"Pasangan yang berada di bawah Mistletoe, harus mencium satu sama lain."
Di musim romansa ini, ciuman seperti apa yang menunggu?
Kisah apa yang telah dipersiapkan oleh takdir kepada pasangan-pasangan kita?
Fic spesial untuk menyambut natal. Judul dan summary telah menjelaskan semuanya. HAPPY READING~
Disclaimer 1: Saint Seiya itu milik Kurumada-sensei! tapi Mitsuki, Teru, Murasaki, Minami, para Akumu dan OC lainnya itu milik saya, beserta author-author lainnya yang OCnya muncul di chapter ini dan/atau chapter-chapter berikutnya.
Disclaimer 2: Lagu-lagu yang mungkin muncul di chapter ini dan chapter-chapter selanjutnya adalah milik penulis, penyanyi, produser, dan orang-orang yang terlibat dalam produksi serta pemasarannya.
KINON
~Touching Lips in The Falling Snow~
.
.
.
Aku berjalan menyusuri jalan yang ditutupi salju. Walaupun sudah mengenakan jaket tebal, aku masih bisa merasakan dinginnya. Sekarang ini salju masih turun, untunglah aku membawa payung.
Langkahku terhenti ketika melihat sosok yang tak asing di sisi lain jalan di depanku. Seorang gadis berambut hijau panjang, mengenakan hanya selapis kimono putih. Sambil tersenyum, aku memanggilnya, "Selamat malam, Kinon."
Sang gadis mendongak ke arahku, tidak membalas atau pun tersenyum, ia hanya menatapku.
Aku berjalan ke sisinya.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Aries Kiki?" tanyanya.
"Ketika datang ke kediaman Kamishiro, mereka bilang kamu tidak ada. Jadi, kupikir mungkin kamu ada di sini."
Kinon tidak membalasku. Seharusnya aku sudah menduganya. Dengan perlahan, kulepaskan jaketku. Aku memang sengaja mengenakan dua jaket sekaligus untuk berjaga-jaga. Setelah melepaskannya, kukenakan jaket itu pada tubuh mungilnya. Tetapi ia langsung memberontak dan menolaknya.
"Apa kamu tidak kedinginan hanya mengenakan kimono itu? Aku hanya tidak mau kamu sakit."
Sang gadis mengalihkan wajahnya. "Monster sepertiku tidak akan pernah sakit..." gumamnya, mungkin ia pikir aku tidak akan mendengarnya.
Kugenggam pundaknya dan membuatnya menatap mataku. "Kita sudah membicarakan ini," kataku dengan nada serius. "Kalau kamu mengatakan sesuatu seperti itu lagi, aku harus memberi hukuman padamu."
Aku bisa melihat pipinya yang pucat berubah merah.
"Apa aku harus menghukummu di sini, sekarang?" lanjutku.
Kinon memejamkan matanya dan menunduk. Gadis ini biasanya sulit untuk ditaklukan, jadi melihatnya tidak berdaya seperti ini adalah perubahan yang cukup lucu.
"Jika kamu tidak mau... kenakan jaket ini." Kali ini aku tersenyum dan melembutkan suaraku.
Ia mendesah sebelum mengambil jaket yang kusodorkan dan mengenakannya.
"Bagus. Sekarang, ayo kita pulang."
Kami berjalan berdampingan di bawah satu payung. Tetapi sekali-kali, Kinon akan menjauh dan keluar dari jangkauan payung. Kalau sudah seperti ini, akulah yang harus mendekatinya.
"Jangan terlalu jauh, nanti kamu terkena saljunya. Sia-sia aku membawa payung kalau begitu."
Lagi-lagi dia tidak menjawab.
Kami berdua meneruskan perjalanan kami dalam kesunyian. Ugh, aku tidak suka ketika atmosfer di sekitar kita menjadi canggung seperti ini. Di saat yang sama, aku sudah memahami sifat gadis di sampingku. Untuk kali ini, aku memecah kesunyian.
"Sebentar lagi Natal, ya?"
Kinon memandangku sejenak. "...apa hubungannya Natal dengan kita?" Pertanyaan bukanlah pertanyaan sarkastik, dia sungguh-sungguh menanyakan hubungan antara perayaan tersebut dengan kita.
