"Dari pusat kantor SM Entertainment, Cho Jong Shi melaporkan. Berdasarkan fakta-fakta yang terkuak ke media sehubungan dengan absennya Lu Han dan Wu Yi Fan dari hadapan publik dalam kurun waktu seminggu, seorang stylist artis yang menolak menyebutkan namanya membeberkan fakta mengejutkan bahwa Lu Han dan Wu Yi Fan, anggota EXO-M, dikabarkan telah kembali ke Tiongkok. Berdasarkan berita yang dapat kami dapat, Lu Han dikabarkan memiliki gangguan pada kejiwaannya, sehingga rekan satu negaranya, Wu Yifan atau kerap di—"

Klik. Televisi di matikan.

Ruangan itu hanya terisi oleh lima orang anggota, diam di tempatnya masing-masing, sambil memandang nyalang pada televisi di depan mereka. Suara deru napas dan denting jarum jam memenuhi ruangan—tak ada yang mau berkomentar atas berita barusan.

"Berengsek." Jongin menggeram rendah, bangkit dari tempat duduknya sambil memaki para pencari berita. "Mereka benar-benar berengsek! Dari mana mereka tahu hal ini?! Bukankah agensi sudah mencoba menutupinya dengan sempurna?! Dan apa-apaan itu tadi? Gangguan kejiwaan?! For God's sake!"

Tak ada yang mau membuka suara ataupun menjawab perkataan Jongin, tak pula dengan Kyungsoo. Yixing dan Minseok membenamkan muka mereka di antara kedua telapak tangannya, sementara Sehun masih anteng dengan ponsel di tangan.

Pemuda albino tersebut telah mau membuka dirinya selepas Luhan pergi. Ia sudah mau bergabung dengan para hyung nya walau hanya sekadar bercengkerama singkat. Ia bahkan sudah tak menghindar dari kerumunan ketika para hyung nya membicarakan perihal Luhan.

"Apa agensi sebegitu bodohnya menutupi kepergian mereka berdua? Apa—"

"Apa mungkin ini kerjaan sasaeng fans?" Kyungsoo membuka mulutnya, menyela perkataan Jongin. Matanya menatap Jongin tajam, yang dibalas dengan pandangan tak setuju dari sang kekasih.

"Sasaeng hanya akan mengonsumsi berita idolanya secara pribadi. Takkan ada sasaeng yang mau membeberkan berita penting semacam ini. Toh tak ada untungnya bagi mereka."

"Apakah ini ulah haters?"

Minseok, yang sedari tadi tak buka suara, menyuarakan pendapatnya. "Itu adalah konklusi paling memungkinkan. Daripada sasaeng, haters lebih ingin menjatuhkan kita. Tapi yang menjadi masalah adala—"

"Apakah itu penting?"

Semua anggota yang ada di sana—termasuk Jongin yang kini tengah berdiri di depan mereka—menoleh kearah sumber suara.

"Apakah penting membahas sesuatu seperti itu?" lanjut Oh Sehun. Kalimatnya terasa datar, namun Kyungsoo dan yang lain sangat tahu kalau ia khawatir, terdengar dari nada suaranya yang bergetar. Pandangannya terpaku pada ponsel yang berada di tangannya, memainkan permainan entah apa namanya.

Tak ada yang mampu menjawab Oh Sehun, karena memang, hal tersebut tak penting untuk dibahas. Kelimanya langsung terdiam larut dalam pikirannya masing-masing, sampai tubuh Sehun bangkit dari tempat duduknya, berjalan meninggalkan mereka semua sambil berseloroh—"Apa persediaan ramen instan kita masih ada?"

"Rak dapur sebelah kanan dari kiri nomor dua paling atas. Ambil yang berwarna hijau, yang warna merah milikku," ucap Jongin sambil kembali duduk di tempatnya semula.

Sehun mendengus sambil terus berjalan.

Jongin duduk merapat pada Kyungsoo, sementara tangannya memberi isyarat pada Yixing dan Minseok untuk merapat. Hyung yang tergabung dalam anggota EXO-M tersebut merapatkan tubuh mereka ke arah Jongin, kemudian memasang telinga mereka baik-baik.

Ini adalah hal biasa yang mereka lakukan. Ketika Sehun beranjak pergi, mereka akan mendiskusikan topik yang tak ingin Sehun bahas.

"Apa satu dari kalian tahu sesuatu yang ganjil?" tanya Jongin sambil memelankan nada suaranya.

Minseok dan Yixing mengangkat alis mereka, sementara Kyungsoo bertanya, "apanya yang ganjil?"

Jongin berdehem membersihkan tenggorokannya, kemudian mencuri pandang ke arah dapur, takut jika saja Sehun sudah selesai dengan urusannya. Ketika ia tak melihat sosok Sehun, ia kembali membuka suara, memelankan intonasinya.

"Apa satu dari kalian ada yang tahu kenapa Luhan hyung menjadi depresi seperti itu?"

"Sudah jelas, bukan? Dia terlalu syok karena ulah para preman bejat itu," jawab Yixing enteng, dan dihadiahi anggukan singkat oleh Minseok.

