mosaics © sachimalff
untuk pairing yang selalu menjadi OTP-ku di manapun mereka berada,
Oh Sehun – Lu Han
yaoi – manxman – no beta-ed
.
.
.
"Luhan-ssi membutuhkan Anda."
Mungkin yang membuat Sehun sakit bukan lagi denyutan di kepalanya, atau kakinya yang serasa mau patah kapan saja. Mungkin ia takut bukan karena Jongin yang tak henti-hentinya memaki padanya, atau Kris yang melayangkan tatapan benci.
Ini beda.
Bukan sakit dan takut seperti itu.
Bukan pula kekecewaan seperti saat Jongin menjadi yang pertama, tentu saja bukan.
Ini—lain. Seperti ada palu godam tak kasatmata yang menumbuk habis hatinya, melumpuhkan syaraf tubuhnya, menghancurkan pikirannya. Ketakutan yang menderanya seperti ia akan kehilangan sesuatu dari jiwanya. Seperti satu hal yang terletak di dasar hatinya, yang selama ini ia jaga dengan teramat sangat.
Bahkan ia tak memedulikan air mata yang telah meleleh tak tahu malu.
Semua member yang sedang berkumpul di sana diam bergeming. Kyungsoo adalah satu-satunya yang mempunyai inisiatif untuk berjalan mendekat kearah Sehun.
Ia mengusap punggung dongsaeng-nya lembut, seolah mencoba memberi kekuatan dan semangat—yang sebenarnya sia-sia.
Sehun mencoba menahan semua kekecewaan—terhadap dirinya sendiri—di hadapan semuanya. Walau ia tak yakin, sampai kapan ia akan mampu bertahan dengan keadaan seperti ini. Ia jelas takkan bisa memaafkan dirinya sendiri jika Luhan tak mau bertemu—bahkan sampai membencinya.
Kyungsoo masih berdiri di samping Sehun, ia menatap adiknya dengan rasa prihatin yang mendalam. Lirih dalam bisikannya, ia berkata—"Kris adalah orang yang pertama kali menemukan Luhan dalam keadaan yang ... yang ... seperti itu. Jadi tak heran bila ia mencari Kris."
"Tapi kenapa harus Kris, hyung?"
Kyungsoo terperanjat ketika Sehun menggunakan nada tinggi dalam suaranya.
"Kenapa harus dia?! Kenapa bukan aku—yang ada di sampingnya saat itu?! Kenapa, hyung, kenapa?!"
"Kenapa juga mesti kau?" sergah Jongin sambil berjalan ke hadapan Sehun. "Kenapa juga harus kau yang memperhatikan Luhan duluan? Bukankah selama ini selalu Luhan yang menyeretmu ketika kau pergi? Bukankah selalu Luhan yang menyelamatkanmu? Bukankah selalu dia yang mengejarmu? Kenapa kau jadi konyol sekali, huh? Kenapa kau pikir, kau hari ini bisa jadi orang yang berguna untuknya?"
"Jongin, hentikan!"
"Tidak, Kyungsoo. Anak ini harus diberi pelajaran. Ia hanya selalu mementingkan dirinya sendiri..."
"Jongin!"
"Selalu lari dan akan kembali ketika Luhan mengejarnya. Kaupikir kau akan selalu bisa lari, dan Luhan akan selalu mengejarmu, begitu?" jeda. Ketika Jongin telah sampai di hadapan Sehun, matanya berkilat tajam. "Aku jadi ragu. Apakah—kau benar-benar mencintai Luhan?"
Sehun mendongak menatap Jongin. Salah satu instingnya bekerja tanpa perhitungan. Tangannya terulur penuh kekuatan untuk mencengkeram baju Jongin, mendorongnya ke belakang sampai punggung Jongin menabrak dinding koridor rumah sakit. Kyungsoo dan yang lain memekik. Namun tak ada yang berani mendekat. Mereka rasa, mereka tak punya cukup andil dalam urusan mereka.
"Berengsek, kau! Kau tak tahu apa-apa, jadi diam saja!"
Jongin hanya menyeringai merendahkan bahkan saat Sehun semakin mendesaknya menempel dinding.
"Aku tahu semuanya, Sehun. Aku tahu. Aku jadi semakin yakin bila rasa cinta Kris bahkan lebih besar dibanding rasa cintamu untuk Luhan."
"Jongin!"
"Bangsat kau Kim Jongin!"
"Oh Sehun hentikan! Ini rumah sakit!" pekik Joonmyeun sambil berlari bersama Tao dan Chanyeol untuk menghalau tinju Sehun yang hampir mampir di wajah Jongin.
Chanyeol berhasil menghalaunya, mencengkeram lengan Sehun untuk memisahkan mereka berdua. "Hentikan perbuatan konyolmu, Sehun! Kontrol emosimu!"
Sehun—masih dengan napas yang memburu—memandang Jongin penuh kebencian. Lain dengan Jongin, dengan Kyungsoo yang mencengkeram lengan kanannya, Jongin masih punya kemampuan untuk menyeringai tajam sambil terkekeh pelan.
"Berterimakasihlah pada Kris, Sehun-ah. Karenanya, Luhan tak jadi diperkosa."
"Bangsat kau!"
"Sehun, diam!"
"Harusnya kau memaki dirimu sendiri, Sehun. Kalau Luhan akhirnya tak ingin menemuimu, itu bukan salah Kris, melainkan salahmu. Kau terlalu sering berlari. Mengejar tak seasyik itu, Sehun. Aku sudah sering mengatakannya padamu. Luhan pada akhirnya juga akan berlari, dan aku tak yakin jika kau yang akan mengejarnya."
Jongin mengatakannya terang-terangan. Lalu sedetik kemudian ia melepaskan cengkeraman tangan Kyungsoo, kemudian pergi dari sana.
Menyisakan Sehun yang menatap punggungnya yang semakin menjauh, lalu menghilang di ujung koridor.
Kalimat Jongin tak salah—malah sebaliknya, itu adalah sebuah fakta yang sayangnya, ingin sekali Sehun tampik.
Sehun yang kekanak-kanakan, Sehun yang selalu hilang kendali, Sehun yang selalu cemburu, yang selalu berambisi tanpa memperhatikan sekitar, yang selalu marah, selalu merepotkan. Selalu salah.
