Judul : Gadis numpang yang mengubah hidupku

genre : Romance, slice of life

Chapter 1 : Untuk kedua kalinya, Uzumaki Naruto menampakkan diri.

.

1-A

Hidup adalah sesuatu yang harus dinikmati. Kehidupan yang dipaksakan itu membuatku muak.

Sekitar lima bulan yang lalu satu contoh orang yang memiliki kehidupan seperti yang kubilang tadi pindah di sebelah kamarku. Karena alasan memelihara kucing yang tak sengaja ditemukannya, dia dikeluarkan kepala sekolah dari asrama reguler ke asrama khusus anak bermasalah yang dikenal dengan nama Konoha.

Aku tak tahu apa kepala sekolah itu benar-benar mengerti apa itu difinisi bermasalah. Yang jelas, sesuatu yang bermasalah itu akan berbeda difinisinya seiring dengan siapa yang mengatakannya.

Sebagai contoh, para wanita penghibur yang biasa mangkal ditaman lawang. (01)

Mayoritas masyarakat menatap mereka dengan jijik. Mereka menganggap orang-orang seperti itu merupakan orang yang bermasalah dikarenakan melakukan hubungan intim dengan berbagai macam pria. Itu sama saja mereka menyamakan diri mereka dengan binatang. Binatang tak punya malu melakukan hubungan mereka dimanapun, tak malu dibicarakan karena selalu berganti pasangan, dan tak malu tidak memakai baju didepan umum.

Sebaliknya, para wanita penghibur itu malah menganggap orang yang menatap mereka dengan jijik itu memiliki otak yang bermasalah. Menurut mereka, seorang yang tak tertarik pada tubuh mereka itu tidaklah waras, terutama untuk kaum laki-laki.

Karena itulah aku tak peduli mereka menganggap aku bermasalah, karena pandangan mengenai apa itu bermasalah pada tiap-tiap orang itu berbeda.

Ada 7 orang yang menghuni asrama yang dianggap asrama bermasalah ini, termasuk aku.

Yang pertama adalah Uchiha Sasuke, yakni bocah yang kubicarakan tadi. Pada awalnya dia tinggal di asrama reguler, namun karena alasan tadi dia dikeluarkan dan dibuang kemari.

Kalau mendengar dari ceritanya yang bisa sampai disini, mungkin kau berpikir dia adalah anak laki-laki penyayang, dilihat dari dia yang lebih memilih mempertahankan kucing-kucing itu dari pada kamarnya di asrama reguler. Itu memang benar, tapi pada saat yang sama itu salah.

Dia tidak benar-benar memilih untuk membuang kamarnya diasrama reguler. Ketika dia datang kemari dia langsung membeberkan tujuannya dengan lisan maupun tulisan 'Tujuan : Keluar dari asrama KONOHA!' pada papan panjang yang dia gantung di kamarnya. Bukankah itu munafik.

Dia tidak menerima dicap sebagai murid bermasalah dan dia tidak tahan bergaul dengan anak-anak penghuni asrama ini.

Dia berniat kembali keasrama reguler ketika dia berhasil menemukan pemilik dari kucing-kucingnya itu. Sesuatu yang tidak pasti seperti itu sangatlah tidak rasional, bukan.

Memaksakan diri untuk berlagak kuat setelah dibuang itu memuakkan. Itulah letak kesalahan padanya.

Namun dari yang kudengar, karena suatu alasan dia akhirnya memutuskan untuk tetap tinggal.

Kisah komedi romantisnya dengan seorang gadis, sepupu dari guru pengurus asrama ini adalah alasannya. Aku tak mengetahuinya sendiri, itu adalah perkataan dari kakak kelasku yang juga tinggal di asrama ini.

Miroku Shion, dialah gadis yang kumaksud. dia baru tinggal disini 4 bulan yang lalu. Selama aku tinggal disini, aku belum pernah keluar dari kamarku, karena itulah aku belum pernah bertemu dengannya jadi lewati saja orang yang satu ini. Tapi fakta yang kudengar, dia adalah seorang penulis terkenal. Dan satu fakta lagi, dia itu sangatlah polos, saking polosnya dia bahkan tak bisa mengurus dirinya sendiri. Mirip seperti hewan yang butuh dipelihara. Maka dari itu Uchiha disuruh sebagai pengurusnya dan dari situlah kisah komedi romantis itu dimulai.

Hyuuga Neji, dia adalah murid tahun ketiga, kakak kelasku yang kumaksud tadi. Dia sering mengabariku sesuatu yang hangat terjadi melalui E-mail dan aku mengacuhkannya. Aku tak peduli soal hangat ataupun dingin.

Tapi yang kutahu darinya, dia adalah seorang playboy kelas kakap yang bahkan memiliki simpanan seorang tente beranak satu. Sampai-sampai dia diberi gelar Maharaja karena eksistensinya.

Tenten, gadis gila kekanak-kanakan yang memiliki bakat dalam bela diri, dan karena itu dalam 3 tahun sepenuhnya dia mendapat beasiswa sepertiku. Dia satu angkatan sekaligus teman masa kecil Hyuuga.

Yamanaka Ino.

