Disclaimers:
Naruto © Masashi Kishimoto
Ego © Jinsei Megami
Warning: AU, OOC, Typo(s)
Read first, baru boleh nilai suka apa nggak... ^^
Enjoy read, Minna~
.
Jinsei Megami Proudly Present
EGO
[chapter 2: uninvited visitors]
.
.
.
.
*TING TONG*
*TING TONG*
Wanita berambut merah itu mengetuk-ketukkan kakinya ke lantai dengan tidak sabar. Ia menekan bel lagi.
*TING TONG*
"Mungkin Naruto-chan sudah berangkat kerja, Mama."
Seakan tak mempedulikan suara yang berasal dari gadis kecil di sebelahnya, wanita yang dipanggil 'Mama' itu melanjutkan hal yang sama. Mengetuk-ketuk heel sepatunya dan menekan tombol bel lagi.
*TING TONG*
Dan gadis kecil itu mengulang ucapannya lagi, "Mungkin Naruto-chan sudah berangkat kerja, Mama," –dengan suara yang lebih lantang.
SI Ibu berhenti mengetuk-ketukkan heels sepatunya. Ia kini membungkuk, menyejajarkan tingginya dengan tinggi anaknya. Menghela napas dengan sabar. "Ini hari Sabtu, Sarada-chan. Naruto nggak kerja seperti kau juga nggak masuk sekolah hari ini."
Gadis kecil itu, Sarada, mengangguk. Ya, benar juga. Eh? "Lalu kenapa kita ke sini sepagi ini kalau bukan untuk menyuruh Naruto-chan berangkat kerja? Kalau libur, kenapa nggak biarkan saja Naruto-chan bangun siang dan bermalas-malasan?"
Si Ibu membetulkan letak kacamatanya. Sungguh, putrinya itu cerewet sekali. Mungkin seharusnya ia tak mengajak Sarada bersamanya dan menitipkannya saja ke tempat mertuanya. Toh Fugaku dan Mikoto akan senang sekali dikunjungi cucu mereka.
"Bagaimana, ya? Instingku mengatakan aku harus ke sini."
"Insting?" Sarada mengulangi ucapan ibunya. "Mama sudah seperti Hatake-sensei saja."
Si Ibu tertawa mendengar nama itu disebutkan. Kakashi Hatake adalah nama kepala sekolah SD Konoha, tempat Sarada bersekolah. Orang yang sama yang menjadi guru SD-nya dulu. Insting orang itu memang jitu, tak pernah salah.
Tapi bicara soal insting, rasanya ini bukan seperti yang Kakashi Hatake miliki. Ini lebih seperti rasa khawatir.
"Kalau memang sepenting itu, kenapa kita nggak langsung masuk saja?" Sarada memberikan idenya. Itu ide yang cemerlang, kalau saja mereka tahu kombinasi nomor password kunci pintu apartemen Naruto.
Kalau dia memaksa dan memasukkan kombinasi yang salah sebanyak lima kali, pintu tidak akan bisa dibuka. Wanita itu tersenyum licik. Siapa yang peduli? Dirinya? Tidak. Sejak kapan dia peduli? Dia tak akan tahu ini akan berhasil atau tidak jika ia tidak mencoba.
Dia mulai dengan kombinasi tanggal lahir Naruto.
Salah.
Dia terdiam beberapa saat. Berpikir.
Hinata. Mungkin tanggal lahir Hinata. Maka ia menekan angka sesuai tanggal tersebut.
Salah lagi. Ha! Ini kan memang bukan apartemen Hinata. Ini apartemen mereka berdua. Tadinya. Yah, dia hanya menduga saja sih, mengingat perasaan Naruto pada Hina— Tunggu!
Dia menekan tombol-tombol itu lagi dengan bersemangat.
*TOOT*
Salah. Salah? Salah! Sial!
Wanita itu menggeram kesal.
"Apa itu tadi tanggal pernikahan Naruto-chan dan Hinata-chan?"
Ugh! Apa dia tidak bisa melihat situasi untuk berkomentar? Anaknya benar-benar bawel. Benar-benar seperti... seperti... –sial!— dirinya.