Lalu hanya akan ada Luhan yang dewasa, Luhan yang mengikatnya, Luhan yang selalu mengerti, yang selalu memadamkan api, selalu menenangkannya, selalu datang tanpa ia minta. Luhan selalu mencarinya, berlari kemanapun Sehun pergi.
Sehun baru sadar—Luhan mungkin sudah begitu lelah, namun ia tak mau hubungan mereka menjadi semakin kacau karena ... jika ada salah satu yang lari dan yang lain akan tinggal diam, maka yang terjadi adalah keadaan buruk. Mungkin Luhan adalah satu-satunya pihak yang akan pergi mencari, sementara Sehun selalu berlari.
Namun setelah ini, Sehun tak yakin. Apakah ia masih bisa berlari, dan apakah Luhan akan mau mencari.
Mungkin Luhan yang akan gantian berlari, sementara Sehun terpaku dalam penyesalan. Kris-lah yang akan mencari, mengobati, menjaga, mengayomi.
Jongin benar. Ia selalu benar.
.
.
.
"Bicaralah."
Hening. Hanya deru napas dan suara lirih jarum jam yang tak pernah lelah berdetak.
Kris menghela napas. Ia menatap Luhan yang berbaring di kasur rumah sakit lekat-lekat, sementara dirinya yang duduk di sebuah bangku di dekat bangsal itu menyamankan posisi duduknya.
"Setidaknya katakan sesuatu, Luhan. Aku semakin takut kalau kau diam saja seperti ini."
Luhan membuka bibirnya, membuat atensi Kris terpaku padanya. Namun, seperti ada keraguan di diri Luhan, ia kemudian menutup bibirnya kembali, lalu menunduk sambil memilin ujung bajunya. Matanya mengerjap beberapa kali, sementara tubuhnya masih bergetar. Deru napasnya memelan, menandakan bahwa ia sudah cukup baik.
Kris menatapnya iba, tangannya terulur untuk menyentuh tangan Luhan, namun buru-buru ia tarik ketika Luhan terperanjat kaget dan menjauhkan tangannya dari jangkauan Kris.
"Ma-maaf," desah Luhan lirih, namun masih memilih untuk menghindari tatapan Kris.
Pemuda dengan nama asli Wu Yifan itu tersenyum kecil mengetahui bahwa Luhan mau berbicara—setidaknya satu patah kata padanya.
"Tidak apa-apa," katanya, "katakan sesuatu padaku. Apakah kau masih takut?"
Ragu, Luhan mengangguk lemah. Masih bertahan dengan kepalanya yang tertunduk sembari jarinya memainkan ujung baju yang ia kenakan.
Kris mengangguk maklum, kemudian bertanya lagi. "Apa ada sesuatu yang mengganggumu?"
Luhan menggeleng pelan.
"Apa kau ingin sesuatu?"
Luhan mendongak, dan Kris terluka ketika ia menyadari bahwa mata Luhan terlihat berbeda. Lebih keruh dari biasanya. Tak ada cahaya lembut yang terpancar dari dua keping cokelatnya. Tak ada pancaran bening darinya. Kris hanya menemukan kilat kecewa dan ketakutan yang membaur menjadi satu. Matanya berkaca-kaca, seolah meminta Kris untuk menolongnya.
"Kau ingin sesuatu?" ulang Kris ketika ia merasa yakin jika Luhan ingin mengatakan sesuatu.
Luhan mengangguk, namun buru-buru ia kembali menundukkan kepalanya.
"Katakan padaku, Luhan," kata Kris, "kau ingin apa?"
Gerak-gerik Luhan yang terasa gelisah membuat Kris mengernyit heran. Pemuda itu tak juga membuka lagi mulutnya untuk menjawab pertanyaan Kris, padahal ia yakin jika ada sesuatu yang ingin ia utarakan.
"Luhan?" panggik Kris pelan. "Ada apa?"
Luhan membuka mulutnya, kemudian ia berbicara dengan nada lirih.
"A—aku..."
Kris memancangkan pandangannya pada Luhan.
"Kris, a-aku ... aku ingin pulang."
Kris menghela napas lega. Setidaknya, Luhan hanya ingin pulang, ia tidak memikirkan hal yang macam-ma—
"Aku ... ingin kembali ke China."
Mata Kris membulat sempurna.
.
.
.
"Kau tak mau kembali kesana?"
Sehun mendongak dan retinanya mendapati Kyungsoo yang sedang berdiri tepat berada di depannya. Lelaki berpostur tinggi tegap itu menggeleng dalam helaan napasnya.
Kyungsoo mengangguk, lalu memilih untuk duduk di tempat kosong di sebelah kiri Sehun. Tangannya menyodorkan satu buah air mineral untuk Sehun. "Minumlah. Kau pasti sangat kacau."
Sehun tersenyum kecil, menyiratkan rasa terimakasih untuk lelaki di sampingnya.
Beberapa menit berlalu tanpa ada satupun yang berniat mengucapkan sebuah kata. Hanya ada suara tegukan air mineral dari Sehun atau helaan napas Kyungsoo.
"Sehun..."
Sehun menoleh kearah Kyungsoo.
Si pemuda bermata belo menatap Sehun ragu-ragu. Mungkin ingin mengucap sesuatu, atau bertanya, atau apapun, tapi tertahan.
"Kau..." jeda, "tidak perlu memikirkan perkataan Jongin tadi. Dia hanya tak ingin kau seperti ini terus. Lagipula, Luhan akan selalu mencintaimu. Dia ... dia takkan berpaling darimu."
"Kau yakin, hyung?"
Kyungsoo mendongak. "A-apa?"
Sehun masih menunduk, tapi seringaian di bibirnya jelas terlihat oleh Kyungsoo. "Yakin, dia akan selalu mencintaiku? Bisa saja, kan, dia lelah? Jongin benar, hyung. Dia benar. Aku hanya akan merepotkannya."
"Sehun, tidak—dengarkan aku."
"Tidak, hyung. Kau yang harus mendengarkanku. Aku tahu ini semua salahku. Aku tahu Luhan mencintaiku, dan takkan ada yang mengerti betapa besar rasa cintaku untuknya. Tak ada, hyung. Tak ada yang mengerti seberapa besar. Bahkan Luhan mungkin tak paham—"
Hening.
"—jika aku akan melakukan semuanya untuk kebahagiaannya."
.
.
.
