Tomodachi
-ともだち-
.
.
.
The Best Friend © R.
All Character of Naruto © Masashi Kishimoto-Senpai
Warning : OOC, AU, TYPO(S), slight SAISAKU, SASUSAKU, SAINO, INOSAKU (NO YURI) DLDR
Rated T
Summary : Gadis berambut pirang itu mengaku bernama Yamanaka Ino. Ino memberitahu jika ia adalah satu-satunya sahabat terdekat Sakura. Tapi Sakura yakin, ia belum pernah bertemu dengan Ino. Gadis itu mulai memasuki kehidupan Sakura, menirunya dalam segala hal. Bersamaan dengan itu, peristiwa-peristiwa mengerikan mulai terjadi. Lalu siapakah Yamanaka Ino?
.
.
.
Chapter 2
"Aku..." gadis itu menggeleng-geleng, rambut pirang panjang sepunggung mengikuti pergerakannya. Gadis itu shock, iris aquamarinenya berkaca-kaca, "Ini benar-benar kau Sakura!" Ia mengulurkan kedua tangannya menyentuh bahu Sakura. Sedetik kemudian melepasnya. Gadis itu mundur beberapa langkah, mengumbar senyuman manis ke arah Sakura. Sakura buru-buru bangkit dari duduknya, berdiri di antara Tenten dan Matsuri yang masih memasang tampang kebingungan.
Apakah aku kenal gadis ini? Pikir Sakura, keningnya berkerut. Ia memperhatikan wajah gadis si pengacau yang telah sukses membuatnya jantungan. Sakura mencoba mengingat-ingat pernahkah ia bertemu dengannya? Tidak pernah, seingatnya. Iris emeraldnya bergulir memperhatikan perawakan gadis di hadapannya. Tubuhnya sedikit lebih berisi, rambutnya yang pirang itu membuatnya terlihat lebih pucat dengan warna kulitnya yang putih itu. Wajahnya cukup cantik, bibir tipisnya dipulas dengan lipgloss berwarna cerah. Tapi dari cara berpakaiannya, gadis itu sama sekali tak memiliki apa yang biasanya orang bilang sense of fashion. Sweter kuning gading longgar yang di padukan dengan rok panjang kuning pudar lebar sebatas mata kaki.
"Pintu di bawah terbuka, jadi aku masuk saja," ucapnya, senyuman masih setia melekat di bibirnya. Tiba-tiba senyuman gadis itu melebar, "Kau tahu! Aku pindah tepat di sebelah rumahmu!" semburnya.
Ini benar-benar aneh! Pikir Sakura agak takut. Apa jangan-jangan ia pernah terkena penyakit amnesia, hingga tak ingat apapun mengenai gadis di hadapannya? Iris aquamarinenya masih nampak berkaca-kaca. Gadis ini terkesan seperti baru saja mendapati saudaranya yang hilang selama sepuluh tahun. Ia begitu emosional. Mungkin terlalu senang bertemu denganku, Sakura menyipulkan.
Sakura harus tahu, siapa sebenarnya gadis ini? Tiba-tiba masuk kamarnya dan mengaku mengenal Sakura! Sakura menoleh ke arah Tenten guna meminta jawaban, tetapi Tenten masih saja menatap gadis itu, dahinya berkerut bingung. Ketika ia hendak menoleh ke arah Matsuri. Ia dikejutkan dengan sebuah pelukan tiba-tiba dari gadis di hadapannya.
"Kau sama sekali tak berubah, Sakura." Pelukan itu begitu erat, Sakura hampir tak bisa bernapas.
"Ya, kau juga." gumam Sakura berusaha menanggapi, ia dapat mendengar jika gadis itu sesegukan karena menangis. Sakura menoleh memberi isyarat kepada Matsuri agar menolongnya. Ketika ada tanda-tanda si gadis hendak melepaskan pelukannya, Matsuri langsung berucap, "Hai, aku Yamamoto Matsuri." ucap Matsuri mengenalkan dirinya, "aku pikir kita belum pernah bertemu, dan itu," Matsuri menunjuk ke arah Tenten, gadis itu menoleh ke arah Tenten yang dibalas dengan lambaian beserta senyuman simpul dari Tenten, "Nishimura Tenten."