Kyungsoo mengangkat alisnya memandang Yixing dan Jongin secara bergantian. Kemudian, dengan suara yang lebih pelan, ia menjawab. "Jongin ada benarnya juga. Setahuku, dalam kasus seperti ini, ada banyak faktor yang menyebabkan sang korban menjadi sangat depresi seperti itu. Dalam drama yang sering aku tonton, banyak yang mengisahkan jika seseorang yang punya trauma mendalam terhadap perlakuan seksual banyak disebabkan karena masa lalu mereka."

"Masa lalu?" tanya Minseok ragu sambil mengerutkan dahinya.

Kyungsoo mengangguk antusias. Jiwa detektifnya muncul entah dari mana. Untuk informasi saja, Kyungsoo adalah lelaki yang selalu berangan menjadi detektif kelas atas yang ingin menyelesaikan kasus mafia narkoba atau kasus pembunuhan berantai lainnya, namun kariernya harus berada di jalan ini.

"Masa lalu seperti sang korban pernah mengalami pelecehan seksual oleh orang terdekatnya, ia pernah diperlakukan tak pantas, dan yang lain."

"Apa mungkin dia—"

"Dia apa, Jongin?"

Jongin nampak ragu untuk melanjutkan, tapi melihat tatapan ketiga hyungnya yang nampak sangat ingin tahu, ia melanjutkan kalimatnya.

"Apa mungkin—Sehun ... kalian tahulah maksudku?"

Kyungsoo dan yang lain menggeleng pelan, dan itu membuat Jongin mendesah frustrasi.

Sang pemuda berkulit tan melanjutkan dengan intonasi serendah mungkin. "Apa mungkin Sehun pernah berlaku kasar padanya? Mungkin saja, ka—aduh! Ya Do Kyungsoo apa yang kaulakukan padaku?!"

Kyungsoo menatap tajam Jongin yang sedetik yang lalu ia pukul kepalanya dengan kepalan tangan kanannya. Ia menatap kekasihnya dengan deathglare terbaiknya, membuat Jongin menciut seketika. Minseok dan Yixing yang terheran-heran melihat tingkah keduanya, mengernyitkan dahinya.

"Sehun tidak seperti itu, bodoh!"

Jongin, yang masih merengut sambil mengelus-elus kepalanya, bertanya pada kekasihnya, "apa maksudmu?"

"Jangan membuat konklusi seenaknya jika tak tahu faktanya. Luhan dan Sehun bahkan belum pernah melakukannya!"

Yixing, Minseok dan Jongin terdiam. Ketiganya hanya mengedipkan matanya, berusaha mencerna perkataan Kyungsoo. Si mungil hanya memutar matanya imajiner mengetahui betapa lemotnya ketiga manusia tersebut, sampai ia mendengar suara Yixing menyadarkan lamunannya.

"Maksudmu—Sehun belum pernah mencoba BDSM dengan Luhan?"

Jongin dan Minseok menatap Yixing horor, mungkin bertanya-tanya darimana bocah tersebut tahu hal-hal seperti itu.

"Maksudku mereka malah belum pernah melakukannya."

"Nya?"

"Nya."

"Nya yang apa?" tanya Jongin geram.

"Bukankah sudah jelas nya yang apa?" tanya Kyungsoo sambil menaik-turunkan alisnya, menggoda ketiga kawannya.

Mendengar dan melihat reaksi Kyungsoo, menjadikan Minseok dan Yixing seketika itu juga menutup mulutnya dengan tangan, sementara Jongin langsung melongo lebar.

"Belum pernah melakukannya?!" Jongin mencoba mempertegas, dan dijawab oleh Kyungsoo dengan anggukan puas.

"Tapi Kyungsoo—"

"Ya, Yixing hyung?"

"Darimana kau mengetahui hal itu?" lanjut Yixing sambil menatap Kyungsoo inosen.

Minseok dan Jongin mengikuti arah pandang Yixing—menatap Kyungsoo curiga. Pemuda mungil yang berstatus sebagai kekasih Kim Jongin selama hampir satu tahun itu gelagapan, manik hitamnya bergerak gelisah, dan cengirannya berganti menjadi tawa gugup.

"Ada apa, hyung?" tanya Jongin curiga.

"I-itu..."

"Itu ap—" Kalimat Jongin terputus, karena otaknya tiba-tiba saja berpikir hal yang rasional. "Jangan-jangan kau—selama ini, kau ... kau mengintip kegiatan malam mereka, iya?"

Kyungsoo membelalakkan matanya, kemudian kembali mendamprat kepala sang kekasih sambil berteriak, "tentu saja tidak, bodoh!"

"Lalu kenapa?" tanya Jongin putus asa karena ia terus saja dipukuli oleh kekasihnya sendiri.

Kyungsoo mendesah pasrah ketika ia yakin tak ada jalan keluar kecuali menjawab pertanyaan tersebut.

"Sebenarnya, ini karena sebuah janji."

"Janji?"

Kyungsoo mengangguk. "Dulu sekali, aku, Baekhyun, dan Luhan hyung membuat sebuah perjanjian yang isinya tak akan melakukan hubungan seksual dengan kekasih kita sebelum hubungan mencapai umur setahun."

