"Pasangan yang berada di bawah Mistletoe, harus mencium satu sama lain."

Di musim romansa ini, ciuman seperti apa yang menunggu?

Kisah apa yang telah dipersiapkan oleh takdir kepada pasangan-pasangan kita?

Fic spesial untuk menyambut natal. Judul dan summary telah menjelaskan semuanya. HAPPY READING~

Disclaimer 1: Saint Seiya itu milik Kurumada-sensei! tapi Mitsuki, Teru, Murasaki, Minami, para Akumu dan OC lainnya itu milik saya, beserta author-author lainnya yang OCnya muncul di chapter ini dan/atau chapter-chapter berikutnya.
Disclaimer 2: Lagu-lagu yang mungkin muncul di chapter ini dan chapter-chapter selanjutnya adalah milik penulis, penyanyi, produser, dan orang-orang yang terlibat dalam produksi serta pemasarannya.


SPICA

~Cherry Blossom of Winter~

.

.

.

Pagi, 24 Desember. Begitu cahaya matahari menyentuh wajahku, aku langsung bangkit dan tersenyum. Dengan penuh semangat aku keluar dan langsung mencari Ayahku, Sagittarius Sisyphus.

"Otousama!" panggilku begitu melihatnya. Ia baru berbalik, dan aku langsung mengangkat mistletoe di tangan kananku dan mencium pipinya.

"Spica...?" ucapnya sambil mengelus pipinya yang baru kukecup.

Aku tersenyum dan menunjukkan mistletoe yang tadi kuangkat. Otousama memerhatikannya sebentar, lalu mengembalikan pandangannya kepadaku dan berkata, "Mistletoe?"

Aku mengangguk. "Katanya, orang yang berdiri di bawah mistletoe harus mencium satu sama lain. Manigoldo-san memberitahuku kemarin." jelasku.

"Hee... Manigoldo ya...?" Otousama tersenyum, tapi, kok, aku melihat aura hitam di belakangnya, ya?

"E-Etto... Otousama...?" Aku jadi gugup sendiri. Untunglah, Otousama kembali tersenyum seperti biasa.

"Hm? Ada apa, Spica?"

Aku menggeleng pelan. "Tidak, bukan apa-apa... Aku, mau jalan-jalan sekitar Sanctuary... Apakah boleh?"

Otousama mengangguk. Aku langsung membungkuk hormat dan berjalan keluar Kuil Sagittarius, ketika dia tiba-tiba memanggilku.

"Spica?"

Aku berhenti dan berbalik. "Ha'i?"

"Jangan mengangkat mistletoe itu sembarangan, ya?" Caranya berbicara seolah mengatakan, "Jangan cium orang sembarangan". Aku tertawa kecil, "Wakarimashita, Otousama." Dan kembali berjalan keluar Kuil Sagittarius.

Begitu sampai di Kuil Scorpio, aku langsung disambut oleh sang Saint penjaga kuil, Scorpio Kardia.

"Kardia-san, selamat pagi." sapaku dengan sopan. Kardia-san menguap dan mengucek-ngucek matanya.

"Baru bangun?" tanyaku, Kardia-san mengangguk.

"Kamu bangun pagi bener, udah mau jalan-jalan?" Kardia-san memerhatikanku dari atas ke bawah, lalu matanya berhenti di pinggangku. Eh? Apa ada sesuatu? Aku melihat pinggangku sendiri, ternyata mistletoe-ku. Aku mengangkatnya dan menunjukkan Kardia-san, "Ini?" tanyaku.

Kardia-san tersenyum dan bercanda, "Spica, ngapain kamu bawa-bawa mistletoe? Mau cium seseorang?"

Wajahku sontak berubah merah. "M-Mau cium siapa!?"

"Entahlah... Mungkin pacarmu, Albafica?" godanya.

Ah, kalau boleh jujur, ini bukan saat yang tepat untuk mengucapkan namanya. Sebenarnya, sudah beberapa minggu aku tidak berbicara dengannya, melihatnya saja jarang. Dan kalau ada bertemu pun, dia hanya menyapaku dan langsung pergi. Tapi aku tidak boleh memperlihatkan wajah sedih, jangan sampai orang khawatir.

