Perfect Fake

Disclaimer:

Naruto by Masashi Kishimoto

Kuroko no Basket by Fujimaki Tadatoshi

Himuro Tatsuya x Tenten

Warn: Typo(s), nista, hina, alur lompat2, hilanganya beberapa kalimat, dan kesalahan pemula lainnya.

Don't like don't read

No Flame

.

.

"Psst~"

Gerombolan para siswi yang berada di depan pintu kelas X-C segera buyar ketika suara berat dari belakang menyambangi telinga mereka. Lima siswi yang berkumpul tadi membubarkan diri satu persatu ke arah yang berbeda begitu mereka sadar kehadiran Kagami di belakang mereka. Pria itu tau siapa yang menjadi perhatian pada siswi maniak tersebut.

Langkah lebar Kagami pilih dan seketika itu juga dirinya sudah berada di dalam kelas. Maniknya segera mencari sosok gadis bersurai cokelat yang ternyata sedang menyisir rambutnya di bangku bagian ujung kelas. Terlihat rambut panjang terurai tersebut jatuh menutupi area bahunya. Kagami melangkah cepat begitu sang gadis mencabut sesuatu dari akar rambutnya.

"Ulah mereka lagi, eh?" Tanya Kagami duduk tepat di samping Tenten.

Tidak ada jawaban apapun yang Tenten lontarkan. Dirinya terus mengambil satu persatu gumpalan tepung setengah basah yang mendiami kepala bagian atasnya hingga merangkap setiap helai akar rambutnya.

"Butuh bantuan?"

Hening.

"Andai kau tau, mengikutimu kemanapun kau pergi adalah hal yang paling membosankan bagiku." Ucap Kagami sembari menggosok dagu bawahnya.

"Kalau begitu kau tidak perlu melakukannya." Balas Tenten cepat.

"Andai aku bisa. Tapi berkat dirimu, kini nyawaku ada di tangan saudaraku sendiri." Tukas pria itu terkesan acuh. "Tepatnya sudah berapa lama kau mengalami ini?" Tanyanya lagi.

"Seminggu lebih 5 hari." Singkatnya sembari mengaduh ketika satu helai rambutnya ikut tercabut dari kepalanya.

"Apa itu artinya sudah selama itu kau berhubungan dengan Himuro?"

"Tidak ada apapun di antara kami."

"Itu karena kau selalu menghindari Himuro setiap kalian bertemu."

"Aku menyadari sesuatu ketika aku menuruti pikiran bodohku. Sikapku yang terlalu gegabah membuat Himuro kini mulai di pandang remeh oleh orang-orang di sekitarnya."

"Maaf soal itu." Pandangan Kagami melemah. Pria itu ingat ketika ia dan Himuro memergoki seorang siswi tengah menguping pembicaraanya dengan Himuro di belakang sekolah.

"Tidak apa. Lagipula dengan begini aku menyadari bahwa wanita sepertiku tidaklah pantas bersanding dengan Himuro."

Penderitaan Tenten seolah tidak akan pernah berakhir. Sejak satu sekolah mendengar kabar tentang sikap tidak tau malunya itu, kini dirinya menjadi bahan bullyan seisi siswi di sekolah ini. Mulai dari di guyur tepung terigu, di dorong ke dalam kubangan lumpur, di kunci dalam gudang, sampai mendapat ancaman beragam sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Tenten. Dan yang terbaru, hari ini terpaksa ia harus membolos dari kelas sastra yang di ikutinya setiap hari rabu dan sabtu. Bukan karena malas, sesuatu yang melekat di rambutnyalah yang mengharuskan Tenten pulang lebih cepat. Atasannya basah kuyup. Beruntung beberapa saat lagi bel pulang akan segera berbunyi.

Entah di mana letak kesalahannya, bukankah dirinya dan Himuro tidak memiliki hubungan apapun? Satu hal menjadi pertanyaan Tenten, apakah ketika Araki menjadi kekasih Himuro, wanita itu juga mengalami hal yang sama seperti Tenten? Tapi bukankah Araki dan Himuro satu kelas, jadi mana mungkin para militan itu berani menyentuh Araki.

