"Pasangan yang berada di bawah Mistletoe, harus mencium satu sama lain."
Di musim romansa ini, ciuman seperti apa yang menunggu?
Kisah apa yang telah dipersiapkan oleh takdir kepada pasangan-pasangan kita?
Fic spesial untuk menyambut natal. Judul dan summary telah menjelaskan semuanya. HAPPY READING~
Disclaimer 1: Saint Seiya itu milik Kurumada-sensei! tapi Mitsuki, Teru, Murasaki, Minami, para Akumu dan OC lainnya itu milik saya, beserta author-author lainnya yang OCnya muncul di chapter ini dan/atau chapter-chapter berikutnya.
Disclaimer 2: Lagu-lagu yang mungkin muncul di chapter ini dan chapter-chapter selanjutnya adalah milik penulis, penyanyi, produser, dan orang-orang yang terlibat dalam produksi serta pemasarannya.
REISHA ALEXANDRIA LETO
~Snow White's Hymn~
.
.
.
Samar-samar, aku bisa mendengar kicauan burung. Ketika membuka kelopak mataku, cahaya dari matahari musim dingin menyambutku.
Begitu bangun, perhatianku langsung tertuju pada seseorang yang tengah tidur di atas lantai di sisi ranjangku. Kenapa ia tidur di sana...? Aku menanyakannya pada diriku sendiri―Ah, ya, benar... Semalam aku bermimpi buruk, jadi dia mengajukan diri untuk menemaniku tidur. Hanya beralaskan futon dan selimut, sang pemuda terlelap di atas lantai yang dingin. Perasaan bersalah muncul dalam hatiku, bagaimana pun juga, dia adalah tuan rumah. Rasanya tidak pantas dirinya tidur di lantai.
Aku turun dari ranjang dan mendekatinya. Ia biasanya begitu tenang dan serius, tetapi sekarang dirinya tampak manis seperti seorang anak kecil.
Kuelus rambut coklat perunggu miliknya. "Selamat pagi, Satsuki..." bisikku.
Kelopak matanya bergetar, lalu terbuka sedikit. "Reisha...?" gumamnya. "Kenapa? Kamu tidak bisa tidur sendirian...?"
Ah, sepertinya dia sedang mengigau...
Tiba-tiba Satsuki menarikku ke dalam pelukannya. Dengan mata tertutup, ia mengelus rambut cream panjangku, seolah mencoba menenangkanku. Pipiku berubah lebih merah daripada mataku yang berwarna merah delima.
Perlahan-lahan aku mengangkat wajahku dan menatapnya. W-Wajahnya dekat sekali denganku...
"Satsuki... Satsuki? Kumohon bangunlah..."
Kelopak matanya kembali bergetar, namun kali ini matanya terbuka sepenuhnya. Bola mata biru safir-nya terbelalak melihatku. Satsuki langsung bangkit dan menjauhkan dirinya, meminta maaf padaku berulang kali. "Aku benar-benar minta maaf, Reisha!"
"Aku tidak keberatan... Lagipula Satsuki sedang tertidur," jawabku sambil tersenyum.
Aah... sepertinya jawabanku salah, sebab detik berikutnya Satsuki tampak seperti marah. "Reisha, dengarkan aku baik-baik. Di situasi begini, kamu seharusnya marah padaku. Ini bukanlah tindakan yang sopan, seorang pria dan wanita yang tidak menikah harusnya tidak berbuat seperti ini."
"A-Ah... Maafkan aku..."
Satsuki mendesah dan menepuk kepalaku yang tertunduk. "Lupakanlah. Aku tidak bisa memaksamu marah begitu saja. Tapi aku sedikit berharap kamu mengerti dan mengingatnya, jika hal seperti ini terjadi―Ah tidak, hal seperti ini tidak boleh terulang." Satsuki memberi penekanan pada kata-katanya yang terakhir.
"Baik, aku mengerti." Aku tersenyum dan mengangguk.
Sepertinya aku melakukan sesuatu lagi, karena sekarang Satsuki mengalihkan wajahnya dan tak mau menatapku.
"Satsuki?"
"Aah, ayo cepat keluar dan sarapan. Orang tuaku pasti sudah menunggu!"
.
.
.
Saat memasuki ruang makan, Eri-san dan Sono-san―orang tua Satsuki sudah berada di sana. Duduk mengelilingi sebuah meja makan tradisional Jepang. Satsuki dan aku ikut duduk, menghadap satu sama lain.
"Reisha-chan." Eri-san memanggilku. "Apakah tidurmu nyenyak?" tanyanya dengan sebuah senyuman menghiasi wajahnya.
