Balasan Review!

Fuyukaze Mahou: Halo Mahou-chan~ Momiji ga lebih tinggi dari anak kelas 5 SD pada umumnya, silahkan bayangkan sendiri hehehe ^w^) thanks for read n review~

Go Minami Asuka Bi: Chapter 4 giliran Ciel sama Piko. Update selalu diusahakan cepat kok, cuman otaknya para author yang terlalu lemot memproses T^T)9 *telen keyboard* thanks for read n review~

CakeDoS: Terimakasih sudah menyempatkan membaca & mereview ff ini~ Mungkin definisi shota yang kami jelaskan tidak terlalu tepat atau mungkin salah, tapi kami menekankan definisi menurut kami sendiri agar para pembaca bisa mengikuti alurnya dengan mudah kami juga selalu berusaha agar karya kami bisa membuat semua pembaca merasa terhibur ^o^)

Alice Dreamland: Iya, selain itu para author sedang ditekan oleh para dosen kejam takberperi-fujoshi-an ;w;) #curhat ... ini sedang dilanjut thanks for read n review~

68: Soal pasangannya tunggu saja di chapter akhir yaa, muehehehe XD *ketawa nista* tentu udah ijin dong sama si Kuroki bersaudara, kalau gaada ijin mungkin Ciel udah dicincang hehe... thanks for read n review~

Puchan: tapi 'punchan' itu panggilan sayang dari author looh ;) #ngeles Yui sebenernya lagi berburu serangga kayaknya... sipp~ thanks for read n review~

Asiah: Fufufu~

Guest: ini dia chapter 4 nya~ maaaf lama menunggu *bow* w thanks for read n review~

Lulu-chan: tentu dilanjut! ^o^)/ thanks for read n review~

.

.

.

Author : Kari Ayam & Black Rabbit

Title : 10 Shota Mencari Cinta

Genre : Drama/?, Humor, Romance

Lenght : Chaptered

Rating : T

Cast: Kagamine Len & Utatane Piko & Oliver (Vocaloid), Phantomhive Ciel (Kuroshitsuji), Hitsugaya Toshirou (Bleach), Haninozuka Mitsukuni / Honey (Ouran Host Club), Vessalius Oz (Pandora Hearts), Zaoldyeck Killua (Hunter X Hunter), Rokujou Miharu (Nabari No Ou), Sohma Momiji (Fruit Basket).

Special Cast (OC) : Kuroki Hikari & Kuroki Mizuki

Sumary : Pandoroid kost! Kost-an berisi sepuluh pria shota super tampan dengan segala keunikan mereka.


.

.

.

Disclaimer:

Vocaloid © Yamaha Corp., Crypton Future Media, Internet FX, etc.

Ouran Host Club © Bisco Hatori

Fruit Basket © Natsuki Takaya

Hunter x Hunter ©Yoshihiro Togashi

Bleach © Tite Kubo

Pandora Hearts © Jun Mochizuki

Kuroshitsuji © Yana Toboso

Nabari no Ou © Yuhki Kamatani

Fanfict "10 Shota Mencari Cinta" © Kari Ayam and Black Rabbit

.

.

.

Warning : Typo, OOC, Absurb, Author nyempil/?

.

.

.

Chapter 4!

PIKO & CIEL ACT!


Tantangan SMC kini hampir genap memasuki minggu kedua. Ada beberapa yang sudah menyerah dan ada pula yang masih terus berjuang sampai akhir hayat. Salah satunya adalah Piko, shota manis penggila game yang memiliki rambut putih dengan ahoge* manis diatas kepalanya, ia masih terus berjuang demi 'kemerdekaannya'. Selain memiliki wajah manis, Piko juga merupakan anak tunggal dan pewaris tunggal dari grup Vocaloid yang melegenda. Walaupun ia memiliki wajah kece dan dompet badai, namun sayangnya sifat pemalu dan pendiam menjadi kendala untuk menyelesaikan tantangan ini. Dikarenakan sifatnya ini, seluruh penghuni kost pun tau bahwa Piko akan lebih memilih untuk menjadikan laptop dan gadgetnya sebagai teman atau bahkan kekasihnya dibanding manusia.

"Haaaaaaaaahhhh ~"

Piko duduk termenung dengan wajah frustasi di depan layar laptopnya. Sudah hampir dua minggu ia berlatih di depan cermin, namun ia tetap masih merasa sangat gugup ketika harus berbicara dengan manusia lain.

"AAAAARRRRRGGGHHHH….. Kalau begini terus aku pasti akan pingsan sebelum mengatakan ci-cin-ta"

BLUUUUUSSSHHH

Saking kesalnya ia mengacak-ngacak rambutnya dan tiba-tiba jantungnya berdebar kencang diikuti wajahnya yang bersemu merah.

"AAARRRGGGGGHHHHH…. Bahkan cuma bilang kata 'itu' saja susahnya setengah mati"

TRING

Tiba-tiba sebuah pesan chat masuk di layar laptop miliknya. 'MIKI', begitulah nama pengirim pesan tersebut yang tertulis dalam layar.