Bunyi pintu berderit pelan membuat atensi semua member—kecuali Sehun yang masih memilih untuk menjauh, dan Luhan tentu saja—menolehkan pandangannya.
Joonmyeun orang pertama yang berlari—diikuti oleh Jongin dan Baekhyun—kearah Kris.
"Apa Luhan hyung mengatakan sesuatu?"
"Dia bilang apa?"
"Apa dia masih trauma? Dia mau berbicara denganmu? Bagaimana, Kris?"
Kris mendesah pelan ketika tiga orang itu langsung membrondongnya dengan pertanyaan. Dia mengamati wajah ketiganya dengan tatapan memelas, kemudian meremas rambutnya frustrasi.
"Apa—ada sesuatu?" tanya Minseok yang bangkit dari duduknya, berjalan penuh kekhawatiran kearah Kris. "Luhan mengatakan sesuatu yang—buruk?"
Kris menoleh kearah member yang tertua, kemudian mengangguk samar—hampir tak terlihat. "Lebih dari sebuah hal yang buruk."
Jongin dan yang lain mengernyit begitu dalam.
"Luhan—ingin kembali ke China."
Satu kalimat Kris mampu membuat semua yang ada di sana memekik kaget dengan pandangan tak percaya.
.
.
.
Kyungsoo berlari, napasnya yang terengah-engah ia biarkan seperti itu. Sesekali, bahu mungilnya akan menabrak para pengunjung atau petugas rumah sakit, lalu ia akan melontarkan maaf dan lanjut berlari.
Ketika siluet orang yang ia cari telah terpampang seratus meter di depannya, tepat di belokan koridor panjang, Kyungsoo memanggil namanya. "Sehun!"
Oh Sehun mengernyit ketika sebuah suara memanggil namanya dengan nyaring. Ia mendongak, menoleh kearah di mana Kyungsoo tengah berlari menghampirinya.
"Ada apa, hyung?" tanya Sehun ketika Kyungsoo telah sampai di depannya.
Pemuda Do itu mengatur napasnya, tangannya ia tumpukan di atas lutut, sambil memegang dadanya yang kembang kempis. Sehun memerhatikannya dengan alis yang menyatu. "Hyung?"
"Luhan... Sehun, Luhan..."
Sehun membelalakkan matanya. "Ada apa dengannya?"
Kyungsoo mengatur napasnya sekali lagi, kemudian menegakkan badannya. Ia melanjutkan kalimatnya dengan jelas, dan itu cukup untuk membuat Sehun mematung di tempat.
"Luhan ingin kembali ke China—"
Sehun masih berada pada masa transisi-nya ketika Kyungsoo melanjutkan, "—besok lusa."
.
.
.
Entah mengapa Sehun bisa berlari lagi, ia tak tahu. Yang ia tahu hanyalah berlari. Persetan dengan semua hyung-nya yang mungkin saja masih merasa kesal dengannya. Yang ia tahu, ketika ia melihat siluet bayangan Joonmyeun yang sedang berbicara pada Kris, ia mempercepat langkahnya.
"Bagaimana kata manager hyung dan agensi?" tanya Kris tak sabar.
Joonmyeun menghela napas, ia melirik sebentar kearah para member yang lain, kemudian mengisyaratkan Kris untuk mengikuti langkah kakinya. Joonmyeun berhenti ketika ia berada di tengah kerumunan semua membernya. Baekhyun masih merasa bersalah dengan Chen dan Chanyeol yang mengapitnya, Tao dan Lay nampak kacau karena kurang tidur dan kelelahan, Minseok sesekali melirik kedalam kamar Luhan, takut-takut kalau sahabatnya itu kenapa-napa, dan Jongin yang sedang bersender di dinding, menanti sebuah jawaban darinya juga.
Joonmyeun mendesah pasrah. Ia tak memedulikan langkah kaki Sehun yang menggema di antara mereka.
"Agensi menyetujui perihal kepulangan Luhan. Jika dalam dua bulan saat di China dia masih seperti itu, maka—"
Hanya ada derap langkah kaki Sehun yang semakin keras, dan Kyungsoo yang juga mengejarnya.
"—agensi akan memutuskan kontrak dengannya."
Sehun sampai di depan semuanya tepat ketika Joonmyeun mengatakannya. Pemuda yang menjabat sebagai leader itu hanya melemparkan tatapan minta maaf untuk Sehun. "Aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuknya, Sehun."
Lutut Sehun langsung melemas kala itu. Ia jatuh duduk bersimpuh di hadapan semuanya, dengan tatapan jijik dari Kris dan dengusan tak suka dari Jongin.
Sehun menutup wajah dengan telapak tangannya, telinganya masih menangkap dengan jelas bisikan Joonmyeun yang mencoba mengatakan beberapa kali maaf, dan rengkuhan lembut di bahu kokoknya.
"—dan biarkan dia hidup di dalam penyesalannya."
.
.
.
Tiga hari memondok di sana, disembunyikan dari kejaran wartawan, jadwal mengisi acara yang dibatalkan, Sehun yang makin sering menghilang dari dorm, dan tentu saja—Kris yang akan selalu ada di rumah sakit.
Hanya Kris, karena Luhan akan selalu berteriak nyaring ketika bahkan Minseok atau Joonmyeun-lah yang memasuki ruangannya.
Pernah, ketika hari pertama ia masuk ke rumah sakit tersebut, dan Baekhyun berusaha masuk untuk meminta maaf, Luhan langsung berteriak dan melemparkan semua benda yang ada di dekatnya. Satu remote televisi tepat mengenai wajah si pemuda Byun, mengakibatkannya mengaduh kesakitan. Lalu sedetik kemudian Chanyeol datang menolong, membuat teriakan Luhan semakin menggila. Beberapa perawat langsung masuk, menyuntikkan obat entah apa itu kedalam tubuh Luhan, dan kemudian, Luhan tertidur lemas.
Sehun menyaksikannya dari balik jendela ruangan Luhan. Dan hanya rasa perih tak berperi yang ia dapat.
Hari kedua ketika Luhan berada di sana, Kris menetapkan bahwa tidak ada satupun orang yang boleh masuk ke kamar inap Luhan, kecuali dirinya.
Saat itu pukul delapan malam, hanya akan ada Kris yang menjaga Luhan. Semua akan langsung pulang—walau mereka hanya bisa menunggu di luar—ketika jam malam menjelang. Kris sedang mengajak bicara Luhan, walau yang ia dapat hanyalah sepatah atau dua patah kata, bahkan hanya anggukan atau gelengan.