Aku tak tahu orang satu ini, yang jelas dia baru datang satu bulan yang lalu.

Mitarashi Anko, dia adalah guru sekaligus pengurus asrama ini. Kepribadiannya sangatlah buruk, dia pemalas, tidak bertanggung jawab, dan biasanya dia melimpahkan pekerjaannya pada orang lain. Mungkin itulah sebabnya dia belum mendapat suami.

Yang terakhir adalah aku, Uzumaki Naruto, murid tahun pertama sama seperti semua murid penghuni asrama ini kecuali Hyuuga dan Tenten-senpai. Aku seorang Programmer... tidak, kenyataannya aku lebih dari itu, tapi legalnya aku adalah Programmer. Aku bekerja diberbagai perusahaan pengembangan software, aku ditawari apa yang harus kukerjakan dan aku menerimanya, jadi clientku lebih dari satu perusahaan.

Aku melakukan negosiasi melalui E-mail karena aku jarang keluar dari kamarku. Terakhir aku keluar yakni sekitar 5 bulan yang lalu untuk menghadiri kelas pertama kali.

Jadi bagaimana selama ini aku melakukan kegiatan sekolahku?

Seperti yang kubilang, aku sudah 5 bulan lebih tidak menghadiri kelas dan inilah sebabnya aku dimasukkan kedalam asrama Konoha yang merupakan asrama Hi No Kuni Academy khusus untuk murid bermasalah.

Sebagian hidupku aku lakukan di dalam kamar. Untuk sekolah, aku menempatkan camera CCTV di kelasku, tujuannya sih tidak terlalu penting, toh meskipun aku dapat melihat bagaimana kelas berjalan, aku sama sekali tak mengikuti apa yang kelas lakukan. Dan kenapa aku masih bertahan meskipun selama ini tidak mengikuti pelajaran?

Sekolah membutuhkanku lebih dari aku yang membutuhkannya. Seperti yang kau tahu aku adalah seorang programmer, dan levelku sebenarnya sudah tidak pas lagi bila disebut programmer. Karena kemampuanku ini, aku mendapatkan beasiswa dan diberikan tugas untuk mengembangkan sekolah secara modern dengan menggunakan tegnologi. Berbagai tegnologi perangkat keras maupun perangkat lunak yang telah kukembangkan telah banyak membantu sekolah. Tentu saja aku hanya memberikan tegnologi kacangan yang bagi orang bodoh seperti mereka itu luar biasa.

"Naruto-sama, hari ini adalah hari anda harus absen. Saber, mengingatkan anda untuk segera mempersiapkan diri anda, semua keperluan anda sudah Saber siapkan."

"Ya, aku sudah tahu."

Itu tadi adalah salah satu dari sekian banyak tegnologi yang kukembangkan. Sebuah Software berbasis AI(02) yang berguna sebagai E-mail responder otomatis sekaligus Cardinal System(03) pada semua perangkat CPU maupun Smartphone yang telah melakukan login dengan menggunakan account E-mail milikku. Namanya adalah Saber, dia memiliki wujud 2 dimensi dengan ciri seorang gadis muda berambut pirang yang tampak seakan ditaburi debu emas , sungguh sangat berbeda dengan surai milikku, potongan rambut bagian belakangnya seperti bentuk bunga matahari namun sangat berkelas, wajahnya sangat anggun, dia memakai baju baja dengan model gaun gaya lama yang terbuat dari kain biru kuno dibawahnya. Dia kubuat sebagai model ksatria wanita yang anggun nan elegan.

Dia adalah program terbaik yang pernah kubuat. Seluruh ruangan ini sudah kuhubungkan dengan sistemnya sehingga dia bisa menggunakan ruangan ini selayaknya tubuhnya. Setiap pintu dapat terbuka secara otomatis sesuai kehendaknya, tangan-tangan robot yang bergantung sepenuhnya menjadi kendalinya, itulah sebabnya dia bisa mempersiapkan macam-macam keperluanku di ruangan ini.

Selagi aku mengenakan seragam sekolahku, suara ribut yang membuat telingaku serasa seperti disogrok tugu pahlawan mencapai kamarku.

"BUKAN! INI TIDAK SEPERTI YANG KALIAN LIHAT."

"SELAMAT, JUNIOR-KUN! KAU SEKARANG SUDAH TUMBUH DEWASA SEPERTI KAMI BERTIGA!"

"AKAN KURELAKAN GELAR MAHARAJA UNTUKMU! KUSERAHKAN PADAMU, SASUKE!"

"Uchiha, aku selalu ingin mengatakan ini padamu... kau membuatku kesal."

"MEMANGNYA APA HUBUNGAN HAL INI DENGAN HAL ITU?!"

Suara itu terus saling menyahut dan semakin lama semakin membuat sakit kepala.

"YA AMPUN, APA TIDAK ADA KEDAMAIAN DISINI?! APA KALIAN MENCOBA MEMBUAT TEMPAT INI SEPERTI KEBUN BINATANG DIMUSIM KAWIN, HAH?!"

Aku keluar dari kamarku untuk menghentikan orang-orang gila yang membuat suara-suara itu dan melihat apa yang terjadi disana.