"Memangnya kamu tidak akan merayakannya bersama keluarga Kamishiro?"
"...Mereka pernah mengatakannya. Tetapi Natal ini adalah perayaan bagi umat Kristiani, bukan?"
"Ahaha..." Tawaku mungkin terdengar terpaksa―yang memang benar― tetapi aku berusaha tetap tersenyum. "Bagaimana aku harus menjelaskannya, ya..."
"Oh, kamu tidak perlu menjelaskannya. Aku sudah mengetahui tentang hari raya Natal ini dari Elafry―"
Elafry... ia putri dari Mitsuki-san dan Kanon. Ah, kalau dia, ia pasti berusaha menjelaskan Natal semenyenangkan mungkin untuk menarik perhatian Kinon agar bersedia merayakannya bersamanya.
"―Ilio dan Amaterasu juga ikut menjelaskannya padaku."
Mereka sepupu Elafry―dalam kata lain, anak dari Teru-san. Berarti hanya tersisa satu orang...
"Apakah Tsukiyomi juga ikut menjelaskannya?"
"Tidak, dia hanya diam dan ikut mendengarkan bersamaku."
Sudah kuduga. Dia mirip sekali dengan ayahnya, Kanon. Baik penampilan maupun sifat, hanya matanya saja yang tidak. Tsukiyomi mewarisi mata biru safir ibunya.
Tanpa sadar aku melepaskan sebuah tawa kecil. Tampaknya itu menarik perhatian Kinon, karena detik berikutnya, ia langsung menatapku dengan bertanya-tanya.
"Aku tidak dapat melihat bagian mana dari ceritaku yang dapat membuatmu tertawa," ucapnya dengan polos.
"Ah, tidak, lupakan saja. Jadi, apa saja yang telah kamu ketahui tentang Natal?"
Kinon berpikir sejenak. "Aku tahu apa yang orang peringati saat hari Natal dan apa yang mereka lakukan. Juga, saat ini pemberian hadiah tampaknya lebih diutamakan. Ada juga tentang Santa Claus―"
"Mereka memberitahumu soal Santa Claus?"
Sang gadis mengangguk. "Kalau boleh jujur, ide akan seorang pria tua yang gemuk turun dari cerobong asapmu cukup menggangguku... Walaupun beliau menyukai anak-anak dan memberi mereka yang telah berbuat baik hadiah, Santa Claus juga dikatakan menculik anak-anak yang dianggapnya nakal, bukan?"
"Mu-Mungkin kamu terlalu menganggap ini serius, Kinon..."
Aku mulai khawatir ia salah paham. Walau aku tidak bisa menyalahkannya, mengingat masa lalunya yang terpisah dari dunia luar bertahun-tahun lamanya itu. Dan baru tak lama ini ia datang ke Dunia ini, tidak aneh ia sepolos bayi yang baru lahir dan memiliki banyak pertanyaan. Mungkin untuknya, segala sesuatu yang ada di Dunia ini adalah suatu misteri yang harus dipecahkan, ya?
Memikirkan itu, tanpa sadar aku kembali tertawa. Kinon langsung memperhatikanku lagi. Apa mulai sekarang aku harus lebih banyak tertawa? Ahaha.
"Kamu tertawa lagi."
"Orang tertawa jika senang, itu bukan hal yang aneh."
Kinon kembali mengangguk. "Elafry dan lainnya juga sering begitu."
"Ah, iya." Suatu ide muncul dalam kepalaku, aku tidak sabar melihat reaksinya. "Apa mereka memberitahumu tentang mistletoe?"
Aku menoleh ke arahnya, menunggu jawaban darinya. Tetapi aku malah menemukan Kinon sedang menatapiku.
"Apa kamu ingin aku menciummu, Kiki?"
Aku tidak memperkirakan jawabannya itu. Tanpa sadar, genggaman pada payung yang kupegang berkurang. Akibatnya, payung itu terlepas dari tanganku dan terbawa angin sampai ke sisi lain jalan. Aku pun langsung mengejarnya.
Kecelekaan yang bagus, karena aku tidak tahu harus berwajah seperti apa di hadapannya sekarang ini. Aku membungkuk untuk meraih payung tersebut.
