Title : Perfect Love
Author : Wuwuk
Main Cast : main!ChenMin slight!HunHan
Others : find it by yourself.
Genre : friendship , romance gagal (?)
Rate : T
Length : Chapetred
Warn : OOC, GS,Typo
Desclaimer : Cast punya Tuhan YME dan orang tuanya. FF ini remake dari novel berjudul sama yey -_-
Summary : Benarkah cinta tak butuh alasan?
.
.
Chapter 2 – First Meeting
.
.
Minseok POV
Dia itu Kim Jongdae, musuh terbesarku setahun ini. Aku dan dia sedang taruhan point sampai 100 , sekarang point ku sudah lima puluh lima, dan dia lima puluh! Aku menang lima point!
Aku bertemu Jongdae pertama kalinya di kios komik Shin ahjussi. Aku masih ingat benar, hari itu hari pertama aku berada di kelas 10. Saat itu aku ingin membeli komik Bimba Bear edisi khusus. Begitu bel tanda sekolah berakhir berbunyi, aku langsung berlari ke kios Shin ahjussi. Mataku langsung menatap komik Bimba Bear edisi khusus.
Langsung saja tanganku menyambarnya. Tapi ada yang menariknya pula. Spontan, aku menoleh dengan kesal. Itulah pertama kali aku melihat wajah Jongdae. Wajah namja itu terlihat kesal karena kami mengambil komik itu bersamaan.
"Ahjussi! Ini komiknya mau aku beli!" kataku dan Jongdae hampir bersamaan.
Aku meliriknya sengit. Demi Bimba Bear , sampai kapanpun aku tidak akan menyerah.
"Ini uangnya ahjussi! Aku duluan!" sahut Jongdae cepat.
"Hei! Enak saja! Aku yang duluan ahjussi!" teriakku emosi. "Kamu ga pernah diajarin ngalah sama yeoja ya?"
"Kalau demi Bimba Bear, nggak perlu ngalah sama yeoja! Pokoknya komiknya milikku!" jawab Jongdae dengan tatapan sebal.
"Sudah, jangan ribut." Kata Shin ahjussi. "Kalau ribut terus, komiknya nggak ahjussi jual."
"Andwae!" suara kami keluar kompak bersamaan.
"Nah, makanya jangan ribut. Jadi siapa yang mau ngalah?"
"Ya , dia lah!" jawab kami bersamaan lagi.
Shin ahjussi tertawa. "Giliran jawab kok kompak? Pokoknya kalian pikirkan dulu cara penyelesaiannya, komik ini akan ahjussi simpan."
"Jinjjayo ahjussi? Pegang dulu ya ahjussi! Itu susah banget carinya soalnya." Kataku cemas. Takut komik itu kejual ke orang lain atau ke namja menyebalkan di sebelahku ini.
"Iya ahjussi. Jangan dijual." Jongdae pun terlihat cemas.
"Iya, ahjussi kan sudah janji. Sudah , makanya kalian cepat buat keputusan."
Kami pun keluar dari kios Shin ahjussi. Hatiku sungguh kesal. Namja kok nggak mau ngalah sama yeoja.
"Kita sekelas kan? 10-1?"
"Iya, sekelas. Arrgghhh… punya teman sekelas kok nyebelin banget kayak kamu?" teriakku jengkel.
"Kim Jongdae." Katanya memperkenalkan diri.
"Kim Minseok." Jawabku ketus.
"Jadi yeoja judes amat."
"Udahlah ngalah aja namja gamau ngalah sama yeoja. Kita kan temen sekelas, masak mau musuhan gara-gara Bimba Bear?" semburku lagi.
"Demi Bimba Bear, semua akan aku jalani. Udah, jangan berebut lagi ah. Gimana kalau taruhan aja yang menang dapat Bimba Bear. Setuju?"
Setelah kupikir, memang paling adil adalah bertaruh. Jadi pemenangnya akan mendapatkan komik Bimba Bear edisi khusus dengan hati puas dan adil.
Aku dan Jongdae berunding. Akhirnya kami membuat kesepakatan. Kami membeli komik itu patungan, dan kami kubur di pohon jambu belakang kios Shin ahjussi. Aku dan Jongdae taruhan, siapa yang duluan dapat point serratus, dialah pemenangnya. Dan perjanjian pun dibuat. Ditandatangani kami berdua dengan saksi Shin ahjussi.
"Point sampai serratus? Apa tidak kebanyakan?" Tanya Shin ahjussi ketika membaca surat perjanjian kami.
