Tomodachi

-ともだち-

.

.

.

The Best Friend © R.LStine

All Character of Naruto © Masashi Kishimoto-Senpai

Warning : OOC, AU, TYPO(S), slight SAISAKU, SASUSAKU, SAINO, INOSAKU (NO YURI) DLDR

Rated T

.

.

.

Chapter 4

"INO!" Sakura sudah tak tahan lagi, ia menerobos masuk kamarnya, detak jantungnya memompa dengan keras.

Ino yang sedang membungkuk di depan meja rias, langsung berdiri tegak, lalu membalikkan tubuhnya, "Oh, hai!" gadis pirang itu melambai ke arahnya lalu tersenyum tanpa ada rasa bersalah, "Kau sudah pulang?"

Sakura menatap objek dihadapannya ternganga. Lalu iris emeraldnya menyapu seluruh ruangan di kamar itu. Lemari pakaiannya terbuka lebar. Hampir semua bajunya berhamburan di atas ranjang. Ini… gadis bermarga Haruno itu tak bisa berkata apa-apa lagi.

Seakan melihat ekspresi bingung Sakura, Ino cepat-cepat mengatakan, "Ibumu bilang aku boleh naik," segera gadis Yamanaka itu berbalik, menutup laci-laci meja rias.

"Hah? Ibuku? Dia di rumah?"

Ino menggeleng cepat, lalu berbalik ke arah Sakura, "Kupikir dia pergi," sahutnya sembari bersandar di depan meja rias.

Kening Sakura mengerut, "Lalu, kau bicara dengan siapa?" Sakura melangkah menuju ranjang dengan enggan.

"Hah?" Ino menatap Sakura bingung sembari menyibakkan poninya yang panjang kebelakang.

"Kudengar kau sedang bicara dengan seseorang," Sakura menegaskan, ia mendesah, lalu melirik lemarinya yang hampir kosong.

Ino mengibaskan tangannya, "Tidak, bukan aku kok!" jawabnya cepat, sebuah senyuman terpatri di bibir gadis Yamanaka itu, "dari tadi aku sendirian di sini."

"Tapi…" Sakura menggantung ucapannya, kemudian ia melepaskan tas sekolahnya. Berpikir dengan tenang. Tidak mungkin kan itu hanya imajinasi? Pikirnya.

"Sakura, aku suka sekali dengan pakaian ini!" serunya sambil berputar-putar di depan meja rias, kemudian mengagumi dirinya yang sedang mengenakan rok renda dan blus yang dilapisi vest denim. Ia tersenyum, "Selera fashionmu memang hebat!"

"Ino…"

"Lihat… lihat… bukankah rok ini terlihat manis sekali," selanya, tak membiarkan Sakura mengucapkan sepatah katapun. Sekali lagi gadis Yamanaka itu berputar-putar. Dengan cepat ia menghampiri Sakura yang masih duduk di atas ranjangnya.

"Dimana kau beli rok ini, Sakura?" wajah manisnya itu sangat dekat, hingga Sakura bisa mencium napasnya yang berbau permen karet. Merasa kikuk, Sakura mundur selangkah.

"Di toko kecil, di Konoha mart, seingatku," gumam Sakura. Lalu gadis Haruno itu cepat-cepat menambahkan, "kau tahu, rok itu baru saja kubeli. Belum pernah kupakai," ucap Sakura terdengar sedih, sambil berharap Ino akan mendengar betapa jengkelnya ia.

Ino sama sekali tak menangkap isyarat dari ucapan Sakura. Gadis itu kembali ke meja rias, mengagumi pakaian itu. Apa maksud dari pertanyaannya itu? Jangan bilang Ino akan membeli rok yang sama? Pikir Sakura kalut. Ini tak boleh terjadi.

"Blus ini kurang cocok dipadukan dengan rok renda ini. Kira-kira kau tahu apa yang cocok?" ucapan Ino tiba-tiba membuyarkan pikiran Sakura.

"Aku tak tahu," jawab Sakura tak minat, "rok itu akan kupakai di pesta Tenten."