"Kardia-san sendiri? Tidak mau mencium Maya-san?" balasku. Pipi Kardia-san langsung merona merah.

"Ngapain bawa-bawa dia!?"

Aku tertawa, "Kalau Kardia-san mau, akan kupinjamkan mistletoe ini." Aku memberikan mistletoe -ku kepadanya. Dia langsung menyimpannya di saku bajunya.

"Yah, kalau kamu kasih aku terima. Tapi aku gak bakal pake juga."

Aku kembali tertawa. "Aku pamit dulu..." Aku kembali menuruni tangga-tangga kuil. Menyempatkan diri untuk menyapa Dohko-san di Kuil Libra, memelankan langkah di Kuil Virgo (Agar tidak mengganggu meditasi Asmita-san), dan akhirnya sampai di Kuil Leo.

Aku baru masuk ketika melihat Regulus-kun dan Albafica sedang membicarakan sesuatu. Langkahku terhenti. 'Mau bagaimana, nih? Apa berjalan dan menyapa seperti biasa, atau menunggu Albafica pergi?' Pikiranku berkonflik.

Saat itulah Albafica menyadari kehadiranku. Dia menatapku, aku hanya berdiri di tempat tak bergerak. Lalu Regulus-kun ikut melihatku dan melambai. "Ohayou, Spica!" Aku balas melambai dan berjalan mendekat. "Ohayou..." Aku menatap Albafica. "O-Ohayou, Fica-kun..." Dia mengalihkan pandangan. "Pagi." Hanya itu balasannya.

"Ya, sudah. Regulus, aku mau kembali ke kuilku." Albafica berjalan pergi. Aku melihatinya seiring ia berjalan menjauh, aku tidak tahu wajahku terlihat seperti apa, tapi sepertinya sedih, karena ketika sosok Albafica sudah tidak terlihat, Regulus-kun langsung menanyakan keadaan dengan wajah khawatir.

"Spica? Kamu baik-baik saja?" tanyanya sambil tersenyum kecil.

"Tidak apa-apa kok..." jawabku.

"Benarkah? Habisnya, wajahmu tadi kelihatan..."

Aku langsung memotongnya sebelum Regulus-kun selesai berbicara. "Saa, hari ini mau jalan ke mana, ya?" Aku mengusahakan senyum tercerahku. "Menurut Regulus-kun?"

Regulus-kun terlihat kaget dengan perubahaan emosi-ku, tapi dia tersenyum. "Hari ini Spica sendirian aja, nggak apa-apa? Ada urusan mendadak, nih."

"E-Eh? Tapi yang mengusulkan jalan-jalan, 'kan..."

Dia menepuk tangannya dan membungkukkan kepala. "Maaf banget! Lain kali aku balas, sekali ini saja ya?" Regulus-kun memasang wajah... Apa namanya? Pu-Puppy eyes...? Ya, itu. Aku tidak bisa melawan dan hanya mengangguk. Detik kemudian, Regulus-kun langsung kembali ceria. "Nanti kalau urusannya sudah selesai aku nyusul! Jaa, Spica!" katanya sambil berlari menuju kuil di atasnya.

Aku melambai pelan. Begitu Regulus-kun sudah di luar pandangan, aku mendesah panjang. "Kenapa hari ini aku sendirian, ya?" gumamku kepada diri sendiri. Aku melangkah keluar sisi lain Kuil Leo dengan muram. Aku berjalan tanpa berhenti, salah satu alasannya karena Kuil Cancer, Gemini, Taurus, dan Aries, entah kenapa kosong.

Tak lama, aku sampai di area latihan. Aku bisa melihat banyak Saint, dan calon Saint yang berlatih keras. Beberapa dari mereka kukenal, Teneo-san, Saro-san, Celintha-san, Yato-kun, dan Tenma-kun. Aku tersenyum melihat betapa kerasnya mereka berlatih. Jujur, aku sedikit iri dengan mereka. Aku... Aku bukan manusia, kekuatanku juga di atas rata-rata dan sulit dikendalikan sepenuhnya. Karena itulah, demi keamanan yang lain, aku dilarang berlatih seperti calon-calon Saint biasanya.

