Tomodachi
-ともだち-
.
.
.
The Best Friend © R.LStine
All Character of Naruto © Masashi Kishimoto-Senpai
Warning : OOC, AU, TYPO(S), slight SAISAKU, SASUSAKU, SAINO, INOSAKU (NO YURI) DLDR
Rated T
Summary : Gadis berambut pirang itu mengaku bernama Yamanaka Ino. Ino memberitahu jika ia adalah satu-satunya sahabat terdekat Sakura. Tapi Sakura yakin, ia belum pernah bertemu dengan Ino. Gadis itu mulai memasuki kehidupan Sakura, menirunya dalam segala hal. Bersamaan dengan itu, peristiwa-peristiwa mengerikan mulai terjadi. Lalu siapakah Yamanaka Ino?
.
.
.
Chapter 3
"Hah?" respon Tenten dan Matsuri bersamaan. Sakura memijit keningnya secara kasar. Gadis bermahkota merah muda itu putus asa.
"Apakah Ino mengambilnya?" selidik Matsuri. Sakura mengangkat bahunya, ia tak dapat berpikir.
"Kulihat Ino meletakkannya kembali di atas meja rias," sahut Tenten meyakinkan.
"Tapi, bros itu tak ada di sana sekarang," gumam Sakura sedih. Ia merangkak, mencari-cari di atas karpet sekitar meja rias. Tenten dan Matsuri cepat-cepat membantu mencari bros yang merupakan kesayangan gadis pink itu.
"Tak ada di atas meja," lapor Tenten, kemudian ia menoleh ke arah Matsuri yang mencari di samping lemari, tetapi gadis itu juga menggelengkan kepalanya.
"Cari di kolong meja, mungkin jatuh," saran Matsuri kemudian.
"Aku suka bros itu," ucap Sakura sembari membungkuk dalam-dalam untuk melihat kolong meja rias. "Itu satu-satunya hadiah dari Sasuke yang pernah kuterima dan benda yang paling kusukai."
"Dan sangat modis, jangan lupa sangat modis," canda Tenten, mengejek gadis Yamanaka itu.
"Lucu sekali," sahut Sakura berbisik. Gadis Haruno muda itu bangkit berdiri, "Aku yakin dia mencurinya," sergah Sakura sembari berkacak pinggang.
Tenten menggeleng, "Tidak, gadis itu tak mencurinya. Mungkin ia lupa masih mengenakan bros itu," Tenten masih mencari-cari, kepalanya ada di kolong ranjang.
"Ya, aku setuju. Aku yakin Ino tak sengaja mengambil brosmu, Sakura," Matsuri mengangguk setuju dengan ucapan Tenten.
Sakura menahan amarahnya, "Jika brosku hilang, aku benar-benar akan sangat marah," ucapnya panas, Sakura kembali mencari benda terbuat dari enamel itu—di atas meja rias lagi.
"Hei, bagaimana kau tanyakan saja pada Ino?" saran Tenten sembari berdiri dan membersihkan debu yang menempel di bajunya. "Mungkin bros itu masih menempel di sweternya."
Matsuri tersenyum sinis, "Sweter kuning yang jelek itu?" komentar Matsuri sembari meringis.
Tenten mengangkat bahunya, "Terserahlah."
"Aku pikir Ino terlihat seperti buah pisang ketika memakai itu," komentar Sakura asal, ia sedang berkonsentrasi dalam pencariannya. "Aku akan ke rumah sebelah untuk meminta brosku kembali. Kalian mau ikut?" ajak Sakura yang kini bangkit dan menatap kedua sahabatnya.
Satu alis Matsuri terangkat, "Untuk apa?"
"Gomen, aku tidak bisa. Aku harus pulang," sahut Tenten sembari melirik jam tangannya sekilas, "Nanti kabari aku lagi."
Tenten dan Matsuri bergegas keluar dari kamar, mereka menghilang menuruni tangga. Sakura melanjutkan pencariannya sebentar. Tapi, gadis pink itu sudah lelah, pencariannya tidak mebuahkan hasil. Tak ada salahnya, ia harus bertanya pada Ino. Sakura memandang ke luar jendela sejenak. Hujan masih turun, kali ini hanya rintik-rintik.
Ia menarik jaketnya yang berada di gantungan dan sedang memakainya ketika telepon di lantai bawah berdering. Ia bergegas hendak mengangkatnya, tapi Sakura mendengar ibunya sudah mengangkat telepon itu. Sakura bertanya-tanya siapa yang menelpon? Apa mungkin Sasuke? Sakura menggeleng cepat. Tidak mungkin! Mana berani Sasuke menelpon.
