"Lama tak bertemu... Seijuuro-kun,"
Satu hari di musim panas, sebelum penyisihan InterHigh, mereka bertemu kembali.
Pertemuan singkat, awal dari semuanya.
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Kuroko No Basuke belongs to Tadatoshi Fujimaki
MickyMin
Proudly Presents
.
.
.
.
.
.
Akashi Seijuuro tak pernah menduga, pun dengan Emperor Eyes miliknya, bahwa saat ini akan datang. Saat dimana dirinya bertemu dengan gadis dihadapannya ini. Saat dimana perasaannya bertanya, haruskah ia senang? Atau sedih? Bisakah sisi dirinya yang lain memberikan jawabannya?
"Lama tak bertemu... Seijuuro-kun," Ah, suaranya tak pernah berubah, Akashi tahu itu. Menyerah pada perasaan bukan ciri sang absolut. Meski begitu, kepala dan dadanya seakan sedang bermusuhan saat ini, membuat sisi lain dari dirinya terdengar dalam kepalanya.
Ah! Dia kembali? Gadismu
Ya, dia kembali.
Begitu? Lalu sekarang apa yang akan kau lakukan? Ah, tidak. Apa yang akan kita lakukan?
"Kau terlihat baik-baik saja, Sei-kun. Syukurlah,"
Suara itu menyadarkannya pada pikirannya. Dilepaskannya pelukan tersebut, membuat iris sewarna ruby itu menatap dalam manik bulan di hadapannya. Biarlah, saat ini seorang Akashi mengalah pada perasaannya. Sosok egois dalam dirinya tak bermasalah dengan itu. Biarlah, Akashi kembali terlihat lemah di hadapan gadis ini. Hanya dirinya tempat Akashi menempelkan kening mereka berdua.
"Kau pergi. Terlalu lama bagiku." Akashi berbisik tanpa mengalihkan tatapannya dari gadis dihadapannya. Senyum yang familiar terpantul dari manik rubynya, refleksi objek di hadapannya.
"Begitu? Maafkan aku." Tak kuasa Hinata menahan dirinya untuk membelai rambut sewarna crimson di hadapannya, pun dirinya tersenyum saat melihat tingkah lelaki di hadapannya yang terkesan manja. "Aku sudah mendengarnya. Tentang dirimu, tentang Seirin, dan tentang Winter-Cup tahun kemarin."
Akashi memejamkan matanya, masih dalam posisi kedua lengannya yang mengait pada tubuh mungil di hadapannya, dirinya hanya memberikan gumaman untuk menjawabnya.
Meski masih terasa sakit saat mengingatnya, setidaknya, setelah pertandingan itu banyak hal baik yang ia dapatkan.
"Aku kembali. Pada diriku yang sebenarnya."
Hinata tersenyum. Ya, benar. Akashi Seijuuro dihadapannya adalah Akashi yang ia kenal sejak pertama kali mereka bertemu. Tatapannya mengatakan hal tersebut.
Akashi menarik nafas, memejamkan matanya sejenak sebelum kembali membukanya hanya untuk mengalihkan pandangannya kepada hal lain. Seorang Akashi Seijuuro tak pernah melakukan ini pada siapapun, terlihat gugup dan tidak nyaman.
"Diriku yang lain membuat banyak kesalahan. Mungkin kau membenciku tapi—"
"Bagiku Sei-kun hanyalah satu. Entah seperti apa dirimu, Sei-kun tetaplah Sei-kun."
Ah, benar. Akashi memang tak pernah bisa melupakan gadis dihadapannya ini.
"Tapi... bisakah kau melepaskanku dulu?" Seperti biasa, gadis dihadapannya ini memang selalu gugup saat seperti ini.
.
.
.
Dari sekian banyak kemungkinan, Kuroko Tetsuya tak pernah memikirkan kemungkinan yang satu ini. Ya, dirinya memang ahli dalam membaca situasi, dalam hal apapun, dan menyusun kemungkinan yang terjadi. Tapi, sungguh, beribu kali ia memikirkan lagi saat itu, tak pernah terlintas dipikirannya bahwa hari ini ia akan kembali bertemu dengan gadis itu, Hinata. Ah, bukan hanya dia, tapi mereka, terutama Akashi.
"Tetsu-kun,"
Suara halus Momoi terdengar dari sebelahnya, membuatnya mengalihkan wajahnya, "Domo."
Tak jauh dari belakang Momoi, tampak makhluk-makhluk berbeda warna rambut datang menghampiri, terutama makhluk kuning tinggi yang terlihat tak bisa diam, "Kurokocchi!"
"Urusai, Kise!"
"Baka."
Meski terlihat biasa, Kuroko tahu, semuanya tampak terkejut. Mereka hanya menyembunyikannya, dan sialnya, di hadapan mereka saat ini Kuroko Tetsuya berdiri mengamati. Entah ikatan batin yang kuat, mereka kompak berdiri jauh dari dua orang yang menjadi objek mereka saat ini, tak berniat untuk mengganggu.
"Aomine-kun," Kuroko bersuara melihat manusia yang satu-satunya tak mengeluarkan suara padanya. Sebenarnya, Kuroko penasaran.
"Hm."
"Kau terlihat dekil hari ini. Apa kau tidak mandi?"
Hening.
Aomine terpaku.
Makhluk ini. Benar-benar
Suara tawa Satsuki terdengar, dengan tawa tertahan Kise seperti genderang perang bagi Aomine.