Eri-san adalah wanita paruh baya dengan rambut panjang berwarna kelabu yang diikat menjadi sebuah sanggul. Sifat dan perilakunya begitu lembut, jarang sekali aku melihat beliau tidak tersenyum. Ditambah lagi, walaupun mereka memiliki pelayan-pelayan yang jumlahnya banyak, Eri-san tetap melakukan pekerjaan rumah dari waktu ke waktu.
"Sayangnya, semalam saya bermimpi buruk. Tetapi tidur saya kembali nyenyak setelah Satsuki datang," jawabku.
Sono-san yang duduk di sisi Satsuki berdeham. Beliau menatap putranya dengan tajam. Sono-san memiliki janggut yang tercukur rapi, memberi kesan berwibawa. Meskipun begitu, sorot matanya jenaka―biasanya― Ini pertama kalinya aku melihatnya begini.
"Satsuki, kau tidur bersama dengannya?" Sono-san menekan setiap kata-kata yang diucapkannya.
"Jika maksud Ayah, aku tidur di kamar yang sama dengannya... maka, ya." Satsuki menjawab dengan tenang dan membalas tatapan ayahnya.
"Apa yang kau pikirkan!?" Sono-san menepuk meja makan dengan kencang. "Tidur satu kamar dengan seorang gadis yang bukan istrimu! Apa kamu sudah melupakan etika, Satsuki!?"
Eri-san langsung berusaha menenangkan suaminya. "Sudah, sudah... Kuyakin Satsuki hanya berusaha membantu Reisha-chan. Nah, tenangkanlah dirimu... Jangan memulai pagi dengan amarah, sayang."
Bujukan Eri-san berhasil. Sono-san menghela napas panjang dan duduk kembali. Namun atmosfer di antara keduanya tetap saja terasa tegang. Dan ketegangan itu berlanjut sepanjang sarapan pagi kami bersama.
Ah, kalau kupikir-pikir... ini keberapa kalinya aku makan pagi bersama dengan mereka? Sudah hampir setahun aku tinggal bersama keluarga Kamishiro. Satsuki telah menolongku, dia memberiku tempat yang bisa kusebut rumah, mengajariku yang tidak tahu apa-apa tentang Dunia, memberitahuku makna dari kebahagiaan... Aku sangat berterima kasih padanya, dan tak ada satu hari berlalu tanpa diriku bersyukur kepada Tuhan karena telah mempertemukan kita. Eh? Tunggu... Apa itu berarti―
"Reisha-chan?"
Suara Eri-san membawaku kembali ke Bumi. Ia memperhatikanku dengan tatapan risau.
"Sepertinya ada sesuatu yang mengganggumu... Jangan-jangan kejadian saat sarapan tadi?"
"Tidak. Saya hanya memikirkan sesuatu yang tak penting..."
Eri-san kembali menatapku sebelum kembali mencuci piring yang kita gunakan untuk sarapan barusan―Meskipun para pelayan sudah membujuk beliau untuk tidak melakukannya. Aku juga kembali sibuk mengelap piring-piring yang telah dicucinya.
Setelah selesai membantu Eri-san, aku berjalan di lorong rumah. Kediaman Kamishiro adalah rumah bergaya tradisional Jepang, jadi banyak lorong-lorongnya yang terbuka menghadap taman di depannya, dibatasi dengan pintu kaca.
Aku melepaskan ikatan rambutku, membiarkan rambut cream panjangku tergerai membentuk ombak. Kebun yang biasanya hijau nan asri kini ditutupi oleh salju putih, air kolam membeku, dedaunan di pohon sakura yang ada di taman kini digantikan oleh salju. Dari langit, salju turun bagaikan kelopak-kelopak bunga putih.
Aneh, padahal saju hanyalah titik air yang jatuh dari awan setelah proses pembekuan. Seharusnya sama saja dengan hujan, tetapi... Kenapa salju bisa seindah ini?
'Aku ingin memperlihatkannya kepada Satsuki juga...' batinku.
Mengangguk pada diriku sendiri, aku mulai mencari sang pemuda. Kediaman Kamishiro sangat luas, namun aku punya gambaran dimana dia sekarang ini. Satsuki dan Ayahnya kemungkinan besar sedang berlatih di Dojo bawah tanah.
Setelah menyusuri lorong-lorong ke bagian dalam rumah dan menuruni tangga menuju ke bawah, aku sampai di Dojo bawah tanah Kediaman Kamishiro. Tempat itu tampak seperti dojo-dojo lainnya―setidaknya dari yang kubaca di buku, karena aku belum pernah mengunjungi Dojo lain selain satu ini. Ruangan berbentuk persegi panjang dan dikelilingi pintu geser ini begitu luas.