Semuanya terkejut mendengar suaraku dan melihatku yang keluar dari kamarku.

Seiring aku yang berjalan mendekat, mereka melangkah mundur secara perlahan dari depan pintu tempat mereka tadi saling berdesakan.

Aku tepat berada di depan pintu kamar sebelah kamarku. Kemudian aku menoleh ke dalam untuk melihat apa yang membuat orang-orang gila itu ribut.

Disana aku bisa melihat seorang laki-laki yang sedang ditindihi seorang gadis. Laki-laki itu adalah Uchiha Sasuke, sedangkan gadis yang menindihinya dan memeluknya erat aku sama sekali tak mengenalnya.

Uchiha mencoba menegakkan tubuhnya untuk duduk dan gadis itu berada di pangkuannya. Dengan posisi kepala terbalik, Uchiha melihatku dengan wajah terkejut penuh ketidak percayaan. Aku hanya melihat semua itu dengan tatapan datar.

"Ka-ka-ka-,"

"Kadal buntung, kah?"

"BUKAN!"

"..."

"Ka-kau keluar dari kamarmu?"

"Huh."

Aku mendengus mendengarnya. Entah kenapa fakta bahwa aku keluar dari kamarku membuat semua orang terkejut.

Aku menoleh kembali pada orang-orang gila yang sedang melihatku dengan tatapan tak percaya. Ada dua wajah baru yang kulihat, dan menyebalkannya mereka adalah perempuan.

"Pertama kalinya aku melihat sebagian wajah dari kalian. Izinkan aku memperkenalkan diri, aku Uzumaki Naruto, penghuni kamar 1-02."

.

1-B

.

Uzumaki Naruto adalah seorang pemuda misterius bagi kalangan murid maupun guru di Hi No Kuni Academy. Bahkan dari sebagian teman sekelasnya mereka baru mengetahui bahwa Naruto benar-benar ada. Sebagian dari mereka menganggap Uzumaki Naruto seorang pemuda bersurai kuning dengan tiga pasang kumis kucing di pipinya itu hanyalah rumor belaka. Coba bayangkan, di sekolah manapun, siapa pelajar yang bisa tetap dianggap murid oleh sekolahnya meskipun telah bolos sekolah selama lebih dari lima bulan? Jawabannya tentu tidak ada, dan keberadaan seorang Uzumaki Naruto membuat itu ada.

Saat ini untuk kedua kalinya dia berada dalam kelasnya. Namun kalau kalian berpikir kehadirannya itu membuatnya terlihat baik-baik saja dimata penghuni kelas lainnya maka kalian salah.

Saat ini dia dengan santainya sedang menggunakan laptopnya untuk mengerjakan pekerjaannya sebagai programmer dari perusahaan besar. Sambil memakan tomat yang tersedia di samping laptopnya, Naruto mengacuhkan kelas dan tetap fokus pada pekerjaannya. Suara kunyahan tomat dan ketikan-ketikan dari laptop Naruto membuat murid-murid terganggu, tapi ada pula yang menatap kagum padanya.

Berusaha mengacuhkan Naruto, wanita cantik berambut hitam sebahu yang merupakan guru pengajar saat itu mencoba untuk tetap fokus menulis dipapan tulis sembari menahan rasa jengkel karena ulah Naruto.

"Naruto-sama, anda mendapatkan pesan."

Ctak

Suara kapur patah. Sepertinya pengumuman dari Saber untuk Naruto membuat siguru pengajar tak sengaja membuat tenaganya meledak oleh kemarahannya. Beberapa saat ruangan itu masih diisi oleh suara ketikan laptop Naruto. Kemudian guru pengajar itu memutuskan untuk berbalik dan dengan senyuman dia menatap Naruto yang sama sekali tak peduli padanya.

"Uzumaki-kun, apa kelasku membosankan?"

Suaranya sangat manis, pas sekali dengan wajahnya yang terlihat masih muda. Sudah sewajarnya seorang laki-laki yang mendengar suaranya mengalihkan perhatian mereka untuknya. Namun itu tidak berlaku bagi Naruto.

Meskipun mendapat tanggapan, namun guru itu tak sedetikpun melihat Naruto mengalihkan perhatiannya dari layar LCD laptopnya.

"Aku tidak tertarik dalam banyak hal di dunia ini, dan juga aku membenci wanita. Jangan berbicara padaku."

"Sudah 5 bulan sejak kau menghadiri kelas, aku benar-benar berharap kau berhenti makan tomat dan memperhatikan pelajaranku, ya~."

"Tomat adalah sayuran unggul bernutrisi tinggi. Selain itu, aku menghadiri kelas hanya untuk mencapai tingkat absen yang dibutuhkan. Aku tidak perlu mendengarkanmu. Tapi jika kau keberatan, kenapa kau tidak mencoba mengajariku sesuatu yang membuatku tertarik, Katou Shizune."

Selagi Naruto terus membantah, para murid kini menatap Naruto penuh kekaguman dan itu sama sekali tak mebuatnya risih ataupun mengalihkan pandangannya pada laptopnya. Shizune-sensei yang saat itu berdiri telah mencapai batasnya, dan kapur yang berada dalam gengamannya hancur menjadi debu. Guru itu cemberut dan mengomel dengan suara lucunya yang tak ada daya intimidasi secuilpun disana.