"Aku akan ke kantin sebentar. Kau mau sesuatu?" Tawar Kagami beranjak berdiri.

"Tidak. Terimakasih." Balasnya singkat.

Ketika Kagami tidak terlihat, tubuh Tenten kembali lunglai. Iris matanya melirik tas Kagami yang berada di bangku sampingnya. Benar, sejak dirinya di kunci dalam gudang sekolah sampai senja tiga hari yang lalu, Kagami selalu mengikutinya kemanapun. Dan saat itu jugalah bullyan yang Tenten terima tidak lagi separah yang sebelumnya. Tidak hanya itu, Kagami juga mengusir teman sebangku Tenten yang juga ikut andil dalam bully-membully tersebut ke bangku yang lain. Setelahnya, semua orang juga tau siapa yang menempati bangku kosong di sebelah Tenten tersebut.

.

Perfect Fake

.

Derap langkah lebar Himuro menggema di koridor yang mulai sepi. Tas ransel hitamnya ia gantungkan begitu saja di bahu kanannya. Tatapannya redup namun tajam. Salah satu tangannya ada di dalam satu sementara yang lain tergantung bebas begitu saja.

Sudah seminggu ia menahan. Sudah selama itu juga ia berusaha untuk tidak peduli. Namun entah bagaimana tangan terampil Tuhan membuatnya seperti ini, Himuro merasa ada sensasi geli seakan ratusan kupu-kupu beterbangan di dalam perutnya ketika ia mengingat tentang gadis itu. Saat ini, pria itu merasa akan melakukan apapun untuk menemui gadis itu dan mengatakan perasaan aneh yang dia rasakan akhir-akhir ini. Bahkan jika itu artinya harus membuat daun di pohon berguguran meski kini masih musim semi.

Cklek..

Pintu kelas X-C terbuka. Suara yang di hasilkan menggema di seluruh ruangan. Sisa siswa yang masih belum keluar sontak melarikan matanya ke arah pintu. Tak luput juga seorang pria dengan alis bercabang dan seorang temannya yang bersurai cerah. Tatapan Himuro ia arahkan pada Kagami. Seketika itu juga Kagami paham dan menyuruh semua siswa keluar dari ruangan.

Keadaan kelas sudah sepi. Menyisakan Himuro, Kagami, dan Kuroko yang masih berada di posisinya.

"Dimana?" Tanya Himuro singkat.

"Dia sedang ada di toilet.." Jawab Kagami. "Mungkin sedang membersihkan rambutnya." Imbuh pria itu dengan nada malas. Tak lama kemudian matanya melihat seorang gadis dari balik kaca sedang berjalan menuju ke kelasnya sembari mengikat rambutnya tinggi. "Kau akan melihatnya beberapa detik lagi." Imbuh Kagami.

Benar apa yang di katakan Kagami. Hanya selang 3 detik, gadis yang di cari menampakkan batang hidungnya. Iris madunya sedikit membelakak ketika tahu Himuro ada di sana. Sontak Tenten mendunduk dan berjalan sopan melewati Himuro guna mengambil tasnya.

"Nona, apa kau mengalami amnesia?" Tanya Himuro pada Tenten yang masih setia dengan langkahnya.

"Maaf." Lirihnya melewati tubuh Himuro setelah apa yang dia inginkan berhasil di dapat.

Himuro berdecap. Dengan keadaan setengah malas, lengan kanannya menarik Tenten yang berjalan di hadapannya menuju dinding.

Sratt..

Helai gorden berwarna peach yang menghiasi jendela kaca tembus pandang tak luput menjadi sasaran Himuro. Kain selebar 1 meter yang menjuntai tersebut ia gunakan menutupi bagian belakang dirinya dan Tenten dari pandangan Kagami dan Kuroko yang ada di belakangnya.

"Aku tidak tau alasan kau menghindar. Yang aku tau, kau berhasil membuat setengah kesadaranku hilang karena sikap acuhmu itu." Ucapnya dingin.

Tenten bergidik "Maaf Himuro-niisan, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya.."

"Tidak ingin aku di pandang remeh oleh siswa lain karena menyukai gadis membosankan sepertimu?" Sela Himuro tepat.