Ah, benar saja. Satsuki dan Sono-san tengah berlatih pedang―katana― di tengah Dojo. Gerakan mereka begitu gesit dan lincah, namun memiliki kesan anggun. Tak ada satu gerakan pun yang tersia-siakan. Bunyi besi yang bertemu bergema dalam ruangan itu dari waktu ke waktu.
Satsuki mundur menjauhi Ayahnya, napasnya terengah-engah. Ia menarik napas dalam-dalam dan mengatur napasnya, lalu langsung menerjang maju. Sono-san tampak sudah siap, ekspresinya keras dan kaku. Satsuki mengayunkan katana-nya dengan sekuat tenaga, Sono-san menangkisnya dengan mudah. Tampaknya Satsuki ada dalam posisi yang kurang menguntungkan.
Aku melangkahkan kaki ke lantai Dojo. Dan sepertinya Satsuki menyadari kehadiranku. Di tengah perkelahiannya, ia menatapku dari ujung matanya. Sono-san tidak membuang kesempatan itu. Tepat saat konsentrasi Satsuki terpecah, ia mengayunkan pedangnya lurus ke depan, mengincar kepalanya.
"Satsuki!"
Dengan cepat Satsuki bereaksi. Ia langsung menghindari serangan itu dengan memutar kepalanya ke samping. Tapi dia tidak sepenuhnya menghindarinya, pedang itu menggores pipi kirinya, meninggalkan luka sayatan yang memanjang di sana. Kehilangan keseimbangan, sang pemuda terjatuh ke lantai.
Sono-san menaruh kembali katana-nya ke dalam sarungnya. "Satsuki, jangan membiarkan perhatianmu teralih di tengah pertarungan..."
Satsuki hanya mengangguk dan membiarkan kepalanya tertunduk.
.
.
"Aduduh―"
"M-Maaf! Apa aku terlalu keras menekannya?"
Sekarang aku tengah mengobati luka Satsuki di lorong yang menghadap kebun rumah. Lukanya sendiri tidak lebar, darahnya pun sudah berhenti. Tetapi aku tetap membersihkan dan membalutnya untuk berjaga-jaga serta mengindari infeksi.
"Reisha, kamu seharusnya tidak minta maaf..."
"Ah, benar juga..." Satsuki telah memberitahuku apa yang seharusnya kukatakan saat terakhir kali aku mengobati lukanya. Aku tersenyum dan kembali menempelkan kapas berlumurkan obat ke pipinya. "Satsuki 'kan laki-laki, jangan mengeluh karena sedikit sakit dan tahanlah..."
Satsuki ikut tersenyum.
"Ngomong-ngomong kenapa kamu datang ke Dojo?" tanyanya.
"...Untuk itu, aku memang harus minta maaf. Aku membahayakan nyawamu hanya karena ingin memperlihatkan salju yang turun. Maafkan aku, Satsuki."
Satsuki terdiam. Untuk sejenak, kupikir ia marah. Tetapi detik berikutnya, ia mengelus rambutku dengan lembut. "Kamu tidak perlu minta maaf. Aku masih hidup dan bernapas, bukan?"
Walaupun ia bilang begitu, aku tidak bisa menyingkirkan perasaan bersalah ini.
"Oh iya, aku juga ingin memberikan sesuatu padamu." Satsuki merogoh sesuatu dari saku bajunya dan memberikannya padaku. Sebuah tiket film.
"Untuk apa ini?"
"Aku sadar ini Natal pertamamu, jadi... besok, tanggal 24 Desember, maukah kamu pergi kencan denganku?"
Perasaan bahagia meluap dari hatiku. Aku langsung mendekat dan memeluknya dengan erat.
"Satsuki! Aku senang sekali! Kencan dengan Satsuki... pasti menakjubkan!"
Perlahan Satsuki melingkarkan tangannya ke badanku. "Kuharap aku dapat memberimu apa yang kau harapkan, Reisha."
.
.
Hari yang ditunggu-tunggu. Aku sudah mulai bersiap-siap beberapa jam sebelum waktu perjanjian kita. Hal terakhir yang harus kulakukan adalah memilih pakaian yang akan kukenakan. Sebelumnya, aku bingung dan tidak percaya ketika diberitahu ada perempuan yang butuh waktu berjam-jam hanya untuk memilih pakaian yang akan dipakainya saat kencan. Tapi sekarang, aku takut hal yang sama akan kualami. Di tengah-tengah tumpukan pakaian yang berserakan, aku menatap jam dinding yang terus berdetik. 'Waktu akan terus berjalan tanpa menungguku,' batinku sambil memperhatikan pakaian yang ada di tanganku. 'Aku harus segera memilih. Aku tidak mau membuat Satsuki menunggu...'
