"A cross-over fanfiction (Vocaloid x Kuroshitsuji x Fruit Basket x Bleach x Ouran Host Club x Nabari No Ou x Pandora Hearts x Hunter X Hunter) by Kari Ayam and Black Rabbit"

Enjoy!

.

.

.

Chapter 5!

KILLUA & HITSUGAYA ACT (Bag. Awal)

.

.

.

"Hah~ sudah tidak ada harapan lagi."

Pagi masih berganti malam, matahari juga masih terbit di timur dan terbenam di barat. Namun kenapa 24 jam sehari kini terasa semakin singkat? Hari peringatan SMC yang paling ingin dihilangkan dari kalender terasa datang lebih cepat dari biasanya. Yap! Hari peringatan tersebut hanya tinggal dua minggu lagi.

Seorang shota menatap kalender di kamarnya yang sudah banyak dipenuhi tanda silang merah sambil menelan ludah. Tekadnya kini sudah semakin bulat. Semua tekanan yang ia rasakan selama dua minggu inilah yang telah menguatkan tekadnya. Kemudian ia berjalan menuju jendela kamarnya dan membuka jendela tersebut dengan perlahan. Kaki kanannya sudah bertengger mantap di figura jendela, bahkan angin malam yang berhembus kencang dari jendela kamar di lantai dua itu tidak bisa menggoyahkan tekadnya untuk melompat.

Seluruh tubuhnya kini sudah berada diatas jendela. Sekarang ia hanya perlu melepas pegangannya dan bersiap untuk melompat. Tanpa menoleh dan dengan wajah yang tenang shota bernama Killua tersebut akhirnya melompat jatuh meninggalkan keheningan di kamar tidurnya.

.

.

.

Angin malam kembali berhembus kencang diatas atap bangunan lantai satu. Hembusannya meniup lembut rambut silver dan baju yang dikenakan sesosok makhluk imut di atas atap tersebut. Killua berhasil mendarat dengan mulus diatas atap tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Kemudian ia berdiri dari posisi setengah berjongkoknya dan membetulkan letak ransel hitam yang ia bawa di atas bahunya.

"Yosh! Ayo pergi."

Dengan langkah yang ringan dan tenang ia berlari di atas atap menuju gerbang utama bagai seorang ninja. Namun, tiba-tiba telingannya menangkap suara langkah lain yang mengikuti langkahnya. Kemudian dengan sigap ia membalikkan tubuhnya dan bersiap melayangkan tinjunya pada sosok hitam yang mengikutinya.

Sosok hitam tersebut pun juga tidak kalah cepatnya. Sosok tersebut langsung memegang pedang kayu miliknya menjadi posisi horizontal di depan wajahnya dengan kedua tangannya. Pedang tersebut sukses menghantam tinju Killua sekaligus menjadi tameng untuk dirinya.

Mereka lama terdiam di posisi masing-masing. Tak ada satu pun dari mereka yang berani bersuara atau melancarkan serangan berikutnya. Sampai angin malam berhembus kencang dan menyibak awan hitam yang menghalangi sinar keemasan muncul dan menerangi kedua sosok yang lama terdiam. Kemudian keduanya saling pandang dan menurunkan senjata masing-masing.

"Hee… Jadi kau mau kabur?" ucap Toushiro pada Killua dengan wajah menghina sambil menenggerkan pedang kayu di atas bahu kanannya.

Sosok pengguna pedang tersebut ternyata adalah salah satu shota bernama Toushiro Hitsugaya.

"CIH! kau sendiri?!" balas Killua sambil menunjuk dan melirik ransel hitam yang dibawa oleh Toushiro.

"Bukan urusanmu! Jangan jadi penghalang dan jangan meminta bantuan padaku."

Toushiro kembali mengejek sambil berlari pergi meninggalkan Killua yang mulai terlihat kesal.

"Siapa juga yang mau meminta bantuan padamu!"

Killua kembali berlari menyusul Toushiro. Keduanya kini berlari beriringan menuju gerbang utama. Akan tetapi, perjalanan tersebut tidaklah berjalan semudah yang dibayangkan.

Entah bagaimana puluhan panah dari segala penjuru melesat kearah mereka. Killua punya insting yang cukup mengerikan dengan sigap melompat kesana-kemari menghindari panah yang datang. Toushiro yang tidak kalah sigap menangkis panah-panah itu dengan pedang kayunya.

