Naruto © Masashi Kishimoto
Story © Jho Alodia
Warning: AU, OOC, Mainstream story, Typo(s) etc
Genre: Romance/ Friendship
Rate: T
Sasori, Sasuke, Naruto
X
Shion, Sakura, Karin, Hinata
.
.
.
Complicated Love
.
.
.
[Kediaman Rumah Keluarga Miko]
Miko Shion, nona muda sekaligus anak gadis satu-satunya dari bangsawan Miko itu sedang bersolek di depan kaca kamarnya.
Moisturizer? Sudah. Foundation? Sudah. Bedak natural? Sudah. Blush-on? Sudah. Lip Gloss? Sudah. Yosh, semua sudah lengkap. Miko Shion sudah siap menjalani hari indahnya di sekolah barunya.
Menyunggingkan senyum tipis yang sedikit angkuh, gadis itu berdiri sambil memegang tas branded-nya. Ah, semoga saja di sekolah barunya tidak ada lelaki bodoh. Karna dia paling benci dengan tipe laki-laki seperti itu.
.
.
.
.
[Kediaman Keluarga Haruno]
Pagi hari yang tenang di rumah mungil keluarga Haruno—
"Onii-chan! Mou asa desuyo! Okitekudasai!"
ah—sayangnya ketenangan itu baru saja berlalu sedetik yang lalu karna teriakan super membahana dari putri bungsu Haruno.
Dengan ganas, Haruno Sakura membuka—atau lebih tepatnya membanting pintu kamar kakak tercintanya, Haruno Sasori.
"Onii-chan, cepat bangun! Sudah jam segini, kau bisa telat nanti!" dengan wajah super galak, gadis itu perlahan berjalan mendekati kasur Sasori.
Masih bergelung dalam selimutnya, Sasori bergumam pelan. "Lima menit lagi," katanya setengah sadar.
Perempatan siku-siku muncul di jidat lebar gadis itu.
"Mou, Okitekudasai!"
Bruk!
"—OHOOK!" dan kelopak mata Sasori yang sebelumnya masih terpejam, mendadak terbuka seketika saat tubuh adiknya melayang secara sempurna menimpa tubuhnya. Ah, sungguh pagi yang sangat tenang.
.
.
.
.
"Mou, Onii-chan. Lain kali kalau aku membangunkanmu, kau harus segera bangun!" sambil menaruh piring-piring di atas meja, gadis itu mengomel.
"Ha'i, ha'i," dan Sasori hanya dapat mengangguk pasrah sambil sesekali menguap.
Kemudian gadis itu tersenyum lebar, "TADA~ Coba lihat, aku membuatkan nasi goreng spesial penuh cinta dari imouto-mu yang super imut ini!" sambil cengengesan, Sakura meletakkan piring yang berisi nasi goreng itu di depan Sasori.
Sasori mengangkat sebelah alisnya.
"Sakura, tomatnya terlalu banyak," komentarnya singkat.
"Onii-chan 'kan suka tomat, tentu saja aku memasukan tomat sebanyak-banyaknya!" jawabnya ringan, kemudian terkekeh pelan.
Mendesah pelan, laki-laki itu menjawab, "Yang suka tomat itu bukan aku, Sakura. Tapi—"
"AH! Aku lupa sedang menggoreng telur!" memotong kata-kata Sasori, gadis berambut soft pink itu langsung berlari ke dapur. Dan lagi-lagi Sasori hanya dapat menarik napas pelan.
Beberapa menit kemudian Sakura datang sambil membawa piring berisi telur yang agak gosong. "Onii-chan, telurnya agak gosong. Tapi tenang saja rasanya tidak—AH! SIAPA YANG MEMPERBOLEHKANMU MEMAKAN NASI GORENG PENUH CINTAKU, DASAR TETANGGA KURANG AJAR!"
Dengan sigap, Uchiha Sasuke—selaku orang yang disebut tetangga kurang ajar oleh Sakura—langsung mengangkat piring nasi gorengnya tinggi-tinggi, menjauhi gapaian tangan gadis itu yang sedang berusaha merebutnya kembali.