Akhirnya, pakaian yang kupilih adalah sebuah gaun musim dingin kelabu berlengan panjang dengan kerah sabrina dan motif bunga hitam-putih di bagian bawahnya. Gaun ini panjangnya tepat di atas lututku, jadi aku juga mengenakan legging hitam selutut. Untuk alas kaki... aku akan memilih sepatu bot coklat yang Eri-san belikan untukku―tetapi tak pernah kupakai. Jika kuperhatikan lagi, bagian sekitar leherku cukup terbuka... Saat ini tengah musim dingin, mungkin lebih baik aku mengenakan syal putih pemberian Satsuki.
Ah... Kalau begini, barulah aku sadar betapa banyak hal yang telah keluarga Kamishiro berikan padaku―material maupun non-material.
'Semoga suatu saat aku bisa membalas jasa mereka...'
Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. Setelah mengambil tas selempang yang ada di atas ranjang, aku langsung membukanya. Yang berdiri di depan pintu tidak lain adalah Satsuki.
Dia tampak terkejut dan pipinya sedikit memerah. "Wah... ternyata kamu sudah siap, ya. Kupikir aku sendiri yang terlalu bersemangat dan bersiap-siap jauh sebelum waktu perjanjian kita."
"Aku juga begitu bersemangat, Satsuki tak akan percaya butuh waktu berapa lama aku memilih pakaian ini..." jelasku sambil tersenyum.
Satsuki tertawa kecil. "Aku tahu belum waktunya, tapi... Apa kamu mau berangkat sekarang?"
Sambil mengangguk, aku memeluk lengannya. "Tentu saja― Ah! Tapi, tunggu sebentar ya." Aku kembali masuk kamar dan mengambil sebuah liontin berbentuk bulan sabit.
"Kamu masih takut?" tanya Satsuki ketika melihatku mengenakannya.
Aku menggeleng. "Satsuki ada bersamaku, jadi aku tidak takut. Aku ingin memakainya karena... ini adalah hadiah pertama yang Satsuki berikan kepadaku."
"Reisha..."
"Lagipula, liontin ini tak akan berfungsi kalau Satsuki tidak memakai liontin matahari-nya, bukan?"
Satsuki tersenyum kecil dan mengelus rambutku. "Kau terlihat cantik."
"Benarkah? Terima kasih. Satsuki juga terlihat tampan. Tapi..." Aku memperhatikannya dari atas ke bawah. Baju hangat dengan turtleneck berwarna hitam, celana panjang yang senada, dan jaket musim dingin panjang yang juga berwarna gelap. Aku mendesah, "Sebenarnya aku agak berharap Satsuki mengenakan sesuatu yang lebih cerah..."
Dia kembali tertawa, lalu mengajakku pergi.
Ketika keluar, ada sebuah mobil hitam terparkir di luar gerbang. Dari dalamnya, keluar seorang pria. Beliau tampak seumuran dengan Sono-san, rambut dan janggutnya sudah berubah abu-abu. Ia mengenakan kimono pria berwarna biru gelap.
"Mitsumasa-san." Satsuki mendekatinya, lalu menjabat tangannya.
"Sudah lama kita tidak berjumpa, Satsuki." Berbeda dengan raut wajahnya yang kaku, sepertinya "Mitsumasa-san" adalah orang yang cukup ramah.
"Apa Anda datang untuk bertemu dengan Ayah?"
"Begitulah. Apakah Sono ada di rumah?"
Satsuki mengangguk. "Aku bisa masuk dan memberitahunya, kalau Anda mau."
"Itu tidak perlu." Mitsumasa-san memberi suatu isyarat kepada pria botak yang ada di belakangnya―tampaknya pelayannya, lalu pria tersebut masuk ke dalam rumah. Setelah pria itu pergi, Mitsumasa-san kembali tersenyum kepada Satsuki.
"Sepertinya aku mengganggu acara kencanmu." Mitsumasa-san menatapku yang menempel di belakang Satsuki. Aku berusaha tersenyum dan menyapanya, beliau membalas senyumanku lalu berlalu sambil berkata, "Nikmatilah waktu kalian bersama."
Setelah mengatakan itu Mitsumasa-san masuk ke dalam, dan kencan kami berdua pun dimulai.
"Masih ada banyak waktu sebelum filmnya dimulai, apa kamu mau pergi ke suatu tempat dulu?" tanya Satsuki.