"Dan bukankah mereka sudah memasuki tahun kedua?"

"Yah—aku tahu kalau mereka belum melakukannya ketika Luhan hyung terlanjur tahu bahwa aku da—"

Kalimat Kyungsoo terhenti ketika pandangan Jongin mengisyaratkannya untuk diam, dan karena ia baru sadar dengan apa yang akan ia katakan.

"Kamu dan apa, Kyungsoo-ya?" tanya Minseok curiga.

Kyungsoo buru-buru menggelengkan kepalanya keras-keras. "Tidak apa-apa, kok! Sungguh, aku ti—"

"Kyungsoo hyung ingin mengatakan bahwa Luhan sudah tahu jika Kyungsoo mengingkari janjinya."

Keempat pemuda yang terlibat pembicaraan diam-diam itu terkejut dan terlonjak dari tempat duduk ketika mengetahui bahwa Sehun telah datang dari dapur, membawa sebuah ramen kemasan yang telah diseduh dengan air panas.

Kyungsoo dan yang lain membatu, tak bisa berkata apa-apa bahkan setelah Sehun duduk di samping si mungil Do Kyungsoo, meniup-niup ramennya hingga mendingin.

"Se-Sehun..."

"Apa, Kyungsoo hyung? Aku benar, kan?"

"Y-ya!Oh Sehun! Jaga bicaramu! I-itu tidak benar! Sama sekali tak benar!"

Sehun tertawa geli melihat reaksi Kyungsoo yang kini sedang menjiwit lengannya keras, menyebabkan rintihan dari si albino.

"Makanya, kalian jangan sering-sering membicarakanku di belakang."

"Kami takut menyakiti perasaanmu, bodoh!"

Sehun tertawa kecil, kemudian menyeruput ramennya pelan-pelan. "Tenang saja. Aku sudah berbesar hati, kok."

Kyungsoo dan yang lain mendesah lega, kemudian tersenyum melihat Sehun dan segala gerak-geriknya ketika makan ramen miliknya. Mereka rindu melihat Sehun yang seperti ini. Ini adalah kali pertama magnae di grup mereka bertingkah biasa semenjak ambisinya mengejar posisi Jongin.

"Sehun..."

"Hm?"

"Bagaimana perasaanmu?" tanya Jongin.

Sehun menghentikan kegiatannya memakan ramen, menatap lantai di bawah kakinya dengan pandangan yang sulit di artikan, yang mana membuat Jongin merutuki perkataannya. Sehun meletakkan ramennya di meja kaca di depannya, kemudian menyenderkan tubuhnya pada senderan sofa di belakang punggungnya.

"Lebih baik," jawabnya sambil tersenyum menatap Jongin. "Lebih merasa baik atas apa yang kuperbuat selama ini."

Jongin membalas senyum sang magnae dengan senyuman yang tak kalah cerah, kemudian mengangguk pelan.

"Apakah kau merindukannya?" tanya Minseok sambil merapatkan tubuhnya ke arah Jongin, ingin mendengar jawaban Sehun dengan seksama.

Oh Sehun tertawa mendengar pertanyaan bodoh hyung nya. "Pertanyaan apa itu, hyung? Tentu saja iya!"

"Kau masih mencintainya?" Kyungsoo kembali bertanya, sambil memandang Sehun tajam.

Pemuda albino di sisi kanannya memandang balik Kyungsoo dengan tatapan penuh sayangnya, ingatannya terbang ke sisi di mana Luhan berada saat ini. Dengan senyuman lemah dan tatapan cinta yang membuncah-buncah terpancar dari manik cokelatnya, ia mengangguk. Lirih, bibirnya menjawab—"selalu."

"Dan apa yang akan kaulakukan jika ia tak kembali?"

"Kyungsoo." Jongin mencoba memeringatkan Kyungsoo, namun hal itu tak dipedulikannya. Ia bisa melihat bagaimana Sehun susah payah menjawab pertanyaan mereka, namun Kyungsoo ingin tahu kesungguhan pemuda di sampingnya ini. Jika ia benar-benar mencintai Luhan, selalu, maka menjawab pertanyaan Kyungsoo adalah hal yang sangat mudah karena setelah ini, Kyungsoo yakin, bahwa Sehun akan melalui perjalanan yang sangat sulit agar ia bisa membawa Luhan kembali ke sisinya.

Sehun memandang lurus televisi di depannya, mengingat kembali kenangannya bersama dengan sang kekasih hati. Senyuman kembali mampir di wajahnya, memantrikan ingatan demi ingatan yang ia lalui bersama Luhan.

Dan dengan segenap hati dan keteguhan yang tak bisa terdobrak oleh apapun di dunia ini, Sehun menjawab—"aku akan kembali pulang untuknya," katanya sambil menoleh kearah Kyungsoo.

Baik Kyungsoo maupun Sehun tersenyum. Do Kyungsoo mengetahui dengan baik apa maksud sang magnae, maka dari itu, ia mengangguk sambil menepuk bahu Sehun pelan, memberi semangat.