"Iiiih, jangan mengejek gurumu! Baiklah, baiklah! Kau akan kulaporkan sama Tsunade-chan, huh, huh! Dan juga, kenapa kau tidak tertarik denganku?! Walau seperti ini bukan berarti aku tidak bisa menikah! Aku hanya tidak mau! Aku hanya tidak mauuu! Itu sama saja seperti. . . . ." Dan Shizune-sensei pun mulai mengoceh tentang masa lajangnya, meninggalkan murid-muridnya yang hanya bisa cengoh melihatnya.

Sedangkan makluk yang diomelinya sama sekali tak mempedulikannya mengoceh, dengan santainya dia masih memakan tomatnya sambil tangannya yang satunya bekerja dengan laptopnya.

.

1-C

.

Setelah kemarin lusa aku kembali menghadiri sekolah untuk mengisi keperluan absen, hari berikutnya hingga kini aku kembali pada kamarku yang penuh dengan kedamaian sambil iseng-iseng melihat-lihat berita ataupun informasi di internet dengan menggunakan komputer pribadiku.

Hariku disekolah saat itu seperti biasa tidaklah begitu berkesan, yang ada aku dipanggil wali kelasku dan aku berbincang sedikit dengannya, oleh karena itu keeseokannya wali kelasku itu mengambil cuti untuk mengobati traumanya.

Disaat itu pula, banyak kabar suara-suara yang membicarakan tentang event festival budaya. Akupun tak menyangka ternyata saat itu telah tiba. Namun aku tak peduli.

Tung~*

Subyek : Festival budaya!

Hyuuga Neji : Asrama ingin membuat stand rental game untuk Festival budaya. Bisakah kau bergabung?

E-mail baru saja masuk di komputerku. Hyuuga mengajakku untuk berpartisipasi dalam festival budaya. Cukup mengejutkan asrama ini mau mengadakan sesuatu untuk meramaikan acara tahunan itu.

Aku sebenarnya sungguh tidak ada niat untuk ikut dalam hal semacam itu, tapi, aku yakin Anko-sensei telah menyusun rencana untuk membuatku harus ikut dalam acara itu. Terakhir kali aku menolak permintaannya aku berakhir di sebuah taman yang dipenuhi om-om dengan pakaian biduan dangdut yang dikenakan mereka, dan setelah itu pantatku selalu sakit tiap kali aku duduk atau berjongkok.

Dengan mempertimbangkan hal itu aku akhirnya membalas.

Subyek : Festival budaya!

Uzumaki Naruto : Baiklah, aku ikut.

Aku memikirkan ide-ide yang cocok dengan proyek ini sekaligus berguna untuk menguji perangkat yang kukembangkan. Aku telah mengembangkan sensor gerak untuk menginput suatu gerakan pada animasi karakter. Ini merupakan kembangan dari sensor sekaligus acclometer untuk menangkap masukan detil gerak juga ukuran percepatan semacam acceleration, balance, speed, dan sebagainya pada pembuatan game diperusahaan besar seperti PES atau Winning. Bedanya kali ini aku ingin menerapkan secara langsung tanpa harus masuk dalam pengolahan memory kernel.

Jadi bisa dibilang, game ini akan digunakan masukan secara langsung dengan menggunakan sensor gerak itu sendiri, sehingga player akan merasa kekuatan dari karakter game tersebut seakan mengalir pada tubuhnya karena game tersebut digerakkan dengan menggunakan gerak tubuhnya bukan dengan stick.

Dan bagusnya, disini ada obyek yang cocok dijadikan sebagai kelinci percobaan.

Seekor makluk astral.

Tenten-senpai yang merupakan ahli bela diri tentu saja memiliki gerakan terlatih. Dengan menggunakan dirinya aku bisa menggunakan gerakan-gerakan apik untuk karakter player.

Memikirkan itu beberapa saat, komputerku berbunyi pertanda balasan.

Tung~*.

Hyuuga Neji : Baguslah. Sasuke ingin membuat game action, karena menurutnya banyak peminatnya. Apa kau ada rencana lain?

Uzumaki Naruto : Aku pun berpikir seperti itu. Tapi melihat dari waktunya, kita tidak bisa membuat sesuatu dari awal. Kita harus memakai animasi yang telah ada.

Tung~*

Hyuuga Neji : Kau melupakan siapa aku. Aku punya macam-macam karakter animasi yang cocok dari mangaku, dan selanjutnya aku tinggal mengurus grafiknya.

Aku benar-benar melupakannya. Hyuuga adalah seorang mangaku, dan sebentar lagi manganya akan diserialisasi. Bahkan sebelum menjadi mangaku, Hyuuga adalah seorang pelukis terkenal yang karyanya telah diakui dunia, dia sudah masuk dalam kategori profesional. Namun ketika memikirkannya dengan cermat, aku juga tidak bisa mengingat apapun tentang Hyuuga maupun laki-laki lainnya yang kukenal. Namun disisi lain, untuk tidak mengingat mereka berarti mereka bukanlah bagian dari traumaku, jadi bisa disimpulkan mereka adalah orang baik. Kecuali dibagian dimana gelar maharaja miliknya, untuk satu ini ada hal yang menyangkut traumaku, dimana gelarnya itu lahir karena perempuan.

