Balasan Review (SMC Chap.2)!

Kiriko Alicia : Setelah author 1 & 2 lulus skripsi ya! hehe, just kidding~ *ditimpuk* sabar aja, autor belum dapet wangsit, kami akan inkubasi dulu dikostan para shota XD Tenang saja! Pasangan tiap shota akan mengejutkan dan diluar ekspetasi serta nalar manusia X3 thanks ya udah baca dan review~ :3

Kurotori Rei : Makasih udah baca dan review~ kami emang berniat membuat para shota menderita (karna kami telah ditolak para shota D'X ) *diinjek para shota*

Sweetberry ak68 : Makasih banyak atas review dan juga idenya~ Author cinta berat sama kamu deh *emot ngedipin mata* eh engga deeeng~ sama reviewnya aja~ :D *digampar*

Fujiwara Kumiko024 : Thanks for review~ Keinginan anda akan kami sampaikan, tapi tolong ambil nomer antrian terlebih dahulu ((Author 1 : udah kayak antri pukesmas ya -_- || Author 2: biarin XD ))

Punchan : Thanks for read and review~ Sayangnya Honey sudah milik Usa-chan X3 *angkat banner gambar Usa-chan*

Ojouchan 29: Makasih udah baca dan review~ Sayangnya Lui ga lolos casting dan udah ada promotor lain yang mau ngajak Lui shooting disinetron "Lui yang tertukar". Bercanda diing~ XD *digampar*

Mahou-chan : Wahaha bawel gapapa kok~ Authornya malah bahagia kalau ffnya dibawelin *emot cium* #plak hohoho sayangnya anda tidak lolos casting untuk ikut serta menjadi cast di ff ini XD *digamparin* thanks for read and review~

Arune Rosenheim : Iya...surga para shota _ (kedua authornya shotacon) tolong jangan sembarang peluk para shota cast kami! *asah pisau* thanks for read n' review fufufu~


YOSHHH~ HISASHIBURI! \(^o^)/

Ketemu lagi dengan author disini~

Yahoooooo akhirnya bisa update jugaaa ;^; *menangis bahagia*

sebelumnya author minta maaf karna update yang super lama *bow* dikarenakan ff SMC ini hasil kolaborasi dengan teman author jadi agak lama prosesnya, kami harus berunding dulu dalam jangka waktu lama, dan karna sibuk kuliah juga terhalang jarak membuat kami cukup lambat dalam proses tiap chapternya... jadi kami berdua benar-benar minta maaf .

Chapter kali ini membahas Momiji, seharusnya Momiji dimasukan di chap sebelumnya bersama Oz dan Honey, tapi karna sempat kehabisan ide dan terbatas waktu jadi terpaksa Momiji ditunda dan baru muncul sekarang, gomen nasai~ *bow*
Oiya, bagaimana kalau author membuka sesi wawancara? jika kalian setuju, nanti akan dibuat chapter khusus yang memuat pertanyaan readers ke para cast atau authornya beserta jawaban dari pertanyaan kalian. bagaimana? setuju tidak? _

selain itu kami mau berterimakasih untuk kalian yang setia menunggu perkembangan ff ini *hiks* kami benar-benar mencintai para readers sekalian *emot cipok*
kami juga sangat menghargai review kalian, oleh karena itu jika ada yang ingin kalian sampaikan jangan lupa untuk meninggalkan review berupa kritik, flame, saran, maupun lainnya :)

Happy Reading! *bow*


Chapter 3!

MOMIJI ACT!

Pagi yang tidak biasa di hari minggu yang cerah. Para shota memulai aktivitasnya di hari libur dengan tidak biasa. Sudah genap seminggu semenjak gong tantangan SMC yang ditandai dengan jeritan histeris Len berkumandang dan genap seminggu pula setiap shota di kost pandoroid mempunyai aktivitas baru di malam sabtu, malam minggu, dan minggu pagi. Demi menghindari hukuman kejam Kuroki bersaudara, para Shota rela menghabiskan hari liburnya dengan aktivitas yang kurang penting tapi genting. Suasana santai dan aura bahagia para Shota dihari libur pun kini berubah menjadi suram. Ditambah lagi aroma persaingan, kekalahan, dan parfum a(x)e Len mulai merebak keseluruh penjuru ruangan kost. Sepertinnya shota kita yang satu ini telah menjadi korban iklan yang kurang-lebih punya slogan, "Parfum a(x)e bisa bikin cewek klepek-klepek". Namun, dari semua aroma tidak mengenakan tersebut -sebenarnya cuma aroma parfum Len sih yang ga enak, kalau kata Ciel aroma parfum Len mirip aroma anjing penjaga dirumah keluarganya-, terpancar sedikit kebahagiaan disalah satu ruangan di kost Pandoroid.