"Sejujurnya, aku tak mengerti. Apa yang sedang kalian bicarakan?"

"Entahlah, Jongin hyung. Aku bingung," jawab Sehun. "Aku baru saja memikirkan akan mencari uke baru," lanjutnya sambil memasang seringaian menyebalkan untuk Jongin, yang mana ia langsung mengalihkan pandangannya pada Kyungsoo dan mengedipkan sebelah matanya pada si pemuda mungil.

Mata Jongin membola sempurna ketika melihat Sehun mengedipkan matanya pada sang kekasih. Sejurus kemudian, si pemuda tan tersebut langsung memeluk Kyungsoo erat-erat, mencoba menjauhkannya dari Sehun sambil berteriak padanya. "Ya! Jangan macam-macam, ya, Oh Sehun! Cari uke lain saja sana! Dengan Baekhyun hyung saja kau!"

"Sayangnya aku lebih suka uke yang manis dan pendiam, Jong."

"Ya! Oh Sehun! Jangan lari kau!"

Kyungsoo hanya menepuk dahinya ketika melihat Jongin dan Sehun yang kembali seperti semula; penuh dengan teriakan dan makian di seluruh penjuru dorm.

"Kyungsoo..."

"Ya, Yixing hyung?"

"Apa yang dimaksud Sehun dengan kau yang mengingkari janji?"

Tak ingin menjawab pertanyaan yang akan membuat mukanya lebih merah dari sekarang ini, Kyungsoo lebih memilih untuk berlari mengejar Jongin yang sepertinya sudah menangkap Sehun dan berniat ingin menampar pantat sang magnae.

"Ya! Kyungsoo-ya tunggu! Jawab pertanyaanku!"

.

.

.

/"Apakah Luhan di sana baik-baik saja?"/

Hening. Tak ada jawaban. Yang terdengar hanyalah bunyi krusak-krusuk di seberang telepon, tempat di mana Junmyeun berada.

Kris memijit pelipisnya frustrasi. Pejaman matanya mengerat, otaknya buntu, napas-nya terdengar putus asa. Ia kalut.

Sudah satu bulan lebih ia cuti dari dunia hiburan Korea untuk menemani Luhan, yang nyatanya masih seperti itu.

Masih terasa sangat jelas di benak Kris bagaimana pertama kali ia sampai di depan rumah Luhan. Masih teringat jelas bagaimana tubuh kecil Luhan bergetar hebat ketika pintu rumahnya terbuka, menampilkan sosok ibunya yang menyambutnya dengan wajah kaget dan bahagia.

Berbeda dengan Luhan yang malah berteriak, jatuh tersungkur, lalu menangis.

Sampai saat ini Kris masih bingung. Apa yang membuat Luhan menangis di malam hari—seperti kata Nyonya Lu.

Kris hampir putus asa mengetahui bahwa Luhan, bukannya semakin membaik di kampung halamannya—malah semakin terpuruk.

Nyonya Lu, pada suatu hari, saat Kris berkunjung ke kediaman Luhan, mengatakan bahwa Luhan selalu mengunci diri di kamar, menangis meraung-raung saat malam, dan menolak di bawa ke psikiater.

Dan kenyataan bahwa pihak agensi menanyakan perihal keterlanjutan kontrak dengan Luhan memukulnya telak.

/"Kris?"/

Menghela napas untuk yang terakhir kali, Kris menjawab. "Tidak ada perubahan."

Mungkin itu kalimat terpendek yang bisa keluar dari mulut seorang Wu Yifan. Mungkin itu tadi adalah sebuah kenyataan terberat yang harus mereka katakan pada pihak agensi. Mungkin tiga kata barusan—adalah jawaban penantian mereka selama sebulan lebih.

Junmyeun menyesali keputusannya me-loudspeaker telepon genggamnya di depan para membernya.

Lima detik berlalu dalam keheningan, karena pada dasarnya si ketua juga tak tahu harus merespon apa, telepon di tutup dari pihak Kris.

Dan Junmyeun masih mematung di tempatnya. Matanya terasa berat untuk menoleh, bahkan pada para membernya. Bahkan mungkin ia tak punya kemampuan untuk melirik kearah di mana pemuda Oh berada.

Detik demi detik terlewati tanpa ada yang memberi reaksi. Hening yang pekat dan pahit menyelimuti hawa di antara mereka-mereka yang berkutat pada pemikiran sendiri.

Sampai satu gerak dari Oh Sehun memaksa atensi mereka tertuju padanya.

Pemuda yang terakhir kali diketahui sebagai kekasih dari Luhan tersebut mencoba bangkit, dengan kepala yang tertunduk, pancaran mata yang menunjukkan kelelahan dan penyesalan, serta kalut dan takut dalam waktu bersamaan.

Sehun membalik badannya, langkah tegapnya membawanya pergi tanpa sepatah kata atau sejumput reaksi bagi berita yang baru saja ia ketahui.

Jongin memandang punggung Sehun yang semakin menjauh—punggung yang selalu terlihat tegap dan kuat, kini berjalan seperti takkan ada lagi alasan bagi Sehun untuk tetap bertahan.