Sehun menyaksikannya dari balik jendela ruangan Luhan. Dan hanya rasa sakit tak terhingga yang ia dapat. Melihat orang lain yang berada di samping kekasihmu saat ia berada dalam keadaan yang menyedihkan—akan terasa lebih menyakitkan daripada semua rasa sakit yang selama ini ia dapat.
Oh Sehun memang tidak pernah menjenguk Luhan bersama hyungnya yang lain, tapi Jongin dan Kyungsoo lebih dari tahu kalau setiap jam delapan malam, saat semuanya harusnya sudah pulang ke dorm, Sehun akan mencoba mengendap-endap keluar dari sana, lalu pergi ke rumah sakit seorang diri. Ia hanya akan berdiri mematung di luar ruangan, tepat di balik jendela, menyaksikan Luhannya yang hanya akan berdiam diri, bahkan Luhan yang hanya bersembunyi di balik selimut. Sehun tak peduli kalau ia tak diperbolehkan masuk atau ia tak bisa bertemu dengan Luhan secara langsung. Ia tak peduli. Melihatnya seperti itu saja, sudah cukup baginya. Ia yakin, Kris akan menemani Luhan dengan baik, maka ia tak perlu khawatir Luhan akan kesepian.
Kris tak pernah menyadari bahwa bunga yang terletak di dalam vas di samping kasur Luhan selalu berubah tiap harinya. Hari pertama, akan ada tulip. Hari kedua, akan ada mawar. Hari ketiga akan ada lily, hari keempat akan ada bunga matahari—dan seterusnya.
Hanya Kyungsoo dan Jongin yang tahu, walau mereka tak pernah masuk kesana.
Sehun adalah pelakunya. Saat subuh menjelang, ketika semua member bahkan belum mau bangun, Sehun akan kembali keluar dari dorm. Ia akan langsung menuju ke rumah sakit, menenteng satu buket bunga berbeda tiap harinya yang ia beli di toko florist di seberang jalan di dekat dorm mereka.
Lalu ketika ia pulang, dan mendapati Joonmyeun memergokinya dan bertanya, "kau dari mana pagi-pagi begini?"
Sehun hanya akan menjawab—"olahraga."
Kyungsoo dan Jongin sama-sama tahu bahwa Sehun takkan serajin itu berolahraga. Mereka bahkan tahu jika Sehunlah yang selama ini pergi ke rumah sakit tanpa diketahui yang lainnya, mematung di depan kamar Luhan, lalu meminta perawat yang menangani Luhan agar mengganti bunga di kamarnya.
Sehun bisa menyembunyikannya dari yang lain, yang tak peduli, tapi tidak dengan Kyungsoo dan Jongin. Mereka terlalu tahu, jika sebenarnya, Sehun sangat mencintai Luhan.
"Aku akan gila kalau jadi Sehun," kata Jongin.
Kyungsoo, yang duduk di samping kanannya, tersenyum sambil menggenggam tangan Jongin. "Mereka adalah pasangan paling menakjubkan."
Jongin mengangguk mengiyakan. "Kau tahu kenapa Sehun sangat berambisi untuk menjadi first dancer?"
Kyungsoo beralih memandang Jongin, mengerutkan alisnya kemudian menggeleng. "Tidak, memangnya kenapa?"
Jongin mengalihkan pandangannya dari Kyungsoo. Manik hitam legamnya terarah ke depan sana, tepat di mana kamar Sehun masih tertutup rapat. Ia menatapnya sendu, kemudian mulai menjawab.
"Sehun ingin semua orang mengerti kemampuannya. Tapi ada satu hal lagi yang menjadikannya gila latihan seperti itu."
"Apa?"
Jongin tersenyum ketika netranya melayang, membayangkan betapa Sehun mencintai Luhan. "Ia ingin semua orang menyandingkan Luhan yang sempurna dengannya, bukan denganku."
Kyungsoo merasakan tangan Jongin mengerat dalam genggamannya. Ia menatap Jongin dengan senyuman manis. "Aku takkan repot-repot melakukannya kalau jadi Sehun."
Jongin tertawa, kemudian menatap Kyungsoo lembut. "Sehun adalah anak yang bodoh, kan?"
Kyungsoo mengangguk. Ia mengikuti arah pandang Jongin yang menatap pintu kamar Sehun lagi. "Padahal semua tahu kalau Luhan hanya mencintainya."
"Hanya untuknya."
"Ya—Luhan hanya untuk Sehun. Bahkan Kris bukan apa-apa."
"Kau benar, Kyungsoo. Sehun seharusnya tak usah susah-susah mengendap-endap di pagi hari. Seharusnya ia menjadi yakin untuk mendobrak masuk ke kamar Luhan dan berada di sampingnya, tak peduli apa reaksi Luhan. Karena—"
"—Luhan akan selalu mencintai Sehun, apapun yang terjadi."
"Benar. Karena mereka terlalu sulit untuk dipisahkan."
"Bahkan oleh China dan Korea."
Keduanya tertawa, larut akan percakapan tentang hebatnya Sehun dengan Luhan di sampingnya, atau kacaunya Luhan dengan latihan gila Sehun, atau bodohnya Sehun tanpa Luhan di hatinya. Dan percakapan mereka harus terhenti ketika seseorang membuka pintu depan dorm dengan suara keras.
Kyungsoo terlonjak dari tempat duduknya ketika ia menyadari bahwa itu adalah Joonmyeun, dengan napas terengah-engah menghampiri mereka.
"Hyung, ada ap—"
"Tolong kalian bereskan barang-barang Luhan."
Mata Kyungsoo terbelalak makin lebar ketika Joonmyeun menyelesaikan kalimatnya dengan napas satu-satu dan suara yang sangat keras.
"A-apa?"
"Luhan... Dia akan pulang ke China sore nanti."
Ketiganya mematung di tempat, keheningan dan suara napas Joonmyeun yang belum normal berada di antara mereka bertiga, merajai ruang hampa di sana. Terlihat jelas raut wajah kecewa dan sedih milik Joonmyeun saat ia mengatakannya.