"Lihat! mereka benar-benar ingin membunuh kita," ucap Killua sambil memeluk tubuhnya sendiri. Bulu kuduknya berdiri saat itu.

Toushiro mendengus. Tangan kanannya mencabuti anak panah yang menancap pada pedang kayunya.

"Ini bukan panah biasa. Ujungnya diganti dengan jarum -yang kurasa dilumuri obat bius-. Kurasa ini tidak akan membuat kita terbunuh" jelasnya sambil menunjukan salah satu anak panah sebelum membuangnya ke sembarang arah.

"Sama saja, mereka akan 'membunuh' kita kalau sampai tertangkap"

Tak ingin berlama-lama, keduanya melanjutkan aksi pelarian mereka. Kali ini lebih waspada dari sebelumnya. Tapi tetap saja, berbagai macam jebakan muncul dan menghambat mereka. Berbagai macam benda seperti jaring, bola tenis bahkan kaos kaki bau milik Len secara bergantian menghujani mereka dari segala arah. Tak tanggung-tanggung, dalam sekali sesi jumlah benda yang menyerang mereka sekitar ratusan atau lebih. Area kos Pandoroid seolah berubah menjadi neraka yang tidak mengizinkan siapapun pergi keluar dari tempat itu.

"Hosh… hosh… apa-apaan tempat ini?!" seru Toushiro yang sudah mulai kelelahan.

"Haha… ternyata kemampuanmu cuma segitu? hosh… hosh… hosh…", ejek Killua dengan nafas yang terengah-engah.

"CIH! JANGAN REMEHKAN AKUUUU….."

DUAAGGGHHH

Toushiro mencoba bangkit kembali dengan semanggat 45, namun semangatnya malah dihadiahi kepalan tinju oleh Killua.

"Ssstttt….BODOH! Jangan berisiiiiik! Nanti iblis Ku—"

"KHI KHI KHI KHI KHI KHI KHI KHI KHI KHI KHI KHI KHI KHI KHI KHI KHI KHI KHI KHI KHI KHI KHI KHI KHI KHI KHI KHI KHI KHI KHI KHI KHI KHI KHI KHI KHI KHI KHI KHI KHI KHI KHI KHI KHI KHI KHI KHI KHI KHI."

Belum sempat Killua menyelesaikan kalimatnya. Tiba-tiba saja alam mendadak berubah menjadi gelap gulita dan tawa mengerikan yang memekakan telinga terdengar dari balik kegelapan itu.

GLEK

Kedua shota yang terduduk lelah hanya bisa saling pandang dan menelan ludah, sambil merasakan atmosfer mencekam yang menyelimuti diri mereka. Bulir-bulir keringat kecil mulai meluncur bebas dari pelipis dan jatuh ke atas rerumputan di halaman tersebut. Tanpa kompromi dan seolah keduanya dapat saling membaca pikiran satu sama lain, keduanya langsung melompat dan berlari kearah yang berlawanan. Menjauhi asal suara mengerikan tersebut.

"Mizuki, kau ke kanan kejar Killua, dan aku akan ke kiri mengejar Toushiro!" ucap seorang gadis dengan rambut hitam panjang tergerai.

"Baik!" jawab gadis twintail dengan mantap

Akhirnya keempat orang tersebut pun saling bertarung dengan sengit. Sama seperti pertarungan mereka sebelumnya, demi mempertaruhkan harga diri, tak satu pun dari mereka ada yang mau mengalah apalagi kalah. Bagi mereka berempat, malam itu adalah malam yang akan menentukan siapa orang yang akan menatap matahari terbit sambil tersenyum dengan bangga.

Namun, bagi trio shota yang sejak tadi melihat kejadian tersebut, mereka menganggap bahwa pertarungan malam itu adalah sebuah tontonan gratis yang sayang untuk dilewatkan. Honey, Oz, dan Momiji, ketiga shota tersebut memang masih terjaga karena sedang mengerjakan proposal skripsi bersama dikamar Oz. Sampai mereka mendengar suara gaduh di halaman luar, dan kegiatan mereka pun merubah menjadi mengamati pertarungan dengan teropong mereka masing-masing.