Miki : Pi_chaaaaaan~ (_) aku kalah lagi di level 20! HUEEEEEE (T_T)

Miki : Oh iya, belakangan ini wajahmu terlihat lesu, ada apa? Ada game yang sulit dan Pi_chan kalah terus ya?

Piko : Ada. Hampir

Piko membalas pesan tersebut dengan singkat dan wajah bersemu merah. Ia tidak menyangka, gadis aneh yang belum lama ia kenal itu mau akrab dengannya. Miki memang berbeda dari gadis lainnya, ia tidak pernah mengejek dan merasa aneh pada Piko yang selalu menunduk dan gemetaran ketika sedang berbicara padanya. Gadis yang sama-sama menggilai game tersebut malah terus berusaha untuk mendekatinya.

Miki : Game apa? Game apa? Beri tahu aku, pasti akan Miki bantu

Mata Piko tiba-tiba membulat dan berbinar ketika melihat balasan dari Miki. Ia mengepalkan kedua tangannya dan bertekad dalam hati.

"Baiklah, kalau tidak bisa dikatakan secara langsung. Lewat tulisan pun tidak masalah. YOSH !"

Kemudian Piko mulai menarikan jari-jemarinya di atas keyboard.

Piko : Yakin ingin membantu ?

Miki : Tentu saja

Piko pun akhirnya menceritakan tatangan SMC kepada Miki melalui chat.

Miki : Bhuaahahahahaha…. Iya iya, itu game yang benar-benar sulit. Hahahahaha…..

Piko : (/) Mi-Mikiiiiiiiiiiiiiii

Miki : Gomen gomen. Tenang saja pastiku bantu, serahkan pada Miki (0_~)b

"Eh? Jangan-jangan. Apa mungkin dia…. Ma-mau"

GLEEK

Piko menelan ludahnya sendiri untuk menghilangkan kegugupannya. Keringatnya mulai mengalir deras meskipun kamar yang ia tempati sedang terpasang AC dengan suhu -200 C.

" Jangan-jangan dia me-menerimaku"

"Aaaahhh….. Tidak tidak. Harusku tanyakan lagi. Tapi, bagaimana cara memastikannya. Mmmmhhh… Kalau pakai kata pacar atau pasangan….. Arrrrghhhhh… Tidak tidak, itu terlalu memalukan. Pakai sinonim yang lain saja"

Setelah membulatkan tekad, Piko mulai menulis pesan pada Miki

Piko : Miki sangat baik dan akuuuu suk-ka….. Jadiiiii… Maukah Miki jadi partnerku?

TRING, pesan itu pun terkirim.

"Aaaahhhhh…. Aku benar-benar mengirim tulisan itu pada Miki. Baka baka baka!"

Piko mulai frustasi dan membenturkan kepalanya ke meja beberapa kali.

TRING

Miki : Tentu saja, akan ku lakukan yang terbaik untuk membantu Piko.

BLUUUUSHHHH

Melihat tulisan tersebut, keluar asap putih dari wajahnya dan wajahnya pun kini menjadi merah semerah kepiting rebus.

Miki : Kalau begitu kita bertemu hari Rabu setelah kuliah. Waktu dan tempatnya akan ku beri tau lagi nanti. Ja ne

Ruangan di kamar tersebut mendadak dipenuhi pohon sakura yang mekar secara tiba-tiba, lengkap dengan angin sepoi-sepoi yang entah bertiup darimana yang membuat efek terbangnya kelopak bunga sakura. Bak kejatuhan durian runtuh, Piko masih sedikit tidak percaya dengan apa yang dibacanya. Berkali-kali ia membaca ulang tulisan tersebut, kemudian ia mencubit pipinya.

"AAW…"

"I-ini….. Bukan MIMPI"

Piko bangkit dari duduknya, menjatuhkan dirinya keatas kasur dan mengambil bantal terdekat untuk menutupi semu merah di wajahnya. Sambil menatap langit-langit, ia teringat kembali hari hujan yang membuat ia bertemu dengan Miki untuk pertama kalinya.


[FLASH BACK]

Minggu sore di sebuah toko game, terlihat seorang laki-laki manis menatap langit yang dipenuhi awan kelabu dan tidak henti-hentinya mengeluarkan titik-titik putih. Beberapa butir titik putih itu jatuh ditelapak tangannya dan membentuk sedikit genangan saat ia menengadahkan tangan kanannya dibawah titik-titik hujan. Kemudian, ia menarik dan mengibaskan tangannya yang mulai basah karena air hujan tersebut.

"Haaaah~….. Harusnya aku bawa payung"

Laki-laki itu menarik napas panjang penuh penyesalan. Ia berdiri terbengong melihat hujan sambil membawa sebuah bungkusan berisi sebuah game yang baru saja ia beli.

"Mau gunakan payung ini berdua denganku?"