Akhirnya aku berjalan meninggalkan area latihan. Keramaian dari latihan yang sedang berlangsung lama-kelamaan diredam angin. Sekarang aku berdiri di sebuah lahan rumput. Bunga-bunga tidak bermekaran di musim dingin. Itu sudah pasti. Setelah melewati rerumputan, adalah sebuah pohon sakura, yang berdiri di depan sebuah jurang yang berseberangan dengan laut. Saat musim semi, pohon ini mekar dengan lebat. Tapi sekarang, dedaunannya digantikan oleh salju.

Aku berbalik menghadap lahan rumput itu, dan mulai mengalirkan Cosmo-ku membentuk batu-batu permata, sebuah bakat yang kumiliki sejak dilahirkan kembali (Ceritanya panjang).

Bloodstone, ruby, turquoise, lapis lazuli, topaz, blue topaz, dan tanzanite. Birthstone-birthstone bulan Desember. Aku menciptakannya dan menjatuhkan satu-persatunya bersamaan dengan setiap langkahku. Dengan setiap batu yang kujatuhkan, aku mengucapkan, "Orh, Ourh, Med, Don, Und, Nach, Gon, Graupha, Xtall, Fam." Setelah mengulanginya beberapa kali, aku berhenti. "Phaesporia." bisikku. Dan sekelilingku seketika dikelilingi bunga-bunga berwarna lembut, cocok untuk musim dingin. Aku tersenyum puas melihat hasil kerjaku.

Aku berlutut dan menyentuh bunga-bunga itu. Membiarkan rambut emasku yang panjang menyentuh tanah. Salah satu masalah memiliki rambut panjang (Dalam kasusku, hampir mencapai tanah) adalah kalau duduk, rambutmu pasti menyentuh tanah dan resiko besar diinjak orang atau hewan. Tapi kali ini aku tidak peduli. 'Rasanya nyaman, aku ingin beristirahat sebentar saja...' Aku pun membaringkan diri di petak bunga itu, dan memejamkan mata.

Aku tidak tahu berapa lama aku tertidur. Yang membangunkanku adalah sentuhan lembut di rambutku. Dengan perlahan kubuka mata, mataku langsung menangkap sosok seorang perempuan dengan rambut putih dan bunga mawar menghiasi rambutnya. Aku langsung bangun dan menatap perempuan itu dengan kaget, "C-Chrysa-san?"

Chrysa-san tersenyum. "Apa tidurmu nyenyak, Spica-chan?"

Rasanya aku malu setengah mati, bagaimana bisa aku tidak sadar tengah tidur di pangkuannya? "Chrysa-san... Sejak kapan...?"

"Tidak lama... Selain itu, Spica-chan, kamu yang membuat taman bunga ini?"

Aku mengangguk. "Chrysa-san tahu dari mana?"

Ia memejamkan matanya. "Aku bisa merasakan Cosmo-mu, walau hanya sedikit. Kamu menggunakan sihir Enochian yang kuajarkan?"

"Iya, aku ingin membuat taman bunga ini tetap bermekaran di musim dingin. Baru ini sihir yang bisa kulakukan..."

Chrysa-san bangun dan berjalan ke depan pohon sakura. "Aku yakin... Dengan latihan cukup, kamu akan bisa melakukan lebih banyak lagi, Spica-chan. Seperti ini..." Chrysa-san membisikkan sesuatu dan pohon itu kini dihiasi dengan bunga-bunga sakura yang bermekaran.

"Sugoi..." Aku terkagum dengan keajaiban itu.

Ya, mungkin kamu sudah menduganya. Chrysa-san adalah guruku, selain Otousama tentunya. Ia adalah putri dari dewi kemenangan, Nike, dan malaikat belas kasihan, Zadkiel. Menjadikannya Demi-god, dan pada saat yang sama, Nephilim. Dia orang terkuat yang pernah kutemui, dan karena kita sesama "Bukan manusia", Chrysa-san lebih mengerti diriku dari siapapun. Ia sosok yang bisa kuandalkan, dan kupercaya... Ia bagaikan sosok ibu bagiku.

"Chrysa-san sedang apa ke Sanctuary?" tanyaku. Chrysa-san menoleh ke arahku dan berkata, "Aku hanya ingin menemuimu, apa itu bukan alasan yang cukup?"