"Hn, kakak tercintamu yang memberiku ijin untuk memakannya," jawabnya dengan nada datar sedatar wajah teflonnya.
"Walaupun Onii-chan-ku memberi ijin, bukan berarti kau boleh memakannya seenaknya, baka! Kembalikan!" Sakura semakin ganas ingin merebut nasi goreng itu.
"Hn, tidak."
"Kembalikan!"
"Tidak."
"Kembalikan, Sasuke-kun!"
"Tidak, Sakura!"
"Pptt—" suara kekehan menahan tawa dari Sasori, membuat Sakura dan Sasuke langsung menoleh. "Maaf, maaf, lanjutkan saja dialog pertengkaran suami-istrinya. Aku tidak akan mengganggu. Ah, kalian berdua memang cocok sekali. Kenapa tidak pacaran saja sih?"
Baik mata Sakura maupun Sasuke langsung melotot seketika. "TIDAK SUDI!"
"Onii-chan, tega sekali kau berbicara begitu! Mana sudi aku berpacaran dengan laki-laki yang tidak bisa membedakan mana model rambut keren dengan model rambut pantat ayam. Dan juga, yang kucintai itu cuma kau, Onii-chan!"
"Hn, aku juga tidak sudi pacaran dengan gadis yang mempunyai penyakit brother complex super akut yang memiliki jidat selebar landasan pesawat."
"Apa kau bilang?! Jidatku tidak selebar itu!"
"Hn. Model rambutku ini keren, bukan pantat ayam."
Ah, benar-benar suasana yang super tenang di kediaman rumah keluarga Haruno, tentu saja juga tetangga sebelahnya, keluarga Uchiha.
.
.
.
.
[Kediaman Keluarga Hyuuga]
Lain di keluarga Miko, lain di keluarga Haruno, tentu saja juga lain pagi hari di keluarga Hyuuga.
"Selamat pagi, Nii-sama," sapaan lembut itu datang dari putri sulung keluarga Hyuuga. Hinata Hyuuga.
"Pagi, Hinata," Hyuuga Neji, sepupu dari gadis itu menjawab sambil membelai sayang kepala gadis yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri itu.
"Nii-sama mau sarapan bersama?" dengan wajah penuh harap, Hinata mendongak menatap Neji.
Neji tersenyum tipis. "Tunggu aku di meja makan bersama Hanabi, aku mandi dulu," setelah itu, Neji pun pergi. Hinata yang baru akan berjalan menuju meja makan terhenti saat mendengar bunyi bel dan ketukan pintu tidak sabaran di depan rumahnya.
Gadis itu mengernyitkan keningnya bingung. Siapa yang datang sepagi ini?
"Siapa ya?" Hinata membuka pintu pelan, dan matanya melebar seketika. "Karin-Nee? Ada apa? Kenapa sepagi ini—"
"Hinata! Hinata! Tolong aku!" Uzumaki Karin, sepupu Naruto yang numpang tinggal di rumah tetangga sebelah alias keluarga Namikaze itu terlihat luar biasa panik.
"Tolong aku, Hinataaaa!"
"E-eh? A-ada apa, Karin-Nee?" melihat Karin yang panik begitu tentu saja membuat Hinata ikutan panik.
"Naruto! Dia sedang kesurupan!"
"Ha-hah?" Hinata melongo.
"Ma-maksudku dia sedang mengamuk seperti orang kesurupan! Hinata, aku numpang sembunyi di rumahmu ya! Kalau dia datang dan bertanya dimana aku, bilang saja tidak tau, oke!" dan tanpa menunggu persetujuan dari sang pemilik rumah, gadis itu langsung masuk begitu saja ke dalam rumah Hinata.
"KARIN!" Hinata langsung tersentak kaget saat mendengar teriakan murka Naruto berkumandang. Gadis itu menoleh patah-patah, dan menemukan sosok Naruto telah berada di depannya.
"Hinata, apa kau melihat Karin?"
"E-eh?"
"Apa Karin bersembunyi di rumahmu?"
