Author : Kari Ayam & Black Rabbit

Title : 10 Shota Mencari Cinta

Genre : Drama/?, Humor, Romance

Lenght : Chaptered

Rating : T

Cast: Kagamine Len & Utatane Piko & Oliver (Vocaloid), Phantomhive Ciel (Kuroshitsuji), Hitsugaya Toshirou (Bleach), Haninozuka Mitsukuni / Honey (Ouran Host Club), Vessalius Oz (Pandora Hearts), Zaoldyeck Killua (Hunter X Hunter), Rokujou Miharu (Nabari No Ou), Sohma Momiji (Fruit Basket).

Special Cast (OC) : Kuroki Hikari & Kuroki Mizuki

Sumary : Pandoroid kost! Kost-an berisi sepuluh pria shota super tampan dengan segala keunikan mereka!

.

.

.

Disclaimer:

Vocaloid © Yamaha Corp., Crypton Future Media, Internet FX, etc.

Ouran Host Club © Bisco Hatori

Fruit Basket © Natsuki Takaya

Hunter x Hunter ©Yoshihiro Togashi

Bleach © Tite Kubo

Pandora Hearts © Jun Mochizuki

Kuroshitsuji © Yana Toboso

Nabari no Ou © Yuhki Kamatani

Fanfict "10 Shota Mencari Cinta" © Kari Ayam and Black Rabbit

.

.

.

Warning : Typo, OOC, Absurb, Author nyempil/?

.

.

.

Chapter 5,5!

(Part 5, Bagian ke-2)

KILLUA & HITSUGAYA ACT!

Ruangan bercat kuning berukuran sederhana dengan lantai pualam tampak lengang. Seorang shota berparas manis tertidur pulas tak bergerak di atas kasur kuning miliknya. Tubuhnya terlihat lemah tak berdaya. Di detik berikutnya jari-jemarinya bergerak lemah, menandakan bahwa ia akan segera bangun dari tidur panjangnya. Tidak lama kemudian, kelopak matanya terbuka diikuti dengan suara rintihan kecil yang keluar dari mulutnya. Entah kenapa, pagi ini ia bangun dengan kepala dan sekujur tubuh yang terasa nyeri, terutama di bagian lengan kanannya. Rasanya ia seperti baru saja menghabiskan malam di neraka bersama setan berambut silver. Lensa biru miliknya kini sudah terbuka menatap langit-langit kamar, namun penglihatannya masih agak kabur. Kemudian ia dudukkan tubuhnya di atas kasur, selimut yang dikenakannya turun sampai hanya menutupi sebagian tubuhnya.

NGIIIIIIIIIIIIIIIIIIIINNGGG….

Sebuah degungan kecil yang terdengar diantara telingannya, berhasil memutar kembali memori mengerikan malam itu. Raut wajahnya pun mendadak dipenuhi amarah. Sebuah tinju keras mendarat di dinding beton yang terjangkau oleh tangannya, figura kecil yang melekat di dinding tersebut perlahan mulai goyah dari tempatnya.

"Sial! AWAS KAU OOOOOZZZ! TOUSHIROOOOO!"

Len menengadahkan kepalanya ke langit-langit kamar sambil berteriak marah. Sebuah figura kecil yang sudah tidak kuat bergelantungan di atas kait pakunya terjatuh tanpa ragu dan sukses menghantam kepala shota tersebut. Len bergeliat diatas kasurnya, memegangi wajahnya yang memerah sambil merintih kesakitan. Kesialan demi kesialan terus saja mendatangi dirinya. Tapi dibanding kejadian tadi malam dan kejatuhan sebuah foto, masih ada hal yang lebih mengerikan lagi yang akan menimpa dirinya. (author 1& 2: fufufufufu~)

.

.

.

"Cih!"

Len menggerutu pelan melihat jam dinding di kamarnya. Jam 11.00. Ia sudah sangat terlambat untuk mengikuti kelas pertama. Semua ini gara-gara Oz dan Toushiro meninggalkan dirinya yang sedang pingsan di atas tempat tidurnya dan mengira Len hanya tertidur saja. Siang itu seisi kost-an terlihat lengang dan sepi. Sejak pagi tadi seluruh penghuni kost lainnya sudah pergi menjalankan aktivitas masing-masing, itu berarti tinggal Len sendiri di kostsan tersebut. Lima belas menit kemudian, Len siap berangkat. Ia langsung menyambar tas kuning miliknya dan menuju gerbang depan. Setelah mengunci semua pintu masuk dengan kunci cadangan miliknya, shota berwajah manis itu langsung berjalan menuju kampusnya.