Iris aquamarinenyaitu sedikit melebar, sembari ia menyeka air matanya, "Aku juga ingat kalian." Tenten dan Matsuri sama-sama menaikkan satu alisnya, "Namaku Yamanaka Ino."
Hah? Yamanaka Ino? Kening Sakura berkerut, iris emeraldnya menatap tajam aquamarine Ino. Apa aku pernah kenal dengan seseorang bernama Yamanaka Ino?
"Apa kau akan sekolah di Konoha High?" tanya Matsuri penasaran. Akan tetapi Ino tak meresponnya, tatapannya masih terpancang ke arah Sakura seakan-akan Sakura merupakan seorang aktris terkenal yang sering muncul di televisi.
"Ino, memangnya kau dulu pernah bersekolah di sekolah kami?" kali ini Tenten mencoba bertanya.
"Wow, aku benar-benar tak percaya," gadis bermarga Yamanaka itu mendekap mulutnya, "Ini benar-benar kau, Sakura," seru Ino, setitik air mata keluar lagi di ujung kedua kelopak matanya.
"Ya, ini memang aku," sahut Sakura, memangnya siapa lagi? Sakura tak bisa menghadapi gadis aneh ini lebih lama lagi. Siapa dia? Dan apa maunya gadis ini sih?
Sembari mengusap air matanya, Ino akhirnya menoleh bergantian ke arah Tenten dan Matsuri, "Gomen, aku terlalu emosional. Soalnya aku tak bisa mempercayainya! Sakura sahabat terdekatku di kelas empat dan lima SD, dan aku terlalu senang bisa bertemu lagi denganmu, Sakura!"
Ia kembali memeluk Sakura.
Ini gila! Pikir Sakura. Seingatnya waktu kelas empat ia tak pernah memiliki sahabat terdekat bernama Yamanaka Ino. Ino melepaskan pelukannya, tak henti-hentinya gadis pirang itu mengumbar senyuman dari bibirnya. Sakura jadi sedikit takut dengan gadis aneh ini. Gadis bermarga Haruno itu kembali terduduk di tepi ranjangnya. Begitu juga dengan Tenten dan Matsuri yang kembali duduk di atas karpet putih berbulu kasar. Sakura mempersilahkan Ino mengambil tempat duduk di samping meja belajarnya. Gadis berambut pirang itu segera mengambil kursi plastik itu dan menggesernya di hadapan Sakura. Ia menyilangkan kakinya, flat shoesnya mengetuk-ngetuk karpet.
"Jadi, kemana kau pindah setelah kelas lima?" tanya Matsuri sembari bersandar di badan ranjang. Ino tampaknya tak mendengar pertanyaan Matsuri. Ia masih menatap Sakura. "Ketika aku mendengar ayahku mengatakan akan pindah ke Konoha. Aku menjerit senang. Pertama-tama yang kupikirkan adalah apakah kau masih tinggal di tempat yang sama? Dan ternyata memang benar!" seru Ino tertawa senang.
"Memangnya, sebelumnya kau pernah tinggal di mana?" tanya Tenten menanggapi ucapan Ino.
"Hanya aku dan ayahku," ucap Ino kemudian, dan tentu saja ucapan itu membuat Tenten bingung luar biasa. "Ibuku meninggal tahun lalu, dan itu membuat kami sangat tertekan ketika kepergian ibu," tambah gadis Yamanaka itu.