Sembari menuruni anak tangga, Sakura melamun. Tiba-tiba ibunya berdiri di hadapannya berkacak pinggang, "Sakura, telepon untukmu." Sakura dapat mendengar nada suara ibunya tidak senang.
"Itu dari Sasuke."
Ah, pantas saja, pikir Sakura.
"Kenapa dia menelponmu? Kau tahu, kau tidak boleh menemuinya!" seru ibunya mengancam.
"Iya, aku tahu!" sahut Sakura jengkel, "Jangan marahi aku, oke?" Sakura berjalan melewati ibunya, menuju telpon rumah. Gadis bermarga Haruno itu merasa ibunya masih mengawasi di belakangnya. Sakura menengok dan berkata, "Bisa tidak jangan awasi aku, Bu? Aku janji tidak melakukan yang aneh-aneh."
Ibunya mendesah kemudian berlalu meninggalkan anak semata wayangnya itu. Sakura menelan salivanya, dengan pelan ia mengangkat gagang telepon, "Hai!" sapanya sedikit canggung.
"Hai!" balas sebuah suara berat di sambungan telepon, "Bagaimana kabarmu?" tanyanya sedikit terbatuk. Sakura dapat merasakan suara Sasuke begitu jauh, di latar belakangi oleh suara-suara tak jelas. Sasuke pasti menelpon dari telepon umum.
"Aku baik-baik saja." Ya, walaupun bros pemberianmu hilang, batin Sakura masih kesal, "Bagaimana kabarmu?" lanjut gadis pink itu.
Jeda begitu lama, kening Sakura berkerut. Ada apa dengannya?
"Gomen," jawabnya, "aku baik-baik saja, Sakura," ucapnya mencoba meyakinkan. Sakura bergumam 'oh'.
Kemudian hening, ia tak tahu harus membicarakan apa. Sakura memang gadis yang mudah bicara, tapi jika ia dihadapkan dengan Sasuke, gadis itu bisa tiba-tiba tak berkutik sama sekali.
"Kelihatannya, ibumu tak terlalu ramah," Sasuke kini membuka suaranya.
Sakura tertawa, "Ia hanya terkejut mendengar suaramu," sahut gadis bermarga Haruno itu berbohong. Sakura dapat merasakan kedua alis pemuda Uchiha itu terangkat, "Benarkah?"
"Oh, ayolah. Mengapa kita membicarakan ibuku?" sahutnya, Sasuke hanya merespon dengan tawa ringan. Sakura senang mendengar suara tawa pemuda itu. Entahlah, baginya cukup menenangkan. Bahkan ia sudah sangat lama tak mendengar tawa itu. Membuatnya sedikit rindu.
"Hei, kau bisa menemuiku malam ini?" Pertanyaan itu kontan saja membuat sang gadis terbelalak. Sakura berpikir sebentar, "dimana?" bisiknya ragu.
"Seperti biasa, tempat rahasia kita."
"Hmm... aku tidak janji, Sasuke. Kau—tahu sendiri, bukan?" Sakura sedikit gugup ketika mengatakannya.
"Karena ibumu?" jawabnya
"Dan ayahku, jangan lupa! Ayahku juga tak menyukaimu, bukan?" sela Sakura sedikit sedih, "Lebih baik aku tak menemuimu. Sebenarnya aku senang, tapi…"
Ah! Ada apa dengan sikapnya yang plin plan ini? Sakura merutuki ucapannya barusan. Kemudian suara pemuda Uchiha itu terdengar berharap, "Apa, itu artinya iya?"
Sakura menggeleng cepat, "Tidak! Maksudku…"
"Pergilah diam-diam…" sela Sasuke memaksa, "tunggu sampai mereka tertidur, kemudian menyelinaplah."
Sakura mendesah, kemudian ia menggeleng cepat, "Tidak Sasuke! Kau tahu, orang tuaku masih terjaga sampai larut malam."
"Kupikir kau akan bicara pada orang tuamu," sahut Sasuke terdengar sinis, "kau tahu, kan, sekarang aku sudah jadi lelaki baik-baik."
"Aku tahu," balas Sakura merasa bersalah, "hanya saja, ini bukan waktu yang tepat, Sasuke," kemudian gadis bermahkota pink itu buru-buru menambahkan, "aku yakin mereka mau mengerti dan memberikan kesempatan lagi, Sasuke."