Kami berdua tertawa kecil, sebelum kembali diselimuti kesunyian.

"Spica-chan...?"

"Ha'i?"

"Aku hanya ingin memberitahumu," Chrysa-san berjalan ke samping pohon dan mulai diliputi cahaya pucat. "Hari-hari ini akan dipenuhi kejutan, kesedihan, dan kekecewaan. Tapi semuanya akan berakhir dengan kebahagiaan," Cahaya tersebut bertambah terang. "Jadi pastikanlah, kamu menangis di akhirannya, dengan air mata kebahagiaan." Ia tersenyum dan mengelus rambutku. "Baiklah, aku pamit dulu... Sampai bertemu lagi, Spica-chan..."

Aku membalas senyumannya. "Sampai jumpa... Mama..."

Mata Chrysa-san melebar terkejut, tapi kembali hangat seperti biasanya dan tersenyum. Aku memejamkan mata dan berbalik. Detik berikutnya, Chrysa-san sudah menghilang, meninggalkan kerlap-kerlip cahaya dan sehelai bulu sayap putih terang.

.

.

Tak lama, aku mendengar suara Regulus-kun dari kejauhan. Dia berlari ke arahku dan melambai. Aku pun berjalan mendekatinya.

"Ma-Maaf lama, Spica..." ucapnya sambil mengatur nafas.

"Tidak apa-apa," kataku tulus. "Urusanmu sudah selesai?"

Regulus-kun langsung menatapku dengan berbinar-binar. "Ada orang yang ingin aku pertemukan denganmu! Ikut aku!"

Sebelum aku bisa menjawab, Regulus-kun sudah menggenggam tanganku dan berlari pergi. Ia membawaku ke Desa Rodorio, desa ini adalah desa yang paling dekat dengan Sanctuary, aku sudah beberapa kali ke sini.

Regulus-kun menoleh kesana-kemari mencari seseorang (Atau sesuatu?).

"Siapa orang yang ingin kamu temui...?" tanyaku penasaran. Regulus-kun menatapku sejenak dan tersenyum.

"Orang yang sudah kamu kenal. Tenanglah, kamu pasti suka!"

Aku bingung dengan perkataannya, tetapi tetap mengangguk. Ia membawaku ke sebuah taman.

"Tunggu sebentar, ya! Akan kupanggilkan orangnya." Regulus-kun berlari pergi, meninggalkan aku sendirian lagi.

"..." Aku menunggunya dalam kesunyian. Orang-orang berlalu-lalang di taman itu, keluarga, teman, kekasih... Aku membayangkan diriku dan Albafica berjalan bersama di taman ini. Aku akan sangat bahagia jika itu menjadi kenyataan. Tapi nyatanya, aku disini, sendirian.

Langit sudah mulai berubah jingga. Tetapi Regulus-kun tidak kunjung kembali.

Kini langit malam sudah mulai muncul, bercampur dengan langit sore, menghasilkan warna oranye dan ungu.

"Dia nggak balik-balik!" pikirku. Taman itu kini sudah sepi, sepertinya tinggal aku di sana. "Regulus-kun ke mana, sih!? Jangan-jangan dia kelupaan dan kembali ke Kuil Leo begitu saja? Duh..." Aku kembali menunggu.

...

"Yak. Aku balik saja deh." Aku yang sudah bosan menunggu akhirnya memutuskan untuk pulang. Aku baru bangun ketika melihat Regulus-kun berlari ke arahku.

"Regulus-kun... Aku pikir kamu lupa..."

Regulus-kun mengatur nafasnya. Tapi tahu-tahu dia menyadari sesuatu dan mundur beberapa langkah. Rasanya hari ini dia aneh sekali.

"Ada apa, Regulus-kun? Kok jauh-jauh begitu?" tanyaku.

"Ah, tidak... Bukan apa-apa..."jawabnya.

"Kalau begitu bicara di depan orang, dong. Tidak sopan menghindar seperti itu." Aku memegang pergelangannya dan menariknya mendekat. Tetapi dia menahan sekuat tenaga.