Sakura hanya tersenyum samar. Ini aneh, kenapa Ino tidak menggubris pertanyaan Tenten dan Matsuri? Apakah Ino pura-pura tak mendengar? Batin gadis berhelai merah muda itu. Ino menarik kursi plastik itu lebih dekat—tepat di hadapan Sakura. Seakan-akan kehadiran Tenten maupun Matsuri hanya angin lalu baginya.
"Karena alasan itulah mengapa aku senang kau masih tinggal di sini, Sakura," lanjut Ino bersemangat. Iris aquamarine itu menatap Sakura intens, seakan-akan matanya yang biru dan besar itu mampu membakar seluruh tubuhnya.
"Jadi, kita akan menjadi sahabat dekat lagi. Persis seperti masa lalu,"
Anehnya, ketika Sakura mendengar ucapan Ino hatinya seakan mencelos. Gadis itu ternyata menganggap Sakura sangat penting dalam hidupnya. Persahabatan mereka jelas sangat berarti bagi gadis pirang yang kini tersenyum ceria di hadapannya itu. Tapi, takdir berkata lain, Sakura tak mampu mengingat ia pernah bersahabat dengan Ino maupun mengenal gadis bermarga Yamanaka itu. Timbul sebuah perasaan bersalah, aku benar-benar sahabat yang buruk, pikir Sakura.
Tenten mencoba mengatakan sesuatu, tapi Ino mengabaikannya lagi. Tiba-tiba bunyi decitan pintu kamar Sakura mampu mengalihkan semua pandangan penghuni kamar itu ke ambang pintu.
"Bagaimana keadaan di sini?" Rupanya Mebuki Haruno, ibunya Sakura yang terkenal senang menguping pembicaraan putrinya itu menyembulkan kepalanya, sedetik kemudian ia membuka lebar-lebar pintu kamar itu.
"MEBUKI-SAN!" pekik Ino, ia melompat bangun dari kursi plastik. Senyum riang melekat di bibirnya. Ino berlari kecil, seketika ia memeluk ibu Sakura dengan erat, "Senang bisa bertemu dengan Anda lagi, Mebuki-san!" serunya masih memeluk tubuh ramping Mebuki.
Ibu Sakura tersenyum, ia melirik Sakura sejenak dengan heran, "hmm... terima kasih," respon ibu Sakura tergagap. "Apa kabar?"
"Sangat baik!" seru Ino yang kini melepaskan pelukan eratnya, "Anda tahu, kami pindah tepat di sebelah rumah Anda!" sahutnya memberitahu kabar bahagia itu.
"Wow, sangat menyenangkan memiliki tetangga baru," ibu Sakura menjawab ragu. Kemudian ia berpamitan dan cepat-cepat meninggalkan kamar putrinya.
Setelah kepergian ibu Sakura, Ino berbalik. Mata birunya menatap Sakura, "Ibumu masih terlihat muda. Beliau sangat cantik," pujinya.
"Ya, begitulah ia," sahut Sakura seadanya. Sakura pikir tidak hanya dirinya yang tak mengenali Ino. Gadis itu yakin dari tampang heran ibunya tadi, seratus persen ibunya juga tak mengenali gadis bernama Yamanaka Ino itu. Hal ini membuat Sakura merasa lebih baik, rasa bersalahnya terhadap Ino agak berkurang. Ya, walaupun tidak banyak.
"Kau tahu, akhir-akhir ini nona Tsunade senang sekali mengganti gaya rambutnya. Aku heran, padahal dulu ia tidak senang dengan hal-hal yang seperti itu," Matsuri mencoba membuka pembicaraan mengenai guru sains yang terkenal cantik dan galaknya minta ampun.
"Mungkin saja nona Tsunade sedang jatuh cinta," tebak Tenten asal. Sakura yang mendengar hal itu tersenyum. Ia yakin tak mungkin ada pria yang akan jatuh cinta dengan nona Tsunade jika wanita itu terus-terusan meluapkan emosinya. Mungkin ia akan berakhir menjadi wanita lajang selamanya.