"Percaya tidak?" teriak Ino riang, mengacuhkan ucapan Sakura, "ternyata ukuran kita masih sama. Aku tahu, kelihatannya aku lebih besar. Tapi, kita masih bisa mengenakan pakaian yang sama. Persis seperti waktu kita masih anak-anak!"

"Benarkah?" Sakura tidak tahu bagaimana menanggapinya.

"Orang-orang selalu mengatakan kita seperti saudara kembar!" sahut Ino semangat.

"Hmm… begitukah?"

"Kita selalu tukar-tukaran pakaian, jins, hingga kaos kaki. Sampai tak tahu yang mana milik kita sendiri! Itu sangat menakjubkan!"

Kening Sakura mengerut, bagaimana bisa ia tidak mengingat Ino? Rasanya jika yang dikatakan Ino benar mungkin Sakura bisa ingat. Apa mungkin saja gadis pirang bermarga Yamanaka di hadapannya ini semacam hidup di dalam dunia fantasi?

"Hei! Menurutmu bagaimana jika rambutku diangkat begini?" Tiba-tiba Ino bertanya, Sakura yang masih sedikit melamun agak terkejut.

"Aa! Bagus juga," jawabnya tak berminat.

"Hei! Yang benar! Aku lihat kau tidak bersungguh-sungguh!" keluh Ino, ia berbalik menghadap Sakura, "Lihat! Seperti ini? Atau, seperti ini?" Ino melepaskan rambutnya dan membiarkannya tergerai jatuh di belakang bahunya.

Sakura menghela napas pelan.

"Lebih bagus jika kau mengikat rambutmu seperti ekor kuda dan membiarkannya tergantung jatuh," saran Sakura ogah-ogahan, "dan sedikit aksesoris seperti pita, mungkin?"

Iris aquamarinenya berbinar, lalu Ino tersenyum lebar.

"Kau betul! Kau selalu tepat mengenai hal yang seperti ini. Makanya aku selalu meminta saran padamu!" sahut Ino gembira, kemudian berjalan cepat menuju Sakura. Ino memeluknya erat dan cukup lama.

Sakura sedikit terkejut dengan pelukan spontan itu, bahkan ia hampir tidak bisa bernapas.

"Aku tidak percaya kita jadi sahabat lagi!" bisik Ino, Sakura bisa mendengar gadis pirang ini hampir menangis, tapi dengan kuat menahannya untuk tidak menangis. Akhirnya Ino melepaskan pelukannya dan mundur selangkah. Gadis itu menghembuskan napasnya, wajahnya memerah, mungkin karena menahan tangis, "Aku sangat bahagia, kau juga kan, Sakura?"

"Ya…" jawab Sakura mencoba terdengar antusias.

Tiba-tiba saja Sakura ingat sesuatu. Beberapa pertanyaan penting yang hanya bisa dijawab oleh Ino. Sakura berdeham dan menatap Ino dengan ekspresi serius.

"Ino, semalam aku mencarimu di rumah sebelah," ucapnya mantap sambil mengamati wajah Ino seakan-akan mencari jawaban, "tapi… rumah itu… gelap dan tak ada orang di situ."

Pelan-pelan senyum cantik Ino memudar dari bibirnya. Ino menyibakkan poni panjangnya ke belakang, "Aku tahu, ayahku tak bisa menghidupkan mesin genset, di rumah tua itu listriknya rusak. Ayahku tak bisa tahan dengan kegelapan. Makanya kami mengungsi. Padahal aku senang sekali bisa pindah ke rumah itu, tapi aku dan ayah harus menghabiskan akhir minggu ini di penginapan jelek."

"Ya ampun, kasihan," sahut Sakura, ia masih menatap Ino mempelajari raut wajah gadis Yamanaka di hadapannya, "lalu bagaimana? Sudah beres sekarang?"

"Ya, tukang listrik akhirnya datang dan kami bisa pindah," senyuman itu kemballi terpatri di wajah Ino, "tapi aku belum punya waktu untuk membongkar barang-barang karena tadi aku harus ke sekolah."