Tiba-tiba seorang gadis yang baru saja keluar dari dalam toko tersebut menyodorkan sebuah payung hitam miliknya. Piko hanya diam mematung, ia memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan kegugupannya. Ya begitulah Piko, laki-laki manis yang sangat pemalu dan pendiam.

"Hei, kau mau tidak? Mmmmhh… Kalau tidak salah kau anak laki-laki yang tinggal di kost Pandoroid itukan? Kebetulan tempat tinggalku tidak jauh dari situ, jadi kita bisa saling berbagi payung"

Piko kaget mendengar apa yang dikatakan oleh gadis itu. Kemudian gadis itu membuka payung hitam miliknya.

"Ayo! Kalau menunggu hujan berhenti, kau tidak akan tau sampai kapan kau harus berdiri menunggu", sambil mengatakan hal tersebut, gadis itu menggandeng tangan dan menyeret Piko kebawah payungnya.

Sepanjang perjalanan gadis itu terus mengoceh. Sedangkan Piko menanggapinya dengan hanya diam dan menunduk menyembunyikan wajah gugupnya. Ia juga berusaha mengatur napasnya yang mulai tersengal-sengal karena perasaan gugupnya.

"Kau tahu, hujan seperti ini akan sangat lama berhenti. Walaupun tidak begitu deras, tapi nanti kau akan basah kuyup kalau mencoba berlari dari toko sampai tempat tinggalmu. Oh iya, mmmmhhh…. Ngomong-ngomong, aku benarkan kalau kau tinggal di kost Pandoroid?", tanyanya memastikan. Piko mengangguk menanggapi pertanyaan tersebut.

"Waaahhh… Ternyata tebakanku benar", sahut gadis itu sambil tersenyum riang.

"Kau pasti kaget kenapa aku bisa tau? Mau kuberi tau alasannya?"

Piko mengangguk sekali lagi.

"Oh, itu karena….. Aku sering melihatmu berjalan disekitar sini. Aku tinggal di kost dekat kost Pandoroid, kost Aria. kau tau dimana itukan?"

Piko menggangguk lagi.

"Dan…. Aku juga sering melihatmu pergi ke toko game yang tadi itu. Ah, jangan-jangan kau suka bermain game ya? Seberapa sering? Game apa yang kau mainkan? Game apa yang tadi kau beli? Aku juga sangat suka bermain game, aku sangat suka memainkan gam-"

Tiba-tiba saja perkataan gadis itu terhenti karena Piko menghentikan langkahnya.

"Sudah sampai", Piko berkata dengan dingin sambil memalingkan wajahnya.

"Eh?"

Tidak terasa mereka sudah berdiri di depan gerbang kost Pandoroid.

"Wa-waaahhhhahahaha…. Tidak terasa tiba-tiba sudah sampai. Ma-maaf aku terlalu banyak bicara. Kalau begitu, sampai jumpa"

Kemudian gadis itu berlari pergi meninggalkan Piko yang tidak sempat melihat wajahnya karena ia terus menunduk.

"Apa yang ku katakan? Piko kau bodoh….. Aaarrrghhh baka baka baka! Diakan sudah baik menolongku, tapi kenapa aku malah berkata seperti itu?Harusnya kukatakan terimakasih. Aaaarrrrghhhh... Baka baka baka!"

Piko terus mengomeli dirinya dalam hati sambil mengacak-ngacak rambutnya, hingga ia tak sadar kalau…

"Hei"

WAAAAAA…

Piko menjerit keras dan jatuh terduduk di atas aspal yang basah. Tiba-tiba saja gadis itu muncul dihadapannya lagi sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Piko berdiri.

"Hahahaha….. Gomen gomen, karena aku kau jadi basah kuyup", gadis itu tersenyum simpul dan tertawa kecil. Kali ini Piko memberanikan menyambut tangan gadis itu dengan ramah.

"Aku lupa memperkenalkan diriku dan menanyakan namamu", gadis itu berkata lagi sambil tersenyum dan menjulurkan lidahnya.

"Eh?", jawab Piko dengan nada heran.

"Namaku Miki, namamu?", tanya gadis itu sambil tersenyum manis.

GLEK

Piko hanya terdiam dan menelan ludahnya sendiri. Saking gugupnya, suaranya seperti tertahan di tenggorokannya dan tidak mau keluar. Melihat respon diam Piko, Miki tersenyum dan mengusap kepala Piko dengan pelan.

"Tidak apa-apa. Kau tidak harus menjawabnya, bicaralah kapan saja jika kau ingin bicara padaku. Aku akan menunggu meskipun itu cuma satu kata"

Setelah mengatakan itu Miki membalikkan tubuhnya dan siap untuk berjalan pergi.

"Pi-Piko", Piko berusaha mengumpulkan segenap keberaniaannya, namun suaranya terlalu pelan, sehingga Miki tidak dapat mendengarnya dengan jelas.

"Eh? Siapa?", tanya Miki sambil menolehkan wajahnya pada Piko.

"U-Uta...tane Piko. Namaku Utatane Piko", jawab Piko dengan suara yang bergetar.