Aku berpikir sejenak. "Ah! Kudengar ada acara amal untuk anak Panti Asuhan di taman yang ada di dekat sini. Ayo ke sana, Satsuki!" Sambil menggandeng tangannya, kita berdua berjalan menuju taman tersebut.
Saat kami berdua tiba, acara amal itu sudah dimulai. Banyak relawan yang membagi-bagikan barang kepada para anak yatim piatu, ada juga yang menyanyi atau menari. Salah satu di antara mereka adalah seorang wanita muda, ia memberikan mikrofon kepada anak-anak dan mereka bergantian bernyanyi.
"Menarik sekali, ya, Satsuki!" Senyumku mengembang melihat keceriaan mereka semua.
"Kalau menarik, bagaimana kalau Anda juga ikut serta?" Wanita muda itu datang mendekatiku.
"Oneechan juga ayo ikut bernyanyi!" Seorang anak kecil menyerahkan mikrofon yang dipegangnya kepadaku.
Makin lama makin banyak yang mengelilingiku. Sebenarnya aku tidak cukup percaya diri untuk menyanyi di depan orang lain―selain Satsuki― Namun, akhirnya aku menerimanya dan mulai bernyanyi.
Hanya ada satu lagu yang kutahu...
Aku menarik napas dalam-dalam dan mulai bernyanyi.
Wahai bunga bersemi...
Ah, kumohon beritahu diriku...
Mengapa manusia menyakiti sesama, tak hentinya bertikai...?
.
.
Tak lama setelah itu, Satsuki dan aku sudah dalam perjalanan menuju bioskop.
"Menyenangkan sekali ya, Satsuki?"
"Ya, menyenangkan. Terutama karena aku bisa mendengarmu menyanyi." Satsuki tertawa.
Ketika kami sudah duduk dan tengah menunggu film yang akan kami tonton diputar, Satsuki mulai menjelaskan padaku tentang film tersebut.
"Semoga kamu tidak keberatan aku memilih film romansa. Kupikir akan cocok karena ini adalah kencan."
"Tentu saja tidak." Aku tersenyum.
Satsuki mengelus kepalaku. "Aku ingin tahu apakah senyumanmu itu akan tetap bertahan..."
Film romansa yang Satsuki pilih bercerita tentang seorang pemuda dan gadis yang berasal dari derajat kehidupan yang berbeda. Keduanya jatuh cinta, meskipun tak ada seorang pun yang setuju dengan hubungan mereka, sang gadis bahkan sudah bertunangan. Dan film ini berakhir pahit dengan kematian sang pemuda... Setidaknya itulah yang Satsuki ceritakan padaku.
Seiring alur film tersebut berjalan, aku mulai merasakan ketegangannya. Tanpa sadar, tanganku telah menemukan jalannya ke tangan Satsuki. Dengan mata masih terpaku ke layar, aku merasakan Satsuki menggenggam erat tanganku.
Rasanya menakjubkan sekali, bagaimana sebuah film bisa menimbulkan berbagai perasaan bagi seseorang. Perpisahan sepasang kekasih itu begitu emosional, aku tidak bisa menahan air mataku.
"Reisha..."
Satsuki menarik daguku sehingga aku memandangnya. Ia tersenyum dan dengan perlahan mengusap air mataku. "Maaf, mungkin seharusnya aku tidak memilih film ini..."
Aku menggeleng pelan dan meletakkan tanganku di atas tangannya. "Mungkin aku hanya menempatkan diriku dalam posisi gadis itu... Aku tidak ingin berpisah dengan orang yang kucintai."
"Aku akan pastikan itu tidak akan pernah terjadi."
Filmnya pun berakhir. Lampu ruangan tersebut kembali menyala dan semua orang beranjak keluar, termasuk kami.
"Setelah ini, apa yang orang lakukan saat kencan?" tanyaku ketika kami sudah keluar dari bioskop.
"Hmm... benar juga. Biasanya ini fase dimana si pria menghambur-hamburkan uangnya untuk membelikan baju dan aksesoris mahal lainnya demi si gadis..."
Ah, aku tidak suka gagasan itu.
"...tapi aku tahu kamu tidak menyukai hal seperti itu. Jadi―"
Satsuki membawaku ke sebuah museum. Aku tidak bisa menahan kekagumanku. Atas, bawah, kiri, kanan, seluruh penjuru museum itu dipenuhi dengan barang-barang bersejarah yang memiliki cerita tersendiri. Begitu banyak pengetahuan di bawah satu atap yang sama.
"Aku tahu kamu pasti menyukainya," kata Satsuki yang berjalan di belakangku.