"Eh? Etto…"
"Baiklah terima kasih, Hinata!" mengusap kepala Hinata sekilas, Naruto langsung menerjang masuk.
Hinata mencengkram gagang pintu dengan tangan yang berkeringat. Uhh… ini bukan salahnya, 'kan? Lagi pula dia kan belum bilang kalau Karin benar-benar bersembunyi di rumahnya. Naruto sendiri lah yang menyimpulkannya. Tapi… tetap saja Hinata merasa bersalah.
Lima menit kemudian Naruto muncul sambil menjewer telinga Karin.
"Sudah aku bilang jangan pakai jaket orange kesayanganku itu. Dan kau tetap memakainya lalu mengembalikannya dalam wujud yang tidak bisa dipakai lagi!" wajah murka Naruto membuat Hinata yang melihat merinding seketika. Sedangkan Karin sendiri hanya bisa meringis kesakitan.
"Mau bagaimana lagi! Suigetsu menantangku berkelahi kemarin!" bela gadis itu.
Naruto berdecak pelan. "Lihat saja, akan aku adukan ke Kaa-chan!"
"Tante Kushina akan membelaku!" Karin tersenyum puas.
"Tidak kalau dia tau kau berkelahi dengan laki-laki lagi!" dan jawaban dari Naruto itu langsung membuat Karin mendelik.
"Mou, Naruto! Maafkan aku! Kau boleh mengadukanku tentang jaketmu itu! tapi jangan bilang kalau aku berkelahi lagi!"
Naruto hanya mendengus pelan. "Rasakan!"
Dan kedua makhluk tak diundang itu pun berlalu meninggalkan Hinata yang sedari tadi hanya bisa menonton. Menarik napas pelan, gadis itu pun menutup pintu dan berbalik, hanya untuk menemukan pemandangan yang membuat wajahnya langsung merona.
Hyuuga Neji berdiri hanya dengan sehelai handuk di pinggulnya, dengan tubuh yang masih basah.
"N-nii-sama?"
"Hinata, lain kali kalau gadis gila itu datang lagi jangan ijinkan dia masuk!" wajah Neji terlihat murka, dan aura hitam keluar dari tubuhnya. Hinata tak tau kenapa.
"Eh? Ke-kenapa Nii-sama?"
"Pokoknya tidak boleh! Langsung tendang dia keluar kalau dia memaksa!" setelah mengatakan itu, Neji berbalik pergi. Tapi samar-samar Hinata bisa mendengar Neji bergumam pelan.
"Mau numpang sembunyi sih, sembunyi saja! Tapi jangan di kamar mandi yang saat itu aku sedang mandi di dalamnya, dasar gadis gila! Mana susah pula ngusirnya!"
Ah, Hinata langsung paham dengan wajah memerah.
.
.
.
.
"Jadi bagaimana, Sasuke?" Kiba bertanya dengan cengiran jail.
"Hn. Tidak berminat."
"Tapi—"
"AH! Ohayou, Teme!" suara sapaan bernada nyaring dari Naruto menghentikan kata-kata Kiba, laki-laki bertato segitiga di pipinya itu mendecih pelan kemudian berbalik pergi.
Naruto sendiri hanya menatap heran.
"Kau bicara apa dengan si wajah anjing itu, Teme?"
"Hn. Tidak ada. Dia hanya mengajakku pergi Goukon," laki-laki berambut pantat ayam itu pun berjalan ke bangkunya yang berada di sebelah Sasori. Sedangkan Naruto sendiri duduk di bangku depan Sasuke.
Mata Naruto berbinar. "Uwah, lalu bagaimana? Kau ikut?"
Tanggapan yang diberikan Sasuke adalah dengusan pelan. "Tidak berminat. Perempuan itu semuanya menyebalkan," kemudian Sasuke melirik laki-laki berambut merah di sebelahnya. "Apalagi adiknya Sasori. Cerewet sekali."
Sasori yang mendengarnya justru terkekeh.
"Itu daya tariknya Sasuke," jawabnya kalem.