"Ne, Dai-chan, sudah kubilangkan, kau memang harus melakukan perawatan. Kehitamanmu itu sudah melewati batas."
Kise tak kuat. Perutnya terasa sakit.
"Aku tahu ini, Aomine. Kau tak pernah percaya ramalan dan sepertinya kau dikutuk, nanodayo."
Yang benar saja?!
"Mine-chin, payah."
Yang benar saja?!
"Berisik! Ada apa dengan kalian ini?!" Aomine geram, telunjuknya mengarah kearah Kuroko, "Dan kau, Tetsu, apa-apaan pertanyaan itu?! Tidak lucu!"
"Aku tidak melucu."
"Heee! Kau berpikir aku benar-benar tak mandi, hah?!"
"Kau terlihat seperti itu."
Suasana kembali hening setelah beberapa saat sampai Satsuki mencoba menyipitkan matanya, "Apa yang mereka bicarakan?"
"Percuma, Satsuki."
"Heee."
Aomine menarik nafas, sebelum melangkahkan kakinya menjauhi teman-temannya.
"Dai-chan!"
"Apa?" Pria dengan julukan ganguro tersebut membalikkan kepalanya, "Mereka butuh waktunya sendiri."
Mungkin Aomine Daiki adalah makhluk yang paling mirip dengan Kagami di dunia, dalam segala hal, terutama dalam sifat ketidakpedulian dan keegoisannya. Tapi, disamping itu, Kuroko tahu, Aomine adalah orang yang paling mengerti suasana.
Kuroko ikut melangkah bersama Aomine,"Aku juga ingin memberi salam padanya tapi, kurasa bukan saat ini."
"Semuanya ingin memberi salam, nanodayo."
Dan langkah-langkah lainnya yang meninggalkan Satsuki yang masih betah melihat objek bermeter jauh di depannya.
Hinata-chan...
.
.
.
"Jangan bercanda."
"Aku tidak bercanda, Sei-kun,"
Meski sudah tak lagi berpelukan, tapi jarak mereka saat ini masih terbilang dekat. Dan Hinata yakin, dengan jarak sedekat itu, ia tak lagi harus mengulang perkataannya.
"Kau tidak tahu apa yang kau katakan, Hinata."
Hinata tersenyum, "Tidak, Sei-kun. Aku tahu apa yang aku katakan."
Akashi mengepalkan tangannya. Meski tak menunjukkan emosi di wajahnya, tapi kepalan tangannya sudah terlihat jelas bahwa ada emosi yang tersalurkan disana. Dan Hinata bukan tidak melihat itu, ia hanya mencoba bersikap biasa.
Pria crimson itu mendecih, "Untuk apa...semua ini?"
Hinata menarik nafasnya dalam. Ya, akan ia katakan semuanya.
"Sei-kun, kau mungkin berpikir bahwa ini berhubungan dengan kejadian 'saat itu'. Meski begitu, ya, memang. Mungkin bisa dikatakan 'saat itu' adalah pemicunya. Tapi, aku memiliki alasan untuk semua ini."
Seijuro masih mendengarkan dengan cermat.
"Apa yang aku dengar tentang Winter-Cup tahun lalu, tentang Kuroko dan kalian semua, jujur, aku merasa lega. Aku senang semuanya terjadi. Kekalahan kalian, bolehkah aku berkata bahwa aku senang mendengarnya?" Hinata menyelipkan anak rambut yang menghalangi pandangannya.
"Aku senang karena, mungkin, semuanya berakhir seperti semula. Hubungan kalian, aku benar-benar senang. Saking senangnya, aku sampai tidak berani untuk muncul dihadapan kalian. Aku takut, mungkin jika aku muncul, malah akan ada masalah baru yang tercipta. Seperti itulah pikiranku saat itu. Aku tahu itu terdengar bodoh, tapi kejadian 'saat itu',tak ada yang tahu, apa yang kalian pikirkan tentangku karenanya."
"Kau tak tahu apa yang kami pikirkan jadi berhentilah membuat anggapan aneh."
"Hm. Aku tahu. Aku bodoh, bahkan hingga saat ini, sejujurnya, aku tak ingin kalian melihatku, terutama dirimu." Hinata tertawa mengejek dirinya sendiri, "Tapi dengan cara seperti tadi, mustahil kalian tak melihatku. Sejujurnya, saat bertemu denganmu tadi, aku berpikir mungkin kau akan menamparku. Tapi ternyata tidak,"
"Itukah alasannya kau meninggalkanku?"
"Meninggalkanmu adalah pilihan yang tidak harus kupilih, Sei-kun. Tapi, saat itu dalam kepalaku tak ada pilihan lain kecuali hal tersebut."
Akashi berdecih, "Aku merasa terhina."
Hinata buru-buru menggelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan anggapan buruk Akashi tentang dirinya sendiri. "Akulah yang salah disini. Aku berusaha pergi dari tanggung jawabku. Jika saat itu..." Hinata diam tak melanjutkan kata-katanya.
"Tapi, aku mempunyai sebuah janji, Sei-kun. Dan aku bersumpah untuk menepatinya. Sehingga, meski aku tak tahu kalian masih membenciku atau tidak, aku kembali. Hari ini, kau melihatku berdiri di hadapanmu."
"Meninggalkanku adalah salah satu caramu untuk menepati janjimu?"
Sumpah, Akashi berharap bahwa sebuah gelengan adalah jawabannya, bukannya melainkan anggukan bisu yang menampar atensinya.
