mosaics © sachimalff
untuk pairing yang selalu menjadi OTP-ku di manapun mereka berada,
Oh Sehun – Lu Han
yaoi – manxman – no beta-ed
.
.
.
Kris menggeram rendah. Amarahnya sudah membludak, tak tertahankan. Ini sudah keberapa kali dalam bulan-bulan terakhir ini Luhan mengambil tindakan diluar akal sehatnya—lagi-lagi karena Sehun.
Bulan lalu ketika Sehun depresi tatkala manager hyung memberitahukan padanya bahwa bagian dance Sehun dan Jongin akan mendapat porsi masing-masing (di mana pasti Jongin akan mendapat yang pertama, tentu saja), ketika Sehun minggat dari dorm, Luhan langsung pergi mencarinya dalam keadaan basah, karena memang di luar sedang hujan deras. Luhan, yang kala itu sedang sakit, memaksa berlarian di jalanan, meneriaki nama Sehun dengan lantang, tak peduli tentang apapun kecuali Sehun.
Kris tahu, ia paham betul bagaimana Luhan mencintai Sehun begitu pula sebaliknya. Namun, Sehun dengan umurnya yang jauh terpaut di bawah Luhan, dengan emosi yang sedang bergejolak, labil, atau apapun itu—tak pernah bertindak dengan otak. Selalu lari dari masalah, menjauh dari semuanya, membuat Luhan yang akhirnya membujuknya pulang dengan kelelahan yang sangat jelas.
Sehun memang yang termuda, semua bisa memaklumi.
Namun tidak kali ini. Setidaknya Kris takkan memberinya maaf dengan mudah.
Karena—demi Tuhan! Luhan adalah pemuda yang—
—Kris cintai.
Persetan dengan fakta bahwa ia bukan siapa-siapa. Ia bukan seseorang yang berada di tahta tertinggi di hati Luhan. Hah. Siapa, sih, Kris itu? Hanya teman—tak lebih, tak kurang. Kris bukan Sehun yang bisa membuat Luhan tersenyum cerah. Kris bukan pemuda yang selalu diberi kata sayang dan cinta oleh Luhan. Kris hanya—teman.
Namun melihat Luhan yang selalu kerepotan mengatasi ketidakbecusan Sehun dalam mengatasi emosinya sendiri, terkadang membuat Kris murka. Luhan tidak seharusnya seperti itu. Luhan harusnya diayomi, bukan mengayomi. Bukan melindungi.
Kris ragu—apakah Luhan begitu penting bagi Sehun dibandingkan dengan karirnya saat ini? Apakah Sehun mencintai Luhan sebesar pemuda China itu mencintai Luhan? Atau bahkan—apakah besar rasa cinta Sehun setimpal dengan cinta Luhan padanya?
Kris tak tahu. Dan—persetan, dengan semua itu.
Yang Kris tahu, ia takkan bisa memaafkan Sehun jika terjadi apa-apa dengan Luhan.
Kris berlari seolah ia akan kehilangan Luhan jika ia tak menemukannya secepat mungkin, bersama dengan Jongin yang bersikeras menemaninya berlarian mengejar Luhan. Joonmyeun mengikutinya dari belakang sana—mengendarai motor dengan Yixing. Chen langsung menelepon agensi, sementara Baekhyun dan yang lain masih di area fansigning. Terakhir kali Kris lihat, Baekhyun sedang menangis di pelukan Kyungsoo. Baekhyun pikir semua ini salahnya—padahal bukan.
Entah kenapa, Kris mengira bahwa semua ini bukan salah Baekhyun. Mungkin sesuatu antara Jongin dan Sehun—lagi. Karena, Kris lebih dari yakin dengan nada Jongin yang melemah dan tatapan menyesalnya, ada sesuatu di antara mereka berdua.
Kris berlari, memaksa kaki panjangnya untuk menyusuri jalan-jalan kecil di sana. Ia kadang meneriaki Jongin untuk mencari di lorong sempit lain, sembari meneriaki nama Luhan.