OK, cukup. "Regulus-kun. Hari ini kamu bertingkah aneh. Sebenarnya ada apa? Jawab. Yang. Jujur."

Regulus-kun kelihatan ragu menjawab. Lalu untuk sepersekian detik, dia melirik ke atas. Aku melihat itu dan mendongak. Seketika, aku melepaskan genggamanku.

"Mistletoe?" ucapku kepada diri sendiri. Aku memandang Regulus-kun dan dia mengangguk.

"Spica, hari ini kelihatan murung... Kamu mencoba menutupinya, tapi kami semua bisa melihatnya. Terlebih karena kamu tidak menyapa Manigoldo, Aldebaran, dan Shion." jelasnya.

Tunggu, jadi kuil-kuil itu TIDAK kosong? Akunya saja yang tidak menyadari kalau mereka ada di sana? Pipiku merona merah karena malu.

"Setelah dibicarakan dengan yang lain... Kita sadar. Spica, kamu murng karena Albafica, 'kan?"

Walau enggan, aku mengangguk. "Dia... Sepertinya menghindariku, apa dia membenciku...?"

Wajah Regulus-kun menjadi muram. "Aku tidak tahu harus mengatakan apa... Tapi, tapi aku tidak suka kalau Spica sedih! Jadi... Begitulah... Aku dan yang lainnya merencanakan ini. Seharusnya, aku mengajakmu ke sini dan menjemput Albafica..."

Aku memaksakan diri untuk tersenyum. "Agar dia menciumku di bawah mistletoe ini?" candaku.

Aku dan Regulus-kun tertawa kecil. "Tapi Albafica tidak mau datang... Kardia dan Manigoldo tidak berhasil membujuknya. Jadi..." Regulus-kun tahu-tahu membungkuk, "Maaf ya, Spica! Aku membuatmu menunggu lama, tapi malah mengecewakanmu. Aku gagal, membahagiakanmu..."

Aku langsung menarik Regulus-kun sehingga dia berada di bawah mistletoe, dan mencium pipinya. Ia terlihat terkejut dan mengusap pipinya seperti Otousama pagi tadi. Aku harus meminta maaf kepada Lee-chan setelah ini.

"Jangan sedih begitu, dong." kataku sambil mengelus rambut Regulus-kun. "Kamu sudah berusaha. Terima kasih, Kak." Aku menambahkan kata "Kakak" di akhir, aku tahu dia senang aku memanggilnya Kakak.

Regulus-kun tersenyum cerah. "Iya dong! Aku, 'kan kakakmu!" ucapnya lalu tertawa. Kali ini saja, aku tidak mengoreksinya, aku tidak mengatakan "Sepupu...".

.

.

.

Setelah itu, kami kembali ke Sanctuary.

Malam akhirnya tiba, semua orang sudah beristirahat di kamarnya masing-masing. Semua orang kecuali aku. Aku membuka jendela kamar dan menikmati angin malam. Tiba-tiba, aku merasakan sesuatu menggelitik pipiku. Aku membuka mata dan melihat kalau itu adalah sehelai kelopak bunga. Aku baru mau menyentuhnya, ketika angin kembali menerbangkannya keluar kamar, melalui pintu yang tidak kututup sepenuhnya. Entah kenapa, aku memutuskan untuk mengikutinya. Kelopak bunga itu membawaku keluar Kuil Sagittarius, melewati Kuil Scorpio, Libra, Virgo, Leo, dan terus sampai akhirnya kita keluar dari 12 Kuil.

Kelopak bunga itu menghilang. Maksudku benar-benar menghilang di depan mataku. Aku baru sadar. Aku tertarik untuk mengikutinya karena aku merasakan Cosmo dari kelopak bunga itu.

Sehelai kelopak bunga baru muncul. Pertanyaan "Kenapa" muncul ke pikiranku. Aku pun kembali mengikutinya. Kelopak itu sekarang membawaku ke taman bunga itu. Barulah aku mengerti, kenapa dia membawaku ke sana.

Di bawah pohon sakura itu, ada sesosok pemuda dengan rambut biru muda panjang dan zirah emas berkilau. Aku berjalan mendekatinya. 'Mungkinkah...?'