"Ya." Si Ibu hanya menjawab singkat seadanya.
"Coba Mama input kombinasi bulan-tanggal-tahun." Si Ibu menoleh pada Sarada. Anaknya itu melanjutkan, "Naruto-chan dan Hinata-chan kan menikah di Hawaii. Hawaii kan negara bagian ke-limapuluh dari Amerika Serikat. Dan format tanggal di Amerika berbeda dengan kita kan, Ma."
Iya. Benar juga. Bisa jadi.
Si Ibu menekan tombol-tombol angka dengan perlahan. Jantungnya berdebar. Sedikit gemetar saat harus menekan tombol 'ok'.
*PING*
Benar. Wow!
Si Ibu langsung memeluk erat putrinya. "Untung kau mewarisi otak papamu."
"Ma... ma... se... sak..."
Si Ibu melepas pelukannya dengan senang hati mendorong pintu apartemen dengan perlahan. "Nah, sekarang kau bisa masuk dan membangunkan Naruto."
"Hah? Kenapa aku?" Sarada melayangkan protesnya. "Aku kan hanya diajak. Jangan jadikan aku tameng dong, Ma! Mama saja yang masuk duluan."
"Itu nggak perlu!"
Kedua perempuan beda generasi itu menegang. Mereka sudah seperti maling yang tertangkap tangan saja. Mereka menoleh dan menemukan sang pemilik apartemen berdiri menjulang di belakang mereka.
"Ohayo, Naruto." Karin malah menyapa Naruto tanpa rasa bersalah.
Naruto tak membalasnya. Ia malah melewati bibi dan sepupunya itu sambil berkata, "Harusnya kau tahu, Karin. Kemungkinan terbesar pemilik tempat tinggal nggak membukakan pintu bukan karena orang itu nggak ingin membukanya atau sedang tidur, tapi karena pemilik rumah," —Naruto membuka pintu apartemennya— "Memang sedang nggak ada di dalamnya."
Naruto sama sekali tidak menawarkan dua tamu tak diundangnya itu masuk. Tapi dia tahu, tanpa dipersilakan pun mereka akan melakukannya. Toh mereka telah sukses membobol kombinasi kunci apartemennya dan memang berniat masuk tanpa izin.
Karin mengekori keponakannya itu ke dapur sementara Sarada langsung menuju ruang kerja Naruto seperti biasa, di mana koleksi buku kegemarannya tersimpan.
"Gomen ne, kukira kau masih tidur atau... ng..."
Naruto membuka lemari pendingin. "Atau sedang mengasihani diriku sendiri karena telah bercerai? Huh! Aku nggak akan terpuruk hanya karena kehilangan seorang wanita."
Pria itu mengambil botol air dan meminumnya.
Karin menatapnya. Naruto payah. Berlagak tidak peduli seperti itu. Padahal Karin amat tahu apa yang sebenarnya ada di hati keponakannya itu.
"Jadi, dari mana kau?"
"Kau nggak bisa menebaknya?"
Karin bisa melihat pakaian yang Naruto kenakan, t-shirt dan sweat pants, juga dari peluh yang membasahi tubuh dan pakaiannya. Kelihatan sekali dia habis berolahraga, mungkin jogging. "Berapa jauh?"
"Aku nggak menghitungnya."
"Berapa lama?"
Jelas saja karin menanyakannya. Sekarang sama masih sangat pagi dan Naruto kelihatan sudah seperti selesai berlari maraton berkil-kilo meter.
"Jam berapa sekarang?" Naruto malah balik bertanya, seakan ia tadi berjalan sambil tidur. Setengah tak sadar, padahal ada jam dinding di ruangan itu, di apartemennya sendiri. Dia sedang mengigau atau apa?
Karin menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Kau lupa caranya membaca jarum jam, ya?"
Naruto mendelik kesal pada bibinya. Lupa cara membaca jarum jam? Memangnya dia sebodoh itu? Apa salahnya Karin menjawab Naruto? Dari Karin, ia beralih melirik jam dinding. Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi.