"Huoooohh~ Bahkan ini lebih hebat dari film-film aksi mana pun," sahut Momiji sambil menatap kagum dari balik teropong hitamnya.

"Iyaaa… dan kita beruntung mendapat tempat yang tepat untuk melihatnya. Balkon kamarmu benar-benar luar biasa Oz!" Honey menambahkan.

"Mmmhhh…. kira-kira siapa yang akan menang ya?" tanya Oz.

DUUUUUAAAAAAAARRRR

Sebuah suara ledakan disertai gumpalan asap putih yang membumbung tinggi ke udara tiba-tiba saja muncul memecahkan keheningan malam. Beberapa shota yang terbangun memilih mengabaikan suara tersebut dan kembali tertidur lagi, sisanya tetap tertidur lelap tanpa merasa terganggu sama sekali dengan suara tersebut. Sementara itu, Honey, Oz, dan Momiji masih asyik melihat pemandangan tersebut sambil sesekali bertepuk tangan.

"Huuuuooooh~ kalau begini sudah jelas siapa yang akan jadi pemenangnya," sahut ketiganya secara bersamaan.

"Tapi, dari mana Hika-chan dan Mizu-chan mendapatkan kembang api sebesar itu ya?" tanya Momiji dengan polosnya.

"Di pasar," jawab Oz dan Honey tidak kalah polosnya.

.

.

.

Malam yang panjang dan melelahkan bagi Killua dan Toushiro akhirnya berganti menjadi pagi yang menyebalkan. Mereka berdua tengah duduk di ruang makan bersama Ciel, Piko, dan Oliver untuk menyantap sarapan pagi. Ciel sedang menikmati teh paginya sambil membaca koran. Oliver sibuk memberi makan James dan burung-burung lainnya yang tiba-tiba ikut datang di balkon ruang makan. Sementara Piko berusaha menghabiskan sarapan paginya sambil sesekali melirik luka-luka memar di wajah Toushiro dan Killua dengan takut-takut. Ia ingin bertanya pada mereka, namun setiap kali ia menatap Killua dan Toushiro, Piko malah dihadiahi tatapan mengerikan yang seolah berkata 'JANGAN TANYA'.

"Hoam~ Oha- Eh? Ada apa dengan wajahmu Killua, Toushiro?" tanya Len yang baru saja masuk ke ruang makan sambil menyeret kursi di samping kursi Piko.

"Bukan urusanmu!" jawab Killua dan Hitsugaya dingin.

"Wah wah… Senpai jadi terlihat sangat kompak!" canda Oliver dengan polosnya.

"Aku tidak mau membantu membiayai pengobatan kalian," sahut Ciel tiba-tiba.

"A-apa mau ku ambilkan kotak obat di kamarku?" tanya Piko dengan takut-takut.

"SUDAH KU BILANG BUKAN URUSAN KALIAN! DAN MEMANGNYA SIAPA YANG MAU MEMINTA BANTUAN PADAMU CIEL! Hosh….hosh…..hosh….."

Killua dan Toushiro tiba-tiba saja meledakkan amarahnya dengan serempak. Kemudian mereka beranjak pergi dari ruang makan dengan wajah kesal dan meninggalkan shota lainnya yang menatap mereka dengan wajah penuh tanda tanya. Di pintu masuk mereka berpapasan dengan Miharu yang sedang menatap mereka berdua dengan wajah setengah mengantuk.

"APA KAU JUGA MAU BERKOMENTAR HAH?!"

"Eh?"

Miharu yang tidak tahu apa-apa juga terkena amarah dari dua shota yang sedang bad mood tersebut. Akhirnya Miharu memilih menyingkir dari jalan kedua shota tersebut. Killua dan Toushiro pun kembali berjalan melewati pintu ruang makan. Akan tetapi, tiba-tiba trio shota datang memeluk mereka berdua dengan penuh rasa simpati sambil berlinangan air mata.

"Hueee~ kalian tidak apa-apa kan?" sahut Honey sambil setengah menangis.

"Kalian benar-benar hebat tadi malam," tambah Momiji sambil bertepuk tangan.

"Kami melihat semuanya. Kalian sengaja mengalah dari Kurok— ugh."