"Kalau sepuluh terlalu sedikit, ahjussi. Demi komik Bimba Bear, pengorbanannya harus banyak." Jawab Jongdae yang disambut anggukan mantap dariku.
Jadi, sejak saat itu kami mulai bertaruh. Dan taruhan itu tak kunjung selesai, padahal sudah setahun berlalu. Komik itu masih terkubur manis dibawah pohon jambu Shin ahjussi.
Sebenarnya ada rahasia yang tidak Jongdae ketahui. Sebulan setelah taruhan dengan Jongdae, Kyuhyun –adik umma- memberiku hadiah komik Bimba Bear edisi khusus. Jadi, aku sudah membacanya. Tapi, entahlah , berantem dengan Jongdae semakin seru. Aku tidak mau dianggap yeoja cengeng dan manja. Terlebih, aku juga semakin kesal dengannya, sehingga rasa ingin mengalahkannya sebenarnya jauh lebih besar daripada ingin mendapatkan komik tersebut. Jadi , taruhan pun dilanjutkan!
Apa saja bisa kami jadikan taruhan demi mendapatkan point. Mulai dari memegang cicak, lomba makan tteokbokki sampai taruhan nilai ulangan.
.
Minseok POV end
Jongdae POV
.
Mungkin terdengar aneh, tetapi jujur saja, aku menikmati taruhanku dengan Minseok. Ada rasa puas ketika aku mengalahkannya. Melihatnya kalah rasanya bagaikan memenangkan hadiah utama, yah walaupun aku juga sering kalah dengan Minseok sih.
Agar taruhan kami berjalan dengan adil, se-adil adilnya, kami juga punya peraturan. Setelah beberapa kali revisi, akhirnya ada sebelas butir peraturan yang harus kami taati. Bila salah satu tidak ada yang menaati, maka langsung didiskualifikasi, alias kalah.
Point satu, dilarang bertaruh yang memalukan. Contoh bertaruh buka baju di pinggir jalan.
Point dua, dilarang bertaruh yang membahyakan. Contoh, bertaruh loncat dari lantai tujuh belas gedung tinggi.
Point tiga, dilarang bertaruh yang hanya mimpi. Contoh,bertaruh pacaran sama artis Hollywood. Tetapi, kalau ada salah satu yang berhasil melakukannya, langsung jadi pemenang.
Point empat, dilarang bertaruh yang menjadikan nilai pelajaran menurun. Contoh, taruhan siapa yang dapat nilai paling jelek, dia menang.
Point lima, dilarang bertaruh yang menyebabkan salah satu pihak sakit atau terluka. Contoh, pihak lawan alergi seafood, tapi taruhan makan seafood.
Point enam , taruhan harus dilaksanakan dengan sejujur-jujurnya dan seadil-adilnya. Tidak boleh ada kecurangan, kelicikan dan kebohongan.
Point tujuh, taruhan akan berakhir sampai point seratus. Bila ada yang menyerah sebelum point serratus, maka dianggap gugur.
Point delapan, selama bertaruh, tidak boleh menangis atau cengeng. Bila menangis, maka ia akan kalah satu point.
Point Sembilan, bila ada pihak yang sedang sakit atau terluka, maka taruhan dihentikan sementara sampai pihak tersebut sehat. Dalam hal ini kedua belah pihak berada dalam zona damai. Pihak yang sedang sakit juga harus berusaha untuk segera sembuh sehingga bisa melanjutkan taruhan.
Point sepuluh , pemenang dalam taruhan ini akan mendapatkan komik Bimba Bear edisi khusus yang sekarang sedang dikubur di bawah pohon jambu Shin ahjussi.
Point sebelas, tidak boleh saling jatuh cinta! Barang siapa jatuh cinta duluan, maka dianggap kalah.
Sebenarnya awalnya hanya sampai butir kesepuluh. Ini semua gara-gara Luhan dan Sehun! Saat itu baru taruhan kedua dan kami sedang bertaruh siapa yang paling cepat sampai kantin untuk memesan jajangmyeon.
Flashback
"Yes! Aku menang!" teriak Minseok senang sambil membawa mangkuk berisi jajangmyeon.
"Ah! Curang! Ahjumma pasti ngeduluin kamu, padahal aku yang pesen duluan." Omelku.
"Pokoknya aku menang! Kedudukan kita seri sekarang. 1-1"
"Duh, kalian beneran serius taruhan ya?" Tanya Luhan serius sambil duduk di sebelah Minseok.
"Iya, kalian berdua beneran taruhan? Kupikir kalian cuman bercanda." Sehun, sepupuku menimpali.
"Ya iyalah, demi Bimba Bear." Seru Minseok semangat.