Masih pagi ternyata.
Sementara itu Karin membuka lemari es Naruto. Sama sekali tidak tampak terkejut mendapati lemari es Naruto sangat bersih, benar-benar bersih sampai-sampai isinya pun 'bersih'. Bahkan Karin bisa menghitung dengan sebelah tangan, isi dari lemari es itu.
Tadinya ia berniat membuat sarapan untuk Naruto, tapi melihat keadaan kulkas yang begitu menyedihkan, ia bingung harus memasak apa. Selain telur, hanya ada sepotong kecil keju, selembar daging asap yang Karin yakin sudah tidak layak konsumsi, setengah siung bawang bombay yang sudah layu, dan... yah, memang hanya itu.
Karin mengeluarkan semuanya dari dalam benda pendingin itu. Ia menawarkan pada Naruto, "Kau mau sarapan apa? Omelet atau omelet?"
Naruto mengangkat sebelah alisnya. "Selain omelet?"
"Ng... omelet."
Naruto mengangguk pelan. "Omelet saja kalau begitu."
"Oke! Omelet spesial a la kadarnya ready sepuluh menit lagi," seru Karin sementara tangannya dengan sigap meraih peralatan masak yang ia butuhkan tanpa merasa canggung. Ia menghela napasnya ketika ia menyalakan api di bawah pan. Dulu ia sempat beberapa kali memasak di dapur ini, bersama Hinata yang kala itu masih menjadi nyonya rumah.
Di sudut matanya, Karin bisa melihat raut wajah keponakannya yang begitu datar. Hilang semua keceriaan yang dulu memenuhi pria itu. Kasihan.
Karin menyodorkan piring berisi omelet kepada Naruto begitu makanan itu matang.
"Sepagi ini kalian sudah sarapan?" Naruto terlihat kagum.
"Tentu saja belum. Mana sempat aku masak?"
Dan kekaguman Naruto pun lenyap, berganti perasaan tidak nyaman. Lebih ke arah perasaan bersalah. Naruto mendorong piringnya menjauh. "Aku nggak lapar. Ini buat kalian saja."
"Nggak lapar? Alasan apa itu? Konyol!" Karin tersenyum. "Makanlah. Nggak usah khawatir padaku dan Sarada. Kau harus jaga kesehatanmu. Lagipula—"
*TING TONG*
Suara bel menyela ucapan Karin, membuat Karin harus memberi jeda pada kalimatnya. Dia melangkah menuju ke pintu apartemen dan kembali dengan dua kantong kertas coklat ukuran sedang dengan logo 'M' berwarna merah.
"—Lagipula sekarang aku dan Sarada sudah punya sarapan," katanya melanjutkan ucapannya yang terputus tadi. Kemudian mengeluarkan semua isi kantong itu –burger ukuran besar, french fries, dan minuman yang Naruto tak tahu apa— sambil berteriak memanggil nama anaknya, "SARADA! MAKANANMU SUDAH DATANG!"
Sarada tidak muncul atau pun terdengar membalas panggilan ibunya. Karin memanggilnya lagi dengan suara melengking bagai penyanyi opera. Naruto bersyukur kaca-kaca dan gelas di rumahnya tidak pecah karena itu. Tapi sungguh menakjubkan Sarada tidak juga merespon dengan cara apapun.
Dengan geram, Karin menghentakkan kakinya ke lantai dan mengambil langkah berniat ke tempat Sarada berada. Hanya selangkah sebelum Karin berhenti dan berbalik, menemukan tangan Naruto sudah terjulur hendak menjangkau makanannya dengan air liur yang siap menetes kapan saja. "Jangan sentuh! Fast food nggak bagus untukmu."
Tangan Naruto terhenti di udara. Dengan terpaksa ia harus menelan air luirnya sendiri. "Fast food nggak bagus untuk semua orang, Oba-san."
"Khususnya untukmu, Keponakan."