Jongin dan yang lain tahu, betapa Sehun merindukan kekasihnya. Jongin dan yang lain tahu, bagaimana Sehun mencoba untuk menangis tanpa suara saat malam menjelang, ketika ia sadar bahwa ia dan Luhan meniti kisah yang rumit. Jongin dan yang lain tahu, bagaimana Sehun mencoba bangkit dengan puing-puing yang menyakitinya, karena tak ada Luhan di sisinya selama ini.

Namun Jongin dan yang lain takkan pernah tahu, apa yang di lakukan Sehun tepat ketika tubuh tegap Sehun menghilang di antara pintu kamarnya.

Suasana kembali senyap ketika pintu kamar Sehun tertutup, menimbulkan bunyi yang mengiris hati Jongin dan yang lain—seakan mereka tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Satu yang pasti—di hari-hari selanjutnya, Sehun tak akan sama lagi.

.

.

.

Sehun special POV

Di antara kisah Desdemona, Ophelia, Rosalind, Margareth, dan yang lainnya—mengapa kisahmu yang harus terlakon seperti ini? Aku kadang ingin menyerah dengan semua harapan dan doa yang kupanjatkan setiap hari—berharap bahwa suatu saat kau akan pulang dan aku akan menjemputmu di bandara. Kau akan berlari kearahku seperti saat aku menjemputmu tahun lalu, sepulangnya kau dari kegiatan promosi album baru di China. Kau akan berlari dengan senyumanmu yang selalu kutunggu, melebarkan tanganmu seakan kau punya sayap untuk merengkuhku begitu erat. Dan aku akan tertawa ketika kau berada dalam pelukku. Kau akan berbisik mengatakan betapa kau merindukanku, mengatakan bahwa sebulan nampak seperti selamanya tanpaku. Lalu aku akan mengangguk sambil mengeratkan pelukanku, menanggapi celotehanmu dengan satu kalimat—"bukankah sekarang aku di sini?"

Maukah Tuhan melakukan satu keajaibannya sekali lagi untukku?

Maukah—kau kembali?

Aku merindukanmu sampai aku ingin mati, sampai aku ingin mengutuk diriku sendiri. Sampai aku tak tahu lagi bagaimana ini semua akan berakhir. Setiap hari aku akan bangun dengan doa yang sama—semoga hari ini kau akan kembali. Atau, paling tidak, besok. Atau lusa. Atau minggu depan. Atau bulan depan. Atau tahun depan. Atau suatu saat—tak apa. Yang penting kau kembali. Selama apapun waktu membutuhkanmu untuk kembali, aku akan selalu menantimu.

Atau di sore hari, ketika bahkan langit mulai berubah warna menjadi jingga dan oranye, aku akan termenung di kamar. Mungkin Jongin benar, mungkin kau sudah lelah berlari dan mengejarku. Mungkin kau sudah terlalu muak denganku. Mungkin kau sudah enggan menjadi satu-satunya orang yang pergi menyusul ketika aku berlari.

Dan di malam hari, aku hanya akan menghabiskan waktu dengan merebahkan diri di atas kasur, memejamkan mata, berimajinasi jika saja aku tak sebodoh itu—pasti kau akan tetap ada di sini.

Namun mungkin takdir sedang memainkan perannya. Nyatanya, Kris bilang, kau masih tetap sama.

Bukan ketikdakhadiranmu di sini yang membuatku ingin mati, Luhan. Bukan. Tapi kenyataan bahwa kau masih seperti itu—meraung-raung, menangis, dan beberapa hal menyedihkan lainnya lah yang membuatku seakan ingin mengubur diriku hidup-hidup.

Ini semua salahku.

Memikirkannya bahkan membuat langkahku terasa semakin berat, jarak antara pintu dan tempat tidurku serasa bermil-mil jauhnya.

Sehun POV End

.

.

.

"Kau yakin?"

Jongin mengangguk. "Sepertinya hanya kau yang bisa berbicara dengannya, Kyung."

Kyungsoo menggigit bibir bawahnya, lalu menoleh ke depan, tepat di mana pintu kamar Sehun-Luhan-Kyungsoo tertutup rapat. Tangannya terulur untuk meraih handle pintu, ragu-ragu, namun ketika tangan Jongin mendorong tangannya agar cepat membuka pintu, ia langsung melakukannya.

Dan ketika Jongin di sampingnya membisikkan kata 'semoga berhasil' padanya, Kyungsoo langsung membukanya tanpa halangan.

Dan hal pertama yang membuatnya membelalakkan mata adalah kamarnya yang masih rapi, hening, dan—

Kyungsoo menoleh ke arah Jongin.

—"Tak ada Sehun di dalam."

Jongin membelalakkan mata, lalu mendorong badan Kyungsoo menjauh dari depan pintu, kemudian langsung masuk ke dalam kamar tersebut tanpa aba-aba, membuat Kyungsoo mengernyit tak suka.

"Kyungsoo, kemana Sehun?!"

"Mana kutahu!"