Seharian itu, kami mengelilingi museum, melihat-lihat benda-benda bersejarah tadi. Satsuki menjelaskan padaku sejarah dibaliknya, yang tak tercantum pada pelat yang berisi penjelasan mengenai benda tersebut. Sejarah kelam, heroik, menyedihkan, bahkan jenaka.
"Hee... Satsuki tahu banyak, ya..." komentarku.
Namun ekspresinya berubah, terkesan miris. "Itu karena aku tidak melakukan apa-apa selain belajar―Tentu saja, ini cerita sebelum aku bertemu denganmu. Sekarang aku tidak lagi belajar, tapi mengajar..."
Ia terlihat begitu sedih. Aku tidak suka melihatnya seperti itu, jadi kugandeng tangannya dan membawanya keluar dari museum.
Kami berjalan sampai ke sebuah taman yang ada di depan sebuah sungai. Di sisi lain sungai, terlihat deretan gedung-gedung tinggi kota. Jam taman menunjukkan hari sudah sore, tetapi langit tidak berwarna jingga. Melainkan, langit saat ini memiliki campuran warna biru dan merah muda, dengan awan yang tergantung di sana-sini.
Satsuki dan aku menyusuri taman tersebut. Saat itu, cuacanya begitu dingin, napasku terlihat jelas di udara. Untuk mengusir rasa dingin itu, aku mengusap tanganku.
"Apakah kamu kedinginan?" tanya Satsuki. "Tunggulah, aku akan membelikan sesuatu untuk menghangatkanmu." Dan dia pergi begitu saja.
Aku mendekati salah satu kursi taman dan duduk. "Syukurlah, sepertinya Satsuki sudah kembali seperti biasa..." gumamku. 'Tapi, kenapa tadi dia terlihat sedih seperti itu...?'
Pikiranku mulai dipenuhi dengan berbagai macam gagasan, namun tak satu pun tampak benar. Tiba-tiba sesuatu yang panas menyentuh pipiku, membuatku sadar dari lamunanku. Ketika menoleh, aku melihat Satsuki memegang minuman di kedua tangannya.
"Apa yang kamu lamunkan?" tanyanya sambil tertawa.
"Bukan apa-apa..." jawabku sembari menerima minuman darinya. "Terima kasih."
Minuman yang Satsuki berikan kepadaku adalah sebuah teh lemon hangat. Aku menyesapnya dengan perlahan, sementara mataku memandang pemuda yang ada di sisiku. Ketika pandangan kami bertemu, aku langsung angkat suara.
"Satsuki, maafkan aku."
Ia mengerutkan dahi. "Kenapa kamu minta maaf?"
"Karena sepertinya aku mengatakan sesuatu yang salah di museum tadi."
"Ah, itu... Tenanglah, kamu tidak mengatakan apa-apa yang menyinggungku." Seolah berusaha meyakinkanku, Satsuki menyunggingkan sebuah senyuman.
Tapi, aku masih tidak percaya...
Sepertinya ia bisa membaca pikiranku, karena selanjutnya dia mendesah. Meletakkan minumannya di atas kursi, lalu bergeser mendekatiku. Lebih tepatnya, ia mendekatkan wajahnya kepadaku.
"S-Satsuki?"
Dia meletakkan jarinya di depan bibirku―mengisyaratkanku untuk diam, lalu menunjuk ke atas. Mengikuti arah jarinya, aku mendongak. Pada dahan pohon yang ada di atas kita, tergantung hiasan tanaman kecil. Tanaman kecil itu adalah mistletoe.
"Apa aku boleh menciummu?" Satsuki kembali bertanya.
Alih-alih menjawab, aku memejamkan mataku. Begitu menutup mata, aku bisa mendengar Satsuki melepaskan sebuah tawa kecil, aku merasakannya semakin dekat. Ujung bibirnya sudah menyentuh milikku.
Namun ciuman tersebut dipotong oleh sebuah suara lolongan. Walaupun suaranya begitu jelas, tampaknya tak ada orang lain selain kita berdua yang mendengarnya. Sepertinya suara tersebut berasal dari pepohonan yang ada di belakang kami. Ah, sepertinya dugaan itu tak salah. Beberapa saat setelah suara lolongan tersebut terdengar, beberapa pohon di sana tumbang.
Wajah Satsuki berubah serius. Ia melepaskan tanganku dan mulai berjalan ke arah pepohonan. "Reisha, tetaplah di sini. Aku akan memeriksanya."
"Eh? Tapi―"
Ia sempat berbalik dan tersenyum. "Tenanglah, aku akan segera kembali." Setelah mengatakan itu, sosoknya hilang di antara pepohonan.
Ada perasaan tidak enak yang mengganjal di hatiku. Tiba-tiba kenangan yang telah terlupakan kembali muncul ke permukaan...