"A-ano.."

"Tutup mulutmu saat ini karena masih banyak yang ingin kukatakan padamu. Tutup telingamu dengan kedua tanganmu. Acuhkan apa yang mereka katakan seperti yang kau lakukan padaku selama ini. Tutup matamu dari tatapan menjijikkan yang mereka perlihatkan padamu. Terakhir buka hatimu dan berikan kesempatan padaku untuk menjadi cerita di bagian awal buku kehidupanmu." Tuturnya dengan tatapan teduh.

Saluran nafas Tenten terasa berhenti setelelah Himuro mengatakan deretan kalimat yang seolah menerbangkan dirinya ke surga paling atas. Semu merah merekah di kedua pipinya. Membuat sang pria gemas ketika menyadari semburat itu perlahan muncul dengan jelas.

"Dengarkan aku baik-baik, panda betina.. Katakan kau mencintaiku, katakan kau membutuhkanku, dan aku akan ada di sana untukmu. Tidak peduli beratus manusia menghalangiku, aku akan tetap menerjang semuanya untuk menggapaimu dan berdiri di balik tubuhmu, menopang punggungmu yang rapuh karenaku. Hal yang seharusnya mudah bagiku menjadi sangat sulit ketika kau memilih untuk menjauhiku dan mengacuhkanku karena sebab yang hingga saat ini tidak aku ketahui. Haruskah aku berteriak tepat di telingamu agar kau mau melihatku? Tidakkah kau sadari sikap acuhmu membuatku semakin jatuh ke perangkap pesonamu. Tidak bisa dan tidak akan pernah kutolak dirimu yang malam itu tiba-tiba merebut penuh atensiku." Suara Himuro terdengar sedikit mendesah.

Kedua kepala tersebut terlihat makin mendekat.

"Katakan semuanya padaku. Semuanya.. tangismu, jeritan hatimu, kecewamu, bahkan deritamu. Tidak akan kutinggalkan kau berjuang seorang diri menghadapi itu semua. Tangan kananku di ciptakan untuk merengkuh tubuhmu, tangan kiriku ada untuk membelai lembut puncak kepalamu yang membutuhkan kehangatan, kedua kakiku ada untuk menopang tubuhmu ketika semua orang menolak kehadiranmu. Bukan hanya itu, ingatlah semua yang ada pada diriku memang di ciptakan untukmu. Untuk melindungimu dan juga untuk mendapat perhatianmu." Semakin lama suara pria tersebut semakin pelan dan kini terdengar samar.

Kedua rahang gadis brunette tersebut mengeras. Tanganya mengepal ketika tatapan mata gelap tersebut semakin dalam dan menghanyutkan. Pesona Himuro yang kini hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya seakan membuat lututnya ingin bertemu dengan lantai. Terlebih di posisi yang tidak biasa ini.

"K-kau tidak perlu melakukan ini Himuro-san."

Tatapan teduh Himuro tampakkan.

"Lalu bagaimana caraku untuk menebus semua ini padamu? Ulah mereka padamu semua karena aku. Kau ingin aku menggantinya dengan materi? Jika kau mau aku bisa saja melakukan itu. Tapi sayangnya kau tidak akan mendapatkannya karena aku tidak mau. Hal semacam ini hanya bisa di bayar dengan kehadiranku di sisimu. Yakinlah tidak akan ada yang berani menyentuhmu selama aku berada di sisimu bahkan malaikat maut sekalipun."

"I-itu terlalu berlebihan." Tenten terbata sembari berusaha menelan liurnya.

"Tidak berlebihan karena tidak ada pihak yang di rugikan. Kau gadis membosankan, tapi aku bertekuk lutut padamu." Selanya cepar.

Sudut kepala Himuro semakin menjorok ke kanan menpatkan letak bibirnya pada sasaran kenyal yang sejak tadi menggugah hatinya untuk di lumat.

"Butuh lebih dari seribu bintang untuk memukul mundur diriku agar menyerah padamu, Sweetheart."

Detik berikutnya bibir keduanya telah menyatu dengan lumatan yang saling berbalas.