Ia berbalik, memperlihatkan wajah orang yang kucintai, Albafica.

"Fica-kun...?" Aku ingin memastikan yang kulihat ini benar dia.

Albafica tersenyum, senyum yang tidak kulihat untuk waktu yang lama. Tidak bisa menahan diri, aku memeluknya.

"Albafica..." panggilku, suaraku sepertinya bergetar. Albafica tidak menjawab, ia membalas pelukanku dan membelai rambutku.

"Maaf, Spica... Aku tidak bermaksud menghindarimu... Aku tidak bermaksud membuatmu sedih..." Suara dan badannya bergetar. Aku melepaskan pelukanku dan menatap matanya.

"Albafica, apa kamu menangis...?" ucapku ketika melihat air mata membasahi pipinya. Aku mengusapnya, dan dia menggenggam tanganku.

"Sebenarnya... Selama ini, aku berusaha membuat ini..." Dia mengeluarkan sesuatu. Sebuah mawar, tapi bukan mawar merah seperti biasanya. Mawar itu, berwarna emas.

"Mawar emas...?" ucapku kagum.

Albafica tersenyum dan memberikannya padaku. "Mawar yang hanya muncul dalam mimpi, seperti dirimu..." Senyumnya begitu menawan, ada perasaan hangat yang muncul di dadaku.

Aku mengalihkan pandanganku. "Ma-Maksudmu aku ini tidak nyata...?"

"Yang kumaksud..." Albafica memegang daguku dan mengangkat kepalaku. "Mawar ini langka sepertimu. Sesuatu yang hanya muncul sekali dalam seumur hidup..." Aku berusaha keras untuk tidak melihat matanya, aku berusaha mengalihkan pandanganku ke mana saja, asal bukan matanya. Aku melihat ke atas, dan melihatnya, sebuah mistletoe tergantung di dahan pohon sakura itu.

Aku akhirnya menatap mata Albafica, dia kembali tersenyum. Aku tidak pernah melihatnya tersenyum sebanyak ini.

"Albafica?" panggilku. "Aku ingin bisa selalu melihat senyumanmu... Akan kulakukan apa pun untuk mempertahankan senyumanmu..." ucapku sambil tersenyum selembut yang kubisa.

"Apa pun?" Albafica terlihat senang mendengar kata itu. Ia mulai mendekatkan wajahnya. Awalnya aku ingin memundurkan kepalaku, tapi aku berubah pikiran. Aku memejamkan mata dan memasrahkan diri saat merasakan bibirnya menyentuh bibirku.

Angin berhembus membawa kelopak-kelopak bunga berterbangan selama kami mencium satu sama lain.

Albafica melepaskan bibirnya dan membisikkan kepadaku, "Selamat natal, Spica..."

Aku tersenyum dan membalas, "Selamat natal, Albafica. Semoga kita bisa bersama... Sampai natal berikutnya dan natal-natal setelah itu..."

"Aku ingin sekali itu menjadi kenyataan..."

"Pasti." Kami kembali mendekatkan bibir kami. Sebelum mereka bersentuhan, aku sempat mengucapkan sesuatu terlebih dahulu. "Aishiteru yo, Albafica..." Sebuah senyuman kembali terulas di bibir Albafica sebelum kami kembali berciuman.

~Keesokan Harinya~

"Spi-Spica! Tunggu sebentar! Kamu mau membawaku ke mana!?" tanya Albafica sementara aku terus berlari sambil menggenggam tangannya.

"Kamu pasti menyukainya, percayalah padaku!" jawabku diiringi sebuah tawa.

Albafica pasrah dan mengikutiku. Aku membawanya ke taman bunga kemarin. Di bawah pohon sakura yang kini bermekaran, menunggu Otousama dan Regulus-kun.

"Ah! Akhirnya mereka sampai!" seru Regulus-kun dari kejauhan. Otousama dan Regulus-kun melambaikan tangannya.

Aku berhenti sejenak dan balas melambaikan tanganku.

"Piknik?" tanya Albafica.

"Iya..." Aku kembali menggenggam tangannya, dan membawanya mendekati Otousama dan Regulus-kun. "Aku ingin menghabiskan hari ini bersama my favorite boys..." ucapku.