Sepanjang perjalanan Len tidak berpapasan dengan satu orang pun selain dirinya. Wajar saja, di area perumahan yang 99% merupakan kost-kost-an dan banyak dihuni oleh mahasiswa tersebut, kalau sudah sesiang ini pasti mereka sudah ada di suatu tempat yang disebut kampus. Len terus melangkah santai sambil memeriksa pesan masuk di ponsel miliknya. Tanpa ia sadari ada sepasang mata biru yang terus saja mengawasi dan membuntutinya sejak ia keluar. Melihat ada kesempatan, sosok mencurigakan tersebut langsung memperkecil jarak antara dirinya dengan Len. Setelah dirasa jangkauannya cukup, sosok itu langsung melayangkan tangannya bersiap untuk memukul. Sebuah seringai yang dipenuhi nafsu membunuh sempat terpantul di layar ponsel milik Len. Namun, tanpa sempat melakukan perlawanan, shota blonde tersebut sudah terbaring tak sadarkan diri di atas aspal akibat pukulan keras yang menghantam tengkuknya.

.

.

.

"Len-chan! Len-chan! Cepat bangun. Hueeee…. Sudah kubilang lebih baik pakai obat bius saja, bagaimana kalau Len-chan benar-benar mati?"

"Lebih praktis memukulnya dari pada memakai obat bius."

Samar-samar Len mendengar suara-suara yang familiar di telinganya. Kelopak matanya yang mulai membuka sedikit pun mulai melihat siluet sesosok makhluk di depan wajahnya. Pukulan tersebut sepertinya berefek cukup parah pada pendengaran dan penglihatan shota berambut blonde tersebut.

"Len-chan! Len-chan!"

"Mmmhhh…. Honey senpai, bisa kau singkirkan boneka kelinci ini dari wajahku," ucap Len dengan suara lemah.

"Len-chan, syukurlah kau tidak mati," ucap Honey sambil menangis.

"Sudah kubilangkan, aku memukulnya tidak sampai mati kok. Yasudah, ayo senpai kita mulai saja latihannya!" ucap Killua tanpa merasa bersalah sedikit pun.

Len terdiam mematung. Kesadarannya kini sudah pulih seratus persen. Seolah mengalami de javu, lagi-lagi ia terbangun di tempat aneh dengan keadaan terikat di atas kursi.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga–

"AAARRRGGGHHH! APA-APAAN INI? CEPAT LEPASKAN AKU! LATIHAN KATAMU? KILLUA! KAU HAMPIR SAJA MEMBUNUHKU TAHU!"

Len berteriak marah pada Killua. Suara teriakan Len sontak membuat ruangan host club yang dipinjam Honey untuk latihan cinta Killua menjadi hening sesaat. Menanggapi teriakan Len, Killua langsung berjalan mendekati posisi Len. Aura hitam pekat yang pernah Len rasakan dari seseorang kembali ia rasakan pada diri Killua. Len menelan ludahnya. Killua sudah berada dihadapannya sekarang, sebelah matanya yang tidak tertutup poni menatap Len penuh dengan rasa ingin membunuh.

KREEK…

KREEK…

KREEK…

Sambil menyeringai licik dan menekuk jari jemarinya satu demi satu, Killua berkata, "hampir? Kalau kau mau, sekarang juga bisa kubunuh betulan disini."

Amarah Len menciut seketika. Bunyi ancaman dan suara tulang dari jari-jemari Killua membuat Len berkeringat ketakutan.

"Ikuti saja apapun yang diminta. Kalau kau mau melakukannya, aku akan memulangkanmu dalam keadaan hidup. Mengerti?!" ancam Killua sekali lagi.

" I–iya," jawab Len pasrah.

.

.

.

PRAAAANGGG

"KYAAAA! PANAAAAAASS!"