Dan ketika Kris sampai pada titik di mana ia merasa tempurung lututnya serasa mau pecah karena terus dipaksa berlari—entah sudah berapa kilo, atau berapa puluh, ia tak tahu.
Ada kehendak yang kuat di mana ia harus berlari ke kiri ketika ia berada di persimpangan. Ia berdoa dalam hati, hampir menangis, menyerah dan dalam keadaan paling lemah. Ia memohon pada Tuhan, untuk membantunya menemukan Luhan. Menyedihkan mengetahui bahwa Kris bukan orang religius, namun ia merasa lemah.
Lalu kakinya terjajak di tanah kembali, derap langkahnya menggema dalam jalan kecil itu.
Dan Kris tak pernah merasa seremuk itu ketika ia mendengar—
"To...long—ja ... jangan. Jangan sentuh! Tidak! Tolong!"
—suara Luhan. Kris mematung. Jantungnya serasa merosot sampai perut.
"Kau duluan."
Mata Kris membulat ketika ia mendengar sayup-sayup suara pria terkekeh, lalu kemudian suara resleting celana terbuka.
Lalu Luhan berteriak. Suaranya sampai parau, menyayat hari Kris.
Rahang si pemuda Wu mengeras sempurna, tangannya terkepa erat. Kakinya kembali menjejak tanah, berlari secepat mungkin, mengikuti suara kekehan bejat dan teriakan memilukan Luhan.
Lalu ia sampai di sana, sebuah lorong yang sangat sempit, gelap, pengap.
Matanya menggelap karena amarah melihat tiga orang yang membelakanginya, sedang mengerubungi Luhan, satu di antaranya sudah memelorotkan celana—beserta celana dalamnya—sampai ke lutut, berdiri di depan tubuh tak berdaya Luhan yang sedang terbaring lemah dengan keadaa mengenaskan, babak belur di mana-mana, dan ditambah satu sayatan kecil di pipi kanannya.
"To—long..."
Kris berlari menerjang salah satu di antaranya, memukul tinjunya asal, napasnya menggeram seperti anjing yang sedang mengoyak mangsanya.
"Bangsat! Mati saja, kau! Mati!" aumnya pada ketiganya. Tinjunya terlempar asal, menghajar ketiganya langsung.
"Iblis seperti kalian akan mati! Bedebah! Bajingan!"
Pukul—pukul—pukul sejauh Kris sanggup memukul.
Ia tak bisa mendengar apapun, bahkan ketika sudah berapa kali ia meninju ketika pemuda bejat di sana, suara yang mirip dengan suara Jongin datang dari belakang, mencoba membantunya.
Luhan terkapar.
Matanya tertutup menahan tangis. Ia tak mau repot-repot mengancingkan kembali celananya yang telah terbuka, atau memakai bajunya kembali seperti semula.
Ia berteriak pilu, memohon naas seperti, "jangan! Jangan sentuh! Pergi! Tolong!" –dan jeritan yang lain.
Saat ketika Kris dan Jongin mampu melumpuhkan ketiganya, saat itu pula Chanyeol, Chen, dan Tao datang—entah bagaimana. Chanyeol dan Tao berusaha mencekal kedua pemuda yang lain, dengan Jongin yang memberikan tinju terakhirnya untuk pemuda yang hampir memperkosa Luhan tadi.
Chen langsung menelepon agensi dan Joonmyeun.
Lalu Kris mematung.
Matanya sembab karena melihat keadaan—orang yang ia cintai, begitu mengenaskan. Luhan merintih, memohon, mencoba menendang udara dengan kaki kecilnya.
Kris berjalan mendekat, lalu berjongkok. Tangannya terulur untuk mengusap wajah Luhan yang sudah basah karena air mata. Namun—
"Jangan sentuh! Tolong! Pergi!" pekik Luhan, menolak membuka mata. Ekspresi wajahnya perpaduan antara ketakutan dan jijik. "Tolong! Jangan!"
Kris tak bisa lebih hancur mendengarnya.