"Senang mengenalmu…Pi_chan", sahut Miki sambil tersenyum nakal.

"Heh"

Kemudian Miki berlari pulang sambil melambaikan tangannya. Ia meninggalkan Piko yang bersemu merah karena nama yang disebut oleh Miki. Sejak hari itu, Piko akrab dan banyak mengobrol dengan Miki.


[FLASHBACK END]

KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA~

Tiba-tiba Piko menjerit histeris dengan wajahnya yang memerah setelah mengingat-ngingat kejadian tersebut.

[Sementara itu, diruang televisi]

"Heh? Bukannya itu suara Piko-chan? Apa terjadi sesuatu dengannya? Coba kita lihat dia Len-chan!"

"Aaahhh….. Biarkan saja, paling-paling dia terlalu asyik main game sampai lupa men-charge laptopnya"

"Oooohhh….."

"Dari pada memikirkan dia, lebih baik bantu aku mengerjakan soal yang ini Miji senpai!"

Di tempat lain, di sebuah kamar yang dipenuhi dengan aura gelap, terlihat seorang gadis berambut merah dengan ahoge manis diatas kepalanya. Sambil menyeringai tajam, gadis itu dengan lihai memainkan jari-jemarinya diatas sebuah papan keyboard. Di depan sebuah website serba hitam dan bertuliskan F besar yang tergambar dilayar laptopnya, ia menuliskan sebuah pesan singkat.

GAME START.

"Utatane Piko. Khikhikhikhikhi….. Tenang saja, pasti akan kulakukan yang terbaik untuk membuat gamenya semakin seru. Hihihihihi…. Hwahahahahaha…"

Dihari yang sama, di kost Pandoroid. Di sebuah kamar yang dipenuhi dengan wallpaper dan barang-barang serba mewah, terlihat seorang shota dengan setelan rapi dan eyepatch berwarna hitam yang menutupi mata kanannya. Shota tersebut bernama Ciel Phantomhive, shota terkaya selain Piko di kost Pandoroid ini merupakan keturunan bangsawan inggris Phantomhive dan satu-satunya pewaris tunggal serta kepala keluarga dari keluarga Phantomhive. Saat itu, Ciel tengah menikmati hari minggunya dengan mengerjakan beberapa tugas kuliah. Sebastian pelayan setianya membantu tuannya dengan menyiapkan teh dan beberapa hidangan ringan.

"Sebastian, kau sudah baca pesan yang kukirimkan padamu kemarin?", tanya Ciel sambil meneguk Earl grey tea miliknya.

"Mengenai tantangan mencari cinta itu, bagaimana jika saya menghubungi nona Lizzy untuk datang kemari?"

"Tidak perlu. Aku tidak mau repot-repot memanggilnya hanya untuk permainan konyol macam ini. Lagipula, aku tak ada waktu untuk meladeni Lizzy jika dia datang ke Jepang", jawab Ciel dingin.

"Kau carikan gadis lain yang tidak banyak bicara dan memiliki kelas yang sama denganku, sisanya biar aku yang urus. Aku mau kau temukan secepat mungkin"

"Yes, my lord", jawab Sebastian sambil membungkuk hormat.

.

.

.

[Dua hari kemudian]

Pada siang hari di kamar Ciel, Sebastian datang menghampiri tuannya untuk memenuhi janji dari tuan mudanya tersebut.

"Aku menemukan satu orang gadis yang sesuai dengan kriteria yang disebutkan tuan. Berdasarkan hasil survey 'Gadis Tercantik Universitas Tokyo' dan sumber data yang kudapat, gadis itu merupakan mahasiswi tercantik dan terkaya", Sebastian menjelaskan sambil menyerahkan beberapa lembar kertas kepada tuannya.

"Apa ada survey semacam itu? Kenapa tidak ada nama dan tempat tinggalnya? Disini hanya ada deskripsi ciri-ciri fisik dan latar belakangnya saja", sahut Ciel malas. Sambil menopangkan pipi kirinya diatas tangan kirinya yang mengepal, ia membaca beberapa kertas yang diterimanya dengan tidak niat.

"Survey itu kutemukan secara tidak sengaja, dalam survey informasi mengenai gadis itu juga tidak begitu jelas. Jadi aku bertanya langsung kepada sumber yang paling terpercaya"

"Sumber terpercaya?"

"Ya, aku bertanya langsung pada temannya. Dia juga memberiku selembar foto. Ini"

Sebastian menyerahkan selembar foto itu pada Ciel. Ciel mengamati foto tersebut dengan wajah serius. Di dalam foto terlihat seorang gadis berambut putih sebahu. Gadis itu mengenakan sebuah gaun lolita yang mewah. Ia berpose dengan menaruh telunjuk kirinya di depan bibir sambil memegang sebuah payung hitam berenda yang menutupi matanya. Melihat foto tersebut mata Ciel membulat kaget, ia seakan dapat mendengar desahhan kata 'Sststtttt…' yang keluar dari bibir gadis dalam foto tersebut.