Sakura menggigit bibirnya pelan. Bisakah ia percaya dengan ucapan Ino? Cerita gadis itu tampaknya sungguh-sungguh masuk akal. Sehingga tak ada alasan untuk tidak mempercayainya.

"Kau punya pita, Sakura?" Ino berbalik menghadap meja rias, ia memainkan rambut panjangnya, "aku ingin mencoba menata rambutku seperti yang kau sarankan."

"Seingatku aku punya beberapa pita di laci meja rias, tapi warna pita itu mungkin tak akan cocok," Sakura menarik napas dalam-dalam, Sakura sadar betul tiba-tiba ia sangat gugup, "ada satu pertanyaan lagi."

"Eh…hah?" Ino membalikkan tubuhnya dan menghampiri Sakura yang sekarang bangkit dari ranjangnya, "ada apa, Sakura?"

"Kau tahu bros kelinci itu? Bros logam yang pernah kau pakai. Apakah kau tak sengaja membawanya waktu itu?"

Ino ragu-ragu sejenak. Kemudian, bukannya menjawab pertanyaan Sakura, ia mengulurkan tangannya, mencengkeram leher Sakura, dan mulai mencekiknya.

Sakura megap-megap. Ketika kedua tangan Ino melingkari tenggorokannya dengan susah payah Sakura berjuang melepaskan cengkeraman kuat Ino. Ia tidak bisa bernapas.

Sial! Ia mencekikku! Apa maksudnya ini?

Kemudian, tiba-tiba, cekikan kuat itu mengendur. Seraya membungkuk dan kedua tangannya menekan lutut Sakura menghirup rakus udara di sekitarnya, menghembuskannya, lalu menghirupnya lagi.

Sakura menengadah, ia melihat Ino tertawa girang.

"Kena kau!" teriak Ino masih diselingi dengan tawa, "kali ini aku menang!"

"Kau…" Sakura mencoba bicara, tapi tenggorokannya masih terasa tercekik dan kaku, "ka-kau mencekikku!" ucap Sakura dengan nada suara tegang dan serak.

Tawa Ino terhenti, "Kau tidak ingat permainan 'kena kau' kita?"

"Tidak sama sekali…" Sakura terbatuk. Napasnya terengah-engah, jantungnya berdegup kencang. Ia berjalan menuju cermin sambil mendekatkan badannya ke depan cermin. Sakura memperhatikan lehernya. Lehernya merah. Gadis Haruno itu meringis.

"Kita biasa melakukan hal buruk satu sama lain. Kita selalu menganggap permainan 'kena kau' itu lucu sekali. Kau ingat, ya…kan Sakura?" tanya Ino mengingatkan, wajahnya cemberut.

Aku tak ingat semuanya, pikir Sakura. Gadis bermarga Haruno itu benar-benar mengira Ino mengada-ada mengenai semua yang ia ucapkan.

"Dengar, Ino!" Sakura membalikkan tubuhnya dan sambil bersandar ke meja riasnya untuk menghentikan tubuhnya yang gemetar, "apakah bros kelinciku kebetulan terbawa olehmu?"

"Tentu saja, aku membawanya," jawab Ino tanpa ragu-ragu, "tapi, itu bukan kebetulan."

Iris emeraldnya membulat, "Hah? Apa maksudmu?"

Ino mengibaskan rambut pirangnya ke belakang, "Bukankah kau berikan bros itu kepadaku Sakura, ingat?"

"Hah?" Sakura dibuat melongo tidak percaya, "aku apa?"

"Kau berikan bros itu kepadaku," sekali lagi Ino menegaskan.

Bolanya matanya hampir melompat mendengar ucapan Ino, "Tidak, aku…"

"Ternyata kau tidak berubah Sakura. Kau masih gadis yang baik seperti yang kukenal dulu," senyuman mengembang di bibir gadis Yamanaka itu.