"Tolong aku! Jangan!"
Dan tanpa aba-aba, Kris memeluk Luhan erat, menolak rontaan Luhan dan jeritan pilunya. Ia mendekap erat di antara bulir air mata yang keluar dari pelupuknya. Mengabaikan perutnya yang dipukul keras oleh Luhan, atau kakinya yang mencoba meronta-ronta.
"Ini aku, Luhan."
"Tolong—" Luhan menjerit pilu, membuat Jongin, Chanyeol, Tao, dan Chen menatapnya dengan sendu nan iba, "tolong jangan perkosa aku—pergi! TOLONG! PERGI KAU!"
Kris mengeratkan pelukannya, mencoba menenangkan Luhan. "Ini aku, Kris. Kau aman. Kau aman," kata Kris, mengulangi kalimat yang sama, "kau aman, ini aku, Kris—temanmu."
"Tolong..." Suara Luhan mulai melemah, ia tak lagi meronta-ronta. Ia tak lagi menendang-nendang kaki Kris atau apapun lagi.
"Kau aman. Ini aku, Kris. Aku temanmu. Kau aman, Luhan, kau aman."
Dan Chen berjalan kearah mereka, tangannya terjulur untuk menyibak helai surai cokelat madu Luhan, berniat menenangkannya, namun—
"JANGAN SENTUH AKU! KRIS! TOLONG! JANGAN PERKOSA! PERGI!" Luhan kembali meronta, berteriak dan menangis parau.
Kris mendongak dan mendapati Chen melotot horor seraya menjauhkan tangannya. Kris menampik tangan dongsaengnya, kemudian menatapnya tajam. "Jangan sentuh Luhan dulu!"
.
.
.
Sehun berlari seperti hidupnya bergantung pada kedua kakinya. Tak lagi memedulikan lututya yang mulai melemah atau tubuhnya yang hampir roboh.
Pandangannya kembali berkunang-kunang, antara abu-abu dan putih, namun ia masih berusaha menyusuri jalan di sana. Kadang menyeberang dengan asal, klakson mobil terdengar bersahutan karena ia menyeberang seenaknya. Ia berusaha mengenali jalan, menerobos keheningan hari yang beranjak malam.
Dan ketika ia melihat—dengan tak jelas—siluet sebuah rumah sakit sekitar beberapa puluh meter di depannya, ia menambah laju kakinya. Berlari seakan jika ia tak sampai kesana dengan segera, ia bisa mati.
Memang ia akan mati jika ada sesuatu terjadi dengan Luhan. Ya—ia takkan memaafkan dirinya sendiri.
Langkah kakinya sudah berada di tahap paling lemas tatkala ia melangkah masuk ke dalam rumah sakit. Bau obat-obatan membuatnya semakin pening. Sehun harus mengurut pelipis atau mencengkeram kepalanya untuk bisa menahan rasa sakitnya. Dan ketika matanya yang memburam menangkap sosok Kyungsoo yang tengah berjalan tergesa-gesa kearah yang berlawanan, ia segera berteriak.
"Kyungsoo hyung! Hyung! Kyungsoo hyung!"
Kyungsoo menghentikan langkahnya segera, menoleh kebelakang, dan melotot sempurna ketika ia melihat Sehun sedang berlari dengan tertatih kearahnya.
"Sehun!" Kyungsoo berbalik dan berlari menyusul dongsaengnya tersebut. Saat ia berada satu langkah di depan Sehun, ia mencengkeram keras lengannya.
Sesaat Kyungsoo mengernyit tajam mendapati keadaan Sehun yang sangat buruk. Sehun menyipitkan matanya, mengernyit, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Kyungsoo lebih dari tahu jika Sehun selalu seperti ini jika ia kelelahan sehabis latihan yang selalu ia paksakan, tapi tak pernah separah ini.
"Kau sakit lagi?!"
Sehun menggeleng semakin keras. Napasnya yang satu-satu coba ia netralkan. Ia menghirup oksigen banyak-banyak, kemudian menatap Kyungsoo tajam.