Namun ketika pintu yang sedari tadi jadi obyek pandang Kyungsoo dan Jongin terbuka, ketiganya serempak menoleh kearah sesosok lelaki putih pucat yang keluar dari sana, berjalan pelan melalui mereka bertiga, seolah ia tak tahu apa yang menjadi percakapan menegangkan mereka bertiga.
"Sehun..." panggil Joonmyeun ketika arah langkah kaki Sehun bergerak menuju ke konter dapur.
Sehun berhenti. Ia bahkan tak perlu repot-repot menoleh kearah Joonmyeun yang memanggilnya. Bahunya merosot, namun kepalanya tegak menatap lurus ke depan.
"Aku sudah mendengarnya barusan. Hyung tak perlu memberitahuku lagi."
Dan Oh Sehun berlalu, melanjutkan langkah kakinya ke arah dapur, menghilang di belokan dua ruangan di sebelah ruang tengah.
Kyungsoo menatap punggung Sehun yang menghilang dengan pandangan nanar. Tautan tangannya dengan tangan Jongin mengerat.
.
.
.
Sehun bingung dan tak mengerti, kenapa ia bisa terus berjalan menuju ke kamar mandi dengan lutut yang melemas dan pandangan yang memburam. Kali ini bukan karena pening di kepalanya, bukan. Namun matanya memburam dengan air mata.
Oh Sehun terlalu lupa terakhir kali ia menangis dengan perasaan berdenyut menyakitkan dari hatinya.
Oh Sehun terlalu lupa rasanya.
.
.
.
"Kau akan mengantarnya sampai Beijing?"
Kris mengangguk sambil memasukkan beberapa hoodie milik Luhan ke dalam koper hitam besar di atas kasur. "Sampai ke rumahnya."
Junmyeun mengangguk, memasukkan obat-obatan Luhan pada kotak berbeda. "Orangtuanya sudah tahu?"
"Belum. Makanya, aku mengantarnya sampai rumah, lalu menjelaskan pada mereka."
Junmyeun kembali mengangguk. Sedetik kemudian, pikiran dan perasaan aneh yang selama ini membebaninya, kembali terlintas dalam otaknya. Ia memandangi obat Luhan yang berada dalam genggamannya dengan raut wajah tak terbaca.
"Kris..."
Kris masih sibuk memindah kaus-kaus Luhan, sambil menjawab dengan gumaman kecil.
"Manager hyung berkata bahwa kita semua tak boleh mengantarkan Luhan ke bandara."
Kris berhenti sejenak, kemudian memandang Junmyeun dengan tatapan bingung. "Lalu?"
Junmyun menghela napas. "Kalau kami kesana, itu akan menjadi pusat perhatian semua orang. Mengingat jumlah kita yang sangat banyak."
"Memang benar, kan? Itu ide bagus. Kalian bisa berpamitan dengannya di rumah sakit. Atau—perwakilan saja, dia masih belum bisa berhadapan dengan orang banyak."
"Bukan seperti itu," jawab Junmyeun tak nyaman.
Kris menghela napas, kemudian duduk di atas kasur, menatap Junmyeun bingung. "Apa yang membebanimu, Suho?"
Suho menghela napas berat. "Sehun."
Junmyeun bisa melihat dari sudut matanya, jika ekspresi Kris berubah. Raut wajahnya menjadi tegang, dan rahangnya mengeras.
"Anak itu... Ada apa memangnya?" jawabnya dengan nada ketus.
Junmyeun menutup mata sambil memijit pelipisnya pelan. "Kris, kumohon hentikan."
"Apa yang harus kuhentikan? Memangnya aku yang memulainya, begitu? Kau lihat sendiri, kan, kalau Luhan begini karena bocah itu?"
"Kris..."
"Kalau saja dari awal Luhan tidak bersama Sehun, maka kejadiannya tak bakalan seperti ini. Dari awal aku sudah memperingatkanmu, Suho. Dari awal Sehun datang padamu dan berkata bahwa dia dan Luhan saling mencintai, aku sudah mengatakan padamu hal ini. Bahwa jangan biarkan mereka menjalin hubungan. Sehun tak bisa menjadi pelindung bagi Luhan. Sekarang pikirkan ini. Berapa puluh kali Luhan dibebani dengan tingkah Sehun? Sehun tak pantas bagi Luhan, aku sudah mengatakannya berkali-kali padamu."
"Jadi kau pikir, kau pantas?"
Kris mematung. Ia tak bergerak seincipun, mendengar nada suara Kim Junmyeun yang terdengar dingin dan menusuk.
"Jadi, Yi Fan, kau pikir kau pantas bagi Luhan?" ulang Junmyeun. Nadanya masih dingin dan keras. Matanya melirik Kris yang duduk mematung di samping kanannya.
"..."
"Katakan padaku, apa kau bisa membuat Luhan menangis dan tertawa di saat bersamaan? Apa kau bisa membuat Luhan mengorbankan waktu tidurnya hanya untuk mendengar ocehan tak jelas darimu, bahkan ketika kau hanya ingin bercerita tentang apa warna kostum yang sebaiknya kaupakai? Apa kau bisa mencuri perhatian Luhan? Apa kau bisa membuat Luhan berlari mengejarmu? Apa kau bisa membuat Luhan mencintaimu? Jawab itu, Kris, jawab, apa kau bisa menjadi Sehun untuk Luhan?"
Kris masih mematung memandang lantai di bawah kakinya, yang semakin dingin dan menyakitkan ketika kulit telapak kakinya menyentuhnya, memberikan hawa dingin yang sama sekali tak ia suka. Dan ketika pemuda di samping kirinya bangkit berdiri lalu bergegas tanpa menoleh, kata-kata barusan kembali terngiang di otaknya.
Di depan pintu kamar Luhan, Kim Junmyeun berhenti sejenak.
"Kau harus tahu kenapa aku tak mendengarkan perkataanmu waktu Sehun meminta diizinkan untuk menjalin hubungan dengan teman se-grup-nya. Aku punya alasan kuat, Kris. Satu alasan yang bahkan tak kau miliki. Itu karena Luhan adalah Sehun, dan Sehun adalah Luhan. Memisahkan mereka adalah sebuah kesalahan jika kulakukan, walau menyatukan mereka hanya akan menjadi seperti ini. Tapi aku adalah leader, yang tahu apa yang baik bagi anggotaku. Dan ak tahu, jika setelah ini, bagaimanapun caranya, selama apapun waktunya, Sehun akan tetap menjadi Luhan, vice versa."