Si pemuda bermarga Kim tersebut berjalan mondar-mandir di dalam kamar Sehun, mengacak rambutnya frustrasi, kemudian mulai menyusuri kamar.

"Apa yang kaulakukan?!" tanya Kyungsoo geram ketika ia melihat kekasihnya yang sedang mengacak-acak seluruh isi kamarnya.

"Menemukan sesuatu," jawab Jongin sambil menyibak selimut tempat tidur Sehun, "kalau ia melarikan diri atau berniat bunuh diri, pasti ia meninggalkan surat un—Aw! Kyungsoo apa yang kaulakukan?!"

"Kalau berpikir itu yang rasional, bodoh! Mana mungkin Sehun melakukan hal seperti itu!" Kyungsoo, dengan matanya yang memicing tajam dan tangan yang masih mengepal erat, berbicara pada Jongin.

Jongin merengut, mengelus perutnya yang baru kena bogem mentah, kemudian menelusuri kamar Sehun dengan sekali lirik. "Mungkin hanya keluar mencari udara segar."

Kyungsoo nampak menimang-nimang, kemudian mengeluarkan suara seperti rengekan kecil, yang mana membuat Jongin menatapnya heran. "Kau kenapa?"

"Jongin—bisakah..."

Jongin mengangkat satu alisnya, menunggu Kyungsoo melanjutkan perkataannya. Si pemuda mungil menggigit bibir bawahnya, seakan takut untuk menanyakannya, yang mana jawabannya masih bias.

"Bisakah... Sehun hidup tanpa Luhan?"

Mungkin kali ini Jongin tidak bisa menjawabnya. Mungkin sampai saat ini, hanya akan ada keheningan yang mengikuti pertanyaan Kyungsoo.

Mengetahui bahwa Kim Jongin, teman yang sangat dekat dengan Oh Sehun, bahkan tak yakin akan jawabannya, Kyungsoo hanya mendesah pasrah, menundukkan kepalanya. Menatap apakah esok akan lebih dingin dari lantai di bawahnya.

.

.

.

.

Dua bulan setelahnya, Kris kembali.

Tanpa Luhan.

Dan tidak ada lagi yang berani mendekati Sehun ketika ia melihat Kris pulang hanya dengan dua koper. Tidak bersama Luhannya.

Bahkan saat malam hari Sehun berteriak di taman belakang dorm, Kyungsoo hanya akan menutup telinganya rapat-rapat sambil menggigit bibir bawahnya miris.

.

.

.

Satu musim semi berlalu. Dan masih seperti itu.

Schedule yang panjang dan melelahkan. Sebelas anggota. Minus Sehun yang terlihat tak seperti manusia.

Robot. Zombie. Mayat. Rongsokan. Kosong. Ketiadaan. Heartless.

Ia tersenyum di depan kamera. Ia menatap kosong dunia di belakang panggung.

Ia tertawa di depan penggemar. Ia mengutuk kenapa ia masih bisa berpura-pura di malam hari.

Ia hidup di atas panggung. Ia mati setelahnya.

.

.

.

Butuh waktu dari daun maple berubah warna dari hijau menjadi kuning dan pada akhirnya memerah untuk membuat Jongin merasa muak dengan tingkah Oh Sehun yang seperti mainan mengenaskan.

Hidup tanpa ingin hidup.

Pada suatu hari di musim semi yang lain, satu tahun sejak mereka mengatakan pada publik bahwa mereka akan meneruskan karier mereka dengan sebelas anggota, Jongin merasa bahwa mereka sebenarnya bersepuluh.

Karena Sehun sudah menghentikan minatnya pada apapun di dunia ini.

"Kita ada jadwal penuh untuk minggu depan. Beberapa stasiun televisi meminta kita untuk datang. Untuk Senin, kita ada jadwal penuh dari jam sembilan pagi sampai sebelas malam. Untuk Selasa, kita—"

"Junmyeun hyung..."

Junmyeun mendongak dari kertas yang dipegangnya. "Ya, Jongin?"

"Sehun sedang tak sehat. Bisakah kita kosongkan beberapa jadwal untuk setidaknya dua hari?"

Baru saja Junmyeun ingin menyahut, suara Oh Sehun yang lebih dingin menginterupsi.

"Aku baik-baik saja."

Selalu seperti itu. Membuat Jongin muak.

"Aku akan menghadirinya."

Jongin mengepalkan tangan. Matanya menatap nyalang pada Sehun yang menolak menatap mereka semua, mengalihkan pandangannya pada sesuatu di luar sana. Ia menatap seperti ia menatap kematiannya sendiri; dingin dan hampa.

"Jangan kosongkan, hyung," tukas Sehun.

Brak! Jongin menggebrak meja di depannya, memicing menatap Sehun di seberang ruangan. Pergerakan yang ia buat mengejutkan semua yang ada di sana—kecuali Sehun tentu saja.

Kris, yang memang dari dulu sudah bosan dengan keadaan seperti ini, memilih untuk beranjak dari sana.

Lalu Jongin dengan suaranya yang berat dan mengintimidasi, menolak untuk mengalihkan tatapannya pada Sehun, berbicara. "Jadwal akan diminta untuk ditolak, Sehun. Ini permintaanku."