"Hei! Aku suka desain bros ini. Bros apa ini?" tiba-tiba Ino membuka suaranya, lagi-lagi gadis itu tak mau ikut serta dalam obrolan Tenten dan Matsuri. Ino mengambil bros itu di atas meja rias Sakura.
"Itu bros berbentuk kelinci," sahut Sakura sembari ia melangkah menuju Ino. "Sasu, maksudku mantan pacarku memberikan bros itu kepadaku. Karena ia tahu bahwa aku menyukai kelinci."
Ino tersenyum, ia bergantian menatap Sakura dan bros kelinci itu, "kau masih sama seperti dulu, senang dengan binatang," sahut Ino sembari tangan kanannya mengangkat bros itu dan mengaguminya. "Aku jadi ingat waktu itu. Ada seekor kelinci yang sekarat karena baru saja ditabrak. Kau merasa kasihan, dan akhirnya kau membawanya pulang dan berusaha merawatnya sampai sembuh. Apa kau ingat, kita menangis terus-terusan ketika akhirnya kelinci itu mati?"
Hah? Aku tak pernah merasa membawa pulang kelinci sekarat, pikir Sakura bingung. Tetapi gadis pink itu tak mau membuat Ino kecewa maka sakura meresponnya dengan anggukkan singkat.
Gadis pirang itu tersenyum lagi, "bolehkan aku memakainya?" tanya Ino sembari menyematkan bros itu di sweter kuning gadingnya. "Kau selalu begitu modis," lanjut Ino berdiri di depan cermin, mengagumi pantulan bayangannya yang kini memakai bros kelinci itu, "Ngomong-ngomong aku suka gaya rambutmu, cocok sekali."
"Arigatou," gumam Sakura, sembari ekor matanya melirik Tenten yang kini memandang titik-titik air yang berjatuhan di luar jendela. Hujan turun lagi, pikir gadis bercepol itu.
"Wah, hujan turun lagi!" ucap Matsuri, sekilas ia memperhatikan keadaan di luar jendela, "padahal aku berharap lebih baik tidak usah turun dulu," lanjut Matsuri sembari bangkit dari duduknya.
"Memangnya ada apa?" tanya Sakura yang kini berbalik menatap ke arah Matsuri. Gadis bermarga Yamamoto itu nyengir, "Ya, aku akan mengunjungi sepupuku malam ini. Kau ingat sepupu cerewet yang itu," Matsuri menghela napas dalam. Terlihat sekali dari ekspresi wajah Matsuri, ia tak suka.
"Yeah, aku ingat. Gadis cerewet yang itu," sahut Tenten meringis. Karena ia tak suka dengan sifat blak-blakan sepupu Matsuri itu. "Semoga menyenangkan!" seru Tenten seraya tersenyum mengejek.
"Hei! Kau semakin membuat keadaanku menjadi tak baik, tahu!" Matsuri menggembungkan pipinya, kesal. Tenten hanya meresponnya dengan cengiran lebarnya. Kontan saja semakin membuat Matsuri kesal luar biasa.
"Hei! Hei! Tenanglah Matsu-chan. Kau tidak usah menganggap ucapan Teenie. Aku yakin ia hanya bercanda," gadis bermahkota pink itu mencoba mencairkan suasana. Matsuri meresponnya dengan anggukan, sedetik kemudian ia tersenyum lebar.
"Nah, begitu dong! Iyakan, Teenie?"
Tenten meringis, "sudah kubilang jangan panggil aku dengan nama aneh itu lagi!" sergahnya.
Sakura dan Matsuri tertawa, Tenten hanya mendengus sembari membuang mukanya kesal. Sedangkan Ino nampaknya sama sekali tak mendengarkan percakapan itu. Mata birunya meneliti sekeliling kamar Sakura. Menatap takjub desain interior di dalam kamar itu; mulai dari dinding yang berlapis cat berwarna plum, ranjang besar berbalut seprei dengan motif bunga berwarna-warni, dua lemari besar yang ia yakini banyak baju modis di dalamnya, dan semua yang ada di dalam kamar ini terlihat bagus.