Suara gelas pecah dan teriakkan kesakitan Len terdengar untuk kesekian kalinya. Ruang host club yang tenang, seketika berubah menjadi neraka. Killua berlatih berdasarkan arahan Honey. Honey mengajarkan Killua untuk melakukan PDKT dengan mengajak seorang gadis minum teh dan melontarkan pujian untuk memuji kecantikan mereka. Namun, Killua terus saja melakukan hal yang jelas berbanding terbalik dengan apa yang diajarkan Honey.

"Belum betul. Lakukan sekali lagi. Hanya menuangkan tehnya saja kau tidak bisa!" ucap Honey dengan wajah cemberut sambil memeluk boneka kelinci kesayangannya.

Tanpa berkata apa-apa, Killua langsung mengganti gelas yang dijatuhkan Len dan mulai mengulangi adengan yang diminta Honey dari awal. Kemudian, ia segera mengangkat sebuah teko berisi cairan coklat bening ditangannya. Asap putih kecil diam-diam keluar dari corong teko tersebut. Sambil berusaha tersenyum ramah Killua berkata, "mau kutuangkan tehnya nona?"

"I–iya," jawab Len ragu dengan senyum yang dipaksakan.

CUUUURRRR…

PRAAAANGGG

"KYAAAA! PANAAAAAASS!"

Lagi-lagi Len berteriak kesakitan. Cairan manis yang seharunya mendarat di cangkir yang dipegang Len, malah sukses mendarat di kulit mulus milik Len. Tanpa memedulikan Len yang merintih kesakitan, Killua langsung melanjutkan adegan berikutnya. Ia memangku dagu Len dengan tangannya, membuat kepala Len sedikit terangkat menatap wajah Killua.

"Matamu sangat indah…"

Hening…

Hening…

Hening…

"Membuatku ingin memakannya." Ucap Killua sambil menunjukkan seringainya yang mengerikan.

"Hiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii…. Se–senpai sudah hentikan saja."

Len bergidik ngeri dan memohon pada Honey untuk menghentikan latihan dengan wajah mengiba. Tapi sikap Honey malah mendadak berubah menjadi lebih mengerikan dari Killua.

"Diam! Jangan merengek terus. Gara-gara kau, aku dan Usa-chan jadi tidak bisa tidur siang. LAKUKAN SEKALI LAGI!"

Sekali lagi Killua mengulangi adegan demi adegan. Ia kembali menuangkan teh pada cangkir Len yang seperti biasa selalu meleset mengenai tangan Len. Namun, kali ini Len berusaha menahan rasa sakitnya dan langsung menyeruput teh tersebut mengikuti skenario yang dibuat oleh Honey. Adegan berikutnya Killua kembali memangku dagu Len dengan tangannya, membuat kepala Len sedikit terangkat menatap wajah Killua.

GLEK

Killua menelan ludah. Matanya menatap ke atas berusaha memikirkan pujian apa yang harus diucapkannya. Tapi sekeras apapun ia berpikir, kata-kata itu tetap tidak muncul di kepalanya.

KREEEEEEEKKKK…

"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA….."

Saking asyiknya berpikir Killua lupa dengan apa yang sedang di pegang dengan tangan kirinya. Ia memegang dagu Len terlalu kuat dan menengadahkan kepala Len terlalu tinggi hingga terdengar suara retakan tulang di lehernya. Killua menatap Len dengan heran. Tiba-tiba sebuah ide brilian muncul di kepalanya. Sambil tersenyum tanpa rasa bersalah Killua melontarkan pujian untuk Len.

"Hihi… suara jeritanmu terdengar sangat manis."

"Te–terimakasih," ucap Len sesuai skenario sambil berurai airmata menahan rasa sakit.

Kemudian sesi latihan dengan mengulang-ulang adegan yang tidak pernah bisa dilakukan Killua dengan benar ini pun terus berlanjut hingga matahari terbenam dihari itu. Selama sepekan ini pun Len selalu diculik sehari dua kali untuk dijadikan alat peraga dalam sesi latihan cinta. Dalam sehari Toushiro menculik Len dari tengah malam hingga pagi hari, sedangkan Killua menculik Len dari siang hari hingga sore hari. Hingga pada akhirnya, Len harus berakhir di rumah sakit.

.

.

.