Naruto menghela napas. Ia harus bersyukur dengan omeletnya saja. Naruto terdiam, Karin mengira itu karena Naruto sudah mengerti apa makanan yang harus ia hindari. Tentu saja Naruto mengerti, dia kan sudah dewasa. Maka dari itu Karin berbalik kembali untuk melanjutkan perjalanannya. Tapi bukan itu alasan Naruto terdiam, dia hanya menimbang sesuatu, apakah sebaiknya Karin mengetahui apa yang sebenarnya ia lakukan –selain jogging— tadi pagi atau tidak.
Naruto meletakkan garpunya di pinggir piringnya ketika berkata pelan, "Empat jam."
Karin masih mendengar ucapan Naruto yang terdengar samar di telinganya. Kembali berhenti dan menoleh, mengerutkan keningnya menunggu Naruto bicara. Ia yakin Naruto akan melanjutkan ucapannya. Dan Karin benar.
"Aku pergi sekitar pukul tiga pagi."
Tadinya Karin tidak bisa menangkap apa maksud ucapan Naruto, namun ia akhirnya mengerti. Ini jawaban Naruto atas pertanyaannya ketika ia baru datang tadi, tentang berapa lama ia pergi pagi ini.
Karin menghela napas. Naruto pergi sekitar pukul tiga, katanya? Lalu jam berapa dia bangun? Kecuali jika— "Kau nggak tidur ya, semalam? Memangnya kau jogging ke mana?"
Naruto tidak menjawabnya. Naruto tetap mengacak-acak omeletnya dengan garpu tanpa terlihat berniat memakannya. Pandangannya memang terarah ke telur itu, namun Karin tahu benak Naruto tengah melayang ke tempat lain. Sebagai orang yang mengenal pria itu bahkan sejak sebelum Naruto terlahir ke dunia, Karin bisa menduga tanpa harus mendengar jawaban Naruto.
Karin bukan cenayang, bukan pula manusia yang terlahir dengan bakat indigo, tapi dugaan Karin terhadap Naruto hampir selalu tepat.
Ya, Naruto tidak bisa tidur semalam. Ya, ketika ia akhirnya putus asa setelah berbaring dengan mata terbuka berjam-jam, Naruto akhirnya bangkit, dan memutuskan bangun saja. Ya, ketika dini hari tadi Naruto bangkit, ia hanya termenung lama sebelum memutuskan ia harus melakukan sesuatu untuk mengalihkan pikirannya. Ia memilih melakukan sesuatu di ruang kerjanya, apapun. Namun hal itu tak berhasil, ia mencari option lain. Ya, ia memutuskan untuk jogging saja. Ya, ia keluar dari gedung apartemennya, berlari-lari kecil tanpa arah hingga akhirnya ia menyadari ia telah menempuh jarah hampir setengah kota, dan tiba-tiba kakinya telah menuntunnya ke rumah bergaya semi tradisional Jepang.
Ya, itu adalah rumah Hyuuga —rumah orang tua Hinata.
Pagi itu, Naruto berdiri mematung di sana. Tepat berseberangan dengan jendela kamar Hinata di lantai dua, kamar yang dulu juga pernah ia singgahi. Memandang kamar yang gelap. Tentu saja, mana mungkin penghuni kamar itu sudah bangun, apalagi insomnia seperti dirinya. Hinata pastilah tidur dengan nyenyak. Naruto sungguh sama sekali tidak berharap Hinata akan bangun dan menampakkan dirinya dari balik jendela, karenanya ia sangat terkejut saat itu terjadi.
Detak jantungnya berakselerasi tiba-tiba seperti memakai NOS di mobil balap ketika kamar itu terang benderang. Ia mundur selangkah ketika Hinata menyingkap tirai kamarnya dan membuka jendelanya, menyapu padangannya. Seandainya Naruto berada di samping Hinata, ia pasti akan bertanya, berbisik di telinga Hinata, 'Apa yang kau cari, Sayang?'. Wajah Hinata memang seperti sedang mencari sesuatu, sesuatu yang penting, sesuatu yang hilang.
Naruto masih dapat melihat wanitanya, tapi ia bisa pastikan bahwa Hinata tak tahu ada Naruto di sana. Bersembunyi di balik bayangan malam. Terkamuflase.