"Aku suka kamarmu, Sakura. Walaupun kamarmu kecil, tetapi cantik sekali," ucapnya, iris aquamarinenya masih melekat menatap sekeliling kamar Sakura.
"Arigatou," respon Sakura kaku. Ia tersenyum tawar.
"Aku ingin kamarku mirip seperti milikmu," ucap Ino sungguh-sungguh, mata birunya berkilat cerah. Sakura hanya menggumamkan kata 'ya, kau bisa menyamainya' walaupun dalam hatinya ia tak suka.
"Benarkah? Apa kau juga tidak keberatan jika aku punya poster yang sama seperti itu?" jari lentik Ino menunjuk ke arah poster pria tampan berambut silver dengan pose menyeringai seksi.
Sakura menatap ke arah poster yang Ino maksud, "Ya, aku juga sudah bosan dengan poster itu, kau boleh memilikinya," sahut Sakura mengangkat bahu.
Mata birunya melebar, "Yokatta! Kalau begitu boleh kuambil? Kau benar-benar tidak apa-apa kan? Pasti pria di poster itu idola yang kau gila-gilai saat ini."
Sebenarnya Sakura tidak siap menurunkan poster itu. Ia cuma asal bicara saja. Tapi tidak sesuai dengan perkiraannya, sekarang Ino menatapnya sungguh-sungguh, menantikan jawaban Sakura dengan berminat.
"Ya, tak apa-apa," balas gadis berhelai merah muda itu nampak ragu. Tetapi Ino tak melihat kejanggalan dari ekspresi wajah gadis pink itu. Seketika Ino memeluk erat Sakura, "Arigatou!" jawabnya ceria.
Ino melepas pelukannya, "Oh, ya... kau tidak usah buru-buru menurunkannya sekarang. Aku masih belum membuka kardus-kardus di kamarku. Aku bisa mengambilnya lain waktu, toh kita akan sering bertemu lagi, bukan?"
Sakura tak meresponnya, ia melihat sekilas dengan enggan ke arah posternya. Kenapa dari awal tidak kukatakan saja jika aku tak ingin memberikannya? Pikir Sakura menyesal. Tapi mau bagaimana lagi? Sudah terlambat.
Ino menatap jam dinding yang tergantung di pojok ruangan sekilas, ia menghela napas dalam, "Sepertinya aku harus kembali," gadis Yamanaka itu menatap Sakura, ekspresi wajahnya tampak terlihat bahwa gadis itu sebenarnya enggan untuk meninggalkan kamar Sakura. Ia memeluk Sakura sekilas, tanpa basa-basi Ino buru-buru keluar kamar.
Sakura, Tenten, dan Matsuri terpaku. Mereka mendengarkan langkah-langkah kaki Ino yang berat menuruni tangga. Begitu mendengar pintu depan ditutup, seketika mereka bertiga meledak.
"Kau lihat, apa maksud semua itu?" sergah Tenten mengawali, "Dia sama sekali tak menggubris aku dan Matsuri!" imbuhnya kesal.
Sakura mengangkat bahunya, "Sebenarnya siapa dia? Apakah aku pernah mengidap penyakit amnesia atau semacamnya?" Sakura memijit keningnya perlahan dan menjatuhkan badannya di karpet putih berbulu kasar.
"Gadis itu sahabat baikmu, Sakura," balas Matsuri dengan nada mengejek. "Bisa-bisanya kau melupakan sahabat terbaikmu?"
Sakura hanya tersenyum tawar, Tenten dan Matsuri segara duduk di samping Sakura, "Kalian ingat gadis itu?" tanya Sakura ingin tahu, dan langsung saja dijawab dengan gelengan kepala oleh Tenten dan Matsuri.