Sakura mengangkat tangannya, tiba-tiba ia merasa pusing. Urat nadinya terasa berdenyut-denyut di pelipisnya, "Tunggu, Ino… kau minta mencoba bros itu, dan…"

"Dan kemudian kau bilang aku boleh memilikinya, sebab aku sangat menyukainya," senyum Ino memudar. Sekarang ia menatap Sakura dengan ekspresi terluka. Bibir tipisnya bergetar, "kau sungguh-sungguh mengatakan aku boleh memilikinya, Sakura."

Kening Sakura mengerut, "Tapi Ino..."

Tiba-tiba Sakura menyadari bahwa Ino benar-benar bingung. Bahunya gemetar dan bibirnya bergetar.

"Tanyakan saja pada temanmu. Dua cewek itu!" sahut Ino membela diri, "mereka akan bilang padamu bahwa kau benar-benar mengatakan aku boleh memiliki bros itu!"

Sakura tidak tahu harus melakukan apa lagi. Dilihatnya Ino hampir menangis histeris. Ia benar-benar tidak ingin melihat pemandangan emosional itu sekarang. Terlebih lagi, Sakura menginginkan Ino segera pergi dari rumahnya.

"Kau memberikan bros itu kepadaku," ucap Ino menghaluskan nada suaranya, "dan sekarang bros itu menjadi milikku yang berharga."

Sakura tertawa kikuk, "Yah…aku senang kau menyukai bros itu, Ino."

Ino tersenyum mendengar ucapan Sakura, tidak ada lagi tanda-tanda ia ingin menangis. Sakura menghela napasnya pelan.

"Ah… maukah kau membantuku mengembalikan pakaian-pakaian itu kembali ke lemariku?" pinta Sakura sembari ia mengumpulkan celana kain, rok, dan jins miliknya. Lalu aku bisa mengusirmu pulang, hingga aku bisa menelpon Sasuke, pikir Sakura senang.

"Oh, tentu!" seru Ino semangat, "padahal aku belum mencoba semuanya. Tapi masih banyak waktu untuk mencobanya, benar, kan?"

"Ya," sahutnya enggan, sambil memasukkan celana kain, rok, serta jinsnya kembali ke dalam lemari. Kemudian Sakura kembali mengambil beberapa pakaiannya di atas ranjang. Sementara itu Ino masih berdiri di samping ranjangnya, tak berniat membantu Sakura sedikit pun. Ia menunduk menatap blus milik Sakura yang masih ia kenakan.

"Hei! Aku tak sengaja membuat blusmu kotor!" seru Ino sambil menunjukkan bercak noda ke arah Sakura. Ia memasang wajah ketakutan, "bagaimana bisa? Lebih baik kucuci saja."

"Tidak apa-apa," sahut Sakura cepat-cepat, "tinggalkan saja, lagipula blus itu pernah kupakai sebelumnya. Aku saja yang mencucinya."

"Tidak, sungguh, aku jadi merasa tak enak," ucap Ino bersikeras, "begini saja, blus ini akan kubawa pulang dan kubersihkan nodanya. Aku akan mencucinya, lalu mengembalikannya sebagus seperti masih baru."

"Tidak perlu Ino…" Sakura mulai bicara tapi Ino sudah mengambil keputusan.

Ketika Sakura masih sibuk mondar-mandir mengembalikan pakaiannya di dalam lemari, Ino melepaskan rok renda serta vest denim milik Sakura dan memakai kembali jins belelnya.

"Ah, sepertinya sudah selesai," Sakura menyadari keringat membanjiri seragam sekolahnya. Lelah juga mengembalikan baju-baju serta celana miliknya ke dalam lemari, "yah… kupikir lebih baik aku turun sekarang, aku belum ketemu ibuku…" ia melanjutkan sambil iris emeraldnya memandang pintu kamar.

"Sudah kubilang, ibumu sedang pergi, kupikir," sahut Ino, ia menghenyakkan pantatnya di ranjang Sakura.