"Janji itu, akan lebih mudah aku penuhi jika mulai saat ini..." Hinata menghentikan kalimatnya, kepalanya menunduk lebih dalam, "...kumohon Sei-kun mulai saat ini..." Akashi Seijuro mengalihkan pandangannya, berharap tak mendengar apapun perkataan dari gadis dihadapannya.
"...mulai saat ini anggap aku sebagai musuhmu."
Ya, orang terakhir yang tak ingin Akashi dengar mengucapkan hal tersebut, telah mengucapkannya.
.
.
.
"Em...Pelatih?"
"Ya, Hyuga-kun?"
"Ka-kau baik-baik saja?"
Aida Riko hanya memberikan senyum 'termanis' miliknya untuk menjawab Hyuga Junpei dihadapannya. Sementara, pria berkacamata itu hanya meneguk ludahnya sambil sesekali melirik kearah teman-temannya—tolong-aku-hadapi-wanita-ini!
"Ne, Kagami-kun,"
"Y-ya, Pelatih?"
"Ngomong-ngomong dimana Kuroko-kun ya? Kenapa tiba-tiba dia pergi tadi?" senyum masih menghias wajah Aida Riko dengan manisnya sementara para lelaki di belakangnya justru berdoa dalam hati agar hari ini bisa dilewati dengan mudah.
Damn you, Kuroko!
"Aku disini."
Bang!
Semua menatap kaget kearah manusia kurus berwajah datar dibelakang mereka.
"Darimana saja kau, Kuroko?!"
"Hah...untung kau cepat datang. Nyawa kami hampir terancam, kau tahu," ucap Koganei dengan pandangan berterimakasih miliknya.
"Bisa tidak munculnya biasa aja, Kuroko?"
"Ano.. aku tadi pergi untuk menyapa teman lama,"
Mendengar perkataan Kuroko tak ayal membuat semua orang yang berada disitu mengerjapkan mata, heran.
"Ah.. para Kiseki no Sedai? Bukankah kalian mulai sering bertemu akhir-akhir ini?" Hyuga membetulkan letak kacamatanya.
Jawaban tak terduga muncul menampar atensi saat Kuroko justru menggelengkan kepalanya, membuat kebingungan bertambah banyak diantara mereka.
Bukan Kiseki no Sedai? Lalu siapa lagi yang ia temui?
Alih-alih merasa bingung, otak pintar Aida Riko justru menebak kemungkinan yang terjadi dengan perkataan Kuroko barusan.
"Para pendatang baru itu, kau mengenal salah satunya?"
Kuroko mengangguk, membuat rombongan Seirin itu menghentikan langkah mereka menuju halte bus, "Manager mereka, dia temanku saat di SMP Teikou dulu."
Ah! Manager manis itu?
Entah kenapa beberapa dari mereka justru merasa kesal dengan Kuroko yang banyak dikenal oleh gadis-gadis manis yang eksis. Belumlah cukup Momoi Satsuki yang membuat Aida Riko mempunyai rival sejati, bertambah satu lagi makhluk manis peraih atensi. Seperti hidup sang bayangan memang terlalu mujur.
"Dan salah satu anggota tim basket Teikou dulu."
Oh.. seperti Momoi? Manajer?
Kedip.
Kedip.
Kedip.
Tunggu.
"Apa?!"
.
.
.
"Aaahh! Dimana Hinata-chan?!"
"Baka-Dobe, Naruto. Kau membuat telingaku pengang."
"Aaahh! Hinata-chan!"
"Naruto, berhentilah berteriak."
Uzumaki Naruto mengerucutkan bibirnya saat mendengar teguran baginya dari sang kapten, Gaara.
"Eh?"
"Ada apa, Kiba?"
Dilihatnya sang Point Guard itu memegang sebuah gelang yang awalnya tersangkut di jaketnya, "Ah, ini tersangkut dibajuku."
"Pfft—"
Shikamaru menghela nafas, "Berhenti, Naruto,"
"Kepa—" perkataannya terpotong saat melihat Gaara melotot kearahnya, "Maksudku, Pelatih, Kiba— kurasa dia sedikit menikung,"
"Mana mungkin, Dasar Rubah!"
"Bisa saja! Jomblo 17 tahun sepertimu, apa lagi yang mungkin!"
"Apa ini? Seorang yang ditolak berulang-ulang menceramahiku?!"
"A—Oi! Setidaknya aku pernah pacaran!"
"Oi Sasuke! Habisi partnermu ini, tolong!"
"He? Aku tidak kenal."
"Ap—Sasuke-teme!"
Shikamaru menarik nafas. Benar 'kan, anak-anak didiknya memang tak ada bedanya dengan segerombolan anak tk. Satu-satunya yang bisa membantunya mengatasi para pembuat onar yang bikin telinga pengang ini hanya gadis mungil yang saat ini sedang dicari keberadaannya.
DukDukDuk
Atensi Shikamaru teralihkan saat sebuah bola basket menggelinding kearah mereka, dan demi tuhan! Kiba dan Naruto masih membuat backsound bertengkar milik mereka.
Gaara yang melihatnya pun berisiniatif untuk mengambil bola tersebut saat dirasakannya kedatangan beberapa orang yang menuju kearah mereka.
"Ah, maaf bola—"
Atmosfir yang berubah bahkan bisa membuat adu mulut Naruto-Kiba berhenti sejenak hanya untuk melihat kedatangan gerombolan di dekat mereka. Ayolah siapa yang tak mengenal anak-anak ini? Membuat Naruto menampakkan seringainya, bahkan Shikamaru yang tersenyum penuh arti.