"Sebenarnya aku belum pernah melihatnya," aku Tenten jujur, "waktu kelas empat, kita tak sekelas kan?"
Sakura dan Matsuri mengangguk.
"Mungkin kita akan menemukan wajah Ino di foto teman sekelasmu dulu," saran Tenten, ia bangkit berdiri dan melangkahi Sakura dan Matsuri.
Sakura berpikir sebentar, "Foto di kelas empat?" Rasanya gadis pink itu tak pernah ingat menyimpan foto teman sekelasnya waktu SD, "Sepertinya aku tak punya," sahut Sakura menggeleng. Tiba-tiba ia ingat ketika ibunya membereskan kamar Sakura, ibunya pernah menemukan sebuah foto lama, karena merasa tak penting Sakura menyimpan di laci bufetnya. Mungkin itu akan membantu.
"Oh, ya. Aku punya satu foto," segera Sakura bangkit dari duduknya dan menghampiri sebuah bufet di samping tempat tidurnya. Kemudian ia menarik lacinya dan menemukan foto yang sedikit menguning. Tenten dan Matsuri menghambur ke arah Sakura, mereka memandangi foto itu.
"Ini dia," ucap Tenten seraya menunjuk satu wajah di sudut kiri atas foto itu, "Aku yakin sekali, model rambutnya sama." Begitu Tenten menyingkirkan jarinya, ketiga gadis itu tiba-tiba ingat dengan Yamanaka Ino. Gadis aneh yang sering menyendiri.
"Ya, benar itu dia," sahut Sakura setuju. Matsuri hanya merespon dengan anggukan.
"Ino biasanya menangis tersedu-sedu dengan tiba-tiba dan tanpa alasan sama sekali," kenang Matsuri. "Ya, gadis itu sangat menakutkan," lanjut Tenten, sembari mendekap dirinya.
"Gara-gara itu semua tak ada yang mau menemaninya, memang pada kenyataannya Ino menakutkan sih?" tandas Matsuri sembari tersenyum mengejek.
"Lantas, mengapa Ino menganggapku sahabat dekatnya?" tanya Sakura ngeri. Ini gila, pikirnya.
"Gadis itu pasti memiliki kehidupan fantasi yang luar biasa," sahut Tenten merenung. Sakura tertawa hambar, benarkah itu? Gadis bernama Yamanaka Ino hanya mengarang soal persahabatan mereka?
Sakura meletakkan foto itu kembali ke laci bufet. Mereka membicarakan Ino lagi, mengenang betapa Yamanaka Ino itu aneh dan menakutkan.
Tenten mengerling jam tangannya, "Aku harus pulang," ucap Tenten tiba-tiba. Gadis bercepol itu melangkahkan kakinya menuju pintu kamar. Matsuri mengekor di belakangnya, "Tunggu! Kita pulang sama-sama," ajak Matsuri, kemudian ia menatap Sakura, "Nanti ku kirimi mail."
Sakura seakan tidak mendengar kedua sahabatnya itu berpamitan, "Hei... brosku," ucapnya panik.
Tenten dan Matsuri memalingkan tubuh mereka. Kening mereka berkerut. Mereka menatap Sakura yang ternganga sembari iris emeraldnya menatap horor ke arah meja riasnya.
"Bros kelinciku!" teriak Sakura, "HILANG!"
.
.
.
.
To Be Continue
Author Area :
HALLO! Saya datang lagi~~~ ^.^
Akh~ rupanya faktor WB saya udah sembuh, haha... ya, walaupun gak sepenuhnya 100 persen. Tapi udah berusaha nih! Mudahan gak aneh yah alurnya di chapter 2.
Makasih banyak loh buat yang udah baca fanfict saya, makasih juga buat yang udah review, makasih banget juga buat : Rega, Kimmberly, Choi Raekhi, dan silent reader laennya...
Okeh, saya minta reviewnya yah readers-san, satu review anda sangat berharga bagi saya...
Vanille Yacchan