"Yah…aku harus mengerjakan beberapa tugas, dan…"

"Kau mau ke rumahku dan belajar bersama nanti malam?" sela Ino, ia menunduk menggosok bercak noda pada blus sutra milik Sakura.

"Ah, maaf! Aku tidak bisa Ino!"

"Bagaiman kalau besok malam?"

"Oh, besok malam aku juga tidak bisa!" Sakura mengatakan sebenarnya, "aku ada janji dengan Matsuri, ia mengajakku ke toko pakaian, sekalian meminta saran pakaian apa yang akan dikenakan di pesta ulang tahun Tenten."

"Ah… menyenangkan sekali," sahut Ino, Sakura bisa mendengar ada terbersit nada kekecewaan di dalam sana. Kemudian sepintas wajah Ino berubah menjadi tegang dan aneh, lalu gadis itu menambahkan, "kau banyak menghabiskan waktumu dengan Matsuri, ya kan?"

"Ya. Matsuri dan Tenten adalah teman baikku," jawab Sakura tidak sabar, "aku harus mengerjakan beberapa hal, Ino, jadi…"

Ino beranjak dari ranjang, "Oke. Kunjungan yang menyenangkan," ia menyeringai kepada Sakura ketika berjalan melintasi kamar itu, "sampai jumpa besok pagi," ucap Ino mulai menuruni tangga, "tak usah kau antar, bye."

Sakura berdiri kaku ditempatnya dengan mata terpejam, tidak bergerak, bahkan tidak sanggup bernapas. Ia tidak akan bergerak sampai terdengar pintu depan dibanting tertutup oleh Ino. Kemudian Sakura menghirup rakus udara, dan menghembuskannya dalam-dalam. Pelan-pelan Sakura menuruni tangga.

"Bu! Apa kau ada di rumah?"

Hening. Tidak ada jawaban.

Sepertinya Ino memang benar, ibunya tidak ada di rumah. Bagus, itu artinya Sakura bisa menelpon Sasuke tanpa ada gangguan dari ibunya. Sakura bergegas menuju telpon rumah yang berada di ruang tengah. Ia memencet nomor Sasuke. Nada panggil berbunyi dua kali ketika Sakura dapat mendengar suara berat pemuda yang masih dicintainya itu.

"Halo, Sakura?"

"Lagi ngapain?" sahut Sakura berbisik, walaupun ia tahu di rumahnya tak ada ibunya yang memergokinya.

Terdengar tawa kecil di seberang sana, "Kau percaya? Sekarang aku sedang mengerjakan PR!"

Sakura balik tertawa, Sasuke seharusnya sudah lulus musim semi lalu. Tapi karena diskors dan ternyata ia gagal dalam ujian, tahun ini adalah tahun keduanya di kelas 3.

"Pelajaran-pelajaran ini jadi lebih kumengerti pada putaran kedua," ucapnya setengah bercanda, "sekarang kau lagi ngapain?"

Sakura menghela napas, entah sudah berapa kali, "Kau ingat cewek tetangga baru di sebelah rumahku yang pernah kuceritakan? Yamanaka Ino. Ia ke rumah. Maksudku ia sudah ada di sini ketika aku pulang."

"Sepertinya kau tidak terdengar ketakutan," komentar Sasuke.

"Yah… sebenarnya sikapnya agak berlebihan," sahutnya pelan, "tak apa-apa, ia hanya membuatku gugup."

"Benar kau tak apa-apa?" tanya Sasuke khawatir.

"Ya, aku benar-benar tak apa-apa," sahut Sakura meyakinkan. Kemudian Sasuke buru-buru mengubah topik pembicaraan, "Apakah kau bisa menemuiku malam Minggu ini?"

Pemuda itu rupanya masih berusaha keras membujuk Sakura menemuinya. Sakura ragu-ragu menjawabnya, "Aku tak tahu. Aku tidak ingin keluar diam-diam."

"Tapi, Sakura…"

"Aku selalu jujur pada orang tuaku, Sasuke. Aku tak yakin ingin mulai pergi diam-diam tanpa sepengetahuan mereka sekarang."

