapin ke satu sama lain. Cara lain buat sembuh dari penyakit ini yaitu operasi, tapi begitu selesai operasi mereka ga akan inget kalo pernah jatuh cinta. Makanya Jongin bertahan, karena sebenernya dia emang mau mencintai Kyungsoo, tapi nggak tahu caranya gimana. Begitu~
3. Kelopak mawar putih artinya emang apa?
Unconditional love. Cinta tanpa syarat. Artinya, Kyungsoo nggak peduli seberapa buruknya Jongin, seberapa parahnya Jongin nge-bully dia, atau sifat apapun yang Jongin punya. Karena yang Kyungsoo tahu dia jatuh cinta, udah, dia nggak peduli yang lain.
4. Remake?
Lebih tepatnya sih terinspirasi sama komiknya raminn (dia sering bikin fanarts kaisoo, cuma udah hiatus). Sebenernya plot awal cerita ini adalah ingatan Jongin hilang karena dia milih operasi tapi Kyungsoo secara tidak sengaja terus-menerus bikin perasaannya balik. CUMA UDAH ADA YANG BIKIN DULUAN TERNYATA. Ya sudah. /mendadak sedih/
5. Kenapa Jongin jahat sama Kyungsoo?
Because he's an ass. Jongin ketakutan sama ide jatuh cinta, karena biasanya dia egois ga mau mikir orang lain, terus tiba-tiba ada seseorang yang dateng dan bikin dia kepikiran terus. Dia bete sama dirinya sendiri (adegan pas dia marah sama Jongdae) tapi terus lama kelamaan sadar, mungkin kalo sama Kyungso gapapa jatuh cinta. Toh, cuma dikit. Padahal dia udah jatoh dalem banget. Hmm.
6. Sistem sekolahnya gimana sih, kok aku bingung?
Tenang. Jangan bingung, jangan gundah. Biar aku jelasin. Di semua ff-ku aku selalu pake sistem sekolah luar negeri (kaya sistem sks di perkuliahan). Jadi setiap murid bisa ngambil pelajaran sesuai keinginan mereka. Nah, Jongin-kebetulan, ada yang sekelas sama Kyungsoo ada yang engga. Pelajaran olahraga adalah salah satu pelajaran dimana mereka nggak sekelas. Begitu~
7. Sequel, sequel, sequel!
Lunas, ya! Walopun ini smut, tapi aku berusaha buat bikin hubungan mereka kelihatan. (Berhasil ga berhasil ga berhasil ga berha-)
OK THAT WAS ALL, I GUESS?
Kalo ada pertanyaan yang belum terjawab silakan PM, atau DM twitter ke kaishocks (promosi terussss~~ Bawel deh, ih.). Berhubung aku lagi skripsi, mohon doanya agar lancar para penghuni FFn sekalian. Terimkasih udah mau baca cerita ini! :')
Saran, review, serta kritik apapun sangat amat diapresiasi :
KAISOO FTW!
Red Sherry
P.S: TAHU GA RASANYA HIATUS TERUS NEMU BANYAK IDE ANGST GARA-GARA MV SING FOR YOU? HUHUHUHUHUHUHU. bHAY!