"Kenapa wajahnya tidak terlihat jelas?", tanya Ciel sambil melempar foto itu keatas meja.

"Hanya it-"

"Lupakan foto itu, segera buat janji dengan gadis itu hari rabu jam 16.00 di Café Victorian dan segera pesankan meja untuk dua orang"

"Yes, my lord"

.

.

.

[Pada sore hari, di hari yang sama di kamar Piko]

TRING

"Pesan dari Miki"

Mendengar suara dari laptopnya, Piko dengan sigap langsung membuka isi pesan tersebut.

Miki : Besok kita bertemu di Café Victorian jam 16.00 ya. Aku juga sudah memesan meja untuk dua orang. Ingat, jangan sampai terlambat (^_~)v

"U…Uwaaaaaaaaaaaaaa….."

Piko langsung meloncat kegirangan dari kursinya, dengan wajahnya yang bersemu merah ia menari dan berputar-putar riang sambil memeluk laptop kesayangannya tersebut. Tiba-tiba….

"Hei Piko, aku ingin pinjam…. U-ang….HEH? E-etoooo…. Sepertinya kau sedang sibuk, kalau begitu aku akan kembali lagi nanti", Len memutar tubuhnya kearah pintu, ia mencoba keluar dari kamar tersebut dengan wajah seolah tidak melihat apa-apa. Tapiiii…

KYAAAAAAAAAAAAAAAA….

Len melihat Piko sedang menari-menari aneh karena perasaan senangnya. Saking merasa malu, tiba-tiba saja Piko menjerit hebat dan raut serta auranya mendadak berubah gelap. Ia menjatuhkan laptopnya keatas lantai dan dengan tangan kosong memutuskan kabel charge laptop miliknya yang masih tersambung dengan arus listrik. Dari kabel yang terkelupas tersebut muncul kilatan listrik yang mengerikan.

"LEEEEEENNNNNN"

Dengan tatapan kosong dan aura hitam yang tiba-tiba muncul menyelimuti tubuh Piko, ia pun mengarahkan kedua kabel tersebut mendekati len.

"Pi-Pi-Pi-Piko….. Kau tidak seriuskan? Aku tidak lihat apa-apa kok. Su-sungguh!", bela Len sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan wajah pucat dan keringat yang mengalir deras.

"Kita tidak akan tahu jika tidak memastikannya. Cara yang terbaik untuk memastikannya adalah menghapus memori itu dari kepalamu. SE-LA-MA-NYA~"

"Heh? A-a-a-ap- KYAAAAAAAAAAAAAAAA….."

Sementara itu, diruang makan tiga sekawan shota, Honey, Oz, dan Momiji tengah menikmati cake yang baru saja berhasil mereka buat dengan tangan mereka sendiri.

"Eh? Suara apa itu?", tanya Oz heran.

"Sepertinya dari kamar Piko", sahut Honey menambahkan.

"Oh itu, sudah sudah biarkan saja. Len-chan bilang, paling-paling Piko-chan menjerit karena terlalu asyik main game sampai lupa men-charge laptopnya", jawab Momiji dengan wajah polos.

"Oooohhhhhh….", Honey dan Oz ber 'oh' ria dengan serempak.

(Catatan dari author 1: Karena Len dan Piko sama-sama punya wajah dan suara yang manis, makanya semua shota lain di kost Pandoroid ga ada yang bisa bedain suara jeritan Len dan Piko) (author 2: Begitulah~ Sabar ya Len *pukpuk Len*)

.

.

.

Rabu sore di café Victorian terlihat seorang laki-laki berambut putih dengan ahoge manis diatas kepalanya. Anak laki-laki itu terlihat sedang menunggu seseorang dengan gelisah. Beberapa kali ia melihat arlojinya yang masih menunjukkan pukul 15.55. Sesekali ia melemparkan pandangannya keseluruh penjuru café untuk mencari seorang gadis yang ia tunggu.

"Selamat datang", sapa seorang pramusaji kepada seorang laki-laki yang memakai setelan rapi dan eyepatch berwarna hitam yang menutupi mata kanannya. Laki-laki itu datang bersama seorang pelayan pribadinya

"Aku sudah memesan meja untuk dua orang"

"Atas nama siapa tuan?"

"Ciel Phantomhive"

"Silakan tuan, sudah ada seseorang yang menunggu anda"

Ciel berjalan perlahan menuju meja yang telah dipesannya diikuti oleh Sebastian pelayan setianya. Tinggal beberapa langkah lagi menuju meja tersebut, namun tiba-tiba ia menghentikan langkahnya. Entah kenapa ia merasa sedikit gugup, dari jaraknya yang sekarang ia bisa melihat gadis berambut putih yang ada dalam foto tersebut sedang duduk membelakangi dirinya. Ciel mulai melangkah perlahan dan ketika ia sudah medekatinya, ia mencoba menegur dari belakang

"Ehem…. Maaf membuatmu menunggu", sapa Ciel dengan sedikit rona merah di pipinya.