Killua segera membekap mulut Oz dengan tangannya agar Oz tidak bisa mengucapkan kalimat yang tidak ingin di dengar dirinya dan shota lainnya. Kemudian mereka segera menyeret ketiga orang tersebut keluar dari ruang makan sambil menunjukan simpang empat yang terukir di pelipis mereka. Shota lainnya hanya bisa saling pandang dan menatap kejadian tadi dengan wajah penuh tanda tanya.

"A-apa sebaiknya kita lihat keadaan senpai Honey, Momiji, dan Oz?" tanya Piko dengan wajah penuh kekhawatiran.

"Tenang saja, mereka tidak mungkin memukul para senpai. Dari pada mengkhawatirkan mereka bertiga, lebih baik kau khawatirkan Miharu, sepertinya sebentar lagi gantian Ciel yang akan meledak," ucap Len dengan santainya.

"ARRRGGHHH! MIHARU, CEPAT BANGUN! INI MEJA MAKAN BUKAN TEMPAT TIDUR. JANGAN TIDUR DIATAS MEJA SEPERTI ITUUUUUUU"

"Ci-Ciel, jangan membangunkannya dengan kasar," ucap Piko berusaha menenangkan Ciel.

"Hei Miharu, ayo cepat bangun!" sahut Len dengan malas.

"Hahahaha….." seperti biasa Oliver menambah riuh suasana dengan tawa polosnya.

Sekarang gantian Ciel yang berteriak marah dan membuat gaduh seisi ruang makan. Ciel berusaha membangunkan Miharu yang tertidur pulas diatas meja hingga tak sengaja menendang satu set peralatan minum tehnya dan memuat basah seluruh pakaiannya. Len dan Piko ikut berusaha membangunkan Miharu yang terus saja dipukuli dengan gulungan koran oleh Ciel. Sementara Oliver hanya tertawa polos sambil melihat kejadian tersebut dari balkon ruang makan.

.

.

.

Kilua meremas kesal kaleng juice yang isinya telah ia habiskan dan melemparnya ke tanah. Akhir-akhir ini ia semakin stress saja. Dua minggu lagi sampai batas waktu yang ditentukan, ia bahkan belum melakukan pergerakan sama sekali. Mau mulai darimana pun ia tidak tahu. Benar-benar membuat sakit kepala. Ditambah suasana kost yang semakin mencekam saja.

Killua sebenarnya cukup populer di Universitas. Shota yang suka bawa skateboard kemana-mana, terlebih ia punya tampang yang cukup keren, cewek mana yang tidak mengenalnya? Tapi soal populer dan masalah cari pacar itu jelas berbeda. Killua tidak mau sembarangan pilih, ia hanya akan berpacaran dengan gadis yang benar-benar ia sukai saja. Masalahnya sampai sekarang ia belum menemukan gadis beruntung itu. Mungkin…

Shota jabrik itu menghentikan langkahnya dan memungut kaleng jus yang dilemparnya tadi. Berbeda dengan tampangnya yang mirip anak berandalan, sebenarnya ia suka menjaga kebersihan. Aksi lemparnya tadi murni karena kesal. Sekarang ia bermaksud membuang kaleng jusnya pada tempat sampah disisi sebuah bangunan, tepatnya dibawah jendela bangunan bergaya Jepang.

Sebelum kakinya melangkah mendekati tempat sampah yang berada tepat dibawah jendela bangunan tersebut, Killua berdiri mematung dengan ekspresi wajah seperti sedang mengingat-ingat sesuatu. Ia tidak ingat kalau di kampusnya ada bangunan seperti yang sedang ia lihat sekarang.

"Oh, mungkin ini ruang klub minum teh yang baru dibangun beberapa bulan lalu. Hah…payah buat apa belajar menyeduh teh kalau sudah ada teh dalam kemasan. Kira-kira seperti apa tampang orang yang mau ikut klub ini ya?"

Dengan wajah yang sedikit penasaran Killua mencoba mengintip lewat jendela ruang klub yang memang tidak tertutup gorden sembari membuang kaleng juice minumannya ke tempat sampah. Sepasang mata biru itu sibuk menelisik seluruh isi ruangan, namun sepertinya tidak ada siapa-siapa di dalam ruangan tersebut. Saking fokusnya memerhatikan Killua sampai tak sadar kalau ada orang lain di dekatnya.