Sementara Himuro semakin bernafsu melumat bibir menggoda tersebut, di balik kaca para fansgirlnya yang sejak tadi berdiri menonton pemandangan yang tak biasa itu hanya bisa menjerit dengan ekspresi tak karuan seolah apa yang mereka lihat adalah hal yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Sesi cumbuan telah selesai. Keduanya saling menjauhkan wajah. Tali saliva yang di hasilkan saling bertaut menghiasi jarak yang tercipta di antara mereka. Nafas Tenten tersengal. Tangannya ia letakkan di bahu kiri Himuro guna menahan laju pria itu yang akan melanjutkan kegiatannya.

"Hentikan." Singkatnya menatap Himuro setengah tajam.

"Kenapa?" Tanya Himuro tak kalah singkat.

"Ini sekolah bukan club malam." Ujar Tenten membetulkan letak seragamnya.

"Apa jika kuajak kau ke club malam, kau mau melakukan yang lebih dari ini denganku?" Tanyanya dengan mata mengerling seolah ia tengah mengeluarkan semua pesona yang di milikinya.

Ruang sunyi dalam kelas semakin merangkap. Sementara Tenten masih diam mencerna kata-kata Himuro, terdengar suara teriakan para gadis yang terdengar ramai karena beberapa temannya pingsan sebab terkena serangan jantung ringan secara mendadak.

.

.

Tenten POV

Aku memikirkannya, namun entah kenapa aku tak banyak berharap perasaanku akan berhasil terbalas olehnya. Jangankan berharap menjadi miliknya, bisa menjadi temannya saja terlihat sangat mustahil bagiku. Mungkin memang terlalu muluk jika aku mengharapkan kedekatan lebih dari sekedar senior dan junior, tapi percayalah hanya dia satu-satunya yang membuatku tak pernah menyesal untuk menunggunya selama itu. Perfect Fake itu, membuang semua waktuku hanya untuk memikirkannya. Setiap detik aku merasa memikirkannya adalah hal sia-sia. Namun di sisi lain, aku juga tidak menyayangkan hal itu. Mungkin, mengagumi tanpa mengusiknya dan memberikan semangat pada setiap apa yang di lakukan adalah bentuk nyata rasa cinta dari seorang secret admirer yang tak terlihat di pelupuk mata sepertiku ini, pada sosok yang selama ini membuatku tak pernah malas untuk datang ke sekolah dan menjalani rutinitas membosankan sebagai seorang siswi biasa.

Kembali ke masa sekarang, di mana aku sedang berada di atas kuda besi yang tengah melaju dengan kecepatan tinggi menuju selatan. Dia, Himuro Tatsuya. Pria itu sedang berada di balik kemudi dengan konsentrasi penuh pada jalan raya sembari meliuk-liukkan badan sepeda motornya melewati celah-celah mobil yang berkecepatan sedang. Helm hitam dengan body yang sangat mempesona menutupi aura kharismatik wajahnya dari mata dunia. Tidak ada apapun yang membalut tubuhnya selain seragam sekolah dan juga helmnya. Semua itu karena Himuro memberikan sarung tangan dan juga jaket kulitnya padaku. Alasannya sederhana, dia tidak ingin melihatku demam. Sementara aku, sedang duduk manis di belakangnya dengan sebuah helm putih dengan model serupa dengannya melindungi kepalaku.

Setiap kali Himuro mengencangkan laju kendaraanya, sibakan rok yang berada di bawahku seolah menampar pahaku. Tas ransel berwarna merah maroon yang tadinya berada di punggungku berpindah ke depan dada Himuro. Pria itu bilang 'Bukan pria namanya jika membiarkan kekasihnya membawa sesuatu yang berat di punggungnya'. Itu adalah salah satu hal yang tidak pernah kusangkan ada pada diri Himuro Tatsuya. Sejak insiden ciuman Himuro padaku tadi, tangan pria itu tak pernah lepas dariku. Bahkan semakin lama genggamannya semakin erat merangkap bahuku. Bukan hanya itu, Himuro juga memberikan kemeja favoritnya yang selalu dia bawa kemanapun untuk berjaga-jaga jika sesuatu terjadi padanya, untuk mengganti atasanku yang basah kuyup.