Aku melepaskan tanganku dan melirik Albafica. "Yah, bukan semuanya masih "Pemuda", sih." Ia memandang Otousama, Otousama hanya tertawa gugup.

"Albafica..." katanya. Kami berempat tertawa bersama.

.

.

Kami menghabiskan waktu dengan makan, bercanda, dan tertawa. Rasanya senang sekali...

"Aah!" Tiba-tiba mata Regulus-kun berubah berbinar-binar. Ia bangun dan berjalan ke tengah taman.

Aku mengikutinya, mataku ikut berbinar-binar ketika melihat apa yang membuatnya begitu semangat. "Salju! Turun salju!"

Ya, salju mulai turun dari langit. Aku menadahkan tanganku, menunggu satu butiran salju turun dan menyentuhnya. Sepasang tangan lain memegang telapak tanganku, menghangatkannya. Aku berbalik dan melihat Albafica.

"Ah! Mereka sampai!"

Suara Regulus-kun mengalihkan perhatianku. Aku mengalihkan pandangan ke kejauhan dan melihat para gadis berjalan ke sini, bahkan Sasha-sama ada bersama mereka. Regulus-kun mendekatiku dan mengajak menemui mereka. Aku mengangguk dan berlari bersamanya menyambut teman-temanku, keluargaku...

Hari ini penuh dengan begitu banyak kenangan bahagia. Aku bersyukur, bisa hidup. Aku bersyukur, bisa bertemu kalian. Terima kasih, terima kasih atas segalanya. Terima kasih, sudah menerimaku, menjadi bagian dari keluarga kalian...

.

.

.

.

.

Sudah 2 tahun lalu, sejak hari penuh kebahagiaan itu. Sekarang, pada hari terakhir musim semi, aku berdiri di depan pohon sakura itu. Menatap pohon yang masih memekarkan bunganya tersebut. Di sini begitu banyak kenangan, walau aku ingin bilang semuanya adalah kenangan indah, itu sama saja dengan membohongi diriku sendiri. Tapi, aku tetap menyukai tempat ini. Inilah tempat yang paling kusuka sekarang, Sanctuary kecilku. Kupegang ketiga gelang bunga yang ada di pergelangan tanganku. Dahulu milik kedua sahabatku, yang kini telah berangkat ke Taman Elysium.

"Sudah 2 tahun sejak Holy War..." kataku, berharap suaraku akan mencapai mereka yang sudah tiada. "Aku... Sepertinya berubah... Aku sekarang Saint Virgo, sekarang aku lebih kuat, lebih dewasa..." Sebuah senyum tersungging di pipiku. "Memang seharusnya begitu, ya? Aku harus begini demi Rose, Marie, dan semuanya yang selamat dari perang."

Angin malam berhembus lembut. "Kesepian?" Aku tertawa kecil. "Mungkin. Dari waktu ke waktu, aku merindukan kalian... Tapi jangan khawatir. Aku akan menjadi kuat. Akan kupastikan aku melindungi Rose, Marie, Alexx, Mikhail, Luna, semuanya. Aku akan melindungi semua orang. Jadi, jangan khawatir... Kalian bisa tenang di Elysium..."

Angin yang tadi berhembus lembut, tiba-tiba menjadi kencang seperti badai. Begitu kuatnya, sampai membuat bunga-bunga sakura di pohon itu beterbangan menjadi badai bunga sakura. Aku meletakkan tanganku di depan wajahku, melindungi mataku dari kencangnya angin. Saat itulah aku melihatnya, di tiap-tiap helai bunga, ada kepingan kenanganku dengan orang-orang yang paling kucintai di dunia, yang telah tiada.

Senyuman polos Regulus, kebaikan Otousama, Felicity, Lee, Gracellyn, Maya, Emma, Athena Sasha, Tenma, Okaasama, Rasgard, Defteros, Manigoldo, Asmita, Kardia, El Cid, Degel, dan... Kehangatan yang kurasakan hanya dari senyum Albafica.