"KAU! Cih, tidak bisakah kau biarkan aku dalam sehari hanya melihat tampangmu itu di kost-an saja?" Ucap Killua dengan sinis.

"Hei maaf saja ya, memangnya kau pikir aku tidak kesal melihatmu disini?" balas Toushiro dengan tidak kalah sinisnya

"Kampus ini luas tau, kau sengaja memilih jalan yang sama agar bertemu denganku ya!" ejek Killua.

"Aku mau mendaftar ke klub ini. Kau sendiri mau apa? Berdiri dan melihat-lihat kedalam seperti maling. HAH! Ga mungkinkan anak manja dan serba instan sepertimu bisa menyeduh teh," balas Toushiro sekali lagi

"APAAA!?"

Ejekkan terakhir Toushiro sukses membuat Killua naik pitam. Keduanya sudah siap beradu otot dan saling menarik kerah baju lawannya. Dua pukulan dari dua tangan berbeda melayang di timing yang sama dan siap menghantam kedua pipi chubby kedua pemuda itu. Namun belum sempat pukulan tersebut mendarat, kepala Killua dan Toushiro keburu dihadiahi lemparan geta dari seseorang. Keduanya sontak berteriak marah sambil memegangi kepala masing-masing.

"SIAPA YANG BERANI MELEMPAR BENDA INI!"

"Apa perlu kulempar sekali lagi?" ucap sebuah suara yang terdengar sangat dingin dan tak ada rasa bersalah sama sekali.

"AWAS KAU…."

Kata-kata yang coba dilontarkan Killua dan Toushiro tiba-tiba saja terhenti setelah mereka melihat dengan jelas sosok si pemilik suara. Senada dengan warna suaranya, wajah gadis si pemilik suara itu rupanya juga terlihat sangat dingin dan tenang. Wajah dingin tanpa ekspresi yang ditampilkan gadis itu sekilas terlihat menakutkan dan juga terlihat sangat menawan. Ditambah lagi setelan kimono hitam dengan corak sakura merah muda lengkap dengan jepit sakura kecil yang dipakai gadis itu untuk menyanggah poninya, semakin membuat gadis itu terlihat berkharisma. Hal tersebut sontak membuat Killua dan Toushiro terdiam memandangi gadis itu.

"Hei kau! Aku tidak akan menerima anggota yang bertemperamen tinggi sepertimu." Ucap gadis itu sambil menunjuk Hitsugaya

"dan Kau! Kalau tidak bisa menyeduh teh cobalah belajar mulai dari memasak air." Ucapnya sekali lagi, kali ini ia berucap sambil menunjuk Killua

"Oh ya, jangan lupa taruh kembali sendalku di depan pintu masuk"

Setelah mengucapkan kalimatnya, gadis itu langsung masuk kedalam bangunan bergaya Jepang tersebut, meninggalkan kedua shota manis yang sejak tadi hanya diam mematung. Setelah sadar bahwa sosok yang dipandanginya telah lenyap kedalam ruangan klub, keduanya langsung memungut sandal kayu yang dilemparkan ke kepala mereka. Dengan langkah yang tenang mereka berjalan mendekati pintu masuk dan meletakkan sandal tersebut disana. Setelah meletakkan sandal itu keduanya kembali berdiri terdiam beberapa saat. Tiba-tiba saja keduanya saling menoleh dan tatapan keduanya bertemu. Biru dengan biru. Tajam seperti pedang. Ada percikan listrik imajiner yang terpancar dari mata keduanya. Tanpa mengucap apapun, seolah-olah menantang satu sama lain. Atau lebih tepatnya memberi peringatan. Didetik kesekian kontak mata mereka terputus dengan dramatis, sama-sama membalikan badan dan pergi kearah yang berlainan.

'Yang akan mendapatkan gadis itu, adalah AKU!', ucap keduanya dalam hati sambil melangkah pergi kearah yang berlawanan.

.

.

.

Di malam harinya di kost Pandoroid, Toushiro datang menghampiri Oz untuk meminta ia melakukan sesuatu. Berbekal sebuah foto yang ia ambil diam-diam dan sebuah cerita yang ia alami tadi siang, Toushiro berusaha membujuk Oz untuk menjadi trainer cintanya.