'Memang benar aku ingin melihat reaksinya, tapi kata-katanya itu...' batinku sembari mengangkat payung hitam itu. 'Kenapa aku sampai malu begini? Apa itu berarti... aku memang mau―'
Rangkaian pikiranku terhenti oleh sebuah suara. Suara seperti sesuatu terjatuh ke salju. Ketika membalikkan badan, wajahku langsung berubah pucat melihat Kinon-lah yang terbaring di atas salju. Melupakan payung yang baru saja kuambil, aku langsung berlari ke sisinya.
Berulang kali aku memanggilnya, tetapi dia tidak membalas. Tubuh sang gadis terkulai lemas, kimono dan kulitnya berbaur dengan salju di sekitarnya, seolah-olah jika aku mendiamkannya, dia akan meleleh dan menghilang ke dalam tumpukan salju itu.
Instingku mengambil alih. Sambil menggendong tubuh Kinon yang dingin bagaikan es, aku berlari.
.
"Monster sepertiku tidak mungkin jatuh sakit."
Aku ingat dirinya pernah berkata begitu. Aku ingat betapa inginnya aku membuktikan bahwa ia salah. Namun, sekarang aku tidak senang walaupun terbukti bahwa aku benar. Satu-satunya yang ada di pikiranku adalah membawa Kinon pulang, dan berdoa semoga skenario terburuk yang berputar terus di otakku ini salah.
Begitu tiba di kediaman Kamishiro, aku segera menggeser buka pintu depannya. Entah kebetulan atau keberuntungan, Teru-san sedang berdiri di depan pintu.
Sebelum ia bisa menyapa atau mengatakan apa pun, aku sudah berbicara terlebih dahulu, "Teru-san, gawat! Kinon―Dia tiba-tiba pingsan begitu saja!"
Aku tidak bisa ingat apa yang kukatakan sesudah itu, karena pikiranku dipenuhi kepanikan. Akhirnya, Teru-san berusaha menenangkanku dan menyuruhku membawa Kinon ke kamarnya.
'Kalau dipikir-pikir, ini pertama kalinya aku ke kamarnya...' batinku ketika menggendong Kinon menyusuri lorong menuju kamarnya.
Aku cukup terkejut ketika tahu bahwa kamarnya adalah kamar lama Mitsuki-san.
Tiba-tiba Teru-san berhenti di depan pintu. Ia berbalik dan menatapku. "Maaf, tapi kamu sampai di sini saja, Kiki. Aku akan memeriksa Kinon, jadi kamu tunggu saja di luar."
Dengan enggan, aku mengangguk.
「Saat menunggu, satu menit akan terasa seperti satu jam. 」
Awalnya aku kurang percaya kata-kata itu, tapi ternyata ada benarnya juga. Tidak sampai setengah jam berlalu, Teru-san sudah keluar dari dalam kamar, tetapi aku merasa seolah telah menunggu seharian penuh.
Tanpa sadar aku menahan napas menunggu Teru-san menjelaskan kondisi Kinon.
"Jangan berwajah seperti itu," katanya dengan senyuman kecil terulas di wajahnya.
"Ini bukan penyakit atau apapun," lanjutnya. "Dia hanya kelelahan. Mungkin secara mental, ia tidak merasakan―atau tidak mau mengakuinya, tetapi secara fisik tubuhnya kelelahan. Akibatnya tubuhnya menyerah dan memaksakan diri untuk beristirahat."
Setelah mendengarkan penjelasan Teru-san, napas yang kutahan sedari tadi menghembus keluar bersama dengan perasaan lega.
Teru-san tersenyum geli. "Sekarang dia sedang tertidur pulas. Aku yakin, setelah tidur dan istirahat yang cukup, dia pasti pulih kembali."
"Itu kabar bagus. Terima kasih, Teru-san."
Pria berambut coklat perunggu itu mendekat dan mengelus kepalaku seperti seorang kakak mengelus adiknya. Aku akan berbohong jika bilang aku tidak malu karenanya.
"Rasanya sudah lama sekali aku tidak melihatmu bersikap seperti ini," katanya. "Apa yang mereka bilang? Out of character...?"
"Apa itu sebuah sindiran, Teru-san?"
"Ahaha, tidak."