"Sampai jumpa, Reisha. Aku akan segera kembali..."
Aku bahkan tidak ingat siapa itu. Tapi, itu ingatanku akannya yang terakhir. Dia tidak pernah kembali.
'Satsuki...'
Akhirnya membulatkan tekadku, aku berlari memasuki bayangan pepohonan. Setelah berhasil menerobos lautan pohon, aku sampai di tempat pohon-pohon tadi tumbang. Tubuhku membeku di tempat. Yang ada di hadapanku adalah seekor anjing hitam seukuran bus dan... Satsuki, dengan baju yang sobek di berbagai tempat. Dari kerahnya yang robek, tampak sesuatu yang bersinar tergantung dari lehernya―sebuah kalung, pasangan dari liontin bulan yang kupunya, liontin matahari-nya.
'Ternyata Satsuki juga mengenakannya...'
Sepertinya anjing itu menyadari kehadiranku. Mulutnya terbuka, menunjukkan deretan gigi yang tajam bagaikan belati. Dan taring-taring itu terarah padaku.
Satsuki ikut berbalik dan segera berteriak, "Apa yang kamu lakukan!? Lari! Reisha, lari!"
Walaupun aku lari, anjing itu pasti mengejarku. Kalau aku diam seperti ini, dia akan menerkamku.
Aku sudah menentukan apa tindakanku selanjutnya. Aku maju ke depan. Setelah menarik napas panjang, aku mulai bernyanyi. Kali ini, tidak ada lirik atau kata-kata. Tetapi aku menumpahkan perasaanku ke dalam setiap suara yang keluar dari mulutku―Vocalise, sebuah lagu tanpa kata-kata.
Geraman yang sedari tadi nyaring di telingaku mereda. Ketika kembali membuka mata, anjing tadi tengah duduk manis di hadapanku. Ekornya bergoyang-goyang dengan girang dan dia menjilatku. Dengan perlahan, aku membelainya.
Satsuki mendekatiku, memeganginya tangan kirinya dan langkahnya sedikit terseok-seok. Ekspresinya tampak tak percaya bahwa aku berhasil menjinakkan makhluk hitam ini. Ia baru saja mau mengatakan sesuatu, tiba-tiba terdengar sepasang langkah kaki, dengan cepat berlari menuju tempat kami. Satsuki menarikku menjauhi si anjing dan menatap tajam ke arah langkah kaki itu terdengar.
Lalu, muncul sepasang anak laki-laki. Yang satu memiliki rambut pendek berwarna coklat dan yang satu lagi berambut panjang berwarna biru. Keduanya tampak terkejut melihat anjing raksasa itu sedang duduk menggoyang-goyang ekornya.
Mereka berbalik dan berbisik kepada satu sama lain. Mungkin mereka pikir kita berdua tidak bisa mendengar percakapan mereka.
"Sepertinya ada yang sudah menangani anjing itu, Aiolos..." kata anak laki-laki yang berambut biru kepada temannya.
"Y-Ya, sepertinya begitu... Jangan katakan mereka yang melakukannya? Bagaimana menurutmu, Saga?"
"Entahlah. Kemungkinan itu tak bisa kita abaikan..."
"Bagaimana kita akan melaporkan ini kepada Pope Shion...?"
Keduanya mendesah. Tampaknya tindakan kami berdua telah menyusahkan mereka. Setelah bertukar pandang dengan Satsuki, kami mendekati anjing itu lagi... Lalu, Satsuki menarik rambut anjing tersebut. Dan bisa diduga, ia kembali mengamuk.
Kedua anak laki-laki tadi langsung berbalik kaget.
"Di sini berbahaya, tolong menjauh dari sini!" seru anak laki-laki yang berambut coklat.
Satsuki segera menarikku dan dalam beberapa saat kami sudah berada jauh dari sana. Setelah merasa sudah cukup jauh, kita berdua berhenti sejenak untuk mengatur napas.
"Apa tidak apa-apa meninggalkan kedua anak itu?" tanyaku.
"Yah, aku mendapat firasat mereka bisa mengatasinya."
Tepat setelah Satsuki mengatakan itu, muncul sebuah pilar cahaya dari tempat tadi. Bersamaan dengannya, kepala anjing hitam yang mencuat di antara pepohonan itu menghilang.
Satsuki kembali menggandeng tanganku, dan kami pun berjalan keluar dari lautan pohon itu. Setelah sudah kembali ke taman, barulah kusadar kalau langit sudah berubah gelap. Bulan sudah berada tinggi di langit. Tetapi bukan itu yang perlu dijelaskan. Di sisi lain sungai, deretan bangunan-bangunan kota, kini lampu dari masing-masing bangunan itu telah menyala. Cahayanya terpantul di permukaan sungai. Aku meraih tangan Satsuki, mengajaknya untuk ikut melihat pemandangan tersebut. Tapi, kini bukan hanya pentas cahaya yang kami lihat. Dari langit, butiran-butiran salju kembali turun dan turut menghiasi malam.