Ia berada di sana hingga sampai Hinata kembali menutup tirai dan memadamkan lampu kamarnya. Naruto tak tahu apa yang harus dilakukannya lagi, karena olahraga –kegiatan yang ia yang ia pilih untuk mengalihkan pikirannya dari Hinata— hanya berujung kembali kepada wanita itu. Yang ia ingat kemudian, ia berlari kembali.
Kembali pada kenyataan.
Karin memijat pangkal hidungnya sesaat. "Kita bicarakan itu nanti. Sekarang waktunya anakku sarapan. Kau juga makan omeletmu!" Dan Karin menghilang di balik pintu sebuah ruangan.
Naruto menuruti perintah Karin. Dia tak mau menerima amukan si rambut merah itu. Karin benar-benar seperti mendiang ibunya. Yeah, memang Karin adalah adik ibunya, walau terpaut jarah lahir yang amat jauh. Tapi watak mereka sangat mirip, apalagi saat murka. Almarhumah neneknya pun begitu. Mungkin sebagian besar wanita Uzumaki punya tipikal sifat seperti itu. Dan Naruto tak ingin menghadapi para wanita Uzumaki kala mereka sedang marah.
Beberapa saat kemudian, Sarada muncul di dapur tanpa ibunya. Gadis kecil itu langsung duduk di kursi meja bar di samping Naruto dan menyambar burgernya yang ia makan dengan lahap. Naruto meliriknya dengan geli.
"Pelan-pelan makannya. Bagaimana kau bisa tumbuh jadi wanita yang anggun kalau cara makanmu seperti monster kelaparan?"
"Aku memang lapar."
Naruto tak tahan untuk tidak tertawa. Ia terbahak sebelum ia ingat suatu kejadian di masa lalu ketika ia masih bersama Hinata-nya. Kejadian yang mirip seperti saat ini. Ketika itu –seingatnya— ia mengajak Hinata makan selepas ia menunggu Hinata selesai meeting, berjam-jam menunggunya jelas membuat lambung Naruto berteriak minta tolong. Ia makan dengan kalap. Hinata menyebutnya 'Monster Rakus' pada saat itu.
Naruto menggelengkan kepalanya. Selalu saja. Ia tidak ingin mengingatnya, tapi ia juga tidak ingin lupa.
"Dimana ibumu? Dia kan juga belum sarapan." Naruto mengalihkan pikirannya sendiri. "Masih di ruang kerjaku?"
Sarada mengangguk dengan pipi menggembung penuh makanan. Naruto pun ikut mengangguk. Sarada terlihat kesulitan menelan makanan dan minum susu cokelat dinginnya dengan terburu-buru agar makanannya bisa mulus melewati tenggorokannya. Barulah ia berkata, "Mama sedang melanjutkan pekerjaanku."
Naruto mengernyit. Pekerjaan?
"Ruanganmu itu berantakan sekali Naruto-chan. Kertas dan buku-buku di mana-mana. Apalagi yang ada di atas meja—" Naruto tak perlu mendengar ucapan Sarada sampai selesai. Ia tahu apa yang mungkin akan ditemukan Karin di sana. Maka ia langsung meninggalkan Sarada sendirian yang kebingungan. "Hey, Naruto-chan! Aku kan belum selesai bicara. Hu-uh."
.
.
.
.
Naruto menemukan Karin yang menyambutnya dengan sebuah clear holder berwarna lavender di tangannya dan bertumpuk-tumpuk album foto di atas meja kerjanya.
Wajah Naruto memucat.
"Kau nggak berharap dia akan datang dan memintanya langsung kepadamu kan, Naruto?"
.
.
.
.
[to be continued]
[a/n]
Yo, readers!
Jujur, Meg bingung apa yang harus Meg ketik di note-nya Meg ini. Yaah... minta review-nya ajalah kalo sempet, sih. Kalo nggak sempet ya nggak apa-apa. kali aja ada yang mau marah-marah ama Meg, curhat, atau nawarin obat pelangsing, atau apa gitu. *haha*