"Yah!" balas pemuda bermarga Uchiha itu, nada suaranya terdengar getir, "lalu, kau mau atau tidak menyelinap dan menemuiku malam ini?"
"Tidak Sasuke. Kupikir tidak malam ini," sahut Sakura sedikit ragu, sebenarnya ia ingin, tapi sepertinya tidak untuk sekarang.
Sakura mendengar suara ibunya berdeham, mengetahui tanda itu Sakura buru-buru mengatakan, "Gomen, Sasuke. Sudah dulu ya? Bye." Ia cepat-cepat meletakkan gagang telepon. Sakura mendengar langkah kaki ibunya mendekat ke arahnya.
"Anak itu mau apa?" tanya ibunya cemberut.
"Cuma mau mengatakan 'hai'," sahut Sakura santai.
Iris nyonya Haruno itu menyipit, "Kau tahu bagaimana perasaanku dan ayahmu terhadap anak itu, Sakura?"
"Aku tahu. Tapi Sasuke sekarang lain, Bu. Dia…"
"Terutama setelah apa yang terjadi padamu," selanya terdengar marah, pandanganya terlihat menerawang. Pandangan itu yang selalu diperlihatkan jika ia mengingat-ingat kembali peristiwa buruk, "Kau begitu sedih. Kau terlihat putus asa. Aku dan ayahmu tak ingin melihatmu bersedih lagi, Sakura."
"Bu…" sahut Sakura memulai, tapi gadis itu menahan dirinya untuk tidak beradu argumen dengan ibunya. Sekarang ia sedang tidak mood.
"Kau mau kemana, Sakura?" ibunya memperhatikan jaket yang dikenakan puterinya.
"Aku takkan menyelinap menemui Sasuke, jika itu yang Ibu maksud," bentaknya, Sakura tak bisa menahan dirinya lagi sekarang.
"Sakura!" teriak ibunya.
"Aku hanya akan pergi ke rumah sebelah. Aku akan segera kembali!" Sakura bergegas berjalan melewati ibunya, keluar dari pintu depan. Kemudian menghempaskan pintu itu dengan kencang dan melangkah keluar menembus rintikan hujan. Ia mendesah, menengadah menatap langit. Menyebalkan! Batinnya berteriak. Titik-titik air yang menyegarkan itu membasahi pipinya yang panas.
Kadang ibunya itu mampu membuatnya kesal luar biasa seperti ini. Orang tua itu memang sangat menyebalkan. Huh! Apa urusannya kalau ia ingin kencan dengan Sasuke? Kapan dia berhenti mencampuri kehidupanku? Pikir Sakura jengkel. Gadis bermarga Haruno itu menunduk, ia menarik tudung jaket menutupi helaian rambut merah mudanya, gadis itu merasa jika hujan turun semakin lebat. Ia bergegas menuju rumah Ino.
Sakura berjalan pelan menuju halaman depan rumah Ino. Rumah itu kosong selama beberapa bulan. Sakura menyelinap menerobos pagar tanaman yang tak terurus memisahkan halaman itu. Rumput-rumput liar tumbuh tinggi memenuhi halaman rumah.
Memang lebih baik ada orang yang menempati rumah ini, pikir Sakura. Agak seram sih membiarkan rumah itu terus-terusan kosong.
Sesampainya di depan rumah, ia berhenti di jalan masuk mobil. Iris hijaunya memandang ke rumah itu. Tak ada tanda-tanda kehidupan di dalam sana. Otaknya menyimpulkan bahwa rumah itu masih kosong. Artinya Ino telah berbohong mengenai kepindahannya di rumah sebelah.
Angin berhembus, menyapu dedaunan kering, sehingga membuat halaman depan rumah itu nampak berhamburan. Keheningan kembali menyelubungi rumah itu. Gelap dan sunyi.
Sakura meneliti, melihat dari jendela ke jendela. Mencari-cari cahaya, tanda-tanda kehidupan. Tapi rumah itu, untaian tetesan air jatuh dari atapnya yang rendah di beranda depan, tampak sekosong dan sesepi berbulan-bulan ini.
"Yang benar saja?" teriak Sakura membelalakkan matanya.
Sakura berjalan menaiki anak tangga di depan rumah itu. Hampir saja gadis itu terpeleset, reflek ia mencengkeram talang air hujan di samping beranda depan. Sakura melangkah hati-hati menuju beranda berbentuk segi empat. Mengetuk pintu depan keras-keras.
Hening.