Suara pintu yang tertutup pelan meninggalkan denyut menyakitkan di hati Kris. Beberapa saat kemudian ia terbangun dari lamunannya, kemudian melanjutkan mengepak barang Luhan. Semua baju sudah dimasukkan dengan rapi ke koper. Lalu Kris menyisiri kembali ruangan Luhan, tak ingin satu barangpun tertinggal.
Dan ketika tangan kokohnya membuka laci meja nakas, menemukan beberapa amplop berwarna-warni yang menarik minatnya, ia tak bisa menahan keinginannya untuk meraih semuanya, kemudian menyebarnya di atas lantai. Tubuhnya ikut duduk di atas lantai dingin, dengan tangan yang menata rapi amplop-amplop itu di depannya.
Ia meraih salah satu amplop yang terletak paling pojok dengan warna biru tua, kemudian membawanya kehadapannya.
Warna sampul biru tua, dengan tulisan tangan di depannya. Di sana tertulis, untukmu. Alisnya bertaut bingung ketika membacanya. Untuk—mu?
Lalu ia membuka amplop tersebut hati-hati. Di dalamnya, ada secarik kertas yang terlipat rapi, dengan tulisan tangan besar-besar di barisan paling atas. Perlahan, Kris mulai membacanya.
"Maafkan aku, hari ini sudah bertindak bodoh lagi. Kau pasti lelah, kan? Apa kau mungkin sudah bosan dengan tingkahku? Jangan katakan kau bosan, tolong jangan. Karena aku takkan bisa memaafkan diriku jika kau pergi. Pokoknya, maafkan aku, oke? Tak ada penolakan.
Oh ya, aku membelikanmu bubble tea untuk permintaan maafku. Aku letakkan di lemari pendingin, cepat minum sebelum dihabiskan Chanyeol hyung!
Saranghaeyo!"
Lalu, beberapa baris di bawahnya, ada tulisan tangan yang berbeda. Kali ini pendek-pendek, namun rapi.
"Aku tak pernah lelah atau bosan. Aku hanya takut, jika suatu saat kau bertindak bodoh lagi dan aku sedang tak bersamamu. Atau ketika aku sudah tak bisa mengejarmu lagi. Ah, tapi itu tak mungkin, kan? Aku akan selalu mengejarmu, Oh Sehun. Selalu. Aku takkan pernah bosan walau itu memang—jujur saja—melelahkan. Tapi bukannya Sehun adalah Luhan, dan Luhan adalah Sehun? Maka apa yang harus kukhawatirkan? Aku akan selalu menjadi dirimu, begitu pula sebaliknya, arra?
Ah—kupikir bubble tea-nya memang sudah dicicip sedikit oleh Chanyeol. Dan ketika aku bilang bahwa itu milikku, dia langsung meminumnya banyak-banyak sambil mengucap maaf! Pfft!
Ah iya, nado saranghaeyo, Sehun-ah!~"
Kris memasukkannya kembali ke dalam amplop semula, kemudian buru-buru membuka sebuah amplop berwarna putih di dekatnya.
Masih sama seperti tadi, dengan lipatan rapi dan tulisan tangan Oh Sehun di awal.
"Taman jam tujuh?"
Dan balasan untuk Sehun dari Luhan, yang Kris yakin, tak pernah disampaikan kepada Sehun. Beberapa baris di bawahnya.
"Aku melakukan kesalahan, kan? Tapi kenapa kau hanya tersenyum? Aku tahu aku sudah terlambat lebih dari sejam karena aku harus mengantar Minseok ke rumah temannya, aku tahu kau kedinginan. Bahkan aku bisa melihat wajahmu memucat kedinginan. Dan aku tahu kau sudah menghabiskan kopi keempatmu. Tapi kenapa kau masih tersenyum dan berkata 'tak apa-apa'? Kenapa kau tak marah? Kenapa kau tak pernah marah? Oh Sehun, katakan padaku. Kenapa kau terlalu baik padaku?"
Lagi, ia menyimpannya kedalam amplop semula, kemudian meraih amplop lain.
Kali ini berwarna merah darah.
"Bunga daffodil untuk kekasihku di tahun pertama?"
Masih sama, balasan untuk Sehun yang tertulis tiga baris dibawahnya.
"Dan kubalas bunga anggrek untuk kekasihku di tahun pertama."
Kali ini amplop berwarna ungu menarik perhatian Kris.
"Jongin dan Kyungsoo hyung menjadi kekasih! Junmyeun hyung rasanya agak khawatir tentang Jongin. Apakah mereka bisa menjadi pasangan manis seperti kita? Heh, siapa yang tahu, kalau kita selalu bertukar surat seperti anak SD seperti ini? Apa kau pikir ini menggelikan?"
"Mereka akan menjadi pasangan yang unik. Tapi tak cukup untuk mengalahkan kita. Kita yang terbaik! Soal surat, aku tak berpikir ini menggelikan. Aku menyukainya! Kau selalu mengirimiku surat dan aku tak pernah membalasnya, tapi akan datang surat-surat lain dengan kejutan darimu. Ini—bombastis! Menakjubkan! Kau menunjukkan padaku apa itu romantisme lewat cara sederhana. Jika waktu kita sudah sampai dua tahun, aku akan mengembalikan semua suratmu, lengkap dengan jawabannya. ILU!"
Surat selanjutnya yang menarik perhatiannya berada dalam amplop berwarna kuning cerah.
"Apa aku berlebihan? Maafkan aku, karena berlatih terlalu keras. Kau tahu, kau tak usah susah-susah menemaniku latihan sampai larut lagi kalau kau perlu tidur. Aku baik-baik saja. Aku hanya ingin menjadi seperti Jongin. Apakah kau berpikir aku bisa melakukannya?
Aku juga ingin dipuji seperti mereka memuji Jongin. Aku juga ingin begitu bersinar agar mereka menyandingkanmu denganku. Apa kau pikir itu hal yang cukup mustahil?"
Dan seperti surat lain, balasannya akan tetap berada di tiga baris surat Sehun.