Kemudian seseorang yang disangka gadis dalam foto itu menoleh menghampiri suara dibelakangnya.

"Eh? Ciel-kun?"

"Pi-Piko?"

Mereka berdua kaget bukan main dan tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi, dan tiba-tiba...

PLAAAASHHHH…..

Lampu di café tersebut mati tiba-tiba. Seisi ruangan mendadak gelap gulita, namun tak lama kemudian dua buah sorot lampu menyinari tempat Ciel dan Piko berada, beberapa lampu kamera yang berkelap-kelip juga muncul tiba-tiba bak sorotan kamera infotaiment. Dari balik kelap-kelip lampu kamera dan kemerlapnya lampu sorot, sayup-sayup terdengar hiruk pikuk dari segerombol para gadis yang sejak tadi sepertinya memang menunggu moment tersebut. Sementara itu, Ciel dan Piko hanya bisa menutupi wajah mereka yang silau karena terkena cahaya. Sebastian dimode bertahan sudah bersiap dengan nampan dan pisau makannya, kalau-kalau tuannya diserang nanti.

"HAHAHAHAHAHAHA!"

Tawa yang lebih besar dan terdengar aneh tiba-tiba saja muncul diantara kerumunan tersebut. Sebuah lampu sorot yang sama pun muncul memperjelas wajah dari si pembuat tawa.

"Mi-Miki?"

Piko melihat kearah Miki dengan raut kaget dan tidak percaya. Ia mengamati gadis dibawah lampu sorot itu yang mengenakan baret hitam berlambang huruf 'F' dan memegang bendera hitam besar bertuliskan 'Fujoshi Club'.

"KYAAAAAAA….. Tidak kusangka, kalian bisa terjebak hanya dengan umpan seperti ini", sahut Miki yang berfangirling ria sambil memegang selembar foto yang juga dimiliki oleh Ciel.

Melihat foto yang dipegang Miki, Ciel merasa sangat malu dan marah. Kemudian, dengan rona merah diwajahnya Ciel menarik kerah Piko sambil berteriak keras.

"Cih! APA ITU HOBIMU BERPAKAIAN SEPERTI PEREMPUAN? KALAU MEMANG IYA, JANGAN PERNAH LIBATKAN AKU. ENYAH DARI SINI DAN BERDANDANLAH DENGAN SI BODOH LEN"

"Bu-bukan seperti itu", bela Piko dengan gemetar.

"Sudah sudah, Ciel-chan ini semua bukan keinginan Piko. Semua ini aku yang merencanakannya untuk menjebak kalian, termasuk meminta Piko berpose seperti dalam foto ini. Ayolah akukan cuma main-main, yaaaa… anggap saja seperti April Mop. Oh ya, lagi pula kau sempat tergoda melihat foto inikan? iyakan iyakan? ayo mengakulah!"

Miki berusaha mencairkan amarah Ciel dengan menggoda Ciel sambil mengibas-ngibaskan foto tersebut didepan wajah Ciel dan menopangkan siku dibahu Ciel.

"JANGAN PERNAH MEMANGGILKU DENGAN SEBUTAN CHAN! GADIS BODOH!", Ciel berkata sambil menepis tangan Miki yang sedang memegang selembar foto dengan kasar.

"Kau ingin main-main denganku? Dengar, aku tidak pernah kalah dan tidak akan pernah mengalah dalam permainan, meskipun seorang gadis sekalipun yang menjadi lawanku", bisik Ciel dengan wajah mengancam pada Miki yang mulai gemetar ketakutan.

"SEBASTIAN!", panggilnya sambil menjentikan jari.

"Yes, my lord"

"BERHENTI!", Piko yang sejak tadi juga berada diruangan tersebut, dengan raut setengah menangis, ia memasang badannya yang terlihat gemetaran dihadapan Miki. Ia tengah mengumpulkan segenap keberaniannya untuk melindungi gadis itu

"Ci-Ciel, kumohon kau pulanglah duluan. Biar aku yang menyelesaikan masalah disini"

"Tidak. Aku tidak bisa menyerahkan urusan gadis itu hanya padamu saja. Aku tetap punya urusanku sendiri dengan gadis itu"

"Kalau begitu, aku ingin lebih dulu menyelesaikan urusanku dengan Miki", ucap Piko sambil menarik tangan gadis itu agar mengikutinya menjauhi Ciel.

"Silakan saja", jawab Ciel datar.

"Sebastian pesankan aku secangkir Assam Tea juga Macaron!"

Sementara itu, Piko dan Miki sempat hening beberapa saat sampai Miki bersuara memecahkan suasana.

"Piko, arigatou. Aku tidak menyangka Ciel akan semarah itu. Hei, kau tidak marahkan? Gomen ne, aku cuma bercan-"

"Kenapa?"

"Eeeh? Nani?"