"Dimana Luhan, hyung?! Dimana dia?!"
Kyungsoo mematung.
"Hyung tolong jawab! Ada apa dengan Luhan!"
"Luhan—"
Sehun beralih mencengkeram lengan Kyungsoo erat-erat, berdoa semoga tak terjadi sesuatu dengan Luhan, karena jika saja Luhan mengala—
"—he got rape."
Sehun merasa dunianya berhenti berputar.
.
.
.
"Dokter bilang apa?"
Joonmyeun mendesah saat Kris langsung memberondongnya dengan pertanyaan begitu ia keluar dari ruang dokter di sana.
"Luhan mengalami sejenis trauma—atau hal serupa. Dokter menyarankan kita harus membawanya ke rumah sakit jiwa unt—"
"Kau gila, hah?! Luhan itu tidak gila! Dia hanya trauma, Suho! Trauma! Rumah Sakit gila, katamu?! Oh Tuhan jangan bercanda!" teriak Kris frustrasi. Chanyeol mencoba menenangkannya, namun nihil.
"Hanya sebulan, Kris! Sebulan! Kau tahu?"
Kris hendak berteriak lagi kalau saja Tao tidak datang dan menggeretnya paksa, lalu menenangkannya bersama Chanyeol.
Joonmyeun melangkahkan kaki pergi dari sana, hendak menemui Baekhyun—yang masih merasa bersalah—dan Jongin yang duduk di ruang tunggu di luar kamar rawat Luhan. Lucu rasanya menyebutnya kamar rawat, bahkan ia masih mendengar sayup-sayup Luhan memekik dan berteriak. Miris.
Joonmyeun baru saja menyodorkan dua botol air mineral pada Jongin dan Baekhyun ketika ia kembali mendengar derap langkah kaki yang menggema di ujung koridor.
Matanya terbelalak lebar ketika ia mendapati Sehun yang berlari dengan cara yang menyedihkan—ia berlari terpincang-pincang, hampir terseok—dan Kyungsoo yang mencoba menyusulnya di belakang.
Joonmyeun tak dapat menyadari kalau Jongin langsung beranjak dari tempat duduknya dan menerjang Sehun saat itu juga.
"Berengsek!" maki Jongin sembari mencengkeram kaos Sehun yang basah akan keringat. Sehun mencoba melepaskan cengkeraman Jongin. Saat ini, tak ada yang lebih penting selain Luhan.
"Jongin, tidak!" Kyungsoo memekik keras ketika dilihatnya Jongin yang kalap terus menerus mengeluarkan umpatan kasar.
"Tak pernahkah kau berpikir dengan otakmu, itu, hah?! Luhan sangat mengkhawatirkanmu dan dia satu-satunya yang selalu mengejarmu duluan jika kau pergi! Bangsat sepertimu harusnya berpikir! Ini semua karena kau dan ambisimu itu! Harusnya kau bilang padaku kalau kau cemburu atau bahkan kau ingin jadi first dancer! Bukannya selalu lari dan membuat Luhan kalap! Kalau se—"
"Jongin. Hentikan."
Suara Kris dari balik punggung Jongin yang terdengar sarat akan amarah membuat Jongin berbalik dan melepas cengkeramannya.
Kris berjalan dengan begitu tenang, matanya memancang tepat di mana Sehun menatapnya. Kebencian dan amarah yang meluap-luap tercetak jelas di tiap pandangan Kris untuk Sehun.
Dan saat pemuda tinggi itu berdiri di dekat Jongin, dua langkah di depan Sehun, ia masih mempertahankan pandangannya.
"Tak perlu kau mengumpat padanya," jeda, "lalu biarkan dia hidup di dalam rasa penyesalannya sendiri."
Sehun rasanya perkataan Kris ada benarnya. Ia malu pada dirinya sendiri. Jongin benar. Seharusnya ia bisa berpikir lebih jernih. Ambisinya tidak hanya membuatnya rusak, tapi juga melibatkan Luhan. Dan dalam keadaan seperti ini, Sehun tak akan bisa lagi memaafkan dirinya sendiri.