"Kau tak perlu menjadi Jongin. Apa kau pikir aku bisa merelakanmu berubah menjadi Jongin? Tidak! Aku tidak bisa membiarkan kekasihku berubah menjadi kekasih Kyungsoo~
Kau tak perlu pujian dari orang lain. Mereka akan segera tahu kalau kau yang terbaik, jjang! Bersinar ataupun tidak, kau tetap milikku. Tak peduli kau berada di nomor berapa, aku hanya ingin bilang bahwa kau tetaplah yang terbaik bagiku. Hanya kau satu-satunya lelaki yang pantas untuk disandingkan denganku. Aku penyanyi hebat dan tampan, sedangkan kau penari mengagumkan dan keren! Bukankah kita cocok? Ayay! Bahkan Jongin dan Kyungsoo kalah! Intinya, aku hanya mencintaimu. Apa adanya. Jadi jangan biarkan kau berubah menjadi Jongin, arra? Saranghaeyo~"
Kris melipatnya sesegera mungkin, mengembalikannya ke tempat semula. Jantungnya terasa seperti berdegup dengan sangat kencang, rasanya berbeda dari ketika ia berlari mengelilingi lapangan basket sepuluh kali. Yang ini rasanya lebih menyakitkan, seperti syaraf rasanya di tarik-ulur, berdenyut menyakitkan.
Pandangannya terpaku pada lantai di bawahnya, menerka-nerka takdir yang selama ini ia tolak. Ya—Kris tak pernah menyadari besarnya rasa cinta Sehun pada Luhan dan sebaliknya selama ini. Ia terlalu sibuk memalingkan wajahnya kearah lain, menghindari pandangan yang akan menyakitinya tersebut. Ia tak pernah mengetahui bahwa mereka memang benar-benar mencintai sedalam itu. Kris tak pernah tahu, dan ia juga tak sudi mengetahui.
'Hanya kau satu-satunya lelaki yang pantas untuk disandingkan denganku.'
.
.
.
"Mana Sehun?"
Anggota yang lain menolehkan kepalanya, menoleh untuk menemukan sosok Sehun yang memang tak ada di sana.
Baekhyun mendesah setelah mengetahui bahwa Sehun tak ada di antara mereka. "Mungkin masih di dalam kamarnya."
Junmyeun memejamkan mata sambil memijat pelipisnya. Ia mengangguk setelah membuka matanya, menatap semua member di sana. "Seperti yang sudah kalian ketahui, Luhan akan pulang ke Beijing hari ini. Tak ada dari kita yang boleh mengantarnya ke bandara, karena akan terlalu mencolok untuk ditangkap kamera. Sebagai gantinya, Kris akan mengantarnya sampai Beijing, lalu memberitahu kedua orangtua Luhan."
Semua member tertunduk lemas mendengar kalimat sang leader.
Minseok maju satu langkah, menatap Junmyeun lekat-lekat. "Tak bisakah kita mengatakan salam di rumah sakit?"
"Kau yakin dia takkan melemparkan vas atau remote di depan wajahmu atau berteriak histeris ketika kita masuk?"
"Aku memang tak yakin," sela Kyungsoo. Matanya menatap Junmyeun intens, sedangkan tangannya menggenggam tangan Jongin erat. "Tapi—bukankah Sehun belum pernah masuk ke ruangan Luhan? Bisakah kita beri dia satu kesempatan?"
Junmyeun nampak sedang menimbang sesuatu, namun kemudian ia membuka lagi suaranya. Bergetar, dan sarat akan keraguan. "Apakah kau yakin? Maksudku—"
"Kenapa harus ragu?" tantang Kyungsoo, matanya masih nyalang memandang Junmyeun di depannya. "Sehun kekasih Luhan."
"Maka dari itu, Kyungsoo-ya."
"Apanya? Kau ragu, hyung? Kenapa? Bukankah mereka saling mencintai?"
Junmyeun menggeram rendah, ia menggelengkan kepalanya, memberi sinyal kuat pada semuanya bahwa sebenarnya ia juga sedang tak bisa berpikir. Semua ini terlalu berat. Satu anggotanya akan pergi, di sisi lain kekasihnya merasa terpuruk atau bersalah atau sejenisnya, dan di satu sisi, orang lain yang jelas-jelas memendam rasa pada Luhan-lah yang akan mengantarnya sampai ke Beijing. Apa itu kurang membingungkan baginya?
"Kyungsoo, aku..."
"Kenapa kau mengizinkan Sehun berpacaran dengan Luhan dulu jika kau merasa ragu dengan keadaan seperti ini?"
"Kyung—"
"Kenapa kau bahkan meragukan mereka, yang setiap kedekatannya kau puji, yang mana kau selalu takjub pada bagaimana Sehun mengikat Luhan, memperhatikannya, mencintainya sepenuh hati, dan bagaimana Luhan membuat Sehun merubah kebiasaan-kebiasaan buruknya hanya untuknya?" Kyungsoo melantangkan suaranya ketika tangan Jongin meremas tangannya semakin kuat. "Kenapa kau meragu akan hal semacam ini?"
"Aku takkan ragu kalau saja aku tak memperhatikan perasaan keduanya, Do Kyungsoo!"
Kyungsoo mematung—begitu juga dengan semua anggota yang ada di sana. Junmyeun berteriak marah seperti ini adalah kali pertama mereka mendengarnya. Suaranya penuh dengan nada frustrasi dan amarah.
"Aku takkan meragu kalau aku tak khawatir pada perasaan Sehun. Siapa yang bisa menjamin Luhan takkan menyalahkan Sehun? Atas semua kejadian ini—siapa yang berani bertaruh Luhan takkan menyalahkan Sehun karena dia tak ada untuk menolongnya? Lalu siapa yang tak bingung ketika di tengah-tengah itu semua adalah Kris, Kyungsoo?! Demi Tuhan, Kyungsoo-ya. Aku juga ingin Sehun yang masuk dan mengantarnya ke bandara jika ia bisa!"
"Hyung! Pelankan suaramu!"
"Apa kalian tak pernah tahu bagaimana lelahnya menjadi Sehun?" Junmyeun melanjutkan, "dia juga tertekan, asal kalian tahu. Dia tertekan tak bisa menjadi orang yang ada di saat Luhan seperti ini. Dia juga ingin menolongnya dan masuk ke kamarnya. Kalian harusnya tahu."
Kyungsoo mendengus kecil, membuat semua mata berpaling padanya. Ia melemparkan tatapan tajam pada Kim Junmyeun, lalu berkata—"Kau tak perlu ragu, karena yang kau hadapi adalah Sehun dan Luhan."