Tepat dibalik sofa besar di ruang TV, terdengar tawa bahagia dua orang perempuan yang diikuti dengan suara manis salah satu shota penghuni kost. Mereka bertiga sibuk berdiskusi dengan sebuah pensil dan buku sketch yang di pegang oleh shota tersebut. Beberapa helai pakaian lengkap dengan pernak-pernik lucu pun bertaburan mengelilingi daerah tempat mereka berdiskusi.

"KYAAAA… Imutnya~", Mizuki berteriak histeris sambil mengepalkan kedua tangannya di pipinya yang chubby.

"WAAAAHHH….. Miji-chan hebat! Ide dan gambar rancangan Miji-chan benar-benar imut", sahut Hikari dengan mata berbinar-binar.

"Hehehe….. Biasa saja. Sebenarnya aku banyak belajar dari sepupuku kak Aya. Kebetulan dia menjalankan bisnis barang-barang seperti ini. Ohya, kalau Mizu-chan dan Hika-chan masih memerlukan beberapa bahan aku akan coba meminta pada kak Aya"

YAP! Kira-kira itulah yang mereka perbincangkan selama mereka berdiskusi. Tapiiii, apa yang sebenarrnya digambar Momiji dan apa yang Kuroki bersaudara anggap imut tersebut memang belum begitu terlihat jelas. Hingga seorang laki-laki berambut honey blonde dengan ponytail kecil masuk ke ruangan tersebut dan menegur mereka. Len Kagamine nama laki-laki itu, Len bersandar tepat di pintu masuk ruangan tersebut sambil memegang botol minum yang masih terisi penuh. Wajahnya terlihat bete dan sorot matanya terlihat mengamati seisi ruangan yang berantakan karena dipenuhi barang-barang yang ia benci. Wajahnya semakin terlihat kesal begitu lensa matanya menatap tajam tiga objek hidup yang ada diruangan yang dipenuhi benda-benda terkutuk. Len merasa kesal melihat senpai Momiji, salah satu teman seperjuangan shotanya sedang berakrab-akrab ria ditengah penderitaan shota lainnya. Terlebih lagi senpai Momiji berakrab-akraban dengan dua iblis Kuroki. Merasa tidak terima dengan yang ia lihat, dengan hati-hati shota tercantik(?) di kost pandoroid tersebut menghampiri senpai Momiji. Len melangkah dengan hati-hati karena ia tidak sudi jika kakinya sampai menginjak benda-benda terkutuk diruangan tersebut. Begitu tangannya berhasil menjangkau tempat tiga objek hidup yang sedang asyik berdiskusi, Len langsung menarik kerah belakang baju Momiji. Seketika tubuh Momiji terlihat seperti posisi anak kucing yang menggantung.

"Apa yang kalian lakukan disini, HAH ?", Len berkata dengan wajah kesal dan nada tak sopan pada seniornya.

"A-a-ah…. Anooo...", jawab Momiji gugup.

DUUUUAKKKK

"LEEEEN! Sopan sedikit sama seniormu!", melihat perbuatan Len, Hikari langsung meninju belakang kepala Len.

"Heeei…. Sakit tau!", Len melepas genggaman kerah baju Momiji dengan tiba-tiba dan gantian memegangi kepalanya yang benjol. Momiji pun jatuh dengan posisi duduk bersimpuh akibat Len melepas genggamannya itu.

"Miji-chan ga apa-apa?", Mizuki menghampiri Momiji yang terus bengong setelah jatuh dari ketinggian yang ga cukup tinggi.

"Akukan cuma tanya kalian ngapain. Jangan mukul orang sembarangan dong!", ucap Len sambil memajukan bibir bawahnya, kesal.

"Nada bicaramu itu yang bikin kamu pantas dipukul", tukas Hikari dengan wajah juteknya. Ia juga menunjukan kepalan tangannya, bersiap meninju Len lagi kalau-kalau shota yang satu itu belum kapok. Seketika muncul kilatan petir dari mata mereka berdua.

"Hika-chan, Len-chan! Sudah jangan bertengkar", Mizuki coba menenangkan keduanya. Keduanya saling membuang muka. Hikari menarik napas panjang untuk mengatur emosinya, sementara Len meneguk air dari botol minum yang ia pegang untuk meredakan emosinya.