"Jadi… Maksud kedatanganmu ke kamarku hari ini adalah untuk meminta bantuan padaku, begitu?" tanya Oz sambil duduk ditepi kasurnya. Toushiro memalingkan wajahnya dan mengangguk pelan.

"Hmmmm…. Bagaimana yaa…" Oz mengelus-elus dagunya sambil berpikir sejenak.

"Baiklah, aku Tuan muda Oz Vessalius yang baik hati ini akan membantumu dalam hal PDKT!" tegasnya sambil tersenyum bangga. Merasa tertolong, Toushiro berusaha berterimakasih dengan wajah dinginnya yang mulai bersemu merah.

Sepertinya Oz terlalu percaya diri dan Toushiro terlalu putus asa hingga melupakan satu hal penting.

Oz bahkan gagal dalam pencarian cintanya sendiri.

"Eh! Sepertinya gadis itu terlihat sangat familiar. Mmmmhhh…...Ah sudahlah~ Lagi pula Miji-chan belum memberitahu kabar yang pasti," gumam Oz semenit setelah Toushiro keluar dari kamarnya.

.

.

.

Sementara itu, di malam yang sama di tempat yang berbeda, Killua pergi mengajak Honey ke toko kue dengan maksud tertentu. Dengan cara yang sama yaitu berbekal foto dan cerita, Killua berusaha membujuk Honey untuk menjadi trainer cintanya.

"Makanya aku mengajak senpai kesini untuk minta bantu…. ARGHHHH SENPAAII! DENGARKAN AKU DULUUUU!" Killua menjerit frustasi sambil menjambak rambutnya sendiri. Sementara itu makhluk manis didepannya hanya tersenyum polos sambil terus menikmati strawberry shortcake-nya.

"Aku dengar kok… Kii-chan ingin meminta bantuanku untuk mendekati gadis itu kan?"

Honey kembali memasukan potongan cake kedalam mulutnya. Kilua mengangguk mantap sambil menyodorkan piring berisi cheese cake miliknya. Bunga-bunga pink imajiner semakin banyak bertebaran disekitar shota blonde pecinta makanan manis itu.

"Baiklah, aku akan membantumu kalau begitu! Tapii…."

"Boleh aku memesan sepuluh potong lagi untuk kumakan sekarang dan beberapa potong untuk dibawa pulang?" tanyanya sebelum mengunyah cheese cake pemberian Killua.

Untung senpai yang satu ini sangat imut, kalau tidak Killua sudah menghajarnya dengan skateboard miliknya. Sambil menahan rasa kesalnya Killua meranjak menuju kasir untuk memesan beberapa potong kue lagi. Honey yang sejak tadi sibuk melahap kue-kue diatas meja, tiba-tiba berhenti mengunyah dan fokus berpikir sambil memperhatikan layar handphone Killua yang menampakkan wajah gadis yang diceritakan oleh Killua.

"Mmmmmhhh…..diaaa….. Ah sudahlah~ Lagi pula Miji-chan belum memberitahu kabar yang pasti." Ucap Honey sambil kembali melahap kue-kue diatas piringnya

.

.

.

[Kesesokan harinya. Tepat tengah malam di kost Pandoroid]

Sosok kecil berambut silver itu mengendap-endap melewati koridor dan berhenti didepan sebuah pintu berwarna hitam dengan sticker pisang diatas gagangnya. Menengok kesana-sini untuk memastikan bahwa keadaan telah aman, lalu menarik nafas. Selanjutnya, ia menempelkan telinganya pada daun pintu. Samar-samar terdengar suara benturan. Tampaknya pemilik kamar masih terjaga. Ia membuka pintu perlahan dan mendapati shota blonde berpakaian piyama tengah membenturkan kepalanya ke tembok. Sempat terdiam karna heran selama beberapa detik, namun pria itu memutuskan melanjutkan misinya.

'Ini kesempatan bagus mengingat si bodoh itu sedang sibuk menyiksa diri sendiri,' pikirnya.

Perlahan ia mendekati shota blonde itu sambil mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Dengan cepat, kedua tangannya membekap shota blonde itu. Tanpa sempat memberontak, dalam tiga detik shota tersebut kehilangan kesadaran. Pria bersurai silver itu menghela nafas, misinya lebih mudah daripada yang ia bayangkan. Sekarang tinggal menyeret shota bodoh itu ke kamar lain.