"...Ngomong-ngomong, tempat ini lebih sepi dari biasanya." Aku berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Tentu saja sepi." Teru-san tampaknya juga tidak keberatan dan mengikuti arah pembicaraan. "Sekarang ini Elafry, Tsukiyomi, Mitsuki, dan yang lainnya tidak ada. Satu-satunya alasan aku tetap di sini adalah untuk merawat Amate."
Amaterasu―Amate memang memiliki kesehatan yang buruk. Dia mudah terserang penyakit, dan ada juga yang bilang kalau dia mengidap penyakit jantu― Ah, sebaiknya aku tidak berbicara lebih jauh.
"Apa Teru-san tidak keberatan kalau aku menemani Kinon?" tanyaku.
"...Yah... Aku tidak melihat kenapa tidak." Teru-san tertawa kecil dan berjalan pergi, meninggalkanku sendirian.
Dengan perlahan aku menggeser pintu kamarnya, dan melihat sosok sang gadis tertidur pulas. Memastikan aku tidak membuat suara yang tak berarti, aku menutup pintu dan duduk di samping futon tempat dia berbaring.
"Bisa dibilang, kau tidak sepenuhnya salah―" kataku seolah Kinon bisa mendengarnya. "―Kamu bukan sakit, hanya kelelahan. Tapi tetap saja, seharusnya kamu tidak memaksakan diri..."
Kelopak matanya bergetar. Dengan perlahan-lahan Kinon membuka matanya. "...aku pingsan...?" Itulah kata-kata pertamanya.
Ia menoleh ke arahku. Dan aku pun mengusahakan sebuah senyuman untuknya.
"Teru-san bilang kamu akan baik-baik saja asalkan beristirahat, jadi tidurlah dulu." Sambil berkata begitu, aku mengelus rambut hijaunya.
"Aku mengerti, aku akan tidur." Suaranya terdengar sepelan bisikan. Sang gadis mengalihkan pandangannya dan menarik selimutnya hingga menutupi setengah bagian dari hidungnya.
"Kiki... Apa kamu bersedia tetap di sisiku? Setidaknya hingga aku tertidur."
Aku terdiam sejenak. Samar-samar, aku bisa melihat pipinya memerah. 'Ini pertama kalinya... Aku tidak pernah melihat dia seperti ini sebelumnya. Dia... manis juga.'
"Baiklah, aku akan tetap di sini." Aku meraih tangannya dan menggenggamnya dengan erat, berusaha meyakinkannya.
Aku tidak bisa melihat mulutnya karena tertutup oleh selimut, tetapi aku ingin membayangkan kalau dia sedang tersenyum.
Kinon kembali memejamkan matanya dan terlelap.
.
.
.
Aku membuka mata dan menemukan ruangan yang gelap serta ranjang yang kosong.
'Gawat, aku tertidur, ya...?' batinku.
Akhirnya aku tersadar sepenuhnya dan bangun untuk mencari Kinon. Tidak cukup sulit, karena ia berada di lorong yang ada di depan kamarnya, berdiri menghadap kebun dengan kepala menengadah ke atas.
"Saljunya kembali turun..." gumamnya.
Aku berjalan ke sisinya. "Kamu tidak akan pingsan lagi, 'kan?" candaku.
"Kuyakin kejadian seperti itu tidak akan terulang untuk kedua kalinya hari ini," katanya sambil menatapku.
Aku tertawa dalam hati. Gadis ini bisa dibilang polos, walau bukan dalam arti pada umumnya.
Kinon kembali menatap ke atas, memperhatikan salju yang berjatuhan dari langit. Lalu, sebuah suara kecil keluar dari bibirnya. Ketika aku menoleh, ia sedang menatap langit-langit lorong. Mengikuti arah pandangannya, aku mendongak ke atas.
Yang tergantung di langit-langit lorong adalah sebuah hiasan tanaman kecil. Aku mengenalinya, itu adalah sebuah mistletoe.
Ah... Kalau dipikir-pikir, aku belum menjawab pertanyaannya, ya?
Sebuah senyuman terulas di wajahku seiring aku menurunkan kepalaku, kini memandang mata gadis yang ada di hadapanku―Matanya yang tajam bagaikan pemburu yang mengawasi mangsanya, rasanya lucu melihat bayanganku terpantul dalam bola merah darah itu. Tanganku menelusuri pipinya.