Tanpa kusadari telapak tangan dingin yang tidak terbalut sarung tangan mengenggam erat jemariku yang masih melingkar di perutnya sejak tadi kami keluar dari gerbang sekolah. Tepat ketika aku menyadari hal itu, Himuro melirikku melalui sudut matanya bersamaan dengan berbelokknya kami sebuah perempatan jalanan lebar.

"K-kita akan kemana?" Tanyaku dengan mimik wajah ragu.

Entah aku tidak mendengar jawaban apapun darinya atau memang dia tak berkata sepatah katapun, tanpa kusadari aku memajukan wajahku meletakkan daguku di atas bahu kirinya. Saat itulah aku merasa sebuah kupu-kupu beterbangan dalam perutku. Bukan ratusan atau jutaan, mungkin trliunan. Bagaimana tidak, Perfect Fake itu kembali menatapku dengan tatapan pamungkasnya.

"Kemanapun aku membawamu... Yakinlah, semua hal tentangmu adalah segala sesuatu yang ingin aku inginkan di sisa hidupku."

FINISH

Oh my god, betapa freaknya fanfic ini. I know that T.T Okelah, maafkan otak Ran yang pas-pas an ini ne :"D Sebisa mungkin Ran akan terus berusaha dan cari inspirasi lain yang sekiranya dapat di terima di masyarakat :D *mong ape lu mbel* But, di sisi lain Ran senang karena hutang fanfic Ran berkurang :"D *jis, bangga banget lo lay* XD Maafkeun kalo ceritanya semburat dan mengecewakan, timing amburadul dan kata-kata gombalan khas romance yang ala kadarnya. Entah kenapa Ran merasa Himuro gagal gombal di sani XD Dengan segala hormat, Ran ucapkan terimakasih yang seeeebesar-besarnya untuk reader baik yang suka maupun tidak. Tidak ada keuntungan materil yang Ran dapatkan dari semua fanfic yang Ran tulis. Maka dari itu semoga kalian semua terhibur :")))))))

Special for Lidya Syafira:

Hai girls :"D Sudah selesai fanfic requestan Lidya :") Semoga nggak kecewa sama jalan ceritanya ya :"D Maaf kalo nggak sesuai harapan :") Ran tunggu juga fanfic up Lidya yang lain juga :")

Review

Sooya: Iya, Tenten nyalinya gede di sini XD Makasih udah mampir Sooya-san ^_^

Natsume Rokunami: Nats, kamu muncul nak :")) *halah* Iya, aku juga mikir pas baca bio Himuro. Di sana di tulis Himuro suka sama wanita yang kuat. Dan setelah itu, dezzzzing.. langsung keinget Tenten. Kurang kuat apa lagi coba panda betina itu hah? :")) Iya, fanfic Ran berat semua :"D Andai bisa di barengi sama berat tubuh Ran yang nggak naik-naik XD *kembali ke peradaban*

GaaraTen: Yosh! Makasih sudah mampir :"))

Marin Choi: Yah mau bagaimana lagi, Bakagami memang urakan. Namun di situlah pesona Kagami muncul :"D *lope lope di udara* Iyaaa~ karena Ran suka crack paiirrr~ apalagi kalo Tenten dan pair nya langka. Pasti deh di baca :"D

Sabaku Leny: Ow ow ow~ Leny-chan sepertinta harus meluncur ke google untuk mengetahui rupa Himuro Tatsuya :"D Sosok Sasuke di peradaban moden menurut saya XD Hanya saja kalo Sasuke dingin dan cuek, tapi kalo Himuro dia dingin tapi hangat *nah loh* XD Enggak deng, Himuro itu orangnya kalem dan menghargai sosok wanita. Penyayang dan sangat humble. Benar-benar pria yang Ran cari buat jadi imam Ran di sisa usia ini :")) *makin ngelantur* Okelah, semoga Leny nggak kecewa sama alur ceritanya :"D

Well, sudah cukup petualangan Ran di fanfic Perfect Fake. Semoga kalian terhibur dan ijinkan Ran pamit undur diri :"D See you all :"3

Log in? Cek PM ^_^