Hari minggu yang cerah di kost pandoroid, sekaligus hari yang mendebarkan bagi Killua dan Toushiro. Kemarin dengan berat hati, Honey dan Oz telah meluluskan Killua dan Toushiro dari latihan cinta yang mereka berikan. Meskipun hanya mengalami kemajuan sedikit, setidaknya mereka sudah berusaha untuk mengajari dua makhluk kasar yang hanya tahu bertarung untuk bertahan hidup. Di hari itu pula Len ditemukan pingsan di dalam kamarnya oleh Oliver. Segera setelah Oliver melihatnya ia langsung melarikan Len ke rumah sakit miliknya. (author: oliver punya RS sendiri? Penasaran? Tunggu cerita di chapter berikutnya hehehehe… :p)

Pagi itu Kuroki bersaudara, Ciel, Piko, Miharu dan ketiga trio shota -Oz, Honey, dan Momiji- tengah berkumpul di ruang makan menyantap sarapan pagi sambil membicarakan sesuatu yang serius. Mereka membicarakan kejadian yang menimpa Len dan satu moment bahagia yang datang dari sepupu Momiji.

"Hah~ Len kasian sekali. Apa yang sebenarnya terjadi pada Len?" ucap Mizuki dengan wajah penuh rasa simpati.

"Iya, keadaannya benar-benar mengerikan. Aku langsung menghubungi Rin-chan begitu Oliver membawa Len ke rumah sakit," ucap Hikari menambahkan.

"Hah. Tidak ku sangka si bodoh itu bisa sakit juga." Ciel berkomentar dengan sarkatis.

"Ciel, tidak baik bicara begitu pada Len. Diakan sedang sakit," ucap Piko menasehati.

Sementara Kuroki bersaudara, Piko, dan Ciel tengah sibuk membicarakan Len, shota lainnya yang berada di ruangan tersebut memutuskan untuk tidak ikut berkomentar. Miharu sedang tertidur pulas, wajahnya tepat berada di atas pancake hangat bertabur madu lengket. Oz dan Honey sibuk menyeruput teh pagi miliknya dengan wajah mencurigakan. Beberapa kali mereka melempar pandangan ke arah lain mencoba untuk tidak terlibat dalam pembicaraan tersebut. Momiji yang sejak tadi melihat tingkah kedua sahabatnya menjadi kesal dan merasa dikhianati. Ia mengembungkan kedua pipi chubbynya dan menyantap pancake miliknya dengan kesal, sepertinya mereka menyimpan rahasia dari Momiji. Merasa diabaikan, shota berparas imut itu pun akhirnya angkat bicara.

"Bagaimana kalau kita menjenguk Len setelah datang ke acara ini?"

Momiji mengeluarkan sesuatu dari bawah meja dan meletakkannya di atas meja makan. Seketika perhatian semuanya teralih pada sebuah kertas undangan yang ditunjukkan olehnya. Sebuah kertas berwarna pink dengan desian elegan bertuliskan 'Akito dan Shigure' dan memajang foto kedua pasangan bahagia tersebut sontak membuat semuanya terlihat ikut bahagia.

"WAAAHH~ Pesta pernikahan! Kita harus dapatkan buket bunganya agar bisa mendapat jodoh!" ucap Kuroki bersaudara dengan berapi-api.

"Momiji selamat atas pernikahan sepupumu ya," ucap Piko memberi selamat.

"Eh, yang mana pengantin wanitanya?" tanya Ciel.

"Miji-chan jadi sepupumu betulan menikah? Hari ini?" ucap Honey dan Oz dengan wajah pucat.

"Ya tentu saja. Ayo kita pergi sama-sama dan… eh, dimana Toushiro dan Killua? Aku harus memberi tahu mereka juga," ucap Momiji sambil mengedarkan pandangannya ke arah pintu masuk ruang makan.

"AAAHHH….. le–lebih baik tidak usah memberitahu mer–."

"Yo, pagi semua."

Ucapan Oz dan Honey tiba-tiba saja terhenti setelah terdengar suara sapaan pagi yang penuh keceriaan dari dua shota berambut silver yang tiba-tiba saja muncul di ruang makan. Momiji meloncat kegirangan dan langsung menghampiri tempat duduk kedua shota berambut silver tersebut untuk menunjukkan undangan yang dibawanya. Oz dan Momiji hanya bisa menggigit jari menunggu reaksi apa yang akan dikeluarkan kedua monster silver itu ketika melihat foto sang pengantin wanita di undangan tersebut.