Ia mengintip ke dalam jendela ruang tamu. Di dalam sana gelap. Sekilas Sakura dapat melihat tumpukan kardus di dalam rumah. Tapi ia tak begitu yakin. Karena sangat gelap. Sekali lagi Sakura mengetuk pintu, memencet bel, tapi bel tidak berfungsi sama sekali.
Tetap saja, hening.
Angin berhembus lagi, Sakura merapatkan jaketnya. Ia sedikit menggigil. Segera ia meninggalkan rumah yang gelap dan kosong itu. Berhati-hati menuruni tangga dan berlari pulang.
Di mana Ino? Tanyanya dengan dirinya sendiri. Apa maksud semua ini? Pertanyaan berputar di benaknya. Ada apa dengan gadis itu? Tiba-tiba muncul, lalu berbohong tentang kepindahannya. Selebihnya, bagaimana dengan bros kesayangan gadis pink itu? Semuanya tak masuk akal.
…
…
Siang itu cerah, matahari sangat terik. Jejak air hujan semalam seketika mengering. Sakura menyeka peluhnya. Ia berjalan beriringan bersama Matsuri, Tenten tak bisa pulang bersama, karena ada latihan klub tenis. Sekolah baru saja usai, entah kenapa hari ini pulang lebih cepat.
"Kau dengar? Kemarin ada berita heboh, Sakura! Karin—" alis Sakura mengerut, Karin siapa? Pikirnya. Matsuri yang menyadari ekspresi bingung Sakura kemudian melanjutkan, "Karin, siswi tahun ke dua yang itu. Kau tahu sendiri kan? Gadis itu berkencan dengan Suigetsu senpai yang terkenal ekstrim. Setelah istirahat makan siang kemarin, di leher Karin ada tanda keunguan lebar," Matsuri mendecakkan lidah dan sedikit meringis.
Sakura berhenti melangkah kemudian ternganga, "Maksudmu, kissmark? Berani sekali!"
"Karin berkilah, katanya itu hanya bekas gigitan nyamuk. Konyol sekali. Sekali lihat juga sudah tahu itu bekas tanda cinta," Matsuri memutar bola matanya imajinatif. Kemudian dua gadis itu terkekeh.
"Benar-benar konyol!" sahut Sakura kemudian mendesah. Keduanya kembali berjalan menjajaki aspal hitam. Angin berhembus, meniup rok rampel kotak-kotak berwarna coklat Sakura dan Matsuri.
"Ngomong-ngomong, apa Sasuke ada menelponmu lagi?" Matsuri memulai, entah kenapa Matsuri sedikit sensitif dengan hubungan Sakura dan Sasuke. Ia terus-terusan membujuk Sakura kembali pada Sasuke. Tapi, keadaan tak mendukung. Orang tuanya masih saja terlihat membenci Sasuke.
Sakura menggeleng lemah, "Tidak, mungkin ia marah padaku karena aku tak mau keluar diam-diam untuk menemuinya."
Matsuri mendesah, "Dasar bodoh! Padahal itu kesempatanmu."
Dengan tatapan sedih Sakura berkata, "Aku tak ingin menyulut Perang Dunia Ketiga, Matsu-chan.
"Baiklah, aku tahu itu. Lalu, jika Sasuke mengajakmu menemuinya lagi, apa yang akan kau lakukan?"
Sakura terdiam, gadis itu menunduk. Sakura mengangkat bahunya pelan, "Aku tak tahu. Aku tak bisa memutuskan."
"Kelihatannya kau terjebak di dalam dunia yang dinamakan kebimbangan," jelasnya sembari menggeleng. Kemudian Matsuri berhenti sejenak, melambai pada seorang perempuan tua yang sedang duduk minum teh di halaman rumah. Sepertinya itu kenalan Matsuri.
"Nenek itu sering sekali menghabiskan waktu dengan minum teh!" ucap Matsuri dengan menghela napas panjang.
"Siapa? Memangnya kenalanmu?"
"Sebenarnya sih aku tak tahu pasti," sahut Matsuri ragu, "aku hanya pernah menolongnya, itu saja."
Sakura menatap Matsuri bingung, "Kau memang aneh!"
Matsuri hanya terkekeh. Seketika Sakura teringat dengan pesta ulang tahun Tenten, "Bagaimana persiapanmu di pesta Tenten nanti?"
Matsuri mengibas-ngibas tangannya, "Aku tak terlalu paham dengan fashion. Mungkin aku akan datang hanya dengan tampilan seadanya. Bagaimana denganmu Saku-tan?"