"Kiki?"
Tampaknya tindakanku membuatnya bingung. Namun aku tidak menjawab, aku hanya mendekatkan wajahku kepadanya dan menciumnya.
Setelah beberapa saat, aku melepaskannya.
Kinon menatapku, bingung oleh tindakanku. Mungkin ia juga terkejut, jika iya, dirinya berhasil menyembunyikannya dengan baik.
"Kenapa kamu menciumku?" tanyanya dengan polos.
Aku berdalih, "Uh, kamu tahu apa yang harus dilakukan sepasang orang yang berdiri di bawah sebuah mistletoe, kan?"
Kinon menundukkan kepalanya dan bergumam, "...mereka harus mencium satu sama lain."
"Kalau begitu..." Kinon mendongakkan kepalanya dan menciumku.
Tak kuduga dia akan melakukan itu. Karena terkejut, aku langsung membatu di tempat, tak berkata atau melakukan apa pun.
Sang gadis mundur dan tersenyum. Ini pertama kalinya aku melihat Kinon tersenyum lembut seperti itu...
.
.
Aku menatap Aries Kiki yang berlari mengejar payungnya yang terbang terbawa angin. Sepertinya pertanyaanku mengganggu pikirannya. Sembari memikirkan apa perbuatanku yang salah, kumemerhatikan tumpukan salju di bawahku.
Eh..?
Semuanya tiba-tiba tampak kabur. Aku tidak bisa merasakan kakiku. Tubuhku menjatuhkan diri ke tanah seiring semuanya berubah menjadi hitam...
Samar-samar, terdengar sebuah suara...
"―seharusnya kamu tidak memaksakan diri..."
Ketika membuka mata, Aries Kiki berada di sisi ranjangku.
"...aku pingsan...?" gumamku.
Ia tersenyum. "Teru-san bilang kamu akan baik-baik saja asalkan beristirahat, jadi tidurlah dulu." Tangannya menyentuh rambutku dan mulai membelainya.
Yah, aku tidak bisa menolak. Walaupun dipaksa, tubuhku masih tidak sanggup bergerak.
"Aku mengerti, aku akan tidur." Tapi aku tidak mau sendirian, tidak sekarang.
Aku menarik selimutku agar menutupi setengah bagian dari wajahku. Aku tidak mau dia melihat pipiku yang memerah. "Kiki... Apa kamu bersedia tetap di sisiku? Setidaknya hingga aku tertidur."
Dia terdiam. Untuk sesaat, kupikir dirinya akan menolak. Namun sebaliknya, ia menggenggam erat tanganku dan berkata, "Baiklah, aku akan tetap di sini."
Ah, semoga dia tidak bisa melihat bibirku yang tak bisa tak tersenyum.
Ketika kembali membuka mata, semuanya gelap. Malam telah tiba. Melihat ke samping, seorang pemuda berambut coklat―Aries Kiki, tengah terlelap dalam posisi duduk.
Sekarang aku mencoba bangun. Baguslah, sepertinya tubuhku sudah bisa bergerak. Meninggalkan kamarku, aku berjalan ke lorong dan menatap kebun yang kini tertutupi salju. Aku mendongak ke atas mengamati penyebab kebun Kediaman Kamishiro menjadi putih. "Saljunya kembali turun..." gumamku.
"Kamu tidak akan pingsan lagi, 'kan?"
Tiba-tiba seorang pemuda sudah berada di sisiku. Aku pun menjawab pertanyaannya. "Kuyakin kejadian seperti itu tidak akan terulang untuk kedua kalinya hari ini."
Sepertinya ada yang lucu dari kata-kataku barusan, sebab terlihat jelas ia sedang menahan senyum. Mendesah pelan, aku kembali menatap langit. Tapi yang menarik perhatianku tidak terdapat di langit hitam musim dingin itu, melainkan pada langit-langit lorong.
"Ah..."
Di atas sana, terdapat sebuah tanaman kecil yang wujudnya serupa dengan gambar tanaman mistletoe yang Elafry tunjukkan padaku.