"Seirin, ya?"
"Oh? Konoha?" Hyuga Junpei tak kuasa menahan senyumnya saat melihat bola basket milik mereka menggelinding kearah kumpulan orang-orang tak terduga, "Aku kira kita akan bertemu saat InterHigh, tapi ternyata lebih cepat ya,"
"Bola basket ini milik kalian?" Gaara mengacungkan bola basket yang dipegang olehnya lalu melemparnya kearah Tim Seirin yang diterima dengan mulus oleh Izuki.
"Nice pass!"
"Kurasa kalian harus menjaga bolanya baik-baik," Shikamaru tersenyum penuh arti, "Kalau sudah direbut, bisa bahaya, loh!"
Atmosfir Tim Seirin berubah total. Raut muka mereka seakan mencerminkan keganasan dan ketidaksabaran, terutama lelaki berambut merah, Kagami Taiga. Kagami menyeringai saat mendengar perkataan Shikamaru, Apa ini? Deklarasi Perang? Menarik!
"Jangan bercanda. Kami ini tidak sebaik yang terlihat sampai memberikannya cuma-cuma." Agaknya Hyuga berkacamata satu itu terpancing dengan perkataan pelatih Konoha yang berkuncir aneh itu. Ya, mau bagaimana lagi, pernyataan seperti itu memang menarik untuk dijawab kan?
Baru saja prakata hendak terlontar kembali saat sebuah suara merdu menyapa gendang telinga para manusia yang berdiri disana, "Minna, maafkan aku,"
"Hinata-chan!" ya, itu Naruto, sudah tertebak, "Kami mencarimu, loh,"
"Ah, Ma-maafkan aku,"
Cantiknya...
Entah seperti apa, tapi mari kita percayai bahwa Aida Riko memang memiliki mata batin yang mampu membaca pikiran anak-anak didiknya tersebut. Ya, kurang lebih seperti itulah, pikiran para anak didiknya, membuatnya terkadang ingin membuat mereka lari fartlek di gunung daerah Kanagawa tempat mereka berlatih dulu.
Bocah-bocah ini! Apa-apaan intimidasi tadi kalau sekarang kalah sama yang bening, hah!
"Eh?" agaknya Hinata tersadar saat merasakan kumpulan orang yang memperhatikan dirinya, "SMA Seirin, kah? Senang bertemu kalian," badannya membungkuk, memberi salam, "dan lama tidak bertemu, Kuroko-kun,"
Tak ada yang menampilkan wajah kaget, dari Seirin maupun Konoha. Sepertinya mereka sudah mengerti bahwa Kuroko dan Hinata saling mengenal, meski begitu, ntah kenapa atmosfer yang tadi sedikit mengendur kembali mengencang kembali.
"Lama tidak bertemu, Hinata-san,"
"Aku sudah mendengarnya, loh. Menang dari melawan Kiseki no Sedai, semangatmu memang tak pernah berubah." Senyum terpatri di wajah ayu milik Hinata.
"Terima Kasih," pun pujian itu masih dijawab Kuroko dengan wajah datar.
"Tapi..." Hinata sedikit memiringkan kepalanya, meski senyuman terpatri diwajah manisnya, tapi hal itu justru sedikit menaikkan atmosfir yang tadi sudah naik, "Kau tidak melupakanku, kan? Aku ini mengenalmu dengan baik, Kuroko-kun,"
Pria biru itu hanya terdiam dengan tatapan yang sulit diartikan—tidak sedatar biasanya tapi tetap menunjukkan perubahan emosi—saat hendak menjawab gadis dihadapannya, "Kurasa ada beberapa hal yang harus kita bicarakan juga, Hinata-san,"
"Begitu? Kalau begitu, apa kau keberatan untuk bertemu denganku besok di sekolahku?" masih dengan senyuman diwajahnya saat gadis itu memiringkan kepalanya hingga rekan satu timnya semua terlihat dengan senyuman penuh arti, "Tak apa membawa teman-temanmu juga. Kurasa kita bisa melakukan sesuatu sambil mengobrol."
Mengerti dengan maksud tersirat Hinata, Kuroko justru tersenyum dan memiringkan badannya menuju ke rekan-rekan satu timnya, wajah mereka tak ada bedanya dengan wajah tim Konoha, "Kurasa mereka juga tak keberatan."
"Baiklah," Kali ini Shikamaru yang bersuara, "Tak ada salahnya saling mengenal, iya kan?," dan diakhiri dengan senyuman—seringai—milik pelatih Konoha tersebut.
"Oh," Hyuga Junpei memutar bola ditangannya dengan jarinya, "Akan sangat tidak sopan bila kami tidak menerima ajakan seperti itu," seringai andalannya menghias wajahnya.
Aida Riko tidak bisa untuk tidak ikut merasa bersemangat saat melihat anak-anak didiknya merasa terdorong dengan ajakan latih tanding secara tidak langsung tersebut. Manik coklatnya melihat kearah Hinata, dan seketika sebuah senyuman tertarik terlintas di wajahnya, "Ne, kalau begitu kami akan datang tepat waktu."
Menarik! Gadis ini tau bagaimana caranya bersikap secara berkelas!
"Kalau begitu, kurasa, kami harus pamit." Ucap Hinata, "Sebagai tuan rumah yang menyambut tamu pemenang Winter-Cup, ada banyak yang harus disiapkan, bukan?"