"Kyungsoo—kau tak ta..."
Suara derit pintu di ujung ruangan memutus kalimat Junmyeun. Dari ekor matanya, ia melihat Kris yang sedang berjalan kearah mereka sambil menenteng dua buah koper berwarna hitam. Langkahnya yang pelan menggema sampai ke tengah ruangan, membiarkan semua yang ada di sana berpaling memandangnya.
Dan ketika sosok jangkung tersebut berhenti tepat di depan Junmyeun, ia menatapnya dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Apa yang kalian ributkan sesungguhnya adalah hal yang sia-sia."
"Apanya yang sia-sia?"
"Kyungsoo, hentikan," cegah Jongin.
Kris menoleh menatap dongsaeng-nya. "Luhan hanya akan memberi reaksi yang sama kepada setiap orang."
"Kita bahkan belum mencobanya."
"Apa kau mau menyodorkan Sehun? Kau bisa memastikan Sehun takkan semakin merasa bersalah dan terluka setelah keluar ruangan? Atau kau bahkan sudah meminta Sehun? Apa dia masih punya muka untuk masuk ke sana dan mengucapkan selamat tinggal?"
"Kita belum mencobanya."
Kris memalingkan mukanya dari Kyungsoo. "Manager memberitahuku bahwa Luhan akan siap dalam setengah jam. Pesawat akan take off dua jam lagi. Akan kusampaikan pesan kalian."
"Kita bahkan masih punya waktu dua jam untuk membawa Sehun."
"Kyungsoo, tolong berhenti."
"Apanya yang harus berhenti, Jongin? Aku hanya ingin memohon untuk Sehun! Kau bahkan juga tahu betapa besar cinta mereka berdua! Kau tahu, aku juga, dan mereka harus tahu! Sehun berhak membuktikan bahwa dialah yang Luhan cintai! Dia berhak—"
"Pergi saja."
Semua mata menoleh ke sumber suara.
"Se-sehun?"
Di seberang ruangan, Sehun sedang keluar dari kamarnya, berjalan memunggungi mereka semua ke arah dapur.
Sampai di depan pintu dapur, ia berhenti sejenak, mengambil satu gelas di rak yang terletak di sisi kanan. "Pergi saja."
Kyungsoo menggigit bibir bawahnya. Semua member menatapnya, semua gerak-geriknya. Beberapa dari mereka merasa iba, beberapa yang lain bingung. Sementara Kris diam mematung. Ia tak menunjukkan reaksi apa-apa.
"Pergi saja," ulangnya. Ia mengucapkan dua kata itu seperti mantra, pendek dan berulang-ulang.
"Sehun, kita bisa—"
"KUBILANG PERGI SAJA SANA! APA KALIAN TULI? PERGI SANA, JANGAN PEDULIKAN AKU DAN JANGAN PERNAH KEMBALI!"
Kyungsoo dan yang lain menahan napas mendengar Sehun mengatakan hal itu. Punggungnya bergetar hebat ketika ia mengatakannya, napasnya yang semakin memberat terdengar putus-putus.
Kris meremas gundukan kertas yang berada di tangan kirinya. Rahangnya mengeras ketika Sehun berulang kali mengulangi kata 'pergi saja'. Ia menatapnya bak hewan buas yang mengincar mangsanya.
Kris tak menyadari bahwa kini kakinya berjalan tanpa diperintah. Yang ia tahu, ketika ia berada tepat satu langkah menuju sosok Sehun, tangannya menggapai tanpa ia komando. Ia membalik badan Sehun dengan sekali hentak, membuat mata hazel Sehun yang mengeruh karena air mata terlihat begitu menyakitkan—bahkan di mata Kris.
Napas keduanya memburu, tatapan dingin saling dilemparkan. Dan saat itu juga, Kris tak bisa menahan hasratnya untuk tak memaki Oh Sehun.
"Kau memang seharusnya hidup dalam penyesalan."
Ia menyodorkan tumpukan kertas yang sedari tadi ia genggam, mendorongnya ke dada Sehun dengan keras, menyebabkan sang dongsaeng yang tersentak ke belakang.
"Berhenti bersikap bodoh dan ketahuilah bahwa kalimatmu barusan akan semakin melukainya."
Sehun menatap kumpulan kertas itu. bukan. Bukan hanya kertas, Sehun sangat mengetahuinya. Itu adalah kumpulan amplop warna-warni yang dari beberapa tahun yang lalu ia berikan untuk Luhan.
Sehun menatapnya lama, pandangannya makin mengeruh oleh air mata, dan telinganya menjadi tak berfungsi dengan baik. Ia bahkan tak mendengar bagaimana Kris berpamitan pada semua yang ada di sana, keluar melalui pintu depan, kemudian menutupnya pelan.
Meninggalkan semuanya mematung memandang Sehun iba.
.
.
.
"Kau ragu?"
Luhan menoleh menatap Kris, kemudian menunduk sambil menggeleng. Tubuhnya akan selalu berjengit tiap kali ada orang yang mendekat padanya, dan saat itu terjadi, yang bisa ia lakukan adalah mendekat kearah tubuh jangkung Kris, meminta perlindungan.
Mereka berdua sedang duduk di ruang tunggu penumpang, menanti menit untuk memasuki pesawat yang akan membawa mereka ke Beijing hari ini juga.
Melihat Luhan yang nampak gelisah, Kris kembali menatapnya dan bertanya, "kau baik-baik saja?"
Luhan kembali mengangguk, namun hal itu tak membuat Kris percaya begitu saja. Memilih bungkam karena tak ada gunanya menyuruh Luhan untuk jujur, Kris mengangguk pelan.
Lima belas menit kemudian, mereka dipersilakan untuk turun dan bergegas menuju ke pesawat yang akan mereka tumpangi. Luhan menolak untuk menggenggam tangan Kris, namun ia tetap berjalan menempel pada si pemuda jangkung.
tbc
a/n : it seems like it is too late to publish it now ;_; i'm sorry. This papers and presentation drives me crazy. Aah, since tonight is exolution first day in Seoul and there's so much picts of OSH without Luhan around him, that's ruin my mood. I miss him—no—them so much. Aah i wanna die rite now TT
last chap will be published in two weeks i think. I won't make Sehun or Luhan getting hurt even in ma ff. Pffft they are too cute to be separated, u know? Thank for those who (still) wanna read this even though it takes a long time.