Mungkin ada sedikit rasa bersalah dalam hatiku karena melupakan kemampuan Hyuuga, tapi sisi baiknya dia telah masuk dalam daftar orang baik milikku.

Aku pun membalas pesannya.

Uzumaki Naruto : Baiklah. Kalau begitu kau yang akan mengurus grafiknya. Kita juga memerlukan naskah tentang latar ceritanya dan juga jurus-jurusnya. Kau bisa menyuruh tukang ngayal seperti Miroku Shion untuk membuatnya.

Tuh kan benar.

Untuk masalah perempuan aku benar-benar ingat. Sepertinya traumaku ini benar-benar parah. Aku bahkan hanya sekali berinteraksi dengannya yakni 2 hari yang lalu saat aku mengenalkan diriku, itupun secara sepihak, karena sebelum dia membalas perkenalanku aku langsung memotongnya dengan berkata "Sial, aku ketinggalan pesawatku." Sambil pura-pura melihat jam tangan dan berlalu pergi meninggalkannya bersama semua penghuni asrama ini yang saat itu masih heboh karena melihat Uchiha sedang tidur bersama seorang gadis.

Tung~*

Hyuuga Neji : Yah, aku juga menyuruh Ino-san untuk mengisi suara pada scen pertarungannya, dia memiliki bakat dalam itu.

Jangan beritahu hal itu padaku, jika kau beritahu aku pasti akan mengingatnya. Selain itu apa perlu game action yang isi suaranya hanya teriak-teriak seperti 'Hyaaah!, Aaaargrh, Kyaah... tunggu dulu, suara apa itu?' semacam itu untuk didubbing, kurasa tidak perlu.

Aku baru ingat sesuatu.

Tentang menjadikan Tenten-senpai sebagai obyek pengirim data-data gerakan dari karakter player. Seperti combo-combo dan jurus-jurus yang nantinya akan dipakai sebagai item.

Tapi jika naskahnya belum selesai itu sama saja.

Uzumaki Naruto : Hyuuga, Suruh Gadis peliharaan itu untuk bergegas. Aku akan segera membuat animasi geraknya dengan menggunakan Tenten-senpai sebegai obyek geraknya.

Tung~*

Hyuuga Neji : Baiklah. Aku akan memberitahu mereka. Kalau begitu, kau yang bertanggung jawab dalam proyek ini.

Uzumaki Naruto : Jangan melimpahkan semuanya padaku hanya karena Anko-sensei berada dipihakmu.

Tung~*

Hyuuga Neji : Bagaimana dengan Sasuke?

Uzumaki Naruto : Aku tidak keberatan.

Lagian bocah itu ikut bantu apa. Menjadikannya direktur penanggung jawab akan membuatnya berguna.

Tung~*

Hyuuga Neji : Kami semua sepakat, Anko-sensei pun setuju. Dia akan segera melaporkan proyek ini pada OSIS.

Uzumaki Naruto : Baiklah.

[Uzumaki Naruto log out]

Dengan itu diskusi selesai, dan aku mematikan komputerku untuk bersiap tidur.

Aku mengambil helaan besar dan menyandarkan punggungku pada kursi kerjaku. Bahkan sebelum proyek ini dimulai aku sudah kehilangan tenagaku.

Kira-kira karakter apa yang akan dipakai Hyuuga untuk ini.

Aku terlanjur mematikan komputerku jadi Aku mengambil smarttablet milikku yang tergeletak di samping monitor dan mengetik nama 'Hyuuga Neji' pada kolom Search di mesin pencarian lalu menekan enter untuk melihat karakter-karakter manganya. Aku benar-benar lupa banyak hal tentang dirinya. Dan seperti yang sudah kuduga, dia berada di puncak pertama pada hasil pencarian, bahkan satu halaman itu penuh dengan pilihan-pilihan tentang artikel-artikel mengenai dirinya. Namun tak satupun yang membahas tentang debutnya sebagai mangaku. Semuanya kebanyakan berisi tentang profesinya dulu sebagai pelukis.

Aku mengtouch salah satu judul artikel dan membaca tulisan yang ada di halaman. Artikel ini berbahasa inggris tapi aku sudah terbiasa dengan ini, kebanyakan isinya hanya tentang prestasinya dan karya-karyanya.

Tak sengaja aku menatap salah satu foto yang menampakkan Neji dan seorang gadis yang sama-sama memegang lukisan besar yang penuh warna. Aku tak mempedulikan lukisan apa itu, yang membuatku tertarik untuk melihatnya adalah gadis yang berada disana.

Sebelum kau berpikir negatif tentangku, akan kutegaskan yang membuatku tertarik padanya bukan karena dia cantik atau masalah jatuh cinta pada pandangan pertama dan semacamnya. Yang membuatku tertarik adalah, gadis itu adalah gadis yang kemarin lusa tidur bersama Uchiha.