"Ya." Kuroko membalas.
Saat hendak melangkah menjauh, Kiba teringat akan sesuatu yang digenggamnya. Kakinya berbalik melangkah kearah anggota Seirin—lebih tepatnya Riko—, yang membuat tatapan bertanya beberapa pasang mata tersebut.
"Maaf, tapi, apa ini milikmu?" tangannya mengangsurkan sebuah gelang manik-manik yang beberapa saat lalu ditemukannya menyangkut di jaket olahraga miliknya. Sontak, Riko yang terlonjak dari rasa kagetnya saat melihat pemuda yang tadi pagi menabraknya ternyata menghampirinya, menjawab dengan gelagapan dan kaget.
"A—ah, ya, ini milikku," tangan putihnya mengambil gelang tersebut, "Terima kasih."
Kiba menggeleng, "Aku seharusnya meminta maaf. Gelang itu tersangkut saat tadi aku menabrakmu." Lelaki berambut coklat itu membungkukkan badannya lalu berlalu mengikuti rekan-rekannya yang juga berhenti menunggunya.
Baru beberapa langkah Kiba menjauh, langkahnya berhenti, kepalanya menengok sekilas kearah belakang, "Kau beruntung kita bertemu bukan di lapangan. Kalau boleh jujur, aku tidak sebaik ini, loh." Dan seringai menyebalkan-tapi-menarik lainnya yang diperlihatkan oleh anggota Konoha kesekian kalinya.
Pukulan yang kesekian kalinya dari Tim Konoha membuat Kagami Taiga tertawa sambil mengusap rambutnya ke belakang, "Hah! Apa-apaan itu! Baiklah, aku akui," seringai Kagami membuat anggota lain terbakar oleh hasrat yang berapi-api, "Mereka memang menarik."
"Aa," Riko yang baru saja sadar dari ancaman secara tidak langsung tersebut justru menyeringai—yang sebenarnya membuat anak didiknya sedikit ngeri—"Haa! Bocah sepertinya harus lebih banyak belajar kalau mau mengatakan itu padaku."
.
.
.
"Hinata," panggil serempak anggota Tim Konoha saat merasa ada yang tidak beres dengan manajer mereka.
"Y—ya?"
Helaan nafas bersamaan terdenar saat dilihatnya Hinata menjawab dengan gagap dan tangan yang—sebenarnya—tidak berhenti bergetar sejak mereka meninggalkan Tim Seirin beberapa saat lalu.
Yang benar saja, mau menggertak tapi gemetaran begini?!
"Seharusnya kau tidak perlu melakukannya." Ucap Sasuke, Power Forward tampan itu meminum kopi dingin yang beberapa saat lalu dibelinya dari vending machine.
"Ya?"
"Menggertak seperti tadi." Gaara menambahkan sambil mengacungkan tangan Hinata yang bergetar, "Kau seperti berada di musim dingin setelahnya," sambil menunjukkan tangan Hinata yang tak berhenti bergetar.
Hinata memanyunkan bibirnya.
"Lucu juga." Kiba sedikit berteriak, "Seorang Hinata menggertak seperti tadi, kau belajar darimana pfft—"
"Kau seperti anak ayam yang kehilangan induknya pfft—" parahnya Naruto menambahkan.
Ya, manyunan bibir Hinata ditambah kepala yang menunduk sekarang.
"Oi, Minna! Jangan menggoda Hinata-chan terus! Dan kau, Naruto, Hinata-chan tidak seperti anak ayam, tahu!" Ah, Lee memang yang terbaik dalam membelanya, "Hinata-chan lebih mirip anak anjing yang kedinginan tadi." Ah, tidak juga ternyata.
"Sudahlah," Shikamaru bersuara, "Aku juga sedikit kaget tadi kau bisa melakukan itu, Hinata. Yah, tapi ada bagusnya, kalian lihat ekspresi mereka tadi?"
Senyuman puas muncul dimasing-masing wajah pemain Konoha.
"Gara-gara Hinata kita juga jadi terbawa semangat. Dan sepertinya, mereka juga merasakannya." Shikamaru tersenyum, "Ah.. tinggal pikirkan saja buat besok."
"Yosh! Aku akan berusaha!" Lee dan semangat apinya.
"Ngomong-ngomong, Hinata-chan," Hinata mengalihkan pandangannya saat Naruto bersuara, "Kuroko Tetsuya itu...temanmu, kan?"
"Ah..itu..."
"Jadi, kau berasal dari SMP Teikou juga?"
Hinata hanya mengangguk sebagai jawabannya.
"Kalau begitu, Akashi Seijuuro?"
Sontak, Hinata menghentikan langkahnya, membuat teman-temannya mengernyit kebingungan. Meski begitu, mereka tidak bodoh untuk menebak bahwa ada sesuatu diantara Hinata dan Akashi Seijuuro, kapten Rakuzan.
"Bisakah kau ceritakan pada kami?" Gaara bersuara, membuat Hinata memalingkan wajah kearahnya, "Maksudku, kita akan melawan mereka, bukan? Akan lebih mudah jika mengetahui seperti apa mereka."
Serentak para anggota dan Shikamaru memandang kearah Hinata.
Akashi Seijuuro.