"Sudah jangan bertengkar, aku disini cuma bantu Hika-chan dan Mizu-chan membuat ini~"

Momiji menunjukkan buku sketch yang ia pegang pada Len yang sedang meneguk air dari botol minum yang ia bawa.

BUUUURRRRRRSSH

UHUK UHUK UHUK

Air yang diminum Len menyembur keluar dari mulutnya dan sukses membasahi buku sketch beserta Momiji sekaligus. Ia terbatuk-batuk dan wajahnya terlihat sekarat begitu melihat gambar dari buku sketch yang ditunjukan oleh Momiji.

"APA YANG KAU LAKUKAN BODOH! Miji-chan kan sudah susah payah membantuku dan Mizuki mendesain baju hukuman untuk tantangan SMC", Hikari berteriak marah sambil menarik kerah baju Len dan mengguncang-guncang keras tubuh Len yang masih terbatuk-batuk.

"Sayang sekali kertasnya basah... Padahal ini desain pakaian yang sengaja Miji-chan buat khusus untuk Miji-chan kenakan", sahut Momiji sambil mengembungkan kedua pipinya sebagai tanda kesal.

"Kalau Len iri melihat desainnya, jangan merusak gambar orang seenaknya. Lagi pula Len tidak perlu khawatir, untuk baju Len sudah selesai kami buat. Aku dan Hika-chan membuatkan baju Len paling pertama loooh…"

Mizuki menunjukkan sebuah pakaian maid berwarna kuning cerah, berenda serta berpita lebay lengkap dengan telinga dan ekor kucing.

"Selain ituuuuu... Baju ini punya dua keunggulan. Pertama, kami menambahkan aksesoris pin berbentuk pisang, daaaaaaaaaaaaaaaann….", Hikari menghentikan kalimatnya sebentar lalu melirik pada Mizuki.

"Ukurannya juga sangat pas karena kami mengukur langsung tubuh Len waktu Len sedang tiduuuuuur... YEAAAYYYY", sahut kedua Kuroki bersaudara kompak sambil menunjukan ibu jari mereka masing-masing. Sementara wajah len terlihat sangat shock dan…

HENING

HENING

HENING

KRIIIIIIIK

(Setelah selama ½ menit Len cengo, TIBA-TIBA…..)

KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

Len menjerit bak anak perempuan yang baru saja melihat kecoa pake baju maid(?). Secara spontan ia menyiram baju yang sedang di pegang Mizuki dengan sisa air di botol yang ia pegang. Seluruh baju maid dan Kuroki bersaudara yang sedang berdiri berdekatan sukses dibuat basah kuyup oleh Len.

"LEEEEEEEENNNNN~"

Ruangan tersebut mendadak menjadi gelap dan dipenuhi aura iblis. Bayangan Kuroki bersaudara berubah menjadi raksasa. Rambut mereka pun melayang-layang bak manusia super Saiya. Melihat hal tersebut, tubuh Len mulai gemetar. Buliran keringat seukuran biji jagung mengalir deras membasahi wajahnya.

"Ma-ma-mamama…maaf. Aku ga sengaja", Len mencoba meminta maaf sambil mengiba dan sembah sujud. Tapi sepertinya usahanya sia-sia. Tanpa pikir panjang lagi Len langsung mengambil langkah seribu. Ia langsung berlari melebihi kecepatan cahaya sambil membawa serta Momiji pergi menuju kamarnya, dan…

WUUUUUSSSSHHHHHH

.

.

.

Sesampainya di kamar, ia langsung mengunci pintu kamarnya rapat-rapat. Dengan wajah yang terlihat sangat pucat seperti mayat hidup dan napas tersengal-sengal, ia berusaha mendorong lemari besar di kamarnya untuk menghalangi pintu masuk. "Huft". setelah lemari itu berhasil menghalangi pintu barulah ia bisa duduk tenang dan bernapas lega.

"Apa yang senpai lakukan? Kalau begini namanya senpai menyerah sebelum berperang. Aku mengerti kalo ini tidak mudah, tapi kita harus tunjukan tidak hanya pada mereka tapi pada seluruh dunia bahwa kita adalah pria sejati dan... bla...bla...bla..."