"Tunggu. Coba ceritain dari awal. Kalian tuh taruhan apa?" Tanya Luhan serius. "Kok pakai taruhan segala. Walau waktu itu ga jelas,sih. Sama kayak Sehun, aku pikir kalian bercanda doang."
Aku pun mulai bercerita. Minseok pun ikut menambahkan.
Sehun dan Luhan melongo."Kalian berdua gila ya? Jadi, kalian berantem gara-gara komik?" Tanya Sehun tak percaya.
"Itu bukan komik sembarangan!" bantahku cepat.
"Itu komik Bimba Bear edisi khusus! Jarang yang punya!" sambar Minseok.
"Udah ah, jangan mulai perang!" Luhan menengahi. "Jadi sampai sekarang kalian belum baca komik edisi spesial itu? Komiknya disimpen dimana?"
"Komiknya masih terbungkus rapih di taruh di kotak dan dikubur di bawah pohon jambu yang ada di belakang kios Shin ahjussi.
"bener bener gila ya kalian." Kata Luhan lagi. "Aku baru denger ada taruhan sampai serius seperti ini. Emang kalian nggak bisa dapat di toko buku yang lain apa? Mesti komik itu yang jadi taruhannya? Ya ampun, cuman gara-gara komik Bimba Bear?"
"Itu edisi special!" teriakku dan Minseok bersamaan.
Sehun dan Luhan sontak tertawa."Aku rasa kalian lama-lama bisa jatuh cinta,deh!" kata Sehun.
"Mwoya? Maldo andwae! Amit-amit! Walaupun di dunia ini cuman tinggal dia namja satu-satunya, aku gabakal sudi berjodoh dengamu." Teriak Minseok.
"Maksudku, lama-lama kalian berdua bisa saling jatuh cinta. Dari benci itu bisa muncul cinta loh."
Aku tertawa. "Lu, kayak ga ada yeoja lain aja bisa jatuh cinta sama Minseok? Udah bawel, rese, telat mulu…"
"Hei! Ngaca! Kamu juga, rese, belagu pula! Enak aja ngatain orang." Sembur Minseok.
"Tapi kayaknya bener deh kata Luhan. Kalian berdua cocok." Kata Sehun.
"Andwae!" teriakku dan Minseok berbarengan. Lalu, hari itu muncullah butir ke sebelas.
Flashback end
Chen pov end
Xiu POV
.
Jongdae itu memang makhluk paling menyebalkan sedunia. Dia itu iseng sekali. makanya aku sering menaruh curiga padanya. Harus selalu berhati-hati dengan Jongdae. Karena kalau tidak, bisa masuk lagi dalam jebakannya yang terkadang membuatku kalah satu point.
Seperti hari ini, entah kenapa sejak pulang sekolah ia terus mengikutiku. Hmm, benar-benar mencurigakan. Biasanya dia bawa sepeda ke sekolah, kenapa sekarang jalan kaki? Padahal rumah dia lumayan jauh dari sekolah. Dan bukan kearah sini. Aku menoleh ke belakang. Jongdae masih berjalan dengan tenangnya, mengikuti ku dari belakang.
"Kau pasti punya rencana busuk!" teriakku kesal sambil berdiri bertolak pinggang dihadapannya.
Jongdae menghentikan langkah , mengangkat satu alisnya. "Maksudmu apaan?"
"Ngapain kamu ikutin aku pulang?"
"Dih, ge-er banget! Yang ngikutin kamu pulang tuh siapa?"
"Ini buktinya, dari pulang sekolah , kamu buntutin aku mulu. Aku kekiri kamu kekiri. Aku ke kanan kamu ke kanan."
Jongdae tertawa terbahak. Benar-benar menyebalkan mendengar tawanya yang jelek itu. "Heh, ngapain juga aku ngikutin kamu? Benar-benar kurang kerjaan. Aku mau pulang kerumah aku!"
"Jangan bohong! Rumahmu kan bukan daerah sini!"
Jongdae mendekat ke arahku., lalu menatapku serius. "Aku pindah rumah kemarin. Sekarang rumahku di kompleks sini."
"Blok apa? Jangan bilang blok A7" tanyaku curiga.
"Loh? Kok tau? Blok A7 nomor 21."
"Mwo? Blok A7 juga?" seruku histeris. Aku benar-benar hanya bisa terdiam,mematung sejenak. Berusaha meyakinkan diriku bahwa ini bukan mimpi. Ini kenyataan yang harus aku terima,bahwa sekarang rumah kami berdekatan. Ya Tuhan , bencana apalagi yang harus aku terima? Jongdae pindah rumah di kompleks rumahku. Setidaknya rumahku dan rumah Jongdae teraput 20 rumah.