Nama yang ingin Hinata lupakan sejenak, setidaknya untuk saat ini, meski ia tahu ia tidak benar-benar bisa melupakan lelaki tersebut. Hinata menarik nafasnya guna menetralkan gemuruh di dadanya. Pembicaraannya dengan Akashi beberapa waktu lalu, jujur, membuatnya ingin terisak saat ini juga. Jika tidak memikirkan tanggung jawabnya kepada rekan-rekannya, mungkin saat ini Hinata telah berada di apartemennya dengan bantal yang menutupi wajahnya yang sembab.
"Dan aku yakin ini berhubungan dengan kau tiba-tiba menghilang tadi."
Ah, benar. Menyembunyikan sesuatu dari seorang Nara Shikamaru adalah sebuah kesalahan. Otaknya terlalu pintar untuk sekedar mengabaikan keadaan. Hinata kembali menarik nafas. Oh ya ampun, adakah yang bisa memberitahunya sudah berapa kali ia melakukan hal tersebut seharian ini?
Cepat atau lambat, Hinata memang harus menceritakannya, kan? Lagipula, mereka teman-temannya. Ia harus mempercayainya.
"Aku akan menceritakannya. Tapi, mungkin lebih baik saat di gym. Sekarang, sambil berlatih," Hinata memandang teman-temannya dengan senyum, "Melawan Seirin besok tidak bisa tanpa persiapan, bukan?"
Ya, benar. Seirin. Juara Winter-Cup tahun lalu. Tim basket terkuat di Jepang.
"Yosh! Ayo!"
"Yosh!"
.
.
.
BRAK!
"S—sei-chan..."
"O—oi, Akashi..."
Hayama dan Mibuchi memandang kaget saat melihat seorang Akashi Seijuuro meninju lemari di hadapannya. Pertama kalinya, seorang Akashi yang tak bisa mengontrol emosinya, jauh lebih mengejutkan dibanding melihat Kagami Taiga memasuki zone hingga dua kali.
Bukan tak ada yang sadar saat melihat Akashi datang—yang sebelumnya tiba-tiba pergi—dengan aura yang mengintimidasi dan menindas. Meski warna matanya masih tetap sama, itu berarti Akashi yang lain masih berada di dalam dirinya, aura kemarahan jelas terpancar hanya dari sorot matanya. Mereka dan yang lainnya, bahkan pelatih mereka, hanya mencoba menahan diri saat melihat Akashi pun menahan dirinya.
Sialnya, saat sampai di penginapan tempat mereka tinggal sementara—Rakuzan harus mengurus beberapa hal sehingga mereka akan pulang besok pagi ke Kyoto untuk persiapan penyisihan InterHigh dua minggu lagi—Mibuchi dan Hayama berada dalam satu kamar dengan Akashi. Dan seperti yang sudah bisa ditebak, Akashi tidak segan-segan melampiaskan kekesalannya yang ia tahan sedari tadi pada lemari mengkilap di penginapan kelas menengah tersebut.
"Mibuchi, Hayama," dua orang yang dipanggil terkesiap ketika sebelumnya terkaget-kaget melihat seorang Akashi tak bisa mengontrol emosinya, "Maafkan aku, tapi bisakah kalian meninggalkanku sendiri?" dengan badan yang membelakangi keduanya, Akashi meminta.
"A—aa,"
Tak menunggu lama sampai kedua orang itu keluar dan suara pintu ditutup menandakan kesendiriannya di ruangan tersebut.
Setelahnya, Akashi menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur dengan kepala tertunduk. Meresapi keheningan dengan pikirannya yang berputar pada satu nama. Hinata.
Kenapa?
Kenapa? Bukankah semuanya sudah baik-baik saja? Teman, kekuasaan, sekolah, diriku yang dulu. Semuanya kembali. Kenapa hanya dia?
Bukankah dia sudah mengatakannya?
"Tapi, aku mempunyai sebuah janji, Sei-kun. Dan aku bersumpah untuk menepatinya."
Ah, kau benar. Janji sialan. Apa yang harus kulakukan?
Gadismu. Kau yang mengerti tentangnya, bukan?
"Hinata." Suara Akashi menggeram. Tatapan mata sewarna ruby itu menyayu saat sebuah nama terucap.
.
.
.
"Apa? Jadi, maksudmu dia adalah kekasih Akashi?!" Kagami membuat gym luas itu terasa sempit karena suaranya yang membahana. Meski begitu, tak ada satupun yang terganggu karena terlalu kaget dengan apa yang dikatakan Kuroko.
"Aku tidak bilang seperti itu, Kagami-kun."
"Hah? Tapi, maksud dari kalimatmu secara tidak langsung—"
"Tidak," Riko memotong perkataan Kagami, telunjuknya ia taruh didagu dengan pose berpikir andalannya, "Kuroko hanya bilang bahwa mereka sangat dekat, itu tidak mengartikan bahwa mereka berpacaran, Kagami-kun."
"A-ah, sepertinya aku tidak mengerti." Izuki menggaruk belakang kepalanya.
"Hubungan mereka tidak seperti teman sepermainan, seperti Momoi-san dan Aomine-kun. Tapi, kurasa juga tidak sesederhana teman biasanya. Akashi-kun selalu ada dimana Hinata-san berada, begitu sebaliknya. Tapi, tidak ada dari keduanya yang mengatakan bahwa mereka berpacaran."
"Aku tidak tahu ada hubungan seperti itu." Hyuga menyipitkan matanya.
("Benar tidak tahu, atau pura-pura tak tahu?")
("Izuki, diamlah!")
"Tentu saja ada." Riko menjawabnya, mengabaikan adu mulut Izuki dan Hyuga, "Tapi daripada itu, kau bilang, Hinata juga membantu di dalam tim basket dulu?"