Dengan ikat kepala putih yang muncul tiba-tiba entah dari mana, selama sejam Len bicara panjang lebar seperti orang yang sedang berorasi. Sementara Momiji duduk bersimpuh mendengarkan dengan wajah polosnya sambil sekali-kali bersorak dan mengangkat bendera perjuangan -yang muncul entah dari mana juga- sebagai tanda setuju dengan apa yang dikatakan Len.

"Jadiiii... Kita harus terus berjuang sampai akhir. Seperti itu seharusnya, senpai mengerti?"

"YEAAAY... Miji mengerti sekarang", sorak Momiji sambil bertepuk tangan ria.

"Kalau gitu sekarang tolong geser lagi lemarinya, Miji harus keluar untuk ke kamar mandi", lanjut Momiji dengan wajah polos.

"AAARGGGHH! Senpai dengerin ga sih?"

"Untung aja dia senior dan berwajah imut, kalau engga pasti udah ku pukul", guman Len sambil mengacak-ngacak rambut honey blondenya.

"Len-chaaaan~ ayolah cepat geser lemarinya, di kamar Len-chan ga ada kamar mandinya", rujuk Momiji yang membuat Len sweatdrop.

"Ciel-chan aja punya taman ria pribadi di kamarnya. Miji pernah naikin roller coaster dikamar Ciel sekali"

Kali ini Len pundung di pojokkan sambil gigitin bantal pisang kesayangannya.

"Len-chan kenapa?"

"Huuuaaaahhh….. Hiks... Hiks... Hiks", Len terus menangis di pojokkan. Sementara Momiji hanya menatap Len dengan wajah bingung dan polosnya. Ia menaruh telunjuk kanannya di bibir dan memiringkan kepalanya sedikit.

"Kalau soal mencoba, Miji sudah pernah ditembak kok"

"Heee?", Len memalingkan wajahnya ke belakang untuk menatap Momiji sambil mengusap air matanya.

"Tapi Miji harus menolaknya"

"AP-APAAAA…? Kenapa? Kapan? Bagaimana?", sahut Len penasaran.

"Baiklah, Miji akan bererita. YEAAAAY", sorak Momiji riang. Ia langsung mengambil sketch booknya dan mengambar dengan cepat. Kemudian…

"Ehem~ begini ceritanya. Tiga hari yang lalu di taman dekat kost Pandoroid…"


[ FLASHBACK ]

Di suatu sore di paviliun kecil di dalam sebuah taman, terlihat seorang shota manis bernama Momiji yang sedang memejamkan mata sembari memainkan biolanya. Melodi lembut yang dihasilkan dari permainannya menjadi pemanis senja di taman itu.

SRAAAAKK

Namun, tiba-tiba saja semak-semak dekat paviliun tersebut bergoyang-goyang. Momiji menghentikan permainan biolanya begitu melihat seorang perempuan yang muncul dari balik semak-semak. Ia memegang set biolanya dengang tangan kirinya dan menghampiri perempuan yang terduduk di balik semak-semak itu.

"Hai! Siapa namamu? Apa kamu tersesat?", Momiji berkata sambil mengulurkan tangan kanannya dan tersenyum manis pada perempuan itu.

"Yu...Yui", jawabnya sambil tertunduk dan tersipu malu

"Oh, Yui-chan. Apa kamu tersesat? Sebentar lagi akan gelap"

"Mainkan lagi!"

"Are?"

"Mainkan lagi! Yui ingin mendengarnya", sahut Yui dengan wajah memerah sambil menunjuk biola yang dipegang oleh Momiji.

"Ah ini, mmmhh... Lebih baik besok saja karena sebentar lagi malam", jawab Momiji sambil celingak-celinguk melihat-lihat area di sekitar mereka berada.

"TIDAK MAU! Pokoknya Yui ingin mendengarnya sekarang!", tiba-tiba saja gadis itu berteriak sambil setengah menangis.

"I-iya. Tap-tapiii, memangnya or-"

"Nama?", Yui memotong perkataan Momiji.

"Heh?"

"Nama. Siapa nama kakak?"

"So... Sohma Momiji"

"Oooooh", sahut Yui sambil membulatkan mulutnya.

"Baiklah Yui-chan, lebih baik kita car..."

"MENIKAHLAH DENGAN YUI", lagi-lagi Yui memotong perkataan Momiji. Mendengar apa yang dikatakan Yui, Momiji hanya tersenyum dan mengusap rambut hitam Yui dengan lembut.


[Di kamar Len - Saat ini]

"Ap-apa? Kalian baru bertemu, tapi dia sudah mengajak senpai menikah? SUGOIIII~ tapi kenapa senpai tolak?"