"Ah, adik perempuannya Sasori? Ngomong-ngomong aku belum pernah bertemu dengannya," jeda, Naruto menatap keluar kelas. "Tapi seriusan deh, Teme. kenapa sih kau tidak tertarik dengan perempuan? Lihat tuh di luar banyak gadis-gadis yang melihat ke arahmu," nyatanya yang dikatakan Naruto itu memang benar, bukan hanya bualan semata. Banyak gadis-gadis yang memang sengaja lewat di depan kelas mereka untuk melihat sosok rupawan laki-laki.
"Aku rasa tidak ada satu pun gadis di sekolah ini yang tidak menyukaimu. Tentu saja karna wajah—"
"Kakimu menghalangi jalanku, Uchiha!" kata-kata Naruto itu terhenti oleh Karin yang tiba-tiba lewat.
Sasuke melirik ke bawah, menatap kakinya. Nyatanya kakinya tidak benar-benar menghalangi jalan. Kalau Karin mau gadis itu bisa berjalan ke samping sedikit.
Menghela napas sejenak, Sasuke menatap Karin dengan wajah datar andalannya. "Aku rasa kakiku tidak menghalangi jalanmu, Uzumaki. Kalau memang terasa menghalangi, kau bisa lewat jalan lain."
Jawaban dari Sasuke itu membuat Karin mendecih pelan, kemudian ia melangkahi kaki laki-laki itu dan pergi.
"Ah, aku rasa cuma Karin seoranglah yang tidak menyukaimu, Teme," lanjut Naruto kemudian.
"Hn, adik Sasori juga tidak menyukaiku," jawab Sasuke dengan gumaman pelan, nyaris tidak terdengar.
Sasori tersenyum tipis. "Tentu saja! Yang disukai sepupumu itu kan hanya berkelahi, Naruto. Aku dengar kemarin ia berkelahi lagi dengan Suigetsu, preman dari sekolah Iwagakure."
"Yah, begitu lah. Dia habis dimarahi Kaa-chan tadi pagi!" setelah mengatakan itu, Naruto tertawa puas. Kelihatannya laki-laki itu masih dendam dengan jaketnya yang dirusak Karin.
"Dari pada membicarakan sepupumu itu Naruto, kenapa tidak kau saja yang pergi Goukon?" tanya Sasori tiba-tiba dengan nada santai.
"Apa kau gila Sasori! Kau lupa cintaku ini hanya untuk dewiku si gadis musim semi?" mata Naruto melotot tidak terima.
Sasuke melirik sekilas. "Maksudmu gadis yang selalu kau lihat di café seberang Ramen paman Teuchi? Gadis yang sampai sekarang tidak kau ketahui namanya?"
"Iya! Iya! Yang itu! Sumpah, dia benar-benar cantik sekali! Dia seperti dewi bunga Sakura di musim semi!" jawab Naruto dengan nada semangat.
"Aku pikir dia hanya khayalanmu saja, Naruto," Sasori terkekeh pelan.
Tidak terima, Naruto menggebrak meja. "Sialan kau Sasori! Lihat saja, hari ini aku pasti akan berkenalan dengannya! Dan aku akan memberitahukan nama gadis itu padamu!" lanjutnya berapi-api.
"Bunga Sakura di musim semi. Haru no Sakura," gumam Sasuke lirih, selirih angin. Baik Sasori maupun Naruto tidak ada yang mendengarnya.
"Dari pada aku, kenapa tidak kau saja yang pergi Goukon, Sasori? Kau kan tidak punya pacar!" Naruto nyengir kuda, menyindir Sasori.
Sasori tersenyum tipis. "Tidak, terima kasih. Terakhir kali aku pergi Goukon, adikku yang tau langsung membakar handphone-ku. Aku terpaksa kerja part-time berbulan-bulan untuk mengumpulkan uang agar bisa membeli ponsel baru."
Naruto tertawa terbahak-bahak seketika.
"Seriusan deh, adikmu itu galak sekali! Kalau seperti ini terus bagaimana kau bisa dapat pacar, Sasori,"
Sasori hanya menghela napas sejenak. "Entahlah. Lagi pula aku ini orangnya tidak mudah jatuh cinta. Tapi aku yakin kalau aku sudah menyukai seseorang, aku akan mengejarnya mati-matian," jawab Sasori di akhiri senyum tipis.