Ketika menurunkan kepala, diriku memandangi Aries Kiki yang sedang tersenyum. Tiba-tiba tangannya menelusuri pipiku, mengelusnya dengan ibu jarinya―
"Kiki?"
―Dan dia menciumku.
Setelah Kiki melepaskan bibirnya, aku melakukan apa yang normal untuk dilakukan seseorang. "Kenapa kamu menciumku?" tanyaku.
"Uh, kamu tahu apa yang harus dilakukan sepasang orang yang berdiri di bawah sebuah mistletoe, kan?" jawab sang Saint Aries.
Benar juga. Aku langsung ingat akan tradisi itu. Pasangan yang berdiri di bawah mistletoe... "...mereka harus mencium satu sama lain."
Setelah berpikir sejenak, aku memutuskan apa yang harus kulakukan selanjutnya. "Kalau begitu..." Aku mendekati Kiki dan menciumnya juga. Setelah sejenak, aku menjauh dan tanpa sadar bibirku sudah membentuk sebuah senyuman...
.
Langit yang hitam legam, rumput yang memutih, pohon yang berbunga salju.
Dingin...
Saat itu udara begitu dingin akibat salju yang turun tanpa henti.
Namun aku bisa merasakannya dengan jelas.
Saat bibir kami bertemu, aku bisa merasakan kehangatannya...
.
Di Natal yang baru ini, sebuah cerita kembali muncul untuk pasangan yang baru...
Siapakah yang akan menerimanya selanjutnya?
「つづく。。。」
Wina: Aah, akhirnya cerita ini di-update juga. Mungkin ini jadi cerita yang khusus dibuat untuk Natal saja ya?
Kanon: Hei, hei, kenapa Kinon malah sama si Kiki!? Umur mereka 'kan beda-
Wina: Jangan jadi Ayah overprotective *Sweatdrop* Dia bahkan bukan putri kandungmu.
Kinon, Kiki: Umur kita tidak berbeda jauh juga.
Wina: Dan kau sendiri dengan Mitsu?
Kanon: #JLEB
#TsukiRin Matsushima29
Wina: Erm, walau udah ganti akun... Yah, tetap balas aja deh ^^ Terima kasih sudah Review
Spica: Terima kasih... *senyum* Dan, uhm, boleh kupanggil Rhea-chan dan Yoru-kun? Kalian bebas mau memanggilku bagaimana kok
#Shimmer Caca
Wina: Update ^^; setelah setahun. Ahaha...
Spica: As-Asley? Membunuh Gracel-san!? Iblis wanita!?
Wina: Err, mungkin ada perubahan... Nanti coba tanyakan ke Caca aja deh
#Gianti-Faith
Wina: Ide bagus tidak membiarkan Odette baca adegan terakhirnya ^^;
Spica: U-Uuu... Aku tahu, tapi... Yah, sebuah harapan palsu.. doa yang tidak tersampaikan... permintaan yang tak akan terkabulkan...
Wina: Hei, jangan nangis kumohon! Aku bisa dibunuh Julius nanti TAT
#Ketrin'Shirouki
Spica: Lee-chan tolong jangan menangis... jangan menyalahkan dirimu
Wina: Kalian berdua jangan nangis bareng dong *Sweatdrop* Nanti bukan cuma Julius. Fica, Sisyphus, Regulus, Asmita... bisa-bisa jejakku hilang sepenuhnya dari muka bumi.
Spica: Ah... ba-baik... Aku tidak mau Wina-chan yang terkena getahnya
Wina: Arigatou... Ngomong-ngomong Spica dan Lee jarang bertemu ya? Ahaha... *Sigh*
#Guest
Wina: Saya mohon maaf sebesar-besarnya. Walaupun saya suka menggunakan OC untuk cerita, ini bukan alasan untuk mencuri spotlight dari karakter Saint Seiya-nya. Saya akan mencoba untuk menyeimbangkannya. Ah, ngomong-ngomong cerita kali ini dikisahkan lewat sudut pandang Kiki dari Saint Seiya Omega. Terima kasih atas review-nya~
Terima kasih sudah membaca sampai habis
Maaf atas segala typo, kegajean, OOC keterlaluan, atau ficnya aja yang jelek
Jika berkenan, silahkan mereview. Kalau tidak juga nggak papa kok
~See you in the next chapter~