"Hm." Anggukan dari Kuroko kembali menarik atensi mereka.
"Kalau begitu, bukankah kemampuannya sama seperti Momoi? Apa dia seorang manajer juga?"
Kuroko diam sejenak sebelum menjawab, "Aku tidak tahu, kenapa ia tidak menjadi manajer, meski ia juga membantu sebanyak dan sesering Momoi-san. Tapi, soal kemampuan," Kuroko terdiam sejenak, memperhatikan wajah teman-temannya, "Agak sedikit berbeda."
"Berbeda?"
"Ya."
"Seperti apa?" Rasa-rasanya Kagami tak sabar dibanding yang lainnya. Yah, wajar saja. Mendapat sambutan dari Konoha seperti tadi justru membangkitkan semangatnya sampai ke level yang lumayan tinggi.
"Itu sedikit sulit dijelaskan. Kurasa akan lebih baik jika kalian melihatnya langsung besok. Tapi..." Ya, dan lagi-lagi Kuroko menunda ucapannya sendiri. Kali ini manik birunya memandang serius keseluruh teman-teman satu timnya dan juga pelatihnya, "Yang jelas, jika ia menjadi pemain, akan lebih menyusahkan dibanding Momoi-san."
.
.
.
"Moshi-moshi, Papa?"
'Araa! Riko-tan! Tumben kau meneleponku saat sedang latihan, apa kau kangen, hm anakku, ya kan?'
"Papa, berhenti mengatakan yang tidak penting..."
'Are? Itu kasar sekali... Papamu ini dengan sabar menunggu kepulanganmu, tahu. Kau tidak tahu perasaan seorang ayah yang rindu anaknya?'
"Aaa, maafkan aku, aku hanya ingin bertanya sesuatu."
'Bertanya apa? Tumben sekali sampai menelepon,'
"Papa, apa kau mengenal seorang bernama Nara?"
Hening setelah Riko mengajukan pertanyaannya, membuat gadis berambut coklat itu menarik telponnya hanya untuk memastikan sambungannya masih tersambung dengan benar.
"Papa?"
'Aa, Riko-tan, darimana kau tahu tentang nama itu?'
Ah, jadi Papa-nya tahu, ya
"Jadi, papa mengetahuinya? Sulit menceritakannya, tapi seseorang bernama itu...aku sudah bertemu dengannya. Papa, aku merasa dia sedikit berbeda."
'Aku akan memberitahunya. Lebih baik saat dirumah. Cukup sulit menceritakannya.'
"Ah, baiklah,"
Tutt tutt
Apa ini? Setelah pertanyaan tadi nada suara papa-nya terdengar lebih serius. Riko tersenyum, meski terlihat konyol, saat seperti ini papa-nya lah yang bisa diandalkan. Jika, papa-nya mengetahui suatu hal, sudah pasti hal tersebut sesuatu yang tak bisa diremehkan, bukan?
Lelaki Nara itu... memang membuatnya penasaran.
.
.
.
"...mulai saat ini anggap aku sebagai musuhmu."
"Jangan bercanda!"
Hinata menutup matanya saat melihat seorang Akashi berteriak dihadapannya, kepadanya.
Pertama kali dalam hidupnya, melihat seorang Akashi Seijuuro berteriak dengan mata membelalak membuatnya ketakutan. Tangannya bahkan terlalu gemetar hanya untuk menyisihkan anak rambut yang menghalangi pandangannya.
"Aku tidak bercanda, Sei-kun." Hinata mencoba mengangkat kepalanya yang semula tertunduk saat Akashi berteriak kearahnya, "Aku tak pernah bercanda pada hal seserius ini, kau tahu itu."
Akashi maju lebih dekat, seraya mencengkram pundak Hinata, matanya mencari keraguan di dalam manik bulan tersebut. Nihil. Hinata benar-benar memintanya menjadi...musuhnya?
"Jangan meminta sesuatu yang tidak mungkin, Hinata." Akashi kembali dengan nada suaranya yang tenang pada Hinata, "Aku kembali pada diriku yang sebenarnya, teman-teman, semuanya berjalan dengan baik kembali."
Hinata menutup matanya saat melihat pandangan Akashi yang memohon, pandangan yang takkan pernah bisa ia tolak. Jika ia membulatkan tekadnya, maka pandangan itulah yang harus ia hindari saat ini. Pertahanannya pada tekadnya adalah yang paling utama.
"Kenapa kau tidak datang saja padaku dan semuanya akan berjalan seperti dulu?" Akashi mulai meminta, "Hinata,"
Seandainya aku bisa, Sei-kun...
"Janji tetaplah janji, Sei-kun. Kau yang mengatakan itu padaku dulu. Kau membenci seseorang yang tak menepati janji. Jika aku mengingkari janji ini, itu berarti kau membenciku."
Akashi menempelkan dahinya dengan Hinata, "Akan aku tarik semua kata-kataku. Kau hanya tinggal datang padaku dan aku akan melupakan semuanya. Semua yang terjadi saat itu—"
"Akashi Seijuuro-kun!"
Jika ada orang yang berani membentak dan memotong ucapan Akashi, itu berarti hanya dua orang, ayahnya dan gadis dihadapannya ini. Akashi semakin mengeratkan pelukannya pada Hinata.
"Mana mungkin." Akashi memejamkan matanya, "Menjadi musuhku berarti aku harus membencimu. Kau membuatku gila." Akashi terus memejamkan matanya dengan paksa sampai dirasakannya sebuah belaian lembut di kepalanya, belaian yang mirip dengan milik ibunya.