"KENAPA? Padahal saat kukatakan aku suka Miki, aku mengatakannya dengan serius"

Piko tiba-tiba saja mengatakan suatu hal yang mengagetkan seisi penghuni café tersebut. Miki yang merupakan subjek utama, kaget dan tak mampu berkata apa-apa ia hanya bisa menutup wajahnya yang tiba-tiba saja memerah.

"Padahal aku sangat senang waktu Miki berkata iya saat aku tanyakan untuk menjadi partnerku. Aku memang tidak menggunakan sinonim karena aku terlalu malu. Ta-tapii..-"

"HARUSNYA KAU KATAKAN DENGAN JELAS DAN TANPA SINONIM. JANGAN KATAKAN PADA SAAT KAU TERLIBAT DALAM GAME KONYOL ITU, AGAR AKU BISA MENJAWABNYA TANPA RAGU. BAKA!"

Setelah mengatakan itu Miki berlari pergi. Piko berusaha mengejar Miki, namun langkahnya terhambat karena beberapa dari kerumunan gadis yang merupakan teman-teman Miki berusaha mencegah agar Piko tidak melihat Miki yang sedang menangis.

"Tuan, anda tidak ingin mengejar gadis itu?", tanya Sebastian kepada tuan mudanya yang sejak tadi asyik menikmati drama Miki dan Piko sambil meminum teh.

"Tidak perlu. Kita pulang sekarang, dan segera hubungi Lizzy"

"Yes, my lord"

.

.

.

"Haaaaaaaaahhhh~"

Piko duduk termenung dengan wajah frustasi di depan layar laptopnya. Sudah hampir seminggu sejak kejadian di cafe tersebut dan tidak pernah ada lagi pesan dari Miki. Piko pun tidak berani mengirim pesan kepada Miki, ia tidak tahu harus mengatakan apa.

TOK…..TOK…..TOK….

"Piko, numpang ngeprint ya"

Kali ini Len masuk ke kamar Piko dengan mengetuk pintu terlebih dahulu. Sementara itu Piko hanya terduduk sedih, kedua tangannya memeluk kakinya yang terlipat dan kepalanya terbenam diantara lututnya.

"Boleh tidak?", tanya Len sekali lagi.

Kemudian Piko mengangkat tangan kanannya, jari telunjuknya menunjuk kearah printer di sudut kamar tersebut.

"Ah, arigatou"

Kamar tersebut menjadi hening beberapa saat, yang terdengar hanya suara mesin printer yang sibuk mencetak serangkaian huruf diatas kertas.

"Ehem, ada apa?", tanya Len berusaha mencairkan suasana. Namun, Piko tetap diam tak merespon.

"Hah….. Yaaah tidak masalah kalau kau tidak mau cerita. Thanks ya printernya", sahut Len sambil berlalu pergi menuju pintu.

"Le-Len"

Tiba-tiba Piko bersuara memanggil Len. Langkah Len pun terhenti dan ia kembali menoleh pada Piko yang mulai mengangkat kepalanya sedikit.

"Apa lebih baik aku mengatakan lagi padanya?"

"...?", Len hanya terdiam penuh tanda Tanya

"Lebih baik mengatakannya atau tidak?"

"Aaaargggghhhh…. Katakan saja, dari pada jadi beban atau masalah", jawab Len asal sambil mengacak-acak rambutnya karena bingung dengan apa yang ditanyakan Piko.

"Bagaimana kalau tidak ada yang berubah?"

"Biarkan saja, yang penting kau sudah mengatakan apa yang ingin kau katakan. Meskipun tidak ada yang berubah, setidaknya beban dihati sudah berkurang sedikit. Masalah setelahnya adalah urusan nanti, urusan setelah kau mendengar jawaban dari apa yang ingin kau katakan"

Setelah berkata demikian Len pergi meninggalkan Piko yang sepertinya mulai merenungi kata-kata yang disampaikan oleh Len.

Ditempat lain disebuah kamar terlihat seorang gadis berambut merah dengan ahoge manis diatas kepalanya. Gadis itu menatap hal yang sama dengan laki-laki di tempat lain, ia menatap layar laptopnya sambil berharap akan terjadi sesuatu

"Haaaah~ sudah hampir seminggu. Kenapa dia tidak kumpulkan keberaniannya dan mengatakannya sekali lagi? Dasar payah!", keluh gadis itu dalam hati.

"Aaarrrgggghhh…. Kalau begini terus aku benar-benar tidak akan bertemu lagi dengannya. Tapi, kalau aku yang mengirim pesan duluan akan terlihat aku sangat mengharapkan. Aaaarrrgghhhh….. Tidak boleh, tidak boleh!", gadis itu bicara pada dirinya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan memegangi tangannya sendiri yang berusaha untuk menyentuh keyboard.

Setelah perang batin yang berkecamuk didalam dirinya hampir reda, gadis itu terlihat tertunduk sedih. Dua tetes air mata kecil muncul dipelupuk matanya, ia berusaha menahannya agar air mata itu tidak benar-benar jatuh.