Naruto memayunkan bibirnya, "Aku baru tau kalau Sasori yang ku kenal bisa menggombal juga!"
"Berisik Naruto!" mendengar jawaban dari sahabat orange-nya itu, membuat Sasori jadi kesal. "Oya kalau tidak salah kau pernah bilang gadis yang sering kau lihat di café itu menggunakan seragam SMA swasta Teiko khusus wanita, 'kan? Adikku juga bersekolah di sana. Coba kau beritahu aku ciri-ciri gadis itu, aku akan menanyakannya pada adikku. Siapa tau ia tau," lanjut Sasori.
"Be-benarkan Sasori?!" mata Naruto langsung berkilat senang. "Ah, dia sangat cantik, benar-benar sangat cantik! Dia memiliki rambut pendek sebahu berwarna—"
Kata-kata Naruto terhenti saat Hatake Kakashi selaku wali kelas mereka merangkap guru matematika memasuki kelas, kelas 2-2.
"Ah, mungkin semester ganjil memang baru saja berlalu. Tapi kebetulan kita kedatangan siswa baru pindahan dari Amerika. Ayo masuk!"
Sasori tidak pernah menyangka—
"Namaku Miko Shion," perkenalan singkat, padat, diselingi wajah jutek dari si pemilik nama.
—hidupnya mulai saat itu berubah.
Gadis itu.
Bulu mata lentik, membingkai mata bening berwarna violet.
Rambut panjang berponi rata berwarna pirang kepucatan, berkilau saat terkena cahaya.
Secara perlahan Sasori memegang dadanya yang berdegup kencang. Wajahnya mulai memerah.
Untuk ayah dan ibunya yang sedang dinas di Jerman.
Ayah, ibu, aku jatuh cinta—
—pada pandangan pertama.
.
.
.
TBC
.
.
.
Ng… Halo
Oke, Alo mau minta maaf karna udah lama menghilang! Hontou ni gomenasai! *sujud dalam-dalam*
Sekali lagi maaf ya, Alo benar benar sibuk di dunia nyata ini, sehingga Alo sama sekali gak punya waktu buat ngetik. Ini akhirnya ada waktu luang juga. Apakah ada yang menunggu kelanjutan fic ini? Huehe xD
Kayaknya gak ada deh. Dan Alo pun pundung di pojokan. Hiks.
Oya untuk chapter ini Alo akan memberikan sedikit penjelasan. Baik Sasuke, Sasori, Naruto, dan Karin adalah teman sekelas dan juga satu sekolah (yaiyalah thor!). Mereka sama-sama kelas dua SMA. Sedangkan untuk Hinata sendiri dia baru kelas satu. Di sekolah Naruto dkk juga. Lalu kalo Sakura dia beda sekolah. Dia sekolah di sekolah khusus cewek gitu, kelas satu juga sama kayak Hinata. Dan Shion adalah siswa baru pindahan Amerika, sudah dijelaskan tadi.
Nah, jadi di chapter ini Alo udah ngasih tau kalo Sasori langsung jatuh cinta pada pandangan pertama ke Shion. Untuk chapter berikutnya akan ada lagi yang jatuh cinta, hoho~
Oya, apa ada yang bisa menebak siapa cewe yang ditaksir oleh Naruto? Pasti pada tau kaaann? Ciri-cirinya jelas banget gitu masa gak tau. Apalagi udah disebutin sama Sasuke-kun namanya, wkwk xD
Akhir kata, apa ada yang menunggu kelanjutan fic My New Neighbour? Kalo ada mungkin dalam waktu dekat akan Alo update. Soalnya ini lagi dalam pengetikan. Dan juga Alo mau nanya, ada yang minta sequel Happy Ending atau Truth or Dare gak? Kalo ada rencananya Alo mau buat.
Okelah cukup sekian cuap-cuap Alo. Akhir kata, jangan lupa review yaaa~