.

.

.

Setelah sukses menculik Len, Toushiro langsung membawa Len ke kamar Oz untuk dijadikan alat peraga dalam latihan cintanya. Ia mendudukan Len dengan posisi terikat di atas kursi untuk berjaga-jaga. Sambil menunggu shota blonde itu sadar, Oz mengajarkan beberapa hal-hal dasar pada Toushiro.

"Tidak… tidak…. Bukan seperti itu! Senyum mu harus lebih alami lagi!"

"Be-begini?"

"Jangan dipaksakan seperti itu!"

"E-eh? Kalau begini?"

"Jangan menyeringgai, kau menakutkan!"

"Ehh, tapi aku.."

"Begini… Lakukan seperti yang kuperlihatkan barusan"

Len hanya bisa memandang heran kedua teman seperjuangannya dari sebrang meja. Entah apa yang mereka lakukan didepan cermin besar itu, tapi ia tidak ingin bertanya atau mengganggu. Apalagi setelah melihat Toushiro yang daritadi tersenyum dengan cara yang mengerikan –berbanding terbalik dengan arahan Oz.

Daripada itu ia lebih penasaran dengan keadaannya sekarang. Saat membuka mata ia sudah ada diruangan itu dalam keadaan terikat dikursi. Len yakin Toushiro yang menculiknya, tapi ia tidak tahu untuk apa. Tadinya ia ingin menjerit keras-keras tapi diurungkan, lagi-lagi karena senyum mengerikan shota pecinta pedang itu.

Selagi menunggu keduanya selesai, Len memutuskan mengamati ruangan tersebut. Ruangan itu luasnya dua kali lipat daripada kamar Len, dengan gaya eropa klasik dan perbotan mewah. Ia yakin sedang dikamar Oz, karna Len pernah masuk ke kamar Toushiro sebelumnya.

"Ah, Len sudah sadar!" seru Oz riang sambil menghampiri Len yang masih terikat.

"Anooo, Oz-senpai… kenapa aku disini?"

"Tenanglah! Tenang! Karna Len sudah sadar, ayo kita mulai latihannya!"

Lagi-lagi Oz berseru tanpa memberi jawaban pasti pada Len. Len baru saja mau membuka mulutnya dan bertanya, namun saat mendengar suara langkah kaki yang terdengar berat membuat niatnya ciut. Toushiro berjalan kearahnya dengan aura hitam aneh yang sulit dideskripsikan. Seketika Len merasa didatangi malaikat maut.

"A….ap-a…" ucapannya teputus.

Shota jabrik itu kini duduk dihadapannya. Len menelan ludah. Oz menonton dari sofa sambil mengunyah popcorn.

"Selamat malam. Hari ini pun anda terlihat sangat menawan nona"

Entah bagaimana pria itu malah tersenyum lembut dan menatap Len dengan tatapan yang hangat. Sangat jauh berbeda dari Toushiro yang biasanya. Apalagi aura hitam aneh yang tadi, kini tergantikan dengan aura keemasan yang menyilaukan mata. Dan apa katanya tadi? Nona?

Len membatu. Oz ikut membatu.

Tik. Tik. Tik.

Satu menit hampir berlalu. Kedua shota pirang diruangan itu masih membeku ditempatnya, sedangkan shota satunya hampir mencapai batasnya. Aura keemasan yang muncul perlahan menggelap, tatapan yang sebelumnya terlihat hangat malah terasa menusuk. Dan yang paling mengerikan adalah senyumannya itu. Kedua ujung bibirnya berkedut pelan, semakin ia berusaha mempertahankan senyumnya malah lebih terlihat seperti seringgai. Len bergidik. Jika ia tidak diikat, ia pasti sudah ambil langkah seribu.

"CUTTTTT!" Oz berteriak sambil memukul kepala Toushiro dengan bungkus popcorn.

"Kita ulangi lagi. OH! Tapi sebelum itu, agar kau lebih mendapatkan feel-nya kita gunakan ini."

Ucap Oz sambil membuka sebuah koper besar berisi perlengkapan kecantikan lengkap dengan gaun mewah milik adiknya. Oz sudah mempersiapkan segala hal untuk melatih Toushiro. Jadi tak lama setelah Toushiro meminta bantuan padanya, Oz langsung meminta adiknya mengirimkan beberapa barang untuknya. Len yang bergidik melihat benda mengerikan itu hampir saja menjerit keras.