"Emosi manusia itu aneh, ya...?" kataku. "Misalnya, hanya dengan melihat pemandangan seperti ini, muncul suatu kesan estetis dari lampu-lampu bangunan dan butiran salju itu..."
Pemuda yang ada di sampingku hanya tersenyum.
.
.
.
Kencan kami belum selesai di sana. Walaupun kemunculan anjing tadi menyelanya, kencan kami kembali berlanjut. Satsuki mengajakku makan malam sembari kembali memandang pemandangan kota di malam hari. Baru setelah itulah, kencan kami berakhir.
Dalam perjalanan pulang, kami berdua melewati sebuah bangunan dengan jam besar. Tanpa kami sadari, hari ini sudah hampir berakhir, jarum jam menunjukkan sudah hampir tengah malam.
"Terima kasih, Satsuki. Aku bersyukur Natal pertamaku kurayakan bersamamu."
"Belum..." Ia tertawa kecil. "Masih ada beberapa menit sebelum Natal tiba."
"Ah, benar juga." Aku ikut tertawa.
Satsuki yang berjalan di depanku mendadak berhenti dan berbalik ke arahku. "Oh iya, ya. Aku hampir melupakan sesuatu."
"Eh? Apa itu?"
Dia tersenyum dan mendekatkan wajahnya kepadaku. "Ciuman kita tadi tertunda, ya..."
Pipiku seketika menjadi panas.
"Apa aku boleh menciummu?" Satsuki kembali menanyakan hal yang sama seperti saat kita berada di taman.
"Tapi, tidak ada mistletoe di sini..."
Satsuki menyeringai dan mengeluarkan sebuah mistletoe dari saku jaketnya, lalu mengangkatnya di atas kepalaku.
'Ah...'
Dengan perlahan, aku menyentuh tangannya yang terangkat... Sementara bibir kami bertemu. Ia melepaskan mistletoe itu, membiarkannya terjatuh. Kini tangannya memelukku, dengan lembut menarikku mendekat kepadanya. Tanganku ikut melingkarkan diri pada lehernya.
Di tengah ciuman kami berdua, jam besar tadi berdentang, menandakan tengah malam.
Untuk sejenak, Satsuki melepaskan bibirnya. "Selamat Natal, Reisha..."
"Kalá Christoúgenna, Satsuki..."
Kami kembali berciuman...
Itulah kisah Natal pertama Reisha Alexandria Leto―Ibu dari Kamishiro Teru dan Kamishiro Mitsuki― bersama dengan Ayah mereka, Kamishiro Satsuki
Kisah mereka mungkin adalah yang terakhir untuk Natal kali ini
Namun, di Natal berikutnya...
Siapakah pasangan yang akan menemukan diri mereka berada di bawah sebuah Mistletoe?
「つづく。。。」
Wina: Tolong maafkan Author ini atas Chapter yang fokus sama OC dan karakter Saint Seiya-nya cuma nyempil ini... TAT
Readers: Padahal baru di Chapter sebelumnya dikasih tahu...
Wina: *Sujud minta ampun*
Reisha: L-Lebih baik kita balas review... Nee, Satsuki?
Satsuki: *Malu sama kelakuan Author-nya*
#Neo TsukiRin Matsushima29
Reisha: Terima kasih atas review-nya~
Satsuki: Masih ada yang mau review yah.
Reisha: Satsuki jangan sinis begitu...
Satsuki: Aku hanya mengatakan sejujurnya *Chuckle*
Reisha: Uh... We hope you enjoyed the last story of the year *Senyum malaikat*
Satsuki: *Blush total*
#Shimmer Caca
Kinon: Aku juga terkejut. Tidak tidur selama 3 hari dan makan seadanya bisa membuat tubuh manusia di ambang batas...
Wina: KAMU MALAH BIKIN SUYUNE TAMBAH KHAWATIR!
Kinon: *Memiringkan kepala* ?
Kiki: Ya... Aku senang dia bisa tersenyum padaku...
Kinon: Terima kasih sudah membawa *Nada datar*
Terima kasih sudah membaca sampai habis
Maaf atas segala typo, kegajean, OOC keterlaluan, atau ficnya aja yang jelek
Jika berkenan, silahkan mereview. Kalau tidak juga nggak papa kok
~See you in the next chapter~