Angin membawa helaian bunga itu terjatuh di sekitarku. Meninggalkan aku di sana, terdiam menundukkan kepala. "Zurui, yo..." Suaraku bergetar, "Anata-tachi... Zurui..." Aku mendongak, memandang pohon yang kini telah gundul. "Padahal... Aku sudah berjanji tidak akan, meneteskan air mata sekali pun..." Tapi aku tidak bisa membendungnya, air mataku mengalir membahasi pipiku.

"Uh... Uwaaahhhhh!" Tangisanku bertambah keras. Aku membenamkan wajahku dalam tanganku dan terjatuh ke kakiku. "Albafica! Regulus! Otousama!" tangisku, "Aitai no... Minna ni, aitai yo!" Aku terus menangis sendirian, tidak memedulikan apa pun...

Kenapa aku sendiri? Kenapa aku selamat? Kenapa aku tidak bisa bersama kalian!? Kenapa...?

Aku berteriak keras di tengah tangisanku, "Kenapa... Kenapa, kalian... Meninggalkanku sendirian...!?"

.

.

.

...Itulah, pertama dan terakhir kalinya, aku menangis sekeras itu, menumpahkan semua perasaanku pada air mata yang mengalir tanpa henti...


Cerita kita kali ini, diakhiri dengan air mata. Karena bagaimana pun, kita tidak akan bisa menggantikan orang-orang yang telah tiada.

Tetapi... Seseorang tiada, bukan ketika mereka meninggalkan kita di dunia ini... Melainkan, ketika mereka dilupakan.

Selama kenangan mereka masih terukir di hati kita, mereka akan hidup selamanya...

「つづく。。。」

Selesai!

Wina: U-Urgh... *Nangis*
Mitsu: Wina-chan jangan nangis dong...
Wina: Habisnya, habisnya... Kok aku bikin endingnya ngenes gitu sih!? Uuhhh... *Nangis*
Teru: 'Jangan tanya kita...' *Sweatdrop*

Mitsu: Aah... Ayo bicarakan yang lain! Etto, seperti... Ending Scene itu. Lagu apa yang cocok didengar ketika membacanya ya? Menurut Niisan?
Teru: Eh? Nanya aku? Hm... Sakura Sakura by Mai Kuraki, mungkin?
Mitsu: Hee... Kalau menurutku... Yume no Kawa by AKB48
Teru: Oh, lagu perpisahan Acchan?
Mitsu: Iya. Ah, tapi... Your Best Friend, Time After Time (Mai Kuraki), Last Song (Yamai)... Cry For A Star (Kokone) juga cocok ya?
Teru: Jadi tambah banyak *Sweatdrop* Kalau gitu, Takusu Mono he (Yumi Matsuzawa) juga cocok dong?
Wina: Kalian ngomongin apa sih!?
Mitsu, Teru: *GLEK*
Wina: Hope yang Piano Version dong! (Hanatan)
Mitsu, Teru: Ah... Ahaha... 'Bagusnya dia udah balik normal...'


#Gianti-Faith
Mitsu: Tenanglah, Sophie-chan... *Senyum gugup*
Kanon: Aku gak bakal bikin nangis Mitsuki, gak bakal pernah! Kalau iya, gak perlu kamu hukum... Aku bakal Harakiri sendiri! *Masuk ke pose Seppuku*
Mitsu, Wina, Teru: WAAH! JANGAN!

#Shimmer Caca
Kanon: Eh, kok pada ngancem aku ya... -_-;
Wina: Berarti banyak yang sayang Mitsu dong~
Mitsu: Waah~ Ureshii~ Arigatou Minna *Senyum malaikat*
Kanon: *Nosebleed* 'Ma-Manisnya...'
Teru: *Deathglare Kanon*

#TsukiRin Matsushima29
Wina: Eeh... Di pojokkan sih, gak ada yang merhatiin juga...
Teru: Akunya lagi bareng Minami... Makanya gak bisa ngebantai Kanon.
Kanon: Oi oi... Bercanda, 'kan? *Nervous*
Teru: Iya kok... Tenang... *Senyum*
ALL: 'Gak meyakinkan deh'


Terima kasih sudah membaca sampai habis
Maaf atas segala typo, kegajean, OOC keterlaluan, atau ficnya aja yang jelek
Jika berkenan, silahkan mereview. Kalau tidak juga nggak papa kok

~See you in the next chapter~