"Tidak. Sei-kun, apa kau membenci teman-temanmu?" Akashi membuka matanya, memandang kearah bola mata seteduh cahaya rembulan, "Mereka dulu musuhmu, bukan? Tapi, meski itu dirimu yang lain, kau tak pernah membenci mereka."
Gadis ini... tak perlu memberitahunya untuk bisa mengetahui segala hal tentang Akashi. Tak ada yang mungkin dirahasiakan oleh Akashi dari gadis di depannya, dirinya bahkan seperti buku bergambar yang terbuka setiap halamannya. Terlalu jelas.
Akashi melepaskan pelukannya pada gadis dihadapannya, sontak membuat Hinata bingung. Kakinya berjalan menjauhi Hinata. Untuk sekarang, ia butuh berpikir. Tapi, berada disamping gadis itu dengan permintaan seperti tadi membuat seorang Akashi buntu.
"Sei-kun!" seruan itu membuat Akashi menghentikan langkahnya, tak sanggup membalik, telinganya terpasang dengan siaga, "Jika kau tak menganggapku sebagai musuhmu, tak apa. Tapi, itu berarti memberiku hanya satu pilihan. Jika bukan kau...itu berarti aku. Kau mengerti maksudku, bukan?"
Punggung Akashi Seijuuro terlihat tegang sesaat sebelum lelaki tersebut kembali melangkah. Pun, meski begitu, sebuah gumaman dari bibir gadis itu masih terdengar jelas di telinga sang pemilik Emperor Eyes.
"Harus ada yang memilih, Sei-kun. Jika bukan kau yang menganggapku musuhmu, maka aku yang harus menganggapmu musuh." Hinata tersenyum getir, "Sayangnya, aku tak bisa melakukannya."
TUBERKULOSIS
HAI MINNAAA! BERJUMPA LAGI DENGAN SAYA^^ SEBELUMNYA SAYA MAU MINTA MAAF KARENA TELAH MENELANTARKAN FIC INI SELAMA HAMPIR DUA TAHUN T.T
SERIUS BUKAN MAKSUD SEPERTI ITU, KEHIDUPAN SEJAK SMA MEMANG MENYITA BANYAK PERHATIAN YAH^^ JADI SAYA SEMPAT LUPA KALO SAYA MEMPUNYAI HUTANG FIC INI HUHU. SEKARANG SAYA SUDAH DI TAHUN AKHIR SMA DAN SEDIKIT MENYESAL JUGA KENAPA NGELANJUTIN FIC ININYA PAS SEKARANG KETIKA LAGI SIBUK-SIBUKNYA^^ AT LEAST, MAAFKAN LAGI SAYA TIDAK BISA MEMBERIKAN JANJI KAPAN AKAN SAYA APDET KEMBALI TAPI AKAN SAYA USAHAKAN DALAM SETAHUN INI SAYA AKAN PUBLISH 2-3 CHAP. SAYA JUGA MOHON PENGERTIAN DAN DOA TEMAN2 SEKALIAN^^ TAHUN TERAKHIR INI BENER2 PENENTUAN BUAT SAYA DAN KELUARGA SAYA. SAYA MOHON DOA SEBESAR2YA DARI PEMBACA SEKALIAN.
SELAIN ITU, JIKA ADA YANG MENYADARI, KARAKTER DI FIC INI SAYA GANTI. TIDAK HANYA AKASHI DAN HINATA, TAPI JUGA GoM, KENAPA? KARENA NANTI DI FIC INI SEMUA KARAKTER YANG SAYA CANTUMKANLAH YANG AKAN MEMILIKI PERANAN BESAR. AIDA RIKO DAN SHIKAMARU JUGA^^ UNTUK PAIRING TIDAK MASALAH, SAYA AKAN TETAP BERPEGANG TEGUH PADA AKASHIxHINATA, HANYA SAJA SAYA TIDAK MAU MELULU MEMBAHAS TENTANG CERITA ROMANSA PACARAN, SEPERTI GENRENYA, HARUS ADA FRIENDSHIP DI DALAMNYA. DAN SAYA JUGA SUDAH MENONTON SEMUA SERI KNB, YANG MEMBUAT SAYA SEDIKIT TAKJUB DAN GROGI, APAKAH SAYA BISA MEMBUAT FIC YANG SEBAGUS DENGAN CERITA ASLINYA.. TAPI SAYA AKAN BERUSAHA, AT LEAST, SAYA BUTUH DUKUNGAN DARI READER SEMUA UNTUK TERUS MENDUKUNG CERITA INI SAMPAI TAMAT, SEBAGAI SUPPORT BAGI SAYA PULA UNTUK MENERUSKANNYA^^ OH YA, KAMUS BASKET AKAN MULAI MUNCUL KEMBALI MINGGU DEPAN, JD BAGI PEMBACA YANG TIDAK TERLALU PAHAM DENGAN OLAHRAGA SATU INI, TDK USAH KHAWATIR^^ SAYA AKAN MENUNTUNNYA DENGAN KAMU-KAMUS BASKET NANTI. MESKI SAYA MASIH BELAJAR, JD TOLONG JIKA ADA KESALAHAN, DIKOREKSI PULA YA^^
DUKUNGAN DALAM BENTUK REVIEW DAN STORY ATAUPUN FAV SANGAT DITUNGGU^^ TERIMA KASIH BANYAK^^