"MO-HON BAN-TU-AN-NYA."

Namun lagi-lagi niatnya gagal karena tiba-tiba muncul aura gelap dan suara berat yang terdengar seperti ancaman dari shota berambut silver dihadapannya.

"Ha-hai." Ucap Len sambil menggigit bibir bawahnya dan menahan bulir airmata di ujung ekor matanya.

Beberapa menit kemudian Oz selesai memoles Len dan menjadikannya bagai boneka porselen yang mahal.

"Yosh! Persiapan selesai. Ayo kita mulai lagi dari awal. Kali ini lakukan dengan lebih serius dan cobalah bicara sambil menggenggam tangannya agar terkesan lebih elegan."

Sekali lagi Len mendengar suara langkah kaki yang terdengar berat dan melihat Toushiro berjalan kearahnya dengan aura hitam aneh yang sulit dideskripsikan. Kemudian Toushiro membungkuk meraih tangan Len yang terbungkus sarung tangan putih. Berbeda dari yang sebelumnya, kali ini bibir Toushiro tidak mengeluarkan sepatah kata apapun dan ia malah hanya diam mematung. Tiba-tiba…

KREEEEEEEKKKK!

"Hhhhhhhpppttttttt….."

Saking gugupnya Toushiro meremas tangan Len dengan kuat hingga terdengar suara retakkan tulang dari lengan Len. Sontak Len langsung menjerit bersamaan dengan terdengar suara retakkan yang berasal dari tulangnya, akan tetapi Toushiro buru-buru membungkam mulut Len dengan tangannya yang lain, sehingga hanya terdengar suara erangan pelan dan kamar Oz tetap terdengar sunnyi.

"KALAU KAU BERANI MEMBUAT SELURUH PENGHUNI KOST-AN TAU AKU MELAKUKAN HAL KONYOL SEMACAM INI! AKU AKAN JADI DEWA KEMATIAN UNTUKMU. ME-NGER-TI?" ucap Toushiro dengan wajah dan aura gelap yang sangat menakutkan.

"Mmmmh….mmmhhh….." Jawab Len sambil mengangguk-angguk pasrah.

Kemudian sesi latihan Toshiro dibawah bimbingan Oz yang bagaikan neraka bagi Len ini pun terus berlanjut. Selama pelatihan Len hanya bisa pasrah dan menangis sambil meneriakkan kalimat yang sama terus menerus didalam hati.

"Ka-san…Tou-san… Nee-chan…Tasuketeeeeeeee…"

.

.

.

To be continue~

.

.

.

A/N:

Haloooo~ Kami kembali membawakan kisah ngenes para shotaa! \('o')/\(^o^)/

Ok, kami minta maaf telah membuat kalian semua menunggu lama. Terimakasih untuk kalian yang repot-repot meriview, fav, dan follow (terutama yang menfollow dan fav authornya hohohoh XD). Terimakasih juga untuk para silent reader yang meluangkan waktu untuk membaca~ Chap ini cukup panjang, jadi harus dibagi dua dan akan secepat mungkin kami publish.

Kami akan sangat senang jika kalian mau memberi review lohh~ :D jangan segan-segan untuk memberi kritik, saran, atau bertanya ^^ (via pm juga boleh!)

Balasan review chap 4:

Puchan: Lama tak berjumpa juga! Maaf lama update, jangan bosan menunggu kelanjutannya yaa!

Shiro Rukami: Aih, Ruka-chan, pasangan para shota sudah ditetapkan kok sejak awal. Tunggu kejutannya ya! :D

Puypuy: Salam kenal juga Puy-chaan~ hohoho soal itu, tunggu kejutannya ya :3

Aika Hana: Ini dia part 5 nyaa! Maaf lama ya ^^ sini diskusiin sama author #plak

Fumeiryona Vesta: Hai' Hai' benarkah mereka 'polos'? atau bodoh? Yg mana hayoo? :3 *author dihajar para shota*

Yumi Azura: Arigatou~~ Killua next chapter yaa~ d('w')('w')b

.

.

.

.

Mind to review?