"Kau terlalu banyak meminta. Aku akan meminta untuk menjalankannya," jawab Sehun. Tak ada getaran atau rasa gentar dalam suaranya saat menjawab kalimat Jongin.

Cukup sudah. Jongin sudah sampai batasnya.

"Melihat kau yang menyedihkan seperti ini, aku menolak untuk tampil di depan kamera."

"Aku hanya kurang tidur."

"Maka jangan bodohi dirimu sendiri dengan tak tidur dan malah memandangi sebuah foto."

Ada pergerakan pada manik cokelat Sehun, walau tubuhnya tak menampilkan reaksi apapun. Ia masih melenyapkan tangannya di dalam saku celana, berdiri tegap di samping jendela.

"Aku tidak," kilah Sehun.

Jongin menyeringai, mengabaikan bisikan Kyungsoo dan Junmyeun yang memintanya untuk berhenti.

Telat.

Jongin terlalu merasa sesak melihat Sehun yang seperti ini.

"Kau memang tak memandangi fotonya. Kau lebih seperti meratap dan merindukan sosok di dalam foto. Yang mana membuatmu kini seperti ini. Yang membuatmu putus asa, tak hidup. Lihatlah dirimu yang sekarang, Oh Sehun. Kau seperti tenggelam tanpa mau seorangpun membantumu keluar. Bahkan penggemar sudah mulai melihat dirimu yang sekarang. Mereka bahkan bertanya padaku saat acara fansigning kemarin, 'apa Sehun Oppa baik-baik saja?' sebagian dari mereka bahkan menangkap fotomu yang menampilkan ekspresi busuk seperti ini. Lihatlah, Sehun. Kau sudah dalam tarafmu untuk berpura-pura."

Hening.

Hanya ada rengekan Kyungsoo yang menyuruh Jongin untuk berhenti. Dan suara langkah kaki Kris yang entah kemana, menggaung di antara ruangan-ruangan kosong.

"Jawablah, Oh Sehun."

Masih hening. Napas Jongin memburu karena amarah. Matanya berkilat tajam, seringainya menghilang.

"JAWABLAH, BANGSAT! SETIDAKNYA CACI AKU, MAKI AKU, PUKUL AKU SEPERTI DULU SAAT KITA BERTENGKAR KAU BAJINGAN!"

Kyungsoo menahan tubuh Jongin yang hendak berlari ke arah Sehun, namun ada tangan lain yang meraih tubuh Jongin.

Kyungsoo tersentak mengetahui bahwa tubuh Jongin telah ditarik oleh tangan lain. Dan kejadiannya begitu cepat. Jongin menoleh ke belakang, di mana Kris bersiap melayangkan tinju kearahnya, dan Kyungsoo beserta anggota yang lain memekik kaget.

Satu pukulan yang Jongin minta dari Sehun, diberikan cuma-cuma oleh Kris.

Sehun mengalihkan tatapannya memandang dua hyungnya tersebut. Ia mengerutkan keningnya walau tak kentara, menatap Jongin yang sedang tersungkur dan Kris yang sedang menatap Jongin tajam—yang mana langsung beralih menatapnya.

Dalam keheningan yang tak seorangpun mampu bersuara seperti itu, suara Kris yang berat dan dingin terdengar menakutkan.

"Hati yang terlanjur mati, takkan mampu menyakiti. Bahkan mencintai. Biarkan aku yang membalasnya untukmu, Jongin-ah. Agar kau bisa diam sejenak."

Lalu sosok itu pergi, entah kemana. Tubuhnya yang tinggi dan tegak menghilang dari pintu masuk dorm, meninggalkan Jongin yang berdiri dipapah Kyungsoo. Senyum meremehkan masih ia tunjukkan pada Sehun sebelum ia pergi dari ruang tengah.

Satu persatu dari mereka membubarkan diri setelah Junmyeun berkata bahwa ia akan mendiskusikan kembali jadwal mereka dengan manager.

Sampai saat satu orang yang masih bersama dengan Sehun di ruangan itu. Byun Baekhyun baru beranjak dari duduknya, menatap Sehun nanar.

Suaranya yang lirih seakan memukul telak hati Sehun yang paling dalam, menyadarkannya, menariknya ke permukaan. Menggetarkan kepura-puraan yang selama ini ia bangun. Menyisakan perih yang tak terperi.

Sebelum akhirnya, Byun Baekhyun pergi dari sana. Suara dan kalimat Baekhyun masih terngiang di telinga Sehun. Terngiang berulang-ulang seperti kaset rusak.

"Hatimu—tidak mati, kan?"

.

.

.

.

Jadwal mengisi acara dikosongkan tiga hari—manager menyetujuinya.

Junmyeun datang memberitahu. Beberapa member nampak lega karena mereka akan punya waktu untuk beristirahat dengan cukup.

Seperti biasa, Sehun akan langsung pergi ke kamarnya. Membuat Jongin lagi-lagi memicing tajam, namun urung beranjak karena Kyungsoo memohon dengan sangat.

.

.

.