Gadis berambut biru dongker dengan poni rata didepan yang memiliki mata lavander. Cirinya persis seperti gadis yang waktu itu.

'Hyuuga Hinata'

Nama itu tertulis bersama nama 'Hyuuga Neji' disampingnya.

Hyuuga.

Jadi mereka satu keluarga.

Hyuuga benar-benar kejam membiarkan adiknya tidur bersama Uchiha.

Aku mengtouch nama gadis itu yang merupakan link menuju artikel mengenai dirinya. Garis besar yang dapat kusimpulkan dari artikel yang kubaca itu adalah gadis itu juga seorang pelukis besar seperti Hyuuga. Dan kesimpulan lain adalah keluarga Hyuuga merupakan keluarga pelukis secara turun temurun.

Itu menjawab semua pertanyaanku, kenapa siplayboy itu bisa sebagus itu dalam menggambar. Tapi ini belum menjawab kenapa dia sekarang berganti profesi menjadi mengaku.

Untuk beberapa lama aku berpikir sambil terus memperhatikan foto gadis itu.

Ada sedikit rasa penasaran tentangnya, yang membuatku menyimpan halamannya dengan memilih opsi save pages pada browser tabletku.

Menegakkan badanku untuk berdiri, aku memutuskan untuk menghampiri jendela. Kubuka jendela kamarku dan langit malam yang cerah tak berawan secara langsung tersaji di mataku. Aku mencondongkan tubuhku ke depan dengan kedua tanganku yang kulipat di tepi jendela menjadi penyangga.

Angin malam membelai rambutku dengan lembut. Aku menutup mataku mencoba menikmati setiap belaiannya. Malam ini udara cukup dingin, namun itu sama sekali tak mempengaruhiku untuk menutup jendela dan kembali kedalam.

Aku membuka mataku secara perlahan. Ketika pandanganku telah kembali, apa yang kulihat adalah sosok makluk yang berayun menggunakan tali ke arah jendelaku yang terbuka. Terlalu menikmati angin malam ternyata membuatku berhalusinasi.

"KUE IKAAN, AWASS!" Sebuah teriakan menyadarkanku bahwa apa yang kulihat bukanlah halusinasi. Mataku membulat. Hanya satu orang yang memanggilku dengan panggilan itu.

Itu makluk astral.

BUAAAGH

"Gaahg-."

"Yo Kue ikan! Akhirnya telah tiba, hari dimana umat manusia menunggu karya terbaik dari kita!"

Sakit. Jelas ini sangat sakit ketika tiba-tiba seseorang menubruk kepalamu tanpa memberikanmu waktu untuk berlindung. Ditambah lagi ocehannya yang keluar membuat kepalaku tambah sakit. Luar dan dalam kepalaku semuanya sakit.

Aku mencoba menegakkan badanku untuk duduk.

"Tenten-senpai, apa yang kau lakukan disini-,ugh." Mataku membulat begitu aku membukannya, tubuhku merinding dan berkeringat, nafasku berhenti. Jarak kami terlalu dekat. Aku dengan sangat jelas dapat melihat matanya. Aku bisa mati.

"Saatnya bala bantuan datang."

Dia mengacuhkanku dengan berdiri lalu berlari ke pintu dan membukanya. Untuk sesaat aku merasa lega.

"Selamat datang semuanya."

"Permisi."

Aku berbalik untuk melihat suara siapa itu.

Itu buntut kuda, dan dibelakangnya ada gadis peliharaan. Mereka masuk ke kamarku tanpa meminta ijin padaku.

"A-apa yang kalian lakukan disini?! Pergilah!"

"Heeeeh? Bukannya kau tadi menyuruh Shion-tan untuk bergegas, jadi aku membawanya kemari."

"Itu memang benar, tapi kenapa kau juga ikut kemari dan mengapa buntut kuda ikut denganmu? Selain itu, kenapa di kamarku?!"

"Tidak sopan, memanggil seorang gadis dengan buntut kuda." Buntut kuda menyela.

"Kalau begitu, buntut kambing."

"Kau cari gara-gara ya?!"

"Kalian itu yang cari gara-gara?!"

"Sudahlah, Kue ikan. Lebih baik kita segera bermain!" Sejak kapan dia berada disana?

Tanpa terlebih dahulu meminta ijin padaku Tenten-senpai menyalakan komputerku.

Sriiing

Efek layar monitor terbelah seperti habis terkena tebasan pedang. Selanjutnya yang muncul di layar adalah Saber yang sedang membawa pedang Excalibur miliknya.

"Jadi, kau ingin menantangku lagi, Telinga tikus?"

"Ini adalah pertarungan untuk memperebutkan Naruto-kun."

Tenten-senpai memasang kuda-kuda dan menatap tajam Saber dengan penuh waspada. Kumohon hentikan! Kenapa kau bisa terkena Chuniibyou(04) dikelasmu yang sudah 3 SMA?! Atau ini penyakit baru yang bernama Kousanbyou?!(05)

"Tenten-senpai, jangan membuat keributan dengan Saber di sini."

"Kue ikan, kau memihak siapa?!"

"Aku memihak Saber! Aku lebih menyukai gadis 2D dari pada 3D!"

"Semuanya berakhir disini."