Sekarang Jongdae berjalan di depanku. Aku berdiri di belakangnya. Melihat Jongdae , aku jadi teringat ucapan nenek tadi pagi. Jangan-jangan dia memang jodohku? Benar yang diucapkan nenek misterius itu, masak dalam sehari aku bisa duduk sebangku dengan Jongdae, dan sekarang rumah kami berdekatan? Kalau ini mimpi, tolong bangunkan aku secepatnya,karena ini adalah mimpi terburuk dalam hidupku.
.
.
Xiu POV end
Norm POV
.
.
Minseok membuka pintu rumahnya dengan malas. Masa bodoh dengan Jongdae.
"Halo, Sayang, sudah pulang? Ayo makan. Umma sudah siapin masakan kesukaanmu." Ryeowook menyambut Minseok dengan senyum lembutnya.
Minseok tersenyum senang. Sejenak dia melupakan kekesalannya. "Seokkie sudah kenalan sama tetangga baru?"
"Tetangga yang mana?"
"Aduh, yang sebelah kiri. Yang hook juga. Kita kan hook pertama. Dia hook terakhir. Nomor dua puluh satu."
"Apa!" teriak Minseok kencang membuat Ryeowook kaget. "Seriusan hook sebelah kita nomor dua puluh satu?"
"Iya sayang. Kamu tuh kenapa sih? Bikin umma kaget aja."
"Nggak…nggak…nggak mungkin." Suara Minseok bergetar. "Umma, serius?"
"Ya seriuslah. Oh ya, katanya anaknya sekolahnya sama dengan kamu ya? Namanya Jongdae. Kamu kenal?"
Sendok yang dipegang Minseok hampir melayang. Selera makan Minseok tiba-tiba menghilang.
"iya kenal." Jawabnya sekenanya. "Seokkie udah kenyang. Mau tidur siang,ah. Ngantuk!"
"Loh? Makannya belum habis Minseok!" kata Ryeowook.
"Udah kenyang,umma." Jawab Minseok.
Minseok benar-benar malas untuk makan. Badannya terasa lemas. Otaknya terasa mau meledak. Minseok mengambil tas sekolahnya dan segera naik ke kamarnya. Sampai di kamarnya, Minseok langsung menuju balkonnya,tempat favoritnya.
Minseok berteriak dengan lantang. Melepaskan semua bebannya.
"Hoi! Berisik! Ngapain sih siang-siang teriak-teriak begitu?"
Suara itu langsung membuat Minseok menoleh dengan tegas. Suara Jongdae! Benar saja, makhluk jelek –menurut minseok- itu sedang berdiri di balkon rumahnya yang bersebelahan dengan balkon rumah Minseok.
"Ngapain di balkon atas juga heh?" tanya Minseok sengit.
"Ini rumahku. Suka-suka aku dong. Eh, kamu lagi ngapain teriak-teriak begitu? Stress ya?" tanya Jongdae lagi sambil tertawa.
'Apa? Kamar Jongdae juga ada di atas yang menghadap ke balkon? Sama dengan kamarku,dong! Ya Tuhan, bencana apa lagi ini?' batin Minseok.
"Kok bengong? Masih nggak percaya tetanggan sama aku?"
"Jangan sok jadi tetangga yang baik ya. Asal kau tahu, balkon ini tempat favoritku. Jadi jangan sering-sering ke balkon! Nanti aku malah sebel harus liat muka kamu mulu!"
"Yee..ini kan rumahku. Kalau nggak suka tinggal tinggin aja tembok pembatas ini. Jadi ga perlu liat wajahku yang tampan ini." Balas Jongdae nyolot.
Minseok manyun. Benar-benar manyun. Tanpa basa-basi ia langsung masuk ke kamarnya.
Sampai di kamar, Minseok langsung mendudukkan dirinya di ranjangnya dan merenung. Apa ia benar-benar berjodoh dengan Jongdae? Kenapa sejak bertabrakan dengan Jongdae mereka seperti didekatkan? Mulai dari duduk sebangku, sampai harus tetanggaan dengan Jongdae. Banyak pertanyaan yang berputar di pikiran Minseok.
'Kalau begini, namanya bukan anugerah. Tapi kutukan!' batin Minseok sebal.
.
.
TBC
.
.
Hai! Sudah berapa lama FF ini tidak di lanjut huwehehe.
Ini chapter 2 nya ya huwehehe
Maafkan bagi yang sudah nunggu lama T.T
So, mind to RnR?