"Jangan! Tolong! Pergi!"
Lamunan Sehun tiba-tiba pecah ketika ia mendengar suara rintihan pilu seseorang di balik kamar di dekat mereka berdiri.
"Jangan!"
Sehun mendengarnya. Ya—ia mendengarnya. Cukup jelas walau hanya rintihan kecil. Air matanya tumpah tak tertahan ketika ia mendengarnya. Suara yang selalu tertawa padanya itu, yang selalu menggumamkan dan mendengungkan kalimat motivasi untuknya, yang selalu ceria dan berceloteh riang tentang apa-apa saja kejadian yang ia lalui hari itu—suara merdu yang selalu Sehun puja.
Kini suara itu terdengar sangat parau, pilu, menyakitkan. Tiap nada teriakannya membuat hati Sehun seperti tergores pisau tajam dengan racun mematikan. Sampai Sehun lupa rasanya bernapas. Seolah-olah satu-satunya kebahagiaan memusnahkannya. Seolah-olah ia kebas akan semua yang ada.
Dan ketika seorang dokter keluar dari kamar Luhan, orang pertama yang berlari kearahnya adalah Sehun. Ia berlari mengabaikan semuanya, ia hanya ingin mengetahui keadaan Luhan.
"Dokter—bagaimana ... bagaimana ... "
"Apa Anda yang bernama Kris? Luhan-ssi selalu menyebut nama Kris. Saya pikir dia akan tenang jika ada Kris di sana. Apa Anda adalah Kris?"
Sehun mematung, bahkan ketika sosok Kris mendekat.
"Saya Kris."
Dokter itu menoleh pada Kris dan langsung mengangguk padanya. "Ikut saya, Luhan-ssi menbutuhkan Anda."
Tak ada yang lebih menyakitkan daripada mendengarkan langkah Kris yang berlalu dari sana, dan kemudian menghilang dibalik pintu kamar rawat itu. Hati terdalam Sehun merasakan rasa sakit yang berdenyut mematikan, seolah-olah akan kebas sebentar lagi.
"Luhan-ssi menbutuhkan Anda."
.
.
.
a/n : saya berubah pikiran. Mungkin ini akan jadi threeshots. Karena saya kira, terlalu panjang untuk dijadikan twoshots. Di sini saya bingung kenapa tiba-tiba meletakkan KrisHan di antara HunHan. Saya sih oke-oke saja ketika ada Chanyeol di antara Kaisoo, menjadi seperti chansoo, baeksoo, sudo, atau bahkan chensoo (tapi kai hanya bisa sama soojung kalau di dalam hubungan kaisoo. Saya gak suka kai selingkuh sama lelaki lain, mending sama soojung lol). Tapi untuk HunHan, saya nggak pernah bisa nyelipin orang ketiga. Entah itu kailu, kaihun, lumin, hansoo, hunbaek, chanhun, xiuhun, atau siapapun. Sehun itu milik Luhan dan Luhan itu milik Sehun—tapi akan ada kalanya KrisHan juga /slapped/ hanya Kris yang jadi orang ketiga. Hanya Krissssss /teriakpaketoa/
p/s : jangan timpuk saya karena tega menjadikan Kris orang ketiga. Saya lebih suka Kris jadi orang ketiga karena dia hawt jika dipasangkan dengan Luhan.
p/s/s : mau kalian gimana? Hunhan atau krishan? Masak iya krishan? Tapi masak Sehun cuma merasa bersalah doang? Adil ga adil dong. Gimana nih?
p/s/s/s : saya janji akan update kilat karena setelah hari senin saya akan hiatus (LAGI?!). sekarang udah jadi mahaseswaaah soalnyaah, nggak bisa leha-leha kayak zaman SMA.
p/s/s/s/s : makasih banyak untuk yang udah review /bow/
p/s/s/s/s/s : ini belum eeend!