"Kalau begitu katakan pada mereka kau ingin bertemu denganku," desak Sasuke.

"Sebenarnya aku ingin mengatakannya. Tapi, aku belum menemukan waktu yang tepat."

"Aku bukan pembunuh berantai, kau tahu itu," ucap Sasuke tajam, "aku terjerumus dalam kesulitan kecil tahun lalu. Tapi aku sudah berubah baik secara total sekarang. Aku takkan merusak putri keluarga Haruno yang berharga," kemudian Sasuke menambahkan dengan sedikit bercanda, "yah… mungkin sedikit."

Sakura tertawa kecil, "Ya, aku tahu itu," bisiknya, "tapi masalahnya kau tak tahu bagaimana orang tuaku, Sasuke."

Terdengar helaan napas di seberang sana, "Mungkin aku akan mampir dan betul-betul kelihatan sinting di hadapan mereka."

Sakura hendak menjawab, tapi ia mendengar suara pintu depan tertutup, mungkin itu ibunya sudah pulang.

"Sudah dulu, ya. Sampai jumpa di sekolah, Sasuke," bisiknya, kemudian ia buru-buru meletakkan gagang telepon dan beranjak pergi dari ruang tengah menuju ruang depan menyambut ibunya.

Ibunya meletakkan dua kantung belanjaan besar di beranda. Saat mata Mebuki melihat Sakura menghampirinya sebuah senyum menghiasi parasnya yang masih lumayan cantik.

"Pas sekali! Kau bisa bantu membawanya ke dapur? Hari ini cukup melelahkan," keluhnya sambil memutar-mutar lengannya yang pegal.

"Oh, tentu saja! Aku juga sedang lenggang," Sakura menjinjing dua kantung penuh belanjaan itu menuju dapur, Mebuki mengekor di belakangnya.

"Bagaimana sekolahmu?"

"Ah, seperti biasa. Sangat normal," sahutnya, sambil meletakkan dua kantung belanjaan ke atas meja makan, kemudian membongkar satu per satu barang belanjaan.

"Apa yang sedang kau kerjakan ketika ibu pergi?" kini Mebuki mengalihkan perhatiannya pada Sakura.

"Tidak ada, aku hanya sibuk dengan Ino," jawab Sakura sedikit gugup, ia tidak akan mengatakan bahwa ia baru saja menelpon Sasuke. Bisa-bisa pertengkaran besar akan terjadi, Sakura benar-benar tidak ingin mengalaminya sekarang.

"Ino?"

Sakura mengalihkan perhatiannya ke arah Mebuki—ibunya, "Ya. Kenapa Ibu mengijinkan Ino naik ke kamarku? Ibu tahu sendiri, aku tak suka jika ada orang asing mencoba barang-barang milikku."

"Hah?" kening Mebuki berkerut, nampaknya wanita paruh baya itu kebingungan, "apa yang kau bicarakan, Sakura?"

"Kenapa ibu tidak mengatakan kalau Ino boleh menunggu di ruang depan saja?"

"Bagaimana ibu bisa bilang begitu?" tanya Mebuki sambil menatap putrinya heran, "sepanjang siang ini ibu tidak ada di rumah."

Hah?

.

.

.

.

.

.

TBC

Author's Note:

Hallowww… sudah berapa tahun yah author telantarin fict ini? Hehehe… soalnya mood menulis author benar-benar mati saat itu, dan sekarang author berusaha keras buat ngelanjutinnya. Fuih~ *ngelap keringat*

Oh, iya maaf yah author gak bales review kalian. Bukannya author sombong atau apa, kepengennya sih bales reviewnya pas ngepublish lanjutan fict ini. Karena author ngelanjutinnya baru sekarang mungkin para pemreview(?) yang udah lama bakalan bertanya-tanya plus heran, hehe…

Oke, terima kasih banyak nih buat yang udah review, siders, yang ngefollow, maupun yang ngefave fict ini *hiksu*

Bagi yang penasaran, tetep baca lanjutannya, ya? *maksa* See U in the next story