"Mmmhhhh... Miji bukan menolaknya. Tapiii, seperti… Mmmhh… Semacam menanggapi atauu… Memberi pengertian. Ya semacam itu..", jawab Momiji ragu-ragu.

"Aku ga ngerti. Yaudah ceritain lagi aja", sahut Len sambil menggaruk belakang kepalanya.


[ Balik lagi ke flashback ]

"E-etoo… Umur Yui memang keliatan lebih muda dari kakak. Tapiii... TAHUN DEPAN YUI AKAN MASUK SD"

"Heh?"

"Kakak sekolah dimana? Yui akan masuk kesekolah yang sama dengan kakak"

"Tap-tapiii… Miji kan..."

"Tenang saja, Yui sudah bisa baca tulis. Yui pasti bisa masuk ke sekolah yang sama dengan kakak"

"Bu-bukan itu masalahnya… Miji ini sudah kul.."

"YUIIIII... DIMANA KAMU SAYANG? YUIIIII?"

Tiba-tiba saja dari arah dekat paviliun tersebut, terdengar suara seseorang memanggil Yui. Anak perempuan bernama Yui itu langsung mencari sumber suara itu dan memanggil keras kearah seseorang itu.

"MAMAAAA… AKU DISINI"

"Yui kemana saja? sejak tadi mama mencarimu. Sebentar lagi malam, ayo kita pulang", seseorang tersebut ternyata adalah mama Yui, ia datang menghampiri tempat dimana Yui dan Momiji berada dan langsung memeluk Yui.

"Mama lihat, ini kak Momiji", sahut Yui sambil menunjuk Momiji.

"Selamat sore", sapa Momiji ramah sambil menunduk.

"Sore", balas mama Yui sambil tersenyum lembut.

"Mama.. Mama.. Yui ingin menikah dengan Momiji"

"I-ituuu…"

"Are? Yui-chan bahkan belum masuk SD, mana boleh menikah? Fufufu", ucap mama Yui sambil mengusap rambut Yui dengan lembut. Sepertinya ia sudah tidak kaget lagi dengan tingkah anaknya.

"Kalau begitu, Yui mau masuk SD yang sama dengan kak Momiji"

"Waaahh… Baiklah. Momiji-chan kamu sekolah dimana?"

"A-apa? E-etoo… A-anoo. Se-sebenarnya aku ini sud-"

"Ya ampuuuun…. Sudah jam segini. Yui sebentar lagi papa pulang. Kita harus segera sampai rumah. Ngobrolnya dilanjutkan besok aja ya", sahut mama Yui memotong perkataan Momiji begitu ia melihat arlojinya.

"Nah Yui, waktunya berpamitan pada kakak"

"Mmmhhh…. Iya. Kak Momiji besok kita main lagi ya", Yui berkata sambil melambaikan tangannya yang mungil kearah Momiji

"Momiji-chan juga harus segera pulang, nanti bisa-bisa mamamu marah", sahut mama Yui menasehati Momiji sambil mengusap rambut Momiji.

"I-iya", jawab Momiji patuh. Akhirnya mereka saling melambaikan tangan dan pulang ke rumah masing-masing.

[ END OF FLASHBACK ]


"Yaaa… Begitulah akhirnya. Kejadian seperti itu sudah terjadi lima kali dalam seminggu terakhir ini setiap Miji datang ke taman itu. Aneh sekali, kenapa Miji selalu dianggap anak SD?", jelas Momiji pada Len dengan polosnya. Len yang mendengarkan cerita Momiji sampai akhir hanya bisa cengo. Tubuhnya menjadi memutih dan matanya berubah menjadi dua bulatan putih yang kosong.

"Len-chan, Len-chan", Momiji melambai-lambaikan tangannya ke depan wajah Len, berusaha menyadarkan Len

"Len-chan... Ayo sadar, Miji harus ke kamar mandi. Terus Miji juga ada janji makan cake sama Oz dan Honey. LEN-CHAAAAAN", Momiji terus berusaha membangunkan Len sambil menguncang-guncangkan tubuhnya. Tapi semua usahanya sia-sia karena Len sudah terlanjur terseret jauh ke dalam black hole di pikirannya.

[ Suara hati Len ]

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA~

Bagaimana kalau aku bernasib sama atau bahkan lebih buruk lagi? Author kumohon... Jangan buat kisahku jadi berakhir begitu kejam T^T

.

.

.

To be continue...