Sabtu menjadi hari paling melegakan bagi mereka, karena empat hari kedepan mereka libur dan terbebas dari jadwal mengisi acara.

Kyungsoo dan Baekhyun sedang berada di ruang tengah, menonton acara televisi dan kadang mengobrol santai, sebelum suara derit pintu terdengar.

Ketika Sehun melewati mereka berdua dengan menenteng satu tas ransel, Kyungsoo dan Baekhyun tak bisa menahan diri untuk tak bertanya.

"Sehun, kau mau kemana?" Kyungsoo bertanya setelah beranjak dari tempat duduknya, berlari kearah Sehun yang telah berhenti di depan pintu.

Baekhyun mengikuti dari belakang dengan kening yang berkerut tajam.

"Sehun..."

Oh Sehun membalikkan badannya, menatap sosok Kyungsoo dan Baekhyun yang sedang menatap khawatir padanya.

Dan dalam pandangan terakhir, Sehun melemparkan sebuah senyum pada mereka berdua, sebelum sosoknya berbalik kembali, meraih handle pintu dan menghilang di baliknya.

Kyungsoo dan Baekhyun sama-sama terpaku. Pasalnya, itu adalah senyum pertama yang diperlihatkan Sehun pada mereka semenjak Luhan ditemukan mengenaskan di lorong gelap bersama tiga pemuda yang hendak memperkosanya.

Dan Baekhyun lebih dari tahu—jika senyum Sehun adalah senyum yang mengisyaratkan rasa terimakasih untuk mereka berdua.

Mereka masih menatap seperti orang idiot pada pintu di depannya, tak menyadari bahwa gema suara langkah kaki yang tergesa-gesa datang di balik punggung mungil mereka.

"Kyungsoo! Baekhyun hyung! Kemana Sehun?!"

Baik Kyungsoo dan Baekhyun terperanjat mendengar sebuah suara memanggil mereka. Keduanya berbalik kebelakang, dan menemukan Jongin berlari dan kemudian berhenti tepat di depan mereka berdua dengan napas yang memburu.

"Ada apa, Jongin?" tanya Kyungsoo sambil mengernyit bingung.

Jongin mencoba bernapas normal karena—sungguh, ia baru berlari melewati tangga dan koridor di dorm mereka yang luas. Ia menyerahkan sebuah kertas pada Kyungsoo.

Ketika Kyungsoo dan Baekhyun membukanya, yang ditampilkan keduanya hanyalah ekspresi yang tak dapat terbaca.

"Hyung-hyungku, aku sudah bicara pada manager agar aku bisa diberi waktu lima hari untuk pergi ke suatu tempat. Manager mengizinkannya, dan aku memintanya untuk tak mengatakan ini pada kalian dulu. Hyung, maaf ini mendadak, tapi aku harus pergi. Jika aku tak cepat-cepat pergi, aku hanya akan menjadi lebih buruk dari ini. Aku janji akan kembali setelah lima hari, hyung! Terimakasih."

Baekhyun dan Kyungsoo saling bertatapan bingung sebelum suara Jongin menyadarkan mereka.

"Dia membutuhkan satu tahun untuk sadar," katanya, "lelet sekali."

.

.

.

Sehun POV

Musim semi; pohon oak dan maple merimbun, bunga menampilkan warna tercerahnya, teh yang di seduh di depan rumah, jalan yang ramai dengan anak kecil dengan permen kapas di tangan. Untukku, musim semi lebih seperti musim penjerat kebahagiaan. Cukup sudah satu tahun aku berpura-pura seperti idiot. Cukup sudah aku bersembunyi seperti pengecut.

Padahal—aku tahu dari awal. Hanya saja, aku terlalu tolol untuk baru menyadarinya.

Luhan, maafkan aku.

Seharusnya aku langsung masuk ke kamar rawatmu sesaat setelah kau masuk ke sana. Barangkali yang kaubutuhkan hanya aku. Barangkali yang kauinginkan adalah dekapanku. Seperti biasa.

Seharusnya aku langsung mengejarmu ke bandara ketika kau hendak ke China. Barangkali yang kauharapkan adalah kehadiranku untuk membawamu kembali. Barangkali yang kauharapkan adalah aku—

—yang saat itu hanya mengambil langkah diam saja.

Luhan-ah...

Tunggu aku...

Sehun POV End

.

.

.

tbc

.

.

a/n : hello is anybody here /krik/ /garukgaruktembok/ /bersihindebu/ /digampar/

it's been a very long time like a year wtf?! I know im a bad author im sorry but im trying to work on it now pls forgive meh

one more chap so it'll be finished!

Let sehun meets lu han in the next chap, let them be happy hehehe. Yup, fanfic ini bakal jadi happy ending yeyeeyeyeye

So pleaseu forgive me huhuhu and please wait a bit more for the ending huhu

Thanks a bunch to the reader/reviewer yang selalu nagih-nagih dan jadi penyemangat. I love you to no end lah~ thanks again to my twin hanidiane for reminding me every now and then bout this ol' fic hehe

C u later, maybe this weekend when i'll post new chap of 'home'. New reader and reviewer are welcomed!