"Hiks, Piko… "

TRING

TRING

TRING

Setelah mengatakan itu, tiba-tiba tiga buah pesan dari seseorang yang ia tunggu muncul sekaligus. Air matanya pun berubah menjadi sedikit senyuman, ia buru-buru membaca isi pesan tersebut sambil berharap itu adalah kabar baik yang bisa menghibur hatinya

Piko: Miki…. Maafkan aku. Maaf, karena aku mengatakan hal kemarin disaat yang tidak tepat

Piko: Aku akan mengatakannya lagi…. aku suka padamu

Piko: Tidak apa-apa. Kau tidak harus menjawabnya sekarang, bicaralah kapan saja jika kau ingin bicara padaku. Bahkan kau boleh menjawabnya setelah game konyol ini berakhir, agar kau menjawabnya tanpa ragu. Aku akan menunggu meskipun itu hanya satu kata

Air mata yang sejak tadi ia coba tahan akhirnya jatuh menyentuh kulit pipinya yang putih, namun kali ini tangisnya adalah tangis bahagia. Miki mulai menarikan jari jemarinya diatas keyboard, ia membalas pesan dari Piko dengan mantap.

Miki: Aku akan menjawabnya ditempat pertama kali kita bertemu setelah game itu selesai

Piko: Kalau begitu…. Aku juga akan mengatakannya secara langsung padamu, karena dari sejak waktu itu hingga sekarang, aku selalu ingin bicara padamu.

Miki: Terimakasih


.

.

.

[Di kost Pandoroid, di kamar Piko]

"YEEEEEEEEEEE…."

Chat yang dilakukan Piko berhasil dengan sukses. Ia menari-nari kegirangan sambil memeluk laptopnya. Tapi, tak lama kemudian tariannya berhenti dan ia tergesa-gesa keluar dari kamarnya.

[Di dapur]

Len sedang mengambil buah kesayangannya di dalam kulkas. ketika ia sudah mendapatnya, ia menutup pintu kulkas tersebut. Tiba-tiba sesosok makhluk putih muncul mengagetkan Len dari dibalik pintu kulkas dan tersenyum manis padanya.

"WAAAAA….. Piko…. jangan mengagetkanku!"

Piko hanya tersenyum dan diam.

"Ada apa?", Len bertanya sekali lagi, kali ini ia bertanya sambil memakan pisang ditangannya.

"Mmmhhh….. E-e-tooo", Piko berkata dengan ragu sambil menaruh telunjuk kirinya diatas bibirnya dan menggenggam ujung pakaiannya. Rona merah pun muncul tergambar tipis di kedua pipinya dan membuat dirinya terllihat sangat manis

"E-e-toooo….. Uang yang pernah kau pinjam. I-ituuu…. Tidak usah kau kembalikan, daaan…. ini….. yang waktu itu kau pinta, ma-maaf sudah menyetrummu", Piko berkata sambil memberikan sebuah amplop putih kepada Len.

"A-ah", jawab Len heran sambil mengambil amplop tersebut.

Len menerima amplop tersebut, namun tiba-tiba Piko memeluk Len dan mengatakan hal yang tidak terduga.

"Terimakasih banyak, aku sayang Len"

Setelah mengatakan itu, Piko berlari pergi dengan riang ke kamarnya meninggalkan Len yang diam mematung saking syok dan tidak mengerti. Meskipun Piko sudah dipastikan gagal dari tantangan SMC, namun sepanjang hari dirinya terus terlihat ceria karena mulai hari ini hingga nanti, akan selalu ada seorang gadis yang menunggunya untuk mendengarkan pernyataan cinta darinya.

.

.

.

to be continue

.

.

.

Omake!

"Kyaaaa~ Apa yang terjadi?"

Dua orang gadis dengan seragam sailor berwarna hitam tengah mengintip sambil bersembunyi dibalik tembok pemisah antara dapur dan ruang tengah. Gadis yang satu sedang memegangi kamera dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya menutup mulutnya sendiri agar tidak bersuara terlalu keras.

"Tidak tahu, aku tidak bisa mendengar yang mereka bicarakan", ucap gadis yang satunya sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan. Wajahnya terlihat memerah.

"Sebenarnya aku lebih mengharapkan pair Ciel-Piko, tapi ternyata Len-Piko cukup mengihibur juga. Lihat wajah uke itu...", ucapnya sambil terus merekam momen itu. Entah kenapa ada efek bunga-bunga yang bermekaran disekeliling mereka.

"Ah... Piko pergi... Kenapa ia tidak memeluknya lebih lama sih..."

"Tak apa Hika-chan, aku sudah merekam adegan itu kok hehe"

"Kyaaa~ Kerja bagus Mizu-chan"


To Be Continue...


A/N= *Ahoge : kalau menurut bahasa sih terjemahannya rambut bodoh. Kalau di anime-anime atau manga Ahoge itu sehelai rambut yang mencuat/menjulang keatas kayak semacam melawan gravitasi/? Kalau masih ga ngerti tanyakan mbah google -o-)v

Mind to R&R? :)