"Yah, Majulah."

Ooooh, aku ingin menangis. Makluk astral itu mengacuhkan jawabanku. Kalau begitu untuk apa kau bertanya, dasar makluk astral.

Dia mulai berkelahi dengan Saber dan meninju-ninju monitorku.

"Tenten-senpai, kau akan merusak komputerku!"

"Pertahan dia cukup kuat, Kue ikan. Bisakah kau membantuku?"

"TENTU SAJA KARENA YANG KAU SERANG ADALAH MONITORKU! HENTIKAN ITU! KAU INI SEPERTI MAKLUK ASTRAL! KEMBALILAH KE TEMPAT ASALMU!"

Makluk itu tak mempedulikanku dan tetap memukul monitorku seperti samsak tinju. Disi lain, Saber yang berada di komputer menebas-nebaskan Excalibur miliknya seperti berniat membalas Tenten-senpai. Saber, kenapa kau juga ikut-ikutan gila?!

Aku benar-benar ingin menangis. Berbicara dengan makluk ini benar-benar membuatku terluka.

Levelnya sudah benar-benar berbeda denganku. Aku pernah dengan kabar, pada suatu waktu disaat semua murid mengisi angket survei karirnya dengan tujuan masa depannya ditulis jelas. Tenten-senpai mengisi angket survei karirnya 'Masa depanku terlalu cerah, aku tidak bisa melihatnya!' langsung dipanggil keruang guru, dan dia diceramahi 5 kali lipat lebih hebat dari yang kuterima kemarin lusa. Tetapi guru yang menceramahi Tenten-senpai terkena serangan balik oleh kata-kata anehnya, dan dia terluka sangat dalam karenanya. Itu sudah sekitar 3 bulan yang lalu tapi sampai saat ini guru tersebut sedang cuti, dan mungkin tidak akan kembali dalam waktu dekat. Entah itu sudah keberapa kalinya Tenten-senpai membuat gurunya trauma, yang jelas itu sudah jauh melampauiku.

Tuing tuing tuing

Telingaku bergerak karena mendengar suara tak asing. Suaranya seperti bunyi peer memantul.

Aku menengokkan kepalaku kesamping kanan dan menemukan...

"APA YANG KAU LAKUKAN?!"

... Seorang gadis peliharaan yang mencoba menjadi atleet trampolin perusak kasur.

"Melakukan pemanasan."

Jika merusak tempat tidurku masih kau sebut pemanasan, lalu olahraga utamanya apa? menjatuhan nuklir di kamarku?

Aku mengambil smartphoneku dan tabletku cepat-cepat. Aku sudah tidak kuat lagi. Meskipun mereka masih dalam jarak yang aman padaku, tapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti.

Aku kemudian menempelkan kedua alat komunikasi itu ke masing-masing telingaku.

""Moshi-moshi.""

"Hyuuga, Uchiha, cepat kalian kemari dan bawa makluk-makluk ini keluar dari kamarku."

"Semprot saja pakai obat nyamuk."

"Kau salah menghubungi orang kawan. Kau seharusnya menghubungi rumah sakit jiwa."

"Aku tak yakin obat nyamuk mempan terhadap mereka, dan aku juga tak yakin dokter psikolog mau menerima orang semacam mereka. Kalian lebih pantas untuk masalah ini."

"Itu masalahmu."

"Yah, itu masalahmu, kawan."

"Kalian bersekongkol ya?!"

""...""

Tak ada jawaban dari mereka. Aku yakin mereka ada di tempat yang sama.

"Hey!"

"Baiklah, tapi dengan satu syarat."

"Selama sampai festival budaya kau harus masuk sekolah dan ikut diskusi bersama kami."

Aku yakin mereka saat ini sedang menyeringai.

"Kalian benar-benar sudah merencanakan ini."

"Jadi?"

"Bagaimana?"

"Kau terima,"

"Tawarannya,"

"Tidak?"

"JANGAN MEMBUAT KALIMAT TERPISAH SEPERTI ITU?!"

"Maaf,"

"Kami,"

"Tidak,"

"Mengerti,"

"Maksudmu."

"..."

Coeg.

"Setan."

Aku menghela nafas berat. Aku tidak punya pilihan, posisiku saat ini telah terkunci. Jika tidak cepat, bisa saja perempuan-perempuan itu berada dekat denganku.

Jadi aku menjawab.

"Baiklah, aku mohon."

""Oke, kami kesana.""

Tut~*

Sambungat terputus.

Aku menyandarkan punggungku di dinding pojok ruangan, Smartphone dan tabletku tergeletak lemas bersama kedua tanganku. Dengan wajah penuh kepasrahan, aku menatap satu persatu makluk-makluk kurang ajar itu. Tenten-senpai masih berurusan dengan Saber, Gadis peliharaan juga masih melakukan pemanasan dengan melompat-lompat di tempat tidurku, sedangkan buntut kuda, dia terlihat normal dengan membaca sebuah buku dan duduk di kursi kerjaku yang entah sejak kapan berpindah tempat disitu.

Meskipun begitu,

Aku menghirup udara sebanyak-banyaknya. Selanjutnya aku mengeluarkan semua udara itu bersama dengan teriakanku.