"Aku baru beli rok renda lucu," sahut Sakura tiba-tiba bersemangat, "roknya sangat pendek. Mungkin aku akan mengenakannya dengan kaos kaki sepaha."
"Ara ara, mungkin saja akan membuat Sasuke tambah jatuh cinta denganmu," Matsuri tiba-tiba memeluk Sakura dan tertawa keras-keras.
Sakura yang bingung, kemudian bertanya, "Ha? Memangnya ia datang?"
"Ya, pesta itu pasti ramai. Tenten mengundang seluruh siswa di SMA Minami. Aku tak sabar melihat kalian berdua," Matsuri melepaskan pelukannya, kemudian terkekeh.
Selang beberapa menit keduanya berpisah jalan. Sakura melihat Matsuri berjalan santai, kemudian sosoknya menghilang di tikungan. Sakura menghela napas panjang, ia tersenyum samar. Ternyata Sasuke menghadiri pesta ulang tahun Tenten. Gadis itu tak sabar menantikan di hari itu. Ia berjalan menuju rumahnya sembari otaknya dipenuhi dengan sosok pemuda bermarga Uchiha itu.
…
…
"Aku pulang," teriak gadis pink itu sembari membuka pintu depan.
Tapi tak ada yang menyahut. Keningnya mengerut. Melangkah masuk menuju dapur dan tak lupa menutup pintu depan. Dapur itu hangat, aroma kayu manis tercium. Tak ada tanda ibunya di dapur. Sakura berjalan melewati koridor, lalu menaiki anak tangga menuju kamarnya untuk meletakkan tas sekolah. Ia berhenti di tengah tangga dan pasang telinga.
Ada suara dari kamarnya.
Siapa itu? Ibunyakah? Jika itu ibunya, lalu bicara dengan siapa?
Sakura menaiki tiga anak tangga perlahan. Iris hijaunya menatap ke seberang kamarnya. Pintu kamarnya terbuka lebih separuh. Lampu dinyalakan. Ia bisa melihat sebagian meja belajarnya. Seketika matanya terbelalak, ada orang mondar-mandir di dalam kamarnya dan sedang mengobrol.
Ia kenal sosok itu, tak salah lagi. Itu Ino.
Sakura menjulurkan wajahnya, berjingkat, irisnya hijaunya mengawasi Ino. Gadis bermarga Haruno itu melihat Ino sedang bolak balik mengambil pakaian dari lemarinya.
Pakaianku, Sakura sadar. Apa yang sedang terjadi? Ino ada di dalam kamarnya, dan mengeluarkan semua pakaiannya. Ino menghilang dari pandangan Sakura, ia mendengar Ino berbicara. Tapi, Sakura tidak mengerti apa yang sedang dikatakan gadis pirang itu.
Ketika Ino terlihat lagi, Sakura mengenali apa yang sedang dikenakan Ino. Itu rok rendanya. Rok renda yang akan dikenakan di pesta Tenten.
Tanpa sadar Sakura mencengkeram tali tas sekolahnya. Sakura menggeram, gadis itu mengenakan rok rendaku, pikir Sakura keki. Bahkan Ino juga mengenakan blus dan vest denim hadiah ulang tahun dari orang tuanya. Sakura terpaku, ia memandang lurus ke arah Ino yang tersenyum senang.
Sekali lagi, Ino menghilang dari pandangan. Kemudian Sakura mendengar laci meja riasnya dibuka. Kenapa ia ada di kamarku? Mengenakan bajuku yang paling bagus? Dan siapa yang diajaknya bicara? Tanya Sakura dalam hati.
Ini benar-benar kelewatan!
.
.
To be continue…
Author Area :
Hallo~~ apa kabar readers-san tachi. Chapter 3 baru aja update. Maaf yah kalo masih pendek. Habisnya emang porsinya segini, teheee :P maaf juga chapter kemaren terlalu panjang percakapan gak pentingnya, soalnya emang sengaja sih biar panjang ajah. Tapi tetep aja ada bilang itu masih pendek hiksuu…
Author udah berjuang buat ngelanjutin #Sembunyiin bendera putih. Yang nunggu Bloody 19th, mohon maaf author hanya bisa bilang sabar… tenang aja fict itu masih berlanjut kok, kagak discontinue.
Makasih banyak buat yang udah ngereview, ngefave, udah ngebaca, buat siders juga. Makasih banyak yah!
Okeh, author lagi gak mood nulis banyak-banyak, jadi bagi yang pensaran tunggu chapter selanjutnya~~ au revoir~~
Vanille Yacchan…