"Toushiro, Killua coba lihat ini! Kami semua berencana pergi bersama ke pesta pernikahan sepupuku dan setelahnya kita akan menjenguk Len di rumah sakit. Kalian harus ikut ya!" ucap Momiji sedikit memaksa. Namun keduanya hanya diam terpaku. Momiji yang heran berkata sekali lagi berusaha membujuk mereka berdua.

"Hei, ada apa dengan kalian?"

Sekali lagi hening masih membayangi kedua shota berambut silver tersebut. Oz dan Honey sudah saling pandang. Suara detak si jarum merah terdengar jelas memperkuat suasana hening yang menggerayangi ruang makan tersebut.

Tik…

Tok…

Tik…

Dong~ dong~ dong~

Tepat pukul delapan. Bunyi nyaring jam tua di ruang makan tersebut pun menjadi saksi keheningan yang tiba-tiba pecah menjadi perang dunia ke lima di kost Pandoroid tersebut.

BRAAAAAAAAAAKKKKKK!

Killua dan Toushiro melayangkan kedua tinjunya di atas meja persegi panjang, sepanjang dua meter tersebut. Hati mereka dipenuhi amarah yang meluap-luap begitu melihat si gadis klub teh yang akan menikah dengan pria lain hari ini. Akibat pukulan kedua monster silver itu, meja tersebut terbelah menjadi dua. Shota lainnya yang melihat hal tersebut sontak menoleh dengan wajah penuh kengerian kearah Kuroki bersaudara. Benar saja, mereka sudah melihat tanduk setan imajiner di atas kepala gadis kembar tersebut.

GLEK

Oz, Honey, Momiji, Ciel, dan Piko menelan ludah. Kelimanya saling pandang, tanpa diperintah lagi mereka sudah siap mengambil langkah seribu untuk menyingkir dari ruangan tersebut.

Satu detik. (Keringat jatuh dari pelipis kelima shota tersebut)

Dua detik. (Kelimanya sudah melirik pintu besar di ruang makan tersebut)

Tig–

"APA MASALAH KALIAN HAAAAAAAAAAHH?"

Sebuah teriakkan penuh rasa amarah segera membuyarkan mode freeze kelima shota yang tidak ingin terlibat dengan perkelahian antara Kuroki bersaudara dan Toushiro serta Killua. Kelimanya segera berlari keluar dari ruang makan tersebut dan menutup serta mengunci ruangan tersebut dengan sebuah segel yang tiba-tiba muncul entah dari mana. Rasa panik mereka pun tidak berhenti sampai di situ. Sambil terengah-engah dan bersandar di daun pintu, kelimanya melakukan hal yang bisa mereka lakukan. Ciel segera menghubungi Sebastian -butler serba bisanya- untuk menghentikan pertengkaran keempat monster di ruangan itu sebelum kost pandoroid hancur menjadi reruntuhan. Momiji menghubungi polisi, FBI, CIA, Densus 88, Angkatan Laut, Udara, dan Darat, serta ISIS(?) untuk mensterilkan warga lain di area sekitar kostsan agar tidak menjadi korban. Honey menelpon ambulance, kalau-kalau ada yang terluka. Piko menelepon agen asuransi kematian, kalau-kalau terjadi sesuatu pada Kuroki bersaudara dan Toushiro serta Killua. Sementara Oz sibuk memanjatkan doa meminta keselamatan untuk mereka semua yang masih terjebak di dalam kost-an.

Semuanya sibuk dengan usaha masing-masing, sampai tiba-tiba kelimanya terdiam. Saling menoleh ke kanan dan ke kiri, kemudian saling berpandangan. Di detik berikutnya wajah mereka berubah pucat. Satu dari anggota mereka sejak tadi tidak terlihat dan…

"MIHARU MASIH TERTINGGAL DI DALAAAAAAAAAAAAAAAAAAAMMMM!"

.

.

.

To be continue…

.

.

.

Toushiro and Killua act, end~

A/N:

Halo! Hikari dan Black Rabbit disini!

Kami mau mengumumkan kalau fanfict ini akhirnya akan selesai sebentar lagi fufufu~ Tapi jangan khawatir, karena (mungkin) akan ada sequel/prequel yang menanti… kalau tidak sibuk tentunya, hohoho… *dihajar*

Jadi… bagaimana menurut kalian chapter ini?

Ditunggu review berupa kritik saran dan sebagainya! ^w^)/\(^w^