"TERKUTUKLAH KALIAN PARA WANITAAAAAAAAAAAA!"

.

.

.

TBC

1. Taman lawang adalah sebuah latar tempat yang ada dicerita fiksi bertemakan horror, dimana tempat itu dipenuhi oleh para waria yang terpakasa menjual diri mereka karena alasan ekonomi. Ada juga yang bilang taman lawang adalah tanah suci bagi para penganut agama pornografi.

2. AI(Artificial Intelligence), kecerdasan buatan yang dimiliki suatu robot/program.

3. Cardinal System, berfungsi sebagai admin atau pengendali dan manejemen suatu system sebagai admin kedua/ pengganti user/pengguna.

4. Chuniibyou(Penyakit Murid SMP Kelas 2), di mana para pengidapnya memiliki rasa percaya diri yang terlalu gila.

5. Kousanbyou(Penyakit Murid SMA Kelas 3), plesetan dari Chuuniibyou.

.

A/N :

Bagaimana?

Dari sini apa kalian sudah tahu tokoh Naruto itu seperti siapa?

Hmm, kalau belum tahu, ya syukurlah :D

Ada yang bilang Naruto ini mirip dengan Hachiman...

Yah, memang Naruto di sini memiliki masalah yang sama dengan Hachiman yaitu sosialisasi, tapi ada banyak perbedaan dari mereka.

Perbedaan pertamanya adalah masalah sosialisasi Naruto disini hanya berlaku pada perempuan, sedangkan Hachiman semua kalangan.

Sifat Naruto di sini terlebih dingin, berbeda dengan Hachiman yang hanya acuh.

Naruto seorang pelogika tinggi, sedangkan Hachiman seorang Negative thinking haha.

Naruto benar-benar tinggi soal permainan logika, karena itu merupakan senjatanya untuk melawan eksistensi perempuan. Kalian tentunya sudah tahu jika mayoritas perempuan itu lebih banyak berbicara dari pada bergerak. jadi karena itulah Naruto berusaha untuk membuat dirinya bisa mengalahkan semua ocehan mereka, dengan memiliki logika yang tinggi dia bisa mendapatkan celah-celah fakta dari suatu argumen dan membuat itu menjadi serangan untuk mereka. Karena hal ini banyak dari perempuan yang menjauhinya.

Namun pada chapter pertama ini, kalian bisa melihat seorang Uzumaki Naruto tak berdaya dihadapan perempuan-perempuan di asramanya. semua logika Naruto itu hanya mempan pada perempuan Normal, sedangkan perempuan-perempuan di asramanya itu sudah tidak masuk dalam kategori itu, bahkan untuk gurunya yang mengurus asrama itu. Anko-sensei, dialah perempuan yang paling ingin dihindari oleh Naruto karena dia trauma akan sakit pantatnya. Benar-benar menakutkan. Hanya satu yang cukup normal yakni Yamanakan Ino.

Universe dan awal konflik ini aku mengambil dari suatu cerita tapi dengan banyak beberapa perubahan disana-sini, jadi pasti kalian ada yang familiar dengan ini. Tapi kalau tidak tahu, maaf juga aku tidak ada rencana untuk memberitahu kalian ahahaha.

aku juga beritahukan genre kedua dific ini adalah slice of life, jadi bagi yang belum terbiasa mungkin akan menemukan bahwa ini membosankan.

Cukup itu yang ingin aku sampaikan, ini balesan review non-login untuk chapter kemarin :

Guest : ok, terima kasih udah mau review

Erwin Smith : Um, pastinya! Haha, yah kalau ada konflik pasinya gak terlalu, kalau pihak ketiga, hmm gak tau ya haha, dilihat aja kedepannya. Hmm emang itu rencananya haha.

Oooh! Hidup NHL

Happy : ok, terima kasih udah mau review.

Ina : hahaha, emank dasyat sih yang namanya perempuan, tapi aku juga munafik kalau aku bilang tidak menyukai mereka semua haha. Thanks ya udah mau review.

Dinda : makasih. Hmm, chapter ini si Naruto udah ketemu, meskipun hanya sekilas. Chapter depan adalah penuh tentang cerita bagaimana Naruto bisa sampai bisa berhubungan dengan si Hinata. Terima kasih udah mau review.

Dinda : ok, thanks banget dan terima kasih udah mau review.

The last uchiha : Salam..

Haha, semoga aja untuk seterusnya masih bisa dibilang gitu. "Apa nanti Hinata bisa mengubah persepsi Naruto tentang wanita?"

Hmm, gimana ya... #malingin_muka

Mungkin aja. Terus ikuti ceritanya biar tahu nantinya haha.

Haha ini udah aku update, aku usahain gak lama untuk ngelanjutinnya. Terima kasih udah mau review.

.

Thanks semuanya yang sudah baca, review,fav, dan foll fic ini. Aku sangat menghargai semua itu dan itu merupakan bahan bakar untukku dalam melanjutkan setiap fic yang aku buat.

Silahkan berikan tanggapan kalian tentang chapter ini, apapun, kritikan, saran, semuanya akan saya terima.

.

Sampai jumpa dichapter depan.